Notes: Ternyata masih ada yang inget sama Godfather, saya terharuu QwQ #sniff Anyway, di chapter satu kemarin banyak yang lupa, yak, ini siapa jadi siapa? Nanti di tiap chapter saya tambahin kalo gitu, keterangan karakter mana yang jadi siapa, yaa~

Warning: Hint of slash/sho-ai bertebaran. Mau ada adegan tembak-tembakan dan baku hantam, ledakan, dll yang rada-rada lebay. Kriminalitas dengan bumbu action.


Il Dottore = Lovino Vargas/South Italy/Romano (topeng HITAM)

Il Capitano = Arthur Kirkland/UK/England (topeng MERAH-ORANYE)

Brighella = Rangga Wicaksono/OC/Indonesia (topeng HIJAU TOSKA)

Scapino = Razak Wicaksono/OC/Malaysia (topeng ORANYE)

Scaramuccia = Mathias Kohler/Denmark (topeng ABU-ABU MUDA)

Arlecchino = Alfred Jones/USA (topeng HITAM GARIS MERAH)

Tartaglia = Matthew Williams/Canada (topeng COKELAT TUA)

Sandrone = Natalia Arlovskaya/Belarus (topeng MERAH)

Pulcinella = Ivan Braginski/Russia (topeng UNGU TUA)

Burrattino = Ludwig Beilschimdt/Germany (topeng BIRU TUA)

Pantalone = Feliciano Vargas/Northern Italy/Veneziano (topeng PUTIH)


.

.

Tepat ketika Bonquier menutup mulutnya, terdengar suara pintu terbuka dan seseorang masuk ke ruang kerja luar biasa luas dengan pemandangan kota lepas pantai Monte Carlo yang spektakuler. Namun, ketika Rangga dan Mathias melihat siapa gerangan yang baru saja masuk sekaligus diperkenalkan Bonquier sebagai head of security-nya, keduanya tahu kalau wajah penuh kebosanan dan selalu mengantuk itu milik siapa.

Herakles Karpusi, tangan kanan Sadiq Adnan.

Napas tertahan dan jantung berdebar tak karuan, tegang bercampur takut, ketika Herakles berjalan maju mendekati dua anggota Commedia dell'Arte itu sambil mengulurkan tangannya. Wajah datar dan mata mengantuk itu tidak memberikan petunjuk apakah si pria berdarah Yunani itu mengenali Rangga ataupun Mathias, tapi untuk saat ini, dua orang ini bisa sedikit bernapas lega. Beruntung seluruhanggota tertinggi Commedia dell'Arte diharuskan memakai topeng dalam setiap misi Commedia dell'Arte.

Bayangkan kalau topeng keramik yang beratnya menyebalkan itu tak pernah mereka pakai. Pasti Herakles, Rangga, dan Mathias sudah saling menodongkan senjata, bukan berjabat tangan sambil tersenyum sopan seperti ini.

"Jadi, kalian berdua bantuan tambahan dari Commedia dell'Arte?" tanya Herakles dengan nada datar dan kelewat lambat. Ia menguap lebar sebelum kembali melanjutkan, "Aku tidak menyangka kalau Nona Mona kenal dengan mafia berkelas seperti kalian. Kalau begini, aku bisa santai dan lebih banyak tidur."

Rangga mengerjap-ngerjapkan matanya, entah mengapa jadi mengantuk. Sepertinya kantuk si Herakles itu menular...

"Mulai sekarang, kalian berdua akan berkomunikasi secara intensif dengan Karpusi." Ucapan Bonquier berhasil menyentak Rangga dan Mathias dari kantur yang mulai menjalar. Keduanya langsung menoleh ke arah Bonquier, wanita muda berkacamata yang sekarang sedang duduk santai di kursi kebesarannya memainkan pena mahal berujung perak dengan dokumen-dokumen hotel maupun kasino tersebar di meja kerjanya. Kakinya yang ramping dan berbalut stileto berhak tinggi itu menyilang begitu provokatif. "Dan sekarang, aku mau kalian mulai mengawalku seharian penuh. Tak ada yang namanya waktu istirahat, kalian mengerti?"

Rangga dan Mathias hanya mengangguk pelan, sementara Karpusi berjalan meninggalkan kantor Bonquier sambil menguap lebar. Double doors berbahan mahogani itu berdebam keras di balik punggung sang Yunani, meninggalkan Bonquier bersama kedua 'pengawal' barunya.

"Biasanya," Bonquier memutar kursinya dan menatap lurus ke arah Rangga dan Mathias sambil tersenyum kecil. "Asistenku yang memberi kalian rincian kegiatanku serta tugas. Tapi, aku tak terlalu percaya dengannya. Kalian pasti sudah tahu detail masalahnya dari Il Dottore, kan?"

"Il Dottore mengatakan tentang board member Anda yang berbuat curang dan ingin membunuh Anda." ucap Rangga dengan suara pelan dan begitu hati-hati. Dengan kemunculkan Karpusi, keterlibatan Adnan dalam kasino ini sudah jelas. Tinggal mencari celah untuk memancing sang nyonya rumah untuk membocorkan tujuan sebenarnya. "Apa Anda punya dugaan siapa kiranya yang kemungkinan besar punya rencana ini?"

"Menurutku semuanya." desah Bonquier. "Tapi, aku paling curiga dengan Li Macao dan seorang lagi dari Hong Kong, namanya Wang Lee. Dia rekan kerja yang dibawa Macao baru-baru ini dan kelewat pendiam."

Sekarang, giliran dua kartu nama bewarna merah marun dengan ukiran emas di sudut yang diserahkan Bonquier pada Mathias. Sejenak, sang businesswoman membiarkan Rangga dan Mathias untuk membaca segala informasi yang diberikan pada ketiga business card itu sebelum kembali melanjutkan, "Aku mencurigai dua orang ini karena menurut desas-desus yang kuterima, Macao sedang merencanakan pembukaan sebuah kasino besar yang lebih megah dari kasinoku di Hong Kong bersama rekannya itu. Aku curiga dia mau menggulingkanku dan mengambil alih kasino atau untuk menghancurkan kasinoku ini."

"Apa selain dua orang ini masih ada lagi anggota direksi yang Anda curigai, Nona Bonquier?"

"Ya, masih ada seorang lagi. Seorang pebisnis dari India yang kabarnya juga mempunyai rumah produksi film-film Bollywood di New Delhi. Namanya Raj Bhagat Singh. Kalau kalian mau mengawasinya, dia ada di sini, menginap selama enam bulan di salah satu royal suite hotelku. Sikapnya yang eksentrik itu teralu aneh untukku."

Royal suite, masih berdekatan dengan kamar yang disewa para anggota Commedia dell'Arte. Mungkin Scapino dan Il Capitano bisa dimintai tolong untuk memantau keadaan di kamar pebisnis satu itu.

"Untuk sekarang," Mona Bonquier beranjak dari kursinya dan mengambil blazer berwarna abu-abu bergaris putih berkilau—yang ternyata adalah berlian-berlian kecil yang dijahit mengikuti lajur putih sepanjang blazer—"Aku ada rapat dengan beberapa supplier-ku. Kalian harus mengikutiku kemana pun aku pergi. Kalian mengerti?"

Anggukan dari kedua anggota Commedia dell'Arte itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Bonquier.

.

.

"Apa? Kau memintaku untuk menyelidiki orang bersama Il Capitano?"

Omongan lantang dan penuh ketidakrelaan Scapino membuat Arthur Kirkland—Il Capitano—mendongak dari novelnya. Dengan kening berkernyit, sang british gentleman beranjak dari beranda kamar dan berjalan mendekat ketika namanya disebut. "Ada apa ini?" tanyanya pelan sambil menyentuh pundak Razak Wicaksono.

Sang pemuda melayu bermata cokelat itu menggeram kesal sebelum menutup telepon genggamnya dan menoleh ke arah atasannya. "Brighella baru saja meneleponku, mengatakan kalau kita harus mengawasi seorang board member Bonquier yang menginap tak jauh dari kamar kita."

Arthur hanya mengangguk-angguk mengerti. Sang pemuda berambut pirang itu mengambil satu kursi, tak jauh dari Razak, dan duduk di samping sang pemuda melayu. "Siapa?"

