Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance/Hurt/Comfort
Rate : T
Pair : SasuNaru
Warning : Shounen ai! Don't like don't read, please!
Summary : Sasuke yang mengalami kecelakaan di hari pernikahannya sehingga mengalami amnesia, tidak mengenal dirinya sendiri, siapa orang-orang di sekitarnya, bahkan orang yang dicintainya sekalipun. Bagaimana kisah cinta mereka berdua bertahan di tengah cobaan ini?
The Diary of Sasuke
Chapter 2 - Who Am I?
"Siapa kau?" tanya Sasuke kebingungan.
"Sasuke! Tidakkah, kau mengingatnya? Dia calon pengantinmu!" ucap Itachi dengan nada yang agak keras sembari menunjuk ke arah Naruto.
"Sasuke? Siapa itu? Siapa kau? Calon pengantin? Dia? Aku.. Akan menikah dengan seorang pria?" ucap Sasuke semakin lama semakin bingung.
"Kau bahkan tak mengingat kakakmu sendiri, Sasuke? Tidakkah engkau mengingat bahwa engkau mengalami kecelakaan hingga menewaskan Ayah dan Ibu?" tanya Itachi sedih.
"Ayah dan Ibu tewas? Ayah dan Ibuku siapa?" Sasuke semakin bingung. Ia berusaha mengingat, memaksa untuk mengingat, namun kepalanya terasa sakit sekali.
"Sasuke-chan... Jangan-jangan engkau mengalami amnesia?" tebak Deidara tak percaya.
Tiba-tiba suasana dalam ruangan tersebut menyepi. Hanya terdengar suara detak jantung dan napas Naruto yang terengah-engah.
"Sa-Sasuke..." panggil Naruto sembari melepaskan tangan Deidara yang menopangnya lalu berjalan menuju tempat Sasuke berbaring. Seketika itu, Naruto memeluknya dan terus berkata syukurlah engkau selamat hingga akhirnya jatuh pingsan tidak kuat menahan asmanya kembali.
"Oi? Kau baik-baik saja? Oi?" tanya Sasuke yang kebingungan melihat Naruto yang jatuh pingsan setelah memeluknya.
Itachi dan Iruka segera menopang Naruto dan mencari dokter untuk menangani penyakitnya. Diikuti dengan Deidara yang sebelum menyusul memberikan tatapan sedih kepada Sasuke.
'Mengapa?' mungkin hanya itulah yang muncul dari dalam benak Sasuke.
Hinata yang sedari tadi hanya duduk terdiam menyaksikan kedatangn keluarga Uchiha kini angkat bicara. Ia menceritakan pada Sasuke bahwa dalam perjalanan menuju ke lokasi pernikahan, ia telah mengalami kecelakaan bersama kedua orang tuanya. Namun, kedua orang tua Sasuke tewas di tempat. Sedangkan Sasuke sendiri baru saja melewati masa kritis. Benturan yang keras pada kepala Sasuke membuatnya mengalami amnesia. Itulah yang dapat Hinata perkirakan, sebelum mendengar kejadian tersebut langsung dari keluarga Uchiha.
Sasuke hanya terdiam mendengar cerita Hinata. Ia tidak dapat mempercayai perkataan Hinata. Ia tidak dapat mempercayai bahwa di hari pernikahannya dengan seorang lelaki yang tak dikenalnya, ia kehilangan kedua orang tuanya yang bahkan ia tak ingat bagaimana wajahnya, dan berakhir di rumah sakit dinyatakan mengalami amnesia. Rasanya aneh. Inikah yang disebut amnesia? Inikah yang disebut hilang ingatan? Rasanya seperti berada di dunia lain, bamun engkau tak mengingat bagaimana kehidupanmu di dunia aslimu. Rasanya benar-benar aneh. Seakan-akan kau bukanlah dirimu. Kau bukanlah siapa-siapa, melainkan sosok 'Sasuke' yang kini sedang tertidur dalam dirinya.
"Bagaimana keadaanmu, Tuan Uchiha Sasuke?" tanya seorang dokter yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"Entahlah.." jawab Sasuke lemas.
"Apakah kau benar-benar tidak mengingat apapun? Coba ceritakan apa saja yang kau dapat hari ini atau apa saja yang kau pernah lakukan selama ini." ucap Dokter tersebut.
