- Scheduler's Angel-
Disclaimers:
Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki and Yuusuke Murata
Scheduler's Angel by Hana Suzuran
Genre: Supernatural/ Mystery/ Crime
Warning: Alternate Universe, Out of Characters, OC, typo, misstypo, etc
Chapter 2: Unusual Mission
A/N: Yak, udah apdet chapter 2! Maaf agak lama, kemarin masih sibuk UAS. Tapi karena sekarang udah selesai dan tinggal nunggu bagi rapor, jadinya nih fanfic bisa diketik kilat dan langsung apdet ^^.
Makasih buat undine-yaha, Mitama134666, iin cka you-nii, sasoyouichi, Carnadeite, dan Riidinaffa buat review-nya. Udah dibales lewat PM ya :)
orang lewat1: Bisa dibilang Mamori tuh punya sixth sense makanya bisa liat setan gentayangan *?* #plak. Udah apdet nih! ^^
Lovin n' world: Hehehe, adegan romantis sih mungkin ada nyempil. Tapi diusahain porsinya *?* imbang kok. Enjoy this chapter ^^
Yosh, semoga chapter ini ga gaje seperti bayanganku. Semoga -,-
Enjoy it, minna! :)
"Maaf menunggu lama, Yamato."
Suara lembut Mamori mengalihkan pandangan Yamato yang sedang berkutat dengan ponselnya. Disimpannya benda mungil itu ke saku celananya kemudian tersenyum menyambut Mamori.
"Tidak apa-apa."
Gadis berambut auburn itu mengambil posisi duduk tepat di hadapan Yamato. Suasana kantin tidak terlalu ramai. Hanya sekitar lima orang yang berada di sana. Mamori mengangkat cangkir teh yang ada di hadapannya dan melirik makanan yang juga sudah tersedia.
"Kau tidak perlu repot-repot menyiapkan semua ini," gumam Mamori sambil menyeruput tehnya.
"Karena aku tahu kau belum makan," jawab Yamato sambil menyunggingkan seulas senyum kecil. "Kecelakaan itu pasti menyita pikiranmu sampai-sampai kau lupa makan."
"Ya ... kau benar."
Mamori meletakkan cangkir teh itu sambil menatap menu makanan di hadapannya saat ini. Sup borsch khas Rusia yang berwarna merah itu terlihat mengundangnya untuk segera menyantap makanan itu. Mamori juga merasakan perutnya sudah mulai protes minta diisi. Ia mengambil sendok yang terletak di samping mangkuk sup dan mulai memakannya.
"Jadi ... misi apa yang diberikan atasan?" tanya Mamori sambil mengunyah, mencoba kembali pada topik utama mereka.
Yamato menatap manik sapphire Mamori sejenak kemudian menghela napas pelan.
"Kita akan ditugaskan di sebuah desa terpencil."
Mamori menaikkan sebelah alisnya yang menyiratkan keheranan di benaknya. "Desa terpencil?"
Yamato mengangguk.
"Untuk apa kita ditugaskan seperti itu? Ini tidak seperti biasanya. Desa terpencil, tempat yang tenang dan damai. Tidak ada hal-hal kriminal berbahaya seperti yang biasa kita hadapi," protes Mamori.
Pikiran gadis itu kembali mengulang memori tentang misi yang dijalaninya selama tiga tahun menjadi detektif polisi. Meringkus sindikat narkoba, menangkap pelaku kasus pembunuhan dan pencurian, serta berbagai kasus lainnya. Terbayang olehnya desa kecil dengan hamparan warna hijau di mana-mana dan udara desa yang tidak terkontaminasi polusi udara begitu sejuk memasuki rongga dadanya. Misi seperti apa yang bisa mereka lakukan? Menangkap pencuri tanaman? Sungguh konyol!
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan," sergah Yamato, mengembalikan Mamori dari dunia khayalnya sekaligus membuat gadis itu bertambah heran.
"Apa maksudmu?"
