- Scheduler's Angel-

Disclaimer:

Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki and Yuusuke Murata

Scheduler's Angel by Hana Suzuran

Genre: Supernatural/ Mystery/ Crime/

Warning: Alternate Universe, typo (jaga-jaga), OOC, dll

Sedikit terinspirasi dari drama Korea 49 Days dengan perubahan di sana-sini tentunya :)

A/N: *datang dengan wajah tak berdosa*

Hai, semuanya~ Merindukanku? :D #dibacok. Oke, akhirnya setelah melalui lika-liku dan perjuangan panjang *bah* akhirnya bisa apdet \(;;w;;)/

Buat hana-chan kirei, karin-mikkadhira, Mitama134666, undine-yaha, Mayou Fietry, Dinaffa, Kuro Nami, Carnadeite, dan sasoyouichi udah dibales lewat PM yah :)

Animea Lovers Ya-ha: makasih udah riview ya :) Soal bumbu romance itu memang nggak sebanyak 2 genre di atas, tapi bakal tetep ada kok ^^ Dan soal ending ... ehm ... no comment ^^a #plak

Yuki kineshi: Hiruma dan Akaba itu semacam shinigami :)

Chapter 3: The Destiny's Scenario Begin


'Aura ini ...,' batin lelaki itu. 'Mustahil!'

Crash!

Cairan merah itu menetes perlahan, mewarnai tanah yang tertutup rerumputan. Semakin lama semakin menggenang. Si lelaki menjatuhkan wanita itu ke tanah kemudian perlahan membalikkan tubuhnya. Apa yang dilihatnya membuatnya membelalakkan mata.

"Ternyata benar, kau!" geram lelaki itu sambil menahan perih yang tertoreh di punggungnya.

Orang yang dimaksud tidak menjawab. Tangannya yang masih berlumuran darah lelaki itu mengambil AK-47 yang dibawanya lalu membidik lelaki itu.

"Sudah lama aku tidak menggunakan benda ini. Kita lihat apakah bidikanku masih bisa tepat sasaran. Kekekeke." Orang itu terkekeh sambil tetap membidik sasarannya.

"Ugh! Kau ..."

Dor!

Bersamaan dengan Hiruma menarik pelatuk, peluru yang melesat dari senjata itu mengarah tepat ke jantung si lelaki. Jarak di antara mereka hanya lima meter, mustahil bisa mengelak dengan cepat. Sayangnya, perkiraan itu meleset. Hanya dalam sekejap, sosok lelaki itu menghilang. Akibatnya peluru yang dimuntahkan senjata Hiruma hanya mengenai pohon di hadapannya.

"Cih, dia kabur." Lelaki berambut spike itu terlihat kesal karena buruannya kabur. "Kalau begini, aku harus mencari lagi di mana Pembunuh Sialan itu sekarang. Benar-benar membuang waktu!"

Iris emerald Hiruma menatap sosok wanita yang terkulai lemas di tanah. Didekatinya gadis itu kemudian memegang leher untuk memastikan apa ia masih hidup. Dan jari panjang Hiruma masih merasakan detak jantung gadis itu walaupun semakin melemah.

Matanya kemudian beralih pada dada gadis itu yang sudah berlubang. Setelah diperhatikan dengan teliti, ternyata lubang itu belum sampai ke jantungnya sehingga ia masih hidup. Tapi tetap saja, bila dibiarkan gadis itu tetap akan mati juga. Hiruma kemudian mengangkat gadis itu perlahan dan menggendongnya. Sosok mereka kemudian perlahan menghilang bersamaan dengan matahari yang mulai terbit.


XXX Scheduler's Angel XXX


"Wah, segarnyaaa!"

Mamori baru saja selesai mandi. Tadi Sena menyarankan supaya mandi di tempat khusus di belakang rumah. Terlihat seperti onsen dengan pancuran air di salah satu sisinya. Karena airnya langsung dari pegunungan di dekat desa, jadi masih alami. Gadis itu sudah selesai berpakaian. Setelah ini, ia bersiap menuju ke dapur. Kelihatannya tidak ada salahnya memasak makanan. Toh, ada tiga lelaki yang harus diberi makan. Ia bergegas membuka pintu, namun tiba-tiba ia melonjak kaget.

"Astaga!"

Ia terkejut saat mendapati sesosok gadis mungil sedang berdiri di hadapannya dengan satu tangan menggantung di udara.

"Ah, maaf. Tadi aku mau mengetuk pintu, tapi ternyata kau sudah membukanya lebih dulu," kata gadis itu sambil tersenyum.

