List karakter Commedia dell'Arte:

Il Dottore = Lovino Vargas/South Italy/Romano (topeng HITAM)

Il Capitano = Arthur Kirkland/UK/England (topeng MERAH-ORANYE)

Brighella = Rangga Wicaksono/OC/Indonesia (topeng HIJAU TOSKA)

Scapino = Razak Wicaksono/OC/Malaysia (topeng ORANYE)

Scaramuccia = Mathias Kohler/Denmark (topeng ABU-ABU MUDA)

Arlecchino = Alfred Jones/USA (topeng HITAM GARIS MERAH)

Tartaglia = Matthew Williams/Canada (topeng COKELAT TUA)

Sandrone = Natalia Arlovskaya/Belarus (topeng MERAH)

Pulcinella = Ivan Braginski/Russia (topeng UNGU TUA)

Burrattino = Ludwig Beilschimdt/Germany (topeng BIRU TUA)

Pantalone = Feliciano Vargas/Northern Italy/Veneziano (topeng PUTIH)


.

.

.

Lutut Rangga terasa lemas ketika melihat senapan mesin tipe Negev NG7 keluaran Israel. Kecepatan tembakan tiap menit mencapai 850 sampai 1150 butir peluru. Bukan senapan mesin yang ingin dihadapi oleh sang pembunuh di saat seperti ini.

Saat sang penembak mulai bersiap dalam posisinya dan rentengan amunisi yang pertama siap dimuntahkan, Rangga hanya bisa mengucapkan satu kata, tepat sebelum senapan mesin itu menembakkan peluru:

"Shit..."

Tembakan beruntun yang pertama dimuntahkan oleh sang penembak bertopeng ski. Rekannya memanuver helikopter untuk memudahkan penembakan. Kaca-kaca jendela langsung berhamburan, terbang berantakan dan membuat Bonquier menjerit ketakutan. Perempuan berkepang dua itu langsung merundukkan tubuhnya, menyembunyikan kepalanya di antara lutut dan kedua tangan menelungkup di atas kepalanya. Ivan dan Natalia sendiri langsung bergerak mencabut senjatanya yang sayangnya hanya dua handgun kelas manual. Bukan saingan yang seimbang untuk senapan mesin otomatis seperti itu.

"Rangga!"

Bentakan Mathias berhasil menyentak Rangga. Pemuda berambut hitam ikal itu berlari menyusul Mathias—berlari zig-zag untuk menghindari tembakan—dan segera membalikkan meja kayu tebal. Sambil dilindungi Mathias, Rangga menarik Bonquier ke balik meja dan mendekapnya. Di sebelah kirinya Ivan dan Natalia tak henti bertukar posisi, menembaki helikopter. Handgun yang mereka miliki tak mungkin melumpuhkan musuh mereka, apalagi helikopternya.

"Kita tidak mungkin bisa menang melawan mereka, Rangga!" jerit Mathias di tengah kebisingan tembakan dan peluru berdesingan. Sesekali, pemuda berambut pirang berantakan itu mengintip dari balik meja dan menembakkan beberapa peluru, setengah tak yakin kalau tembakannya akan mengenai target. Ivan yang tepat di samping Rangga baru saja mengganti selongsong peluru dan melempar yang kosong ke seberang ruangan. Senyum lebar di wajah sang pemuda Rusia tidak menggambarkan ketegangan situasi yang sedang dia hadapi. "Kita harus keluar dari ruangan ini!"

Rangga menggeram kesal, tak percaya kalau mereka bisa diserang mendadak seperti ini. Ia sudah mempersipkan seandainya ada serangan mendadak, tapi bukan dengan helikopter seperti ini. Kalau ia tahu saingannya adalah helikopter yang dilengkapi dengan senapan mesin, sudah pasti Rangga kaan meminta Mathias untuk membawa bazooka atau entah senjata apa lagi yang dimiliki sang pedagang senjata.

"Sial!" Sumpah serapah meluncur keluar dari mulut Mathias Kohler dan ia melemparkan senapan apinya ke seberang ruangan, frustrasi. Sorot matanya menatap Rangga, kesal, dan berseru, "Amunisiku habis! Kau punya cadangan?"

Bicara tentang cadangan, Rangga juga tidak siap membawa selongsong peluru tambahan. Lagi, dia tak menduga kalau akan ada serangan dadakan sebuah helikopter dengan—

Bunyi ledakan keras membuat Rangga tersentak kaget. Meja kayu besar—yang sekarang mulai rusak dan butir-butir peluru menancap di permukaannya—itu mulai bergetar hebat, nyaris terlempar dari posisinya. Pelan-pelan, Rangga mendongakkan kepalanya dari balik meja dan melihat senjata yang—ia berani bertaruh—kalau senjata itu tadi tak ada.

Pelontar granat.

"KENAPA MEREKA BISA PUNYA PELONTAR GRANAT!?" jerit Natalia frustrasi. Perempuan berambut dirty blond itu mengumpat keras. "MEMANGNYA INI MEDAN PERANG, HAH!?"

Semuanya mempunyai pertanyaan yang sama dengan Natalia. Hanya saja mereka terlalu kaget untuk bisa mengutarakan dengan jelas keheranan mereka. Selain itu, pikiran tentang keselamatan dan nyawa mereka sibuk berputar-putar di kepala, panik. Pelontar granat, senapan mesin, dan helikopter baja khas tentara jelas bukan pertanda yang baik.

"Ada ide? Kalau bisa... secepatnya." bisik Mathias pada Rangga. Ia kembali merunduk ketika ledakan kembali terjadi dan mengutuk kesal.

Dengan kondisi mereka yang sama-sama tak punya senjata maupun selongsong peluru tambahan, sulit untuk berpikir keras bagaimana mereka bisa keluar dengan selamat dari situasi ini. Hanya ada dua orang lainnya yang punya persediaan senjata cukup banyak, yaitu Ivan dan Natalia. Tapi, Rangga tak yakin keduanya sanggup memukul mundur musuh. Bahkan sang pembunuh bayaran tak yakin kalau peluru mereka masih tersedia cukup banyak untuk bertahan.

Pelan-pelan, Rangga mendongakkan kepalanya, menatap berkeliling, menganalisa situasi. Jelas mereka tak mungkin menang dengan persenjataan terbatas yang mereka miliki. Satu-satunya cara adalah pergi dari ruangan ini, secepat mungkin. Meja besar ini, sekalipun memiliki kayu yang tebal dan sanggup melindungi mereka berlima, tapi lambat laun mulai terkikis. Rangga bahkan bisa merasakan peluru merangsek semakin dalam dengan punggungnya. Mata abu-abunya lalu beralih ke pintu mahogani ganda yang berjarak terlalu jauh dari posisi mereka. Mungkin sekitar empat sampai lima meter. Dari tempat mereka berlindung sekarang sampai ke pintu tak ada benda lain yang bisa mereka pergunakan sebagai tameng; area terbuka yang kelewat berbahaya dan dijamin tewas.

Mata kelabu sang pembunuh bayaran kembali menatap berkeliling, mencari solusi lain untuk kabur. Satu-satunya jalan adalah pintu ganda tersebut, tak ada yang lain. Kecuali...

"Nona Bonquier," bisik Rangga pada perempuan berambut pirang yang masih mendekap ketakutan padanya. "Maaf kalau pertanyaan saya akan terdengar bodoh tapi... apa Anda mempunyai trap door? Semacam rute pelarian darurat di kala keadaan mendesak?"

Mona Bonquier mendongak. Wajah cantiknya basah oleh air mata dan kacamatanya miring sedikit setelah beberapa menit menyandarkan kepalanya ke dada Rangga. Ekspresi wajahnya sedikit kebingungan. Dengan suara pelan dan sedikit bergetar, ia berbisik, "... tak ada... aku tak punya tempat seperti itu..."

Suara ledakan dan tembakan semakin mengerikan dan intens. Meja yang melindungi mereka mulai goyah dan terbelah dua, membuat Ivan bersama Natalia terpaksa memepet tiga orang lainnya, mencari perlindungan di balik bilah kayu yang masih kokoh. Waktu mereka semakin menipis.

Satu-satunya cara—sekalipun kemungkinan selamat sedikit—adalah menerjang lari ke pintu keluar.

"Tuan dan Nyonya Braginski," seru Rangga ditengah deru senapan mesin dan ledakan. "Berapa banyak peluru yang tersisa dalam senjata kalian?"

"Mungkin sekitar lima butir peluru." sahut Ivan.

"Aku tinggal tiga peluru dan tak ada cadangan." sambung Natalia.

Rangga Wicaksono mengerang kesal dan kembali memutar otak, mencari cara untuk kabur. Meja kayu ini sepertinya sudah tak sanggup menahan belasan peluru yang terlontar tiap detiknya. Belum lagi granat yang berkali-kali meledak di dekat mereka. Beruntung si penembak sepertinya tidak pintar membidik. Kalau iya, mereka pasti sudah jadi daging panggang sedaritadi. Tak satu pun dari mereka yang sanggup mengenai target karena Rangga sebagai Brighella butuh beberapa detik untuk membidik sasarannya demi hasil yang maksimal: tembakan tepat di mata. Pulcinella sendiri adalah seorang sniper. Ia tak terbiasa menggengam handgun kecil tanpa scope dan—sama seperti Rangga—butuh waktu untuk membidik sasarannya. Mathias, sekalipun penjual senapan, bukanlah penembak jitu. Lalu Sandrone jelas lebih ahli memainkan pisau ketimbang—

Sepasang mata abu-abu membulat besar. Bagai disambar petir, sang pemuda berambut ikal itu lalu menoleh ke arah Natalia. Memajukan sedikit tubuhnya dan ia berkata pada sang perempuan berambut platinum. "Kudengar dari percakapan Anda tadi dengan Nona Bonquier bahwa Anda adalah seorang pelempar pisau yang jitu. Mungkin—ini sedikit untung-untungan—Anda bisa memberikan lemparan terbaik dan mengenai salah satu dari mereka?"

