One Wish Company
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance
Pairing : NaruHina
Rated : T(eens)
Warning : Semoga tidak TYPO, AU-ish, OOC
Happy Reading
Don't like? Just Review ^
"I-ino..." gumam Naruto lirih.
Di benaknya sekarang muncul wajah Ino yang sedang merengut karena kesal.
Naruto, kenapa tidak sarapan?
Hei, baka! Itu punyaku!
Naruto, aku senang kau disini.
"Ino, aku menyayangimu..." batin Naruto.
Eh, baka, kau menyatakan cinta padaku? Aku mau pacaran denganmu, jika iya.
Naruto, kita backstreet, ya? Kita masih terikat kontrak, kan?
Baka! Ini kencan pertama! Kenapa penyamaranmu mengerikan sekali, sih!
Naruto, bagaimana ini? Foto kita tersebar...
"Jangan tinggalkan aku, kumohon..." bisik Naruto lembut. Hinata tertegun. Degup jantungnya semakin tak terkendali.
Naruto...
Naruto...
Naruto.
Naruto!
"NARUTO!"
Naruto mengerjap mendengar bentakan dari sosok gadis yang ia cintai itu, Yamanaka Ino.
Ino tengah berkacak pinggang dengan mengenakan apron biru dan slayer putih terikat di kepalanya.
"Bantu aku masak! Ini makan malam kita, kan?" sungut Ino kesal. Ia bahkan menyambar buku yang sedang dibaca Naruto agar pemuda itu bangkit dan memberinya bantuan.
"Sudah kubilang pesan makanan saja. Kenapa harus repot-repot masak, sih. Teuchi-jisan juga menerima kita di restorannya tanpa memberitahu wartawan," ujar Naruto sambil terkekeh. Ino merengut kesal dan kembali mengiris bawang yang sempat ia tinggalkan.
Kekesalannya seakan diterbangkan angin dan berubah menjadi seulas senyum saat ia merasakan lengan Naruto melingkar di pinggangnya. Naruto menempelkan punggung Ino pada tubuhnya dan menyandarkan dagunya pada bahu gadisnya itu.
"Apa yang harus kulakukan untuk membuat Ratuku ini senang?" tanya Naruto. Ino menahan napas saat merasakan bibir Naruto yang dingin di lehernya. Naruto menikmati harum tubuh Ino yang memabukkan.
"Kau bisa mulai dengan membuat saus spagetti-nya," ujar Ino ditengah debaran jantungnya yang tidak pernah terbiasa dengan interaksi fisik yang dilakukan pemuda yang mengisi hatinya itu. "Dan itu berarti, kau harus berhenti menggodaku, Baka-kun."
Naruto tertawa. Ia lantas mengecup pipi Ino sebelum mengerjakan tugas yang dilimpahkan padanya. Sang gadis tersenyum karena berhasil membuat Naruto bekerja di dapur.
Senyumnya berubah miris.
Sungguh, ia sangat bahagia dengan segala komunikasi verbal atau non verbal antara dirinya dan Naruto. Ino menatap sendu cincin perak yang melingkar di jari manisnya.
Terbayang di benaknya saat Naruto memberikan cincin itu. Sebelum peristiwa yang mengubah karirnya dalam sekejap. Hubungan yang sudah disembunyikan cukup lama, tercium publik. Foto-foto yang diambil tanpa sepengetahuan mereka tersebar di internet. Semua berubah horor.
Naruto adalah star atlet yang dicintai masyarakat. Skandal dengan aktris pendatang baru seperti Ino, mendapat reaksi beragam dari para fans-nya.
Ia diserang penggemarnya karena merahasiakan statusnya. Sedang Ino, diserang dengan julukan-julukan yang tidak mengenakkan. Berbagai kecaman dan tindakan anarkis para fans membuat Ino terpaksa mundur sementara dari kegiatannya.
Naruto melindungi Ino dengan maju sendiri ke muka publik. Pemuda itu membiarkan Ino menenangkan diri dan menyelesaikan semuanya dengan ditemani agency-nya. Demi kebahagiannya dan gadis yang ia cintai itu.
"Naruto, aku ingin semua tetap seperti ini. Aku dan kamu berdua. Bersama."
"Ino. Kita sudah bicara mengenai hal ini, kan?" Naruto berjalan mendekati Ino yang sudah nyaris mengeluarkan air mata.