"Namanya Raj Baghat Singh. Seorang pebisnis dan pemilik rumah produksi di New Delhi." kata Razak. Sang hacker sudah bergerak cepat dan mencari tahu tentang sang pebisnis India melalui internet, bahkan membobol beberapa informasi pribadi yang tertutup. Telunjuk sang pemuda sibuk bergerak memutar scroll sambil membaca dengan teliti tiap informasi yang ia dapat dengan kening berkernyit. "Hm... dia tidak punya catatan apa-apa dengan mafia sebelumnya. Sepertinya, bisnis kasino ini hanya iseng saja."

"Bagaimana dengan anggota lainnya?"

"Brighella baru saja mengirimiku informasi tentang dua orang lainnya." Razak langsung membuka foto dua buah kartu nama yang baru saja dikirimkan Rangga. "Wang Lee dan Li Macao... Dua-duanya orang Asia yang diduga Bonquier mempunyai bisnis kasino dan berencana untuk menyingkirkan Bonquier untuk melancarkan bisnis mereka. Lalu—"

"Wang Lee?" ulang Arthur. "Bukankah Wang itu marga yang sama dengan Yao?"

"Benar juga..." gumam Razak lambat-lambat ketika nama sang supplier utama Commedia dell'Arte disebutkan oleh Arthur. "Kenapa namanya bisa sama? Dan kata Bonquier, Wang Lee ini dibawa oleh Li Macao sebagai rekan kerjanya membantu dalam board member. Apa ada kemungkinan kalau Yao juga kenal dengan orang ini?"

Arthur terdiam sejenak. Kedua mata zamrudnya tampak tak berkedip menatap layar laptop yang masih menampilkan foto kedua kartu nama. Jari telunjuk sang briton mengetuk-ngetuk meja, gestur yang biasa ia lakukan kalau sedang berpikir keras.

"Sepertinya, aku harus membuat satu panggilan lagi."

.

.

.

Karakter Hetalia Axis Powers yang muncul pada fanfiksi ini adalah kepunyaan Hidekazu Himaruya, saya tidak ambil untuk sepeser pun untuk pencomotan dan penistaan karakter di fanfiksi ini :P

Commedia dell'Arte adalah sebuah drama keliling di Italiayang diciptakan oleh seseorang yang tidak diketahui namanya

Sementara lisensi film Ocean's Eleven dan kedua sequel-nya dimiliki oleh Warner Bros

.

.

.

"Winner, winner, chicken dinner!"

Alfred Jones—Arlecchino—tersenyum cerah ketika seorang peserta blackjack di mejanya berhasil meraih keuntungan. Pupil yang berdilatasi, sedikit kehabisan napas, dan semangat berlebih—tanda dari adrenalin yang terpacu dengan begitu cepat dan segera memenuhi seluruh pembuluh darah. Kemenangan ini murni kebetulan, tidak direncanakan.

"Lucky bastard..." bisik Alfred pelan sambil tersenyum kecil. Tangannya masih sibuk membagikan kartu kepada dua orang yang masih bertahan ikut main di mejanya—termasuk sang pemenang yang sepertinya masih merasa kurang setelah memenangi 45000 dollar US—sementara satu orang memutuskan untuk mengundurkan diri. Dilihat dari ekspresi wajah dan caranya meneguk whiskey, sepertinya dia belum menang apa-apa dari meja judi di sini.

Perhatian Alfred teralihkan saat empat orang yang berbincang kelewat keras menghampiri mejanya. Salah satu dari mereka—seorang pemuda berkulit kecokelatan dengan rambut cokelat berantakan dan mata sehijau rumput, dengan senyum lebar penuh percaya diri—duduk di salah satu kursi kosong. Tanpa perlu bertanya, Alfred sudah tahu siapa nama dan pekerjaan pendatang baru di mejanya. Bukan sekedar sang pemain baru, tapi juga tiga orang yang mengiringinya, tak ikut bermain.

Antonio Fernandez Carriedo dan The Bad Touch Trio. Detektif yang sedang getol mengejar Commedia dell'Arte tanpa henti. Satu-satunya orang di kepolisian yang bisa membuat Il Dottore bagai kebakaran jenggot.

Coret. Il Dottore tidak punya jenggot. Kebakaran ahoge kalau begitu.

Sang polisi berdarah Spanyol itu mengambil beberapa chip dari tumpukannya dan meletakkannya pada kotak taruhan sambil tersenyum ramah pada Alfred.

Tumpukan kecil dengan pecahan 50 dollar, pikir Alfred. Si polisi ini mau main aman terlebih dulu rupanya, melihat apakah meja ini bisa menghasilkan keuntungan.

"Bisa-bisanya kau berjudi di saat kita ada tugas dari kepolisian..." gerutu Willem sambil melemparkan pandangan tak suka ke sekelilingnya. Sesekali, pemuda berambut jabrik itu meminum bourbon-nya.

Telinga Alfred langsung terpasang tajam ketika ia mendengar omongan Willem. Tugas. Empat orang ini datang karena urusan tugas. Apakah kepolisian sudah mencium misi Commedia dell'Arte sampai ke Monte Carlo? Atau jangan-jangan...

"Santailah sedikit, Willem. Anggap saja ini pekerjaan mencakup liburan." ucap seorang pria berambut putih yang memutar-mutar gelas birnya dengan santai. "Toh, kita ada di kota judi, Monte Carlo! Berjudi sekali-dua kali tidak ada salahnya, kan?"

"Tapi, kita polisi internasional yang sedang dalam misi." geram Willem. Mata cokelatnya memperhatikan dengan penuh kebosanan ketika Alfred kembali membagikan kartu. Putaran pertama barusan dimenangi oleh bandar, seperti biasa. Sang pemenang besar rupanya masih berniat beradu keberuntungan setelah kehilangan lebih dari setengah uang yang dia menangkan.

"Cerialah sedikit, mon ami~" Kali ini, seorang berlogat Prancis mendekati Willem dan melingkarkan tangannya ke pundak sang Belanda—yang nampaknya sangat tidak menyukai keintiman itu. "Toh, kita belum dapat berita apa-apa dari sumber kita mengenai keterlibatan Adnan."

Adnan. Sadiq Adnan.

Mendengar nama saingan terbesar Commedia dell'Arte disebut-sebut, Alfred semakin bersemangat. Terlalu bersemangat, sampai ia tak bisa menyembunyikan seringai penuh kemenangan yang ia miliki. Ah, ia tak pernah segembira ini ketika menang telak bermain scopa melawan Il Dottore sendiri.

Ini sudah jelas. Kalau sampai polisi juga mengetahui Adnan terlibat dalam bisnis kasino Monte Carlo, dugaan Il Dottore terbukti. Bonquier pasti mengkhianati Commedia dell'Arte dan memutuskan untuk beralih rekan dengan Adnan. Permintaan tolong sang nona besar penguasa kasino Monako itu adalah jebakan licik yang dibuat Bonquier untuk menghabisi anggota terbaik Commedia dell'Arte.

"Dia memintaku untuk menugaskan Brighella mengawalnya. Bahkan mengucapkan kalau kasinonya butuh review dari Arlecchino dan Il Capitano. Kalian tahu? Aku tak akan memberikan apa yang dia inginkan. Aku akan berikan orang-orang yang 'tak dia kenal', karena aku sedikit khawatir dia sengaja menyebutkan nama-nama itu untuk membunuh anak buahku."

"Sesuatu yang lucu, signore?"

Pertanyaan Antonio sontak membuat Alfred mendongak dan tersadar dari lamunannya. Mata cokelat beradu dengan emerald dan sejenak, Arlecchino tak tahu harus bicara apa. Sampai beberapa detik kemudian, roda-roda pada otak sang american mulai bekerja.

"Ah, bukan apa-apa." balas Alfred. Tangannya kembali mengambil kartu dan membagikan kepada para pejudinya. "Hanya menertawakan nasib Anda sekalian yang sepertinya kurang beruntung di meja ini."

Antonio menunduk, menatap kartunya. Tiga wajik dan empat keriting. Lawannya mendapat dua wajik dan lima sekop. Ketika mata emeraldnya menatap kartu yang ada pada Alfred, sang detektif hanya mendengus pelan. "Sial..." rutuknya.

Jack sekop dan as keriting. Blackjack.

.

.

"Katakan sekali lagi padaku apa yang kau lihat?"

Alfred Jones menggeleng kesal sementara mulutnya tak henti mengunyah burger. Sang pemuda berkacamata itu lalu memutar tubuhnya yang masih kelelahan seharian bekerja di meja blackjack dan menatap gerah ke arah Brighella. Sang pembunuh bayaran sedang bertukar posisi dengan Scaramuccia untuk mengawal Bonquier, memberikan cukup waktu baginya untuk mengetahui perkembangan apa yang didapatkan oleh teman-temannya.

