"Kau tahu, kalau cara bicaramu pada laki-laki seperti itu terus menerus, maka kau tak akan laku sampai tua. Kau tahu kalau kau tak seksi sama sekali, jadi ada baiknya, sifat jelekmu itu harus kau sembunyikan, Midget."
"Hahaha," Rukia tertawa, "kau bicara seolah kau lelaki paling laku di dunia, Ichigo."
"Ha! Aku tak bicara seperti itu. Kau yang berpikir seperti itu! Mungkin kau memang berpikir bahwa aku lelaki yang menarik."
"Yang benar saja. Kau bahkan tak pernah terlihat berkencan dan hanya tertarik pada Nel."
"Dan sekarang kau bicara seolah kau perempuan yang ahli dalam menjalani kencan buta seminggu tujuh kali," ejek Ichigo. "Siapa yang mau denganmu? Si Hitsugaya itu? Kalian kombinasi yang pas."
"Aha! Tidak harus tujuh kali seminggu. Dan jangan bawa-bawa nama si rambut perak itu, Baka," jawab Rukia. "Dan untuk informasi tambahan, setidaknya akhir bulan nanti aku akan menggunakan jadwal liburku untuk pergi dengan Renji ke Okinawa."
Ichigo memicingkan matanya. "Kau bicara seolah aku akan memercayainya, Midget."
Rukia mengangkat bahunya dan menaikkan satu alisnya—tertawa pelan. "Aku tak butuh kau percaya atau tidak, Baka. Kau, kan, bukan apa-apaku."
…
…
…
"Kalau begitu … mau menjalin hubungan denganku?"
Sejujurnya, Ichigo bukan seseorang yang ahli untuk urusan percintaan. Ia mengatakannya begitu saja.
Inoue terdiam, wajahnya masih merona total.
"Bagaimana?"
Mata Inoue berkaca-kaca. Senyumnya mengembang sempurna. Dan ia mengangguk cepat.
Jemari lentik itu terulur untuk menggenggam tangan Ichigo.
…
…
…
"Aku … bercerai."
"Apa?"
"Aku sudah bercerai."
Ichigo terpaksa berbohong.
"Apa benar … seperti itu?"
"Iya, aku sudah bercerai. Lihat, aku tak memakai cincin kawin, kan?"
Inoue tertunduk. Sedetik, ia menatap lagi kedua mata Ichigo. "Kau tidak bohong, kan, Kurosaki-kun?"
Ichigo hanya mengangguk.
Kebohongan spontan.
"Apa aku bisa bertemu anakmu, dan mungkin, mantan istrimu?"
Dan mulai saat ini, ia akan terjebak di kebohongan-kebohongan baru.
…
…
…
"Apa kau bisa membantuku?"
"Hah?"
"Kali ini aku benar-benar tak tahu harus meminta bantuan siapa. Cuma kau perempuan yang bisa kupercaya, Rukia."
"Seberat apa masalahmu?"
"Aku terlanjur mengatakan bahwa aku sudah bercerai."
Rukia memiringkan kepalanya.
"Inoue berkata, ia ingin bertemu dengan mantan istri juga anakku."
Mata Rukia melebar.
"Aku ingin kau berpura-pura jadi mantan istriku, Rukia."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
DISCLAIMER: I DO NOT OWN BLEACH. All publicly recognizable Bleach characters, settings, etc. are the property of Tite Kubo and Shueisha Inc. Little inspired by 'Just Go With It' the Movie, from Columbia Pictures and Happy Madison Productions. No money is being made from this work. No copyright infringement is intended. The cover-fic isn't mine, but the artist let me used it and edited only for this fanfiction. Thanks to: kitsune23star - IchiRuki Family
.
.
SPECIAL TO
Kurosaki Kuchiki-baka & ONE OF MY FRIEND—Alm. Indah Suchiyati as known as Arnanda Indah (Kang Mas Neji Ganteng), Rest in Peace.
Warning (s): AU, Romance, Humor, slight OOC, My 1st Bleach Fic. This fic un-betaed^^
.
.
.
.
.
MY 'FAKE' EX-WIFE
.
.
.
"JANGAN GILA!"
Ichigo mendesah. Benar-benar respon yang sesuai perkiraannya.
"Kepalamu terbentur meja? Atau kau terpeleset dan kejatuhan lemari, Ichigo?"
Ichigo menghela napas lebih panjang dari sebelumnya.
Rukia mengangkat kedua tangannya—pertanda menyerah pada urusan gila barusan. "Maaf, Ichigo, tapi untuk urusan seperti ini, aku tak bisa bilang 'iya'."
Air muka Ichigo kembali kusut. "Kau tahu, kan, aku tak pernah memohon bantuanmu."
