- Scheduler's Angel-

Disclaimer:

Eyeshield 21 © Riichiro Inagaki and Yuusuke Murata

Fanfic ini tidak untuk kepentingan komersil.

Scheduler's Angel by Hana Suzuran

Genre: Supernatural/ Mystery/ Romance/ Crime

Warning: Alternate Universe, typo (jaga-jaga), OOC, dll

Sedikit terinspirasi dari drama Korea 49 Days dengan perubahan di sana-sini tentunya :)

"Sena ... mungkin You-nii ada di desa ini."

.

.

Chapter 4: The Girl's Identity

Sena mengerjap mendengar ucapan Suzuna. Ia bahkan ingin memegang kening Suzuna hanya untuk memastikan bahwa gadis itu tidak sedang mengigau karena sakit. Tapi ia urung melakukannya. Pemuda itu hanya memandang lekat dengan tatapan ingin tahu.

"Kenapa ... kau bilang begitu?" tanya Sena pelan.

Suzuna menatapnya dengan pandangan memelas seolah mengatakan aku-tahu-ini-terdengar-konyol-tapi-percayalah. Baru kali ini gadis itu tidak memberi alasan dengan kata-kata. Ia seperti tak tahu harus bagaimana mengungkapkannya.

"Suzuna?" Sena kembali mencoba bertanya.

Gadis itu meluruskan kakinya dan meletakkan kedua telapak tangan bertumpuk di atas paha. "Aku tidak tahu. Pikiran itu terlintas begitu saja di pikiranku," jawab gadis itu dengan suara pelan dan hampir tak terdengar.

"Dan bagaimana pikiran itu bisa terlintas di pikiranmu?" Pertanyaan Sena yang satu ini tepat sasaran. Tidak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Begitu juga Suzuna. Tak mungkin gadis cantik itu bisa berkata demikian jika tak ada suatu hal yang membentuk pemikiran itu. Dan Sena tahu itu. "Aku yakin itu bukan sekedar pikiran yang muncul tiba-tiba, kan?"

Suzuna tersenyum miris. Ia sadar betapa Sena sangat memahami dirinya luar dan dalam. Hidup bersama dalam waktu lama tentu membuat mereka saling tahu karakter masing-masing.

"Aku sendiri tidak tahu bagaimana, Sena. Hanya saja, aku merasakannya. Sepertinya You-nii ada di sini. Dan kurasa Mamo-nee juga merasakannya, walaupun dia tidak menyadarinya."

Pemuda beriris coklat itu menatap lama Suzuna yang kini menyandarkan dagunya di atas kedua lutut. "Apa yang sebenarnya telah terjadi, Suzuna?"

Gadis mungil itu berpikir sejenak, dan kemudian bagaikan air yang mengalir, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir tipisnya. Tentang apa yang ia alami tadi siang bersama Mamori ia ucapkan dengan detail pada pemuda itu. Sementara lawan bicaranya hanya bisa diam dengan wajah yang semakin menyiratkan keheranan.

"Begitulah ceritanya. Kalau kau tidak mau percaya padaku, tidak apa-apa, kok." Suzuna berusaha menunjukkan senyum manis, walaupun usahanya itu gagal.

Sena mengangkat tangannya dan refleks membelai rambut gadis itu. Ia sendiri kaget ternyata ia melakukannya. Hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Dan gadis berambut biru itu juga sepertinya sedikit kaget. Tapi, yah, mereka berdua menyukainya.

"Aku bukannya tidak percaya padamu, Suzuna. Hanya saja ... itu sudah lama sekali." Wajah Sena tiba-tiba berubah murung.

Suzuna juga ikut murung. "Benar, sudah lama sekali, ya. Tidak terasa sudah enam tahun berlalu," ucap gadis itu lirih.

"Iya. Dan itu sebabnya aku tidak mau kau kepikiran gara-gara masalah ini." Melihat Suzuna menggigit bibir bawahnya, Sena merasa bersalah dengan kata-katanya. "Ah- a-anu, bu-bukannya apa-apa. Aku hanya takut kau jadi melupakan hal lain hanya karena masalah ini. Tapi, jangan khawatir, aku percaya padamu, kok."

Sebuah senyum tulus mengembang di wajah gadis itu. "Terima kasih, Sena."

Pemuda itu balas tersenyum sambil memegang bahu Suzuna lembut. "Sudah malam, sebaiknya kita tidur sekarang."

"Ya ..."