"Oh, tidak apa-apa." Mamori menyunggingkan senyum simpulnya. "Ngomong-ngomong, kau siapa? Penghuni rumah ini juga?"

Gadis itu mengangguk. "Iya. Penghuni rumah ini ada tiga. Aku, Sena, dan Monmon. Tadi malam aku tidak sempat menyapamu karena aku sudah tidur duluan. Makanya aku baru bisa menyapa sekarang."

"Monmon?" tanya Mamori heran.

"Itu panggilanku untuk Monta."

"Oh."

"Ayo, kita makan! Aku sudah menyiapkan semuanya," ajak Suzuna sambil menarik tangan Mamori dan menyeretnya keluar kamar.

Gadis mungil itu lalu membawa Mamori menuju daerah belakang di rumah itu. Di hadapan sebuah pintu kayu, ia menggesernya pelan dan membuat bentuk interior dari ruang makan itu menjadi jelas. Dengan sebuah meja panjang dan dikelilingi lima meja serta dapur yang dibatasi oleh dinding yang hanya menutupi setengah bagian, Mamori bisa melihat bentuk unik dari ruang makan ini.

Sebelum sempat sadar dari kekagumannya, gadis itu sudah menarik Mamori lagi dan menyuruhnya duduk di salah satu kursi. Mereka berdua duduk berhadapan kemudian mulai mengambil makanan yang disiapkan gadis itu. Tidak banyak, tapi cukup untuk mengisi perut. Sambil mengunyah, Mamori menatap gadis itu dan baru menyadari pertanyaan dasar yang belum ditanyakannya.

"Maaf, aku belum tahu namamu," katanya pelan.

"Taki Suzuna."

"Oh," gumam Mamori sambil mengangguk. "Makanan buatanmu enak, Taki-san."

"Tidak, tidak, tidak." Gadis itu menggoyangkan kedua telapak tangannya dengan ekspresi tidak suka. "Panggil Suzuna saja, oke? Dan oh ya, namamu Mamori, kan?"

"Eh, iya. Kenapa?"

"Hmm ..." Suzuna terlihat berpikir sejenak. "Kalau sudah selesai, akan kuajak kau jalan-jalan. Mau, kan, Mamo-nee?" tanyanya antusias.

"Mamo-nee? Itu nama panggilanku?"

"Iya! Terdengar lebih bagus, kan?" Suzuna mengedipkan sebelah matanya. "Bagaimana? Mau ikut?"

"Tentu," jawab gadis itu sambil mengedipkan sebelah mata juga.


XXX Scheduler's Angel XXX


Mari tinggalkan suasana pedesaan kecil. Kita ke kota Osaka sejenak.

Di salah satu kafe di tengah kota yang cukup terkenal, seorang wanita berambut biru kehitaman sedang duduk santai di salah satu sudut kafe sambil menikmati cappucino yang dipesannya. Matanya menatap keluar jendela, memperhatikan mobil-mobil yang berlalu lalang.

"Fuh, sendirian saja, Nona?"

Suara pelan itu mengalihkan pandangan si gadis dari jendela. Ia menoleh dan mendapati Akaba berdiri di samping kursinya.

"Kau terlambat lima belas menit," balas gadis itu dingin.

Akaba sedikit membungkuk. "Maaf, Shirayuki-sama. Aku sedang melaksanakan tugas tadi. Jadi sedikit terlambat."

Shirayuki mengangguk sejenak. "Baiklah, aku paham soal itu. Duduklah."

Akaba duduk tepat di depan Shirayuki. Iris yang tertutup kacamata hitam itu memperhatikan sosok senpai-nya sebelum akhirnya memulai pembicaraan.

"Jadi? Ada apa Anda memanggilku kemari?" tanya Akaba saat mocha latte pesanannya datang.

Shirayuki tersenyum simpul. "Tidak ada hal yang penting. Hanya ingin menghabiskan waktu bersama saja. Sudah lama aku tidak berjalan-jalan dengan berpakaian normal seperti ini," ujar Shirayuki sambil melirik blus dan celana panjang yang dikenakannya. "Lagipula, aku tahu 'jadwal'mu tidak terlalu padat. Jadi tidak masalah kan kalau aku minta ditemani?"

"Tidak masalah," jawab Akaba sambil menyeruput minumannya. "Tapi, tumben Anda mau berjalan-jalan di tempat seperti ini sambil memperlihatkan wujud Anda. Apa tidak apa-apa?" tanyanya sembari meletakkan cangkir di meja.

