Really big THANKS to Infaramona {} , fleurslanoire alias Cindy :) , Nabila ayu :* , Putri, juga Vania buat review dan support serta kesabaran kalian untuk menunggu fic ini kembali apdet ;)
Author kembali untuk menyampaikan maaf yang sebesar-besaaarnya soalnya sempet vakum dari dunia perfiksian. Maklum, tawaran syuting bertebaran dimana-mana. Jadi ya gitu deh, kalo nolak sangkanya nolak rezeki. Dan sekarang Author sudah menstop semua kegiatan di kancah hiburan yang penuh gemerlap ajep ajep (?) dan kembali ke sini!
Oke daripada readers kocar-kacir gara-gara Author kebanyakan ngayal…
Please Enjoy this Finally-Updated Fic
-o0o-
"Keturunan yang tidak diinginkan. Terlahir dalam kegelapan dan kesendirian. Hingga kemurnian darahnya terkuak,"
"Darahnya murni semurni jiwanya yang tertutup kabut. Di umurnya yang pertama menggambarkan kehancuran Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut. Pangeran kegelapan akan membecinya sampai ke urat-urat nadinya,"
"Darah yang tidak diinginkan akan tertumpah di pergulatan yang terakhir. Hanya dia yang bisa melindungi Dia-Yang-Terpilih dari kematian. Mereka akan memulai petualangan mencari ilmu hitam untuk dihancurkan."
.
.
Harry termenung di sudut kedai terpencil itu. Pengunjungnya sangat sedikit, hanya ada empat orang pengunjung yang sedang duduk, kecuali Harry, ditambah pelayan toko yang sedari tadi diam saja. Mata Harry mengawasi perempuan berpenampilan aneh layaknya bajak laut yang baru saja berbicara seperti kesurupan. Perempuan itu duduk diseberang meja dari dua pria yang berpenampilan aneh juga.
Pria yang satunya terlihat tua dengan janggut panjangnya yang berwarna keperakan, dan yang satunya lagi terlihat lebih muda namun wajahnya pucat tanpa ekspresi mencermati si perempuan tadi. Harry harus maju mendekati mereka agar mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.
"Albus.. tidak.. ini terjadi lagi." Kata perempuan itu lirih.
"Tak apa Sybil. Memang ini yang aku minta darimu. Bisakah kau melanjutkan lagi? Maksudku- meramal tentang detil dimana anak ini berada sekarang?" ucap Dumbledore menenangkan Profesor Sybil Trelawney.
"Aku tidak yakin, Albus. Tapi kurasa dia sudah menjadi penyihir yang utuh sekarang. Jadi aku akan mencoba mencari lokasinya."
"Maksudmu penyihir utuh?" tanya pria berambut hitam berminyak di sebelah Dumbledore.
"Kurasa selama ini statusnya sebagai penyihir tidak terdeteksi disebabkan sihir hitam yang menyelubunginya selama lima belas tahun. Namun sihirnya sudah sirna sekarang." Jelas Trelawney seperti mengigau sendiri.
Mata Trelawney membalik keatas dan terpejam kembali. Mulutnya mulai komat-kamit melontarkan kata-kata aneh yang asing di telinga Harry.
"Cepat Severus! Pegang tangannya, masuki alam bawah sadarnya dan lihat pikirannya!" sergah Dumbledore ke pria di sebelahnya.
.
.
Dingin. Gelap.
Aku dilahirkan saat ibuku meregang nyawa karena serangan sihir dari ayahku sendiri. Aku lahir saat ayahku meludahi ibuku yang sekarat. Darah melumuri seluruh tubuhku yang telanjang dan rentan.
Ibuku melihatku dengan tatapan sayu sementara ayahku melihatku seperti aku hanya seonggok kotoran binatang. Tatapan sayu itu memudar dan matanya menutup rapat. Ayahku meraihku kasar dengan tangannya yang kotor.
Ayahku terlihat sangat berantakan, dan memang selalu begitu. Dia sudah tidak waras. Tongkat sihir tua diacungkan dan tubuhku bersih dari segala noda. Lengkap dengan seutas kain putih yang tiba-tiba muncul melindungi tubuhku.
