Fanfic pertama saya untuk Hetalia. Jadi maaf kalau aneh, ga jelas dan sebagainya... ^_^'v
HETALIA
Pair : America x England ( agak complicated, ada unsur America x Japan jg.. -_-)
Disclaimer : Hidekazu Himaruya
Ini hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Arthur kini duduk di kelas 3 SMA. Ada sesuatu yang membuat suasana terasa berbeda ketika memasuki ruang kelas Arthur yang baru. Tak ada laki-laki berkacamata yang selalu berteriak'selamat pagi Arthur!' ketika melihat Arthur masuk ke kelas di pagi hari. Tak ada laki-laki bermata sapphire biru yang meloncat dan menghampiri Arthur ketika Arthur masuk ke kelas. Alfred. Dia tak ada di kelas ini. Arthur dan Alfred berada di kelas yang berbeda tahun ini, setelah 2 tahun mereka selalu berada dalam satu kelas. Arthur sekarang berada di kelas XII IPA C sedangkan Alfred di kelas XII IPA E.
"Bonjour" sapa orang Perancis itu pada Arthur. "Jadi, tahun ini kita berada dalam satu kelas ya?"
Arthur berdecak kesal. Kelihatannya dia tidak suka dengan lelaki berambut pirang berwajah mesum itu. "Wanker..Kenapa aku harus sekelas denganmu,Francis?"
"Oh, jagalah mulutmu itu,Arthur.. Tidak sopan" balas Francis, masih dengan muka mesumnya.
"Shut up.." tukas Arthur cepat. Arthur segera duduk di bangku dekat jendela. Bangku didekat jendela selalu menjadi tempat favoritnya saat belajar di kelas semenjak ia masih SMP.
"Selamat pagi,all! Ada siapa saja disini?" Alfred masuk ke ruang kelasnya yang baru dengan semangat. Seiisi kelas memandangi Alfred yang sudah heboh pagi-pagi buta.
"Selamat pagi Alfred! Ada Tino Väinämöinen disini" Tino, lelaki berambut pirang itu mengangkat tangannya. Senyum mengembang di bibir kecilnya—ia geli melihat tingkah laku Alfred yang seperti anak kecil. "Ada Berwald juga lhoo" sambung Tino sambil menunjuk lelaki Swedia berkacamata yang duduk di sebelahnya. Yang ditunjuk hanya melihat Alfred dengan muka datar sedatar tembok.
"Hai Tino! Hai Berwald!" sapa Alfred dengan semangat. Mata Alfred menjelajahi seluruh kelas, mencari bangku yang masih kosong. Dan, ia menemukannya—bangku kosong dibelakang seseorang berambut hitam legam yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Tapi meski belum kenal, setidaknya Alfred tahu nama orang itu—Kiku. Alfred menaruh tas dibangku kosong yan ada di belakang bangku meletakkan tasnya, Alfred mengamati Kiku. Kiku sedang membaca dengan diam dan tenang. Alfred penasaran dengan Kiku yang tenang itu,dan ia pun berinisiatif mengajak Kiku berkenalan. Ada sesuatu yang menarik dari Kiku. Ia pun berjalan kesamping Kiku yang sedang duduk dan membaca sebuah komik.
"Pa-pagi.. Kau Kiku kan?" sapa Alfred. Badannya sedikit gemetar. Ia tidak pernah melihat (atau lebih tepatnya mendengar) Kiku berbicara. Dikarenakan itulah, ada sesuatu yang membuat badannya agak gemetar. Siapa yang tahu kalau ternyata dia seperti Ivan Braginski, anak kelas XII Bahasa A yang orang kira pendiam tapi ternyata menyeramkan?
Kiku melepaskan pandangan dari bukunya dan melihat Alfred. Mata hitamnya bertemu dengan mata biru sapphire Alfred.
"Ohayou. Iya benar, aku Kiku" jawab Kiku sambil tersenyum. Ia ramah, pikir Alfred. Alfred pun ikut tersenyum dan getaran yang melanda tubuhnya hilang.
"Aku Alfred! Salam kenal, Kiku! Semoga kita bisa jadi teman baik!"
