Rainy Heart On Rainy Days

By Cie Maknae AdmrHyukkie

Cast : Yoseob, Junhyung, Dujun, (main) Eunhyuk, Donghae (slight)

Genre : Angst

Rate : T

Warn : BL/Chara Death

.

.

.

Jangan dibaca jika anda sedang bersedih. Apalagi anda yang sedang galau. :P

.

.

.

Bagian 2 dari 2

"Junnie gwaenchana?" aku mengusap pundaknya pelan.

Dia mengangkat wajah. Kenapa wajahnya sekelam itu. "Seobie..." desisnya pelan.

Tanpa sadar aku mendekat dan memeluk tubuhnya erat. Kini malah dia yang terlihat seperti anak kecil yang sedang bersembunyi di pelukan ibunya. Aku sedikit tersenyum. "Kenapa?" dia tak menjawab malah semakin membenamkan diri dalam pelukanku. Untunglah busnya sepi. Kalau tidak, semua pasti memandang kami aneh.

Hujannya semakin deras, bagaimana ini. Sebentar lagi kami sampai. Tapi untuk ke rumahku kami harus melewati jalan setapak dulu. Aku tak membawa payung, masa sih harus hujan-hujanan. Tak masalah sih untukku, aku suka kok hujan-hujanan. Tapi ini malam hari dan Jun, dia kan baru sembuh.

Untunglah hujan sedikit mereda. Bus berhenti di halte depan jalan setapak menuju kompleks perumahanku. Aishh Jun malah tertidur. Aku menepuk pipinya. Ia akhirnya terbangun. Wajahnya masih pucat. Tapi dia langsung berdiri dan kembali memegang tanganku. Kami pun turun.

Kami duduk dulu sesaat di bangku halte. "Kau mau menginap di rumah?"

Jun malah terlihat termenung. Ia merapatkan jaketnya.

"Junnie.." aku menepuk tangannya sambil cemberut, berharap bisa membuatnya kembali semangat menggodaku.

Dia menoleh, ya ampun wajahnya semakin kelam. "Iya bolehkah aku menginap?"

Dia kenapa sih? Nanti saja di rumah aku tanyakan. "Kalau begitu tak masalah kalau kita sedikit hujan-hujanan? Hujan seperti ini sepertinya akan lama."

Dia mengangguk, kemudian membuka jaketnya, dia menarikku berdiri. Menyelimutkan jaketnya ke kepala kami, dan mulai berlari menerobos hujan yang rinti-rintik. Emmm kenapa aku jadi senang, rasanya aku pernah lihat adegan seperti ini dalam film. Dan kini aku mengalaminya sendiri.

.

.

.

.

.

"Aigooo kau ini Seobie... kau kan bisa telepon Umma. Nanti Umma antar payung ke halte depan itu. Bagaimana kalau kau sakit. Lihat Jun sampai menggigil begitu.. " dan bla bla bla.. lainnya, yang susah masuk ke kupingku.

Aku hanya nyengir menanggapinya. Membuat Umma menghela nafas kesal.

Aku segera memeluk perut Umma meletakkan daguku di bahunya, "Ishhh Seobie lupa Umma... jangan marah-marah lagi ya... Umma kelihatan lebih cantik kalau tersenyum.. nah seperti itu..."

Umma memukul kepalaku pelan, tapi mulutnya mengeluarkan senyumnya yang sangat cantik.

Tiba-tiba ada yang menyentakkan lenganku. "Apa-apaan kau ini Seobie, Ummamu ini hanya milik Appa... jangan bilang kau mulai menyukai Umma mu sendiri. Meski dia memang sangat cantiiik tak berarti kau boleh menyukainya..."

Aku mendengus pada Appa. Dasar Appa gaje! Umma memukul kepala Appa keras membuatku terkikik.

"Hae-ah jangan mulai lagi dengan hayalanmu itu. Ah.. anak dan Appa sama saja. Sudah Umma mau masak. Kau bawa Junnie ke kamarmu suruh ganti baju."

Aku mengangguk dan menggandeng Junnie ke kamarku. Dari dapur masih kudengar suara Appa yang sedang merayu Umma.

"Ya... Hyukkie aku serius kau ini memang istri paling cantik di dunia."

Isshhh mereka itu benar-benar tak sadar dengan umur. Ckckckck.

.

.

.

.

.

Junnie masih tampak gemetar. Padahal ia sudah kuberi baju hangat. Ternyata tubuh kekarnya lebih lemah dariku. Aku mengambil selimut dan menyampirkan di pundaknya. Dia menatapku, "Gomawo."

Aku hanya mengangguk dan ikut duduk di sampingnya. Umma belum memanggil kami untuk makan.