Wanita itu tertawa kecil. "Kau harusnya tahu betapa bosannya aku berada di taman itu selama dua puluh empat jam nonstop sambil menunggu kalian, para Scheduler, memberi laporan tentang tugas kalian. Sekali-sekali refreshing kurasa tidak masalah. Lagipula sudah ada yang menggantikanku."

Akaba mengangguk pelan mendengar ucapan wanita yang usianya lebih tua dibandingkan dirinya itu. Memang wanita yang sedang duduk di hadapannya ini cukup sibuk. Entah sudah berapa lama ia menjadi seorang Scheduler seperti dirinya. Tapi, sejak Akaba menjalani 'profesi'nya ini, ia belum pernah sekalipun melihat Shirayuki menunjukkan dirinya sebagai seorang 'Scheduler'.

"Oh ya, apa Hiruma sudah mulai melaksanakannya?" tanya pria berambut merah itu.

Sebagai jawaban, Shirayuki mengangguk pelan. "Sudah. Kau tentu juga tahu alasanku menyuruhnya, kan?"

"Tapi aku masih bingung. Apa ini berhubungan dengan kejadian enam tahun lalu?"

"Yah, begitulah. Anak itu terlibat di dalamnya pada waktu itu. Dan sekarang sang aktor utama kejadian itu mulai beraksi lagi. Hiruma orang yang tepat untuk ini."

Akaba diam sejenak. Matanya menatap Shirayuki dengan pandangan bertanya. "Apa dengan begini ingatan Hiruma akan kembali?"

Shirayuki mengendikkan bahunya. "Mungkin."

"Mungkin?" ulang Akaba tak percaya. "Maksudnya?"

"Saat awal dia menjadi Scheduler, kami membuat perjanjian bahwa seluruh ingatannya akan dihapus sampai batas waktu tertentu."

"Batas waktu tertentu itu maksudnya apa? Apakah 'batas waktu' itu enam tahun sejak kejadian saat itu?"

"Tidak."

"Apa? Lalu kapan?" tanya Akaba yang masih tak mengerti apa yang diucapkan Shirayuki.

"Saat membuat perjanjian, aku hanya mengatakan pada Hiruma bahwa ingatannya akan kembali ketika waktunya sudah tiba nanti. Aku tidak menjanjikan tanggal pasti. Karena aku tidak tahu kapan 'orang itu' akan kembali. Dan saat 'orang itu' sudah muncul, berarti waktunya ingatan Hiruma untuk kembali juga semakin dekat."

Akaba mulai paham apa yang dimaksud senpai-nya. Dengan kata lain, 'orang itu' punya kedekatan dengan Hiruma. Mungkin mereka pernah saling kenal?

"Kau juga mengenalnya."

Ucapan Shirayuki yang tiba-tiba membuat Akaba menatapnya heran. "Apa?"

"Kau juga mengenal 'dia', sama seperti Hiruma." Shirayuki mendekap kedua tangan di dada.

Mata teduh wanita itu menatap Akaba sambil memegang cangkir dengan kedua tangannya. Tatapannya berpaling ke luar jendela. "Seluruh aktor dan aktris yang terlibat pada kejadian enam tahun lalu sudah berkumpul. Apakah mereka akan bermain sesuai skenario takdir? Atau akan ada suatu kejutan? Kita akan segera tahu jawabannya."


XXX Scheduler's Angel XXX


Mamori baru menyadari keindahan desa yang ditempatinya saat ini ketika matahari mulai beranjak dari peraduannya. Ia begitu kagum dengan pemandangan gunung yang terlihat begitu hijau di balik gumpalan awan-awan putih. Langit juga terlihat cerah hari ini. Udaranya pun terasa sejuk sekali. Tapi, tentu saja, Mamori berharap tidak akan terlena dengan semua hasil kreasi Tuhan yang menakjubkan ini dan melupakan misinya.

Setelah selesai sarapan, Suzuna langsung memenuhi janjinya untuk menemani Mamori berjalan-jalan. Mereka baru saja akan meninggalkan rumah, saat sesosok lelaki terlihat mendekat.

"Oh, kalian mau pergi?" Ternyata orang itu adalah Doburoku yang datang untuk bertamu sekaligus mengecek keadaan Mamori dan Yamato.

"Ah, Doburoku-san," gumam Mamori. "Ohayo," sapanya.

"Ohayo, Mamori, Suzuna."