Rukia memutar bola matanya. "Kau selalu meminta bantuanku di restoran. Mengurus ini, itu, ini, lalu itu—sekedar mengoreksi kata-katamu barusan."
"Tapi itu kan urusan pekerjaan."
Alis Rukia mengerut.
"Anggap kau melakukan ini atas nama pertemanan kita."
Rukia memutar bola matanya lagi.
"Atau demi ... Nel?"
"Argh!" teriak Rukia. "Kaupikir ini urusan gampang? Kaupikir ini bantuan biasa? Aku harus jadi mantan istrimu! Aku bahkan belum menikah, kau juga belum. Bagaimana mungkin bisa kita akting menjadi mantan pasangan suami istri?"
"Orang menikah, lalu berpisah, rata-rata karena cekcok. Yang namanya cekcok sudah jadi kegiatan kita setiap hari," jwab Ichigo.
"Seolah kau menikmati pertengkaran kita setiap hari, Ichigo."
"Seolah kau tidak menikmatinya saja."
Rukia sweatdrop.
"Ayolah, demi … Nel."
"Jangan bawa-bawa nama Nel."
"Demi … Nel."
Rukia mendengus.
"Demi Nel. Demi Nel. Demi Nel."
Rukia berteriak frustrasi.
"Demi Nel. Demi Nel. Demi Nel."
"Kau bisa tidak?"
"Demi Nel. Demi Nel. Demi Nel."
Rukia berteriak.
.
.
.
.
.
BRAKK!
Chad yang barusan keluar dari pintu belakang menengok cepat. Kepalanya sedikit melongok—mendapati Rukia berjalan cepat keluar dari ruangan bosnya dengan muka masam. Lelaki berkulit gelap itu menoleh pada Ishida yang sibuk mengelap beberapa gelas saji. Sementara partner berkacamatanya itu justru mengangkat bahu.
"Jangan menatapku seperti itu," ujar Ishida.
Chad menghela napas.
"Mereka memang seperti kucing dan tikus sejak dulu."
"Tapi biasanya Rukia akan keluar dengan wajah tertawa—dan si Bos memasang wajah kalah."
Ishida membenahi kacamatanya lalu ikut melongok ke pintu. Matanya juga menangkap Ichigo yang terburu-buru keluar dari ruangannya—mengejar Rukia. "Benar juga. Sepertinya terjadi sesuatu."
Ishida dan Chad bersiap melangkah dari ambang pintu saat Rukia dan Ichigo menghentikan langkah mereka dan menoleh tajam pada Ishida dan Chad, "KEMBALI KE PEKERJAAN KALIAN!"
Ishida dan Chad kaku. Mereka melangkah mundur saat Rukia berjalan lagi menuju pintu keluar.
Ichigo terlihat menghela napas. Ia menoleh pada Ishida. "Tolong handle restoran."
"Dia kenapa?" tanya Chad—pandangannya mengikuti sosok belakang Rukia.
"Err … PMS?" jawab Ichigo sebelum ikut melesat ke pintu samping—menuju keluar restoran.
Sosok Ichigo akhirnya ikut menghilang.
Ishida membenahi lagi posisi kacamatanya saat Chad meliriknya. "Kau percaya?"
"Tidak. Memangnya aku bodoh?" tanya balik Ishida. "Sepertinya ini ada hubungannya dengan perempuan berambut panjang tadi."
Chad mendongak—terlihat berpikir. "Cemburu?"
Ishida menggosok dagunya.
"Aku tidak ingat kalau Rukia dan bos kita ada hubungan khusus."
"Apalagi aku."
.
.
.
.
.
"Midget!"
Rukia tak mengacuhkannya. Ia tetap berjalan lurus melewati pertokoan jalanan Tokyo. Ia terus berjalan mengabaikan Ichigo yang berteriak di belakangnya menuju taman.
Hampir sampai di bundaran air mancur, Ichigo berhasil menahan bahunya. "Ha! Kaukira kau bisa lari dengan kaki pendekmu? Seenaknya saja lari. Orang-orang melihatku seperti penguntit mengejar artis."
Rukia menoleh dengan muka masam.
"Whoa. Kenapa menatapku seperti itu?"
"Soal permintaanmu itu. Lihat wajahku baik-baik. Apa aku kelihatan seperti aku menyetujuinya?"
"Ayolah, Midget, kau bilang kau mau membantuku?"
"Aku bilang aku akan membantumu sebisaku."
"Nah, itu!"
"Nah, aku tidak bisa jadi mantan istrimu!"
"Kenapa tak bisa?"
"Menikah saja tak pernah. Enak saja kau menyuruhku berpura-pura pernah menikah denganmu!"
