Oke ini lanjutannya, langsung aja, this is it!
ES21 Fanfiction
Disclamer : Riichiro Inagaki dan Yuusuke Murata
Warnings : OOC, alur yang mudah-mudahan tidak kecepatan, typos
Maaf kalau jelek :)
Story : Rufina Yumi (Rufi-chan)
At the end
NORMAL POV
Pria berambut merah itu pulang dengan riang, seribu kali lebih senang dari sebelumnya.
Bersiul dan menari-nari sepanjang jalan, ada perasaan puas dalam dirinya setelah bertanya-tanya apa yang menunggu di hari ulang tahunnya, ternyata hadiah ulang tahun ini adalah hadiah terindah dari Tuhan selama hidupnya, seorang bintang yang akan menemani hidupnya dikala terang saat mereka tak bisa terlihat oleh mata pengamat langit dan saat malam saat mereka bisa memancarkan sinarnya bersama.
Akaba POV
"Hah, inikah rasanya?" aku merasa puas dan yakin. Entah dari mana rasa itu, dari hati ini? Sejak kapan hati ini belajar hal seperti ini, kenapa dia belajar tanpa sepengetahuanku dan mengapa dia belajar tanpa mengajakku sejak dulu? Sungguh tidak adil. Tapi aku senang, hati ini mengajariku saat ini, tidak pada saat yang lebih lama lagi nantinya, haha.
Biarlah itu menjadi rahasia si Hati, toh, dia telah melaksanakan tugasnya malam ini, yaitu mengajariku jatuh cinta. Pandangan pertama pula. Aku harus berterima kasih padanya. Hn, dan Tuhan.
BRUK
Ku lempar sepatuku ke pojok belekang pintu, baru ku raskan lelahnya hari ini.
Mungkin aku terlalu bersemangat.
Tapi ini adalah hari yang spesial.
Ku rebahkan tubuhku berharap wanita itu akan ku temui lagi, esok, lusa, besok lusa, atau mungkin dalam mimpi.
HANA POV
"Ah." Ku hempaskan tubuhku ke tempat tidur kecil, menengadap ke langit-langit rumah, menikmati pemandangan lukisan senja hari yang terpapah rapi di atas itu menambah kesejukan di hatiku. Hari yang melelahkan tapi berkesan.
Lukisan yang dibuat almarhum ayahku saat berumur 5 tahun itu membuatku semakin tersenyum sendiri.
Sosok yang ku temui tadi persis dengan sosok sang ayah, suka bermain musik walaupun dia bukan pekerja musik malah menjadi pekerja kantoran. Tingkahnya yang konyol tadi tentu bukan seperti ayahku, dia seperti ibuku. Aku tertarik ingin bertemu dengannya. Ah, apa yang ku fikirkan ini.
Tapi, aku ingin.
Dan ku rasa dia juga menyukaiku, ah, tunggu dulu, apa aku sekarang menyukainya? Ah, yang benar saja, tidak mungkin. Ini pasti hanya rasa kagum pada sang ayah atau rasa kangen karena tidak akan pernah bertemu dengannya lagi semenjak 5 tahun yang lalu.
"Hanaaaaa" teriak sang ibu tercinta ku menghamburkan lamunanku.
"Iyaaa" ku balas teriakan wanita yang sangat berjasa selama hidupku.
Aku keluar dari kamar ku lihat sang mama berdiri di depan kamar menyelimuti tubuhnya dengan jaket yang lumayan tebal menatapku khawatir, memang suasana sekarang agak dingin namun entah mengapa kehangatan yang menjalari tubuh mungil ini, "Lembur lagi?" tanyanya dengan wajah yang sendu.
"Hn" aku mengangguk dan tersenyum lebar padanya,
"Kakak baru pulang mam?" sesosok wanita kecil berumur 13 tqhun muncul dari balik tubuh sang ibunda
"Ayame? Kau belum tidur?" tanyaku pada sesosok gadis mungil itu,
"Sudah, aku tebangun karena mam khawatir pada kakak" jelasnya mendekatiku,
"Mau tidur bersama kakak?" tawarku pada gadis bermata azure sepertiku itu,
"Hn" angguknya senang.