"Kau gila, Rangga?!" bentak Mathias. "Dengan pistol saja kita sudah kesulitan, apalagi dengan pisau yang—"

"Justru aku lebih percaya diri untuk melempar pisau ketimbang menembak." desis Natalia diiringi seringai lebar. Ia lalu mengeluar koleksi pisaunya, menjajarkannya rapi dan mulai memilih-milih pisau yang tepat. Pilihannya jatuh pada sebuah pisau mengkilap dengan sisi tajam bergerigi. Sebuah army knife ramping yang sangat ergonomis, cocok untuk dilempar dari jarak jauh. "Siapa yang mau kalian bunuh, hm?"

"Penembaknya," sahut Rangga sambil tersenyum. Anggota inti Commedia dell'Arte memang bisa diandalkan dalam segala urusan. "Kita harus tetap menjaga supaya helikopternya tak rubuh dan menimpa kasino di bawah sana. Bisa membahayakan semua orang yang ada di kasino. Buat di mundur."

Natalia mengintip dari balik meja, mengawasi musuhnya. Tangannya mulai membidik sang penembak—penembak paling buruk menurut Natalia. Dia memberikan kecupan pemberi keberuntungan pada belatinya sebelum melemparkannya dan kembali bersembunyi di balik meja. Ketika suara jeritan keras dan umpatan kesal dari sang pilot helikopter, mereka tahu kalau bidikan Natalia berhasil mengenai musuh.

"Cepat! Ke arah pintu sekarang!"

Tak perlu dikomandoi dua kali, mereka berlima langsung berlari menuju pintu. Tembakan masih terdengar dari belakang mereka, berasal dari senapan mesin otomatis yang kehilangan pengendalinya, memuntahkan peluru secara membabi buta.

Rangga sibuk melindungi Bonquier dari peluru-peluru, menjadikan tubuhnya sendiri tameng bagi sang perempuan muda berkepang dua. Sang pembunuh mengernyit kesakitan ketika sebuah peluru menyerempet lengannya, namun ia hiraukan rasa nyeri di lengan dan kembali berlari menyusul Mathias keluar dari ruangan tersebut. Suara helikopter dan tembakan terdengar semakin menjauh, pertanda bahwa bahaya mulai terhindarkan.

Untuk saat ini.

.

.

.

Karakter Hetalia Axis Powers yang muncul pada fanfiksi ini adalah kepunyaan Hidekazu Himaruya, saya tidak ambil untuk sepeser pun untuk pencomotan dan penistaan karakter di fanfiksi ini :P

Commedia dell'Arte adalah sebuah drama keliling di Italiayang diciptakan oleh seseorang yang tidak diketahui namanya

Sementara lisensi film Ocean's Eleven dan kedua sequel-nya dimiliki oleh Warner Bros

.

.

.

"Diserang, katamu?" seru Razak Wicaksono, panik. Telepon dadakan dari Ivan Braginski sudah cukup membuatnya mengernyitkan alis kebingungan, ditambah dengan berita mengejutkan seperti ini malah membuat jantungan berdebar semakin tak karuan. "Lalu, bagaimana dengan Rangga? Apa dia tak apa-apa?"

"Da. Paling hanya sedikit luka karena terserempet peluru. Omong-omong, kau tidak mengkhawatirkan aku dan yang lainnya? Kami juga ada di sana, lho. Ternyata kau rekan yang jahat, ya, Scapino. Kolkolkolkol..."

"Hei, untuk apa aku mengkhawatirkanmu?! Kalau kau kenapa-napa, mana mungkin kau sanggup menelponku seperti ini?" bentak Razak sambil memutar kedua bola matanya, kesal. "Lalu, kalian sekarang ada di mana?"

"Aku dan Natalia sudah ada di kamar hotel bersama Scaramuccia." jawab Ivan. "Bonquier memerintahkannya untuk menjaga kami berdua, untuk jaga-jaga kalau saja pembunuh gila bersenapan mesin itu memutuskan untuk kembali menyerang kami, da."

"Rangga di mana?"

"Di kamar pribadi Nona Bonquier. Katannya, sebagai ucapan terima kasih, dia mau merawat luka di lengan Brighella secara pribadi, da."

"Kamarnya?" ulang Razak, tak percaya. Buru-buru sang hacker bergerak ke komputernya, sibuk membajak jaringan kamera pengawas di seluruh hotel demi mencari di mana kamar sang pemilik kasino, tapi nihil. "Aku tidak menemukan apa-apa..."

"Menurutmu dia mau memasang kamera pengawas di kamarnya sendiri?" gumam Ivan sambil terkikik geli.

"Kau benar... Terima kasih atas pemberitahuannya, Pulcinella. Nanti kukabari lagi."

Razak baru saja mematikan teleponnya ketika Arthur Kirkland keluar dari kamar mandi. Handuk putih yang begitu empuk tampak membungkus rambutnya yang masih basah. Tubuh ramping berkulit pucat sang briton hanya berbalut bath robe. "Kabar baru dari Pulcinella?" tanyanya.

"Ya. Katanya, mereka baru saja diserang dengan senapan mesin dan helikopter."

Alis berlapis delapan itu mengangkat penuh keheranan ketika mendengar omongan Razak. "Senapan mesin dan... helikopter?" ulangnya. "Anak buah Sadiq?"

"Entahlah..." gumam Razak. Ia masih bertekad untuk menemukan petunjuk mengenai kamar Mona Bonquier. Rasa penasarannya terlalu besar untuk diam begitu saja. "Menurut penuturan Pulcinella, helikopter itu muncul tepat saat Bonquier hendak memberitahu mereka tentang keberadaan Sadiq. Terlalu cepat untuk disebut kebetulan..."

"Kau benar. Tapi, kita tidak bisa mengambil keputusan secara gegabah." ucap Arthur. Ia lalu berjalan ke arah meja makan dan—seperti biasa—meracik earl grey tea kesukaannya. "Lalu, bagaimana dengan yang lainnya?"

"Pulcinella, Sandrone, dan Scaramuccia sudah aman." kata Razak sambil mendesah kesal. Ia masih belum berhasil menemukan lokasi atau kamera pengawas kamar Bonquier dan itu membuatnya frustrasi. "Brighella sendiri kabarnya terluka dan dia sekarang ada di kamar Bonquier."

"Untuk apa?"

"Katanya Bonquier ingin mengucapkan terima kasih dengan mengobati luka Rang—Brighella."

Arthur Kirkland hanya mengangguk-angguk sambil mengaduk tehnya lalu berkata, "Tidakkah kau terpikir kalau Brighella sendiri yang 'meminta' Bonquier untuk mengobatinya? Sebuah langkah untuk membuatnya bisa masuk ke dalam kamar Bonquier sekaligus menanyainya tentang... Sadiq."

"... maksudmu...?"

"Kau sendiri yang mengatakan kalau mereka diserang ketika Bonquier nyaris mengatakan di mana Sadiq berada. Itu berarti tinggal sedikit lagi kita punya bukti bahwa Bonquier berkhianat dan kita bisa bergerak."

"... membunuh Bonquier, maksudmu?"

"Yes. Membunuh Bonquier."

.

.

Rangga mendesis kesakitan ketika kapas beralkohol itu menyentuh lukanya, membuat Bonquier langsung mengucapkan kata maaf berkali-kali. Perempuan muda berkacamata itu langsung mengambil lap basah dari tepian baskom dan membersihkan darah dengan hati-hati.

"Seharusnya aku memang tidak langsung menggunakan alkohol, ya..." bisik Bonquier sambil tersipu malu. Pelan-pelan, tangannya mengusap bersih bercak darah di lengan kanan Rangga. "Ini pertama kalinya aku mengobati luka, jadi..."

"Makanya, Anda tidak usah repot-repot mengobati saya, Nona Bonquier." ucap Rangga sambil tersenyum kecil, nyaris terkikik geli melihat tingkah Bonquier. "Lagipula, lukanya tidak dalam, kok. Saya bisa pergi ke rumah sakit terdekat dan dijahit sebentar."

"Tapi ini gara-gara aku..." gumam Bonquier yang masih bersikukuh mengobati luka bodyguard-nya. "Kau sudah repot-repot melindungiku dengan tubuhmu. Mana rasa berterimakasihku pada orang yang sudah bertindak heroik seperti ini?"

Mungkin, kau bisa mengantarku ke rumah sakit, supaya lukaku bisa segera dijahit gerutu Rangga dalam hatinya. Tapi, kembali mengingat situasi sekarang, dia harus bisa mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Bonquier nyaris saja memberi tahu Pulcinella dan Sandrone mengenai keberadaan Sadiq. Bila Sadiq benar-benar ada di sana—atau paling tidak menunjukkan jejak keberadaannya di tempat tersebut—dia tinggal angkat telepon, mengkonfirmasi kecurigaan Il Dottore, dan pekerjaannya beres.

Akting pura-pura kesakitannya berhasil menarik simpati Bonquier. Tindak penembakan yang tak terduga itu rupanya telah membuat Bonquier sangat ketakutan dan melihat tindakan Rangga sebagai perbuatan sangat mulia. Padahal, Rangga terpaksa melindungi Bonquier demi misi. Mau ditaruh di mana muka sang Brighella ketika ia memberi laporan kalau target tewas di bunuh dua orang pembunuh gila dengan senapan mesin dan pelontar granat? Luka segini saja sudah biasa bagi Brighella. Dia pernah mengalami luka yang lebih parah dan membuatnya nyaris mati. Tapi, itu misi yang lain.

