Chapter 2 : Anger, Dissapointment and Envy


"Kejadian ini hanya berlaku pada tahap Anafase. Jadi pada tahap Anafase ini kromosom akan—"

KRIIING!

Penjelasan sang ibu guru pun terpotong oleh bel tanda usainya pelajaran hari ini. Siswa langsung sibuk membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk menghambur keluar kelas. Ibu guru biologi itu pun menghela nafas, mencoba memaklumi perilaku-perilaku yang tidak menyenangkan dari murid-murid kelas XII IPA E ini. Namanya juga anak SMA.
"Baiklah kita akhiri pelajaran hari ini, akan kita lanjutkan besok. Jangan lupa membawa buku latihan evaluasi mandiri ya!" ucap bu guru sambil mengambil map dan bukunya dan bersiap keluar kelas dan tak lupa ia berkata "Selamat siang semua"
"Selamat siang bu!" jawab anak-anak kelas E serentak. Seketika itu juga mereka berhamburan keluar dari kelas.
"Ayo Kiku ayo Kiku.. Aku ga sabar main ke rumahmu.." Alfred tertawa riang didepan Kiku yang masih duduk dibangkunya dan membereskan buku-bukunya dengan tenang.
Kiku geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Ia geli melihat tingkah Alfred, seakan-akan Alfred adalah seorang anak kecil yang senang karena diajak ayahnya untuk pergi ke taman bermain.
"Iya iya,Alfred-san.." Kiku tertawa kecil lalu berdiri dari bangku tempatnya duduk dan menyangga tali tas sekolahnya di pundaknya.

"Mon cher~ Mau pulang bareng?" ajak Francis.
Yang diajak pulang bareng itu memasang muka sejutek mungkin dan membereskan bukunya yang masih ada diatas meja dengan cekatan.
"Tidak usah" jawab Arthur pendek.
"Pulang sama Alfred ya?"

Alfred? Oh tidak,Francis. Dia punya urusan bersama orang Jepang itu pulang sekolah.. Aku tidak akan pulang bersamanya hari ini!

"Eng.. Engga bareng Alfred. Aku pulang sendiri!" kata Arthur terbata-bata. Ia berusaha menghindari Francis dan berjalan cepat keluar kelas. Namun ternyata Francis juga cekatan dan berhasil menangkap lengan kiri Arthur. Sontak Arthur pun berhenti di ambang pintu kelas.
"Kenapa? Tumben ga bareng Alfred. Lagi bertengkar,Arthur?" Francis menginterogasi.
"Apa urusanmu sih? Lagipula aku tidak bertengkar dengan Alfred kok! Aku—"
"Lalu kenapa tidak pulang bareng? Bukannya kau berteman baik dengannya? Dulu kau selalu pulang bareng Alfred, ya kan?" Francis makin mendesak Arthur.
"Listen to me,wanker! Tidak pulang bersamanya bukan berarti aku sedang bertengkar dengannya!" nada suara Arthur meninggi. Arthur mulai sulit menahan emosinya.
"Tapi—"
"Hei Francis! Hei Arthur! Sedang apa kalian di pintu kelas begitu?"
Francis dan Arthur melongok keluar kelas. Oh, ada Alfred rupanya. Alfred sedang berjalan dengan riang dari arah kelas E dan kini posisinya sudah didepan kelas C. Dan ia sedang bersama—oh ya, orang Jepang itu, yang baru saja berkenalan dengan Alfred tadi pagi, Kiku. Arthur langsung melengos dan pasang muka masam.
"Oh, allô Alfred.." sapa Francis dengan aksen French-nya yang begitu kental. "Kita cuma ngobrol doang kok" lanjut Francis sambil senyum-senyum. Alfred pun mengangguk-angguk.
"Arthur-san?" Kiku mencoba menyapa lelaki di depan Francis yang mukanya tertekuk dan cemberut.
"Ada apa?" jawab Arthur dengan nada yang agak aneh—ketus tapi tetap dijaga agar tidak membuat Kiku merasa tak nyaman.
"Mungkin kau mau pulang bersama aku dan—"
Arthur melepaskan lengannya dari Francis dan memotong perkataan Kiku."Tidak terimakasih. Aku pulang sendiri saja!" Arthur langsung pergi meninggalkan mereka bertiga—Alfred,Kiku,Francis—yang terbengong-bengong melihat Arthur.
"Arthur kenapa sih?" tanya Alfred pada Francis.
Francis mengedikkan bahunya "Entah? Kurasa sedang badmood.."

