Disclaimer :Masashi Kishimoto

Doll

Seorang bocah perempuan nampak istimewa pada suatu malam yang cerah. Gaun merah muda di tambah pita yang menghiasi rambutnya yang berwarna senada dengan gaun nya menambah kecantikan gadis yang sebentar lagi akan menginjak usia 8 tahun ini.

"Sakura, selamat ulang tahun ya." Seru seorang ibu seraya mengelus lembut kepala sang gadis kecil berambut pink itu.

"Terima kasih ibu." Sahut gadis kecil bernama Sakura itu seraya tersenyum dan mengedarkan pandanagn ke seluruh ruangan. Pesta ulang tahun nya kali ini memang terasa sepi dikarenakan keluarga gadis itu baru saja pindah kota dan tidak banyak kenalan yang mereka miliki di kota baru ini.

Tiba-tiba masuk seorang pria kedalam ruangan seraya membawa sebuah kue yang dihiasi lilin berbentuk angka delapan.

"Nah Sakura, ayo buat permohonanmu." Ujar pria itu seraya meletakan kue ulang tahunnya di depan Sakura.

Sakura memejamkan matanya sejenak, 'Aku ingin punya seorang sahabat yang bisa menemaniku kapan saja.'

Sakura membuka matanya dan meniup lilin di kue ulang tahunnya.

Kedua orangtua Sakura bertepuk tangan seraya memotong kue ulang tahun, dan ulang tahun ini tidak terasa lengkap tanpa sebuah kado bukan?

"Sakura ini kado buat kamu." Ujar sang ibu seraya memberikan sebuah bungkusan kepada anaknya.

Dengan antusias Sakura segera merobek bungkusan kado dan dia mengeluarkan sebuah boneka dari bungkusan itu, sebuah boneka cantik berambut pirang dan bermata biru.

"Boneka yang cantik! Terima kasih bu!" Seru Sakura girang seraya memeluk ibunya.

Sang ibu tersenyum lembut mengetahui anaknya menyukai hadiahnya, "Ibu tahu kamu kesepian karena harus meninggalkan teman-temanmu karena kita harus pindah, semoga boneka ini bisa menemanimu ya."

Sakura mengangguk semangat seraya mengendong boneka itu.

Doll

Malam semakin larut, namun Sakura masih terjaga, anak perempuan itu masih semangat memainkan boneka yang baru saja diterimanya dari sang ibu.

"Nah kamu kuberi nama Ino ya?" seru Sakura seraya menyisir rambut bonekanya yang berambut pirang.

Sepanjang malam itu Sakura terus bercerita kepada Ino, sang boneka, walau tahu Ino tak mungkin membalas setiap perkataannya namun Sakura tetap bercerita dengan penuh semangat sampai akhirnya dia tertidur, disamping bonekanya dan ada sesuatu yang aneh, pandangan mata boneka itu tiba-tiba berubah menjadi lebih "hidup".

Doll

"Aku pulang!" Seru Sakura seraya berlari ke kamarnya.

"Sakura, ganti baju dan makan siang ya!" perintah sang ibu.

Sakura yang sudah memasuki kamarnya segera menghampiri ranjang tempat bonekanya, Ino, terbaring.

"Ino! Ada banyak hal yang ingin kuceritakan padamu! Hari ini hari pertama aku masuk sekolah, teman-teman disana ramah dan baik padaku."

"Sakura cepat ganti baju dan turun makan." Terdengar suara sang ibu dari luar kamar.

"Baik bu!" sahut Sakura seraya meletakan bonekanya ke ranjang dan dia segera mengganti baju dan turun kebawah, sementara terlihat tatapan mata bonekanya berubah lagi, bukan hanya tatapan yang hidup tapi juga tatapan kebencian.

Doll

Malam kembali tiba, Sakura masih terlihat asyik bermain bersama boneka kesayangannya.