"Emm sebenarnya aku sedikit punya trauma dengan hujan. Makanya tadi sikapku aneh. Mian ya.."

Oohh jadi begitu, aku baru tahu ada yang trauma pada hujan. Padahal aku sebaliknya, aku sangaaaaat cinta pada hujan. Tapi kesukaan dan ketakutan orang kan beda-beda. Sudahlah. "Tak apa-apa Junnie, pantas saja tadi kau begitu."

"Kau tahu Seobie di saat hujan aku kehilangan dua orang wanita yang kucintai."

Deg! Kenapa aku sakit mendengar dia menyebutkan wanita yang dia cintai. Aku kan suka pada Dujun Hyung, tak masalah kah kalau Junnie ternyata menyukai wanita. Tapi hatiku berkata lain.. aku menatapnya meminta dia melanjutkan.

"Yang pertama Ibuku, dia meninggalkanku dan ayah begitu saja, saat aku kecil dan saat hujan. Dia bilang mendapat orang yang lebih baik dari kami. Padahal sebelumnya aku merasa menjadi bagian dari keluarga yang sempurna. Aku tak mengerti kenapa dia tiba-tiba begitu."

Oh rupanya ibunya, aku mendekat dan membelai lengannya, membuat ia menoleh dari pandangan menerawangnya, ia tersenyum miris padaku.

"Yang kedua Ibu tiriku. Dia sangaaaaaat baik. Aku bisa menyembuhkan luka hatiku karena dia. Aku sangat sayang padanya lebih dari pada Ibu kandungku. Tapi empat bulan yang lalu. Saat hujan deras. Kami berjalan pulang dari toko baju, kami akan memberi kejutan untuk Appa. Umma bersikeras untuk pulang padahal Hujan deras. Umma tak ingin Appa keburu pulang. Kami menyebrang, Umma terpeleset, dan sebuah mobil menghantam begitu saja Umma dan aku hanya bisa menatap... aku bodoh Seobie! Aku tak berguna!..." bahunya terguncang. Ia menangis.

Dia yang kusangka namja sangar meskipun berwajah imut. Aku tak pernah membayangkan dia akan menangis semenyedihkan ini.

Aku segera memeluknya. Jadi karena ini Junnie kau begitu menghayati lagu itu. Okay itu memang tentang kehilangan pacar, tapi bisa juga diibaratkan pada kasusmu. Apa setiap hujan kau terbayang kembali semua kejadian itu.

Kami berpelukan. Aku tak tahu kata-kata apa yang tepat untuk menghiburnya. Hanya pelukan ini sebagai bukti betapa pedulinya aku.

.

.

.

.

.

Esoknya dia tampak lebih baik. Ya hari terlihat sangat cerah. Dia malah berkomplot dengan Appa menggoda Umma yang memang tampang marah dan kesalnya luar biasa imut. Aku ikut tertawa-tawa. Kemudian mata Jun mengarah padaku, tidak.. sepertinya aku korban berikutnya. Mengingat Jun pernah bilang aku sama Imutnya seperti Umma.

"Emm Appa... apakah anakmu itu sudah punya pacar?"

"Sepertiya belum Junnie, dia itu terlalu polos. Mana ada yang mau jadi pacarnya? Dia juga masih kekanak-kanakkan. Bayangkan dia baru berhenti ikut tidur dengan kami ketika masuk SMA."

Aku menganga pada Appa. Apa-apaan itu. Meski menggoda tak usah selebay itu kan?

"Benarkah Appa?"

Ciih dasar kenapa juga Junnie harus menanggapi jelas-jelas itu bohong. Aku ingin membalas dengan tangisan anak kecilnya, tapi aku kan anak baik, aku tak ingin menjadikan kesedihan orang bahan lelucon.

"Tentu saja tidak Junnie bodoh! Sejak masuk SD aku mulai tidur sendiri kok."

"Iya kah? Lalu waktu kelas satu itu?" aishhh kenapa Umma ikut-ikutan sih.

"Itu karena aku baru saja nonton film horor Umma..." aku merengek pada Umma.

"Lalu kenapa seminggu itu kau tetap tidur di kamar Umma dan Appa?" tanya Appa.

"Karena aku masih takut. Sudahah terserah kalian! Aku berangkat." Aku menghentakkan kaki dan berjalan ke luar,

Junnie mengikuti dari belakang. Ia memeluk pundakku. "Itu kan Cuma bercanda Seobie."

Aku hanya cemberut menanggapinya yang malah membuatnya terkekeh dan mencubit pipiku gemas.

.

.

.

.

.

