CHAPTER 4

It's about your heart's feeling...


BRAAK!

Pintu kelas XII IPA E terbuka dengan kasarnya disusul dengan masuknya lelaki berkacamata dan berambut pirang—Alfred.
"Jaketku manaa! Kemaren jaketku ketinggalaaan! Jaketku manaaaa...!" teriaknya.
"Apaan sih, Alfred! Pagi-pagi kok rusuh gitu.." tegur Elizabeth. Alisnya menekuk tajam, menandakan ia tidak menyukai tindakan Alfred yang menganggu kedamaian pagi di kelasnya (?).

"Alfreeed! Jerk..! Kemari kau..!" teriak seorang lelaki dari luar kelas E. Alfred yang dipanggil melongok keluar kelas. Dan ia menemukan Arthur berdiri di koridor kelas dengan membawa sebuah jaket coklat.
Senyum mengembang di bibir Alfred, dan mata kaca biru Alfred pun berseri-seri "Jaketkuu...!". Ia berlari menghampiri Arthur dengan riangnya.
"Dasar bodoh. Kalau memang jaket kesayanganmu jangan ditinggal begitu saja dong!" omel Arthur sambil menyodorkan jaket milik Alfred. Alfred mengambil jaket coklat bomber itu dan langsung memakainya. "Iya maaf, aku ceroboh" kata Alfred sambil nyengir. Alfred merapikan jaketnya agar terlihat bagus di badannya. "Thanks a lot, Arthur!" Alfred tersenyum lebar dan merangkul sahabatnya itu. Spontan muka Arthur memerah dan badannya menegang.
"You're welcome.." jawab Arthur agak kaku.
"Untung aja kamu bawa pulang jaket aku, kalau ngga jaketnya bisa aja hilang..!" kata Alfred sambil tertawa-tawa dan masih merangkul Arthur.
"Iya terserah kau,git! Sekarang lepaskan aku! "kata Arthur kasar sambil mendorong badan Alfred menjauh dari dirinya.
"Eh iya iya.." Alfred melepaskan rangkulannya sambil tertawa kecil.
"By the way, Arthur... Kok kamu bisa bawa pulang jaketku?"
"Kemarin saat sekolah sepi aku berkeliling kelas, lalu saat lewat didepan kelas E aku melihat jaketmu. Jadi aku ambil saja jaketmu dan—"
"Ohayou Alfred-san, Ohayou Arthur-san.. "
Sapaan itu memotong perkataan Arthur. Pandangan Alfred langsung meluncur mencari asal suara itu.
"Oooh Kikuu...! Good morning..!" balas Alfred riang pada Kiku yang baru saja datang dari arah tangga koridor. Alfred segera menghampiri Kiku dan menariknya untuk masuk ke kelas.

Great, orang itu lagi.. Kapan aku punya waktu berdua saja dengan Alfred?

"Hei,git! Aku mau kembali ke kelas!" teriak Arthur pada Alfred.
"Okay! Bye,Arthur!" jawab Alfred singkat sambil menengok sedikit pada Arthur.

See? Bahkan aku sudah tidak dipedulikan lagi kalau sudah ada Kiku..

(-)

1 bulan kemudian..

"Elizabeth~! Catatan Biologi milikmu lengkap?" tanya Alfred sambil menghampiri gadis berambut coklat yang duduk di bangku panjang yang ada di laboratorium biologi.
Elizabeth terlihat masih sibuk meneliti sesuatu yang ada dibawah mikroskopnya dan ia terlihat tidak ingin diganggu, sehingga ia hanya menjawab singkat dengan satu deheman pendek.
"Aku pinjam—"
"Tunggu sebentar Alfred,kagok!"
Alfred pun duduk di samping Elizabeth yang masih menggunakan jas lab putih itu. Ia mengamati Elizabeth yang memutar-mutar makrometer mikroskopnya dengan perlahan-lahan. Tidak sabar, Alfred kembali mengajak Elizabeth berbicara "Elizabeeth...Aku mau pinjaam—"
"Okay okay mau pinjam catatan biologi haah?" Elizabeth melepaskan jari-jarinya dari makrometer itu dan menengadahkan kepalanya keatas—tengkuknya pegal setelah cukup lama menunduk ke arah mikroskop. Setelah membuat tengkuknya rileks ia menurunkan kepalanya dan memeloti Alfred. Alfred yang dipelototin hanya cengar-cengir.
"Memang kamu tidak mencatat,Alfred?"
"Engga, aku malas" Alfred terkekeh-kekeh. Elizabeth hanya geleng-geleng kepala,kemudian mengambil sebuah buku catatan di atas meja yang ada didepannya, lalu ia menyodorkannya pada Alfred. "Nih, besok kembalikan ya. Aku juga mau belajar"
"Okaay~ Thank you!" jawab Alfred sambil menerima buku catatan itu.