"Ya, aku mau mengajak Mamo-nee jalan-jalan dulu. Sekalian lihat pemandangan. Oh ya, Doburoku-san lihat Sena dan Monmon tidak?"

"Entahlah. Aku tidak melihat mereka sewaktu dalam perjalanan ke mari. Tapi, kemarin mereka bilang mau ke rumahku. Mungkin mereka sudah sampai di sana," jawab Doburoku sambil berpikir.

"Apa mungkin Yamato bersama dengan mereka ya? Aku tidak melihatnya sejak tadi." Mamori terlihat sedikit khawatir.

"Kurasa begitu. Kau tenang saja, desa ini kecil. Dan dia pasti aman bersama dua orang itu."

Suzuna mengangguk, mengiyakan. "Baiklah, kalau begitu kita tidak perlu khawatir." Sedetik kemudian, tangan gadis itu sudah memegang pergelangan tangan kanan Mamori. "Kami pergi dulu, ya!"

"Hati-hati di jalan!"

Setelah berpamitan, kedua gadis cantik itu menyusuri jalan setapak yang kini sudah mulai dilalui orang-orang yang akan bekerja. Beberapa dari mereka menyapa Suzuna dan Mamori yang baru dilihat mereka hari ini. Gadis beriris safir itu senang karena para penduduk sepertinya sangat welcoming pada mereka.

Tapi ... feeling Mamori mengatakan ada sesuatu yang aneh.

Tiga tahun menjadi detektif polisi, ia sudah menghadapi banyak kasus dan ia sudah mempelajari banyak hal, termasuk ekspresi wajah seseorang. Dari beberapa orang yang menyapanya tadi, Mamori menyadari bahwa beberapa orang di antara mereka terlihat sedikit ketakutan, namun juga tersirat guratan kelegaan di wajah mereka. Sesuatu yang menyita pikiran Mamori dan menenggelamkannya dalam kumpulan spekulasi.

"Mamo-nee?"

Suara Suzuna yang terdengar bingung itu membangunkan Mamori dari lamunannya.

"Eh ... a-ada apa, Suzuna?" tanya Mamori dengan wajah gugup.

"Dari tadi kau melamun, ada masalah?" Gurat kekhawatiran tampak jelas di wajah gadis yang mengenakan in-line-skate itu. Mamori saja heran dari mana dia mendapatkan benda itu.

"Ah, ti-tidak. Bukan apa-apa," gumam Mamori sambil mengalihkan pandangan dari tatapan Suzuna yang tepat di matanya.

Gadis berambut keunguan itu kembali memandang ke arah lain. Ia tak terlalu ambil pusing dengan tingkah Mamori barusan. Ia kemudian bersenandung kecil sambil memandang sekitarnya saat ia bertemu dengan dua orang ibu-ibu yang sepertinya sedang menggosip.

"Syukurlah dia tidak apa-apa, ya?" kata si ibu pertama.

Ibu kedua mengangguk. "Iya, tapi kau lihat tidak? Dadanya diperban. Pasti itu bekas dilukai oleh si pembunuh. Hiii!" Tubuh ibu tersebut mulai bergidik ngeri.

Perbincangan kedua ibu itu rupanya menarik perhatian Mamori dan Suzuna. Keduanya merasa ada sesuatu yang bisa 'dikorek' dari obrolan ibu-ibu tersebut. Mereka berdua kompak mendatangi kedua ibu tersebut guna mencari tahu.

"Permisi," sapa keduanya bersamaan. Mereka saling pandang heran, begitu pula dengan kedua ibu itu.

"Ada apa, ya?" tanya si ibu kedua.

"Ehm, begini ... kami tidak sengaja mendengarkan perbincangan kalian. Kalau boleh tahu, siapa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Mamori sopan.

Kedua ibu itu saling pandang sejenak, kemudian si ibu pertama kelihatan bersemangat. Sepertinya senang berbagi informasi—atau lebih tepatnya menggosip. Kedua gadis itu merasa tepat bertanya pada mereka.

"Sebenarnya kemarin malam si pembunuh kembali beraksi ..."

Kalimat pembuka itu membuat keduanya membelalakkan mata sebelum kembali merubah air muka mereka seperti semula. Mamori mencoba fokus mendengarkan karena mungkin informasi ini akan berguna baginya.

"Korbannya adalah gadis yang baru tiga tahun pindah ke mari, dia diserang tadi malam. Katanya pembunuh itu datang ke rumahnya tadi malam dan dia mencoba kabur dari rumah tapi berhasil dikejar. Dia hampir tertangkap, tapi katanya setelah itu dia tidak ingat apa-apa dan tahu-tahu sudah ada di rumahnya lagi dengan dada dibalut perban."