"Heh. Matamu mirip denganku sedangkan rambut dan bentuk wajahmu milik adikku." Kekehan ayahku terdengar nyaring di telingaku. Dia menggendongku dengan kasar.
"Mungkin kau bisa membantu kakak tirimu itu untuk membersihkan dunia ini dari darah kotor,"
"Atau mungkin kau bisa menghabisinya. Karena darahnya juga tercampur darah kotor sih. Cih."
Lagi-lagi ayahku meludah ke jasad ibuku yang sudah kaku dilantai. "Aku punya rencana bagus untukmu."
Seringai ayahku menghiasi wajahnya yang seperti ular dan giginya terlihat menghitam juga banyak yang tanggal. Sementara ia terus berjalan keluar dari gubuknya dan menuju ke rumah paling besar di desa Little Hangleton dalam kegelapan malam.
"Hei kau! Pergi! Sekali lagi kau melangkah maju ke halaman rumah ini, akan ku kutuk kau!" teriak salah satu pemuda bertopeng mengerikan di belakang gerbang rumah mewah itu.
Ayahku terkekeh sambil terus maju dan menghunuskan tongkat sihirnya ke dada pemuda tadi. Sontak semua teman-temannya mengelilingi ayahku dan aku yang berada dalam gendongannya di tengah halaman rumah mewah yang gelap segelap malam.
"Aku paman dari Tuanmu yang berdarah campuran kotor itu, si Tom Marvolo Riddle. Biarkan aku masuk. Aku ingin menghukumnya." Kata ayahku penuh kebencian.
"Kau.. kau Morfin Gaunt?" cicit salah satu penjaga gerbang serupa yang mengelilingi kami.
"Aku cukup terkenal juga rupanya... heh." Ayahku menatap selusin pemuda bertopeng itu dengan tatapan angkuh khas slytherin.
"Siapa lagi pengacau yang datang?" tanya seorang pria jangkung berkulit sangat pucat dan jubah hitam panjang melambai dibelakangnya. Wajahnya hampir berbentuk ular dan sangat terlihat parah.
"Halo keponakanku yang tampan. Kau pernah mencariku 'kan? Sayangnya saat itu aku tidak ingin bertatap muka dengan keturunan yang menodai darah murni keluargaku." Ayahku nyengir liar dan melangkah maju menuju pria pucat itu di halaman rumah. Pemuda-pemuda bertopeng tadi menyingkir begitu saja karena merasakan sihir hitam yang kuat terpancar dari ayahku. Aku mau tak mau terus merasakannya dari tadi. Rasanya bersahabat. Karena darahnya juga mengalir dalam darahku.
Tom Marvolo Riddle menggelengkan kepalanya sambil mendesis, "Kau sama sekali tidak tahu apa-apa."
"Dan ada urusan apa kau datang menemuiku, paman?" nada meremehkan sangat jelas tertera di setiap kata-katanya.
"Aku ingin memberikanmu hadiah. Aku tahu ulang tahunmu masih beberapa bulan lagi namun hadiah ini sangat spesial." Balas ayahku mendesis juga.
Anehnya aku bisa mendengar jelas apa yang mereka katakan walaupun mereka berdesis pelan. Aku lahir tanpa bersuara apalagi menangis. Dan aku mulai mengikuti mereka mendesis. Suara pertamaku semenjak aku dilahirkan di dunia ini.
Mata merah Tom melotot tak percaya akan desisan yang baru saja ia dengar.
"Anak ini.. bisa parseltongue?" tanyanya keheranan dengan suara melengking.
"Perkenalkan, Riddle, adik tirimu."
Kilatan cahaya hijau memenuhi pandanganku. Ayahku ambruk sementara aku masih dalam pelukannya. Tom Riddle berteriak marah mengerikan. Tongkat sihirnya dihunuskan ke wajahku yang kebingungan. Dan udara berwarna hitam pekat masuk ke tubuhhku. Aku menangis. Dia memanggil abdinya dan meneriakkan sesuatu seperti,
"Buang dia! Jauhkan dia! Bawa pergi bayi ini!"
Aku diambil cepat dari pelukan ayahku oleh pria yang sama sekali tidak kukenal. Dan sensasi seperti karet dimasukkan ke sebuah botol menerpaku. Menghentikanku dari jeritan tangisku sendiri.