Ku anggukkan kepala pada ibuku mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Semenjak kepergian ayah, ibu selalu menjaga kami dengan baik, selalu bersikap hati-hati dan tak pernah sekalipun marah pada kami. Harus menjadi tulang punggung untuk sebuah keluarga kecil seperti ini tak membebaniku sama sekali, yah, ibuku juga bekerja namun, hanya menjual kue yang dititipkan di sekolah Ayame. Ibu selalu bersikeras untuk menyuruhku mencari pekerjaan yang lain, karena lelah melihatku lembur terus. Namun aku suka menjadi editor di sebuah majalah yang terbit setiap minggunya. Menyalurkan kreatifitas dan terkadang membuat cerita untuk mejalah tersebut sudah membuatku sangat nyaman. Dan tak ingin menggantinya dengan pekerjaan yang lain.
"Nah, sekarang Ayame tidur ya" ku selimuti tubuhnya, dan mematikan lampu. Ku berbalik dan memperhatikan sesosok gadis mungil yang menutup matanya untuk menanti hari esok.
"Tuhan, tetap utuhkanlah keluarga ini" gumamku menutup mataku, berharap esok menjadi hari yang lebih indah dibanding hari ini.
NORMAL POV
Gadis berambut pendek hitam pekat itu merasakan seberkas cahaya. Ia membuka mata azurenya dan menyapa sang mentari yang memancarkan karunianya. Meraba setiap sudut ruangan dengan pandangan. Ayame sudah tidak berada di sampingnya, berarti anak itu sudah akan bersiap ke sekolah. Ia bangun, merenggangkan setiap sendi-sendi di tubuhnya, sesekali menguap menandakan ia masih ingin istirahat yang lebih lama lagi, namun, itu mustahil, berkas yang akan menumpuk hari ini di mejanya akan menjadi sumber hidupnya akan menanti untuk disentuh, dan diselesaikan.
Ia bergegas ke kamar mandi, melucuti pakaiannya satu persatu dan memanjakan tubuhnya.
Sementara itu sang belahan jiwanya masih tertidur lelap diatas kasur empuknya, tak merasakan bahwa cahaya yang masuk ke ruangan dan meneranginya telah memaksanya untuk melanjutkan hari.
Gadis bernama Hana itu memakai parfum kesukaannya. Sentuhan terakhir untuk mempersiapkan dirinya melewati hari. Parfum aroma rose itu tak pernah ketinggalan untuk membumbui badan gadis berambut hitam pekat itu. Bahkan ia membawa ukuran mini dari parfum tersebut. Ia sangat cinta pada aroma manis, layaknya gula-gula tapi memancarkan keeleganan seorang wanita. Ia tak pernah bosan, ia sangat jatuh cinta pada aroma itu. Jika ia tidak ditemani dengan aroma itu, ia tak akan bisa konsentrasi seharian.
Sang wanita berjalan menelusuri jalan yang telah terekam baik dalam otaknya. Mungkin, walau dia lupa ingatan kakinya akan membantunya untuk menelusuri lapak jalan yang disekelilingi bangunan tinggi mencakar langit itu. Selama perjalanan ia berfikir, berfikir kejutan apa yang akan Tuhan berikan padanya. Berfikir tentang lelaki yang yah ia akui menarik perhatiannya semalam itu.
Sementara si pemikat masih terlelap nyenyak bagaikan orang tak bernyawa tak merasakan apapun. Bahkan segala anggota elektroniknya telah menyerah untuk membangunkan seorang pria yang entah mengapa berubah menjadi putri tidur hanya dalam sehari.
AKABA POV
"Mm" aku mengucek-ngucek mata yang telah beristirahat ini meraskan tempaan sang cahaya lembut menembus gorden apartmentku, "Cepat sekali terangnya" gumamku melempar pandangan ke setiap sudut ruangan yang kesukaanku.
Melirik jam yang tergantung kokoh di dinding salah satu sudut ruangan itu.
"Apa?! Sudah pukul 13.00? apa aku gila?" keterangan yang terpampang jelas didepan mataku membuatku kalut, ini pertama kalinya dalam hidupku bangun di pukul segini, otakku sudah tidak bisa bekerja, kerjaanku pasti telah tertumpuk, bosku pasti akan mengomel. Ini gawat. Ah, sial.