"Bloody hell! Mengajakku pulang bersama kalian berdua? Apa maksudnya itu? Mau bikin iri ya? Nanti ada juga gue yang dicuekkin di jalan..! F*ck!" Arthur ngedumel sendiri selama menyusuri koridor sekolahan. Ia menuruni undak-undak di tangga dengan cepat, menabraki murid-murid yang sedang lalu lalang—yang otomatis membuat murid-murid itu ngedumel juga. Sesekali Arthur menengok ke belakang. Alfred tidak mengejar-ngejarnya seperti dulu. Dulu kalau Arthur pundung, Alfred pasti mengejar Arthur untuk menghibur dan merayunya supaya tidak pundung lagi.
Arthur tahu ia punya kepribadian yang buruk. Ia gampang sekali bad mood. Tapi dulu dapat diatasi karena ada Alfred yang selalu bersamanya dan menghiburnya. Sekarang? Sepertinya sekarang Alfred hanya peduli dengan teman barunya itu dan tidak peduli dengan Arthur lagi.
Arthur pun sampai di taman sekolah. Taman sekolah yang letaknya bersebelahan dengan laboratorium Botani itu sepi. Arthur mendekati kursi taman lalu duduk,menyenderkan menengadah ke atas, dan matanya terpejam. Arthur mencoba menenangkan dirinya yang penuh dengan emosi—kesedihan,kemarahan,kekecewaan,dan iri hati.

"Alfred-san, kau yakin tidak ada apa-apa dengan Arthur-san?" tanya Kiku sambil terus berjalan.
Dengan terus melangkahkan kakinya juga,Alfred menatap Kiku dan mengedikkan bahu "Well, Arthur tidak cerita apapun padaku... Aku sms pun tidak dijawab, aku rasa tidak ada masalah. Hanya bad mood saja.."
Kiku menelengkan kepalanya sesaat, lalu meluruskan pandangannya lagi. Ia tetap harus menjaga pandangannya kalau tidak mau menabrak tiang listrik di trotoar atau tidak sengaja menendang kaleng bekas yang sering tergeletak di trotoar.
"Arthur memang sering bad mood.. Tapi kalau aku hibur dia cepat hilang bad mood-nya kok..." Alfred berhenti sejenak.
"Lalu,Alfred-san, kenapa tadi tidak mengejar Arthur-san?"
"Mengejar?" Alfred mengulangi perkataan Kiku.
"Iya.. Kau bilang Arthur-san cepat hilang bad mood-nya kalau dihibur olehmu. Kenapa tadi kau biarkan dia pergi begitu saja?"
Ada sedikit rasa bersalah dalam benak Alfred. Kelihatannya ia terlalu cuek dengan sahabatnya sendiri. Alfred tidak bisa menutupinya. Ia senang sekali hari ini bisa berkenalan dan bisa ke rumah Kiku, orang yang selalu menarik perhatian Alfred selama di SMA. Tapi, sebegitu senangkah ia,sampai melupakan sahabatnya sendiri?
"Orang yang gampang bad mood seperti Arthur-san, aku pikir dia butuh seorang teman untuk mengembalikan moodnya.." Kiku melanjutkan.
Alfred mendesah. "Gimana ya.. Aku juga salah sih.. Tidak kepikiran buat ngejar dia.." Ia terlihat gelisah.
"Oh,Alfred-san,kita sudah sampai di rumahku..." sela Kiku. Mereka berhenti di depan sebuah gerbang besar berwarna cokelat tua. Tapi Alfred tidak melihat rumah Kiku dari luar gerbang itu. Hanya gerbang besar itulah yang ia lihat.
"Ayah Ibumu ada?" tanya Alfred kepada Kiku yang sedang sibuk menggeser gerbang rumahnya.
"Aku sendirian disini.." jawab Kiku singkat.
"Hah? Home Alone nih?" tanya Alfred lagi, kali ini sambil membantu Kiku menggeser gerbang besar itu. Kiku hanya tertawa kecil. Gerbang pun terbuka tidak terlalu lebar, hanya cukup untuk Kiku dan Alfred masuk. Kiku pastinya membuka gerbang seperlunya, agar tidak sulit menutup gerbang berat itu. Setelah melewati gerbang cokelat itu, Alfred melihat sebuah rumah bergaya oriental yang cukup besar dengan halaman yang luas dan asri. Rumahnya tidak bertingkat dua, hanya satu tingkat, tapi memanjang dan luas. Ada pohon besar di sisi kanan halaman. Daun pohon itu rindang dan membuat suasan halaman yang luas itu menjadi teduh.