"Desa yang akan kita datangi ini bukanlah desa seperti yang ada dalam benakmu. Misi yang kita emban ini cukup berat," ujar Yamato.
"Cukup berat? Maksudmu?"
Yamato menopang dagu di atas kedua telapak tangan yang saling bertumpu lalu menatap mata Mamori. "Kita akan mengungkap misteri hilangnya lima orang gadis di desa itu."
XXX Scheduler's Angel XXX
Suara langkah kaki menggema di koridor rumah sakit yang sepi. Tidak ada siapapun di sana. Seharusnya suara langkah kaki itu mampu tertangkap oleh indera pendengaran manusia. Sayangnya tidak.
Suara langkah kaki itu terhenti beberapa meter dari ujung koridor. Pemilik langkah kaki itu menatap sosok yang menghalanginya. Seorang lelaki berambut merah dengan gitar yang diletakkan di samping kiri tubuhnya. Lelaki itu menyandarkan tubuhnya ke dinding koridor.
"Fuh, kau lumayan sibuk ya, Hiruma?"
Sapaan lelaki berambut merah itu tak dihiraukan oleh Hiruma. Ia asyik mengunyah permen karet mint di mulutnya sambil menatap si rambut merah dengan pandangan tak peduli.
"Kalau kau punya waktu untuk menyapa, lebih baik kerjakan saja tugasmu, Rambut Merah Sialan."
Hiruma kembali melanjutkan langkahnya sambil membuang tatapan matanya dari si rambut merah. Hanya sebentar, karena lelaki itu menahan bahunya.
"Justru aku sedang mengerjakan tugasku sekarang," ujarnya sambil melepaskan pegangan di bahu Hiruma. "Aku diminta menyampaikan pesan dari Shirayuki-sama padamu."
"Pesan? Dari Wanita Sialan itu?" tanya Hiruma sambil menyipitkan mata.
"Fuh, jangan berwajah tidak senang begitu, Hiruma. Kau diminta menghadap Shirayuki-sama sekarang juga. Ada hal yang ingin disampaikan padamu."
Hiruma menyipitkan kedua matanya. Masih tidak yakin dengan ucapan rekannya itu.
"Tugasmu di sini biar kugantikan. Kebetulan 'jadwal'ku sedang kosong."
Wajah Hiruma menunjukkan keheranan. Tumben-tumbennya wanita yang juga pimpinannya itu menyuruhnya menemui secara langsung. Yah, dibilang pimpinan sih tidak terlalu tepat. Mungkin lebih pas dikatakan bahwa wanita itu adalah seniornya. Biasanya, wanita itu sangat susah untuk ditemui. Hiruma bahkan berpikir kalau wanita itu sama merepotkannya dengan seseorang dulu.
Ya, dulu ...
"Fuh, teringat masa lalu?"
Suara rekannya membawanya kembali dari fantasi masa lalu. Ia menatap tajam rekannya, hanya sesaat. Ia langsung melangkahkan kaki melewati rekannya itu dan terus melangkah hingga sosoknya perlahan menghilang dari pandangan.
"Menarik ..." gumam si rambut merah.
XXX Scheduler's Angel XXX
Taman itu begitu indah dan luas. Ditutupi oleh rerumputan laksana permadani yang membentang luas. Permadani hijau itu terbelah di tengah-tengah selebar dua meter. Belahan itu berupa jalan setapak yang terbuat dari semacam keramik kualitas tinggi. Taman itu dikelilingi pagar setinggi tiga meter yang ujungnya runcing. Di salah satu sisi, berdiri dua patung berwujud malaikat yang menyambut siapapun yang masuk ke taman itu.
Hiruma menatap lurus ke depan sambil melewati patung malaikat itu. Kedua iris matanya menangkap sosok wanita cantik yang sedang berdiri membelakanginya. Rambutnya terurai hingga ke pinggang dan berwarna biru kehitaman. Pakaiannya berupa kimono putih dengan obi berwarna biru.