"Aku takut, Naruto... Bagaimana kalau-"
"Hei." Naruto menarik Ino ke dalam pelukannya. "Semua akan kita selesaikan bersama. Setelah itu, kita menikah, tinggal di pedesaan, punya banyak anak, dan bahagia."
Ino menelusupkan wajahnya dan memeluk erat Naruto yang turut mempererat rengkuhannya.
"Kita akan bahagia, Ino. Aku janji."
"Naruto... Yakusoku dayou."
"Ne, yakusoku."
Malam itu, semesta menjadi saksi atas janji Naruto. Mereka akan bahagia. Pasti bahagia apapun yang terjadi.
Tapi, Tuhan punya rencana lain...
~SIMPLY ABSURDITY~
Naruto berlari di sepanjang koridor Rumah Sakit. Ia tak peduli penyamaran dirinya terpasang dengan baik atau tidak. Yang ada di pikirannya hanyalah sebaris do'a yang tak berhenti ia panjatkan.
Gadisnya mengalami kecelakaan. Gadisnya kehilangan kendali atas mobil yang dikendarai dan terlempar hingga melewati jalur tol yang berlawanan arah. Semua bertambah parah saat ada mobil lain yang melaju ke arah mobil gadisnya yang telah terbalik.
Naruto sekarang hampir sampai ke lokasi gadisnya hanya perlu melewati satu koridor dan ia tiba di tengah kerumunan wartawan yang haus berita.
"Naruto!"
Langkah Naruto terhenti akibat pemuda yang ia kenal sebagai sahabatnya sesama atlet menarik tubuhnya menjauhi kerumunan.
"Kau sudah gila, KIBA!" hardik Naruto berusaha melepaskan diri. Ia terus memberontak.
"Hei, BODOH! Kau yang gila! Kau akan habis jika bertemu para wartawan itu!" balas Kiba menarik Naruto pergi.
"Aku tidak peduli! Aku harus menemui Ino!"
PLAK!
"Arghh!" Naruto meringis merasakan wajahnya dipukul Kiba.
"Tenangkan dirimu! Semua usahamu akan percuma jika kau bertemu para wartawan itu! Gunakan akal sehatmu, BODOH!"
Naruto akan mengamuk jika Kiba tidak langsung melanjutkan.
"Lagipula, Ino tidak disana. Itu hanya umpan dan..." Kiba terhenti. Naruto baru menyadari kondisi sahabat terbaiknya itu.
Matanya bengkak. Hidungnya merah. Dan bajunya berantakan. Ditambah betapa pucat wajahnya yang biasanya kecoklatan. Jantung Naruto berdetak lebih cepat. Ia dapat membaca keadaan hanya dengan melihat situasi Kiba.
"Nak." Sesosok pria paruh baya dengan gaya rambut seperti Ino menepuk bahu Naruto. Naruto pun menoleh.
"Ayah," panggil Naruto lirih. Pria yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri itu tersenyum kaku.
"Kita harus kuat demi Ino," ujar Inoichi diplomatis.
Saat itu. Sejak saat itu, jiwa Naruto serasa tidak lengkap.
~SIMPLY ABSURDITY~
KRIIIIING...
Suara alarm menyadarkan Naruto dari tidurnya. Pemuda itu mematikan jam-nya. Dengan gontai, ia melangkah ke kamar mandi untuk melaksanakan ritual pagi.
Naruto membasuh mukanya dan menatap bayangannya yang terpantul di cermin. Ia meraih dua cincin yang ia jadikan liontin. Cincin miliknya dan Ino. N for I. I for N.
Inoichi yang memberikan cincin itu saat malam pemakaman Ino. Ketika semua pelayat telah pulang.
Naruto bukannya tak menerima kepergian Ino. Ia hanya belum terbiasa tidak mendapati Ino di sisinya. Belum. Walaupun sudah 3 tahun sejak kecelakaan itu terjadi.
Naruto melangkah keluar kamar. Baru ia berjalan selangkah, ia mencium aroma coklat pekat. Pemuda itu menoleh ke arah dapur dan menemukan Hinata sedang mengaduk mug yang mengeluarkan kepulan asap.
Ingatan Naruto kembali ke peristiwa kemarin. Ia tak dapat mengingat kejadian setelah ia tanpa sadar memeluk Hinata. Sontak, ia merasa bersalah.