"Kau kan suka sekali menonton dorama. Kau pasti tahu harus berbuat apa nanti."
Rukia memutar bola matanya.
"Ayolah. Demi Nel."
"Ha! Lagi-lagi kau bawa-bawa nama Nel. Kaupikir aku ini ibunya Nel!"
Sedetik, Ichigo berubah murung.
Rukia menghela napas. "Mana bisa aku menjadi perempuan seperti ibu Nel?"
Ichigo menggaruk rambutnya. Ia melangkah pelan, duduk di pinggiran kolam air mancur. "Tentu saja tak ada perempuan yang bisa menyamai Neliel. Aku pun, sebenarnya juga tak mungkin bisa menjadi ayah yang hebat untuk Nel."
Rukia menarik napas dalam-dalam. Pelan, ia melangkah mendekati tempat Ichigo duduk dan mengambil tempat di samping si Kepala Oranye itu. "Kau sudah berusaha menjadi yang terbaik untuk Nel."
Ichigo menoleh.
"Semua orang tahu itu. Chad dan Ishida pasti juga berpendapat yang sama sepertiku. Kau ayah yang baik untuk Nel. Lepas dari kau bukan ayah biologisnya."
"Kau tahu aku tak bisa melakukannya sendirian. Ayah … ayah mendesakku untuk mencarikan Nel ibu. Mumpung Nel belum benar-benar bisa berpikir banyak, dan karena ia masih kecil, kupikir juga, sudah saatnya aku mencarikannya ibu agar adaptasinya nanti bisa berjalan baik. Saat Nel memasuki usia sekolah, aku ingin ia sudah memiliki seorang ibu."
Rukia menghela napas lagi—entah yang ke berapa kalinya. Perempuan raven itu mendongak menatap langit biru.
"Baiklah."
Ichigo sumringah.
Ia langsung berteriak senang dan mengacak rambut Rukia yang tubuhnya lebih pendek darinya. "Kau baik sekali, Midget!"
"Bicara seperti itu lagi, kuubah perkataanku jadi 'No.'"
Ichigo membentuk gerakan menutup resleting di depan mulutnya.
"Aku melakukan ini demi Nel. Kalau saja aku tak memikirkan nasib Nel yang punya bapak sebodoh kau, aku tak akan mau melakukannya."
Ingin hati membalas perkataan Rukia, Ichigo kembali menahan diri.
"Bagaimana kalau suatu saat nanti perempuan itu tahu kalau Nel bukan anakmu?"
"Nel kan anakku."
"Maksudku, bukan anak biologismu."
"Yang tahu soal Nel dan Neliel cuma kau dan keluargaku saja—itu pun karena kau seperti satpam yang sering keluar masuk rumah," ujar Ichigo dengan memelankan suaranya. "Jadi! Biarkan selamanya semua orang menganggap Nel memang anakku."
Rukia memiringkan kepalanya. "Lalu bagaimana kalau suatu saat perempuan itu datang ke sini dan bertemu denganku. Tidak lucu, kan, kalau aku yang notabene 'mantan' istrimu ternyata jadi pegawaimu?"
Ichigo terlihat berpikir.
"Dan lagi, aku sama sekali tak mirip Nel."
Ichigo berhenti mondar-mandir di depan Rukia lalu meraih pergelangan tangan Rukia. "Kita ke salon! Make over!"
Ichigo menggiring Rukia menjauh dari taman.
Langkah keduanya terhenti ketika Keigo berlari tak jauh di depan mereka.
"Keigo?" tanya Rukia.
"Aku butuh bantuan Rukia. Kudengar dari Chad kalian berlari ke arah sini setelah bertengkar, syukurlah aku bisa menemukan kalian."
Rukia hanya mengangkat kedua bahunya.
Keigo terdiam beberapa detik lalu mengangkat satu tangan kanannya—membenahi letak gagang kacamatkerah kemejanya. "Ngomong-ngomong, kalian jadian?"
Rukia dan Ichigo mendelik.
"Tuh, kalian bergandengan tangan. Mau ke mana? Menikah?"
Secepat kilat, baik Ichigo maupun Rukia mengibaskan tangannya—yang tadi digenggam Ichigo. Keduanya serempak berteriak, "JANGAN BERCANDA!"
.
.
.
.
.
.
"Lepaskan saja kacamata botolmu itu," pinta Ichigo. "Aku mana mungkin menikah dengan nerd berkacamata tebal. Inoue akan menertawakanku yang dulu seorang pangeran di sekolah. Akan sulit membuatnya percaya kalau aku pernah menikah denganmu."
