Chapter 2

Teman baru cinta pertama Hinata

Terlihat tiga orang gadis berpakaian SMA Santoyosep tengah berdiri di depan pintu gerbang SMA baru mereka yang luar biasa tinggi dan megah itu. Ketika siswi-siswi baru itu melangkahkan kaki jenjang mereka memasuki kawasan SMA K yang begitu mewah. Namun satu yang ada di pikiran mereka, saat meliat siswa-siswi yang berlalu lalang di hadapan mereka, ternyata tak satu pun yang memakai seragam SMA melainkan mengenakan pakaian bebas. Sakura ,salah satu dari ketiga gadis itu, ingat saat kakaknya kesekolah dia sama sekali tidak pernah mengenakan seragam saat ditanya kakaknya hanya menjawab ini berkat genk terdahulu AKATSUKI. Lepas dari lamunan mereka, mereka mulai mencari ruang tata usaha. Beberapa kali mereka malah nyasar ke halaman belakang sekolah bahkan sampai terlibat pertarungan dengan beberapa genk di sekolah ini. Penampilan mereka pun kini sudah acak-acakan. 'Aku menyerah,' batin mereka berbarengan sambil menyenderkan punggung mereka di dinding koridor.

"Aku capek sekali. Sudah berapa kali kita nyasar dan berantem dengan genk tidak jelas di sekolah ini?" Tanya seorang gadis berambut merah muda yang telah duduk selonjoran di lantai koridor.

"Dua kali nyasar ke toilet cowo plus berantem ama genk yang mirip kolor ijo, empat kali nyasar ke taman belakang sekolah lalu enam kali berantem sama genk yang punya rambut merah atau sengaja di cat merah, atau mungkin itu buatan? Ah mana mung-"

"Temariiiiiii….. kau tidak perlu menghitung semuanya kan?" potong Sakura cepat sebelum Temari kembali melanjutkan ocehannya yang mungkin akan panjang kali lebar yang sama artinya dengan luas. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk menanyakan salah seorang siswa yang lewat di depan mereka.

"E-eh tunggu. Aku ingin bertanya letak ruang tata usaha. Kau tahu?" Tanya Hinata sambil menarik ujung kaus seorang lelaki yang memiliki rambut pirang dengan headset di kedua telinganya.

"Itu. Disamping adikku yang bodoh itu," ucap lelaki itu datar sambil menunjuk ruang tata usaha yang ada di samping kepala Sakura yang sedang tidur dengan pulas itu. lelaki itu pun pergi tanpa menunggu Hinata mengucapkan terimakasih.

'Bisa-bisanya mereka tertidur.' Batin Hinata sambil melihat kedua temannya yang sedang tertidur disamping ruang tata usaha. Dia lalu mencubit pipi kedua sahabatnya itu, berniat untuk membangunkan mereka. "AWWWW!" pekik dua orang yang tertidur itu saat merasakan cubitan mematikan dipipi mereka masing-masing.

"Ayo kita masuk." Ajak Hinata tanpa rasa bersalah sedikit pun. Bahkan ia sama sekali tidak menyadari dua deathglare yang ditujukan kepadanya.

~zhazhazhazha~

Hinata berjalan sendirian di sebuah koridor panjang yang menuju kekelas barunya. Haah ia merasa sedikit tidak senang karena ia tidak sekelas dengan Temari. Sementara Sakura, berada di kelas 1E, dan karena dia mengikuti kelas akselerasi jadilah dia terdampar di kelas 2A. langkah kaki jenjangnya menyusuri koridor, sementara mata lavendernya melirik setiap plat yang berisi nomor kelas di depan pintu.

"2C, 2B, ah ini dia 2A." gumamnya pelan. 'Ya tuhan semoga kelasku tidak buruk,' doanya dalam hati. Perlahan tangannya mengetuk pintu di depannya. Setelah mendengar kata masuk, Hinata mulai membuka pintu di hadapannya. Terlihatlah seorang guru berambut perak dan memakai masker hitam yang menutupi separuh wajahnya yang tengah membaca sebuah buku berwarna oranye.

"Sa-saya mu-"

"Aku sudah tahu. Silakan masuk dan perkanalkan dirimu," belum selesai Hinata berbicara, ucapannya sudah terlebih dahulu dipotong oleh Kakashi –guru berambut perak-. Dengan sepengah kesal, ia masuk kedalam kelas dan mulai memperkenalkan dirinya.