"Ino aku berharap kita bisa selamanya berteman yah? Aku sangat menyayangimu." Senyum Sakura seraya memeluk erat bonekanya dan entah kenapa Sakura merasakan luapan rasa sayang yang luar biasa pada bonekanya itu.

Sakura terus memeluk bonekanya hingga tertidur dan tanpa disadarinya lengan boneka yang dipeluknya bergerak dan mendekap tubuh Sakura.

Ke esokan harinya...

Seperti hari yang sudah-sudah, Sakura bermain dengan bonekanya, entah kenapa Sakura sangat betah berlama-lama bermain bersama boneka itu ketimbang bermain bersama teman-teman sekolah atau anak-anak yang tinggal disekitar rumahnya.

"Ino karena kau sahabat terbaikku, jadi apa yang kumiliki itu artinya milikmu juga." Seru Sakura seraya menyisir rambut boneka itu sementara tanpa dia sadari, boneka itu menyeringai.

"Bagaimana kalau kita menukar nama kita? Aku jadi Ino sedangkan kamu jadi Sakura! Keihatannya asyik." Sakura tertawa-tawa sendiri seraya mencium wajah bonekanya.

Doll

"Sakura kamu sudah mengerjakan PR dari sekolah mu belum?" tanya sang ibu pada Sakura yang nampak sedang asyik bermain bersama boneka nya di ruang tamu.

"Ibu, jangan panggil aku Sakura lagi, sekarang namaku Ino," Sahut Sakura seraya menunjukkan bonekanya pada ibunya, "Dan sahabatku ini yang namanya Sakura."

Sang ibu terdiam sambil terheran-heran, lalu dia menggelengkan kepalanya, 'Anak kecil, imajinasinya memang masih tinggi.'

"Baiklah Ino sekarang kerjakan PR mu ya."

Doll

Hari demi hari berlalu, kelakuan Sakura pun semakin aneh dan sungguh mencemaskan orang tuanya. Sakura yang dulu ceria kini menjadi sangat pendiam, dia menjadi lebih banyak bicara dengan bonekanya dari pada dengan orang di sekelilingnya bahkan pada orang tuanya sendiri, belum lagi pada akhirnya Sakura benar-benar menolak di panggil Sakura, dia lebih suka di panggil dengan nama Ino dan menjadi marah bila dia di panggil Sakura.

Melihat situasi yang tidak baik itu, pada suatu siang, saat Sakura berada di sekolah, sang ibu memutuskan untuk membuang Ino, sang boneka.

"Ibu! Dimana Sakura?" tanya Sakura yang baru pulang dari sekolah dan tidak menemukan boneka kesayangannya.

"Hah? Oh maksud kamu bonekamu? Sudah ibu buang sayang, nanti ibu belikan boneka yang baru ya?"

"KENAPA DIBUANG IBU? KENAPA!" jerit Sakura histeris.

Melihat reaksi Sakura, sang ibu menjadi terkejut, selama ini Sakura tidak pernah marah apa lagi menjerit kepada orang tua nya sendiri.

"AKU BENCI IBU!" tangis Sakura seraya masuk ke kamarnya, meninggalkan sang ibu dengan ekspresi terguncang dan sedikit merasa bersalah.

Sakura mengurung diri dikamarnya seraya menangis tersedu-sedu, dia terus menangis bahkan ketukan pintu dari sang ibu tidak dihiraukannya, hingga akhirnya dia jatuh tertidur akibat lelah menangis hingga akhirnya malam pun tiba.

"Ino..."

Tiba-tiba terdengar suara yang hampir mirip bisikan terdengar di telinga Sakura.

Sakura segera membuka matanya, dia lalu mengedarkan pandangan matanya, mencari sumber suara sehingga akhirnya dia menemukan sosok yang tidak asing lagi di dekat jendela kamarnya, sosok sebuah boneka berambut pirang tampak duduk di jendela kamarnya.

"SAKURA!" teriak gadis itu girang seraya berlari kearah jendela dan mendekap boneka itu dengan perasaan rindu luar biasa.