XXX Scheduler's Angel XXX


Pagi kembali menyambut, walaupun suasana di desa masih terasa sunyi. Belum tampak tanda-tanda aktivitas para penduduknya. Dan di dalam sebuah rumah kecil berpagar putih, sesosok makhluk berwujud setan itu sedang duduk sambil meletakkan kedua kakinya di atas meja makan. Sambil mengunyah permen karet ia sesekali melirik ke arah kamar yang pintunya terbuka.

"Cih, belum sadar juga," ucapnya kesal.

Ia benar-benar merasa bosan tinggal di tempat yang jauh dari hingar bingar keramaian kota. Tidak adakah sesuatu yang bisa dilakukannya? Mengancam orang misalnya? Hei, itu ide bagus. Tapi manusia mana yang bisa melihatnya?

Tidak ... ada satu orang yang bisa melihatnya. Orang yang sudah dua kali ditemuinya secara tidak sengaja.

Dalam hati ia mengutuk seniornya yang dengan seenak jidat menyuruhnya menjadi penjaga dua puluh empat jam seorang gadis yang entah kapan akan membuka matanya. Kalau saja ia bisa menodongkan senjata ke wajah wanita itu dan membalikkan posisi mereka ...

"Tch, Wanita Sialan itu pasti sedang bersenang-senang di Osaka." Kembali terdengar kalimat kekesalan dari bibir pemuda itu.

"Fuh, tumben nadamu terdengar sumbang, Hiruma. Apakah kau begitu kesal pada Shirayuki-sama?"

Hiruma menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Akaba telah berdiri di sebelah meja makan.

"Kekeke, ternyata kau bisa datang tanpa disadari, Rambut Merah Sialan. Kau benar-benar setan." Hiruma mengeluarkan seringaian khasnya.

"Fuh, kuharap aku punya cermin besar untuk menyadarkanmu," jawab Akaba dingin. "Lagipula, tidak mungkin kau tidak menyadari kedatanganku, Hiruma."

"Keh, aku hanya berusaha mengabaikanmu, Rambut Merah Sialan."

"Kau jujur sekali, Hiruma."

Pertengkaran kecil itu terhenti tiba-tiba saat mereka menyadari sesuatu yang datang mendekat. Keduanya serentak memandang ke arah pintu depan.

"Fuh, irama langkah kaki. Gadis itu kedatangan tamu rupanya," kata Akaba sambil membetulkan letak kacamatanya.

"Kekekeke, kau memang benar, Rambut Merah Sialan. Mari kita lihat apa yang mereka ingin lakukan di sini."

Tidak lama kemudian terdengar derit pintu dibuka. Tampak kepala Yamato menyembul dari celah pintu yang separuh terbuka. "Halo? Ada orang di sini?"

"Kau kenal dia, Hiruma?" tanya Akaba saat melihat Yamato.

"Tidak juga."

Pintu terbuka lebih lebar. Kali ini tampak tubuh tegap Yamato berdiri di tengah pintu. Kemudian, Mamori menyusul di belakangnya dan masuk lebih dulu ke dalam rumah.

"Permisi," katanya sambil melihat ke sekeliling ruangan. "Hmm, kenapa sepi sekali. Kupikir paling tidak ada dua orang di rumah ini."

Yamato ikut masuk ke dalam rumah dan mulai memeriksa ruangan-ruangan yang ada di rumah tersebut. Hiruma mengikuti Yamato lewat lirikan matanya. Rasa tidak suka terlihat jelas dari dirinya walaupun ia tidak menunjukkannya terang-terangan. Sedangkan untuk Mamori, ia kembali mengutuk dalam hati. Kenapa selalu gadis ini yang muncul di dekatnya?

Mamori masih berada di ruang depan. Ia mengamati beberapa kursi yang disusun rapi walaupun hanya empat buah saja. Di tengah kursi-kursi itu terdapat sebuah meja kecil. Di sudut ruangan, terdapat sebuah rak kayu yang tidak terlalu besar. Kelihatannya digunakan untuk menyimpan beberapa buku.

Penasaran, gadis bermanik safir itu mendekati rak dan kemudian melihat apa saja yang terdapat di sana. Sayangnya tidak ada apa pun di atas rak. Gadis itu mengernyit. Kenapa tidak ada satu pun foto yang dipajang di sini? batinnya heran. Pandangannya lalu menangkap sesuatu terjepit dari balik laci yang tertutup. Ia coba menarik pegangan laci itu perlahan. Dan lihat apa yang ia temukan, beberapa lembar foto!