Sasuke terdiam, ia meminta sebuah buku dan alat tulis. Sebisa mungkin ia akan mecoba untuk menuliskan apa saja yang ia ingat, dan apa saja yang ia lakukan demi memperoleh ingatannya yang telah hilang. Sasuke memang berkata seperti itu, tapi 'Ingatan yang telah hilang'? Dirinya bahkan tak mengerti apa maksudnya hal itu. Ia tidak yakin kalau ia mengalami hilang ingatan. Susah menerima kenyataan kalau ia mengalami amnesia.
Setelah dokter memberikan apa yang diminta Sasuke, ia menanyakan tanggal kepada sang dokter dan mulai menulis.
'18 Maret 2012
Siapa aku?
Siapa sebenarnya diriku?
Apa yang telah kulupakan?
Aku sendiri tidak yakin aku mengalami hilang ingatan. Ini hanya, terjadi begitu saja. Begitu pikirku.
Dari awal hingga kini, apa yang terjadi padaku yang kuingat hanyalah, ketika aku membuka mata aku melihat banyak dokter dengan seorang gadis yang bernama Hinata. Kepalaku terasa sakit, setelah kusadari ternyata badanku penuh luka dan perban meliliti kepalaku. Apakah aku mengalami kecelakaan? Kecelakaan apa? Kapan? Bagaimana? Dimana? Tidak ada yang dapat kuingat. Rasanya seperti mengalami tidur yang panjang, di sana engkau bermimpi, di saat kau terbangun kau akan melupakan semua yang terjadi di dalam mimpi itu.
Seperti ingat namun tidak ingat.
Seperti tahu namun tidak tahu.
Rasanya aneh, ganjil, sungguh memuakkan! Ingin mengingat namun tidak bisa. Ingin meminta tolong namun aku tidak mengenal siapapun di sini.
Tidak lama setelah itu, beberapa orang yang mengaku keluargaku datang. Dengan sangat tergesa-gesa terus bertanya kepadaku apakah engkau ingat? Mengapa kau melupakannya? Jangan-jangan engkau amnesia? Seperti itulah kira-kira.. Namun aku tidak tahu apa yang harus aku jawab. Aku benar-benar tidak tahu.
Lelaki yang dikatakan seorang calon pengantinku, dengan napas yang terengah-engah memelukku mensyukuri keselamatanku. Aku tidak dapat mengingatnya, namun suara dan baunya terasa sangat familiar, namun aku tidak tahu ia siapa.
Seperti ingat namun tidak ingat.
Seperti tahu namun tidak tahu.
Siapa aku sebenarnya?'
Setelah menuliskan kata-kata itu, Sasuke menitikkan setetes air mata dari bola mata hitam kelamnya. Ia tidak mengerti mengapa ia menangis. Ia tidak mengerti mengapa rasanya sedih sekali tidak mengingat siapa lelaki itu, siapa orang yang mengaku sebagai kakaknya, dan siapa dirinya.
Sasuke berusaha membangkitkan dirinya dari ranjang rumah sakit. Berjalan menuju cermin. Menatap. Sosok yang terpantul di sana... Siapa? Kalau itu bukan aku, lalu seperti apa sosokku? Ia mengikuti semua gerakan yang kuperbuat. Apakah itu adalah bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa sosok tersebut adalah aku? Tidak tahu... Itulah yang aku rasakan.
Sasuke mengepalkan tangannya erat, erat hingga meninggalkan bekas berbentuk ujung kuku pada telapak tangannya. Ia memandang tajam cermin yang terbentang tepat di depannya sembari mengucapkan, "Aku pasti akan mendapatkan ingatanku kembali, suatu saat nanti!". Sasuke bertekad untuk mendapatkan ingatannya kembali. Tubuh tanpa ingatan maupun kenangan, walau memiliki jiwa, nampak seperti mayat hidup baginya. Diri tanpa identitas, diri tanpa jati diri, ia muak dengn semua hal itu.
Sasuke pun berbalik kembali menuju ke arah dokter dan Hinata, meminta agar diinya diantarkan menuju jenazah 'Ayah' dan 'Ibu' yang kakaknya maksud. Sang dokter mengangguk, dan mulai menunjukkan jalan kepada Sasuke, Hinata membantu menopang tubuh Sasuke yang masih tidak mampu menstabilkan keseimbangannya.
Sesampainya di ruang tempat jenazah Ayah dan Ibu Sasuke, alangkah kagetnya Sasuke melihat kakaknya telah mendahului dirinya untuk melihat jenazah tersebut.
"Sasuke..." ucap Itachi lirih.