"Home alone, dirumah yang sebesar ini?" Alfred menganga. Kiku—yang sudah berhasil menutup gerbang rumahnya—hanya tersenyum dan melewati Alfred yang masih terdiam (baca : terpana) melihat rumahnya.
"Ayo,Alfred-san. Kita masuk ke dalam rumah.."
Alfred menyusul temannya yang berambut hitam itu dengan sedikit berlari, lalu naik ke undak-undak kecil. Rumah itu sedikit lebih tinggi diatas tanah, tidak seperti rumah teman-teman Alfred yang pada umumnya lantainya benar-benar berada diatas tanah. Rumah Kiku, benar-benar terasa Jepangnya.
"Pakai ini,Alfred-san.." kata Kiku sambil menyerahkan sepasang sendal pada Alfred.
"Kok sendalnya lucu sih? Kayak sendal-sendal yang di hotel.." kata Alfred polos,saking polosnya sampai membuat Kiku tertawa geli.
"Di rumah Arthur aku juga mesti pakai sandal jepit.. Yang mereknya swallow itu.. Katanya nanti aku bisa ngotorin rumah Arthur kalau pakai sepatu.." Alfred nyerocos "Kamu juga takut kalau rumahnya kotor ya?" tanya Alfred cengengesan sambil melepas tali sepatunya.
"Tidak juga.. Tapi rumahku menggunakan tatami Alfred-san. Nanti tatami-ku bisa rusak kena sepatu.." jawab Kiku. Sambil menunggui Alfred, Kiku duduk bersimpuh di selasar (atau kalau di rumah modern kita mengenalnya dengan teras) rumahnya. Sementara Alfred—yang sibuk melepaskan sepatu Converse merahnya—duduk di undak-undak rumah bergaya Jepang itu.
"Tatami itu apa,Kiku?"
"Tatami itu tikar yang dibuat dari jerami yang ditenun,Alfred-san"
"Oh.." Alfred memakai sendal yang diberikan Kiku,dan menaruh sepatunya di sebuah rak sepatu dibawah undak-undak rumah Kiku.