Ternyata, perkembangannya terlalu cepat sampai-sampai ia sendiri tak percaya.

"Aku melihat Carriedo bersama tiga orang temannya di sini, tadi sore." ulang Alfred dengan mulut penuh. "Dia bahkan bermain sekali di mejaku dan pergi setelah kalah satu kali. Tidak seru sekali. Orang bodoh yang sempat menang besar itu saja masih memutuskan untuk bermain terus sampai uangnya habis."

Rangga menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi, mendadak kelelahan. Sungguh ini di luar dugaan. Di satu pihak, sang pembunuh merasa percaya diri dengan kemungkinan pengkhianatan, tapi di lain pihak dia merasakan kekhawatiran. Antonio Carriedo tidak bisa dianggap enteng. Kalau detektif satu itu sampai mengatasi kasus yang sama, bisa-bisa misi yang sudah disusun matang ini hancur berantakan.

"Apa kita harus melaporkan ini pada Il Dottore, Brighella?" tanya Scapino. Mata cokelat sang pemuda Asia tampak menyinarkan kekhawatiran.

Brighella tak segera membalas pertanyaan adiknya. Dia terlalu sibuk berpikir, menghubungkan titik-titik yang selama ini ia temukan. Sang pemuda bermata kelabu ini tahu kalau keterlibatan Herakles Karpusi berarti Sadiq Adnan juga terlibat.

"Burrattino," Ludwig Beilschmidt mendongak dari koran yang ia baca ketika Rangga memanggilnya. Mata biru cerahnya memancarkan keseriusan seperti biasanya, tapi sedikit tegang. "Kau bilang kalau kau bertemu Karpusi di ruang pengawas?"

"Ya, tepat saat aku mau keluar. Aku melihatnya berjalan memutari lorong sambil menguap—seperti biasa—dan dia menghilang dari pandanganku." jawab Ludwig. "Aku tidak menduga kalau dia adalah head of security kasino milik Bonquier."

"Aku dan Scraramuccia juga sama terkejutnya, Burrattino..." gumam Rangga sambil memijit keningnya. Sekilas, mata abu-abunya mengerling ke arah Il Capitano yang masih sibuk di sudut kamar hotel, menelpon entah siapa. "Keterlibatan Karpusi dan polisi yang mencurigai keberadaan Adnan di balik bisnis kasino Monte Carlo. Ini bukan kebetulan. Aku yakin kalau kecurigaan Il Dottore benar adanya."

"Mungkinkah kalau Karpusi mengkhianati Adnan?" tebak Arlecchino yang masih berkutat menghabiskan lima bungkus burger dan tiga porsi kentang goreng. "Toh, keduanya dari dulu tidak pernah akur, kan? Mungkin saja kalau si Karpusi merasa sudah waktunya ia lepas dari bayang-bayang Adnan, memberontak dari posisi sidekick dan memutuskan untuk menjadi hero-nya."

"Arlecchino benar, Brighella." kata Razak. Baru kali ini sang pemuda Asia menyetujui perkataa rekannya itu. Biasanya, mereka berdua selalu berbantahan dan adu mulut selalu terjadi. "Sekalipun polisi menduga Adnan terlibat, belum berarti kehadiran Karpusi bisa menjadi cukup bukti sebagai keterlibatan Adnan. Kita harus membuat Bonquier sendiri yang mengatakan itu."

Lagi, sang pembunuh hanya mengangguk-angguk mengiyakan omongan teman-temannya. Ia melirik ke arah Il Capitano sekali lagi dan menemukan sang briton masih sibuk berbicara. "Lalu, bagaimana dengan board member Bonquier? Kalian berdua sudah mengawasi si India itu?"

"Yep!" sahut Razak singkat. Sang hacker lalu menggeser kursi berodanya kembali ke depan laptop, menunjukkan beberapa data pribadi yang berhasil ia dapatkan. "Raj Baghat Singh. Catatan kriminalnya bersih, bahkan tak pernah melanggar lampu merah sama sekali. Sangat kaya dengan penghasilan dari kasino ini dan rumah produksinya—oh, film terbarunya gagal di pasaran, tapi penghasilan per bulannya tidak terpengaruh sama sekali. Single, tak punya kekasih, mudah bergaul, dan—ini agak aneh, sebetulnya—hobi bernyanyi di mana saja, kapan saja. Jadi, jangan heran kalau kau bertemu dengannya nanti dan dia mulai menyenandungkan entah apa yang sedang ia lakukan atau lihat dalam lantunan lagu."

"Unik..." komentar Rangga. "Aku mau kau terus awasi orang ini. Sekalipun dia mempunyai catatan bersih dan tampak tak berdosa, bisa jadi dia mulai berubah haluan. Kita tak pernah tahu, kan? Lalu, bagaimana dengan dua orang lainnya? Li Macao dan Wang Lee?"

Razak baru saja membuka mulutnya ketika Arthur datang menyela percakapan mereka dengan tawa pelan. "Kalian harus tahu siapa yang barusan kutelepon." katanya, sambil mengayun-ayunkan telepon genggamnya. Melihat raut kebingungan di wajah rekan-rekannya, Il Capitano kembali melanjutkan, "Wang Yao. Supplier utama kita, kalian ingat?"

"Kenapa dengan Yao?" tanya Alfred. "Dia mau datang dan membawakan kita makanan gratis? Kebetulan, aku masih lapar."

"Bukan, bukan. Aku punya berita yang lebih menarik ketimbang makanan Yao." kata Arthur sambil tersenyum lebar. "Aku tahu kalau nama itu terlalu familiar, ternyata benar. Aku sudah melakukan konfirmasi dengan Yao dan dia mengiyakannya. Bahkan, ia sedikit kaget ketika aku mengatakan bahwa—"

"Il Capitano," potong Rangga. "Apa yang mau kau bicarakan?"

"Ah, iya..." Sang pria berambut pirang itu berjalan mendekati rekan-rekannya dan kembali melanjutkan, "Aku merasa sangat familiar dengan nama salah satu board member. Belum lagi darah keturunan Tionghoa membuatku curiga kalau Yao pasti tahu dua orang ini. Saat aku menelepon dan menanyakan siapa gerangan dua orang ini, dia menjawab:

"Li Macao dan Wang Lee, aru? Wah, kalau mereka berdua itu sepupuku!"

"Sepupu?" ulang Rangga, berbarengan dengan Ludwig dan Razak. "Untuk apa Yao mempunyai sepupu di jajaran board member Bonquier?"

"Katanya untuk menambah penghasilan bisnis keluarga dan pengalaman serta memperluas jaringan bisnis sekaligus kekuasaan." balas Arthur sambil mengedikkan pundaknya dengan enteng, tak peduli.

"Apakah benar tentang kasino yang sedang dibangun di Makau?"

"Yao membenarkannya. Dia memang membangun kasino mewah di Makau untuk mengakomodasi orang-orang di Asia supaya tak perlu jauh-jauh ke Eropa atau Amerika untuk merasakan pengalaman berjudi kelas dunia." kata Il Capitano. "Tapi, saat aku tanya apakah dia mencoba cara licik untuk memenangi bisnis kasino dari Bonquier—let's say, membunuh Bonquier seperti itu—dan Yao menolaknya. Dia bilang:

"Aku? Membunuh? Tak mungkin, aru! Aku dan sepupu-sepupuku memang berencana untuk mendirikan kasino di Makau dan menjadikan Monte Carlo sebagai preseden, tapi membunuh? Ini keterlaluan, aru!"

"Aku baru ingat." gumam Burrattino lambat-lambat. "Tadi, aku mengecek siapa saja nama-nama orang yang memegang kendali atas kunci brankas kasino Bonquier. Ada tiga orang, yaitu Bonquier sendiri, sekretarisnya, dan Raj Baghat Singh."

"Salah satu dari mereka bisa membuka brankas kapan saja?" tanya Il Capitano.

"Tidak. Pun mereka memegang kode sandi untuk membuka brankas, kode terakhir tetap dipegang Bonquier. Tanpa kode milik Bonquier, brankas dan sistem pertahanannya tidak akan bisa ditembus, bahkan oleh Bonquier sendiri."

"Jadi," Arthur menatap berkeliling, memperhatikan wajah-wajah kebingungan dan berpikir keras. "Bagaimana menurut kalian? Apakah Yao berbohong atau Bonquier yang berbohong? Apakah Karpusi di sini bekerja untuk Adnan, atau sendirian? Lalu, bagamana dengan board member Bonquier? Informasi tentang brankas itu tentu membantu, tapi untuk apa? Terlalu banyak pilihan dalam kasus ini. Apa yang harus kita lakukan, Brighella?"