"Pasti ada yang menolong dan mengobati lukanya. Betapa beruntungnya dia," sahut si ibu pertama yang disambut anggukan ibu kedua.

Tidak ada yang berbicara lagi. Kedua gadis sibuk mencerna informasi barusan sementara kedua ibu itu kembali saling berbicara.

"Anu, kalau saya boleh tahu, di mana gadis itu tinggal?" tanya Mamori.

Kedua ibu itu saling pandang lagi, lalu menatap Mamori bingung. "Kamu tidak tahu di mana dia tinggal?"

"Sebenarnya Mamo-nee ini datang dari Osaka kemarin. Jadi dia belum tahu apa-apa soal desa." Suzuna mencoba menjelaskan yang disambut gumaman "oohh" dari kedua ibu tersebut.

"Kalau kau berjalan lurus dari sini, kau akan menemukan persimpangan. Setelah itu kau belok kanan dan terus saja jalan sampai ujung jalan itu. Nanti kau akan menemukan sebuah rumah kecil dengan pagar putih. Di sana gadis itu tinggal," jelas si ibu kedua.

"Ah, baiklah. Saya paham. Terima kasih banyak, Bibi." Mamori membungkuk dengan wajah berterima kasih sementara Suzuna juga jadi ikut membungkuk.

"Sama-sama. Baiklah, kami permisi dulu."

Kedua ibu itu berjalan melewati Mamori dan Suzuna. Gadis berambut auburn itu kemudian menatap lurus ke depan. Ia merasa sangat penasaran terhadap gadis yang bisa selamat dari si pembunuh. Menurutnya, walaupun tidak ingat apa-apa, gadis itu seharusnya bisa ingat seperti apa sosok si pembunuh. Mungkin dia bisa memberi tahu Mamori. Gadis itu akan memberi tahu Yamato supaya mereka berdua bisa mengunjungi rumah gadis itu segera.

"Mamo-nee, kau mau ke sana?" tanya Suzuna yang sedari tadi memperhatikan Mamori yang terlihat berpikir keras.

"Hah? Apa?" Mamori yang tersadar langsung bingung dengan apa yang dikatakan Suzuna.

"Kau tidak mendengarkanku, ya?" Suzuna memasang wajah cemberut.

"Maaf, maaf," kata Mamori dengan wajah bersalah.

"Aku tanya, apa Mamo-nee mau ke sana? Kau terlihat sangat tertarik."

"Ah, tidak. Aku hanya tertarik dengan ceritanya saja kok. Tidak apa-apa," jawab gadis itu berbohong. Ia tak ingin Suzuna tahu kalau ia ditugaskan untuk menangkap si pembunuh. Tidak ada yang boleh tahu.

"Benarkah? Kalau begitu kita pulang sekarang? Sudah hampir siang dan kita bahkan belum memasak," kata Suzuna dengan cengiran di wajahnya.

"Ah, benar juga. Mereka bertiga akan kelaparan kalau tidak ada makanan siang nanti." Mamori ikut nyengir.

Keduanya lalu melangkah menapaki jalan menuju rumah. Sepanjang jalan mereka hanya terdiam saja. Suzuna kembali bersenandung sementara Mamori menatap sekelilingnya sambil menahan rambut yang tertiup angin. Ia begitu menyukai angin yang menyapu lembut wajah dan rambutnya. Rasanya seperti merasa bebas. Hal yang jarang ia dapatkan di kota besar seperti Osaka.

Ia masih menikmati semilir angin saat langkahnya tiba-tiba terhenti.

Iris safir itu menangkap sosok seorang pemuda yang sedang membelakangi mereka dan memandang hamparan rumput yang diselingi beberapa bunga liar di bawahnya. Yang membuat Mamori terkejut adalah orang itu sama dengan pemuda yang ditemuinya di jalan saat terjadi kecelakaan maupun di rumah sakit.

"Mamo-nee?"

Suzuna yang sudah berada dua meter di depan Mamori membalikkan badan karena menyadari bahwa gadis itu sudah tak ada di sampingnya lagi. Ia menaikkan sebelah alis saat melihat ekspresi terkejut Mamori yang sudah menghadap ke arah lain. Suzuna mengikuti arah pandang Mamori.

'Itu ...'

"Hei!" Suara teriakan Mamori mengagetkan Suzuna dan Hiruma.