Semakin lama aku semakin dekat dengan Junnie. Kami benar-benar tak terpisahkan. Apalagi undangan-undangan untuk menyanyi semakin banyak berdatangan. Aku sering menghabiskan waktu berdua di bawah jembatan itu. Meski aku lebih banyak hanya diam dan memandangnya yang asyik mencoret-coret kertas. Seperti saat ini. Perasaanku saja atau ia bertambah pucat akhir-akhir ini. Dia juga tampak kelelahan setelah selesai menyanyi.

"Aku tahu aku tampan. Jadi tak usah memandangku penuh kekaguman seperti itu."

Apa? Mataku membulat. Cihh rupanya dia tahu. Padahal pandangan matanya tetap lurus pada buku tulis. Aku mendengus dan kembali ke buku gambarku.

"Emmm oh iya Seobie, seminggu besok aku akan pulang ke rumahku. Tak apa kan?"

Apa? Baru kali ini dia bilang akan pulang. Gimana ya... rasanya tak ada Jun? Tapi kan masih ada Du Jun Hyung lagipula aku kan sekarang lumayan banyak teman, meski tetap Jun lah yang paling dekat denganku.

"Iya tak apa. Ada apa memangnya? Kenapa harus seminggu? Memangnya harus selama itu? Memangnya urusannya sangat penting?" cerocosku.

Dia memandangku dan terkekeh. "Uwaaah kau bertanya seperti itu seolah-olah akan ditinggal pacarmu saja."

Aku kembali mendengus dan mempoutkan bibir.

"Kidding Seobie..." dia malah mencubit pipiku. "Emmm aku ada urusan, dan memang harus seminggu. Tapi setelah itu aku akan kembali ke sini kok."

Aku hanya mengangguk. Dia memberikan senyuman, mengusap kepalaku dan kembali menekuri buku tulisnya.

.

.

.

.

.

Hampa! Itulah yang kurasakan semenjak Jun tak ada. Aahhh aku tak semangat untuk melakukan apapun. Padahal sekarang Du Jun Hyung banyak menemaniku. Ia hampir seperti Jun dulu, menempel kemanapun aku pergi. Aku sadar sekarang, aku tak memiliki perasaan itu pada DuJun Hyung. Perasaanku padanya sama seperti perasaanku pada seorang Hyung, seandainya aku punya Hyung.

Saat ini aku ada di ruang OSIS menemani Du Jun Hyung, hanya kami berdua. Tak lama setelah selesai dengan berkas entah apapun itu. Dia menghampiriku.

"Ayo sekarang kau mau kemana? Hyung antar?" katanya sambil duduk di sampingku.

Aku menggeleng malas. Aku hanya mau Jun ada di sini. Tapi tak mungkin kan ku bilang begitu. Dia menatapku lama, kemudian tangannya membelai rambutku.

"Hmmmm seobie... kau kenapa? Akhir-akhir ini terlihat sangat tak bersemangat?"

Aku menoleh padanya, "Aku juga tak tahu Hyung. Tapi sejak Junnie pergi rasanya seperti ada yang hilang. Aku jadi malas melakukan apapun."

Dia sedikit tersentak, belaian tangannya di rambutku terhenti. Aku memandangnya, dia balas memandangku dan tersenyum. Senyumnya yang selalu tampak tulus.

"Aku mengerti sekarang. Kau menyukainya Seobie..."

Apa? Tidak! "Annie.. Hyung aku menyukainya sebagai sahabat. Aku kan menyukai..Hy..uung..." tapi kenapa hatiku menolak.

"Tidak Seobie. Kau mungkin menyukaiku karena aku orang pertama yang menyinari kesendirianmu iya kan? Aku tahu kau selalu merasa sendirian. Aku sering melihatmu sendirian di kelas, ketika aku melewati kelasmu. Kau tampak mencolok karena keimutanmu. Aku tahu kau sejak penerimaan siswa baru. Tapi aku jarang melihatmu, tahunya kau selalu sendirian. Makanya aku sangat senang ketika ada kesempatan mengenalmu waktu hujan itu."

Apa? Jadi dia memperhatikanku? Sejak awal?

"Banyak juga yang ingin bersahabat denganmu, karena kau itu menarik. Hanya saja kau menarik diri Seobie. Tapi sudahlah sekarang kau tak begitu lagi kan. Dan aku yakin kau tak menyukaiku. Kau menyukai Jun Hyung. Meski aku sakit hati, tapi aku rela asal kau bahagia. Kau harus memperjuangkan cintamu."

Apa? Dia juga menyukaiku? Tapi dia merelakanku. Benarkah? Benarkah aku menyukai Junnie sebenarnya?