Sekarang, dengan kesempataan berduaan saja dengan Bonquier, dia bisa dengan bebas berbicara dengan Bonquier mengenai Sadiq Adnan. Dia nyaris menyebutkan tentang keberadaan si pria Turki pada Ivan, tentunya dia akan bicara pada Rangga dengan sedikit pancingan dan waktu.

"Omong-omong," Rangga berdoa, semoga ini waktu yang tepat untuk menanyai Bonquier tentang Sadiq. "Apa benar Anda tahu tentang keberadaan Adnan dan bekerja sama dengannya?"

Bonquier hanya terdiam. Tangannya masih sibuk melilitkan perban di sekitaran lengan Rangga dan kepalanya tertunduk dalam. Rambut pirangnya menyembunyikan ekspresi wajah sang perempuan. Melihat sikap Bonquier, Rangga merasa bahwa ia akan segera mendapatkan jawabannya, sekaligus lampu hijau untuk melaksanakan bagian terakhir dari misinya.

"Nona Bonquier, apakah itu benar?" desak Rangga. Ia berbalik dan meraih lengan Bonquier, membuat sang perempuan berkacamata mendongak. Ekspresi wajah yang terlukis di wajah sang pemilik kasino nyaris membuat Rangga tersenyum penuh kemenangan. Ekpresi ketakutan dan rasa bersalah itu benar-benar priceless! "Bila Anda benar-benar bekerja sama dengan Adnan—saingan Commedia dell'Arte—saya terpaksa memberitahu Il Dottore bahwa—"

"Jangan!" jerit Bonquier. Ia meremat tangan Rangga dan menatap sang pemuda berambut ikal dengan sepasang mata berlinangan air mata, memohon. "Kumohon, jangan beritahu Il Dottore! Aku berjanji kalau ini hanya berlaku sementara! Justru... justru aku meminta tolong kalian untuk melindungiku! Orang-orang Sadiq ingin membunuhku! Kau lihat sendiri tadi, kan? Aku yakin itu adalah suruhan Sadiq! Ia mau aku mati!"

Gotcha!

"Saya tak bisa menyembunyikan ini dari Il Dottore, Nona Bonquier! Serapat apa pun Anda menutupinya, Il Dottore pasti akan tahu tentang hal ini!"

"Aku akan membayarmu berapa saja kau mau, asal kau tutup mulut. Sebut saja angkanya dan akan kubayar tunai! Temanmu Mathias itu juga akan kuberi uang kalau mau tutup mulut."

"Maaf, Nona Bonquier. Kesetiaan kami pada Commedia dell'Arte terlalu besar dan tak bisa dibayar dengan uang. Permisi, ada laporan yang harus saya buat kepada Il Dottore."

Tinggal selangkah lagi Rangga sampai di pintu, tapi sepasang tangan menariknya mundur. Rangga langsung memutar tubuhnya, setengah terkejut dan setengah kesal dengan sikap Bonquier yang kelewat ngotot. Mau melontarkan argumentasi seperti apa pun juga Rangga tak akan sudi dibayar oleh perempuan ini untuk tutup mulut. Harga dirinya sebagai Brighella dan hutang budinya kepada Il Dottore terlalu besar untuk ditinggalkan begitu saja demi rahasia menjijikkan Bonquier.

"Kumohon," pinta si perempuan. Mata biru di balik kacamata itu tampak berkaca-kaca, nyaris menangis. "Kumohon jangan beritahu Il Dottore. Aku akan lakukan apa saja untuk membuatmu diam. Apa saja..."

Ketika air mata pertama meleleh dan jatuh menuruni pipi kemerahan Bonquier, hati Rangga luluh. Sebagai seorang gentleman sejati, tak sanggup ia melihat wanita seanggun ini sampai menitikkan air mata, mengiba padanya. Namun, bagaimanapun juga, tanggung jawabnya sebagai anggota Commedia dell'Arte dan loyalitasnya pada Il Dottore jauh lebih penting ketimbang pengkhianat ini.

Kecuali...

"Anda bilang, Anda mau melakukan apa saja, kan?" gumam Rangga lambat-lambat. Mata kelabunya menatap ragu ke arah Bonquier, yang wajahnya mulai memerah dan sembab oleh tangis serta air mata. "Bagaimana kalau Anda sebutkan pada saya posisi Adnan sekarang?"

Sesaat, Bonquier menatap Rangga ragu. Bibir mungilnya yang sedikit gemetar membentuk beberapa deret kata yang begitu sayup, "U... untuk apa...?"

"Anda sendiri yang bilang kalau Adnan mencoba untuk membunuh Anda. Makanya, biarkan saya tahu tentang posisi Adnan dan menghabisinya." sahut Rangga.

"Lalu Il Dottore—"

"Tidak akan tahu apa-apa tentang kerja sama Anda dengan Adnan, Nona Bonquier." jawab Rangga tegas. "Saya akan mengatakan pada Il Dottore kalau Anda diincar oleh Adnan, karena Anda merupakan rekan utama Commedia dell'Arte. Bagaimana?"

Raut keruh di wajah Bonquier berubah seketika saat mendengar omongan Rangga. Kesedihan yang semula menggantung muram di sekitar Bonquier mendadak terangkat dan tergantikan oleh kegembiraan luar biasa. Didorong oleh luapan kebahagiaan, Bonquier langsung memeluk erat Rangga, membuat tubuh sang pembunuh nyaris ambruk. Ucapan terima kasih bertubi-tubi dibisikkan Bonquier ke telinga Rangga yang hanya bisa tersenyum.

Oh, seandainya Bonquier bisa melihat senyumnya saat itu.

Rangga meninggalkan kamar pribadi Bonquier dengan jantung berdebar kencang dan senyum lebar tak lepas dari wajah manisnya. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan posisi dimana Adnan dan kelompoknya berada. Tinggal merancang penyerbuan dan misi ini akan segera berakhir.

Ia merogoh saku celananya—berjengit sedikit ketika nyeri terasa di lengannya—dan mengambil sebuah perekam suara ukuran kecil. Mata kancing di kerahnya juga sudah dipasangi dengan kamera mini. Dua alat kecil yang telah merekam dengan jelas pengakuan si pengkhianat Commedia dell'Arte.

Tawa penuh kepuasan meluncur keluar dari mulut sang pembunuh. Mata kelabunya berkilat mengerikan dan penuh kegembiraan.

"Mati kau, Bonquier."

.

.

Suara kaleng beradu dengan dinding berlapis wallpaper tebal terdengar lagi. Sudah tiga kali lemparan Gilbert Beilschmidt gagal sampai ke tong sampah dan membuat sang polisi berambut putih geram. Mata rubinya mencoba untuk tidak terdistraksi oleh tiga buah kaleng bir yang teronggok di sekitaran badan tong sampah, hasil bidikannya yang gagal. Sekarang, ia kembali mengintai elevator khusus menuju kamar-kamar suite.

Dari balik slot machine, Gilbert tak melepaskan pandangan dari elevator itu. Barusan, tepat dua puluh menit yang lalu, ia melihat sosok yang begitu familiar menyelinap keluar dari pintu staf dan berjalan cepat menuju elevator tersebut. Sampai sekarang, sosok itu masih belum nampak di lantai kasino lagi dan Gilbert memutuskan untuk menunggu, sekalipun itu akan memakan waktu berjam-jam.

Gilbert baru saja membuka kaleng bir yang keempat ketika suara denting terdengar dari arah elevator. Ketika pintu elevator terbuka dan sosok yang sama—sosok yang telah ia nantikan sedaritadi—muncul dengan tergesa-gesa dari dalam elevator, Gilbert langsung menyambar jaketnya dan menghampiri targetnya.

Langkah sang detektif berambut putih teredam oleh tebalnya karpet kasino dan kemampuan bertahun-tahun menyelinap sekaligus mengendap-endap. Tak heran ketika tangannya menepuk pelan pundak sang target, orang itu menjerit tertahan, kaget. Sepasang mata biru laut menatap tak percaya sosok sang detektif albino dan satu silabil kata terucap dari mulutnya:

"... Bruder...?"

Sang polisi bermata rubi mengangguk pelan dan merapatkan jaketnya. "Bisa aku bicara denganmu, Ludwig?"

Sebelum sang adik sempat berkata apa-apa, Gilbert langsung menggamit lengan Ludwig dan menyeretnya ke sisi kasino yang lebih sepi. Gilbert lalu mengeluarkan kaleng bir dan menyerahkannya kepada Ludwig—masih terdiam membatu, terlalu shock melihat sosok sang kakak ada di sampingnya—dan membuka kaleng birnya sendiri. Mata rubi itu melirik ke arah Ludwig yang menelungkupkan tangannya dengan begitu tegang di sekitar badan kaleng, nyaris meremukkan material metal tersebut.

"Santai sedikit, Ludwig," kata Gilbert. "Aku kemari bukan untuk meringkus kelompok bermainmu, kok."

Ludwig melemparkan pandangan tak senang ketika omongan 'kelompok bermain' keluar dari mulut Gilbert. Hanya rahasia di antara kedua kakak-beradik ini kalau Ludwig tergabung dalam Commedia dell'Arte. Ironis, memang, ketika dua bersaudara yang dulu begitu akrab—sampai sekarang, sebetulnya—selalu dipertemukan dalam posisi sulit di dua kubu berseberangan.

"Kali ini, aku dan Antonio datang untuk meringkus teman kalian itu, Sadiq Adnan."

"Adnan bukan teman kami." desis Ludwig penuh kebencian. Tangannya dengan sigap membuka kaleng bir dan meminumnya sampai setengah.

Sejenak, keduanya terdiam dan hanya bersandar pada dinding krem kasino. Bir yang isinya tinggal setengah tergenggam di tangan masing-masing. Rasanya sedikit canggung ketika keduanya membicarakan hal-hal berbau pekerjaan.