"Ah, ohayou, Naruto-kun," sapa Hinata. "Ngg... Aku khawatir dengan keadaanmu kemarin. Makanya, aku..."
"Terima kasih, Hinata," potong Naruto. Hinata mengangguk malu-malu. "Dan, maaf mengenai kemarin."
Hinata menggeleng kuat. "Tidak apa, Naruto-kun. Aku memang tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi, tidak apa."
Naruto menghela napas. "Sekarang tanggal berapa?"
Hinata mengerjap kaget. Tidak menyangka Naruto akan mengalihkan pembicaraan. "Tanggal 30 Juni,"
Naruto menarik kursi di hadapannya dan duduk di sana. Tanpa menatap Hinata, ia kembali berbicara.
"Hari ini, boleh tidak ke panti? Tenang saja, aku akan tetap keluar apartemen," ujar Naruto. "Ada tempat yang ingin kudatangi."
"I-Iya. Setelah menyiapkan sarapan, aku akan pulang," ujar Hinata lirih. Ia tak menampik ada rasa kecewa yang terbersit di benaknya.
"Kamu mau pulang? Kenapa?" tanya Naruto heran. Pemuda itu akhirnya menatap Hinata. Ia juga meraih coklat yang disiapkan gadis itu.
"Na-Naruto-kun akan pergi. Ti-Tidak mungkin aku tinggal di apartemen ini, kan? Mungkin aku akan ke panti."
"Kan, maksudku kita pergi bersama."
Hinata menatap Naruto penuh harap. "Bo-bolehkan?"
Naruto terkekeh mendengar nada suara Hinata yang terdengar bahagia. "Tentu saja, siapa yang melarangmu ikut denganku?"
Hinata tersenyum dalam diam. Seluruh tubuhnya memancarkan aura bahagia karena Naruto bersikap baik padanya. Bukan berarti selama ini Naruto jahat padanya. Hanya saja, kali ini Naruto seakan lebih terbuka padanya.
"Kita naik mobilku saja, ya. Tempatnya sedikit merepotkan jika naik kendaraan umum," ujar Naruto saat mereka keluar apartemen. Hinata mengangguk tidak masalah.
Setelah keluar dari kawasan apartemen, Naruto turun di sebuah konbini dan membeli beberapa puding dan teh herbal. Kemudian, ia kembali memberhentikan mobilnya di sebuah toko bunga dan membeli sebuket bunga.
"Bunga, puding, teh," gumam Naruto mengabsen satu per satu barang-barang yang dibelinya. "Apa lagi, ya?"
Naruto tampak berpikir sejenak. "Ah, tomat ceri!"
Hinata hanya bisa menatap Naruto heran. Setelah membeli sekotak kecil tomat ceri di toko sayur yang mereka lewati, Naruto mengarahkan mobilnya ke daerah pinggiran kota. Hinata melihat suasana hutan dan mencoba menikmati lanskap yang disajikan di hadapannya.
"Wuah," gumam Hinata kagum. Karena setelah melewati hutan, terlihat pemandangan sebuah desa yang tampak asri. Bahkan, masih ditemukan sawah dan ladang di beberapa sisi.
Setelah itu, rumah-rumah yang terlihat mulai padat. Mereka sudah memasuki wilayah pusat desa. Mereka melewati beberapa tikungan hingga akhirnya berhenti di sebuah tempat. Mereka keluar dari mobil dan berjalan sejenak.
"I-Ini?"
Hinata terkejut saat membaca tulisan yang tertera di gerbang yang akan dilalui mereka. "Pemakaman umum?"
"Ayo, Hinata."
Naruto membimbing Hinata menuju sebuah nisan yang cukup besar. Di sana terukir, Di sini beristirahat sesosok anak, cucu, dan kekasih. Yamanaka Ino.
Hinata membantu Naruto menata beberapa barang-barang yang telah mereka bawa. Hinata hanya terdiam melihat Naruto yang tampak sedih.
"Puding rasa karamel, anggur, dan coklat. Rose, jasmine, dan camomile tea. Sekotak tomat ceri, dan sebuket bunga. Maaf, aku membelinya bukan di tokomu."