"Sudah jangan terlalu dipikirkan sekarang. Pelan-pelan saja dan tanya hatimu. Dan akan kau temukan jawabannya." Katanya lagi. Ya ampun dia ini benar-benar baik. Aku menghambur ke arahnya dan memeluknya erat. Dia membelai kepalaku lagi,

"Mi..mian Hyung..." maaf karena aku tak bisa membalas cintanya.

"Tak apa-apa Seobie. Tapi kau harus tetap dekat denganku ya? Anggap aku Hyungmu?"

Aku hanya bisa mengangguk dalam pelukannya. Tuhan benar-benar baik memberiku Hyung sekaligus calon pacar (mungkin).

Ahhhh aku jadi tak sabar ingin seminggu ini cepat berlalu. Aku rindu pada Jun.

.

.

.

.

.

Brug! Seseorang menimpaku. Awww ini berat sekali. Aku berusaha menyingkirkan kuncian tubuh siapapun yang ada di atasku ini. Tangannya melingkari tubuh atasku dan kakinya mengunci bagian bawah tubuhku. Aku tak bisa bergerak sama sekali.

"Hehehe bangun pemalas!"

Hah suara ini? Junnie. Aku segera mengerahkan tenaga hingga ia akhirnya terjengkang. Dia terduduk di lantai, meringis sambil mengusap pantatnya.

Aku memandangnya dengan pandangan sinis.

"Huh aku benci padamu!"

Dia menatapku heran, kemudian bangkit dan menepuk-nepuk celananya. "Kenapa?"

"Ciiihh berlagak jadi orang penting. Tidak mengaktifkan ponsel. Aku jadi tak bisa menghubungimu tahu! Kau menyebalkan!"

Dia terkekeh, mendekat dan memelukku. Kepalaku ada di dadanya. Karena dia memelukku sambil berdiri sedangkan aku masih terduduk diranjang. "Miannnnn...ponselku tertinggal di rumah sini. Aku tak membawa ponsel ke sana."

Ooh jadi begitu. Kekesalanku perlahan lenyap, meski tetap masih bersisa.

"Ya sudahlah. Keluar dulu sana, aku mau mandi!"

Dia melepaskan pelukanku, "Emmmm mau kumandikan Seobie?"

Aku melotot padanya yang ia balas kekehan lagi. "Pergi sana PERVERT!"

Aku mendorong badannya hingga keluar kamar. Begitu pintu tertutup aku segera tersenyum. Uwaaahhh akhrinya hari-hari bergalauku usai sudah. Aku masuk ke kamar mandi dengan semangat.

.

.

.

.

.

.

Aku semakin dekat dengannya dan aku semakin yakin dengan perasaanku padanya. Dia juga sepertinya mempunyai perasaan yang sama, terlihat dari perlakuannya padaku. Bolehkah aku berharap? Tapi kenapa sih Jun tak juga menyatakan. Masa aku harus duluan. Atau jangan-jangan ini hanya perasaanku saja dan Jun tidak menyukaiku.

"Ayo pulang Seobie! Jangan pasang tampang seperti itu. Sudah kubilang kan? Itu menggoda iman tahu."

Aku hanya mengerucutkan bibir tapi tetap mengikuti tarikan lengannya. Sampai di gerbang dia berhenti tiba-tiba. Aku memandangnya heran, lalu aku sadar. Langit hari ini kelam sekali, sepertinya akan hujan besar. Jun pasti ketakutan. Aku mengeratkan peganganku. Dia menoleh, langsung kuberi senyum untuk menguatkannya.

Dia balas tersenyum meski mukanya pucat. Aku segera mengambil alih, maju ke depan dan ganti menarik tangannya. "Ayo keburu hujan!"

Kami duduk di halte menunggu bus yang entah kenapa tak juga datang. Padahal selama aku menggunakannya, bus itu tak pernah telat sampai selama ini. Jun kelihatan semakin gelisah. Kalau berlari saja dari sini lewat jalan pintas, mungkin bisa sampai ke rumah sebelum hujan turun. Jun kembali akan menginap di rumahku.

"Ayo Jun, kita jalan kaki saja. Busnya mungkin ada masalah. Aku tahu jalan memintas."

Dia memandangku dan mengangguk. Ya ampun dia semakin pucat saja. Tapi dia kemudian berdiri dan menggenggam erat tanganku, "Ayo tunjukkan."

Kami pun berjalan cepat-cepat setengah berlari. Ayolah hujan jangan dulu turun. Aku sayang padamu tapi aku sayang juga pada Jun.

Yap sebentar lagi sampai. Tapi sial hujan turun seketika dan langsung deras. Jun telihat bergetar lagi, aku langsung menariknya mempercepat lari. Hingga akhirnya sampai lah di beranda rumah. Tapi kenapa rumah sepi. Umma kemana? Appa juga belum pulang?