Diambilnya semua foto-foto yang berserakan di dalam laci tersebut, lalu dipandanginya satu per satu. Kebanyakan adalah foto seorang gadis bersurai kepang yang sedang tersenyum malu dengan beberapa latar berbeda. Tapi kebanyakan latarnya berupa meja dengan kertas-kertas berserakan di atasnya dan juga tangannya yang sedang memegang pensil.

"Lho? Jangan-jangan gadis ini ... mangaka?" gumam Mamori terkejut.

Ia masih terus mengamati satu per satu foto gadis itu, sampai akhirnya tangannya berhenti bergerak. Matanya membulat. Dan ia bisa merasakan mulutnya sedikit menganga melihat apa yang ada di foto tersebut.

"I-ini ..." Mamori kehabisan kata-kata melihat foto itu.

Gambar di foto itu adalah dirinya—dan terlihat lebih muda—yang saling berangkulan dengan gadis itu dan mereka terlihat akrab. Tapi, tunggu! Ada sesuatu yang lebih menarik perhatiannya.

"Anezaki! Di sini!"

Panggilan dari Yamato itu membuat Mamori refleks memasukkan foto itu ke dalam saku celananya. Ia lalu buru-buru mengikuti arah suara Yamato dan mendapati pemuda itu sedang berada di sebuah kamar ... yang pintunya terbuka. Dan kini partner-nya itu sedang berdiri di sisi sebuah ranjang kecil.

"Apa? Ada apa?" tanya Mamori sesampainya di depan pintu kamar.

"Kelihatannya kita menemukan pemilik rumah ini," jawab Yamato dengan suara rendah.

Kembali Mamori terkejut saat melihat sosok yang terbaring di ranjang itu. Dia ... sama dengan gadis dalam foto itu! Dan dada yang diperban itu, berarti gadis ini memang gadis yang dibicarakannya bersama kedua ibu-ibu kemarin. Tidak salah lagi. Tapi, apa hubungan dirinya dengan gadis itu?

"Sepertinya tidak ada orang lain di sini," ujar Yamato tiba-tiba, membuyarkan lamunan gadis itu.

"Tapi kalau begitu, siapa yang membawanya kemari dan merawatnya? Kudengar dari kedua ibu yang kutemui kemarin, mereka mengetahui gadis ini terluka setelah mendatangi rumah ini kemarin. Artinya, ada seseorang yang sudah datang lebih dulu, kan?"

"Ya ... kau memang benar. Masalahnya, siapa?"

Keduanya kembali terdiam. Yamato kemudian berjalan menuju sisi lain tempat tidur. "Kurasa kita bisa mencari tahu identitasnya."

Mamori menyetujui usul Yamato. Ia lalu menuju ke sebuah meja rias. Ia tahu apa yang ia cari, jadi ia coba membuka laci meja dan mencari secara teliti. Dan sesuai dugaan, ia mendapatkannya. Kartu identitas. Dilihat sekilas, kelihatannya sudah kadaluarsa. Ia membaca nama yang tertera di sana.

"Koizumi Karin."

"Hm? Apa?" tanya Yamato yang tidak terlalu mendengar suara Mamori.

"Koizumi Karin. Itu nama gadis ini."

Gadis bersurai auburn itu bisa melihat ekspresi kaget pemuda itu. Hanya sekilas saja, karena setelahnya Yamato terlihat mengangguk.

"Begitu." Ia diam sejenak. "Nah, sekarang apa yang akan kita lakukan? Kita tak bisa bertanya pada gadis ini jika dia masih belum sadarkan diri."

"Mungkin kita memang harus menunggu, Yamato-kun. Karena biar bagaimanapun hanya gadis ini satu-satunya saksi yang pernah bertemu langsung dengan si pembunuh. Kita tak punya pilihan lain."

Yamato menghela napas. "Kelihatannya begitu. Tapi, kau yakin dia gadis yang sama dengan gadis yang kau ceritakan padaku kemarin malam?"

"Ya, aku yakin sekali."

Pemuda itu duduk di sisi ranjang, tepat di samping tubuh tak berdaya Karin. "Kita tidak bisa menunggunya sadar secara bersamaan."

Mamori menaikkan sebelah alisnya. "Apa maksudmu?"