Wanita itu seperti menyadari kehadiran Hiruma. Ia menoleh perlahan sebelum membalikkan tubuhnya. Sekarang lelaki berambut pirang itu bisa melihat dengan jelas wajah cantik yang sedang tersenyum itu. Baru terlihat juga kalau ia mengenakan mawar hitam di atas telinga kirinya.
"Ck, mau apa kau, Wanita Sialan? Jangan memanggil kalau tidak ada yang penting."
Mereka hanya berjarak dua meter. Hiruma tidak suka berbasa-basi dengan wanita ini. Dan ada satu lagi alasan mengapa ia tak mau berurusan dengan wanita ini.
"Hiruma Youichi, sudah berapa kali kukatakan padamu ..."
Wanita itu menggantung ucapannya dan mendekati Hiruma sementara lelaki itu hanya diam tak bergeming sambil menatap tajam.
Wanita itu sudah tepat berada di hadapannya sekarang ...
Buagh!
Sebuah pukulan menghantam wajah tampan Hiruma dan membuatnya terlempar.
"BERAPA KALI HARUS KUBILANG UNTUK BERSIKAP SOPAN PADA SENIORMU, HAH?"
Shirayuki masih mengancungkan tinjunya dengan empat siku tercetak di dahinya. Sementara Hiruma sudah berdiri tegak dengan bekas pukulan di pipi kanannya. Ya, inilah alasan mengapa ia malas berurusan dengan wanita ini.
Ia brutal.
Terlalu brutal untuk ukuran seorang 'senior yang anggun'.
"Berani sekali kau menghajarku, Wanita Sialan?" protes Hiruma dengan ekspresi tak terima.
"Tentu saja aku berani! Aku ini seniormu, payah!" balas Shirayuki tak mau kalah. "Dan berhenti memanggilku 'Wanita Sialan'!"
"Kalau saja aku masih membawa senjataku, kau sudah kutembak dengan peluru asli!"
"Dan saat itu juga kau akan kukirim ke neraka supaya bisa bertemu 'budak-budak'mu yang lain!"
Hiruma terdiam sejenak. Ia teringat bahwa dulu ia juga pernah bertengkar seperti ini dengan seseorang. Yah, memang orang itu tidak se-brutal Shirayuki, tapi ia selalu teringat. Suasananya, caranya melawan lelaki itu, hampir sama seperti sekarang.
"Heh, teringat masa lalu, Hiruma?"
Hiruma menajamkan pandangan matanya. Kata-kata itu persis seperti ucapan si rambut merah tadi. Kenapa hari ini mereka menyinggung masa lalunya? Hiruma bahkan tidak tahu masa lalu mana yang mereka sindir.
"Apa maumu, Wanita Sialan?"
Shirayuki diam sebentar, mengamati ekspresi Hiruma. "Akaba tidak menyampaikan langsung padamu?" ia malah balik bertanya.
"Tidak. Rambut Merah Sialan menyuruhku menghadap langsung padamu. Ada apa sebenarnya?"
Shirayuki kembali terdiam.
"Anak itu! Bukankah kusuruh menyampaikan langsung padamu?" gumam Shirayuki, lebih ditujukan pada dirinya sendiri.
Hiruma membalikkan badannya dengan wajah tak peduli. "Kalau memang tidak ada perlu, ya sudah. Aku pergi dulu," katanya sambil berlalu pergi.
"Tunggu, Hiruma!"
Lelaki itu berhenti dan kembali membalikkan tubuhnya. Iris emerald-nya menangkap raut serius dari wajah Shirayuki. Tidak seperti ekspresi biasanya yang langsung menghajarnya bila bersikap tidak sopan seperti tadi.
"Sebaiknya memang kujelaskan langsung saja," ucapnya sambil menghela napas.
Hiruma menunggu.
"Aku punya tugas baru untukmu. Dan tugas ini khusus hanya untukmu."
XXX Scheduler's Angel XXX
"Semuanya sudah beres?"