Handphone, ya, benda itu. Dimana? Aku mencoba meraba di setiap celah tempat tidurku, ku rasa aku mearuhnya tepat di samping bantalku. Mengapa benda brengsek itu tidak membangunkanku hari ini gerutuku dalam hati. Sepanjang pencarian aku hanya mengomel tidak jelas menyalahkan sang persegi panjang tipis itu.
"Aha! Dapat kau!" kataku bergurau bahagia.
"Ah, sial! Ternyata benda ini lowbat ternyata, apa yang ku fikirkan semalam, mengapa aku tidak mencargernya? Ah, haruskah aku sesial ini hari ini?" aku beranjak mencari charger untuk mencharge si handphone sialan ini.
Aku pasrah menerima bahwa hari ini aku bisa bersantai di rumah, walaupun aku tahu besok aku akan mati diomeli oleh sang manager cantik Mamo dan bos gila Hiruma-kun. Mereka berdua tidak jauh berbeda. Tidak heran mengapa mereka bisa menjadi suami istri yang tidak pernah akur, bukan, jarang akurnya. Tapi entah seluruh pagawai disana sangat menyukai dan mendukung hubungan yang kurasa aneh itu.
Aku berdiri menghadap ke luar jendela memegang coklat hangat yang mengepulkan asap hangatnya menyentuh kulit wajahku menunggu sang persegi panjang tipis itu mempunyai cukup daya untuk hidup kembali. Menerawang keluar sana, berfikir keras akan ambang harapan yang telah membawanya kedalam mimpi indah yang membawa sial setelahnya.
"akankah aku bertemu dengannya malam ini? Ku harap akan" desisku sendiri, menghirup sedikit demi sedikit secangkir coklat panas yang sudah sangat terlambat untuk disantap sebagai sarapan saat siang bolong begini. Tapi ia tidak bisa lepas tentunya.
NORMAL POV
"Isabel, temani aku hari ini di rumah yah?" katanya tersenyum lebar pada gitar kesayangannya itu.
Dia duduk mempersiapkan dirinya memetik tubuh indah isabel menutup mata dan
JRENG
Petikan gitar mulai mengalun indah mengikuti isi hati lelaki berambut merah itu, irama hatinya terpatri jelas melalui nada indah dari tubuh sang Isabel menggema di setiap sudut ruangan yang kosong itu.
Jam berganti jam, kegiatan terus mengalir mengikuti sang waktu yang akan terus membawa harapan mereka untuk bertemu di tempat yang sama malam nanti.
Malam telah datang, si kepala merah itu berjalan ke tempat sang paman menjual ramennya, dan snag bunga mawar pun bisa bernafas lega karena tugas yang sudah berkurang bisa mempercepat pertemuan mereka dia berjalan dari kantornya menuju kedai sang paman. Mereka membawa harapan masing-masing. Satu tujuan.
AKABA POV
"Hai, paman" sapanya dengan riang,
"wah, wah, sepertinya ada yang terlihat sangat segar hari ini. Apakah efek dari kemarin malam masih membekas? Wah, ingin kembali ke masa muda rasanya" canda sang paman sambil mengatur bangku untuk para pelayanannya nanti, memang aku datang lebih awal karena sudah tidak sabar untuk berada disamping paman jail ini.
Sejujurnya juga tidak, haha.
"Hn? Paman juga masih muda, tidak usah khawatir" candaku padanya.
"hahah kau bisa saja anak muda" kata sang kakek dengan tawa khasnya.
Huh, sekarang tinggal menunggu waktunya untuk beraksi.
NORMAL POV
Lelaki yang sangat bersemangat itu memainkan lagunya bersama dengan Isabel.
Mereka sangat serasi.
Sedangkan wanita berambut hitam pekat itu memandang dari jauh, dan tersenyum.
Ia menarik nafasnya dalam-dalam, menghembuskannya dengan pelan, dan melangkahkan kakinya menuju kedai kecil itu.
Ia tidak boleh kelihatan gugup berhadapan dengan pria itu, ucapnya dalam hati dengan yakin.
"Paman? Um, hai, pesan ramennya satu ya paman" ketika sampai di kedai kecil itu, tersenyum pada sang pria pemain gitar, dan menyapa sang penjual yang telah menua dimakan usianya.