Kemudian, Naruto menghidupkan dupa dan mulai berdo'a. Hinata mengikuti Naruto dan turut berdo'a. Lalu, Naruto bangkit dan membersihkan makam Ino.
"Naruto?!"
Kedua insan itu menoleh ke arah suara berat yang memanggil Naruto.
Sesosok pria berambut coklat dan beriris obsidian. Ia membawa sebuket bunga. Ia menatap Naruto dengan mata berkaca-kaca.
"Kiba?" sahut Naruto heran. Pemuda pirang itu bangkit dan menunggu Kiba yang tengah berjalan menghampirinya. "Apa ka-"
BUUAKK!
"UGGHH!"
"KYAA!"
Hinata memekik kaget saat melihat Naruto ditonjok Kiba tepat di perutnya. Naruto kemudian menghalangi Hinata yang mencoba mendekat. Kemudian, pemuda itu membalas perlakuan Kiba. Hinata gemetar ketakutan. Ia melangkah mundur teratur.
BUK
Punggung Hinata bertabrakan dengan sesuatu. Hinata menoleh.
"Ah, mereka mulai lagi," ujar seorang yang bertubuh besar dan sedang memakan sekotak dango. "Kukira mereka tidak akan berani adu jotos di depan makam Ino."
"Eh?" Hinata menatap pria itu heran. Ekspresi pria itu tampak tenang seakan hal 'brutal' di hadapannya sudah hal yang normal.
"Oh iya. Kamu siapa?" tanya pria itu tanpa berusaha merelai perkelahian ataupun berhenti mengkonsumsi makanan manis di genggamannya. "Sepertinya kau datang bersama Naruto. Kamu pacarnya?"
Wajah Hinata memerah sempurna. Jantungnya ikut berdegup kencang tak terkendali. Tangannya berkibas cepat berusaha memberi isyarat bahwa penuturan pria itu salah. Namun, lidahnya terasa kelu dan suaranya tak mau keluar.
"Sepertinya bukan, walau kamu seratus persen tipe Naruto," tukas pria itu lagi. Hinata semakin salah tingkah. "Siapa namamu?"
"Hi-Hinata. Hyuuga Hinata," ucap Hinata setelah menemukan suaranya kembali.
"Namaku Akimichi Chouji." Pemuda itu tersenyum lebar. Ia menoleh ke arah Naruto dan Kiba yang semakin asyik bertarung.
"Apa sebaiknya aku menghubungi Shikamaru, ya? Mereka sepertinya akan lama."
"Shikamaru?" beo Hinata bingung. Tanpa mempedulikan kebingungan Hinata, Chouji tampak sedang menelepon seseorang.
"Ah, Shika. Naruto datang. Dia sedang ditonjok-ah, sekarang dia membanting Kiba. Kiba menendang-eh, dibalas lagi sama Naruto tuh."
Chouji terdiam sejenak. "Baiklah, berarti, aku duluan saja."
Pria itu meletakkan kembali ponselnya di saku celana. Lalu, ia menoleh pada Hinata.
"Ayo, Hinata. Kita pergi ke restoran keluargaku saja."
"Eh, ta-tapi..." Hinata melirik Naruto yang cukup jauh dari posisinya sekarang.
"Percuma saja. Yang bisa menghentikan mereka cuma Ino dan Shikamaru. Jadi, jangan habiskan energimu untuk hal yang sia-sia."
"... Baiklah,"
Setelah berjalan sebentar, mereka sampai di sebuah restoran yakiniku yang tertulis tanda tutup. Hinata membiarkan matanya berkeliaran ke seluruh penjuru toko. Suasananya sedikit tradisional, tapi sangat nyaman.
"Duduklah, biar aku menyiapkan makan siang. Kau sudah makan?"
"Ah, biar kubantu-"
Chouji menggeleng. "Aku hanya membawa bahannya. Nanti biar dimasak saat semua sudah berkumpul."
Chouji kemudian berjalan memasuki bagian dalam restoran. Sedang Hinata kembali melanjutkan kegiatannya melihat-lihat. Pada salah satu dinding, ia menemukan belasan figura foto yang tergantung.
Ada foto seorang gadis berambut pirang yang memakai kimono di tengah dua orang laki-laki. Ino, Shikamaru, dan Chouji, Shichi-Go-San. Sebaris kalimat itu tertulis di bagian bawah foto. Hinata melirik ke arah figura yang lain.