"... Maka dalam kasus ini kita harus kembali ingat pada Hukum I Newton yang berbunyi : Sebuah benda akan tetap diam atau bergerak dengan kecepatan dan arah yang tetap, disebut bergerak lurus beraturan, kecuali jika dipaksa untuk mengubah keadaan tersebut oleh gaya - gaya yang berpengaruh padanya. Begitulah kesimpulan saya."
"Terima Kasih,Arthur. Kesimpulan yang kau berikan tepat dan mencakup seluruh persoalan. Kau boleh duduk kembali.."
"Terima kasih pak." Arthur pun duduk ke bangkunya di pinggir jendela.
"Kau pintar sekali, Arthur..." Francis berbisik
Arthur menoleh, melihat Francis melewati bahu kanannya sendiri. Francis berada di barisan bangku kanan yang berbeda darinya. "Tentu. Memangnya siapa yang bilang kalau aku bodoh?"
"Nggak ada sih.." kata Francis agak mencibir. Jutek sekali kau, alis tebal, batin Francis.
"Kau tahu,Francis? Kau bisa bilang padaku kalau kau iri dengan kepintaranku.." Arthur terkekeh lalu segera mengembalikan pandangan ke buku yang ada diatas mejanya.
"Diamlah, alis ulat bulu! Ingin sekali aku melempar sebotol wine ke mukamu yang hancur itu!" desis Francis.
Arthur menoleh sedikit kearah Francis "Kau lempar botol wine itu, lalu aku kutuk kau dengan Busby's Chair.." Arthur menyeringai jahat. Francis pun terkena serangan jantung melihat Arthur menyeringai bagaikan singa.
"Te-terserah kau saja!" Francis tergagap.
Arthur mendengus kesal, lalu memalingkan mukanya. Ia melihat keluar jendela.
"Si hamburger freak itu..Semoga tidak ketiduran di kelas lagi seperti tahun-tahun lalu.."
BUUGH
Alfred menjerit. Ia mengangkat kepalanya yang ia letakkan di atas meja dan memegang kepalanya.
"Siapa nih mukul-mukul kepala guee!" gaya bicara Alfred yang ngawur kumat.
"GUE yang mukul kepala ELO! Ga usah protes lo!" kata seseorang yang berdiri di pinggir Alfred sambil memegang sebuah buku yang tebal mirip kamus. Murid-murid di kelas Alfred langsung tertawa.
"Ehh.. Bapak.. Maaf maaf.. Dikirain siapa gitu.. Hehehe.." Alfred nyengir, menyadari ia sedang berhadapan dengan guru matematikanya.
"Sudah kelas 12 masih suka tidur di kelas..! Kapan kamu mau berubah Alfred!" kata pak guru berkepala mulus tanpa rambut itu pada Alfred.
"Maaf pak.. Kurang ti—"
"Kurang tidur? Kurang tidur apanya? Kamu kan baru saja masuk sekolah dari libur panjang? Bukankah hari libur juga kerjaanmu hanya tidur 'doang' di rumah?" omel gurunya sambil memberi penekanan khusus di kata 'doang' , kata tidak baku yang sering dikatakan anak muda jaman sekarang.
"Engga tidur doang kok pak... Saya juga main game, terus makan burger ke McDonalds, terus—"
"Astaga! Saya tidak menanyakan kegiatanmu selama liburan, Alfred!" kata pak guru sambil menepok jidatnya yang berkilau tertimpa sinar mentari yang menembus jendela kelas. Seisi kelas tertawa cekikikan. Kiku senyum-senyum menahan tawa sambil geleng-geleng kepala. Alfred sendiri senyum-senyum geli.
"Ya sudah, cuci mukamu sana supaya tidak mengantuk!" perintah gurunya
"Iya pak.." Alfred berdiri, sambil berjalan memasukkan tangan kirinya ke saku celana dan tangan kanannya mengacak-acak rambutnya sendiri. Gayanya cukup keren untuk membuat gadis-gadis di kelasnya berbisik-bisik. Alfred memang disukai dikalangan murid-murid perempuan disekolahnya karena badannya yang proposional dan gayanya yang 'manly'.
"Ayo tenang. Kita lanjutkan pelajarannya.." kata pak guru sambil berjalan kembali ke depan papan tulis.