Pemuda itu memandang terkejut pada Mamori yang berteriak. Ia kemudian memastikan bahwa panggilan itu ditujukan kepadanya setelah melihat arah tatapan mata gadis itu. Hiruma menatap gadis di sebelahnya yang menatap Mamori dan dirinya—atau mungkin udara kosong—dengan heran. Ia melengos dan segera meninggalkan tempat itu.

"Hei, tunggu!"

Mamori segera mengejar Hiruma namun pemuda itu mengacuhkannya dan tetap berjalan menjauhi hingga ke arah pepohonan menuju hutan. Gadis itu terus mengejarnya sampai ia masuk ke dalam hutan. Namun, lagi-lagi, ia gagal. Mengapa pemuda itu selalu cepat menghilang?

Mamori menendang salah satu pohon sebagai bentuk ekspresi kekesalannya setelah menggembungkan kedua pipinya.

"Mamo-nee, kenapa kau tiba-tiba berlari seperti orang gila begitu?"

Gadis itu membalikkan badan dan melihat Suzuna dengan peluh yang sudah menetes serta napas yang tersengal-sengal. Barulah ia sadar kalau ia sudah bertingkah aneh tadi. Tapi, hei, kenapa ia disangka orang gila?

"Apa maksudmu?" tanya Mamori bingung.

"Kau tiba-tiba berlari dan berteriak begitu. Tentu saja aku kaget. Karena khawatir, aku juga mengejarmu," jawab Suzuna yang masih berusaha mengatur tempo napasnya agar normal lagi.

"Kau ... tidak lihat pemuda yang kukejar tadi?" Mamori masih bingung dengan jawaban Suzuna.

Suzuna melongo. "Siapa?"

Mamori mengerjapkan mata demi melihat ekspresi Suzuna. Ia kemudian kembali memandang ke dalam hutan. Demi seluruh isi hutan, siapa sebenarnya pemuda yang selalu seenaknya muncul dan pergi itu? Kenapa Mamori merasa aneh seolah hanya ia yang menyadari kehadiran pemuda itu?

Ia mengacak rambutnya. Bukan karena kutuan, tapi karena sebal dengan pemuda itu. Ia merasa seperti sedang dipermainkan.

"Ayo, kita pulang!" ajak Mamori yang langsung melengos pergi.

Sekarang gantian Suzuna yang mengerjap heran. Demi sekumpulan monyet beserta Monta, kenapa sekarang Mamori malah terlihat sebal dan langsung pergi seolah tak terjadi apa-apa? Suzuna hanya bisa geleng-geleng kepala.


XXX Scheduler's Angel XXX


Mamori dan Suzuna menata meja makan dan meletakkan mangkuk serta sumpit dan juga menu yang sudah mereka masak. Hari ini mereka sungguh beruntung bisa mendapatkan beberapa sayuran dan ikan sehingga makan siang mereka terkesan 'wah'.

Sena, Monta, dan Yamato juga terlihat senang. Kata mereka, masakan kedua gadis itu sangat enak. Walaupun ingin menghabiskan, tapi mereka terpaksa menyimpannya untuk makan malam.

Selesai makan, Mamori dan Yamato memutuskan untuk membantu ketiga penghuni rumah untuk beres-beres rumah. Para lelaki disuruh membersihkan bagian luar rumah seperti merapikan tanaman atau menyapu halaman sementara para gadis membersihkan bagian dalam rumah. Mereka bekerja dengan senang hati, hingga tak terasa matahari mulai turun untuk beristirahat.

"Wah, sudah sore ya? Tidak terasa," gumam Sena yang menoleh ke arah matahari tenggelam.

"Iya, kita terlalu asyik kerja bakti sih," sahut Monta mengiyakan.

Yamato memandang ke sekeliling halaman. "Sepertinya semuanya sudah beres. Kita sudah bisa berhenti sekarang."

Keduanya mengangguk.

Setelah membereskan peralatan untuk membersihkan halaman, Sena mengajak Yamato dan Monta untuk mandi bersama di onsen. Keduanya setuju saja mumpung para gadis belum bersiap-siap untuk mandi. Hal yang membuat Monta sedikit kecewa dikarenakan dirinya ingin sekali bisa mandi bersama Mamori. Sebelum keinginan bodoh itu terwujud, Sena sudah menyeretnya masuk onsen lebih dulu.

"Huh, kenapa kau menyeretku, Sena?" Monta bertanya dengan wajah cemberut.

"Aku hanya menyelamatkanmu dari hal yang kau inginkan," jawab Sena dengan wajah tak bersalah.