Kebanyakan figura-figura tersebut berisikan foto ketiga orang tersebut. Dari berumur 3 tahun, masuk SD, SMP, SMA, dan... Hinata terpaku melihat foto Ino bersama dengan orang yang dikenalnya. Rambut pirang, dan mata biru yang serasi.
"Itu foto saat Naruto datang ke sini." Hinata menoleh dan menemukan Chouji sudah berdiri di sampingnya. "Sudah berapa tahun sejak saat itu, ya?"
Hinata melirik ke arah foto itu lagi dan membaca tulisan yang tertera di sana. Naruto dan Ino, peringatan satu tahun.
"Itu juga foto terakhir Naruto di desa ini. Karena, saat terakhir Naruto menginjakkan kakinya di desa ini, saat..." Mata Chouji tampak berkaca-kaca. Ia terbayang kejadian di hari yang paling menyedihkan yang pernah ia alami.
PLAK
PLAK
Chouji memukul kedua pipinya.
"Ah, aku tidak boleh sedih. Ino bisa mengomel sampai aku tidak bisa tidur." Chouji memberikan cengiran lebar. Mau tidak mau, Hinata ikut tersenyum melihatnya.
KRING KRING
Chouji dan Hinata menoleh ke arah pintu dan menemukan sesosok pemuda bermata malas dengan gaya rambut seperti samurai. Pemuda itu berjalan sembari menendang pelan dua sosok yang tampak kotor dan luka di sana-sini.
"Yo, Chouji. Makanannya sudah siap?"
~SIMPLY ABSURDITY~
"Jadi aku sedikit bertaruh. Kalau kau tidak datang hari ini, aku tidak akan mengundangmu ke pernikahanku," ujar Kiba menjelaskan perihal keberadaannya di makam Ino.
"Sedikit bertaruh? Hampir saja aku kehilangan kesempatan untuk mempermalukanmu di depan istrimu," balas Naruto tidak terima. Kiba menatap Naruto horor.
"Aku batal mengundangmu!" hardik Kiba. Semua tergelak mendengar Kiba menggerutu dan mengomel pada Naruto yang malah tertawa terbahak-bahak.
"Kau menginap, Naruto?" tanya Chouji setelah mereka puas tertawa.
"Ah, tidak." Naruto mengibaskan tangannya. "Aku tidak mungkin membuat Hinata harus bermalam di sini."
Ketiga pria itu memandangi Hinata dan Naruto bergantian dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Hee~" Kiba memicingkan matanya curiga. "Jadi, kau membawa Hinata untuk alasan itu? Jangan-jangan kau punya rencana lain dengan gadis dibawah umur ini?"
DUAK
Naruto menjitak Kiba untuk menghentikan pikiran buruk yang mulai berkembang di otaknya. Sementara Hinata hanya bisa terdiam dengan wajah yang merona.
"Oh iya," sahut Shikamaru. "Ibu menyuruhmu mampir ke rumah."
"Yoshino-baasan?" Naruto menyentuh ujung hidungnya sambil berpikir. Ia kemudian menoleh pada Hinata. "Kamu tidak apa pulang terlambat, Hinata?"
Hinata mengangguk tanda setuju. Dan mereka pun pergi menuju kediaman Nara. Naruto disambut dengan hangat di rumah yang selalu menjadi persinggahannya jika berkunjung ke kota itu.
Mereka mengobrol santai sampai akhirnya Yoshino mengajak mereka untuk menyantap makan malam bersama. Setelah itu, Hinata menemani Yoshino berkutat di dapur meninggalkan para pria melanjutkan obrolan di ruang tamu.
"Kamu akan bermalam disini 'kan, Naruto?" Shikaku memastikan kebiasaan Naruto beberapa waktu lalu yang selalu menghabiskan malam di rumah itu.
"Aku sudah mengajaknya. Tapi, dia bilang, Hinata tidak mungkin ikut bermalam disini," sahut Shikamaru menjawab pertanyaan yang dilontarkan ayahnya pada sahabatnya itu.
Shikaku menyernyit heran. "Lho? Bis terakhir ke Tokyo sudah berangkat petang tadi. Kau mau naik apa?"
"Ah, aku bawa mobil paman."
Suasana hening dalam sekejap mendengar pernyataan santai yang dikemukakan Naruto.