.
.
"Apakah sudah cukup jelas?" tanya Dumbledore dari balik meja kerjanya. Harry baru saja keluar dari pensieve. Dia bangkit dan menghampiri Dumbledore ke seberang mejanya.
"Belum sama sekali,"
"Bagian mana yang tidak kau mengerti?"
Harry mengusap wajahnya, mengatur nafasnya dan menenangkan diri. "Profesor, anda tahu ini sangat mengejutkan bagi saya. Kenapa baru sekarang saya diberitahu?" tanya Harry dengan nada penasaran sekaligus kecewa.
"Kau kira ini juga tidak mengejutkanku? Aku baru tahu tentang hal ini beberapa bulan yang lalu. Saat Trelawney melaporkan dia mendapat penglihatan tentang seorang gadis penerus dari keturunan Slytherin,
"Seperti yang kau lihat tadi di pensieve, keesokan harinya aku mengajak Trelawney serta Severus ke tempat yang jauh dari pendengaran orang luar, ya, aku tahu itu tempat yang sama seperti enam belas tahun yang lalu saat Trelawney pertama kalinya meramalkan takdirmu, Harry. Kurasa hanya di tempat itu dia bisa meramal dengan baik. Dan terbukti benar. Kau tidak perlu cemas akan mata-mata yang mengutip ramalan lagi, karena kau tahu orang itu berada di samping ku, bukan? Dia sudah berada di pihak kita. Percayalah." Tutur Dumbledore serius.
"Tak lama setelah itu aku dipanggil kementrian untuk ke bagian Departemen Misteri. Voldemort dikabarkan muncul kembali dan sedang berduel denganmu, kau ingat? Itulah sebabnya aku agak terlambat menolongmu waktu itu." Lanjutnya.
"Beberapa minggu kemudian aku mencari gadis ini ke pinggiran kota London. Trelawney berhasil melacaknya. Kasihan dia, hidup di lingkungan muggle yang kumuh dan rata-rata miskin. Kondisinya lebih parah dari Tom Riddle silam. Untung saja yang merawatnya adalah seorang muggle yang lumayan bijaksana dan bertanggung jawab, namanya James Johnson."
Harry mengerjap sadar, "James? Jadi nama tengahnya berasal dari nama seorang muggle?"
"Kali ini kau benar. Biar aku jelaskan lagi,
"Seorang pelahap maut tiba di pinggiran kota London itu dan meletakkan bayi ini di sembarang tempat. Mr Johnson sehabis pulang dari kerja sebagai seorang kurir bayaran menemukannya di pinggir jalan yang kumuh. Ia merasa iba dengan bayi itu. Hanya terbungkus seutas kain putih.. dan oh ya aku hampir lupa, tertulis nama Riddle di balik kainnya.
Dia membawa bayi ini pulang ke rumah dan telah memutuskan untuk merawatnya. Istrinya marah. Keadaan ekonomi mereka memprihatinkan. Mereka memang belum mempunyai anak karena istri Mr Johnson mengidap penyakit berbahaya yang tidak memungkinkannya untuk mengandung. Mr Johnson masih dengan pendiriannya, tetap ingin merawat bayi itu.
Hingga umurnya satu tahun, Mr Johnson dan istrinya bercerai. Sedangkan nama Hanna sendiri berasal dari nama istri Mr Johnson."
Dumbledore menundukkan kepalanya, merasakan perasaan yang sama saat ia datang ke rumah kecil di pinggiran kota London tersebut. Dia merasa pengorbanan dari Mr Johnson sudah terlalu banyak. Ia sempat mengira Mr Johnson dipengaruhi sihir yang membuatnya mau merawat Hanna dengan pengorbanan yang besar. Namun ternyata tidak.
"Yang membedakan Hanna dengan Tom hanyalah saat ia dibesarkan. Tom dibesarkan di panti asuhan dengan kasih sayang yang seadanya. Tetapi Hanna dirawat dan dibesarkan oleh seorang 'pengganti ayah' yang menerimanya dengan tulus. Dan penuh kasih sayang." Ucap Dumbledore sambil menerawang ke luar jendela kantornya. Matahari sudah berada diatas kepala, Harry harus makan siang dan menghadiri kelasnya nanti, pikirnya.