"Jadi... Adnan musuhmu?" tanya Gilbert santai. Ia menegguk birnya dan kembali berkata, "Kukira kalian bekerja sama untuk menguasai kasino Monako, mengontrol uang dan perjudian yang beredar di negara bebas ini."

"Il Dottore tak akan sudi berbagi dengan orang licik dan menyebalkan macam Adnan." balas Ludwig sambil mendengus pelan. "Dia lebih memilih mati ketimbang menjalin kerja sama dengan pihak seperti Adnan; pihak yang tak mempedulikan keuntungan pihak lain kecuali dirinya sendiri."

Gilbert mengangguk-angguk, seolah ia mengerti apa yang dibicarakan adik kandungnya. Sejujurnya, ia tak ambil peduli. Semua penjahat baginya sama saja; sama-sama berbuat jahat dan merugikan orang lain. Persaingan teritorial macam ini baginya malah tampak begitu kekanak-kanakkan, tak berguna, dan menghamburkan nyawa manusia saja.

"Jadi..." gumam Gilbert lambat-lambat, menunggu momen yang tepat. Dilihat dari raut tegang di wajah adiknya, sepertinya ada informasi penting seputar Adnan dan Commedia dell'Arte. "Apa kelompokmu sudah menemukan di mana Adnan berada?"

"Untuk apa kau bertanya soal itu?" gumam Gilbert sambil mengernyit kesal. "Jangan kau pikir aku mau memberitahu tentang keberadaan Adnan supaya kau dan rekan-rekan polisimu itu bisa meringkus Adnan."

Gilbert menggigiti bibir bawahnya, gelisah. Sejak pertemuan mereka dengan Procopiou, Antonio sudah memperkirakan kalau Commedia dell'Arte pasti berada di dalam kasino dan hotel untuk menyelesaikan masalah pengkhianatan ini dengan tangan mereka sendiri. Untuk itu, sang detektif berdarah Spanyol mengusulkan untuk mencari lokasi tempat anggota Commedia berada. Sayangnya, tak satu pun dari mereka pernah melihat langsung rupa para anggota Commedia dell'Arte. Bahkan Arlecchino dan Brighella yang paling sering berselisih dengan polisi saja tak pernah diketahui rupanya sampai sekarang. Mustahil bagi mereka untuk membuntuti Commedia ke tempat Adnan dan meringkus dua mafia ini sekaligus.

Beruntung Gilbert tahu satu orang yang ia tahu betul berkeliaran di dalam badan inti Commedia dell'Arte. Adiknya.

Semula, Gilbert mengira ini akan mudah saja. Hampiri Ludwig, ajak ia bicara dengan segelas bir dingin seperti biasa, lalu tanyakan mengenai Adnan dan minta ia untuk menunjukkan lokasinya. Hanya saja, sisi lain di hatinya sebagai seorang kakak ingin menyelamatkan adiknya. Ia tak mau melihat Ludwig dibawa pergi dengan mobil patroli dengan kedua tangan diborgol dan penjara menanti. Sekalipun adiknya tergabung dalam organisasi kriminal, Gilbert tak tega. Di lain pihak, tanggung jawabnya sebagai polisi menekan sang pemuda albino ini. Bagaimanapun caranya, hukum harus ditegakkan dan para penjahat harus diringkus. Termasuk adiknya.

Gilbert menoleh ketika ia merasakan Ludwig mulai beranjak dari tempatnya. Ia meneguk habis birnya sendiri dan melemparkan kaleng tersebut ke tong sampah tak jauh di depan keduanya. Berbeda dengan Gilbert, bidikan sang adik tepat sasaran dan masuk dengan suara berdentang yang cukup pelan. Mata biru itu menatap Gilbert yang masih terdiam dan sang pemiliknya berkata, "Aku pergi sekarang."

"Tunggu sebentar," ucap Gilbert dan tangannya langsung menyambar lengan Ludwig, menahan sang adik untuk pergi lebih jauh lagi. Sepasang mata rubi dan biru cerah bertemu. "Bagaimana kalau kita membuat perjanjian?"

.

.

Bunyi dering telepon terdengar nyaring di dalam mansion megah itu. Sang pemilik telepon sekaligus penghuni mansion tersebut baru saja melangkah keluar dari kamar mandinya. Tubuh dan rambutnya masih sedikit basah. Dengan santai, sang pria berambut cokelat lurus itu merebahkan tubuh berbalut bath rob ke atas armchair kulit berwarna hitam pekat. Dia menuangkan segelas brandy sebelum mengangkat telepon.

"Ada apa?" tanyanya dengan suara malas.

"Il Dottore, kami sudah mendapatkan informasi mengenai Bonquier sekaligus bukti tentang pengkhianatannya. Kami bahkan berhasil mendapatkan di mana posisi Adnan saat ini dan siap untuk menghabisinya."

Lovino Vargas tersenyum gembira ketika mendengar laporan singkat via telepon dari Il Capitano. "Bagus," katanya. "Kapan kalian berencana untuk membunuh perempuan brengsek itu, hm? Oh, dan jangan lupa untuk membunuh Adnan juga. Aku tak suka mempunyai saingan menyebalkan seperti dia. Sudah terlalu lama aku menantikan saat seperti ini dan menyingkirkannya untuk selama-lamanya."

"Segera, Il Dottore." sahut Arthur Kirkland dari seberang sana. "Kami sedang mematangkan rencana untuk memulai bagian akhir dari misi ini. Dalam kurun waktu tiga hari, Anda akan mendapatkan kabar gembira tentang kepergian Bonquier dan Adnan."

"Ceritakan padaku siapa yang bertugas membunuh Bonquier dan menghabisi Adnan?"

"Untuk masalah Bonquier, Brighella sudah menawarkan diri untuk menghabisi perempuan itu dengan tangannya sendiri. Masalah Adnan akan diurus oleh Pulcinella, Sandrone, Burrattino, dan Arlecchino. Semuanya sudah direncanakan dan ditugaskan sesuai dengan keahlian masing-masing. Tak ada yang—"

"Boleh aku minta satu hal lagi, Il Capitano?"

Hanya kebisuan yang terdengar dari seberang sana. Selama beberapa detik, barulah Il Capitano menjawab ragu. "... Tentu, Il Dottore. Apa pun untuk Anda."

"Bagus!" ucap Lovino gembira. Bagaikan anak kecil yang diiming-imingi permen besar, sang pemimpin Commedia dell'Arte itu melompat dari kursinya dengan begitu antusias. Gelas brandy tergenggam di tangan kirinya sementara tangan kanan sang pemimpin menahan gagang telepon. "Permintaanku sederhana, Il Capitano. Aku yakin kalian semua akan bisa memenuhinya."

"Apa itu, Il Dottore?"

Senyum lebar terukir di bibir Lovino ketika ia berkata tegas, "Aku mau kalian kuras isi brankas Bonquier."

.

.

"Mengambil semua uang di dalam brankas Bonquier?! Itu permintaan tergila yang pernah kudengar!"

Sebagian besar orang setuju dengan seruan panik seorang Razak Wicaksono. Bagaimana mungkin mereka bisa mencuri uang sebanyak itu dari brankas paling dijaga dan berteknologi mutakhir di Monako? Apalagi waktu yang ditentukan Il Dottore untuk mengambil uang itu diadakan tepat saat rally musim dingin Monako diadakan. Saat dimana semua orang di Monako berani merogoh uang banyak demi bertaruh atas nama andalannya.

"Berapa estimasi uang yang akan ada di dalam brankas?" tanya Il Capitano pada Arlecchino yang tumben-tumbennya absen dari mengunyah burger; kebiasaan unik yang terjadi setiap kali sang pemuda berkacamata itu sedang banyak pikiran.

Alfred Jones mengernyitkan kening, berpikir sejenak lalu berkata, "Kalau hari-hari biasa, sekitar enam sampai delapan juta dollar di dalam sana. Tapi, berhubung kita sedang membicarakan kondisi brankas sewaktu rally Monako berlangsung, isinya bisa membludak sampai berlipat-lipat."

"Berapa banyak?"

"Menurut perhitungan kasar mungkin... tiga sampai empat kali lipat."

Decak dan siul penuh kekaguman memenuhi kamar suite tersebut. Selain kekaguman akan banyaknya jumlah uang yang akan mereka dapatkan, ada sedikit rasa ragu dan ketakutan apakah mereka sanggup untuk membobol brankas yang kelewat kuat tersebut.

"Kita sudah tahu kalau ada tiga kunci utama untuk membuka brankas," ucap Burrattino sambil mengusap-usap dagunya, berpikir. "Karena sehari-hari aku sudah bekerja di ruang kontrol brankas, aku tahu betul kapan waktu pergantian penjaga, kode sandi untuk menonaktifkan alarm, sekaligus rute tercepat untuk kabur ketika penjaga mencium kehadiran kita. Tapi, itu semua percuma bila kita tidak mempunyai ketiga kunci brankas."

"Satu kunci dipegang oleh Bonquier, satu lagi dipegang oleh sekretaris pribadi merangkap manager-nya, dan kunci ketiga dipegang oleh Singh..." gumam Scaramuccia. "Bagaimana caranya kita bisa mendapatkan tiga kunci tersebut dalam waktu singkat? Rally akan berlangsung sekitar lima hari lagi."

"Aku bisa mengambil yang bagian Bonquier," kata Rangga, menawarkan diri. "Sekalian aku juga bisa menghabisinya."