"Hyuuga Hinata desu, kalian bisa me-memanggilku Hinata. A-aku murid pindahan dari Santoyosep. Mohon bantuannya." Ucap Hinata memperkenalkan dirinya sambil ber-ojigi singkat dan tersenyum manis membuat semua pasang mata terhipnotis oleh kecantikkan alaminya.

"Baiklah, ada pertanyaan?" Tanya Kakashi yang langsung disambut dengan unjukan tangan para siswa. Kakashi hanya menghela nafas bosan. "Baiklah tidak ada pertanyaan. Hyuuga kau boleh duduk di bangkumu. Disamping anak laki-laki berambut pirang dan memakai headset itu. sekaligus sama sekali tidak mendengarkan gurunya." Ucap Kakashi sambil menunjuk tempat duduk kosong yang ada dibelakang. Letaknya bersebelahan dengan jendela. Hinata menurut dan berjalan kea rah bangku barunya.

"Hei kau yang tadi pagi itu 'kan?" Tanya Hinata. Namun sama sekali tidak ditanggapi oleh pemuda itu. malahan pemuda itu semakin tenggelam kedalam dunia musiknya. Merasa tidak diperhatikan, Hinata mencopot salah satu headset yang sedari tadi bertengger dengan manisnya di telinga pemuda itu.

"Apaan sih?" ucap pemuda itu jutek sambil menarik kembali headset dan berniat memasangnya lagi. Tapi ternyata Hinata lebih cepat mengambil headset itu dan menyembunyikannya di dalam kolong mejanya.

"Apa maumu?" ketus pemuda itu. "Hehehe, gomen. Aku Cuma mau bilang terimakasih," ucap Hinata sambil tersenyum. Sementara pemuda itu hanya memalingkan wajahnya terlalu malas menanggapi Hinata. Ia berpikir, mungkin Hinata hanya salah satu dari fans gilanya.

"Aku Hinata, Hyuuga Hinata," ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman. Tapi karena tidak medapat respon, Hinata berinisiatif sendiri memegang gangan pemuda iitu untuk mengajaknya salaman. "Siapa namamu?" Tanya Hinata. "Kyuubi, Namikaze Kyuubi." Ucapnya malas dan menarik kembali tangannya. Hinata hanya tersenyum karena sepertinya ia akan betah di sekolah barunya ini dan sedikit mendapat tantangan. Pelajaran pagi itu di kelas baru Hinata berlangsung sangat riuh dikarenakan sang guru ,Hatake Kakashi, meninggalkan kelas tanpa permisi. Beberapa siswa laki-laki maupun perempuan berebut untuk berkenalan dengan Hinata. Tanpa terasa bel tanda istirahat pun telah berdentang. Semua siswa yang sedari tadi mengerubuni meja Hinata beranjak pergi menuju kantin.

"Hei Hinata, kau mau ke kantin?" Tanya seorang siswi berambut coklat dan dicepol dua yang Hinata ketahui namanya adalah Tenten. Hinata hanya menggeleng pelan sambil menunjuk bento yang ia bawa.

"Oh, baiklah. Aku pergi dulu ya… Jaaa…," ucap Tenten sambil berlalu keluar dari kelas dan dibalas dengan lambaian tangan dari Hinata. Kina kelasnya sudah sepi hanya meninggalkan dua anak manusia dengan warna rambut berbeda dan gender yang berbeda. Hinata melirik kesamping kanannya melihat seorang pemuda yang baru dikenalnya sedang menerawang langit biru.

"Hei kau tidak lapar?" Tanya Hinata sambil menarik ujung kaus Kyuubi, membuat siempunya menoleh malas kearahnya.

"Tidak," jawabnya singkat dan datar. Tapi beberapa detik setelah ia menjawab terdengar bunyi yang lumayan nyaring yang diperkirakan berasal dari perut kyuubi.

KRIIIIIUUUUUUUKKK

Hinata menahan tawa mendengar suara perut Kyuubi yang ingin diisi. 'Dasar gengsian,' ucapnya dalam hati. tak lama kemudian terdengar suara tawa dari Hinata, sepertinya ia sudah tidak tahan untuk menahan tawanya agar tidak keluar.

"AHAHAHAHAHAH!"

"Diam," desis Kyyuubi tajam sambil mendeathglare Hinata. Wajahnya yang puti kecoklatan merona malu. 'Dasar perut sialan, kenapa aku lupa mengisinya tadi.' Batin Kyuubi berteriak histeris.