"Kau sudah berani menyetir?" tanya Chouji heran.
"Kau bahkan pernah nyaris pingsan di taksi," tambah Shikamaru.
Naruto meringis mengingat kenyataan bahwa dirinya sempat mengalami fobia setelah peristiwa yang menimpa Ino. Dia tidak sadar bahwa teman-temannya turut menyadari kondisinya yang cukup memprihatinkan saat itu. Ia bahkan mengingat bahwa selama tiga tahun terakhir, ia hanya menggunakan subway sebagai sarana transportasi.
Namun, setelah melihat potongan kenangan di masa terburuknya itu, dia merasa beban yang mengganjal di hatinya sudah lenyap. Bahkan, saat ia mengambil kunci mobil-yang tak pernah ia sentuh sejak ia masuk dalam pengawasan psikiater-, ia melupakan fakta tentang fobia-nya.
"Apa ini berkat gadis itu, Hinata 'kan?" Shikaku menyuarakan pendapatnya. "Dia masih muda sekali, sepertinya. Kau tidak berubah menjadi pedofil, kan?"
"Tentu saja tidak!" sergah Naruto panik. "Umurnya sudah 22 tahun. Lagipula... hubunganku dengannya, tidak seperti yang kalian pikirkan."
Kiba menyeringai jahil. "Memangnya kau tahu apa yang kami pikirkan tentang kalian?"
"Yang pasti bukan sesuatu yang 'pantas'," gerutu Naruto.
Kiba tergelak hebat. Shikamaru mendengus dengan seringaian menghiasi wajahnya.
Naruto menggaruk bagian belakang kepalanya. "Kalian tahu tentang organisasi yang mengabulkan permohonanmu?"
"Hah?" Kiba berhenti tertawa. "Apa itu?"
"Hoi. Kau bukan orang yang percaya pada hal seperti itu, kan? Apa kau ditipu? Atau otakmu memang sedikit rusak?"
Kiba terkekeh dan setuju akan kata-kata Shikamaru. Naruto melempar mereka dengan bantal kursi dan mengomel. Sementara Chouji yang baru saja akan bergabung kembali setelah pergi ke toilet hanya bisa mengernyit heran melihat nyaris terjadi perang bantal di sana.
"Eh?" Chouji menangkap sosok yang langsung bersembunyi di balik dinding. "Itu, Hinata 'kan?"
"Hei hei. Dengarkan dulu apa yang ingin dikatakan Naruto. Toh, percaya pada keajaiban bukan sesuatu yang salah, kan?" Shikaku menengahi pertengkaran kekanakan yang kembali terjadi.
Chouji duduk di samping Shikamaru dan mencoba menangkap topik pembicaraan yang tengah berlangsung di antara sahabat lamanya. Naruto menggerutu panjang sebelum mulai bercerita.
"Aku juga tidak yakin aku sudah bisa percaya pada hal seperti itu. Tapi, terlalu banyak hal yang terjadi."
Naruto mengusap hidungnya perlahan. "Mencintai Ino adalah satu-satunya hal yang tersisa di hidupku. Kehilangan Ino lebih dari sekedar kehilangan sandaran hidup. Tak ada lagi yang tersisa dariku."
Ketiga pria dewasa di ruangan itu menatap Naruto. Sedang yang diperhatikan tiba-tiba terkekeh.
"Aku tahu. Yang kehilangan Ino bukan hanya diriku. Tapi, sulit sekali rasanya untuk menerima kenyataan aku harus menjalani semua mimpi kami sendiri."
Naruto mendongakkan wajahnya. "Sampai e-mail itu masuk."
"E-mail apa?" tanya Kiba yang mulai terbawa suasana.
"Dari organisasi yang keceritakan tadi. Tentu saja aku tidak percaya pada awalnya. Tapi, Ino kembali muncul dalam mimpiku," jawab Naruto.
"Sudah lama sekali sejak terakhir Ino muncul dalam mimpiku. Dia seakan mengingatkan bahwa aku pernah berjanji untuknya. Dan memintaku memenuhi janjiku itu."
"Janji?" beo Chouji heran.
Naruto menoleh pada Chouji dengan tatapan mata kosong. "Aku mencoba untuk mempercayakan takdirku pada waktu."