Kiku, dengan tangan kanannya yang memegang sebuah pulpen, melihat Alfred berjalan keluar kelas. Setelah Alfred keluar dari kelas, Kiku mengembalikan pandangan ke buku pelajaran diatas mejanya.
"Arthur!" Teriak Alfred pada lelaki berambut pirang dengan alis tebal yang sedang menyenderkan punggungnya di dinding depan kelas C dan menyilangkan kedua tangan didepan dadanya.
"Jangan teriak-teriak,git! Berisik!" kata Arthur ketus. Ia melepaskan punggungnya dari dinding. Meskipun berbicara dengan nada ketus,Arthur lega karena pada akhirnya hari ini bisa bertemu dengan Alfred. Namun rasa senangnya tidak berlangsung lama, dan terganti dengan rasa bingung. Ada seseorang dibelakang Alfred. Ia berambut hitam. Orang Asia itu, Kiku kalau tidak salah? Kenapa ia bersama Alfred? Arthur bertanya-tanya.
"Arthur Arthur, kenalkan, ini Kiku. Kami ada di kelas yang sama.. Kiku, ini teman baikku,Arthur." Kata Alfred dengan riang.
"Yoroshiku" Kiku menundukkan kepalanya di depan Arthur "Senang bisa berkenalan denganmu" kata Kiku menerjemahkan.
"Ah, eng.. Senang juga bertemu denganmu.." Arthur agak kaku, menundukkan kepalanya juga.
"Nah, sekarang kita mau makan siang dimana nih? Kita makan di kantin yuk!" kata Alfred sambil menarik pergelangan tangan Kiku. Muka Kiku agak memerah, dan Arthur yang melihatnya tersentak. Arthur merasa sedikit cemburu melihat kejadian itu. Dulu, pergelangan tangannya lah yang selalu ditarik-tarik ketika Alfred mengajaknya ke kantin. Sekarang, Alfred menarik pergelangan tangan seseorang yang baru saja dikenalnya? Apakah itu tidak salah?
"Ano, Alfred-san. Aku bawa bekal. Mungkin kau mau makan bekal bersamaku.." jawab Kiku agak ragu.
"Kau bawa bekal? Hore! Aku mau dong, menyicipi makanan Asia buatanmu itu!" Alfred mengguncang-guncangkan tangan Kiku.
"Arthur-san, bagaimana kalau kau juga ikut makan bersamaku dan Alfred-san?" Kiku memalingkan mukanya untuk melihat Arthur yang masih terkejut melihat apa yang baru saja terjadi.
"Ah... Okay, terima kasih atas tawaranmu." Kata Arthur tergagap. Kiku tersenyum dan membalikkan badannya ke arah kelas E. "Ayo kita ke kelas.."
"Masakan Jepang ini enak sekali! Apa namanya?" kata Alfred sambil menyantap daging yang sudah dipotong panjang-panjang.
"Itu teriyaki,Alfred-san.."
"Teriyaki? Oh, jadi seperti ini rasanya teriyaki.. Aku menyukainya! Bagaimana denganmu, Arthur?"
Arthur tidak menjawab. Ia memasukkan nasi kedalam mulutnya dengan tatapan kosong.
"Arthur-san? Kau tidak suka ya? Maafkan aku.." kata Kiku. Ada suatu rasa bersalah dalam ucapannya.
"Arthur?" Tanya Alfred mencoba mengembalikan pikiran Arthur yang mungkin sedang mengudara diatas awan. Namun Arthur masih tidak menjawab.
"Hey, Arthur! Kamu kenapa?" tanya Alfred panik. Ia mengguncangkan badan Arthur. Arthur pun tersentak.
"Eh.. Tidak apa-apa kok. Eng... Kiku.. Aku tidak bermaksud begitu. Aku suka makananmu kok. Cuma aku..."
"Ya?" tanya Kiku, meminta Arthur melanjutkan pembicaraan.
"Ah.. tidak.. Aku cuma sariawan. Jadi tidak bisa terlalu menikmati.. ehehe..hehe.." Arthur menjawab sambil tertawa garing (bilang saja kalo kamu lagi ngeles,Arthur.)
"Oh.. Aku pikir kamu kenapa-napa. Sakit gitu, atau kecewa ga bisa belajar ilmu hitam yang baru.. Kok diem gitu.. Ternyata sariawan.. " Alfred tertawa ringan.