"Oh, tentu saja. Dan spesial" kata sang paman tua itu.
Beberapa menit telah berlalu, dan kedua orang itu hanya menghabiskan waktunya untuk saling berpandangan. Si pria terus menggoda sang wanita dengan petikan gitarnya dan tentu saja sang wanita menikmatinya, siapa yang tidak akan jatuh hati pada alunan gitar tubuh Isabel itu? Mustahil. Tapi, tentunya dengan dukungan sang pemain gitar senyuman indah sang wanita tak akan berhenti.
"Nah, ini dia nona" akhirnya pesanan sang wanita berambut pekat itu datang.
"Terima kasih paman" balasnya dengan senyuman.
Dan Paman tersenyum kembali bersembunyi dibalik dapurnya mengerjakan pesanan-pesanan para pelanggannya yang kembali membanjiri kedai kecil itu seperti kemarin, membuat sang paman tidak bisa lagi menggoda kedua anak muda yang masih malu-malu kucing itu.
"Hai" sapa Akaba pada gadis yang belum ia ketahui namanya itu.
"Hn?" Hana menengok, "Uhuk" ia tersendat, terlalu kaget untuk melihat siapa yang ada dihadapannya memberanikan diri untuk menyapanya.
"Kau tak apa?" sang pria berambut merah itu menyerahkan segelas air putih padanya,
Dengan malu dengan reaksi refleks tubuhnya itu, ia mengambil air itu dan meneguknya sedikit, tidak ingin kelihatan rakus tentunya.
"Makasih" katanya tersipu malu, dan berfikir apakah dia bisa menghabiskan ramen yang tersisa di mangkoknya atau tidak apabila sang pria dihadapannya itu ingin duduk didepannya. Gawat.
"Boleh aku duduk disini?" katanya dengan sopan.
Sial. Gerutunya dalam hati.
"Um, ten-tentu saja" katanya agak ragu, dia akhirnya memutuskan untuk menghentikan makannya sebelm terlihat lebih konyol dengan tingkahnya, dan atmosfernya berubah menjadi lebih hangat dari seharusnya.
Dan tentu saja, wanita itu semakin khawatir.
"Kau tidak melanjutkan makanmu?" Kata pria itu dengan tidak kalah gugupnya tentunya.
"Um, aku sudah kenyang, hari ini tidak seberat hari kemarin" ya, dia harus berbohong lagi.
"atau aku..." katanya si pria berambut merah itu.
"Oh, tentu saja tidak" seolah bisa menangkap maksud pembicaraan sang lelaki dihadapannya, wanita itu membantahnya walaupun kenyataannya memang iya.
"Oheh" kata si pria itu, seolah kebingungan memilih kata-kata yang tepat untuk dia utarakan pada sang wanita dihadapannya, ini pertama kalinya untuknya jadi tentu saja tidak heran apabila ia berlaku seperti ini kan? Tapi apakah ini membuatnya terlihat konyol? Oh, ayolah bibir bergeraklah dan mengatakan sesuatu yang berarti, sebelum aku mati duduk disini. Gerutunya dalam hati.
"Astaga, aku Akaba" oh, Tuhan apa-apaan ini, bahkan hal sepenting ini pun aku lupa. Sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Hana" katanya tersipu malu dan membalas uluran tangan dari sang pria bernama Akaba tadi.
"Um, aku suka permainan gitarmu" kalimat yang sederhana namun berarti bagi Akaba itu menolongnya untuk mempunyai perbincangan yang lebih intens dengan Hana.
"Oh, syukurlah, kau tau, semua orang bilang begitu, tapi aku tidak membanggakan itu, hehe. Gitarku ini namanya Isabel. Ini adalah gitar kesayanganku dan aku wajib membawanya kemana..."
Begitulah, dan percakapan mereka berlanjut.
Bertukar nomor telepon dan membantu Paman adalah awal dari kedekatan mereka.
Hari demi hari mereka lewati bersama, bertiga dengan Paman, namun, mereka menikmatinya seolah hanya milik berdua, mereka selalu memyempatkan bisa bertemu kala pekerjaan mereka selesai di kantor masing-masing.