Yamato menatap gadis di hadapannya yang sekarang tampak cantik dengan kaus longgar dan celana pendek selutut. Gadis itu—Mamori—tersenyum seraya melihat bagasi mobil yang sudah terisi dengan barang bawaan mereka.
"Kurasa sudah. Kita bisa berangkat sekarang."
Setelah menutup bagasi, mereka berdua masuk ke dalam mobil. Yamato duduk di bangku kemudi sementara Mamori duduk di sampingnya. Lelaki itu memutar kunci dan menghidupkan mesin mobil. Mobil yang mereka naiki mulai berjalan perlahan.
Sepanjang perjalanan, Mamori hanya menatap keluar jendela dengan sebelah tangan menopang dagu. Perjalanan menuju desa itu memakan waktu kira-kira empat jam. Tidak terlalu jauh dari Osaka sebenarnya. Seharusnya mereka berangkat pagi hari, tapi karena ada tugas lain yang belum selesai ditangani, mereka terpaksa menunda keberangkatan mereka dan akhirnya berangkat ke desa itu menjelang sore hari.
"Kuharap kita sampai di sana sebelum matahari terbenam," celetuk Yamato. Hanya basa-basi, sekedar untuk mengisi keheningan.
Mamori mengangguk. "Kuharap juga begitu."
Wanita itu masih menatap pemandangan di sisi jalan yang menyejukkan mata. Mereka sudah meninggalkan Osaka dan rimbunan hutan-hutan nan hijau sudah mulai menyapa mereka. Mamori senang bila melihat pepohonan yang menjulang tinggi seperti ini. Jika boleh, ingin rasanya ia keluar dari mobil sekarang dan mengisi paru-parunya dengan oksigen yang dikeluarkan pohon-pohon tersebut.
Ah, tapi ia tahu. Sebentar lagi ia akan menikmatinya. Setibanya mereka di sana.
"Ngomong-ngomong, apa benar di desa itu terjadi pembunuhan berantai?"
Pertanyaan Mamori barusan membuat Yamato mengalihkan pandangan sejenak sebelum kembali fokus menyetir.
"Itu benar. Kejadiannya sudah lama, sekitar hampir setengah tahun yang lalu. Setiap satu bulan, satu orang gadis menghilang dan ditemukan tidak bernyawa tiga hari kemudian. Mereka ditemukan dengan keadaan dada berlubang."
Mata Mamori melebar mendengar kalimat terakhir. "Dada berlubang?"
Yamato mengangguk. "Ya. Anehnya, tidak ada darah yang keluar dari dada mereka sama sekali."
Mamori menyipitkan matanya sambil menatap Yamato. "Tidak ada sama sekali? Kau yakin?"
Yamato mengangguk mantap.
Mamori menyandarkan diri pada sandaran kursi sambil mendekap kedua tangan di dada. Ia memikirkan kata-kata Yamato barusan. Apa mungkin membunuh—sampai melubangi dada—tanpa mencecerkan darah? Secara logika, itu sama sekali tidak benar! Mana ada orang membunuh tanpa meninggalkan jejak darah? Atau mungkin si pembunuh ini cukup cerdik sehingga membuat pembunuhan ini seolah menjadi tidak mungkin?
Tapi bagaimana jika pembunuhan ini dilakukan di luar logika? Dengan semacam kekuatan supernatural misalnya?
Mamori menggeleng pelan. Ia tidak yakin dengan pikiran terakhirnya itu.
Atau lebih tepatnya, ia tidak yakin dengan masalah kekuatan supernatural itu. Mungkin dikarenakan ia tak pernah melihat hal-hal seperti itu sebelumnya.
"Kau kenapa? Ada masalah?"
Suara Yamato terdengar bingung. Mungkin ia melihat Mamori menggeleng tadi.
"Tidak ada apa-apa," jawab gadis itu sambil menggeleng pelan dan kembali fokus menatap ke depan.