Rukia menendang betis Ichigo dari belakang ketika berjalan. Ichigo berteriak kesakitan lalu menoleh ke belakang—Rukia memejamkan matanya dengan tangan memegang kacamata tipis kesayangannya.
"Hei! Apa-apaan itu tadi?" teriak Ichigo tak terima.
"Gomen, Bos. Aku tak bisa melihat." Rukia tetap memejamkan mata.
Ichigo mendengus. Ia menarik tangan Rukia dan menyeretnya ke salah satu toko optik. "Aku heran sekali, jaman sudah semaju ini kenapa masih ada makhluk yang memilih memasang kaca di depan matanya ke mana-mana."
Rukia hanya tertawa. "Kau tak tahu yang namanya fashion."
Ichigo mengabaikannya. Lelaki itu menyapa ramah salah satu pegawai optik dan menyodorkan badan Rukia. "Carikan sesuatu untuk dipasang di matanya. yang jelas bukan kacamata. Carikan lensa atau apa saja."
Sang pegawai toko tersenyum lembut.
"Jangan pedulikan kata-katanya. Kau tak perlu bingung dengan kalimatnya tadi," ujar Rukia. "Ia melihatku berkacamata hampir tujuh tahun lamanya dan baru kali ini ia komplain," desis Rukia lagi.
"Ssh, aku menyesal tak menyeretmu ke tempat ini sejak tujuh tahun lalu," kata Ichigo enteng.
"Tenang saja, Tuan. Kami akan memberikan yang terbaik untuk istri anda."
Seketika, mulut Ichigo dan Rukia kehilangan kemampuan bicara.
.
.
.
.
.
.
"Kenapa lensanya tak langsung dipakai saja?" tanya Ichigo sembari melirik kantong belanja di tangan Rukia. Perempuan itu justru lebih sibuk mengedarkan pandangannya di rak-rak display beberapa sepatu high heels di depannya—tentu masih dengan kacamata bertengger di wajahnya.
"Nanti saja aku latihan memakainya di rumah," jawab Rukia pelan. "Ahh, sepatu-sepatu ini cantik sekali~"
Melihat Rukia kesenangan sendiri, Ichigo mengerutkan alisnya.
"Andai saja gajiku di restoran mencukupi, aku pasti bisa membeli sepatu seperti ini sekali dalam sebulan."
"Aku baru tahu kalau kau punya jiwa perempuan." Ichigo melirik sepatu tanpa hak yang dikenakan Rukia.
Rukia cemberut.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
"Ya, ya, bantu dia agar berubah jadi perempuan. Carikan sepatu yang bagus untuknya, yang kira-kira bisa membatu badannya terlihat jauuuuuh lebih tinggi."
Sang pegawai toko mengerutkan alis dan melirik Rukia yang wajahnya memerah.
"Umm…."
"Oke, carikan aku sepatu paling mahal yang toko ini punya. Lelaki bertubuh TINGGI ini akan membayarnya, hahahahha!" Rukia tertawa puas saat ia menggiring sang pegawai toko menjauh dari tempatnya berdiri. "Beri aku yang terbaik!"
Seketika, muka Ichigo pucat.
.
.
.
.
.
"Setelah ini ke mana, Bos?" Rukia tertawa senang. Dengan santai ia memegangi kantong-kantong belanjaan—yang menjadi alasan kenapa Ichigo memasang muka horor saat ini. Rukia tertawa-tawa sementara Ichigo menatap sedih kartu-kartu kredit miliknya sebelum akhirnya ia memasukkannya lagi ke dalam dompet.
Ichigo mendengus kasar.
"Bagaimana kalau ke salon. Aku sudah bilang, kan, kita tak mungkin mengecat rambut Nel agar mirip denganku. Yah, anggap saja demi Nel, aku mau mengecat rambutku jadi sewarna dengan Nel-chan," ujar Rukia—masih tertawa.
Ichigo sweatdrop. "Apa kau sadar kalau belanjaanmu tadi itu seharga tiga bulan gajianmu?"
Rukia tertawa. "Kau tahu, Ichigo? Cinta itu perjuangan—"
Ichigo mendengus.
"—sekaligus pengorbanan."
Apa benar cinta serumit itu? Sampai menghabiskan banyak uang…. Ichigo menghabiskan banyak keringat untuk menemani Rukia hari ini—yah, Rukia versi 'perempuan' yang baru ia temui hari ini. Sejujurnya, Rukia yang biasanya lebih membuatnya nyaman.
Eh?
Ichigo menggeleng keras.
"Kau tahu, biasakan dirimu dengan sifatku yang seperti ini. Aku yakin calon istrimu juga akan menyeretmu ke toko ini dan itu untuk belanja."