"Ya enggak lah! Apa banget sih, freak..!" Muka Arthur agak memerah. Ia merasakan sesuatu dalam nada berbicara Alfred. Mungkin Alfred mengkhawatirkan dirinya?
"Nah loh, mukanya merah sekarang. Jangan-jangan kamu demam?" Alfred cepat cepat menempelkan telapak tangan kanannya ke dahi Arthur dan membandingkan panas tubuh Arthur dengan menempelkan telapak tangan kiri ke dahinya sendiri. Muka Arthur makin memerah.
"F*ck, gue ga demam!" bentak Arthur menepis tangan Alfred.
JEPRET!
"Yes! Berhasil didokumentasikan!" kata seorang gadis berambut coklat panjang yang agak ikal. Gadis itu memegang kamera dslr dan mengarahkan lensa kameranya kearah Alfred dan Arthur.
"Elizabeth! Aku juga mau liat...!" kata perempuan lain mendekati gadis yang dipanggil Elizabeth itu.
Banyak murid perempuan berkumpul ditempat Elizabeth. Mereka menjerit-jerit dan cekikikan.
"Fujoshi.." gumam Kiku sambil sedikit tertawa. Jari jemari tangan kanannya yang agak terlipat diletakkan didepan bibir kecilnya.
"Fujoshi? Yang suka sama orang gay?" Alfred mencoba memperjelas. Kiku mengangguk sambil senyum-senyum geli.
"Yang benar saja..." Arthur mendesis.
"Mereka hanya menyukai sesuatu yang berbeda.." Kiku terdengar membela fujoshi-fujoshi itu sambil tersenyum simpul.
"Aduh, Kiku. Jangan-jangan di negara asalmu banyak fujoshinya?" tanya Arthur.
Kiku tersenyum. Ia menatap mata emerald Arthur dengan mata sipitnya dan berkata, "Fujoshi merupakan hal yang biasa di Nippon, Arthur-san.."
"Astaga! Sudahlah, lupakan masalah fujoshi ini..!" kata Arthur sambil menopang pipinya dengan punggung tangannya.
"Euh.. Kiku!"
"Ya,Alfred-san?"
"Boleh tidak aku main ke rumahmu nanti siang setelah pulang sekolah?"
DEG!
Itu suara Alfred? Apakah barusan memang suara Alfred, atau aku yang salah dengar?
"Boleh kan? Kiku?"
Astaga! Itu memang Alfred! Apa yang baru saja ia katakan? Pergi ke rumah Kiku? Hari ini jugaaa? Ini gila! Bukankah mereka baru saja berkenalan tadi pagi?
"Mendadak sekali, Alfred-san? Memang ada keperluan apa?" tanya Kiku ragu-ragu.
"Emm... Aku mau pinjam catatan matematika..! Tadi kan aku ketiduran di kelas.. Hehehe.." Alfred cengar cengir
Tidaaaak..! Apa-apaan kau ini,Alfred F. Jones! Hei,ayolah,Kiku! Jangan biarkan si hamburger freak itu main ke rumahmu! Itu akan membuatku envy!
Kiku terdiam sejenak, lalu mengambil keputusan "Bagaimana ya? Aku rasa tidak masalah meskipun agak mendadak. Aku tak ada acara setelah pulang sekolah. Kalau begitu, nanti siang kita pulang bersama,Alfred-san.."
Raut wajah Alfred terlihat sangat gembira mendengarnya "Asyiiik! Thank you Kiku! Kamu memang baik!" kata Alfred sambil menepuk pundak Kiku.
Astaga... Thank You Kiku, Thank You Alfred..! Kalian berdua membuatku merasa sangat panas sekarang...!
Maaf kalau terkesan aneh..
Mungkin kalau anda bertanya, Kenapa di cerita US/UK ini muncul Elizabeth yang tidak ada hubungannya dengan Alfred maupun Arthur?
Jawabannya, karena di chapter berikutnya Elizabeth akan muncul sebagai pendukung Arthur! Hahaha.. XD #jgeer
Sekian chapter 1 nya.. Terimakasih sudah mau membaca, dan tunggu kelanjutannya ya..! :D
Oh iya, mohon beri saran dan kritik / reviews nya ya :3
Sankyuu~