"Hahahaha maaf…maaf… Ini, ayo makan bersamaku saja," ucap Hinata sambil menyodorkan bentonya. Aroma masakan yang sangat lezat masuk ke penciuman Kyuubi. Kyuubi melirik bento Hinata melalui ujung matanya. Dilihatnya terdapat onigiri, telur gulung dan juga sushi. Astaga itu Sushi! Kyuubi ingin sekali berteriak kegirangan melihat Sushi yang sangat menggoda itu tapi harga dirinya melarangnya untuk melakukan tindakan diluar pribadinya.

"Tidak usah," ucapnya datar namun dalam hatinya sudah nangis guling-guling karena tidak mendapat sushi itu. 'UWAAA AKU MAU AKU MAU!' Siapa suruh mempunyai harga diri setinggi langit?

"Hei Kyuu," panggil Hinata. Dengan gusar Kyuubi menoleh lag kearah Hinata. "Ap-hmm." Ucapannya terhenti ketika merasakan rasa makanan yang sangat enak memasuki rongga mulutnya. Ternyata Hinata menyuapkan sepotong sushi kedalam mulutnya.

"Enak," gumamnya pelan tapi dapat didengar oleh Hinata. "Hehehe terimakasih, kau mau lagi atau tid-" belum selesai ia berbicara, Kyuubi sudah memotongnya dengan mengembil sumpit yang dipegang Hinata.

"Ini karena kau yang menyuruhku makan bekalmu tadi. Jadi aku tidak akan berterimakasih," ucap Kyuubi sambil mulai memakan bekal Hinata. Hinata hanya tersenyum tulus, baru kali ini ia melihat seseorang memakan bekalnya dengan sangat lahap. "Hoi, Khau tidhak mwhau makhan?" Tanya Kyuubi dengan mulut yang masih mengunyah makanan membuatnya tampak imut.

"Eh? A-aku juga mau." Ucap Hinata sambil melihat bekalnya yang masih setengahnya. Kyuubi menyumpitkan satu telur gulung dan mengarahkannya kea rah mulut Hinata. Hinata membuka mulutnya siap menerima makanan yang lezat itu. Tapi ia langsung berdecak kesal saat mengetahui telur gulung itu tidak masuk kedalam mulutnya melainkan masuk ke mulut pemuda bermata merah menawan itu.

"Hei curang sekali kau. Manghabiskan bentoku. Sini! Aku juga lapar tau," ucap Hinata sambil mengambil alih sumpit yang dipengan Kyuubi dan mulai memakan sisa bekalnya. Mungkin karena terlalu terburu-buru, beberapa butir nasi menempel di ujung bibir Hinata.

"Heh, selain menyebalkan kau juga jorok ya. Makanmu berantakan sekali." Ucap Kyuubi datar sambil menyeka beberapa butir nasi di ujung bibir Hinata menggunakan ibu jarinya. Hinata tersentak kaget dngan perlakuan Kyuubi yang tiba-tiba. Mau tidak mau membua wajahnya memanas, apalagi ketika ibu jari itu menyentuh bibirnya lembut. Dan lagi kenapajantungnya tiba-tiba berdetak cepat begini? Ah… apa dia sedang jatuh cinta? Inikah yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Melihat mata merah itu seakan-akan dia terhipnotis oleh bola mata merah yang indah itu. Hinata terus menatap mata Kyuubi sampai-sampai membuat Kyuubi merona malu karena diperhatikan seperti itu. Ia cepat-cepat memalingkan wajahnya, menyembunyikan warna merah muda yang tiba-tiba muncul di pipinya.

~zhazhazhazhazha~

Sementara di luar kelas 2A terlihat dua orang gadis dengan seragam Santoyosep dan memiliki warna rambut yang kontras yaitu pink dan pirang mengintip dua sejoli yang sedang bersenda gurau di dalam kelas itu. kedua siswi itu tersenyum-senyum aneh melihat temannya yang sedang mengobrol dengan seorang cowok yang Sakura ketahui itu adalah salah satu kakaknya. Saking asiknya memperhatikan, mereka tak menyadari bahwa seorang pemuda berambut pirang dan bermata biru mendekat kea rah mereka atau lebih tepatnya kearah Sakura.

GYUUUT

Pemuda itu menarik rambut sebahu Sakura membuat pemiliknya berteriak kecil dan mengayunkan tongkat baseballnya ke arah pemuda itu. dan tepat saat berbalik untuk melihat sang pelaku Sakura mengembungkan pipinya mengetahui itu adalah kakaknya sementara Temari melongo bingung sembari melahat kea rah pemuda itu lalu melihat ke dalam kelas lagi.