Tanpa terasa, mereka sudah sampai di perbatasan desa kecil itu. Bulan sudah keluar menggantikan matahari. Suasana terasa sunyi senyap dan pandangan mereka tertutup kelamnya malam dan dikarenakan penerangan yang kurang.
Setelah sampai di depan sebuah rumah, Yamato menghentikan mobil dan mematikan mesin. Ia menyuruh Mamori untuk turun dari mobil. Mereka kemudian menuju rumah tersebut.
Tok! Tok!
Yamato mengetuk pintu rumah itu perlahan. Setelah beberapa saat, dari dalam rumah keluarlah sesosok kakek tua bertubuh pendek.
"Konbanwa, Doburoku-san," sapa Yamato.
"Siapa kalian?" tanya Doburoku dengan pandangan menyelidik.
"Saya yang kemarin menghubungi anda," jawab Yamato.
"Hoo, kalian yang dari Osaka rupanya," kata Doburoku sambil memandang Mamori dan Yamato bergantian. "Karena kalian sudah datang, akan kutunjukkan di mana desanya. Mobil kalian bisa ditinggalkan di sini."
Doburoku masuk ke dalam sebentar untuk mengambil senter. Yamato dan Mamori membawa barang-barang yang mereka taruh di bagasi. Tidak terlalu banyak, jadi tidak sulit membawanya. Mereka kemudian berjalan menyusuri hutan dengan penerangan seadanya.
"Apa desanya jauh?" tanya Mamori sambil merapatkan jaket yang baru saja dikenakannya. Jujur saja, hawa di sini jauh lebih dingin dibandingkan di Osaka. Terlalu dingin malah. Padahal sekarang belum masuk musim dingin.
"Lumayan, sekitar 500 meter dari rumahku. Tapi jalan menuju desa itu sangat kecil. Mobil tidak punya akses untuk masuk, makanya mobil kalian terpaksa harus ditinggalkan di rumahku," terang Doburoku.
"Doburoku-san adalah penjaga perbatasan desa. Dia yang membimbing orang-orang yang ingin masuk ke desa. Dan tidak perlu khawatir soal mobil, dia akan menjaganya," kata Yamato mejelaskan.
Mamori mengangguk. Sebenarnya ia tidak terlalu mengkhawatirkan masalah mobil. Sepertinya orang bernama Doburoku ini cukup bisa dipercaya. Ia malah kepikiran soal sesuatu yang mengganjal di hatinya. Rasanya seperti ...
Ada yang mengawasi mereka.
Mata gadis itu langsung melirik ke segala arah, mencari gerakan yang mencurigakan. Sayangnya, karena hutan ini terlalu gelap, ia tak menemukan sesuatu yang aneh. Tapi tetap saja, perasaannya berkata sebaliknya.
Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka melihat beberapa titik sinar dari kejauhan. Rupanya itu lampu beberapa rumah warga. Yah, memang tidak semua rumah menggunakan penerangan. Maklumlah, desa ini hanyalah sebuah desa kecil.
Mereka menapaki jalan setapak yang diapit oleh hutan dan rumah penduduk. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah rumah yang berada di ujung desa. Rumah itu terlihat sedikit lebih luas dibandingkan rumah lainnya.
Doburoku mengetuk pintu rumah itu. Beberapa saat kemudian, seorang anak lelaki berambut hazel mengintip dari balik pintu.
"Oh, Doburoku-sensei!" sapanya saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
"Konbanwa, Sena. Kau belum tidur rupanya," balas Doburoku sambil tersenyum.
Sena ikut tersenyum pada Doburoku lalu menatap dua orang yang berdiri di belakang pria paruh baya itu.
"Mereka kan ..."
"Oh, aku lupa memperkenalkan padamu," kata Doburoku memotong kalimat Sena lalu menggeser posisi tubuhnya supaya ia bisa melihat tamu-tamunya. "Mereka orang yang kuceritakan padamu dua hari lalu. Mereka datang dari Osaka dan mau menginap di sini."