Semua pasang mata sekarang teralihkan pada Rangga Wicaksono. Sang pemuda berambut hitam ikal itu masih duduk tepekur, tampak berpikir keras. Keningnya berkernyit dalam, memikirkan berbagai macam cara untuk mencari tahu dan menghubungkan semua poin ini yang secara kasat mata tampak menyambung, tapi masih ada titik semu di baliknya yang membuat Rangga ragu untuk mengambil langkah selanjutnya. Kecuali langkah yang ini...

Tanpa banyak bicara, sang pembunuh jitu langsung berdiri dari tempat duduknya dan menyambar jas hitamnya. Terburu-buru, ia segera berjalan meninggalkan kamar hotel dan teman-temannya yang masih kebingungan.

"Kau mau ke mana, Brighella?" tanya Il Capitano. Sang english gentleman memutar matanya, lelah dengan sikap Rangga yang selalu seenaknya.

"Bonquier," sahut Rangga. "Satu-satunya cara untuk mengetahui apa benar Adnan ada di balik ini semua dan di mana ia berada adalah memaksa Bonquier untuk buka mulut." Sebelum Rangga keluar dari kamar, ia berputar dan berbicara pada Ludwig, "Telponkan Pulcinella. Aku harus bicara dengannya."

.

.

Antonio Fernandez Carriedo mendesah lesu. Baru setengah jam dia berkelana mengitari lantai kasino dan uangnya menguap begitu cepat. Mungkin benar kata Willem. Dia tak boleh terbawa suasana hingar-bingar kasino Monte Carlo yang tersohor dan kembali fokus kepada pekerjaannya.

"Mana Francis?" tanya sang pemuda Spanyol kepada rekannya, Gilbert Beilschmidt, yang bersandar pada satu mesin slot yang sedang dimainkan Willem—tidak benar-benar dimainkan, pria Belanda itu hanya sekedar duduk sambil menyeruput bourbon-nya.

"Mencari data tambahan, katanya." sahut Gilbert malas-malasan. Mata rubinya tak henti menatap ke arah yang sama dengan Antonio. "Kurasa, dia hanya mencari alasan untuk mencari perempuan. Dasar, sangat tidak awesome."

Sang detektif berambut cokelat ikal hanya mengangguk-angguk sementara mata zamrudnya masih terpancang pada sosok tegap bersetelan abu-abu dengan potongan rambut shaggy asimetris. Seorang pegawai berseragam kasino tampak memberikan sebuah amplop hitam bersampul keras dan membisikkan sesuatu ke telinga si pria berambut hitam lurus yang hanya mengangguk. Ketika si pegawai pergi, Antonio memberi isyarat kepada tiga rekannya untuk bergerak, tepat ke arah si pria berjas abu-abu.

"Permisi," sapa Antonio dengan suara dan senyum ramah seperti biasanya. Tangannya dengan sigap mengambil lencana kepolisian dari saku celananya. "Boleh kami bicara sebentar dengan Anda, Tuan Neoklis Procopiou."

Sang sekretaris merangkap manager hotel dan kasino itu mengangkat kedua alisnya, sedikit kebingungan. "Well, tidak ada yang mengabariku tentang kedatangan kalian kemari." katanya. "Aku harap kalian tidak datang ke kasinoku untuk mengadakan penggeledahan masalah pemalsuan uang atau kecurangan kasino, kan?"

"Oh, bukan, bukan!" balas Antonio dengan cepat dan diiringi tawa. "Kami bertiga dari divisi narkotika dan barang-barang ilegal."

"... apa surat-surat minuman keras kami bermasalah? Apa tamu kami kedapatan membawa narkotika atau senjata berbahaya?"

"Tidak, bukan begitu. Kami mendapat kabar dari informan kami kalau sindikat mafia mulai menguasai kasino ini. Untuk itulah kami harus bicara dengan Anda, Tuan Procopiou, untuk memberi kami sedikit pencerahan tentang ini."

Sejenak, Antonio melihat rahang sang pemuda Cyprus menegang dan kembali menghilang di balik postur tenang sang pemuda. Antonio juga melihat sudut bibirnya sedikit berkedut dan menghilang.

"Sayang sekali, saya tak bisa banyak membantu." desah Procopiou sambil menggeleng pelan. Sekilas, sorot matanya tampak begitu sedih dan kehilangan, namun segera tergantikan oleh sorot ketegasan seperti semula. "Urusan seperti itu akan lebih dimengerti oleh pemilik kasino, Nona Mona Bonquier. Saya hanya menjalankan amanat dari beliau dan menjaga kelangsungan hotel sekaligus kasino dengan baik."

"Oh. Kalau begitu, bisakah Anda pertemukan kami dengan Nona Bonquier?" Giliran Willem yang bertanya.

"Nona Bonquier terlalu sibuk." Dengan sigap, Procopiou membuka iPad-nya, mengecek jadwal sang atasan sekaligus jadwalnya dan meletakkan iPad itu dalam keadaan tak terkunci tepat di atas mapnya. "Dan saya juga terlalu sibuk untuk meladeni pertanyaan kalian. Banyak yang harus saya urus dengan kasino dan hotel sebesar ini. Permisi."

Menghiraukan pandangan tak senang dari dua polisi di belakangnya, Procopiou memutar tubuh dan mulai berjalan menjauh, kembali memfokuskan pikiran pada pekerjaan yang menanti. Ia harus segera mengecek segala data statistik yang ada di dalam map hitam ini, membuat laporannya, lalu memberikannya kepada Bonquier sebelum makan malam. Salah sedikit saja bisa berakibat fatal pada nasib pekerjaannya dan—

"Apa Anda masih tidak mau bicara kalau ini menyangkut Sadiq Adnan, Tuan Procopiou?"

Langkah kaki sang pemuda Cyprus terhenti. Tubuhnya kaku ketika mendengar nama itu disebut. Reaksi spontan yang membuat Antonio tersenyum lebar seraya berjalan mendekati Procopiou.

"Bagaimana?" desak sang detektif Spanyol seraya melirik ke arah lawan bicaranya yang masih memasang topeng datar. "Dilihat dari reaksi Anda, sepertinya nama itu sudah tidak asing lagi di telinga Anda, ya?"

"... Dari mana kau tahu tentang Adnan...?"

"Oh, katakan saja burung-burung yang berkicau setiap pagi dan lewat di depan jendela apartemenku yang membisikkan informasi ini." Sang detektif berambut cokelat ikal itu tersenyum lebar. Matanya mengerling ke arah sang pemuda Cyrpus, memperhatikan sekilas bawaannya. Hm... Sepertinya sang detektif mencium sesuatu... "Tak penting dari mana kami mendapatkan informasi itu. Apa Adnan mengancammu untuk tidak bicara sampai—"

"Aku tak bisa bicara di sini, sekarang." desis Procopiou. Dengan tergesa-gesa, pemuda berambut hitam itu merogoh ke dalam saku jasnya dan mengeluarkan buku catatan sekaligus pena. Ia lalu merobek satu halaman kosong dan menulis sesuatu dan memberikannya kepada Antonio. "Temui aku di tempat itu, pada jam yang kutentukan. Aku harus pergi sekarang."

Antonio masih terdiam sambil memandangi sobekan kertas di tangannya ketika Willem dan Gilbert datang menghampirinya. Procopiou sendiri sudah menghilang di tengah kerumunan orang yang sibuk mengantri menukarkan chips mereka.

"Ada apa? Apa yang dia katakan?" tanya Gilbert, penasaran. Mata rubinya mencoba mencuri lihat apa yang ditulis pada sobekan kertas tersebut, namun gagal.

"Dia mengajak kita untuk bertemu di sebuah kafe di luar kasino." jawab Antonio sambil menyerahkan kertas tersebut kepada Gilbert, sementara ia mulai berjalan dengan cepat menuju pintu keluar kasino. "Telepon Francis. Katakan kalau dia kutunggu di kafe. Kita akan dapat bocoran tentang keterlibatan Adnan di sini, serta tujuannya!"