Namun, menjelang akhir tahun pekerjaan yang membuat mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.. mereka pun jarang bertemu, bahkan dengan paman pun sudah sangat jarang. Biasanya Hana datang tapi Akaba tidak ada disana, begitupun sebaliknya.
Mereka selalu berhubungan melalui telefon tentunya, tapi kembali lagi saat ada waktu luang.
Dan, akhirnya tak ada lagi komunikasi diantara mereka.
TAHUN BARU
HANA POV
"Kakak, ayo kita kesana kelihatannya banyak aksesoris yang bagus" tarikan manja Ayame di ujung bajuku mengagetkanku.
Malam tahun baru, malam bagi seluruh orang didunia, merayakan pergantian tahun baru yang akan membawa lemabaran baru bagi semua orang, harapan, dann kebahagiaan.
Seperti biasa pula, tradisi festival malam tahun baru yang penuh dengan desakan manusia yang ingin menikmati tahun baru berkumpul disuatu tempat, membuat ibuku harus hanya puas dengan duduk di kedai kecil yang menjual makanan dan menikmatinya, syukurlah, seseorang seperti beliau memang lebih senang memandangi orang disekitarnya dibanding berjalan berkeliling.
"wah, aku dapat satu boneka kak" teriakannya dengan gembira,
"Apa kau senang?" tanyaku berlutut dihadapanya.
"Ya, tentu saja, akan aku namakan boneka ini Hana. Seperti nama kakak, jadi aku tidak akan kesepian kalau kakak kerja lembur lagi" katanya menjelaskan panjang lebar,
Yang bisa ku lakukan padanya hanyalah tersenyum penuh arti dan mengelus poni yang hanya sampai menutupi alisnya itu.
"Kakak aku lapar" keluhnya padaku,
"Um, kalau begitu kita kembali ke Ibu ya?"
Dan dia hanya mengangguk, aku beranjak ingin berbalik dan,
BRUK
"Aw" aku mengelus kepalaku yang tertumbuk pada benda keras yang tidak tahu benda apa itu
"Maafkan aku. Aduh Isabel" ku dengar suara pria yang bahkan lebih memperhatikan sesorang atau benda bernama Isabel itu, enathalah, tapi apakah itu pantas disebut manusia kalau benda itu sekeras itu?
Aku menoleh dan
DEG
"KAU?" suara yang bersamaan dengan nada yang meninggi, tak disangka, ternyata, huh, Tuhan apakah ini rencana barumu?
Betapa tak disangkanya, orang yang selalu ku rindukan selama ini, yang ku kira tak akan ku jumpai lagi, dan hanya sebagian kecil dari hidupku, aku bertemu dengannya disini?
Tuhan memang selalu menyimpan rencananya dengan baik bukan?
Walaupun Ia sedikit kasar dengan membuat aku harus menunggu dan risau akan hal ini tapi, selalu sebanding dengan hal kecil yang sangat bermakna.
"hahah" tawa pun mewarnai pertemuan kali ini.
"Ituu..." tanyanya melirik ke arah Ayame,
"Oh, adikku, Ayame. Aku sudah sering menceritakannya padamu kan?" kataku berusaha mengingatkannya
"Oh, hai gadil kecil" sapanya pada Ayame, ya, dia sangat pandai mengambil hati seseorang, buktinya saja Ayame yang sangat pemalu dan agak tertutup pada orang asing bisa tersenyum dengan ringannya pada dia.
"Um, bisakah kita berbicara sebentar?"
"Tentu saja, aku ke Ibuku dulu menitipkan Ayame padanya."
"Aku menunggu disini" katanya dengan yakin.
AKABA POV
"KAU?" suara yang bersamaan dengan nada yang meninggi mengagetkanku,
Tuhan memang selalu menyimpan rencananya dengan sangat baik.
Dan kurasa ini malam yang tepat, aku tidak ingin membuang kesempatan yang tidak akan datang untuk kesekian kalinya.
Aku yakin.
Ku alihkan pandanganku kepada sesosok anak kecil yang disampingnya, bersembunyi.
"Ituu..." tanyaku dengan ragu, jangan-jangan, wanita ini pernah berkeluarga, tapi, kalaupun itu benar. Itu tidak akna menyurutkan nyaliku.