"Halo," sapa Yamato dan Mamori bersamaan.
"E-eh, ha-halo. Na-namaku Kobayakawa Sena. Senang bertemu kalian." Ia membungkukkan badan sambil tersenyum gugup.
"Aku Yamato dan ini Mamori. Senang bertemu denganmu juga, Sena," balas Yamato sambil memperkenalkan dirinya dan Mamori.
"Hai, Sena! Senang bertemu denganmu," sambung Mamori.
Sena menatap Mamori dengan mata membelalak. Hanya sesaat. Ia langsung merubah ekspresi wajahnya agar Mamori tidak curiga.
"Nah, karena sekarang sudah malam, sebaiknya kalian berdua segera masuk ke dalam rumah. Besok pagi mungkin aku akan datang kemari lagi," kata Doburoku.
"Terima kasih banyak, Doburoku-san," kata Mamori sambil membungkuk ke arah Doburoku.
"Ya. Kalian berdua istirahatlah."
Selesai berkata begitu, Doburoku langsung pamit sementara Sena membantu Mamori membawa barang-barangnya masuk ke dalam rumah.
Interior bagian dalam rumah Sena biasa saja. Khas rumah tradisional Jepang dengan pintu geser dan lantai yang terbuat dari kayu. Rumah itu terasa hangat, cukup untuk membuat Mamori dan Yamato tidak merasa kedinginan lagi.
"Mari kuantar ke kamar kalian," ajak Sena.
Mereka menyusuri koridor yang cukup panjang untuk sampai ke bagian belakang rumah. Di sana terdapat dua buah pintu yang saling berhadapan. Kelihatannya itu adalah kamar tidur. Di sebelah kamar tidur di sisi kiri terdapat sebuah kamar mandi.
"Ini kamar kalian berdua. Tidak usah sungkan, anggap saja rumah sendiri," kata Sena sambil tersenyum.
Mereka balas tersenyum sambil masing-masing memegang kenop pintu.
"Sena? Kau bicara dengan siapa?"
Suara yang terdengar tiba-tiba itu mengagetkan ketiga orang yang berdiri di sana. Sebuah kepala terlihat mengintip dari pintu kamar mandi yang terbuka sedikit. Seorang lelaki dengan wajah yang—terlihat—sedikit mirip monyet itu menatap mereka bertiga secara bergantian.
"Ah, Monta!"
Lelaki yang dipanggil Monta itu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang tersampir di pundaknya. Ia menatap kedua tamu mereka dan seketika matanya terpaku pada Mamori.
"Ah, kau kan ..." katanya sambil menunjuk Mamori.
"Kau kenal aku?" tanya Mamori bingung.
"Tentu sa—hmmph!"
Ucapan Monta terpotong ketika Sena menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Monta menatap Sena heran sementara lelaki berambut hazel itu tertawa gugup.
"A-ano, ada yang ingin kubicarakan dengan Monta sebentar. Ka-kalian silahkan beristirahat."
Dengan cepat Sena membawa—tepatnya menyeret—Monta pergi menuju ruang depan, meninggalkan Yamato dan Mamori dalam tanda tanya.
Sesampainya di ruang depan, barulah Sena melepaskan sumpalan pada mulut Monta. Monta terlihat heran dengan tingkah Sena.
"Kau ini kenapa, Sena? Tiba-tiba menutup mulutku dan menyeretku seperti itu!" protes Monta dengan wajah kesal.
"Ma-maaf, Monta," gumam Sena.
"Memangnya ada apa? Bukankah kita memang mengenal dia? Dia kan ..."
"Monta," potong Sena. "Untuk sementara, bersikaplah seolah belum mengenalnya."
"Ha? Kenapa? Bukannya kita memang ..."
"Aku mohon, Monta. Ikuti kata-kataku, sekali ini saja," pinta Sena dengan wajah memohon.
Monta menatap wajah sahabatnya sejenak. Jujur saja, ia sedikit bingung dengan sikap Sena saat ini. Entah mengapa, ia terlihat gugup dan panik. Tapi, Monta paham, memintanya menjelaskan pun sia-sia saja untuk saat ini.