"Tu... tunggu sebentar, Antonio!" panggil Gilbert yang kewalahan mengikuti langkah lebar dan cepat sang detektif bermata zamrud. "Kenapa kau langsung menyebut nama Adnan? Bukankah itu berbahaya? Bagaimana kalau dia melapor pada Bonquier dan Bonquier memanggil Adnan untuk membunuh kita semua? Bukannya misi kali ini harus dijalankan sehalus mungkin tanpa ada adu tembak dan—"

"Gilbert," Suara tawa yang begitu renyah keluar dari mulut sang spaniard, menertawakan rentetan racauan sahabatnya itu. "Tenang saja. Aku yakin dia tidak akan melapor pada Bonquier. Malah, dia senang kalau ada kita di sini."

"Dia?" ulang Willem sambil mengernyitkan keningnya, kebingungan. "Maksudmu orang tadi? Manager kasino dan hotel ini?"

"Ya!" sahut Antonio, antusias. "Dia pasti mau menceritakan apa saja tentang Adnan kepada kita. Percayalah, dia tak mungkin melapor pada Adnan, ataupun Bonquier. Jadi, penyerangan besar-besaran sekaligus tembak-tembakan ala perang mafia tidak akan terjadi."

Sorot mata kecokelatan milik sang pria Belanda masih terasa menusuk, penuh keraguan. Lambat-lambat, ia kembali membuka mulut dan berbisik pelan, "Kenapa kau bisa seyakin itu, Antonio? Apa yang mendorongmu sampai berasumsi ia mau membantu kita? Dia tangan kanan Bonquier. Tak mungkin—"

"Karena dia mencintai Bonquier."

.

.

Sudah lebih dari sepuluh menit semenjak Procopiou meninggalkan catatan kepada Antonio untuk pergi ke Le Cafe de Paris dan menunggunya, tapi sosok sang sekretaris merangkap manager tak kunjung tampak batang hidungnya. Sementara itu, empat orang polisi yang menanti mulai gelisah, khawatir narasumber mereka mangkir dari perjanjian. Masih mending kalau Procopiou mendadak malas atau takut untuk menemui mereka. Bagaimana kalau dia malah melaporkan kedatangan empat orang polisi internasional kepada Adnan? Satu hal yang berkali-kali dikatakan oleh Berwald Oxentierna adalah tidak menarik perhatian orang awam, apalagi sampai jatuh korban dari pihak sipil. Cafe terbuka dan ramai seperti ini benar-benar menjadi ladang empuk nan mengerikan untuk terjadi sebuah adu tembak antara mafia dengan polisi.

Namun, Willem lebih mengkhawatirkan satu hal ketimbang waktu yang semakin menipis dan kemungkinan serangan mafia dadakan.

"Apa-apaan, ini? Harga minuman dan makanan termurah—termurah—30 euro?" Sang pemuda berambut pirang jabrik itu lalu menghempaskan buku menu berwarna putih dengan tulisan 'Le Cafe de Paris' dengan ukiran manis khas art deco.

"Baru sepuluh menit, Willem. Sabarlah sedikit." gumam Antonio. Mata hijaunya sibuk menelusuri menu—sedikit berjengit antara kebingungan dan sebal ketika mata tertuju pada harganya—"Toh, ini kemauan narasumber. Mungkin, di tempat ini dia bisa lebih santai dan menceritakan semuanya."

"Omong-omong," Francis mendongak ke arah Antonio setelah memesan sundae, menghiraukan pramusaji yang mengangguk penuh hormat sebelum menjauh dari meja mereka. "Dari mana kau tahu kalau si Neoklis itu jatuh cinta pada atasannya?"

"Dari cara dia bersikap setiap kali nama Bonquier dan mafia disebut." sahut Antonio enteng. "Kalian tentu sudah baca dari ringkasan misi kali ini mengenai sifat Bonquier? Keras, semaunya sendiri, merelakan segala cara untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya. Intinya, dia kelewat ambisius."

"Bahkan Kiku juga sempat menyebutkan tentang gosip Bonquier yang mendorong ayahnya terjun bebas dari lantai teratas hotel mereka. Katanya untuk mendapatkan hak kepemilikan hotel dan kasino secara utuh." sambung Francis. "Entah itu gosip atau memang benar-benar terjadi."

"Tak ada asap tanpa api, Francis. Berita burung seperti itu pasti ada asal muasalnya. Nah, masalahnya sekarang adalah berapa banyak perubahan yang dibuat atas berita awal tersebut?" Kali ini giliran Gilbert yang menimpali.

"Nah, berdasarkan sifatnya itu, tak heran kalau Bonquier akan melakukan tindakan ekstrim lainnya untuk memperoleh yang dia mau. Sebuah kerja sama terselubung dengan mafia, misalnya. Bonquier juga tak mungkin mendiskusikan hal ini dengan Procopiou. Toh, dia hanya bawahan biasa yang terpaksa menerima apa pun komando dari sang atasan."

"Aku masih belum menangkap kenapa kau bisa menarik kesimpulan seperti itu dari ini semua..." gumam Francis sambil menggeleng pelan.

"Kan aku sudah bilang kalau aku melihat dari sikap Procopiou ketika nama Bonquier disebut. Sorot mata sedih dan kesepian—kemungkinan besar karena ia merasa gagal untuk melindungi orang tersayangnya dari tindakan bodoh yang selama ini dia lakukan—lalu ekspresi wajahnya yang mengeras seperti marah ketika nama Adnan disebut."

"Bisa saja dia marah kepada kita bertiga waktu itu karena bisa tahu rahasia kasinonya..."

"Kurasa tidak. Lalu, aku sempat melirik ke arah iPad-nya yang belum sempat dikunci. Bawahan mana yang memasang foto bosnya sebagai wallpaper gadget-nya? Bawahan yang kelewat memuja sang atasan? Rasanya Procopiou bukan orang seperti itu. Dia jatuh cinta. Belum lagi wangi parfum wanita di setelan jasnya—"

"Tunggu sebentar," potong Willem. "Parfum wanita, katamu? Jadi, dia dan Bonquier..."

Sang detektif Spanyol itu menghela napas panjang, seolah berat rasanya untuk menanggapi omongan Willem. "Sepertinya Bonquier tahu perasaan Procopiou padanya dan... mungkin... yah..."

Kebisuan menyelimuti keempat polisi yang duduk melingkari meja bundar bertaplak putih itu. Hingar-bingar para turis dan orang-orang yang menikmati afternoon tea, para pramusaji yang sibuk menanyai pesanan pelanggan, dan derap langkah yang mondar-mandir dari teras ke dalam kafe atau sebaliknya menjadi kontras suara yang cukup mengerikan.

"Perempuan itu makhluk yang menyebalkan." Willem van der Plast adalah orang pertama yang angkat suara—sekalipun itu suara kebencian. Sang pria Belanda hanya mendengus sebal dan menyandarkan dirinya ke punggung kursi rotan berwarna cokelat muda berbantal busa dengan kain lembut berwarna putih. Mata cokelatnya lalu menatap berkeliling, memperhatikan kerumunan pengunjung teras kafe—kebanyakan turis yang datang berkelompok—yang duduk bercengkrama dengan santai di bawah payung besar berwarna putih, serta pramusaji yang sibuk mondar-mandir membawa pesanan. Otak materialistis Willem mau tak mau langsung menghitung total harga dalam satu nampan saji. Tindakan itu langsung ia sesali. Sekarang dia mual sekaligus muak ketika kirasan harga puluhan, bahkan ratusan euro melayang di kepalanya.

Mata cokelatnya lalu menyorot lebih jauh, melewati deretan satu set meja makan berkursi empat dengan payung putih dan melihat deretan bangunan bertema art deco yang serupa berjajar mengitari kafe. Tak jauh dari kafe, Willem bisa melihat puncak Casino du Monte Carlo dan deretan french window Hotel de Paris. Plang kafe yang begitu mencolok—berukuran besar dengan material besi tempa dan bentuk yang unik menyerupai kipas yang terbuka serta warna hijau gelap yang menyolok di tengah-tengah warna putih gading dan krem—menjadi penyambut tamu ketika memasuki Le Cafe de Paris. Pohon-pohon palem kecil dalam pot berwarna krem pastel menjadi pembatas antara teras kafe dengan pedestrian way di luar sana.

Tepat ketika pesanan Francis dan Gilbert—sebuah sundae stroberi berukuran besar dan segelas kopi espresso—datang, Willem melihat sosok yang dinanti mulai memasuki area kafe.