"Harry, kau punya kewajiban untuk menuntut ilmu di sini. Lain waktu kita akan lanjutkan lagi."
Harry mengangguk lemas dan bangkit. Namun sesuatu membuatnya teringat,
"Hm, profesor, kesimpulannya orang tua dari Hanna Riddle... Jangan kau bilang mereka,"
"Sayangnya benar, Harry. Orang tua Hanna adalah Morfin dan Merope Gaunt."
.
.
.
.
"Aku benar-benar pusing, Harry. Bagaimanapun juga dia tidak mungkin hidup lagi dan melahirkan seorang anak 'kan? Dia akan menca-"
"Kalau kau berbicara satu kata lagi, Miss Granger, I'll take twenty points from Gryffindor."
Hermione terdiam di tempat duduknya di samping Harry. Ron mendengus kesal terhadap Profesor Snape yang sedang berada di depan kelas pertahanan terhadap ilmu hitam. Pelajaran pertahanan terhadap ilmu hitam kali ini terasa sangat berbeda. Lebih buruk daripada tahun kelima mereka. Sekarang lebih kelam dan gelap di kelas. Aura profesor Snape selalu memancarkan kemisteriusan.
Setidaknya itulah yang dirasakan para murid di kelas, terutama pada Hanna sendiri. Bagaimanapun juga, pelajaran tentang Manusia Serigala membuat Hanna sedikit tertarik. Apalagi dengan penyampaian yang agak, em, mengandung emosi dalam setiap kata-katanya. Well dia tahu Profesor Snape memang man without expression. Saat bertemu pertama kali dengan Hanna, ia hanya melirik sekilas dan mengerutkan keningnya.
Hanna bisa merasakan pandangan trio emas terus saja ke arahnya semenjak masuk kelas ini. Dia menoleh dan menangkap basah Ron yang sedang mengamatinya. Hanna menatapnya tajam seraya mengatakan ada yang salah denganku, rambut merah? Ron mengerjap dan mengalihkan pandangannya ke bukunya di meja.
"Transformasi dari Manusia Serigala bisa dihentikan dengan ramuan tertentu. Lima poin bagi yang tahu nama ramuan tersebut." Kata Profesor Snape sambil menuliskan ciri-ciri Manusia Serigala di papan tulis kelas.
Hanna refleks menjawab tepat sebelum Hermione mengacungkan tangannya, "Wolfsbane potion, sir."
"Aku tidak menerima ketidak-sopanan dalam kelasku, Miss Riddle." Cibir Profesor Snape di depan kelas.
"Ya, Miss Granger?" mata Profesor Snape beralih ke Hermione yang mengacungkan tangannya tinggi. "Ramuan Wolfsbane dapat membuat Werewolf atau Manusia Serigala tidak bertransformasi pada setiap bulan purnama asal ramuan tersebut diminum secara teratur." Jelas Hermione lantang.
"Five points for Gryffindor." Kata Profesor Snape singkat.
Hanna memutar bola matanya dan mendelik ke Hermione. Hermione juga menatapnya dan menaikkan bahunya. Dia mulai berani rupanya, batin Hanna. Dan dia diam-diam ia menyeringai.
.
.
"Ya begitulah kira-kira, kurasa Harry dan Ginny memang pacaran."
"Lalu bagaimana dengan Cho?"
Di meja Ravenclaw murid-murid perempuan tahun keenam sedang melakukan kegiatan rutin mereka. Yaitu makan malam sambil berceloteh ria. Biasanya frekuensi gosip mereka jarang. Mereka lebih sering mendiskusikan sesuatu yang sudah ada faktanya. Dan mereka akan bertingkah seperti detektif untuk menyelidiki apa saja yang sedang menjadi topik mereka. Membosankan, pikir Hanna.
Setelah selesai dengan makan malamnya, Hanna bergegas ke Ruang Rekreasi untuk mengerjakan tugas essay ramuan yang baru saja diberikan Profesor Slughorn tadi sore. Hanna mengajak Padma untuk ikut dengannya dan dia mengiyakan.
"Oh ya, Padma, bisakah kau ceritakan padaku tentang Malfoy?" tanya Hanna membuka pembicaraan saat mereka melangkah meninggalkan Aula Besar.