Aku mendudukkan Jun di kursi yang ada di beranda. Dia basah kuyup dan kedinginan. Juga ketakutan mungkin dia pasti ingat lagi traumanya. Aku mendekat dan mengusap-usap seluruh badannya berharap mengeringkan sedikit badan. Dia mengangkat kepalanya dan tersenyum lemah. Bagaimana ini? kemana Umma dan Appa? Rumah dikunci.

Aku segera mengeluarkan ponsel. Wuahhh ada beberapa missedcall dan pesan. Rupanya Umma dan Appa. Hah? Mereka pergi ke rumah nenek. Kenapa tak bilang dari pagi sih. Dan apa, mereka belum bisa pulang karena di sana malah hujannya disertai badai. Kenapa kuncinya harus di bawa juga. Tapi tadinya mereka takkan lama katanya.

Aku mendekati Jun. Bagaimana ini, dia sedang memeluk dirinya sendiri dengan erat. Dia sangat kedinginan. Aku ikut duduk di sampingnya, melingkarkan lenganku di tubuhnya. Aku tahu aku lebih kecil dan sama sekali takkan bisa menghangatkannya dengan pelukanku, tapi setidaknya aku berusaha kan.

"Sseo.. biie..." badannya benar-benar bergetar.

"Aku di sini Jun." jawabku sambil mengeratkan pelukan. Aku ingat aku kan membawa baju olahraga dan tasku anti air. Aku melepaskan pelukan mengambil baju olahragaku dan memakaikannya pada Jun, yang sama sekali tak menolak. Sudah kuduga kekecilan, apalagi baju itu kutumpukkan dengan bajunya. Tapi lumayanlah, semoga bisa mengurangi dinginnya.

Dia mengangkat wajah, membelai pipiku dengan tangannya yang pucat dan bergetar, "Go.. ma..wo."

Aku hanya tersenyum, tapi hatiku berdetak-detak, karena dia terus memandangku dan tatapannya begitu dalam.

Dia mendekat, aku hanya bisa terpaku, masih tersedot pandangan matanya. Terus mendekat. Dan dia.. dia menyatukan bibirnya dengan bibirku.. mengecupnya lembut... terus.. aku memejamkan mata. Tangannya menarik tubuhku hingga mendekat.

Oh Tuhan apa perasaan ini. Terlalu indah untuk dijabarkan. Entah berapa lama. Sampai tiba-tiba ciumannya terhenti, aku membuka mata dan mendapati wajahnya yang semakin pucat dan ketakutan? Kenapa dia? Dia memundurkan badannya, masih menatapku dengan pandangan terkejut. Seolah apa yang baru saja dia lakukan sebuah kesalahan besar. Apa dia menyesal menciumku?

"Mi.. mian..." desisnya.

Aku tersenyum, apa dia takut aku tak punya perasaan yang sama dengannya? Aku mendekat dan memegang lengannya erat, "Tak apa Jun, emmm... a.. aku juga menyukaimu.."

Dia semakin tersentak berdiri dan menyentakkan lenganku. "Tak boleh Seobie! Kau tak boleh begini. Ini salah! Kau tak boleh menyukaiku, sudah pernah kubilang kan dulu."

Apa? Aku menatapnya tak percaya. Dia menolakku?

"Lupakan perasaan ini! Okay?"

Apa maksudnya. Apa dia benar-benar tak punya perasaan yang sama denganku? Jadi selama ini aku salah mengartikan perhatiannya?

"Ttta..tapi Junnie..."

"Tidak ada tapi-tapian Seobie. Lupakan! Tadi itu kesalahan. Aku membayangkan pacarku ketika menciummu. Aku normal!"

Apa? Ini benar-benar sakit. Dia membentakku. Untuk pertama kalinya. Dan kenapa dia harus mengatakan itu. Tak apa kalau dia tak mempunyai perasaan yang sama. Tapi kenapa harus berkata seperti itu? Kenapa? Aku memandangnya dengan mata yang dipenuhi embun.

Tapi dia tak terlihat menyesal, dia memandangku tajam. "Lupakan aku, aku akan pergi dan takkan pernah kembali lagi."

Lalu tanpa bisa kucegah dia meninggalkanku dengan luka yang benar-benar dalam. Aku terduduk di lantai. Menangis dan memanggil-manggil Jun, berharap dia kembali dan mengatakan tadi dia hanya bercanda dan dia sebenarnya punya perasaan yang sama denganku.