Neoklis Procopiou masih mengenakan setelan jasnya. Wajar, karena hari itu cukup dingin menjelang masuknya musim gugur. Ia terlihat menyeberang dari Hotel de Paris menuju Le Cafe de Paris dengan begitu hati-hati. Matanya menatap ke kiri dan kanan lebih banyak dari yang seharusnya—mungkin mengawasi apakah anak buah Adnan maupun Bonquier mengawasinya. Ketika ia memasuki lokasi Le Cafe de Paris, sang pemuda Cyprus butuh waktu cukup lama untuk menemukan posisi Antonio dan yang lainnya. Ketika ia berhasil menemukan meja yang ia tuju, masih dibutuhkan sekitar satu menit untuk mencapai meja tersebut.

Ketika ia akhirnya sampai ke meja Antonio, sang pemuda berambut shaggy asimetris itu langsung merebahkan tubuhnya yang kelelahan ke atas kursi rotan berbantalan empuk. Matanya terpejam, menikmati angin dingin yang menerpa wajahnya. Semenit kemudian, Procopiou langsung menegakkan posisi duduknya, memesan segelas capuccino kepada pelayan, dan kembali memasang mimik seriusnya. "Jadi, apa yang ingin kalian ketahui?"

"Kami ingin tahu apakah benar Adnan terlibat dalam bisnis kasinomu." kata Willem. "Sadiq Adnan bukan mafia sembarangan. Sekalinya kalian berhubungan dengannya, akan sangat sulit untuk melepaskan diri dari cengkeramannya. Beritahu kami apa yang dikerjakan Adnan di sini dan bagaimana kami bisa menemukannya. Lalu, apakah kau punya bukti yang cukup untuk membeberkan keterlibatan Adnan dalam bisnis kasinomu?"

"Sebentar," Procopiou terbatuk sebentar dan kembali mendongak—kali ini sorot badam hitamnya tertuju lekat ke arah Willem seorang—"Kalau tak salah, rekanmu sendiri yang mengatakan kalau kalian itu dari divisi narkotika dan senjata ilegal. Apa hubungannya itu semua dengan kasino? Di sini, uang hanya berputar di dalam kasino. Kami juga tidak terlibat perdagangan senjata dan—"

"Menurutmu, dengan apa mafia bisa membeli obat dan senjata terlarang, hm?" Kebisuan Procopiou sudah menjawab pertanyaannya sendiri. "Kami curiga Adnan menggunakan uang-uang hasil kasino dan hotel Bonquier untuk memperluas jaringan narkoba dan penjualan senjata gelapnya."

"Bukankah itu malah merugikan Nona Bonquier kalau seperti itu?"

"Tidak juga. Ini adalah hubungan timbal balik yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Adnan mendapatkan uang untuk memperluas jaringannya, sementara Bonquier mendapatkan kepastian keamanan serta pembunuh bayaran yang selalu siap sedia untuk ia suruh membunuh para pesaingnya." jawab Antonio dengan begitu santainya. "See? Timbal balik."

Sepertinya penjelasan Antonio an Willem masih kurang cukup untuk meyakinkan Procopiou. Sorot mata kecokelatan sang pemuda Cyprus masih menatap skeptis ke para polisi di depannya. "... Aku masih tak yakin. Apa yang membuat kalian begitu yakin kalau sumber dana Adnan adalah Nona Bonquier? Bagaimana kalau itu adalah pengusaha lainnya? Mungkin saingan bisnis Nona Bonquier yang ingin memfitnahnya, membuatnya kalah dalam bisnis kasino karena gosip menjijikkan ini."

"Saya sudah katakan tadi kalau kami mendapatkan info ini dari salah satu orang dalam yang menyusup ke dalam kubu Adnan—"

"Bagaimana kalau dia salah?" bentak Procopiou. "Bagaimana kalau mata-mata kalian itu justru dijebak, atau malah menjebak kalian, hm?"

"Dia tidak mungkin berbuat seperti itu. Dia mata-mata handal yang sanggup menyusup tiap organisasi tanpa terbaca jejaknya, bagaikan seorang ninja." balas Antonio sambil tersenyum. "Toh, dari reaksi spontan yang Anda berikan tadi di kasino sudah cukup menjadi bukti bahwa Anda tahu tentang Adnan. Nama Sadiq Adnan bukanlah nama kriminal yang biasa beredar dari mulut ke mulut. Dia tak pernah sudi mengotori tangannya dengan darah korban, tapi menerima semua hasil akhir yang dikerjakan oleh anak buahnya."

"Selain itu," Gilbert merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang cukup kecil. Dari dalam amplop itu, ia mengeluarkan beberapa lembar foto dan menjejerkannya di depan Procopiou. "Kami berhasil menangkap sosok Herakles Karpusi, tangan kanan sekaligus pembunuh nomor satu Adnan. Lihat, di foto ini, tampak ia sedang mengawal Bonquier ke dalam kantornya. Yang satu ini ketika keduanya sedang mengarah tepat ke kasino."

Procopiou terdiam. Matanya menatap sayu ke tangannya yang terkepal erat di atas pangkuan. Detik berlalu, akhirnya ia membuka mulut dan mendesah panjang. Raut kekalahan, kesedihan, sekaligus kekecewaan bercampur aduk menjadi satu ketika ia mendongak dan menatap para polisi itu. "Kalian benar..." katanya. "Tak ada gunanya aku menyembunyikan ini semua aku akan ceritakan semuanya."

Procopiou bercerita tentang pertemuan Adnan dan Bonquier pertama kali. Tanpa menyembunyikan identitasnya, Adnan langsung mendatangi Bonquier dan mengajukan kerja sama yang sangat menggiurkan. Katanya, Bonquier hanya butuh menyediakan sejumlah kecil uang dan Adnan akan memberikan perlindungan setiap saat. Kapan pun Bonquier menginginkan jasanya untuk membunuh musuh, ia akan menyediakan pembunuh terbaiknya tanpa berpikir dua kali. Mengingat Bonquier yang kelewat ambisius dan tak sabaran, tentu tawaran ini segera diiyakan oleh sang pemilik kasino. Sejumlah uang langsung ia berikan kepada Adnan dan sebagai gantinya, Adnan mengutus Karpusi untuk menjadi pengawal pribadi Bonquier. Sebagai jaminan kerja sama keudanya, kata Adnan.

Melihat sikap berani dan penuh dedikasi Adnan, Bonquier dengan mudah terpancing. Langkah selanjutnya, Adnan dengan mudah meminta apa saja kepada Bonquier dan segera diiyakan oleh sang perempuan muda berambut pirang itu.

Yang membuat Procopiou khawatir belakangan ini adalah Bonquier yang jadi terlalu terobsesi dengan misi menjatuhkan saingan bisnisnya, sampai-sampai melalaikan pekerjaannya sendiri untuk mengurus hotel dan kasino. Selain itu, Bonquier menjadikan Adnan sebagai salah satu pemegang kunci untuk membuka brankas, membuat sang mafia semakin mudah untuk mendapatkan uang-uang Bonquier. Tentu, ia tak bisa mengambil uang itu sendirian. Adnan tetap harus mengabari Bonquier setiap dana yang ia butuhkan. Tapi, melihat tabiat Bonquier yang tak pernah membaca dengan teliti ataupun mendengarkan dengan seksama, ia pasti mengiyakan permintaan Adnan. Hal ini membuat kasino dan hotel mulai mengalami kemunduran dalam finansial. Bonqueir tak pernah tahu tentang ini semua, karena Procopiou menutupi semuanya. Ia tak mau Bonquier tahu tentang hal ini dan menjadi depresi.

"Jadi, kau mau bicara dengan kami karena kau mengkhawatirkan Bonquier?" tanya Francis.

"Bukan hanya Nona Bonquier. Aku juga mengkhawatirkan para pegawai kasino dan hotel. Kalau kasino dan hotel sampai jatuh ke tangan Adnan, semuanya bisa kacau. Aku tak yakin dengan apa yang akan terjadi pada para pegawai yang sekarang apabila Adnan berhasil memegang kendali penuh atas kasino..." sahut Procopiou. "Makanya, aku meminta pada kalian untuk segera melumpuhkan Adnan."

"Bagaimana caranya—"

"Herakles Karpusi." kata Procopiou dengan tegas. "Kalau kalian berhasil menangkapnya, Nona Bonquier akan panik dan kemungkinan besar, Adnan beserta para anak buahnya yang menyamar di dalam kasino maupun hotel akan muncul. Aku tidak menjanjikan kalau baku tembak akan terhindarkan, tapi... tolong jangan sampai membuat tamu-tamu kami ketakutan. Kalian mengerti, kan?"

"Tentu," jawab Antonio. Detektif berdarah Spanyol itu masih sibuk menyatat beragam informasi yang baru saja ia dapatkan. "Omong-omong, bagaimana dengan board member Bonquier? Informan kami mengatakan kalau mereka juga sedikit mencurigakan.