"Maksudmu Draco Malfoy? Haha jangan bilang kau naksir pada si brengsek itu." Padma terkikik.
Hanna menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil, "Tidak- tidak, aku hanya penasaran. Soalnya dia terkesan, agak misterius mungkin?" ia menyembunyikan alasan yang sebenenarnya. Bahwa Hanna penasaran kenapa setiap dia berada di dalam satu ruangan dengan Draco, Hanna merasa dia terus saja mengamatinya dengan kegelisahan yang selalu tersirat di wajahnya.
"Misterius? Dia itu pembuat onar, pengecut, ah buruk semua pokoknya,"
"Siapa yang kau bilang buruk, Patil?" suara yang dibuat melengking terdengar tepat di belakang mereka. Draco Malfoy beserta anteknya telah berdiri disana dengan gaya mereka yang membuat Hanna ingin muntah.
Padma mulai salah tingkah dengan sirat ketakutan di wajahnya. Hanna segera mengetahui perasaan temannya hanya dari lirikan sekilas. Kini pandangan Hanna mencermati wajah menyebalkan Draco Malfoy. Ia mulai menghampiri Padma yang mundur perlahan. Draco seperti tidak memperdulikan keberadaan Hanna di sana.
"Kubilang, kau itu trouble maker, Malfoy!" terlihat sorotan keberanian di mata Padma. Sekarang murid-murid mulai menonton mereka. Draco langsung mengacungkan tongkat sihirnya ke wajah Padma.
"Bicara sepatah kata lagi akan kuubah kau menjadi ular India!"
Draco menjatuhkan tongkat sihirnya. Murid-murid di sana terpekik melihat dengan tanggapnya Hanna menghunuskan tongkat sihirnya ke dada Draco. Air muka Draco berubah-ubah. Antara ketakutan dan keraguan saat menatap mata abu-abu Hanna.
"Enyah kau, Malfoy." Ancam Hanna. Murid-murid mulai bersorak 'Duel! Duel!'. Draco menggeram lalu memungut tongkat sihirnya. Hanna masih siaga dengan tongkat sihir dalam genggaman tangannya.
"Jangan coba-coba berurusan denganku, Riddle." Draco menelan ludahnya saat merasakan sensasi mengucap nama Riddle pertama kalinya. Ia merasakan seolah telah menghina nama kecil Pangeran Kegelapan.
"Kita lihat apa yang akan terjadi padaku jika berurusan denganmu."
Audience yang mengelilingi mereka semakin ramai dan semakin membuat riuh suasana. Murid Slytherin menyemangati Draco agar segera melancarkan kutukan. Sementara para murid Ravenclaw senior menginginkan Hanna untuk mundur saja. Mengingat Hanna adalah murid baru dan belum sama sekali mengetahui kemampuan duel dari Draco Malfoy, murid terpintar kedua di Hogwarts setelah Hermione Granger.
Bagaimanapun juga, ini akan menjadi duel Hanna yang pertama. Dan dengan lawan yang terlalu berat. Setidaknya itu yang sekarang dicemaskan oleh murid-murid Ravenclaw. Sebenarnya ini juga tentang harga diri asrama. Namun lebih baik Hanna mundur daripada kalah di tempat. Pasti akan lebih parah ejekan dari murid Slytherin.
'Stupefy!' cahaya merah meluncur secara tiba-tiba dari tongkat sihir Draco dan secepat kilat menerpa targetnya.
Dengan tanpa diduga pula, kutukan tersebut terpelanting ke dinding sekolah. Semua orang di koridor itu terpekik kembali. Melihat Hanna dilindungi mantra protego tanpa sama sekali bersuara. Hanna memiringkan kepalanya dan mencibir, "Hanya segitu kemampuanmu, Malfoy?"
Mata Draco melebar dan agak mundur selangkah dari posisinya semula. Murid Slytherin membisu di tempat. Sementara semua murid di koridor itu bergeming tak percaya melihat seorang anak baru telah melancarkan mantra non-verbal.
"Kau.. Kau tak tahu kemampuan kami, para anak Slytherin. Bahkan aku tak tahu darahmu itu berlumpur atau tidak," ejek Draco sambil menoleh ke arah kerumunan murid Gryffindor, khususnya tepat ke Hermione yang langsung mendelik tidak berdaya di tengah riuhnya sorakan dari murid Slytherin.