Ichigo mencoba mengingat kenangan-kenangan saat Neliel dulu menyeretnya belanja untuk keperluan kencan dan ia membutuhkan pendapat Ichigo.
Sementara Rukia, yang ia tahu, Rukia adalah perempuan yang tak seperti ini.
Rukia terlalu berbeda dengan Neliel.
Apa Inoue seperti Neliel? Atau malah seperti Rukia yang sederhana?
"Jangan berjalan seperti pembantuku."
Ichigo tersentak. Ia mendongak dan menatap Rukia yang berdiri jauh di depan—menunggunya.
"Berjalan jauh di belakangku seperti itu. Kukira Tuhan memberimu kaki yang panjang untuk berjalan di depanku, bukan di belakangku."
"Kenapa berjalan cepat-cepat? Bukannya kau mau ke salon?" tanya Ichigo.
"Raut mukamu membuatku tak nafsu untuk ke salon."
Ichigo memiringkan kepalanya.
"Harusnya kau tahu, kalau menyuruhku berakting menjadi ibunya Nel, aku harus berubah jadi perempuan cantik. Kalau tidak, kau akan malu. Bukannya kau tadi yang bilang kalau kau ingin Inoue-san memercayaiku sebagai mantan istrimu. Kau tidak mungkin menikahi perempuan jelek sepertiku, kan?"
"Aku tadi hanya bercand—"
"Sebaiknya kita kembali ke restoran. Nanti aku akan mencari wig. Aku juga tak rela mengecat rambutku."
Belum sampai Ichigo menimpalinya lagi, Rukia sudah kembali berjalan ke depan—meninggalkan Ichigo yang bengong sendirian.
.
.
.
.
.
"Rukia-chan!"
Ichigo melangkah masuk lewat pintu belakang restoran dan mendapati ayahnya menggendong Nel mendekat pada Rukia.
"Kenapa anakku yang bodoh itu membiarkanmu membawa banyak barang?"
Rukia tertawa. "Aku memberinya tugas untuk menjadi bodyguard-ku, Paman."
Isshin ikut tertawa.
Rukia melepaskan tas-tas belanjaannya lalu memeluk Nel. "Paman ke sini untuk makan malam?"
Bocah itu tertawa sembari mengangkat tangannya. Sepertinya ia senang menarik poni panjang Rukia. "Uu~~"
"Ya begitulah. Kalian dari mana, ngomong-ngomong?"
"Hari ini Ichigo mengantarkanku belanja, Paman."
"Tumben sekali. Dating?"
Rukia tertawa keras. "Tidak, Paman."
Ichigo hanya menggeleng sembari bersiap melangkah menuju ruangannya. Ia terlihat lelah sekali hari ini. Tentu saja, siapa yang tidak kelelahan setelah seharian mengitari komplek pertokoan untuk menemani seorang perempuan berbelanja.
"Aku berbelanja hari ini. Paman tahu tidak, besok Ichigo akan mengenalkan Nel pada ibu barunya, nah, aku akan membawa Nel."
"Apa?" Isshin mendelik saat Ichigo menghentikan langkahnya.
"Paman tahu, kan? Si Bodoh itu mana bisa membawa Nel sendirian. Ia menyewaku seharian besok untuk menjaga Nel. Kasarnya sih, besok aku akan bekerja sebagai baby-sitter, Paman."
Rukia tertawa, meski Isshin terlihat tak senang.
"Benarkah itu, Ichigo?"
"Aku … akan mengenalkan calon istriku pada ayah, kapan-kapan."
Rukia melangkah pergi sambil membawa Nel di pelukannya. Perempuan itu masih tertawa saat Nel memainkan poninya dengan riang. Dalam beberapa detik, suara tawa Rukia dan Nel akhirnya menghilang.
Isshin menghela napas sembari berjalan mendekati Ichigo.
Lelaki itu diam, hanya memainkan jarinya di bahu Ichigo. Putranya menoleh heran. "Ada apa?"
"Kau yakin?"
"Apanya?"
Isshin hanya menghela napas. "Semoga pilihanmu benar."
"Ayah jangan bicara seperti itu."
"Kau mau pilihanmu salah?"
"Tapi ayah mengatakannya seperti tak rela sekali. Bukannya ayah ingin aku mencarikan ibu untuk Nel?"
"Tapi aku tak ingin kau gegabah dalam memilih. Masih banyak waktu."
Ichigo menghela napas.
"Pastikan kalau kau benar-benar mencintai wanita pilihanmu itu."
.
.
.
.
.
"Tawake!"
Saat Ichigo menoleh. Kalau seandainya perempuan di seberang jalan itu tak memanggilnya dengan panggilan aneh barusan, ia tak akan mengenal identitas asli perempuan itu.