Procopiou terlihat begitu tidak nyaman ketika mendengar pertanyaan Antonio. Matanya melihat ke kiri dan kanan, menghindari pandangan keempat polisi yang duduk di depannya sementara tangannya meremas-remas ujung taplak meja. "Aku... entahlah. Tapi yang jelas, Nona Bonquier sangat tidak menyukai beberapa orang dalam jajaran board member-nya."

"Siapa? Bisakah Anda memberi kami nama?"

"Aku tidak—"

"Nama, Tuan Procopiou. Kumohon."

Sang pemuda Cyprus mengehela napas panjang. Matanya melirik ke kiri dan kanan, penuh was-was, lalu mencondongkan tubuhnya dan berbisik pelan, "Li Macao, Wang Lee, dan Raj Baghat Singh. Tapi, aku tak tahu mana yang terlibat langsung dengan Adnan. Permisi, aku harus segera pergi..."

Begitu menyebutkan tiga nama tersebut, Procopiou langsung berdiri dan undur diri. Dengan langkah tergesa-gesa dan sedikit ketakutan, ia berjalan menjauh dari Le Cafe de Paris dan kembali ke dalam Casino de Monte Carlo.

Antonio dan tiga orang rekannya sibuk menerka-nerka siapa gerangan tiga orang tersangka itu. Beruntung, mereka punya informasi yang sudah lama mengakar dalam ingatan mereka. Sebuah informasi yang sangat bodoh apabila mereka lupakan begitu saja, karena informasi ini sangat penting ketika berhadapan dengan salah satu kelompok mafia yang paling ditakuti saat ini.

"Wang Li..." ulang Gilbert. "Namanya mirip sekali dengan nama Wang Yao. Kalian ingat, kan? Si pedagang opium, senjata, dan konon katanya pernah memimpin Triad selama beberapa tahun lalu hengkang dengan alasan bosan?"

"Ya," gumam Willem. Sang polisi berdarah Belanda itu tak bisa menyembunyikan senyum lebar penuh kegembiraan dan penuh semangat ketika mendengar nama familiar itu meluncur keluar dari mulut Procopiou. "Si supplier utama kelompok brengsek itu."

"Sepertinya kita punya dua musuh pada kasus kali ini, Antonio." kata Francis tenang seraya menjilati sendok es krimnya. Mata birunya melirik ke arah sobatnya yang masih duduk terdiam menatap buku catatannya. "Kiku ternyata benar. Kasus kali ini terlalu mustahil bila hanya ditangani oleh kita berempat. Kita butuh tambahan pasukan lagi."

"Tidak perlu." kata Antonio. "Menurut penuturan Procopiou, sepertinya terjadi perpecahan antara Bonqiuer dan kelompok yang pertama. Bonquier mengkhianati mereka dengan menjalin kerja sama dengan Adnan. Aku yakin kalau mereka pasti sudah ada di Monte Carlo untuk mengurus pengkhianat ini."

"Berarti, kita harus menyelamatkan Bonquier sebelum mereka atau Adnan yang—"

"Tidak perlu. Biarkan dua kubu ini saling memancing satu sama lain. Adnan pasti tidak ingin melepaskan penyokong dana sebesar Bonquier, sementara kelompok yang satunya sudah cukup muak dengan sikap Bonquier. Jadi, dengan segala kemampuan yang ada, Adnan akan berusaha untuk melindungi Bonquier, sementara yang satunya malah sebaliknya."

"Oh, aku mengerti. Kita biarkan mereka saling pancing untuk keluar dari sarang masing-masing, lalu kita sergap mereka dan ringkus bersamaan. Begitu, kan?"

"Ya. Sekali-kali, tak ada salahnya kalau memanfaatkan Commedia dell'Arte, kan?"

.

.

Rangga dan Mathias sekarang berdiri tak jauh dari meja bulat dimana Bonquier dan dua saudara—ehem, suami-istri—Braginski duduk. Dua orang ini harus mengawal Bonquier, mengamankan sang pemilik kasino dari mara bahaya yang mengintai. Karpusi tak tampak batang hidungnya di mana pun, membuat Rangga dengan segera meminta Ludwig, Alfred, Feliciano, dan Razak untuk mengawasinya setiap saat. Tak baik kalau mereka sampai kehilangan sosok penting yang menjadi kunci jawaban keberadaan Adnan.

"Jadi, Anda adalah pemimpin mafia terkemuka di Rusia?"

Perhatian Brighella kembali teralihkan pada percakapan bisnis antara Bonquier dan Ivan. Natalia sendiri sepertinya terlalu menikmati perannya sebagai 'istri' Ivan dan memutuskan untuk memeluk erat lengan kakaknya, membuat Ivan sangat gelisah. Entah memang mencari kesempatan dalam kesempitan atau salah satu metode sang adik untuk melindungi kakak yang paling ia sayangi—ehem, cintai...

"Da," sahut Ivan. Mata violetnya sesekali melirik ke arah Natalia yang balas menatap sangar. Memutuskan kalau bicara dengan Natalia tidak akan berujung baik, sang pemuda berambut perak itu kembali mendongak dan melemparkan senyum horor andalannya. "Aku bermaksud untuk mengembangkan bisnisku. Seseorang membisikiku untuk mendatangimu karena kau tahu seseorang yang bisa kumintai bantuan."

"Apa maksudmu? Kau mau minta uang padaku untuk mendukung ekspansi mafiamu?" balas Bonquier dengan nada ketus.

"Bukan begitu, Nona." Ivan terkekeh dan mengusap-usap tongkat jalannya—pipa favorit yang dimodifikasi sedemikian rupa oleh Feliciano sampai menyerupai tongkat jalan berhiaskan permata dan emas—"Aku hanya ingin meminta Anda untuk memperkenalkan aku dengan dia."

"Siapa maksudmu 'dia'?"

"Sadiq Adnan, tentu saja."

Rangga tersenyum kecil. Tindakannya sangat tepat ketika meminta Pulcinella untuk pura-pura tertarik dengan bisnis Bonquier dan mengajukan kerja sama. Tapi, perkembangan yang terjadi belakangan ini—terutama dengan kedatangan empat orang polisi tersebut—membuat Rangga terpaksa mengambil langkah ekstrim dan meminta Pulcinella untuk segera mendesak Bonquier dengan satu nama:

Sadiq Adnan.

Rupanya, tak-tik itu cukup berhasil. Meski hanya sekilas, sang perempuan muda berambut pirang itu menunjukkan reaksi terkejut yang sangat kentara di wajahnya. Mungkin, ia tak menduga kalau kerja samanya dengan Adnan bisa tercium oleh pihak lain. Selain itu, Bonquier juga menunjukkan sedikit raut ketakutan dan was-was. Wajar dia merasa takut. Sampai orang asing seperti Braginski bisa tahu tentang kerja samanya dengan Adnan, berarti Il Dottore juga bisa mengendus pengkhianatan ini. Tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk membongkar kedoknya dan mungkin membunuhnya.

"... aku tidak kenal dia." desis Bonquier buru-buru. Wajahnya sedikit memucat. "Sayang sekali, aku tidak bisa membantu Anda untuk yang satu ini."

"Benarkah? Padahal aku mendapatkan rekomendasi langsung dari salah satu bawahan Adnan." Senyum lebar terpasang di wajah Ivan; sebuah senyum intimidasi yang sanggup membuat Rangga maupun Mathias merinding ngeri. "Mungkin, kau tahu dia. Toh, orang ini salah satu anggota board member-mu, da."

"Salah satu board member-ku?" ulang Bonquier. Mata di balik kacamata itu menyipit penasaran sekaligus menantang. "Siapa? Aku ingin namanya. Sebutkan."

Sesaat, ruangan itu dipenuhi keheningan yang menyesakkan. Natalia semakin mengencangkan pegangannya pada lengan sang kakak, sementara tangan yang satunya merambat ke pinggangnya, mencari-cari pisau mungil yang selalu ia bawa-bawa. Rangga dan Mathias juga sama tegangnya dengan Natalia. Bisa bahaya kalau Ivan salah menyebutkan nama. Harapan satu-satunya untuk memaksa Bonquier untuk membuka mulutnya bisa terlewatkan dan mereka harus memutar otak, mencari cara untuk memancing Adnan keluar dengan cara lain.

Semua pasang mata sekarang tertuju pada Ivan Braginski yang masih tersenyum lebar. Jemarinya juga masih mengelus lembut kepala tongkatnya begitu santai.