Jawaban itu hanya membuat wajah Monta semakin tertekuk, sementara Yamato hanya tertawa melihat pertengkaran kecil mereka. Ketiganya lalu mulai mengobrol berbagai macam hal dengan serunya hingga mereka tak ingat waktu. Mereka baru saja akan menyelesaikan acara berendam mereka ketika Suzuna dengan tidak sabarnya menggedor pintu onsen dan membuat ketiganya cepat-cepat keluar dari onsen dan mengenakan handuk mereka sebelum diamuk Suzuna.

Saat itulah mata Sena tertuju pada tubuh atletis Yamato, tepatnya ke arah punggungnya. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

"Anu, Yamato-san ...," panggil Sena pelan.

"Hm?" Yamato menoleh.

Sena memperhatikan sesuatu seperti bekas sayatan panjang yang melintang diagonal di sepanjang punggung Yamato. "Apa di punggungmu itu bekas luka?"

Pertanyaan Sena ternyata juga menarik perhatian Monta. "Wah, kau benar. Panjang sekali!" katanya dengan ekspresi ingin tahu yang sama dengan Sena.

Yamato terlihat sedikit terkejut, kemudian ia tersenyum sinis. "Iya. Ini bekas sayatan satu-satunya orang yang bisa menyetaraiku. Bisa kalian katakan rivalku."

"Ah, begitu ..." Keduanya mengangguk paham.

Biar dikatakan begitu, Sena sebenarnya masih penasaran dengan bekas luka itu. Entahlah, ia merasa bekas luka itu dan senyuman sinis yang ditunjukkan Yamato tadi seperti menyimpan sesuatu. Dan ini pertama kalinya Sena merasa begitu penasaran terhadap orang lain. Terhadap Yamato ... dan juga Mamori.


XXX Scheduler's Angel XXX


Di sebuah rumah kecil dengan pagar putih, Hiruma sedang mengunyah permen karet kesukaannya sambil menikmati angin malam yang sedang berhembus menyentuh wajah mulusnya. Mata tajam pemuda itu memandang sekeliling rumah yang berupa hutan. Suara-suara aneh mulai bermunculan dari dalam hutan, tapi ia tetap cuek.

"Hihihihihi ..."

Suara tertawa seorang perempuan yang terkesan aneh itu mengalihkan perhatian Hiruma. Telinganya yang tajam segera menyadari bahwa suara itu berasal dari sebuah pohon tepat di depan rumah. Matanya menelusuri batang pohon, semakin ke atas hingga ke arah ranting pohon yang lumayan besar. Dan di sanalah ia melihat sepasang kaki yang menjuntai ke bawah.

"Kau mau mencoba menakut-nakutiku, Wanita Sialan?" tanya Hiruma kesal.

"Hihihihi, ternyata kau tidak takut, ya? Yah, mana mungkin setan takut pada setan," Shirayuki tertawa dari atas pohon. Hiruma memandangnya dengan ekspresi yang tak terbaca.

Shirayuki melompat turun dari atas pohon, kemudian berjalan mendekati Hiruma. Bukannya mendatangi Hiruma yang masih bersandar di dinding, ia malah membuka pintu sembari bergumam, "permisi."

Hiruma menghela napas dan mengikuti Shirayuki masuk ke dalam rumah. Ia masuk ke dalam kamar dan melihat Shirayuki sudah duduk di pinggir ranjang sambil mengamati sesosok gadis berusia dua puluhan sedang tertidur dengan dada diperban.

"Dia terlihat manis saat tidur," gumam Shirayuki pelan.

Hiruma mendengus mendengar ucapan Shirayuki. "Tumben-tumbennya kau memuji seseorang, seperti bukan kau saja!"

Shirayuki memandang Hiruma sebal. "Itu karena tidak ada satu pun dari kalian, para Scheduler, yang bisa dipuji. Lagipula dia memang manis," sahut Shirayuki membela diri.

Wanita itu kembali memandang wajah si gadis sambil tersenyum. 'Tidak kusangka gadis seperti dia ternyata juga terlibat dalam masalah ini,' batin Shirayuki.

"Apa yang kau pikirkan, Wanita Sialan?"

Shirayuki mengalihkan tatapannya kepada Hiruma dan menatap iris emerald itu lama sebelum akhirnya ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar melewati Hiruma. Pemuda itu mengarahkan matanya ke arah Shirayuki terus hingga wanita itu berhenti di depan pintu.

"Jaga dia baik-baik. Mungkin kau akan mendapatkan ingatanmu kembali kalau kau tetap bersamanya."