"Kau yang akan menjaganya, Anezaki. Sementara aku akan mencoba mencari informasi lain di luar sana. Aku akan menyempatkan diri ke rumah ini juga untuk menemanimu. Lagipula, kalau hanya aku yang menemaninya, nanti tidak enak pada tetangga sekitar kalau lelaki hanya berdua dengan perempuan dalam satu rumah."

"Baiklah, aku paham. Jadi ... sekarang apa yang akan kaulakukan?"

Yamato bangkit dari duduknya dan berjalan keluar menuju pintu depan. "Tentu saja mencari informasi lain. Bagaimana denganmu? Tetap di sini?"

Mamori melirik Karin sejenak sebelum menggeleng pelan. "Tidak, aku akan kembali ke rumah Sena dan mengambil beberapa barang sekaligus memberitahu mereka aku akan menginap di sini malam ini."

"Hmm, ya sudah. Kalau begitu, ayo kita pergi dulu. Kurasa dia tidak akan apa-apa bila ditinggal sebentar," ajak Yamato yang sudah berdiri di ambang pintu depan.

Mamori mengangguk dan mengikuti Yamato dari belakang.

Selepas perginya kedua detektif itu, Akaba ternyata sudah berdiri di depan pintu kamar Karin. "Fuh, sepertinya kau tidak akan sendiri lagi." Mata pemuda itu melirik Hiruma dari balik kacamata hitamnya.

"Keh, aku tidak mengharapkannya sama sekali, Kacamata Sialan." Hiruma menjawab dengan wajah datar.

"Jangan begitu. Harusnya kau tunjukkan irama yang lebih ceria, Hiruma. Gadis yang menemanimu itu lumayan cantik, kan?"

Hiruma tidak menanggapi ucapan Akaba yang terakhir. Masalahnya bukan wajah gadis itu. Tapi identitas dirinya. Pemuda berambut blonde spike itu tahu pasti bahwa gadis itu bisa melihat dirinya. Dan kalau gadis itu harus berada di rumah ini, besar kemungkinan ia akan ketahuan.

Dan di sisi lain ia tak bisa meninggalkan Koizumi Karin begitu saja. Ia juga terus kepikiran kata-kata Shirayuki yang mengatakan bahwa gadis ini bisa mengembalikan ingatannya. Jadi, ia tak bisa melepaskan gadis ini begitu saja.

Dengan kata lain, ia harus mencari cara supaya tidak bertatap muka langsung dengan wanita detektif itu.

"Fuh, kau benar-benar kepikiran ya, Hiruma?"

"Jangan banyak bicara, Kacamata Sialan," sahut Hiruma dengan wajah datar. "Setelah ini, apa yang akan kaulakukan?"

Akaba mengendikkan bahunya. "Entahlah. Tapi, kurasa aku ingin melihat-lihat desa ini dulu. Aku akan kembali besok. Lagipula, aku tidak ingin menganggumu bersama dengan Detektif Anezaki."

Hiruma semakin menyipitkan kedua matanya. Ingin sekali rasanya ia menembaki pemuda bersurai merah itu.

"Sampai jumpa lagi, Hiruma," ucap Akaba sambil mengangkat tangan kanannya dan berjalan keluar pintu depan tanpa membukanya.


XXX Scheduler's Angel XXX


Mamori mengambil dua pasang pakaian dan barang-barang lain yang ia butuhkan untuk 'menginap' di rumah Karin. Hanya sedikit saja yang dibawa gadis itu. Karena kalau kurang, ia akan minta tolong Suzuna untuk mengantarkan ke rumah itu. Lagipula, belum jelas kapan gadis itu akan bangun.

"Mamo-nee? Kau sedang apa?" Tampak Suzuna tengah mengintip dari balik pintu kamar Mamori.

"Menginap," jawab gadis itu singkat.

"Eh? Bukannya sekarang kau sedang menginap di sini?" Raut wajah Suzuna menunjukkan keheranan.

Mamori mengalihkan perhatian dari tas kecilnya dan tersenyum menatap Suzuna. "Ini lain. Aku akan 'menginap' di rumah gadis yang menjadi korban selamat si pembunuh itu."

"Yang kita tanyakan pada kedua ibu-ibu itu, ya? Kau sudah menemukannya?"

Mamori mengangguk pelan. "Tadi pagi, aku dan Yamato-kun menemukan rumahnya. Tidak ada siapa-siapa dan gadis itu masih belum sadarkan diri. Jadi, aku akan coba menjaganya sembari menunggu ia sadar."