"Untuk Singh, kalian bisa serahkan pada kami, da." Kali ini giliran Pulcinella menawarkan diri sambil tersenyum seperti biasanya. Ia menunjuk Sandrone, yang masih sibuk memainkan pisau di tangan. "Kami bisa ambil kunci brankasnya ketika menyerbu ke tempat persembunyian Adnan. Sekalian membunuh si brengsek satu itu, da~"

"Aku, Pantalone, dan Arlecchino akan membantu menghabisi Adnan." Mathias melemparkan senyum lebar ke arah Pulcinella—yang juga memasang senyum 'ramah'nya. "Sudah lama aku menantikan saat yang tepat untuk menghajar si brengsek itu."

"Berarti, kita bisa mengambil kuncinya sekaligus menghabisi target." ucap Il Capitano yang sedaritadi berdiri sambil bersandar pada perapian. "Tinggal urusan mengenai Procopiou. Satu-satunya cara adalah dengan membunuhnya."

"Tapi, kita tak punya alasan yang jelas untuk membunuhnya." bantah Brighella. Ia melemparkan pandangan tak senang ke arah sang tangan kanan Commedia dell'Arte dan pandangan tajam yang serupa diberikan Il Capitano kepadanya. "Kau serius mau membunuh orang tak berdosa?"

"Menurutmu, sudah berapa banyak orang 'tak berdosa' yang kau bunuh, Brighella?" desah Arthur Kirkland—sang Il Capitano—seraya memutar bola matanya. "Jangan berlagak suci di depan kami semua. Kau pembunuh berdarah dingin yang bahkan rela menghabisi anak kecil, sekalipun dosa terbesar mereka adalah melihat wajah aslimu tanpa topeng."

Omongan Il Capitano sukses membungkam mulut Brighella. Apa yang dikatakan sang briton memang tidak salah. Brighella akan melakukan apa saja, termasuk membunuh bayi yang tak berdosa sekalipun bila identitasnya sebagai Brighella sampai diketahui orang lain. Selain itu, perintah macam apa pun yang diucapkan langsung dari mulut Il Dottore akan ia kabulkan. Apa pun.

"Mari kita kembali lagi ke permasalahan yang sedang kita hadapi," ucap Il Capitano dengan suara yang lantang. "Kita masih harus memikirkan cara untuk mendapatkan kunci brankas dari Procopiou. Bila ia mau memberikannya dengan suka rela, maka itu tidak masalah. Tapi, bila ia tidak mau, terpaksa kita bunuh dia.

"Dan untuk tugas kali ini, aku yang akan melakukannya." kata Il Capitano, menghiraukan pandangan kaget dari rekan-rekannya. Memang dia sudah jarang sekali turun langsung dalam sebuah misi, tapi rasanya untuk kasus kali ini bantuannya akan sangat dibutuhkan.

"Lalu... siapa yang akan menyusup ke dalam brankasnya, ve?" tanya Pantalone. Wajah manis dan polosnya tampak kebingungan, menatap tiap rekan yang—seingatnya—sudah mendapatkan tugasnya masing-masing. "Kalau Brighella yang akan membunuh Bonquier, Il Capitano mengurus Procopiou, lalu yang lainnya mendapat misi untuk menghabisi Adnan, siapa yang bisa menyusup ke brankas tanpa ketahuan, ve?"

"Bukannya masih ada Scapino dan Burrattino?" gumam Scaramuccia kebingungan.

"Tidak bisa. Kita butuh Scapino dan Burrattino untuk mengamankan entah-siapa-nanti yang akan menyusup ke dalam brankas." gumam Il Capitano. Pemuda beralis lapis delapan itu berjalan ke arah rak minuman dan mengambil segelas whiskey. "Mereka berdua adalah mata dan telinga bagi kita. Tak mungkin mereka masuk ke dalam sana. Siapa yang mau mengawasi?"

Semuanya terdiam, berpikir keras untuk mencari orang yang tepat untuk memenuhi satu pekerjaan paling penting. Pekerjaan paling penting malah belum ditemukan orang untuk mengerjakannya. Kalau begini caranya, bisa-bisa tenggat waktu yang diberikan oleh Il Dottore akan terlampaui dan misi tak terselesaikan utuh.

"Hei, bukankah kita masih punya satu anggota lagi, ve?"

Setiap pasang mata sekarang tertuju ke arah Pantalone. Sang pemuda Italia yang masih tersenyum kecil. Mata cokelatnya menatap penuh kegembiraan ke jejeran teman-temannya yang kebingungan. Wajah penasaran rekannya malah membuat Pantalone itu semakin bersemangat. Ia berlari riang ke kamar dan kembali lagi ke ruang tengah setelah beberapa menit, menarik seorang pemuda berambut pirang berkacamata yang sedang memeluk boneka beruang berwarna putih bersih.

"Kalian melupakan Tartaglia, vee!"

.

.

Tartaglia. Anggota Commedia dell'Arte terakhir dan yang paling sering terlupakan. Sudah bakatnya untuk menghilang, jauh dari pantauan radar manusia maupun kamera pengawas. Kemampuannya menyelinap dan gerakan gesitnya telah lama membantu Commedia dell'Arte untuk menyusup ke berbagai tempat, kebanyakan untuk membobol brankas, mencuri dokumen penting, atau membukakan jalan bagi teman-temannya. Meski ia terlihat lemah, pemalu, dan tak banyak bicara, kemampuannya tak kalah hebat dibandingkan dengan rekan-rekannya. Sampai sekarang, masih banyak pertanyaan bersimpangan di kepala rekan-rekannya, apakah sosok lemah yang selama ini terpotret dalam tampilan luar Tartaglia itu keinginan sang pemuda untuk menipu musuh atau tidak.

Toh, itu sekarang tidak terlalu penting.

Burrattino melirik ragu ke sosok pemuda berambut ikal berwarna pirang di sampingnya. Boneka beruang putih yang ia peluk sedaritadi tidak membuat sang pemuda Jerman yakin kalau Tartaglia adalah orang yang tepat untuk misi penyusupan ini. Bukannya ia meragukan pilihan Pantalone. Sekalipun Pantalone adalah adik kandung Il Dottore dan pilihan mereka tak pernah berbeda jauh, tapi terkadang itu bisa salah juga, kan.

"... Jadi... kau sudah mengerti rutenya, Tartaglia?" tanya Burrattino lambat-lambat. Sulit untuk dengan segera meyakini kalau orang di sampingnya mempunyai kemampuan mumpuni untuk menerobos brankas besi paling dilindungi di Monako.

Hanya anggukan dan gumaman kecil yang terdengar dari Tartaglia.

"Oke, kalau begitu, ini alat komunikasi yang akan kau kenakan saat harinya nanti." ucap Burrattino dan memberikan sebuah earphone kecil kepada Tartaglia. "Melalui alat ini, kau bisa mendengarkan instruksi yang diberikan olehku dan Scapino. Kau mengerti?"

Lagi, Tartaglia hanya mengangguk pelan dan membenamkan wajahnya yang memerah karena malu—baru kali ini ia diperhatikan seintens itu oleh rekan-rekannya—ke bulu-bulu putih boneka beruangnya.

Pandangan skeptis masih tertuju kepada Tartaglia. Memang agak sulit bagi semuanya untuk terbiasa dengan kehadiran Tartaglia—Matthew Jones—apalagi sampai memberikan pemuda berkacamata ini peran paling vital dalam misi kali ini. Oke, misi membobol dan merampas semua uang Bonquier adalah misi tambahan yang diberikan semena-mena oleh Il Dottore karena sifat kanak-kanak dan tak mau mengalah sang pemimpin mendadak kumat, tapi tetap saja...

"Aku masih tidak yakin kalau dia bisa, Brighella..." bisik Razak kepada kakaknya yang sama ragunya dengan yang lain. Dilihat dari fisik dan gerak-geriknya, Matthew sangat tidak meyakinkan. Bahkan statusnya sebagai salah satu petinggi Commedia dell'Arte juga diragukan dengan sikap seperti ini. "Kau yakin mau memberikan tugas kepadanya? Kau bisa mengandalkanku, kok. Begini-begini, aku juga gesit!"

Rangga menggeleng pelan dan berkata, "Tak bisa, Scapino. Kita harus mempercayai kemampuannya. Bila Il Dottore saja sampai menempatkannya di jajaran tinggi Commedia dell'Arte, tentu dia punya kemampuan yang menonjol."

"Seperti membuat ragu orang lain, misalnya?"

"Ya, mungkin." dengus Rangga. "Aku heran. Misi bunuh-membunuh ini sejak kapan malah putar haluan jadi misi pembobolan kasino?"

Razak mengangkat kedua pundaknya, gestur tak tahu sekaligus tak peduli. Pemuda berambut hitam itu lalu kembali ke depan layar laptop dan sibuk mengutak-atik sistem keamanan yang sedang ia bobol. Tahu kalau adik kandungnya itu tak akan bisa diganggu lagi, Rangga mulai menyingkir dan memutuskan untuk mendekati Tartaglia. Pemuda berambut pirang itu sedang duduk diam dan mendengarkan penjelasan dari Burrattino yang sepertinya semakin tegang dari detik ke detik.

"Hei, Arlecchino," panggil Rangga pada sang pemuda Amerika di sampingnya. Mulut si american kembali disibukkan dengan burger ukuran besar dan segelas cola. "Dia adikmu, kan? Menurutmu, apa ia sanggup menjalankan misi ini?"

Arlecchino menegukkan habis cola-nya sebelum membuka mulut dan membalas, "Dia memang adikku, sih. Tapi kalau mau jujur, aku sendiri kurang tahu bagaimana kemampuannya." Sang Arlecchino tertawa ketika melihat ekspresi ngeri di wajah Rangga dan kembali melanjutkan. "Tapi, kalau Il Dottore menempatkan dia sejajar dengan kita, bukankah itu pertanda bahwa kemampuannya tidak bisa dianggap enteng, hm, Brighella?"