Berjalan anggun dengan high heels setinggi dua belas senti membuatnya sama sekali tak mirip dengan Kuchiki Rukia yang ia kenal. Ia tak pernah menemui sosok berambut seperti Nel selain Neliel dalam hidupnya. Ichigo harus menanyakan bagaimana Rukia bisa menemukan wig lurus sepanjang punggung dengan sedikit sisi ikal yang di bagian pipi Rukia yang membingkai sempurna wajahnya.
Dengan gaun tanpa kerah terusan yang ujungnya terhenti di bagian lututnya membuat beberapa bagian tubuh Rukia yang selama ini tak terlihat jadi terbuka untuk umum.
Gadis Midget itu ternyata tak sekurus yang ia kira.
Matanya cukup lebar—Ichigo baru sadar. Lensa kontak yang kemarin ia beli berperan besar untuk ini.
"Ou!"
Nel menunjuk-nunjuk hidung Ichigo.
Sedetik, barulah ia sadar cairan hangat mengalir di hidungnya.
"Kuso!"
Buru-buru ia memutar tubuhnya membelakangi Rukia yang berjalan mendekat padanya.
"Kenapa mengumpat seperti barusan?" ujar Rukia dari balik tubuh Ichigo.
"Aku tak mengumpat."
"Ha-ha. Aku tak tuli, Bos."
Ichigo masih memegangi kepalanya, sesekali mendongak—berharap darah itu tak mengalir keluar dan kembali ke muaranya.
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa."
Rukia melongok dan menyadari Ichigo memencet hidungnya.
"Kau mimisan?"
"Tidak."
"Sungguh, Ichigo. Kau harus menyadari kalau kau itu tak pandai berbohong. Apalagi padaku."
"Aku … aku hanya, tadi sekilas melihat barisan cosplayer melewati jalanan ini. mereka imut-imut sekali."
"Pervert. Jangan-jangan kau lolicon."
"Jangan bercanda."
"Sepertinya aku harus berhati-hati padamu, mengingat aku cukup imut," tambah Rukia sembari tertawa.
Ichigo menggeleng keras. "Sinting."
"Ruuaa~"
"Nel-chaaan~"
"Sepertinya ia masih mengenalimu."
"Dari bau tubuhku mungkin? Karena semua tetangga apartemen mencurigaiku sebagai penghuni baru saat aku keluar apartemen tadi."
Ichigo memilih untuk mengalihkan pandangannya.
"Wajahmu memerah, ya?"
Ichigo menoleh sedetik lalu membuang mukanya lagi. "Ini gara-gara kau!"
"E-eh?"
"Bukan! Maksudku, kau membuatku menunggu lama di sini! Cuacanya terik sekali. Kau tak kasian pada Nel?"
"Sepertinya Nel baik-baik saja," ujar Rukia yang sempat memerah karena berpikiran macam-macam.
"Ahh! Kenapa kau cerewet sekali!"
Rukia mengerucutkan bibirnya—membuat wajahnya makin terlihat imut.
"Jangan memasang muka seperti itu!"
"Memasang muka apa?" tanya Rukia mulai tak sabar. Bagaimana tidak, Ichigo terus meneriakinya tanpa sebab. Tanpa alasan yang jelas. "Kau ini benar-benar aneh."
Ichigo memalingkan wajahnya lagi. Tak biasa rasanya melihat Rukia tanpa melongok jauh ke bawah seperti biasanya. Apalagi dengan dandanan … secantik ini. "Sebaiknya kau gendong Nel."
"Tidak mau."
Ichigo mendelik saat Rukia memilih melangkah memasuki kawasan restoran di pusat perbelanjaan.
"Aku akan berakting menjadi istri yang membuatmu kesal. Kau bilang kemarin, pasangan bercerai karena sering bertengkar, kan? Lebih bagus kalau kita bertengkar dengan alami—alias, aku akan membuatmu jengkel seharian ini."
"Apa?"
"Sebaiknya kau membuat acara hari ini berlangsung cepat. Aku tidak suka membohongi seseorang dalam waktu yang lama."
Ichigo melirik Nel yang tangannya terulur ke depan—mengarah pada sosok belakang Rukia.
"Jadi, ayo temui calon istrimu."
.
.
.
.
.
"Hai, aku Kurosaki Rukia. Kalau kau bingung, aku masih memakai nama keluarga suami bodohku beberapa bulan ini. Siapa namamu?"
"I-Inoue Orihime."
"Senang mengenalmu," ujar Rukia sambil tersenyum singkat dan menenggak anggur miliknya. "Kudengar dari Ichigo, kau ingin menemuiku."