Tapi dia tak kembali meninggalkanku yang kedinginan baik tubuh dan hatiku. Hujan juga tak berhenti seolah mengejekku yang sedang menangis. Aku memeluk tubuhku erat. Dan hatiku terus meneriakkan nama Jun.

Aku tak bisa menjelaskan apapun ketika Umma dan Appa pulang. Mereka yang bingung hanya membawaku masuk.

FLASH BACK END

.

.

.

.

.

.

Jun benar-benar menghilang sejak saat itu. Dan aku, aku kini ikut trauma terhadap hujan. Karena hujan mengingatkanku pada rasa sakit hatiku pada Jun. kalau aku sedang sangat rindu pada Jun, dan kebetulan hujan aku akan berteriak-teriak. Membuat Umma dan Appa masuk ke kamar dan berusaha menenangkanku. Bahkan setiap malam mereka akn tidur bersamaku. Mereka berdua di kanan-kiriku.

Entah berapa hari aku mogok sekolah. Aku takut bertemu Jun dan lebih takut lagi kalau Jun benar-benar tak ada seperti yang dikatakannya malam itu. Dan ternyata Jun memang tak lagi masuk sekolah, aku dengar percakapan Umma dan Dujun Hyung. Itu malah semakin membuatku tak mau kembali ke sekolah.

Aku hanya diam di kamar, melamun.

Teman-temanku datang ke rumah berusaha mengembalikan semangatku. Tapi bahkan walau aku kembali ke sekolah, kenang-kenangan bersama Jun di bangku di gerbang di halte hanya membuatku semakin sakit. Aku kembali menjadi pemururng dan penyendiri, tak kupedulikan ajakan siapapun bahkan Dujun Hyung sekalipun. Aku tak mau!

Hatiku penuh dengan rasa sedih, marah dan kesal pada Jun. tapi aku juga rindu padanya, bahkan kadang aku berfikir, tak apa dia tak membalas cintaku asal dia tetap ada di sini. Aku benar-benar rindu padanya. Kenapa dia harus pergi begitu saja.

.

.

.

.

.

"Seobie berhenti seperti ini!" seseorang duduk di sampingku. Aku sedang menunggu bus dengan pandangan dan fikiran tak fokus. Aku tak menjawab, lebih tepatnya malas menjawab. Aku juga tak tahu siapa yang menyapaku itu.

Dia mengguncang bahuku membuatku terpaksa harus memandangnya. Dujun Hyung? Dia memelukku erat. "Seobie... kau.. kenapa terlihat semenyedihkan ini? ayo kembali lah menjadi Seobie yang dulu!"

Aku tak bisa merespon apapun. Pikiranku penuh dengan Jun. Di mana dia sekarang? Apakah dia masih trauma? Apa dia baik-baik saja? Tapi pemikiran dia juga bisa saja sedang bersama wanita yang dia katakan pacarnya, membuatku tiba-tiba saja menangis.

Kenapa kau harus datang dulu, kalau hanya untuk membuatku begini Junhyung? Kenapa kita harus bertemu di bawah jembatan itu. Kenapa kita harus dekat? Kenapa kita harus bernyanyi dan menghabiskan waktu bersama. Kenapa? Kalau akhirnya kau meninggalkanku?

"Seobie..." Dujun Hyung sudah melepaskan pelukannya, dia mengusap pipiku yang pasti penuh air mata. Aku jadi mudah sekali menangis. Tak peduli di manapun. "Kenapa?"

Aku tak juga bisa menjawab. Rasanya tenggorokan ku kering dan pita suaraku tak bisa digunakan. Tiba-tiba dia berdiri.

"Baiklah! Stop seperti ini! Jun harus menjelaskan semuanya padamu. Ini tak adil untuk kalian berdua."

Aku belum bisa mencerna apa maksudnya, ketika lenganku ditarik, kami menyerbang, lalu kami masuk ke sebuah Taxi. Aku tak tahu mau kemana? Tapi aku juga terlalu malas untuk bertanya.

.

.

.

.

.

Rumah sakit? Pikiranku mulai tersambung. Siapa yang di rumah sakit? Apa Dujun Hyung mau memeriksakanku ke rumah sakit? Tapi kenapa harus ke rumah sakit yang jauh seperti ini. Aku kembali ditarik ke sebuah ruangan. Dia begitu mengenal lorong rumah sakit ini seolah dia sudah sering ke sini.

Di sebuah pintu dia berhenti. "Masuk! Aku menunggu di sini."

Aku memandangnya tak mengerti, aku tak mau diperiksa, aku takut jarum suntik. Aku menggeleng.

Tapi dia membalikkan badanku, mendorongku masuk ke ruangan itu dan menutup pintunya kembali.