"Kau benar..." gumam Rangga.

"Omong-omong, bukannya kau sudah harus pergi ke tempat Bonquier?" tanya Alfred. Sang pemuda berkacamata itu baru saja melirik jam besar yang terletak tak terlalu jauh dari meja makan.

Rangga menggerang pelan ketika mata kelabunya melirik ke arah jam yang sama. Pemuda berambut ikal itu terburu-buru menyambar jas hitamnya dan menggamit lengan Mathias Kohler, mengajak rekannya untuk mulai bekerja..

.

Kabar terbaru yang didapat Antonio dari Neoklis Procopiou adalah berita penyerangan kantor pribadi Bonquier. Sebuah penyergapan yang sangat mendadak dan agak sulit untuk dipercaya. Helikopter dengan senapan mesin dan pelontar granat, menyerang lantai tertinggi hotel termahal Monte Carlo? Membayangkannya saja sudah membuat Antonio bergidik ngeri. Selain kabar tersebut, sang polisi berdarah Spanyol tidak mengetahui kabar apa pun dan ini sudah lewat nyaris empat hari. Keberadaan Commedia dell'Arte juga masih belum jelas.

Gilbert Beilschmidt, satu-satunya orang yang belakangan ini berbicara dengan Ludwig tentang rencana penyergapan kelompok Adnan masih belum mendapat kabar apa-apa dari adiknya. Padahal, keduanya sudah menyetujui satu perjanjian penting yang—menurut Gilbert—menguntungkan kedua belah pihak. Entahlah. Mungkin Ludwig mendadak berubah pikiran dan merasa bahwa kelompoknya akan dirugikan. Lagipula, dengan keberadaan Antonio dan ambisi tak terbendungnya untuk meringkus Commedia dell'Arte sampai ke pemimpin tertingginya tak bisa diprediksi. Gilbert sendiri, sekalipun sahabat terdekat Antonio, tak yakin akan sanggup menahan Antonio ketika detektif ini menemukan kesempatan untuk meringkus Commedia dell'Arte.

"Sudah empat hari dan tak ada kabar dari Procopiou..." gumam Antonio kesal. Pemuda berambut cokelat itu mengacak-acak rambutnya dan berjalan mondar-mandir mengelilingi kamar. "Aku sudah mencari kabar tentang penyerangan itu, tapi polisi setempat tidak mau bekerja sama dan memberi informasi!"

Gilbert mendesah panjang, lelah mendengarkan keluhan Antonio. Dia sendiri tak bisa berbuat banyak untuk membuat frustrasi temannya sedikit berkurang. Kabar yang tak pasti dari Ludwig juga tak membuat sang pemuda albino sama frustrasinya dengan Antonio. Rally sebentar lagi dan Berwald jelas menyebutkan kalau mereka harus menyelesaikan misi tepat sebelum rally. Terlalu beresiko, katanya.

"Hei, Gilbert." Sang albino mendongak dan mendapati Willem berjalan mendekatinya. Mata cokelat sang pemuda Belanda tampak sesekali mengerling ke arah Antonio yang masih berjalan mondar-mandir, frustrasi, sementara Francis sibuk menggonta-ganti channel televisi. "Mau menemaniku cari udara segar? Suasana di kamar ini terlalu menyebalkan."

Dengan senang hati, Gilbert mengangguk dan menyambar jaketnya. Sebelum Antonio atau Francis bertanya ke mana mereka pergi, keduanya sudah menghilang dan bergegas menuju elevator.

Keduanya menghabiskan waktu cukup banyak ketika berada di lantai kasino. Mereka mencoba keberuntungan di beberapa meja—poker, blackjack, dan roullette—sampai akhirnya kehabisan chips dan memutuskan untuk mengisi tenaga di meja bar.

Screwdriver pesanan Gilbert baru saja selesai ketika Willem menghampiri rekannya, kehabisan chip-nya yang terakhir tanpa hasil apa pun. Ia meminta segelas gin and tonic lalu duduk di samping Gilbert, memperhatikan orang-orang yang masih bersikukuh memenangi salah satu dari sekian banyak mesin serta meja judi.

"Apa ada kabar dari Antonio?" tanya Gilbert.

"Belum." jawab Willem, singkat. Pria berambut pirang jabrik itu bahkan tak merasa perlu untuk mengecek telepon genggamnya sebelum menjawab.

"Berarti dia sama sekali tidak tahu kalau kita berdua menghilang dari kamar."

Willem hanya menggumam tak jelas sebagai balasan, terlalu sibuk menenggak minumannya.

"Kalau Francis?"

Baru kali ini Willem mengeluarkan telepon genggamnya, membuka lock layar sentuh, menatap beberapa detik layar, lalu kembali memasukkannya ke saku celana. "Nope. Sepertinya dia juga sama bengongnya dengan Antonio."

"Atau Francis tahu kita pergi dan merasa harus menemani Antonio yang semakin kalut."

"Mungkin."

Keduanya kembali terdiam dan menikmati minumannya masing-masing. Waktu semakin malam dan pengunjung kasino semakin bertambah. Belum lagi tamu-tamu hotel yang meningkat drastis, mengingat rally akan diadakan hari ini, tepat tengah hari. Lintasannya mulai disterilkan sejak dua hari lalu dan mulai dibangun kursi-kursi penonton di sekitar lintasan. Kapal-kapal pesiar mewah milik para milyarder yang merapat di dermaga tampak semakin banyak, menunjukkan antusias para kelompok elit ini untuk menyaksikan balap esok hari.

"Omong-omong, adikmu itu bagian dari... mereka, kan?"

Sudut mata Gilbert berkedut ketika Willem menyinggung tentang Ludwig. Seharusnya pria berambut pirang itu tahu kalau subyek percakapan ini sangat tak boleh dibahas, sama tabunya dengan menyebut nama Lovino di depan Antonio. Mungkin, itu pertanyaan spontan yang diucapkan mengingat mereka sudah terhenti sampai sini.

"... Ya," sahut Gilbert lambat-lambat. "Memangnya kenapa?"

"Apa kau pernah berkomunikasi lagi dengannya setelah kejadian 'itu'?"

"Tidak. Kami putus hubungan sejak saat itu." Bohong, tentu. Baru beberapa hari yang lalu mereka bertemu, bahkan Gilbert membuat sebuah perjanjian rahasia dengan Ludwig. Tapi, Gilbert tidak merasa perlu untuk memberitahu teman-temannya.

Willem mengangguk-angguk mengerti, meski sorot wajahnya tampak sedikit kecewa. Ia mengalihkan pembicaraan dengan bergumam cepat mau mencari Procopiou dan menanyai si pemuda Cyprus. Gilbert—yang memang sedang ingin sendirian—tak mengikuti Willem dan terus menyesap minumannya.

Mencari Neoklis Procopiou bukanlah pekerjaan mudah, apalagi dengan kondisi kasino yang sepadat ini. Apalagi dengan tamu hotel yang membludak tiba-tiba, sosok sang manager merangkap sekretaris Bonquier semakin sibuk dan sulit untuk ditemui. Mungkin, ini alasan Procopiou tak memberi kabar sama sekali.

Di tengah pencarian Willem—biasanya, sang manager akan berada di tangga pembatas antara lantai kasino dan lounge hotel—serombongan orang Asia bergerak berbarengan menuruni tangga hotel. Celotehan ramai dalam bahasa yang benar-benar asing membuat telinga Willem berdenging. Dengan susah payah, Willem mencoba untuk menerobos kerumunan tersebut, namun tak semudah yang ia kira. Berkali-kali ia terhadang gerombolan lain dan terus seperti itu.

Mata cokelatnya menemukan sosok Procopiou yang berjalan menjauh. Dengan semangat baru, Willem kembali memaksa menerobos kerumunan tersebut yang untungnya sudah semakin menipis. Ketika ia tinggal melewati satu orang Asia bertubuh tambun, seseorang menabrak Willem. Tidak terlalu keras, tapi cukup membuat ia oleng sejenak dan nyaris jatuh.

Kesal, Willem segera membalikkan tubuhnya. Mulutnya sudah membuka, siap untuk melontarkan kekesalan dan hinaan kalau perlu. Namun, suaranya tak kunjung keluar.

"Maaf, ya." gumam si pemuda yang baru saja menabraknya sambil lalu. Ia bahkan tidak merasa perlu untuk mendongak dan mengucapkan permintaan maafnya dengan tulus sambil memandang Willem. Pemuda bersetelan jas serba hitam itu melanjutkan perjalanannya sambil menggandeng seorang perempuan muda berambut pirang berkepang dua.

Hanya dua hal yang berhasil tertangkap mata Willem: rambut hitam ikal dan sepasang mata abu-abu yang membuat detak jantung Willem berhenti sejenak. Layaknya apa yang terjadi di film-film romansa, waktu bagaikan berhenti. Kehidupan kasino berkelebat begitu cepat melewati keduanya, meninggalkan dua insan—satu terpana dan satunya sama sekali tak tahu—dalam balutan waktu yang begitu lambat dan menyiksa. Dan ketika sosok pemuda yang sepertinya hanya berbeda beberapa tahun dari Willem itu menghilang ditelan kerumunan pengunjung kasino, sang polisi berdarah Belanda langsung melupakannya.

Bukan keinginan sang pria berambut pirang, namun Gilbert menariknya menjauh dari kerumunan dan ke satu sudut kasino yang cukup sepi. Baru saja mulutnya membuka untuk membentak pemuda Jerman yang berani menariknya dengan kasar seperti itu. Tapi, omongan yang keluar dari mulut Gilbert berhasil membuat Willem terdiam.