"Sakura jangan pernah tinggalkan aku lagi ya!"

Doll

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasanya, Sakura kembali berkutat pada bonekanya, bahkan dia rela tidak bersekolah karena tidak mau berpisah dari bonekanya, sementara ibu Sakura terlihat tidak bisa apa-apa melihat kelakuan putri kesayangannya, ia hanya bisa menangis pasrah.

"Ini sudah keterlaluan, bagaimana kalau kita bawa Sakura ke psikiater?" ujar sang suami pada istrinya yang habis menangis.

Istrinya nampak terdiam dan mendesah menahan beban, "Tapi anak kita tidak gila."

"Kalau terus dibiarkan malah akan menyiksa Sakura."

"Tapi..."

BRAAKKKKK!

Pintu ruangan terbanting, terlihat sosok Sakura di pintu dengan wajah memerah dan mata yang berair.

"AKU TIDAK GILA!" jerit Sakura seraya memandang kedua orang tua nya dengan tatapan benci.

"Sakura kami tidak..."

Belum sempat ibu Sakura menyelesaikan kata-katanya, Sakura segera berlari kekamarnya, dan membanting pintu kamar dan menguncinya.

"Sakura, dengarkan kami dulu nak!" ujar ayah Sakura seraya mengetuk pintu, namun Sakura sepertinya tak menghiraukan orang tuanya, dia terus menangis sambil memeluk bonekanya, hingga dia tertidur.

Doll

"Ino.."

Terdengar suara bisikan dari boneka yang dipeluk Sakura.

"Sakura?" gadis berambut merah muda itu terbangun seraya mengerjap.

"Sakura! Aku benci papa sama mama! Mereka kira aku gila!" seru Sakura sambil meneteskan air mata.

"Aku tahu, Ino kamu tidak gila, orang tua memang sangat egois."

Sakura kembali terisak dengan linagan air mata.

"Ino, aku akan menanggung semua penderitaanmu jangan menangis lagi." Ujar sang boneka dengan suara mendamaikan yang menyeramkan.

"Benarkah?"

"Ya, kau cukup memberikan darahmu sedikit untuk kuhisap, setelah itu tidurlah,begitu membuka mata semua kesedihan dan masalahmu akan kutanggung."

Sakura tercenung sebentar, lalu dia mengangguk dan mengigit jempolnya hingga berdarah dan disodorkannya jempolnya yang berdarah itu ke mulut sang boneka.

Setelah merasa cukup menghisap darah Sakura, sang boneka menyeringai, "baiklah tidurlah yang nyeyak Ino, besok masalahmu akan hilang, semuanya..."

Doll

Keesokan paginya, Sakura membuka matanya, dan dia melhat ayah dan ibunya duduk diatas ranjang kamarnya dengan wajah cemas.

Sakura baru akan berbicara namun ada yang aneh, suaranya tidak keluar, bahkan tubuhnya terasa kaku dan tidak bisa digerakan.

"Sakura, kau tak apa-apa nak? Jempolmu berdarah." Tanya ibu Sakura.

Sakura kembali berusaha membuka suara, namun ada suara lain yang menjawab pertanyaan ibunya, suara yang sangat familiar, suara Sakura itu sendiri..

"Ya ibu, aku tidak apa-apa dan maafkan sikap Sakura kemarin."

Dan pemandangan berikutnya sungguh menakutkan Sakura, dia melihat Ibunya memeluk sesosok anak berambut merah muda, tubuhnya sendiri.

Sakura kembali ingin berteriak dan menggerakan tubuhnya namun dia kembali tak bisa bergerak.

Sesosok tubuh yang sangat mirip dengan Sakura itu menoleh kepada Sakura yang terbujur kaku, dia tersenyum mengejek seraya berkata,

"Ibu, sepertinya aku akan membuang boneka Ino, aku sudah bosan bermain bersamanya."

The End