"A-ah! I-iya. Aku hanya … ingin bertemu saja. Karena sepertinya, kau sangat istimewa. Tak mudah mendapatkan hati Kurosaki-kun saat di SMA dulu. Banyak siswi yang ia tolak," jelas Inoue pelan sembari melirik Ichigo yang sibuk dengan Nel.
"Begitu, ya?" Rukia menenggak lagi minumannya sambil melirik ke sana kemari sambil mengedipkan mata pada beberapa pengunjung lelaki di restoran Italia itu.
"S-sekarang aku bisa melihat betapa istimewanya kau."
"Hm?" Rukia tersenyum manis sementara Ichigo memutar bola matanya.
"Kau terlihat sangat cantik dan memesona," puji Inoue.
"Kau juga cantik. Selera Ichigo benar-benar bagus."
"A-arigatou, Kurosaki-san." Wajah Inoue seketika memerah.
"Panggil aku Rukia saja. Suatu saat nanti kau harus membiasakan diri memanggil si Bodoh ini dengan nama kecilnya."
Ichigo hanya tertawa keras—kaku.
"Ia terlalu bodoh, makanya aku menceraikannya." Rukia dengan enteng mengatakannya pada Inoue. "Ia membuatku melahirkan Nel di usia muda. Untunglah program dietku berhasil. Kalau tidak, mungkin tubuhku akan melar dan aku tak akan laku lagi seumur hidupku."
"Tapi Nel sangat lucu."
"Untung dia mirip denganku," ujar Rukia sembari tertawa. "Untung Nel-chan tak mirip dengan Ichigo. Aku tak bisa membayangkan muka cantiknya berubah jelek jika mirip ayahnya."
"B-bagiku, Kurosaki-kun sangat tampan!" ucap Inoue cepat sebelum akhirnya wajahnya memerah dan tangannya terburu menutupi mulutnya.
Rukia terdiam.
Ichigo tersenyum kikuk.
Nel mengulurkan tangannya, mencoba meraih pundak Rukia di sampingnya.
"Sepertinya kau benar-benar jatuh cinta pada Ichigo."
Inoue merona lagi. Ia mengangguk pelan. "Ru-Rukia-san, bagaimana denganmu?"
"Aku?"
"Kau tak usah khawatir. Rukia sudah menemukan penggantiku!" Ichigo tertawa keras sambil menyerahkan Nel ke pelukan Rukia—dengan sedikit paksaan. Rukia terlihat mendelik, meski akhirnya ia tersenyum saat tangan-tangan kecil Nel meraba pipinya. "Ada seseorang berambut aneh yang sepertinya tergila-gila pada Rukia. Aku pernah dikenalkan padanya. Kau pasti takjub, mereka terlihat cocok sekali."
"Oh, ya?"
Rukia terpaksa mengangguk. "Yah, begitulah."
"Undang aku dan Ichigo ke pernikahan kalian," pinta Inoue.
"Semoga aku menikah sebelum kalian menikah," ujar Rukia lagi.
"Ha! Sebaiknya kau memang segera menikah saja, sebelum ia sadar sifatmu dan lari darimu, Rukia!" Ichigo tertawa keras—akhirnya, tawa pertamanya hari ini.
"Bagaimana denganmu? Sebaiknya kau segera menikahi Inoue sebelum ia tahu kebiasaan jelekmu."
Ichigo tertawa.
Rukia tak mau kalah.
Apalagi Nel. Entah kenapa, Nel malah ikut tertawa sambil memeluk leher Rukia.
Tanpa mereka sadari, justru Inoue yang terdiam sendirian di meja itu—memandangi keluarga 'Kurosaki'. Kenapa Ichigo bercerai dengan orang semenyenangkan Rukia? Cantik, pintar berbicara, dan tak bisa disangkal, sangat disukai oleh Nel yang bahkan tak mau ia gendong sejak tadi.
Karena yang ia lihat di depan matanya, justru adalah sebuah keluarga bahagia yang tertawa lepas.