Ucapan itu membuat mata Hiruma membelalak sebelum akhirnya berubah menjadi sebuah tatapan tajam yang menusuk ke punggung Shirayuki. Tapi wanita itu bukannya tidak menyadari ekspresi Hiruma saat ini meskipun ia tidak melihatnya. Itu malah membuatnya tersenyum dan menolehkan kepalanya sedikit ke arah Hiruma.

"Mungkin Akaba akan datang untuk 'berkunjung', jadi nanti sambut dia dengan baik, ya!"

Hiruma semakin menyipitkan matanya saat mendengar bahwa pemuda rambut merah itu akan mengunjunginya. Ekspresi pemuda berwajah setan itu membuat Shirayuki tertawa pelan. Terbayang olehnya Hiruma dan Akaba mungkin akan sedikit 'bertengkar', dengan gaya bertengkar mereka sendiri tentunya.

"Baiklah, aku pergi dulu. Jaga dirimu, ya!"

Setelah berkata seperti itu, Shirayuki berjalan keluar rumah dan menghilang di balik kegelapan malam. Pemuda berambut spike itu mendengus sebal. Seniornya itu mampir hanya untuk melihat keadaan gadis itu sebentar? Sungguh membuang-buang waktu! Apa dia tidak ada kerjaan? Benar-benar wanita konyol! Begitulah yang dipikirkan pemuda itu. Hiruma hanya memandang dalam diam sebelum akhirnya menutup pintu.


XXX Scheduler's Angel XXX


Suzuna dan Sena sedang duduk sambil memandang langit yang saat ini sedang ditaburi bintang-bintang. Keduanya hanya diam, tak banyak yang ingin mereka bicarakan. Dan Sena heran, tumben-tumbennya Suzuna diam seperti ini. Biasanya gadis itu akan bercerita berbagai macam hal yang sudah dilaluinya selama seharian ini dengan bersemangat. Ya, berkumpul di teras belakang sambil berbagi cerita memang kebiasaan Sena dan Suzuna. Monta juga sering ikut bergabung, tapi malam ini ia terlalu lelah dan memutuskan untuk tidur lebih dulu.

"Sena ..."

Pemuda berambut hazel itu menoleh ke arah gadis yang sekarang sedang memandang rumput yang baru saja dirapikannya tadi siang sambil memeluk kedua kakinya. Suzuna menatap Sena dengan wajah ingin tahu.

"Sena, apakah kau percaya dengan hal-hal berbau supranatural?"

Pertanyaan Suzuna membuat Sena heran dengan gadis itu. Tumben-tumbennya ia mau menyinggung topik serius dan mistis begini. Sena berasumsi bahwa ini ada hubungannya dengan sesuatu yang dilakukan gadis ini tadi siang.

"Memangnya ada apa Suzuna? Tumben kau bicara begitu." Sena memandang Suzuna cemas sementara yang dipandang hanya menghela napas panjang.

"Sena ... mungkin You-nii ada di desa ini."

~ To Be Continued~

A/N: Pojok curhat Hana:

Sebenernya yang bikin ini fic ngaret update bukan cuma faktor uhukmalesuhuk dan uhuksibukuhuk, tapi juga aku bingung sama plotnya. Jujur aja, aku punya beberapa versi plot, jadi bingung sendiri mau pake plot yang mana #nyengirkuda #dibuang.

Dan sepertinya fic ini bakal ga jelas lagi update-nya -_-a #woi. Ini juga bukan tanpa alasan. Aku udah kelas 12 dan akhir bulan mau ikut tes TPBI karena aku mau masuk PTN lewat jalur undangan, jadi mesti ikutan tes sialan itu. Belum lagi awal bulan Maret, 2 minggu berturut-turut udah ujian semester dan UAS T_T#nangismerana. Dan bulan depannya lagi, SAY WELCOME TO UN SIALAN! O YEAH! :DD #plakplak! Jadi kalo aku masih sempet ngapdet ini fic di tengah ujian-ujian sialan itu, mari kita panjatkan puji syukur pada Tuhan #dor. Doakan saja semoga aku sukses di semua ujian sialan itu dan masih sempet nyolong kesempatan ngetik fic :DDD *anak baek jangan ditiru ya*

Oke, oke, sepertinya aku udah kebanyakan bacot. Jadi mari kita akhiri dengan wassalam #gagitu!

JANGAN LUPA REVIEW YA, CEMAN-CEMAN~~ :DDD *kedip-kedip*