"Baiklah," Monta akhirnya memilih mengalah. "Aku akan bersikap seolah baru bertemu dengannya. ACTING MAX!" ucapnya bersemangat sambil mengepalkan tangan.
"Terima kasih, Monta."
"Don't mind, Sena!" Monta mengacungkan jempolnya pada Sena. "Baiklah, sebaiknya kita juga tidur sekarang," ajak Monta.
"Baiklah."
XXX Scheduler's Angel XXX
Gadis itu berlari menembus gelapnya malam. Wajahnya penuh dengan peluh dan butiran air mata bergulir di pipinya. Rambutnya yang dikepang melambai kencang akibat cepatnya ia mencoba berlari. Ia sesekali menatap ke belakang, memastikan ia tidak lagi diikuti. Gadis itu yakin bahwa tidak ada siapapun yang mengikutinya. Tapi hatinya tidak berkata demikian.
Ia masih terus berlari, tak peduli walaupun kakinya sudah lelah. Sampai pada satu saat, ia tersandung akar sebuah pohon dan jatuh terjerembab.
"Ugh!" erangnya kesakitan.
Tubuhnya penuh luka lecet karena tergores beberapa tanaman liar berduri di sekitar pohon itu. Ia masih mencoba bangun, tapi ternyata kakinya terjatuh dalam posisi yang salah, menyebabkan kakinya terkilir.
Gadis itu masih mencoba mengatur napasnya. Ia melirik ke belakang dan melihat tak ada siapapun yang datang. Sunyi senyap.
"Mencariku?"
Suara itu membangkitkan adrenalin si gadis dan menyebabkan bulu kuduknya meremang. Tubuhnya lemah seketika. Di hadapannya berdiri sesosok laki-laki yang mengenakan pakaian serba hitam dan mantel bertudung sehingga wajahnya tak kelihatan.
"Permainan petak umpet sudah selesai," sambung si lelaki.
Gadis itu hanya bisa pasrah saat lelaki itu mencekik lehernya dan mengangkat tubuhnya hingga wajah gadis itu sejajar dengannya.
"Sayang sekali. Gadis secantik kau harus mengalami hal seperti ini. Tapi, aku juga tidak ingin menyia-nyiakanmu," katanya sambil menyeringai.
"A—argh!" erang gadis itu penuh kesakitan. Ia tidak bisa merasakan udara mengalir ke paru-parunya karena kuatnya cengkraman orang ini.
"Sekarang akan kutunjukkan padamu kematian."
Sambil berkata demikian, lelaki itu menempelkan tangannya di dada gadis itu. Gadis itu merasakan detak jantungnya yang mulai melambat. Semakin lama semakin lambat. Sedikit lagi dan jantungnya benar-benar akan berhenti berdetak.
"Fufufu."
Lelaki itu tertawa menyeringai melihat wajah wanita itu yang semakin memucat. Perlahan muncul lubang kecil di dadanya, semakin membesar seiring dengan melambatnya detak jantungnya. Gadis itu hanya memejamkan mata, pasrah dengan jiwanya yang perlahan seperti keluar dari tubuhnya. Ditambah lagi dengan rasa sakit yang luar biasa akibat lubang di dadanya yang semakin membesar.
"Sayonara," ucap lelaki itu penuh kemenangan.
Hanya sedetik setelah itu, ia merasakan tubuhnya menegang. Ia bisa merasakan sesuatu yang datang dengan cepat, sampai-sampai ia tak menyadarinya. Auranya begitu kuat dan terasa sangat familiar.
'Aura ini ..." batin lelaki itu. 'Mustahil!'
Crash!
~ To Be Continued~
A/N: Makasih bagi kalian yang sudah mau repot-repot membaca fanfic ini :D
Semoga chapter berikutnya ga ngaret updatenya (_ _)a
Review, please? *_*