"Oh, adikku, Ayame. Aku sudah sering menceritakannya padamu kan?" katanya berusaha mengingatkanku
AH, betapa bodohnya aku melupakan hal itu, dan menuduh hal yang tidak benar.
"Oh, hai gadil kecil" sapaku pada Ayame, sambil jongkok dan tersenyum padanya, secantik kakaknya.
Aku berdiri dan mencoba megatakannya,
"Um, bisakah kita berbicara sebentar?"
"Tentu saja, aku ke Ibuku dulu menitipkan Ayame padanya."
"Aku menunggu disini" kataku dengan yakin.
NORMAL POV
Kedua pasangan itu duduk di taman sebuauh taman dengan pemandangan yang sangat romantis, dihadapannya ada sebuauh kolam besar yang dihiasi dengan lampu sepanjang kolam itu menambah suasana yang sangat hangat.
Tempat yang sunyi dibelakang festival itu, tempat yang cukup nyaman untuk mengutarakan perasaan masing-masing.
"Lama tak bertemu, kau terlihat sedikit gemuk, haha, sering makan mi ramen paman ya?" Godaku mencoba mengencerkan suasana yang begitu kaku itu,
"Ah, benarkah? Tidak, aku sudah jarang mengunjungi paman, pekerjaan yang menuntutku membuat waktuku banyak tersita. Bagaimana denganmu?" tanyaku padanya
"sudah lama aku tidak mengunjungi orang tua itu, aku juga rindu padanya." Terawang lelaki itu agak menyesali perbuatannya telah mengabaikan sesosok orang tua yang akhir-akhir bulan itu mengisi harinya dengan pepatah tua yang tak pernah ia dapatkan dari sang ayah.
"Hana?" kata pria itu berbalik pada wanita disampingnya memanangnya penuh arti.
"Hn? Hei, mengapa kau melihatku seperti itu?" kataku dan menamparnya halus.
"Memangnya terlihat aneh? Oke baiklah akan ku coba lagi. Ehm, Hana?" kata lelaki itu polos
"hahah berhentilah seperti itu, memangnya apa yang ingin kau katakan padaku hah? Mengapa kau begitu dramatic? Apa paman itu yang.."
Telunjuk Akaba yang tersentuh di bibir Hana mengisyaratkan Hana untuk berhenti berbicara
Hening.
"Menikahlah denganku" kata spontan itu mengubah mimik wajah Hana dan membuatnya tak bisa mengucapkan kata apapun,
"Menikahlah denganku Hana" ulang sang pria
Tapi masih tak ada jawaban dari wanita yang ada dihadapannya itu, apakah ini terlalu cepat atau diwaktu yang salah?
"Hana, menikahlah denganku" Ulang sang pria tak mau menyerah
Menunggu reaksi dari sang wanita, dan ia mengangguk, tak mengatakan apapun.
Pria itu tersenyum lega, tertawa sekencang-kencangnya tanpa memperhatikan wanita dihadapannya yang masih mematung tak bergerak.
Pria itu memandangi sang wanita dihadapannya, memegang kedua pipinya dan mendekatkan kening sang wanita dengan bibir lembutnya. Kemudian
CUP
Kecupan hangat hinggap dikening sang wanita.
"Paman tua itu tidak mengajariku apapun tentang ini" kata sang pria pada wanita yang akhirnya telah bisa menemukan kembali dirinya.
Mereka tertawa bersama, dimalam Tahun Baru,
Pesta kembang api pun dimulai.
Begitulah Tuhan, selalu mempunyai rencananya sendiri yang akan tersimpan rapi samapi pada saatnya.
Dan tentu saja cinta sejati akan tetap kembali pada pemiliknya.
Have done!
Thanks. Masih banyak kekurangannya, ya mohon dimaafkan. Terutama pada part mereka mulai kehilangan komunikasi, saya juga merasa itu kurang ngeh tapi kurang dpaat feelnya. Jadi, saya mohon maaf sebesar-besarnya kalo itu bisa mengganggu kenikmatan membaca readers ya ^^
Mudah-mudahan para readers dapat pencerahan atau pelajaran yang berarti dari cerita yang sangat sederhana ini.
Dan mohon kritik dan sarannya bisa di tulis pada kotak saran dibawah ini. Arigatou ^^