Aku berjalan ke dalam, tapi ini bukan ruang periksa ini ruang perawatan. Ada sebuah kamar mandi yang harus kulewati sebelum bisa melihat ruangan perawatannya. Di sana ada ranjang khas rumah sakit dan ... siapa itu yang sedang terbaring... aku lebih mendekat dengan hati berdag digdug tak tenang.. otakku memunculkan satu nama berulang-ulang...

Junhyung?

Aku memandang terpana, Jun terbaring dengan kepala tak berambut lagi. Wajahnya sangat tirus, kulitnya sedikit menghitam. Aku tahu ini akibat suatu penyakit kan, pasti penyakit berbahaya? Airmataku turun begitu saja. Dan aku hanya berdiri memandanginya sambil menangis.

Jadi karena ini? Aku tahu kau pasti mencintaiku juga kan? Tak ada wanita lain kan? Aku terus menangis entah berapa lama. Kenapa kau menyimpan ini sendirian? Junnie...

Matanya bergerak, tapi aku tak mampu menggerakkan tangan untuk sekedar menghapus airmataku. Matanya terbuka dan langsung terbelalak melihatku.

Dia berusaha bangkit, "Sseobie?"

Aku mendekat dan meremas ujung selimutnya keras, menyalurkan rasa rindu, marah , sedih dan kesalku, aku tak mungkin memeluknya kan?

"Kkau.. hiks... kau ja.. hat.. kenapa tak bi.. hiks.. bilang?" akhirnya aku bisa juga mengeluarkan suaraku setelah sekian lama mogok bicara. Suaraku parau.

Dia tersenyum tipis dan lemah, dia membuka lengannya lebar, memintaku untuk memeluknya. Aku segera menghambur ke pelukannya. "Mian... kau tahu pasti kan alasannya. Memang klise aku tak mau membuatmu bersedih Seobie."

"Tapi begini lebih sedih Jun. Mengira-ngira sendiri penyebab kau pergi. Menunggu kau kembali sambil menahan marah, sakit, sedih... kau menyebalkan!"

Dia terkekeh. "Maaf lagi dan maaf perkataanku saat itu. Kau pasti tahu kan itu juga bohong. Aku benar-benar takut dan kalut. Kau tahu.. umurku.."

Aku segera menutup mulutnya, "Jangan dibahas!"

"Baiklah kau tahu? Itu juga alasan Umma meninggalkanku kami dulu. Dia bukan berselingkuh Seobie. Dia tak ingin kami sedih, dan itu juga yang kucoba lakukan padamu. Setidaknya jika kau megetahuinya nanti, kau takkan terlalu sedih sama sepertiku pada Umma kandungku.'

"Begitu malah lebih menyedihkan. Biarkan aku di sampingmu sampai saatnya..."

Dia melepaskan pelukannya dan memandangku lekat, menerka kesungguhan kata-kataku. Aku memandangnya langsung tanpa ragu. Dia menghela naafas, tahu kalau aku bersungguh-sungguh. "Janji dulu. Kalau tiba saatnya nanti. Kau harus tetap menjalani hidupmu. Atau aku tidak akan tenang di sana."

Aku mengangguk dan airmataku mulai menderas lagi. Dia kembali memelukku mengelus punggungku. "Jangan menangis lagi, kau jelek kalau menangis. Aku akan kembali di sisimu kan."

Aku malah semakin menangis.

.

.

.

.

.

Kami kembali bersama dan aku kembali berusaha menjadi ceria. Jun sengaja dipindahkan dari sekolahnya yang dulu juga untuk pengobatan alternatif di sini. Meski ternyata tak ada efeknya. Aku bertemu Ayahnya yang begitu identik dengan Jun. Dia pasti pria yang tegar. Dengan sabar dia mengurus Jun, dan tidak menjadi stres misalnya, meski sudah ditinggal dua istrinya.

Jun tak lagi pobia pada Hujan. Kalau hujan tiba, kami akan bersama-sama ke jendela, membukanya lebar dan menikmati hujan. Jangan salahkan hujan untuk kesedihan dan kegalauan lagi.

Saat ini kami juga sedang menikmati Hujan secara live, di bawah jembatan, dengan sedikit paksaan. Karena awalnya aku tak mau mengajaknya ke sini, tapi dia terus merengek. Akhirnya aku setuju dengan syatat dia memakan baju setebal mungkin. Dan dia menurut. Begitu sampai, hujan mulai turun, dia tersenyum lalu mengajakku duduk mendekat, memeluk pinggangku sehingga kepalaku bersandar di pundaknya.

"Kalau aku pergi nanti, kau jangan membenci hujan."