~SIMPLY ABSURDITY~
"Maaf membuatmu pulang selarut ini," ucap Naruto tulus. Jam miliknya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat Naruto sampai di depan Panti Himawari. Ah, Hinata berniat untuk berjaga malam hari itu.
"Tidak apa, Naruto-kun."
Lalu mereka terdiam. Entah kenapa, Naruto jadi menyukai saat-saat hening seperti sekarang. Membuatnya menjadi lebih lama berada di dekat Hinata. Rasanya sangat nyaman.
"Jadi, besok pagi, kau masih ke apartemenku?" tanya Naruto basa-basi.
Hinata menggeleng lemah. Naruto menaikkan sebelah alisnya. Pemuda itu tidak salah lihat, kan?
"Tidak?"
Hinata mengangguk kali ini.
"K-Kenapa?"
Hinata memainkan jemarinya lagi. Ia tidak berani menatap iris biru Naruto yang menghanyutkan pikirannya.
"T-Tadi ada pesan dari One Wish Company. B-Besok Naruto-kun harus menemui orang yang memberikan permohonan ini."
Naruto terbelalak. "A-Apa?"
"Jadi, hari ini hari terakhir aku bertugas untukmu." Hinata memaksakan dirinya untuk membentuk sebuah senyuman. "Maukah Naruto-kun mengabulkan permohonan dariku?"
Naruto menarik napas panjang dan memalingkan pandangannya dari Hinata. "Apa?"
"Lepaskan semua penyamaranmu, Naruto-kun."
Lepaslah semua penyamaran bodohmu itu, Baka. Ini perintah.
"Dan, cobalah mengganti kopi dengan coklat."
Hinata tersenyum lebar untuk menutupi rasa sesak di dadanya. Naruto memperhatikan Hinata lekat dan merasa ia seperti tertusuk ribuan jarum di jantungnya.
"Aku permisi."
Hinata melangkah pergi. Naruto menatap kepergian Hinata dan tidak berpaling sampai sosok mungilnya benar-benar menghilang. Kemudian, Narutp menutup kelopak matanya. Mencoba membaca ulang ingatan yang sempat terputar ulang di benaknya.
Aku membawa teh sebagai pengganti kopimu itu.
Ia membuka matanya kembali.
"Berbeda," gumamnya lirih. Ia mengepalkan tangannya kesal. "Apa yang kupikirkan! Tentu saja berbeda! Hinata bukan Ino!"
Naruto lantas menatap langit yang kelam. Jemarinya mencengkram jersey yang ia kenakan. Seolah ingin meraih jantung yang ada di dalam tubuhnya.
"Tapi, kenapa debaran ini terasa sama?"
~to be continued~
yosh, minna-san
rencananya aku tidak akan mem-publish lanjutannya sampai akhir juni ini,
tapi, ada sedikit waktu luang di tengah tumpukan tugas yang menghantuiku
simply : waktu luang?
absurd : alasan aja, bilang aja mau kabur
simply : kabur dari deadline pak m_l_K ya?
absurd : hush, nanti beliau muncul tiba-tiba, lho
author : berisik, kalian
ehem, maafdua kepribadianku sudah mulai mengganggu, lebih baik kita bales review,
yay
.Reina Minei : amin, doain biar tamat ya
.Eiji Namikaze : makasih udah review. ini udah flash belum?
. 93 : yo, udah lanjut
.kazenokami123 : ino ada di hati author #eeaa *plak
.Nirina-ne Bellanesia :hai juga. aku emang seneng bikin penasaran *usap usap dagu* #dihajarmassa
.hanazonorin444 : kenapa? 0_o?
.Bumble Bee : hee, mau dijawab serius ato main2 nih pertanyaannya? ^^
. .9 :asyiik nhl. makasih udah review
.Natsuyakiko32 : ino selalu ada d hatiku, *kembali diamuk massa*
. : misi hinata? kan udah hinata jelasin di awal ^^
.Tuama : yes, udah lanjut
.Yourin Yo : hee, makasih udah review ^^ thanks udah di-fav
.orchideeumi : ino? gitu deh, baca lagi ya...
so, farewell untuk sementara, kali ini mungkin aku bener2 ga bisa update untuk bulan juni ini
makasih buat yang udah review,
doain aja aku ada waktu luang kayak gini lagi, jadi ga harus lama2 updatenya,
salam
eh, jangan lupa review lagi yaa