T B C
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Surabaya, 01 Juli 2012
Maaf update-nya lama. Modem author sudah tiga minggu ini dinyatakan patah dengan mengenaskan yang membuat author trauma menghidupkan komputer. Untuk update pun, author terpaksa lari tunggang langgang ke warnet. Maaf juga, karena euro dan kekalahan Jerman, author jadi linglung dan tak mampu mengetik. Syukurlah hari ini author akhirnya bisa melanjutkan fic ini lagi. Terima kasih untuk temen-temen dari fandom ini, terutama yang udah ninggalin jejak ripiu. Karena masih baru di fandom ini, sebelum publish cerita ini dulu, si author udah ngancem Fiki-pyon khawatir kalau gak diterima n diusir *kebanyakan liat sinetron*
Sebenarnya si author cukup shock juga, ternyata fandom ini dikuasai IR banget O_O dan si author sempet kepikiran, kalau fanfic IR sebanyak ini, gimana nasib fic pendatang baru kayak My 'Fake' Ex Wife *dianya parno duluan*
Dan karena si author jarang bales PM, maka bales ripiu di sini aja, ya? Sila skip yang gak mau baca :D
Thanks a lot untuk orang2 di bawah ini yang ternyata berbesar hati nengok fanfic ini:
Anonim: Haha, gak perlu karpet merah, meski di FNI punya tampang (?), tapi di FBI, saya newbie. Rizuki Aquafanz: Yep, maklum kok, udah gaya saya (?) naruh cuplikan di pembukaan, wajar kalau awalnya kamu bingung. Maknae Kazuma: Eh, sumpeh gak OOC? *melayang*. Kurosaki Kuchiki: -_- *nunjuknunjuk* jadi reviewer ke-4 ya ente, ini pan penpik buat ente *gondok* *tendangByakuya*. Blingblingjh: Hime-nyaaa~ hahahaha. Wi3nter: Ichi sama you-know-who? Voldemort apa Tobi yang ente maksud? *dilemparbecak*. LolaDony: Wah, saya bikin rate M sekali doank untuk NaruSaku di FNI, abis itu kapok, soalnya bikin pembaca ikutan bejat kayak saya (?). Ayaaa: Salam kenal jugak, glad you like it :D. Cim-jee: *tendangteruskeneptunus* Soalnya ultah Fiki udah lewat seminggu n profesi 'restoran' lebih gampang buat dibikin daripada profesi lain, Neliel versi gede jadi maknya, Nel-chibi jadi anaknya, dan untuk urusan IR-NS dan Hime-Hinata, saya nyerocos gitu soalnya saya belom nyemplung-nyemplung amir ke fandom ini, dan dari luar, persepsinya mah gampang, tinggal: Hero-Heroine, lalu side-character :D. Amai Yuki: He eh -_- tetep gak nerima rikuesan, utang penpik di FNI aja masih berape judul? Ini saking aja di Fiki pakek acara ultah segala (?) jadi deh ane bikinin penpik, btw, apaan yang berobah? Gayanya tetep kok *shock*. Pussygirl: Ini udah kilat updatenya dibanding penpik-penpik FNI lho :D. can-can: Sai-san? Sai itu pacar saya! *diemutSasuke* nih update. Aphrodite: Bukan author 'master' tapi 'master' dalam mengenal si Naruto aja *sayastalkernya*. Miki-kohai: Di-fave? *tebarkembangmelati*. Nakamura Chiaki: Haha, Rukia nerima tu peran juga mungkin karena dia kasian ngeliat Nel yang gak punya ibuk kali ya :D. Oh Lalla sherry: *blush*. Haruka Ndo: Karena saya perempewi, jadinya 'My Perfect Girlfriend' ya? *gaknyambung* *disambung-sambungin*. Beby-chan: Kalau WaMN saya pengangguran banget ampek bikin double-pair, di sini cukup si IR aja, tapi baik We Are Marry Now maupun Just Go With It, dua-duanya film yang awesome, btw, karena gak mau bikin Ichigo jadi duda, jadi Nel anak angkatnya aja deh :D. Sora Yasu9a: Jangan panggil senpai ah, saya nubie di FBI *polos*. Lady Cha'py Cherry Blossoms: Gak OOC? Amiiin! Piyocco: Suami Neliel enaknya siapa ya? Bantuin nyari donk! Kalau dipikir-pikir bahasanya IR pas debat, agak … agak komedi roman orang barat -_- *dianya bingung takut garing*. Curio cherry: Kayaknya harus ngebanyakin alasan kenapa 'Inoue' nih biar Ichigo gak terlalu shallow :D. Chadeschan: Justru itu yang jadi hiburan di penpik ini, kan? Haha. Nandateefa: I'm happy end person kok^^ jaminan :D, Akihisa Pyon: Makasih dibilang bagus *peluk* Luvly No Mary-chan: Salam kenal^^ Glad you love it #cipok
Kang Mas Neji Ganteng: Mungkin kamu gak akan ngebaca balesan review ini. Tapi thank you untuk sambutannya, thank you juga udah baca. Terima kasih untuk semuanya, meski pair kita di Naruto agak seberangan, tapi aku senang sempat berteman dan ngobrol denganmu. Thanks udah suka sama cerita ini^^ Rest in peace, Nand….
So, People! RnR again?
I
I
I
V