"..." Sasuke hanya terpaku melihat sorot mata Itachi yang menatapnya dengan penuh kesedihan. Dalam pikirannya, ia merasakan seperti kakaknya menaruh rasa kecewa yang sangat tinggi padanya. Sebagai orang terakhir yang mendampingi Ayah dan Ibunya, Sasuke malah melupakan bagaimana senyum terakhir sebelum meninggalnya kedua orang tua mereka. Namun, apa yang terjadi adalah.. Itachi tersenyum kepadanya.
"Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu, kematian Ayah dan Ibu bukan salahmu, dan walaupun kau sudah melupakan semua hal tentangku, aku masih tetap kakakmu, dan kau adikku. Itu tak akan pernah berubah!" ucap Itachi sembari menyentik dahi Sasuke.
"Hanya dengan melihat bahwa kau masih hidup, itu sudah cukup untukku." ucap Itachi menambahkan.
Mendengar apa yang dikatakan Itachi, Sasuke menundukkan kepalanya, entah merasa sedih ataupun senang, namun dari dalam lubuk hatinya ia merasakan sedikit kebahagiaan, dan ia menyadari hal itu.
"Maaf.. Walaupun aku berusaha mengingat, semua orang di sekitarku tetap terasa asing bagiku. Namun mendengar ucapanmu tadi.. Aku dapat merasakan kalau diriku adalah orang yang benar-benar bangga memiliki kakak sepertimu." ucap Sasuke tersenyum menatap Itachi.
Itachi yang mendengar apa yang diucapkan Sasuke, mau tak mau tersenyum lega, melihat adiknya yang telah mengalami amnesia masih tetap seperti adiknya yang dulu. Adik yang benar-benar menyayangi kakaknya, dan sebaliknya kakak yang benar-benar menyayangi adiknya.
Bersama-sama mereka berdua berduka menatap jenazah orang tuanya.
"Ayah, Ibu, lihat.. Sasuke selamat, dan sekarang ia sudah baik-baik saja. Walau kini ia telah mengalami hilang ingatan, ia tetap seperti Sasuke yang dulu. Jadi.. Semoga kalian berdua beristirahat dengan tenang." ucap Itachi sembari mencium dahi Ayah dan Ibu nya untuk terakhir kalinya. Setelah itu, ia menatap Sasuke seperti mengatakan 'sekarang giliranmu' dengan senyum yang hangat.
Sasuke yang nampak sedikit bingung, memutuskan untuk melakukan apa yang dilakukan oleh kakaknya. Ia mencium dahi Ayah dan Ibu nya dan berkata,
"Ayah, Ibu.. Maaf.. Sebagai seorang anak, aku telah melupakan kalian, orang tuaku sendiri. Terlebih lagi, aku telah melupakan bagaimana saat-saat terakhir kalian sebelum kalian pergi. Kecelakaan tersebut, semua salahku. Apa yang menyebabkan kalian meninggal, salahku juga. Walaupun aku tidak mengingat apapun, aku siap bertanggung jawab atas semua ini. Aku akan berusaha untuk mendapatkan kembali ingatanku, dan setelah itu, jika ada aku akan menyampaikan pesan terakhir Ayah dan Ibu yang kalian titipkan padaku.. Karena itu, tolong beristirahatlah dengan tenang." ucap Sasuke sembari menundukkan kepalanya, menetes sebutir air mata dari mata hitam kelamnya. Menangis terhadap orang-orang yang tidak dikenalnya. Menangis terhadap wajah yang sama sekali asing baginya. Mengapa? Mungkin karena walaupun hatinya tidak mengingat Ayah dan Ibunya, tubuhnya telah mengenali sosok yang telah melahirkan dan membesarkannya hingga kini..
Itachi menepuk bahu Sasuke dan tersenyum hangat padanya.
"Ayo, Sasuke. Sekarang saatnya kau menemui Naruto, calon pengantinmu."
To be continue
Yeheeeee..
Kuro kembaliii *jingkrakjingkrak*
Hari ini kuro libur, soalnya di Bali tempat kuro tinggal ada hari raya nyepi. Jadi semua kegiatan di sluruh pulau Bali di hentikan. Lampu juga tidak boleh dinyalakan. Tidak ada yang boleh keluar dari rumah. Seperti kota mati! Asyik bukan?
Kuro memanfaatkan libur 3 hari ini untuk update fanfic! Yosh!
Sebelumnya terimakasih atas review yang diberikan di chapter lalu. Kuro terharuuuuuuuu!
Jangan lupa review chapter ini juga yaa xD