"Ayo, sebut namanya." desak Bonquier.

Ivan menarik napas dan menjilati bibirnya. Dia tak bisa salah menebak, tapi mundur dari desakan seperti ini juga akan mencurigakan.

"Tuan Braginski, aku menanti. Siapa anggota board member-ku yang mengusulkanmu untuk datang padaku dan mencari Adnan?"

Tak ada ruginya kalau salah. Toh, Bonquier kalah jumlah. Di sini, ada empat orang anggota Commedia dell'Arte yang bisa membunuhnya kapan saja.

"... Raj Bhagat Singh."

"Kenapa dia, Brighella?"

"Bonquier hanya sekedar menyebut namanya untuk menghindari kecurigaan kita. Dua orang yang dia sebutkan mayoritas punya hubungan dengan Commedia dell'Arte secara tak langsung. Ditelisik sedemikian rupa, kita pasti bisa menemukan benang merah keduanya dengan organisasi. Makanya, dia sengaja menyebutkan satu nama lainnya—nama yang sebenarnya anggota dari Adnan sendiri—untuk dijadikan kambing hitam."

"Bagaimana kau tahu kalau dia hanya dijadikan umpan?"

"Kau dengar sendiri alasannya, Scaramuccia. Dia bilang Singh itu 'terlalu eksentrik'. Tak ada hubungannya dengan pertanyaan kita sebelumnya. Kita mencari orang yang ia curigai ingin membunuhnya. Bonquier bisa menjabarkan kecurigaannya tentang pendirian kasino di Makau, tapi dia tak bisa mencari alasan yang lebih logis tentang kecurigaannya pada Singh selain 'eksentrik'?"

"Kau benar juga..."

"Selain itu, dari hasil pemantauan Scapino dan Il Capitano, penghasilan Singh tiap bulan tak mengalami perubahan, sekalipun film terbarunya gagal di pasaran. Yang kudengar, dia menghabiskan jutaan dollar untuk membuat film ini dan penjualannya tak berhasil menutupi pengeluaran. Menurutmu, darimana ia bisa terus mendapatkan uang?"

"Bisnis haram, entah di mana, dengan siapa."

"Adnan. Aku yakin betul kalau itu dengan Adnan. Hanya saja tindakannya tidak tercatat dalam catatan kepolisian."

"Bagaimana bisa kau seyakin itu, Brighella? Aku tidak melihat ada garis nyata yang menghubungkan Singh dengan Adnan."

"Hanya ada satu orang pemegang saham kasino ini selain Bonquier dan satu orang pemegang kunci brankas. Adnan adalah orang yang didanai secara langsung oleh Bonquier. Tentu dia ingin memastikan bahwa ia bisa meminta kapan saja pada Bonquier dengan menempatkan salah satu anak buahnya pada posisi yang tepat."

"Posisi pemegang kunci brankas."

"Benar sekali."

Raj Baghat Singh. Seorang pria unik berdarah India adalah anggota Adnan yang ditempatkan dalam jajaran board member Bonquier untuk memastikan aliran dana dari Bonquier ke kelompok Adnan tetap berjalan lancar.

Tawa renyah Bonquier memecah keheningan ruang rapat yang luar biasa luas itu, namun ketegangan masih juga belum tersingkap. "Wah, rupanya Raj yang merekomendasikanmu untuk datang padaku, ya?" katanya, masih terkekeh. "Well, kalau tentang Adnan, aku bisa memberi tahumu. Dia bisa kau temui di—"

Bonquier belum sempat mengucapkan posisi Adnan ketika suara ribut helikopter datang mendekat. Bukan sekedar mendekat, tapi benar-benar mengarah ke ruang rapat. Sejenak, Rangga mengira helikopter itu akan merangsek masuk ke dalam hotel dengan badan besinya yang luar biasa kuat, tapi tidak. Helikopter itu menjaga keseimbangan di tengah udara dengan moncong tepat mengarah ke jendela hotel. Ketika pintu samping helikopter terbuka dan seseorang bertopeng ski warna hitam muncul sambil membawa senapan mesin.

Lutut Rangga terasa lemas ketika melihat senapan mesin tipe Negev NG7 keluaran Israel. Kecepatan tembakan tiap menit mencapai 850 sampai 1150 butir peluru. Bukan senapan mesin yang ingin dihadapi oleh sang pembunuh di saat seperti ini.

Saat sang penembak mulai bersiap dalam posisinya dan rentengan amunisi yang pertama siap dimuntahkan, Rangga hanya bisa mengucapkan satu kata, tepat sebelum senapan mesin itu menembakkan peluru:

"Shit..."

.

.

Bersambung

.

.


Notes: Jadi... gimana dengan chapter 2 ini? Udah lama banget saya gak bikin fic misteri dengan teka-teki, kayaknya banyak yang aneh... Anyway, biarkan saya membalas review di sini aja, ya QuQ

Kagamiyo Neko: saya juga gak tau ini keajaiban apa... #ngok Jangaaaannn. Biarkan saya aja yang kecampur-campur, wahahahah! Joni masih di Indonesia, Eka masih unyu-unyuan sama kucing-kucingnya. GunGar lagi bulan madu #eh Makasih reviewnya, ya~

Ponakan: udah baca komen di TL~ Makasih banget, ya, pontaaa~

Ferra Rii: masa'? Beneran lebih menarik? Asiik~ Waduh, monoton sebelah mana? Semoga yang ini gak ada yang monoton, deh Q.Q Sejujurnya saya masih bingung sama karakteristik Monaco, sekalipun udah baca hetawiki... Makasih reviewnya~ Rencananya sih, 3 chapter.

F. Freyja: Rangga yang polos lagi dikelonin sama Joni di kamar OuO Lovi jadi Joni? Waaaoow~~ #eh Ah, baca ini telat juga gak apa-apa, kok. Gak harus sekarang~ Makasih reviewnya~

Raikoutsun: iyaaa. Itu adegannya Livingston pas ninggalin entah-ruang-apaan-itu-saya-gak-tau OuO Jangan disamain sama Undies!Rangga. Satu-satunya persamaan cuma mereka berdua jago nembak, udah... #eh Takdir kejam atau saya yang kejam? OuO Makasih reviewnya dan selamat nostalgia~

Higitsune84tails: padahal kalo mau review anon juga bisa, lho O.O Waaaahh~ Syukur, deh, kalo prequelnya disukai. Udah khawatir pada gak suka lagi, soalnya QuQ Ini di chapter ini saya kasih daftar posisi CDA-nya biar gak pusing lagi~ Matthew mungkin bakal beraksi di chapter berikutnya. Makasih reviewnya, yaaa~

Fujoshi akut: saya juga nostalgia waktu bikin ini QuQ Makasih reviewnya~~

Mmerleavy Ellesmerea: waaahh, kok bisa barengan gitu? Whaahahaha! Makasih reviewnya, ya. Ini udah dilanjutin, kok~

Nyasar-tan: semuanya lagi pengen nostalgia, ya, pas baca ini QuQ Silau banget gimana, mereka gak pake bling-bling, kok XD Kapan Rangga pernah polos? #ditabokseSI Makasih reviewnya~

Hetalia Lover: aaaww~ Saya terharuuu~ QuQ #pukpukdirimu Spin-off-nya kalo emang gak kuat gak usah dibaca, anyway OuO Belanda emang lebih ganteng banget-banget-banget kalo gak jigrak rambutnya =3= Mezzetino... anggep aja dia freelance, jadi gak diitung #wuopoh Makasih reviewnya.

Rhiani: gak berlanjut, sih. Ini malah mundur dan cuma 3 chapter aja QuQ Udah saya cantumin, ya, siapa jadi siapa aja di CDA. Makasih reviewnya~

Ry0kiku: Rangga mendadak galak kan udah ada di GoT!AU OuO #janganspoiler Si itu cemburuan tuh maksudnya Joni? Joni bukannya emang cemburuan~ Kenapa kelinci... Iiihhh~ Ada yang nostalgia lagi QuQ Sekarang saya kasih tuh, daftarnya. Biar gak bingung, wahahaha! Gak ada typo? AKHIRNYA, TUHAAAANN! #PRAISETHELORD Jangan mikir yang aneh-aneh pas opening, hayooo~ Makasih reviewnya dan semangat thesis-nya QuQ9

Makasih untuk reviewnya! Bener-bener berarti buat saya QuQ Bagi yang berkenan, boleh tinggalin review lagi untuk chapter ini OuO