"Ah, begitu ya. Aku paham." Suzuna mengangguk sambil tersenyum. "Ehm, mengenai kemarin ..."

"Memangnya ada apa?" tanya Mamori heran.

Suzuna menggeleng dengan cepat. "Tidak ada apa-apa." Ia mencoba tersenyum.

"Oh ya, ini denah rumahnya. Besok siang, tolong antarkan beberapa pakaianku ke sana ya? Kalau tidak bisa, titip pada Yamato-kun saja." Mamori menyodorkan denah itu pada Suzuna.

"Baiklah. Tapi aku akan antar sendiri saja. Soalnya, aku juga penasaran tentang siapa gadis itu." Gadis ceria itu mengedip pada Mamori.

"Terima kasih ya, Suzuna." Mamori tersenyum padanya.


XXX Scheduler's Angel XXX


Sayup-sayup terdengar gemericik air di antara keheningan malam. Jika didengar sekilas, kau takkan menyadarinya. Tapi jika didengar dengan seksama kau akan menyadarinya. Sayangnya, tidak banyak orang menyadarinya sehingga tidak jarang asal suara gemericik air tersebut menjadi sangat jarang dikunjungi orang.

Suara sayu-sayup itu ada di pinggir desa, tidak terlalu jauh dari rumah Karin. Dari jalan setapak kau bisa mendengarnya. Dan jika kau ikuti arah suara air ini melewati rimbunan pohon dan semak-semak, kau akan menemukannya.

Sebuah air terjun.

Tempat ini dikelilingi bebatuan dan pepohonan di sekitarnya. Karena itulah, tempat ini sangat cocok digunakan untuk menyendiri. Seperti yang sedang dilakukan seorang wanita berambut kehitaman yang kini tengah duduk di pinggir air terjun itu.

"Fuh, Anda terlihat senang, ya?"

Wanita itu tersenyum mendengar suara seseorang di dekatnya itu. Ia melirik ke sisi kanannya, tempat di mana pemilik suara itu berdiri. "Di sini sangat tenang dan nyaman. Bagaimana mungkin aku tidak menyukainya?"

"Hm, begitu ya?"

Keduanya terdiam, menikmati angin malam yang terasa dingin. Suara gemericik air terjun entah mengapa membawa ketentraman tersendiri, persis seperti kata wanita ini.

"Jadi, ada apa kau menjumpaiku, Akaba?" Wanita itu menatap dengan tatapan polos, walaupun Akaba berpikir ekspresi itu sedikit menipu.

"Anda sudah tahu ya, Shirayuki-sama?"

"Hm? Soal apa?" Shirayuki kini merendam kedua kakinya ke dalam air dan menggoyangkan ke depan dan belakang.

"Fuh, berhentilah menunjukkan nada polos itu. Saya tahu Anda sangat paham maksud saya." Akaba membetulkan letak kacamatanya.

"Soal Hiruma dan Koizumi Karin?" Shirayuki masih tetap fokus dengan kegiatannya sendiri.

"Tidak, tapi dengan Detektif Anezaki Mamori," jawab Akaba. Ia lalu berjongkok dengan satu kaki setelah Shirayuki menepuk tanah di sebelahnya, memberi isyarat untuk duduk.

"Ah, itu." Wanita itu diam sejenak. "Yah, aku sudah tahu bahwa Anezaki Mamori pasti akan datang ke rumah itu juga, cepat atau lambat. Jadi menghindar seperti apa pun, Hiruma tetap akan bertemu gadis itu juga, pada akhirnya."

"Fuh, padahal saya sempat berpikir Anda yang mengatur agar mereka berdua menjadi 'tinggal bersama' di rumah Koizumi Karin."

Shirayuki menggeleng pelan. "Tidak sama sekali. Aku hanya mengatur agar Hiruma berada di dekat Koizumi Karin sesuai dengan janjiku untuk mengembalikan ingatannya melalui gadis itu. Tapi aku tidak terlibat apa pun dengan Anezaki Mamori."

"Saya baru ingat, mengapa Anda tidak mengembalikan ingatan Hiruma langsung? Kenapa harus melalui gadis itu?" Akaba menatap Shirayuki dengan pandangan ingin tahu.

Wanita itu kembali diam. Ia menghela napas pelan. "Aku tidak mau mengembalikan ingatannya begitu saja. Harus ada sesuatu sebagai pemicunya. Apalagi untuk tipe pria seperti Hiruma. Koizumi Karin adalah kuncinya. Dan entah bagaimana, pada saat yang sama, Mamori Anezaki, juga membutuhkan gadis itu."