"Alfred-san, ceritakanlah padaku. Bagaimana rumah Arthur-san?"
Alfred menengok ke arah Kiku yang duduk manis, dan entah sejak kapan ada kucing hitam di pangkuan Kiku. Setelah menaruh sepatunya,ia langsung duduk dengan posisi seenaknya di pinggir Kiku. Maklum, namanya juga anak muda,anak SMA.
"Arthur.. Yah, rumahnya besar. Saking besarnya banyak yang bilang itu mansion. Dia juga home alone.. Arthur punya banyak sendal bermerek, kayak Reebok,Nike.. Sendal Konnichiwa juga ada tuh.. Tapi sebelnya kalau ke rumah dia aku dipinjemin yang mereknya Swallow.. Ga pernah dia minjemin yang mereknya Reebok gituan" kata Alfred sambil menggembungkan kedua pipinya. Kiku tertawa ringan.
"Swallow juga kan termasuk merek,Alfred-san.." hibur Kiku
"Uh iya sih.. Tapi aku kan pengennya yang Reebok,Kiku.. Udah gitu dirumahnya aku sering dimasakkin scones sama dia!"
"Scones itu masakan British, benar, Alfred-san? Kue itu enak kok.. Aku pernah makan.."
"Iya.. Harusnya emang enak,Kiku..! Tapi gatau emang Arthur yang ga bisa masak apa gimana gitu, gara-gara makan scones itu nyawa Francis si orang bejat itu nyaris melayang..." protes Alfred.
Kiku sweatdrop, begitu pula kucingnya (?). Tapi sesudah itu dia tertawa lagi.
"Arthur-san lucu juga ya, Alfred-san.. Kayaknya kalian berdua sudah punya banyak kenangan bersama.."
Alfred hanya tersenyum sambil menatap kosong kearah kakinya yang diluruskan. Kedua tangan Alfred diletakkan diatas selasar kayu untuk menopang massa tubuhnya yang condong ke belakang. Ia kembali teringat Arthur dan masih merasa bersalah atas ketidak perhatiannya pada sahabatnya yang bermata emerald itu.
"Yah.. Banyak sekali kenangan kami,Kiku.. 2 tahun bersama Arthur itu sangat menyenangkan.. Kalau kau ada, pasti menyenangkan juga.."
"Maaf?" Kiku meminta Alfred memperjelas perkataannya.
"Maksudku, kalau kau menjadi sahabatku..Sahabat Arthur juga.. Eergh, maksudnya gini, kalau kamu kenal sama aku dan Arthur dari 2 tahun yang lalu.. Pasti menyenangkan" Alfred berbelit-belit, mencoba agar Kiku tidak salah dalam menangkap pernyataannya tadi. Kelihatannya Kiku menangkap maksudnya dengan tersenyum, ia memandang kucing hitam dipangkuannya dan memanjakan kucingnya itu. Alfred melihat pandangan Kiku yang melembut dan tidak tahan untuk terus melihat muka Kiku yang tenang bagaikan air itu. Mereka pun hanyut dalam pembicaraan yang menarik.

"Sudah 2 jam aku berjalan-jalan mengelilingi sekolah. Tapi aku masih saja merasa kesal.." omel Arthur sambil mondar-mandir di koridor kelas. Ia melewati kelas E, dan melihat ke dalam kelas.
Arthur menangkap suatu barang yang tidak asing dimatanya. Jaket bomber coklat dengan angka 50 dipunggungnya tergantung di sebuah bangku kelas itu.
Jaket Alfred, gumam Arthur.
Arthur—dengan sedikit ragu mencoba menggeser pintu kelas E. Terbuka. Kelas belum dikunci oleh petugas sekolah. Ia masuk ke kelas E yang agak gelap karena sinar matahari yang biasanya menerangi kelas itu sudah mulai menyembunyikan dirinya dari segala makhluk di bumi. Arthur mengambil jaket bomber milik Alfred itu, lalu ia mengenakan jaket itu untuk menutupi dirinya. Jaket itu, terlalu lebar dibahu Arthur, dan terlalu besar untuk badan Arthur. Tapi jaket itu hangat. Jaket Alfred terasa hangat ditubuhnya. Arthur tersenyum dan menikmati kehangatan itu. Saat itu,saat Alfred memeluknya, ia juga merasa hangat. Sekarang Arthur yang merindukan pelukan hangat itu hanya dapat berpuas diri merasakan kehangatan jaket Alfred.

Seandainya kamu tahu perasaanku,Alfred. Itu sudah cukup bagiku...


Terima kasih ya buat yg sudah terus membaca fic saya yang amburadul ini hahaha.. :D

Kasian juga sih sama Arthur, dilupakan sama Alfred.. Maafkan aku ya,Arthur...! DX
Masalah persandalan itu (?), hanya ingin menunjukkan kalau Alfred sudah benar-benar mengenal Arthur dengan baik,sampai tau merek2 sandal Arthur.. Sebenernya ga penting sih hehehe..
Untuk rumah Kiku,terlalu panjangkah deskripsinya? Gomen, saya kurang pintar dalam hal deskripsi (TT_TT)

Oh ya,mau tahu isi curahan hati Alfred? Tunggu chapter 3 nya ya..! (promosi ga mutu) *digiles tank*
Review please :)