Ahhh aku sebal kalau dia sudah mengungkit-ungkit kepergiannya. Aku hanya mengangguk di bahunya. Tak mau berdebat dengannya.

"Mungkin ini takdir terbaik buat kita. Karena cinta seperti ini terlarang di dunia, mungkin Tuhan akan menyatukan kita di dunia lain."

Aku melepaskan pelukannya dan memandangnya, "Sudah jangan bicara ini dulu."

"Tapi Seobie rasanya waktuku tak lama lagi. Kau tahu kadang aku takut untuk memejamkan mata, takut aku tak bisa lagi membukanya. Aku takut memikirkan bagaimana rasanya mati itu? Ada apa setelah kematian itu? Aku selalu bertanya-tanya sendiri."

Aku langsung memeluknya lagi dan menangis di bahunya. Aku tak bisa memberikan jawaban apapun karena aku sama takutnya. Aku sama tak tahunya.

"Tapi Seobie yang pasti aku akan tenang, kalau kau berjanji akan hidup baik setelah aku tak ada."

Aku mengangguk. "Iya aku berjanji." Desisku.

"Nah aku tenang kalau begitu. Aku berharap kau bisa menemukan penggantiku tak apa meskipun itu wanita, mungkin kau akan mempunyai anak, namai seperti namaku. Lalu setelah waktunya tiba temui aku, Tuhan akan menyatukan kita."

Aku semakin memeluk badannya yang kini tinggal tulang berbalut kulit.

"Seobie... boleh aku berbaring di pangkuanmu." Dia melepaskan pelukannya.

Aku hanya bisa mengangguk, pelan dia meletakkan kepalanya di pahaku, aku membelai rambutnya sambil tak henti menangis, dia mengulurkan tangannya dan menghapus air mataku.

"Jangan menangis! Aku ingin melihat senyummu..."

Aku menahan tangisku, menghapus air mataku dan memberikannya senyum terbaik yang kupunya. Ia melengkungkan bibirnya yang pecah-pecah dan menghitam. Tangannya terangkat mengelus rambut dan seluruh wajahku.

"Begitu baru bagus. Ahhh aku jadi lega melihat senyummu, emmm aku ingin tidur sebentar ya..."

Tidur? Tidak ! Apa ini saatnya? Aku ingin melarang, tapi aku tahu ini percuma kan. Belakangan kondisinya semakin kritis. Aku tahu saatnya sudah dekat. Aku terus mempersiapkan diri kalau-kalau dia pergi di saat yang tak terduga. Tapi rupanya aku tetap tak siap, aku tak bisa merelakannya.

Matanya terpejam. Nafasnya teratur, aku terus mengusap rambutnya, berusaha menahan airmataku.

Setelah entah berapa lama waktu yang kulewatkan dengan mengusap rambutnya. "Ju.. junnie..." panggilku pelan. Ayo menyahut lah Junnie, berikan kekehanmu. Senyum Jokermu.

Dia tak menjawab. Bahkan tak ada gerakan sekecil apapun dari bagian tubuhnya yang mana pun. Aku tak bisa menahan lagi. Airmataku berjatuhan di wajahnya. Semakin lama semakin banyak, tapi dia tak terganggu... dia tetap terpejam.. apakah dia? Benar-benar meninggalkanku?

Pelan aku meraba dadanya. Tak ada detakkan. Aku mendekatkan diri pada wajahnya menciumi seluruh bagian wajahnya, sambil menangis. Aku mengangkat badannya.

Tidaaaakkkkkkkk. Junnnieee. Teriakku dalam hati. Aku memeluknya erat.

.

.

.

.

END

.

.

.

EPILOG

Kini aku tetap mencintai hujan sebesar cintaku pada Jun. Karena ketika hujan lah aku merasa Jun mendatangiku. Bukannya aku percaya pada hantu yang bergentayangan. Tapi meski sudah meninggal, orang yang baik dan saleh itu bisa mengunjungki kerabatnya di dunia. Begitu katanya.

Aku tak lagi menangis, setidaknya tidak di mataku. Aku menangis dalam hati. Aku percaya ada takdir yang lebih baik untuk kami. Mungkin seperti kata Jun, di dunia lain nanti kami bisa disatukan.

Aku membuka jendela lebar, menghirup bau hujan, dan menikmati tamparan air hujan yang rasanya seperti belaian Jun. Aku tersenyum. Jun tunggu aku nanti.

.

.

.

Bagaimana? Arghhh saya sedang galau ketika membuatnya. Saya tahu penggemar BEAST sangat sedikit, tapi saya tetap menulis ini, karena saya sayang pada Seobie dan Jun. semoga ada yang membaca FF ini dan berkenan memberikan review ^^