"Kakak apa-apaan sih?" ucap Sakura kesal sambil memukul kakaknya kembali. Sementara pemuda yang bernama Naruto itu Cuma nyengir kuda sambil menghindari pukulan maut adiknya.

"Weits. Cukup! Cukup! Kau tidak tahu apa? Tongkatmu itu bisa membunuh orang tau. Sini," ucapnya sambil merebut tongkat yang digenggam Sakura membuat gadis bubblegum itu merenggut kesal. 'Padahal dia sendiri juga bawa tongkat yang lebih besar dari punyaku. Dasar bodoh,' batin Sakura mencaci maki kakaknya.

"Sudahlah tak ada gunanya kau mencaci makiku. Itu siapa?" Tanya Naruto sambil melirik Temari yang memasang tampang bodoh.

"Dia temanku. Namanya Sabaku No Temari," ucap Sakura ogah-ogahan. Dia kembali melirik tongkat baseballnya dengan pandangan 'kembalikan' dan di jawab oleh kakaknya dengan pandangan 'tidak. mau.'

"Oh, hai namaku Uzumaki Naruto. Kakaknya Jidat lebar ini," ucapnya sambil mengulurkan tangannya kearah Temari dan di hadiahi oleh ijakan sepatu oleh Sakura karena dengan seenaknya memanggilnya jidat lebar. Temari menjabat tangan Naruto diiringi dengan senyum bingung.

"Senang berkanalan denganmu. Apa kau punya kembaran?" Tanya Temari langsung.

"Punya. Itu yang tadi kau intip. Namanya Namikaze Kyuubi. Hehe," ucapnya sambil memperkenalkan Kyuubi. Temari hanya menggangguk tanda mengerti. "hei sebagai ucapan selamat datang, ayo aku traktir." Lanjutnya yang membuat Temari dan Sakura tersenyum senang dan bersorak. Mereka pun berjalan menuju kantin.

~zhazhazhazha~

Hinata berjalan masuk ke dalam kamarnya. Ia merasa kepalanya berputar-putar dan pengelihatannya berkunang-kunang. Ia mendudukan dirinya di pinggir kasurnya sambil memegang kepalanya. Ia kemudian menjatuhkan dirinya di tempat tidur single bednya.

"Sakiiiit," ritihnya sambil memegang dada bagian kirinya. Hidung mungilnya mencium bau anyir yang masuk ke indra penciumannya. Dengan reflek ia menyentuk hidungnya dan dapat dilihatnya itu adalah darah yang berasal dari hidungnya. Matanya membulat kaget melihat itu.

"Da-darah. Apa kambuh lag atau semakin buruk?" tanyanya lirih. Ia kembali merasakan sakit yang amat sangat pada dada bagian kirinya.

"AAAKH!" ia merintih kesakitan, saat mencoba bangkit ia malah jatuh ke lantai yang dingin itu. nafasnya kembali terengah. Ia mencoba menahan rasa sakit yang semakin menderanya. Air matanya menetes merasakan rasa sakit yang menggerogoti setiap sel tubuhnya.

"Hiks kakak, sakit." Rintihnya sambil memanggil kakaknya. Kesadarannya pun semakin menipis tapi ia tidak ingin mati sekarang, ia masih mempunyai cita-cita yang harus diwujudkan. Ia kembali bangkit dengan menggunakan tangannya sebagai tumpuan, ia menegakkan kakinya dan mulai berjalan perlahan masih sambil menggengam dadanya yang semakin lama semakin nyeri. Tangan mungilnya bertumpu pada dinding sekitarnya, agar ia tidak jatuh. Berhasil. Ia sudah berhasil membuka pintu dan keluar dari kamarnya. Ia menyeret langkahnya menuruni tangga. Namun tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terguling sampai kedasar. Darah menggucur keluar melalui kelapanya.

'Apa aku akan mati seperti ini? Kakak tolong aku, ayah ibu,' batinnya lirih. Air mata seolah tak mau berhenti mengalir dari mata indahnya, kepalanya serasa sangat berat dan kesadarannya pun menipis dan akhirnya hilang.

"HINATAAAA!" suara baritone itulah yang terakhir ia dengar sebelum kesadarannya sepenuhnya hilang dan juga tubuhnya serasa sangat ringan.

tbc

sekian chapter 2 dariku. Semoga tidak terlalu mengecewakan. Terimakasih untuk Patto-san dan YuukiAika Uchiha yang sudah mereview fic saya.

Seperti biasa mohon kritik dan sarannya

Sampai jumpa di chapter depan ^^

*boft*