"Selagi kau terbengong-bengong di sana, aku sudah berbicara dengan Procopiou. Dia juga memberiku detil lokasi serta apa yang akan terjadi di tempat Adnan." bisik Gilbert. Ia mengeluarkan secarik kertas tissue yang cukup tebal berisi tulisan rapi sang manager hotel. "Kita bergerak sekarang."

Saat Willem mencoba untuk mengingat kembali wajah pemuda yang barusan berpapasan dengannya, ia tak bisa.

.

.

Rangga dan Mathias telah sampai di pintu keluar kasino. Sesuai dengan rally-rally lainnya, Mona Bonquier akan berada pada podium privatnya, terletak paling atas dari semua kursi penonton, dan mendapatkan pandangan jelas melihat tiap tikungan mobil yang mengikuti balap. Sebuah kebiasaan yang memberi keuntungan bagi Commedia dell'Arte untuk menjalankan rencana mereka.

Ketika sang nona besar pemilik kasino sudah masuk ke dalam Rolls Royce-nya, Rangga langsung mengikutinya dan duduk di samping Bonquier. Ketika pintu mobil tertutup, sang supir langsung menjalankan mobil, tak mengetahui tatapan kebingungan Bonquier yang tertuju pada Rangga.

"Kohler tidak ikut?" tanyanya pelan, sedikit ketakutan. Semenjak Rangga 'tahu' rahasianya, perempuan muda itu menjadi lebih penakut dan hati-hati.

"Dia ada urusan, Nona Bonquier." sahut Rangga. "Biar saya seorang yang mengawal Anda untuk hari ini, Anda tak usah khawatir."

"Bukannya aku meragukan kompetensimu, Rangga. Tapi..."

"Tak apa. Mathias akan menggunakan jalur lainnya untuk meyakinkan perjalanan Anda aman, Nona." Rangga tersenyum kecil. Senyum palsu yang rupanya berhasil menipu Bonquier. "Kemungkinan nanti dia juga akan berjaga di sekitar podium Anda, Nona Bonquier. Sekali lagi, ini demi keamanan Anda."

"Begitu..." gumam Bonquier sambil mengangguk-angguk mengerti. Entah dia benar-benar mengerti atau memutuskan untuk pasrah saja. Perempuan berambut pirang kepang itu lalu meneggakkan tubuhnya, merapikan sejenak pencil skirt-nya, dan menatap keluar. Jalanan mulai padat dan bendera-bendera besar menyambut rally berhamparan. Ketika mobil mulai menepi di pinggir sirkuit, tepat menuju podium privat Bonquier, barulah sang nona berkata, "Kau tidak boleh mengecewakanku, Rangga. Kau harus melindungiku."

Beruntung Bonquier melewatkan seringai predator yang tersungging seklias di wajah Rangga. Senyum mengerikan yang dengan cepat digantikan oleh senyum manis dan penuh kebohongan diiringi ucapan, "Tentu, Nona. Saya akan menjaga Anda sampai titik darah penghabisan."

Setelah menaiki beberapa anak tangga, akhirnya mereka berdua sampai ke podium pribadi Bonquier. Betapa terkejutnya Rangga ketika mendapati sosok Herakles Karpusi menyambut keduanya, tanpa senyum, dan wajah mengantuk seperti biasa.

Sial pikir Rangga. Aku tidak tahu kalau Karpusi akan ada bersama dengan kita hari ini.

"Maaf, Nona Bonquier," bisik Rangga pelan. Sang pembunuh bayaran mencoba untuk tidak menunjukkan emosinya. "Apa yang ia lakukan di sini?"

"Tugasnya sama denganmu, Rangga. Dia di sini untuk melindungiku." jawab Bonquier santai dengan secercah senyum di bibirnya. Sepertinya sang nona muda ini merasa lebih senang berada di tengah dua pengawal ketimbang satu. "Toh, aku tak bisa terlalu mempercayaimu, Rangga."

Apa maksudnya?

Bonquier menyerahkan tas jinjingnya kepada Karpusi yang menanti dengan begitu sabar di dekat deret kursi. Senyum tipis di wajahnya membuat Rangga tahu ada sesuatu yang tak beres. Jangankan senyum itu. Kehadiran sang tangan kanan musuh saja sudah merupakan pertanda buruk. Bonquier hanya tertawa kecil dan duduk di kursi penonton yang terbuat dari busa berlapis kulit, dijahit tangan.

"Kau polos sekali kalau mengira aku tak tahu tentang rencana busuk kalian, Brighella."

Bagaimana dia bisa tahu?!

"Kalian pikir aku sebodoh itu sampai membocorkan informasi bahwa aku tahu tentang Adnan dan mengakui kerja sama tertutup dengannya, lalu mengemis padamu untuk tidak bicara apa-apa pada Il Dottore?" Seringai di wajahnya semakin melebar. "Justru sebaliknya, Brighella -ku sayang. Aku sudah tahu kalau kau pasti akan memberitahu pempimpinmu itu. Aku malah mengharapkan itu terjadi, sejujurnya."

"... Kenapa...?"

Bonquier mendesahkan napas panjang, seolah-olah tindakannya begitu berat, lalu berkata, "Karena aku tak mau lagi bekerja sama dengan kalian, Commedia dell'Arte. Tuntutan kalian terlalu besar tanpa imbalan yang sesuai. Adnan memberikanku tiga kali lipat keuntungan daripada yang kalian berikan padaku!"

"Jadi, ini semua hanya karena bisnis? Kau mau mengkhianati Commedia dell'Arte hanya karena urusan bisnis?" geram Rangga. Tak terbendung sudah emosinya, apalagi setelah mendengar pengakuan memuakkan dari mulut perempuan ini.

"Ya, tentu. Aku ingin melepaskan hubungan dengan Commedia dell'Arte, tapi Il Dottore pasti tak akan mengizinkannya. Dia akan meminta bayaran yang sangat besar dariku." sahut Bonquier, bangga. Seringai di bibir merahnya semakin melebar dan membuat Rangga semakin geram saja. "Nah, berhubung aku tahu betul seperti apa sifat Il Dottore, aku sudah menduga kalau kalian pasti akan mulai menyerang saat rally berlangsung. Dari dugaanku, Il Dottore juga tak suka membiarkan aku mati begitu saja tanpa mendapatkan kompensasi atas pengkhianatanku. Biar kutebak; dia meminta kalian untuk menguras habis isi brankas, kan?"

"Hm... Kalian memilih waktu pencurian yang sangat tepat, Brighella." celetuk Karpusi. "Rally tahunan yang diadakan di Monako memang terkenal menghasilkan dan mengeluarkan uang paling banyak. Orang-orang kaya sibuk bertaruh siapa yang paling unggul, membuat mereka tak peduli berapa banyak uang yang mereka pertaruhkan hanya untuk menunjukkan gengsi. Pasti semua brankas kasino di Monte Carlo akan dipenuhi banyak uang, terutama kasino utama milik Mona Bonquier."

Sial, sial! Dari mana mereka tahu tentang ini?! Rutuk Rangga kesal. Jemarinya mulai meraba ke saku celananya, merasakan gagang handgun andalan miliknya. Pistol kecil sederhana yang tak pernah mengecewakannya di setiap misi. Kalau dibutuhkan, ia akan membunuh dua orang ini, sekarang.

Rupanya gerakan tangan Rangga disadari oleh Karpusi yang dengan sigap langsung mengeluarkan pistolnya sendiri. Wajah datar tanpa ekspresi itu mendongak, menatapnya lurus. Sekalipun si pemuda Yunani itu tampak tak bersemangat (kapan ia pernah terlihat antusias dengan apa pun yang ia kerjakan?) sorot matanya menggambarkan ekspresi yang jauh berbeda; penuh hasrat membunuh dan kobaran semangat yang mengerikan.

Mona Bonquier tertawa gembira. "Kau bodoh kalau mengira bisa membunuh kami berdua di sini, Brighella." desisnya. Suara manis berbalut racunnya itu terdengar begitu menjijikkan di telinga Rangga. "Ruangan ini tertutup dari yang lainnya. Tak akan ada yang bisa menyelamatkanmu di sini, Brighella. Bila nanti Herakles membunuhmu, kami dengan mudah menyembunyikan mayatmu dan melenggang keluar dari sini seperti tak ada yang terjadi."

Perempuan ini benar. Bila Rangga mati di sini, sekarang, tak akan ada yang bisa menyelamatkannya. Semua rekannya berada di hotel, tersebar di beberapa titik yang—

Tunggu. Kalau Rangga sendiri ketahuan, bagaimana dengan nasib teman-temannya?

.

.

Feliciano Vargas menyenandungkan lagu gembira sambil mengaduk-aduk pasta. Rambut cokelatnya dimasukkan dengan rapi ke dalam topi putih berukuran kecil supaya tak ada pengunjung yang nanti protes tentang rambut cokelat pendek menggenang di saus pasta mereka.

Pemuda Italia itu terlalu asyik mengurus makanannya, sampai-sampai ia tak sadar ketika pelan-pelan koki yang lain mulai meninggalkan dapur dan para pelayan sudah tak ada yang masuk ke dapur untuk mengambil pesanan. Yang ada hanyalah beberapa orang bertubuh besar dengan pakaian serba hitam. Pelan-pelan, mereka berjalan mengelilingi Feliciano yang masih dengan riang mengaduk pot saus pastanya.

Barulah ketika Feliciano menyiramkan saus spesial tersebut ke atas gulungan pasta, ia menyadari ada yang ganjal dengan suasana dapur.

Mata cokelatnya menatap berkeliling orang-orang di sekitarnya. Semuanya menggenggam pistol di tangan masing-masing. "Ve... Kalian bukan koki baru, kan?"

"Bukan," sahut salah satu dari mereka. "Kami di sini untuk menghabisimu, Pantalone."

.

.