"Dan apa artinya?"

Shirayuki menengadahkan kepala, menatap langit malam yang kali ini ditemani banyak bintang yang berkelip indah.

"Kelihatannya takdir ingin memberikan kesempatan pada Hiruma untuk melindungi Anezaki Mamori sekali lagi."


XXX Scheduler's Angel XXX


Kembali, malam muncul untuk menggantikan siang. Menggantikan cahaya dengan kegelapan. Beberapa suara hewan-hewan malam terlihat di sekitar rumah, menimbulkan efek yang mungkin bisa membuat orang merinding. Begitu pula dengan Mamori. Namun, gadis itu tetap memutuskan untuk tidak peduli.

Dirogohnya tas kecil yang dibawanya dan dikeluarkannya foto-foto yang tadi siang ia temukan di laci rak kayu Karin. Saat di rumah Sena, ia sempat memandangi foto-foto itu juga. Tapi berapa kali dipandangi pun, hanya rasa tidak percaya yang selalu terbesit di pikirannya.

Foto ia berangkulan dengan Karin itulah yang paling menarik atensinya. Ia sampai merasa dirinya sudah salah lihat saat menyadari sesuatu yang lain dari foto itu. Tapi, ia tahu bahwa berspekulasi banyak pun tak akan membantu. Yang penting sekarang adalah menunggu Karin sadar, setelah itu baru ia bisa bertanya pada gadis itu.

"Hoahm." Gadis itu menguap pelan. Diletakkannya foto-foto itu ke atas meja di sebelah tempat tidur dan berjalan ke dapur. Siapa tahu ia bisa menemukan bubuk kopi dan membuat minuman pengusir kantuk itu.

Mamori mencari-cari tempat bubuk kopi di meja dapur. Tidak terlalu sulit, karena ternyata Karin sudah menata semuanya dengan rapi. Ia bahkan terkejut ada bubuk kopi instan. Baguslah, ia jadi tidak perlu repot. Ia hanya berharap semoga Karin tidak akan memarahinya jika gadis bersurai kepang itu mengetahui dirinya mengambil tanpa izin.

Perlahan dituangnya bubuk kopi ke dalam cangkir dan menyeduhkan air panas setelahnya. Setelah mengaduk minuman itu dan dirasa sudah cukup, ia membawa cangkir itu kembali ke kamar.

Tanpa Mamori sadari, sebenarnya Hiruma selalu mengawasi gadis itu. Sejak ia datang ke rumah ini sejak tadi sore sampai sekarang. Hanya saja, pemuda bergigi tajam itu menatapnya dari tempat yang gelap karena ia tidak mau Mamori menyadari kehadiran dirinya.

'Cih, kenapa aku malah terfokus pada Detektif Sialan ini?'

Umpatan-umpatan terus bergumul di hatinya, namun semua itu tidak sinkron dengan apa yang ia lakukan. Dengan setia, ia mengikuti Mamori yang membawa cangkir kopi dari belakang. Tentu saja dengan sangat perlahan dan tanpa suara.

Gadis itu sendiri memang tidak menyadarinya. Ia terlalu asyik dengan pikirannya sendiri. Ada begitu banyak pertanyaan memenuhi benaknya. Dan semua pertanyaan itu siap ia tumpahkan begitu Karin sadar nanti. Karena entah mengapa gadis itu merasa bahwa Karin tahu dan kenal dengan dirinya. Karena ia sendiri merasa seperti ada yang hilang di masa lalunya dan tidak tahu apa itu.

Saat Mamori sampai di depan pintu, manik safirnya membulat saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

"Ka-kau ..."

~ To Be Continued~

A/N: Hai, semuanya ^^

Akhirnya setelah UN berakhir, langsung tancap gas buat ngetik fanfic ini. Di chapter ini, fokus utama adalah Mamori dan Hiruma. Dan mungkin di chapter depan akan bertambah menjadi Mamori-Hiruma-Karin :)a

Makasih banyak buat karin-mikkadhira, Dinaffa, hana-chan kirei, Kuro Nami, undine-yaha, Mayou Fietry, dan sasoyouichi. Sudah dibalas lewat PM. Dan juga untuk readers, TheMostMysteriousGirl, dan Rahasiaa, makasih banyak untuk review kalian :)

Mind to review, minna-san?