Alfred lalu membuka-buka beberapa halaman buku itu yang penuh dengan tulisan tangan yang rapi. Sementara itu, Elizabeth membereskan mikroskopnya—membersihkan kaca preparat dan meletakkan mikroskopnya di lemari penyimpanan mikroskop. Kelihatannya ia sudah tidak ada niat untuk meneliti objek dengan mikroskop setelah ia diganggu oleh Alfred.
"Elizabeth~ Kau bisa menjaga rahasia?" kata Alfred tiba-tiba. Elizabeth agak terkejut, lalu menoleh pada Alfred. "A—apa?"
"Aku ingin cerita sesuatu. Aku pikir kau ahli dengan hal ini.." Alfred agak tergagap.
"Baiklah, kau ingin cerita apa?" tanya Elizabeth—ia berusaha santai,tetapi masih ada sedikit keraguan dalam perkataannya. Elizabeth pun duduk di sebelah Alfred setelah membereskan mikroskopnya.

Rambut pirang Alfred menempel di pelipisnya karena keringat. Ia kelihatan gugup "Aku— "
"Aku suka sama Kiku.."
Mata coklat Elizabeth melebar, dan mulutnya menganga. Ia langsung menengok dengan cara yang dramatis kepada lelaki berkacamata yang duduk di kanannya.
"Apaaa? Kau—"
"Iyaa aku tahu aku baru mengenalnya satu bulan!" Alfred langsung memotong.
"Tapi—"
"Aku sudah mengaguminya dari kelas X! Hanya saja aku belum mengenalnya saat itu jadi aku tidak berpikir untuk menyukainya. Dia itu tenang, pintar, baik!"
"Tapi aku pikir—"
"Memang! Aku belum lama mengenalnya tetapi dia mempunyai sesuatu keunikan tersendiri di dalam dirinya dan aku menyukainya!" Alfred tampak panik dengan semua kata-katanya.
"Be—benarkah? Alfred,aku kira..."
"Aku tahu! Aku memang harus mengenal Kiku lebih baik da—"
"Alfred.." Elizabeth memotong perkataan Alfred.
"A—apa?"
"Tahu tidak? Aku memikirkan sesuatu yang lain ketika kau bilang kau menyukai Kiku.."
Alfred memiringkan kepalanya. "Lalu.. Hal apa itu?"

(-)

Arthur menutup novelnya dan menghela nafas panjang. Ia melihat cover novel itu untuk sejenak dan memegang pelipisnya. Novel itu sudah selesai dibacanya, meskipun membuat dia merasa sedikit pening karena terus menerus membaca. Sekarang ia mencoba untuk mengambil sebuah keputusan ; membeli novel baru atau tidak.

"Arthur-san?" seseorang muncul di pintu kelas Arthur dengan tiba-tiba. Arthur terlonjak.
"Ooh, Kiku. Aku kira siapa. Bikin kaget saja."
"Sumimasen. Aku tidak bermaksud mengagetkan Arthur-san." Kiku memasuki ruang kelas dan mendekati Arthur. Arthur mengambil tasnya dan memangkunya.
"Ada apa, Kiku?" Arthur berusaha ramah, tetapi ia tidak bisa berbohong bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang tidak menyukai Kiku. Rasa cemburu.
"Alfred-san memintaku untuk pulang bersamamu. Katanya dia ada urusan dulu di sekolah."
"Alfred? Urusan apa? Dia tidak pernah terlibat dalam organisasi yang ada di sekolah—kecuali klub basket."
"Entahlah, Arthur-san. Tapi katanya dia ingin aku menemanimu pulang."

Aku tidak perlu ditemani olehmu, aku bisa pulang sendiri. Itu hanya alasan Alfred supaya kau ada teman di jalan pulang, kau mengerti?

"Alfred-san sedang di ruang laboratorium bersama Elizabeth-san, aku lihat. Mereka tampak membicarakan sesuatu." Lanjut Kiku.
"Elizabeth? Mungkin urusan yang dia maksud adalah urusan pinjam-meminjam catatan."Kata Arthur sambil memasukkan novelnya kedalam tas dan berdiri dari tempat duduknya. "Ayo kita pulang kalau begitu."