"Kalian anak Slytherin, katamu? Aku? darah lumpur?" ujar Hanna melangkahkan kaki ke arah Draco yang mulai terhenti tawanya.
"Kau-tak-tahu aku ini keturu-"
"Cukup."
Profesor Dumbledore mengibaskan tangannya di tengah para murid yang membubarkan diri perlahan. Ia menggelengkan kepalanya sambil menatap khawatir pada Hanna. "Ikut aku sekarang, Riddle." Perintah Profesor Dumbledore pelan yang diikuti sorakan dari murid Slytherin.
Hanna menoleh ke belakang dan melihat ekspresi pucat Draco sekilas. Kelihatannya dia mengerti maksudku, batinnya berbisik. Dan dengan seringai kemenangan, Hanna mengikuti Profesor Dumbledore ke kantornya.
.
.
.
Memasuki akhir bulan November, suhu udara di Hogwarts benar-benar membuat darah berhenti mengalir. Mengikuti pelajaran Herbologi berarti harus berjalan melawan udara yang membeku ke rumah kaca. Harry mendesah dalam hatinya. Dia lebih memilih kegerahan di sana.
"Sudah kubilang kau tidak usah.."
"Mione, please. Buku ini tidak ada hubungannya dengan sihir hitam." Sanggah Harry sambil menghembuskan nafas bekunya. Merasakan organ-organ tubuhnya menggigil di dalam sana.
Hermione merenggut namun tetap berjalan cepat bersama rombongan murid Hufflepuff tahun keenam ke rumah kaca yang jaraknya tinggal beberapa langkah lagi. Ron menggeleng seraya berkata kepada Harry, "Mate, she'll never change her mind. Rockhead." Harry tertawa ringan untuk menghilangkan kekhawatiran yang baru saja masuk ke dalam benaknya.
Sesungguhnya Harry tidak betul-betul secure dengan buku yang sedang digenggamnya ini. Tertulis half blood prince dan Harry tak punya ide sama sekali siapa pemilik buku ini sebenarnya. Bagaimanapun juga buku ramuan ini telah membantu Harry dalam setiap pergulatannya dengan kuali dan semacamnya di setiap kelas ramuan di tahun keenam ini.
Di tengah pelajaran Herbologi yang ternyata kali ini hanya membahas teori membuat Harry bosan setengah mati. Well, duduk bersebelahan dengan Ginny tidak terlalu membosankan juga sih.
Demi membunuh rasa jenuhnya Harry membuka-buka buku si Half-blood Prince tersebut.
"Uh sorry, Harry." Pekik Ginny pelan. Harry lekas memungut bukunya dan mengangguk mengisyaratkan kata 'tak apa' sambil tersenyum kecil pada Ginny. Halamannya sembarang terbuka dan menampilkan sebuah kata sisipan di bagian pojok bawah halaman diikuti penjelasan singkat dengan huruf-huruf yang sangat ramping.
'Sectumsempra'
.
.
.
Darah pekat mengalir bersama air yang terus mengucur. Gadis itu terbelalak dan mencari tahu darimana darah itu berasal.
'Oh sial' bisik seorang- sepertinya laki-laki di ujung sana. Tepat di seberang bilik kanan itu. Si gadis makin penasaran, ia tidak menghiraukan bau amis darah yang sangat menyengat. Air yang bercampur darah telah menggenang di sekitar sepatunya.
Perlahan, ia langkahkan kakinya semakin mendekat. Dia tidak dapat mempercayai apa yang ia lihat. Lantas ia berjengit lalu mundur satu langkah dan membelalakkan mata abu-abu tajamnya.
'Potter?'
'Tidak.. Riddle..'
.
.
…TBC…
.
.
Author's Note:
Ya, ya Author tau endingnya mungkin kurang- greget gimana gitu. Haduh *pentokin pala*
Percaya deh Author udah usaha semaksimal mungkin buat bikin fic ini perfecto tapi- berhubung Author masih amatir, inilah fic yang bisa tercipta.
"Readers yang baik adalah readers yang mau menerima Author apa adanya" o:)
Ditunggu Reviewnya yaaaaa!