Razak memindah-mindahkan channel televisi sambil bosan sekaligus tegang. Sebentar lagi, misi terakhir mereka akan dijalankan secara bersamaan. Sedikit saja kesalahan atau lengah dalam pengaturan waktu, semuanya bisa gagal.

Mata cokelat sang pemuda Asia melirik ke jam tangannya dan mendesah panjang. Masih lama. Well, tidak terlalu lama, sih. Mungkin sekitar lima belas menit lagi. Dia tinggal menunggu sinyal dari Burrattino dan barulah Tartaglia—yang sudah siap di tempatuntuk beraksi.

Terdengar suara ketukan ketika Razak baru berdiri dari sofa. Menggeram kesal, pemuda berambut hitam itu berjalan ogah-ogahan ke arah pintu hotel. Rupanya pegawai room service yang datang membawakan satu troli makanan.

"Aku tidak pesan makanan." kata Razak sambil mengernyitkan keningnya, bingung. Apa Il Capitano yang pesan sebelum pergi meninggalkan kamar? Tapi, dia juga tidak berpesan apa-apa pada Razak. "Kau pasti salah antar."

"Tidak mungkin salah, Tuan." kata si pegawai hotel. "Makanan ini dipesan untuk Anda, Tuan Scapino."

"Tapi aku ti—" Suara Razak serasa tercekik ketika ia menyadari si petugas hotel barusan menyebutnya dengan codename-nya. "... Kau salah orang..."

"Tidak," Glock ditodongkan tepat ke muka Razak, membuat sang hacker mundur teratur. "Saya tahu betul siapa target saya, hacker Commedia dell'Arte, Scapino."

.

.

Ludwig Beilschmidt mencoba untuk tampil tenang dan rileks, meski jantungnya berdetak begitu cepat tak karuan. Ia panik, khawatir, sekaligus tegang. Melihat sosok Tartaglia yang begitu meragukan membuatnya mau tak mau ragu akan keberhasilan misi ini. Dia tak pernah bertugas dengan Tartaglia. Wajar kalau Ludwig merasa gelisah.

Sang pemuda berambut pirang itu mengeluarkan ID card-nya dan menggesekkan kartu tersebut, terburu-buru. Keningnya berkernyit ketika lampu merah dan tulisan "Access denied" tertulis di layar entry. Sekali lagi ia mencoba menggesekkan kartunya dan jawaban yang sama terulang di layar.

Entah sudah berapa kali Ludwig berjibaku dengan aksesnya, tapi semuanya gagal. Matanya melirik gelisah ke jam tangannya dan keringat semakin membanjiri pelipisnya. Waktunya tinggal sedikit lagi dan ia belum berada di ruang pengawas untuk membantu gerak Tartaglia.

"Ada masalah?" tanya seorang pegawai. Ia dan dua rekannya berjalan mendekati Ludwig. Dari warna seragam dan badge mungil di dada mereka, ketiganya juga bekerja di divisi yang sama dengan Ludwig. Namun, wajah mereka asing...

"Alat brengsek ini tidak mau membiarkanku masuk." jawab Ludwig kesal.

"Boleh kami lihat kartumu?" Tanpa curiga, Ludwig menyerahkan kartunya kepada tiga orang itu. "Ah, kau bekerja di divisi yang sama dengan kami, ya? Paling ini hanya kerusakan biasa saja. Kau bisa minta ganti nanti. Mari, biar kubukakan pintunya untukmu."

Orang itu lalu menggesekkan sendiri kartunya dan lampu hijau tampil. Dengan mudah, ia membuka pintu dan mempersilakan Ludwig untuk masuk.

"Wah, terima kasih banyak. Aku nyaris saja melewatkan jam kerjaku."

"Tak apa-apa, teman. Toh, kalau kami membunuhmu di luar sana bisa menjadi citra buruk bagi para pengunjung kasino."

"... Eh?"

"Sebaiknya kau tutup mulut dan masuk ke dalam, Burrattino."

.

.

Dengan mudah, Arthur berhasil menemukan sosok Neoklis Procopiou sedang duduk santai menyesap kopi sorenya. Matanya bergerak menyusuri kata demi kata di koran sorenya ditemani suara gemericik air mancur hotel. Suasana yang begitu tenang, sesuai untuk 'berdiskusi'.

"Tuan Procopiou, boleh saya menemani Anda sore ini?" Arthur tersenyum sopan dan tanpa menunggu persetujuan Procopiou langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa. "Bagaimana kopi Anda? Enak?"

"Ya, Tuan Kirkland." balas Procopiou lambat-lambat. Ia lalu menggulung korannya dan meletakkannya di atas meja. "Anda juga mau pesan?"

"Ah, tidak usah. Toh, pekerjaan saya sebentar di sini." tolak Arthur dengan begitu sopan.

Procopiou hanya mengangguk-angguk. "Baiklah. Apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya, Tuan Kirkland?"

"Kau tahu betul siapa aku," bisik Arthur pelan, mulai meninggalkan sedikit kesopanan dan kata-kata manis yang semula ia gunakan. "Kau sendiri juga tahu tentang pengkhianatan Bonquier terhadap Commedia dell'Arte. Di sini, aku membawa pesan Il Dottore untuk meminta bayaran atas pengkhianatan menjijikkan kalian."

"Apa maksudmu, Il Capitano?"

"Kami minta bayaran, lengkap dengan bunganya." kata Arthur santai. "Setelah kami hitung, kami ingin bayaran tunai, semua uang yang ada di brankasmu."

"Begitu... Itulah sebabnya kau datang menemuiku; kau ingin memintaku untuk menyerahkan kode brankas padamu, kan?"

"Betul sekali. Supaya ini cepat selesai, kau bisa berikan sekarang tanpa perlawanan, Procopiou."

Sejenak, keduanya terdiam. Hanya suara gemericik air dan hiruk-pikuk para pengunjung kasino yang terdengar. Perlahan, Procopiou akhirnya membuka mulutnya dan tersenyum, "Sayangnya, aku menolak untuk memberikannya, Il Capitano."

Kedua mata Arthur menyipit penuh amarah ketika mendengar jawaban Procopiou. Bukan hanya itu, kedua mata zamrudnya juga menangkap pergerakan di beberapa sudut kafe. Beberapa orang bertubuh besar dengan setelan jas hitam berjalan semakin mendekat. Jantung sang tangan kanan Commedia dell'Arte berdetak semakin tak karuan ketika melihat pistol menyembul dari balik jas mereka.

"Aku tak bisa mengkhianati atasanku seperti itu." kata Procopiou. Orang-orang bersetelan jas itu sekarang sudah berada mengelilingi Arthur. "Aku bukan penjahat. Lagipula, Nona Bonquier menjanjikan kenaikan gaji dan pangkat bagiku kalau aku berhasil menyingkirkanmu, anak buahmu, dan polisi-polisi itu sekaligus."

"Apa maksudmu dengan polisi?"

"Oh, tenang saja, Il Capitano. Commedia dell'Arte tidak akan mati sendirian hari ini. Aku sudah mengirim empat orang polisi penggangu, kelompok Carriedo, untuk mati bersama kalian."

.

.

Bersambung

.

.


Notes: Saya mengaku malu menjadi anak arsitektur interior, belajar tata kota dan lanskap, tapi nyasar di Skyrim :| #JEGER Seandainya ada crossover antara Skyrim dan A Song of Ice and Fire... #difusrodah #digigitGreyWind #disemburDrogon Bales review sekarang, yaaa~

Rhiani: sama-sama :D Gak ada adegan WillRang, bahkan gak ada pairing sama sekali XD Ini murni rate M karena alur ceritanya... QuQ Makasih reviewnya.

Ferra Rii: hoooo... Semoga yang ini udah gak bikin bosen lagi, ya :') Mana gambarnyaaaa #eh Makasih reviewnya~

Higitsune84tails: ohohooho~ Biarin, kalo gak ada cliffie gak nendang =3= #ditendang ... padahal menurut saya teka-tekinya failed, hahahaha! #plak Makasih untuk reviewnya~

Hetalia Lover: ... kenapa pada galau sama cliffie, sih? Cliffie itu imut-imut kayak Drogon~ #disembur Hmm... cinta bertepuk sebelah tangan, gak, yaaa~ #eh Wahahah! Yaudah, lah, semoga dirimu gak kena brain damage QuQ Makasih reviewnya~

Kagamiya Neko: karena kebakaran jenggot is too mainstream :| #eh Gak ada WilRang di sini, maaf, ya~ Biarin mereka lovey-dovey-an di fanfic orang lain~ Makasih reviewnya~

Nyasar-tan: dukung saya aja OuO #eh Bahkan saya jadi bimbang ini CDA pelaku kriminal apa malah detektifnya... #eh BIARIN ENDINGNYA GITUUUU~ #plakplak Makasih reviewnya~

Sherry-me: dibales di sini aja, yaa~ :D Dirimu masih stres ujian, kah? Semangaaat! Semoga cepet beres dengan nilai memuaskan QuQ Kenapa nostalgia X'D Yah, udah saya kasih daftar codename-nya QuQ Plot... percaya atau nggak, saya gak pernah nyatet plot. Seketiknya aja :| Makasih reviewnya~

MasochistDevil: kan ini prequel, jadi Rangga masih idup XD Kasian, Antonio gak pernah judi #pukpukAntonio Saya bahkan lupa kalo ada Mezzettino :| Makasih reviewnya~

: hmmm... ketemu gak, yaaa~~ #eh Karena kebakaran jenggot is too mainstream #andamengulang #biariiiiinnn Makasih reviewnya~

Semuannya udah dibales, ya? Oke, kalo gitu biarkan saya membolang ke dunia Westeros dan Skyrim lagi QuQ #tabokinEsbern #garagaraeluquestguegakkelark elar #tabokinAlduin #eeeehhh