(-)

Alfred menganga. "Arthur?"
"Ya." Elizabeth mengangguk dengan cepat, membuat ikal ikal manis rambutnya bergoyang-goyang.
"Kenapa sih kau bisa berpikir kalau Arthur menyukaiku? Kami hanya berteman!" kata Alfred bingung. Elizabeth mengangkat kedua tangannya dengan dramatis.
"Aku bisa melihat tatapan Arthur padamu. Dia menyukaimu! Lagipula, tidak ada orang lain yang mendapatkan perhatian lebih dari Arthur. Tidak ada kecuali kau, Alfred." Elizabeth menjatuhkan kedua tangannya—dengan dramatis juga. Elizabeth lalu mencondongkan badannya kearah Alfred. "Tetapi aku tidak terlalu kaget kalau kau menyukai Kiku..."
"Benarkah? Kenapa?"
Elizabeth memutar bola matanya. "Pedekate mu itu keliatan banget tau!"
Alfred menggaruk-garuk rambutnya dan timbul sedikit rona pada pipinya. "Well, aku rasa aku tidak terlalu pintar untuk menutup-nutupi bahwa aku sedang mendekati Kiku."
"Memang. Tapi dengar, aku memikirkan Arthur juga saat ini. Kalau dugaanku benar—bahwa dia menyukaimu, apakah kau akan berkata padanya 'hei Arthur,maaf ya tapi aku menyukai Kiku!' dan mematahkan hatinya? Kau tidak akan setega itu kan pada Arthur?"
Elizabeth terdengar sangat dramatis pada kalimat 'menyukai Kiku' dan 'mematahkan hatinya'.
Alfred mendesah. "Tidak, tentu saja. Tapi..."

(-)

Arthur dan Kiku berhenti dibawah lampu lalu lintas. Arthur mendongak melihat tanda untuk pejalan kaki yang menyala dengan warna merah. Tak lama kemudian, tanda itu berganti warna menjadi warna hijau. Arthur berjalan melewati zebra cross untuk menyebrangi jalan.
Kiku—agak sedikit tertinggal dibelakangnya, berjalan cepat untuk membuat langkahnya sejajar dengan Arthur. Arthur sedikit lebih tinggi daripada Kiku—langkah kakinya panjang-panjang dan tidak sabaran, membuat Kiku agak kewalahan untuk membuat langkahnya sejajar dengan Arthur.

Kiku menolehkan kepalanya. "Jadi, Arthur-san.. Apakah kau suka membaca buku?"
Arthur tertawa gemetar, agak grogi kelihatannya. "Kau pasti melihatku membaca novel tadi. Benar?" tanyanya.
"Yah, aku melihat novel itu. Aku juga senang membaca, tetapi bukan novel, mungkin. Aku lebih senang membaca manga."
"Tidak mengherankan. Kau orang Jepang. Pasti menyukai manga, dan biasanya orang yang menyukai manga tidak terlalu tertarik membaca novel yang isinya tulisan semua." Arthur melihat kaleng menghalangi jalannya, dan ia menendang kaleng itu dengan cukup keras—cukup keras untuk membuat Kiku terlonjak.
"Oh, uumm." Kiku menggumam. "Arthur-san suka manga? Atau setidaknya—komik biasa? Komik Eropa seperti Smurf misalnya."
Arthur mengalihkan pandangannya dari kaleng jelek di trotoar yang ditendangnya. Ia menatap Kiku.
"Komik atau manga. Yah, tidak buruk. Mungkin aku suka—tapi pasti tetap lebih suka membaca novel."
Lalu mereka berjalan dalam diam. Kiku tampak berusaha mencari topik pembicaraan. Namun sepertinya dia tidak menemukan topik pembicaraan yang pas.

Tiba-tiba Kiku mendengar Arthur menghela napas. Dengan refleks Kiku menoleh pada Arthur.
"Arthur-san? Ada masalah?"
Arthur menggeleng ragu-ragu "Tidak. Sepertinya tidak."
"Benarkah? Arthur-san..."
"Dengar Kiku, mungkin aku agak sedikit bodoh karena berpikir seperti ini tapi—" Arthur menatap Kiku dengan sungguh-sungguh.
"Tapi, mungkinkah kalau Alfred menyukaimu?"
"Kami baru berteman sekitar satu bulan Arthur-san, aku tidak tahu apakah—"
Arthur menggelengkan kepalanya. "Mungkinkah dia menyukaimu, lebih dari sekadar teman?"
Kiku memandang Arthur dengan agak sedikit tajam. Ia tidak mengatakan apapun, kecuali menampilkan raut wajah yang syok dan bingung.


Nah, akhirnya chapter 3 di update jg.. Maaf lama ya :')
Emm... untuk chapter 4 nya, kelihatannya Arthur sama Alfred bakal sedikit berselisih.. *maafkan akuu DX*
Baiklah, tunggu chapter 4nya yaa.. :D

Thanks for read! Reviews please? :)