One Wish Company
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance
Pairing : NaruHina
Rated : T(eens)
Warning : Semoga tidak TYPO, AU-ish, OOC
Happy Reading
Don't like? Just Review
~SIMPLY ABSURDITY~
Naruto untuk pertama kalinya setelah namanya melejit di dunia entertainment, keluar tanpa mengenakan penyamaran.
Rambut pirangnya terlihat berkilau di bawah teriknya sinar matahari. Kacamata dengan frame gelap ia tinggalkan di apartemen. Manik sebiru langit itu bersaing dengan hamparan langit yang sangat cerah.
Pakaian yang ia kenakan juga bukan semacam jersey atau training lagi. Vest berwarna hitam tampak serasi dengan kemeja oranye miliknya. Kancing kemejanya ia biarkan terbuka hingga memperlihatkan tulang belikat yang tegas. Ia pun sengaja tak mengenakan dasi.
Setelah melakukan permohonan Hinata, Naruto seperti sedang melakukan promosi atas dirinya. Tak sedikit wanita yang terpancing dan memberikan perhatian lebih. Atau sekedar berdecak kagum saat menemukan sosoknya. Sayang, Naruto sudah memasang tanda 'sold out' pada hatinya.
Naruto melihat sosok yang sangat ia kenal sedang berjalan ke arahnya. Pria itu adalah Yamanaka Inoichi.
"Ayah? Jangan bilang kalau-"
"Memang bukan."
Naruto mengernyit mendengar Inoichi memotong kata-katanya. Mereka pun duduk berhadapan tanpa mengatakan apapun.
"Kamu... tidak minum kopi lagi?" tanya Inoichi dengan nada terkejut melihat segelas coklat hangat berada di hadapan Naruto.
"Ada yang menawarkan sesuatu yang lebih memabukkan dari kopi dan rasanya tidak begitu buruk," kelakar Naruto. Inoichi terkekeh santai dibuatnya.
"Ino berusaha menghilangkan kecanduanmu pada kopi, tapi tidak berhasil. Siapa wanita yang berhasil mengubahmu, Naruto?"
"Sesosok wanita yang membingungkan. Tapi, itu tidak penting sekarang. Apakah Ayah yang mengirim permohonan pada One Wish Company?"
Inoichi menggeleng. "Sudah kubilang bukan aku. Ino yang mengirimnya."
Naruto terbelalak mendengar pengakuan Inoichi. Gadisnya yang merencanakan semua ini? Bagaimana caranya?
"Jika aku tidak membongkar benda-benda lama Ino, mungkin aku tidak akan menemukan surat yang ingin dikirim Ino pada perusahan aneh itu. Ah, aku tidak akan menyebutnya sebagai kebetulan. Ino yang memintaku untuk mengirim itu."
Naruto membiarkan Inoichi bercerita.
"Dia memintaku untuk mengingatkanmu tentang janjimu padanya. Dia bilang, kau tidak akan berusaha menepatinya. Jadi, dia sendiri yang turun tangan untuk membuatmu menepatinya."
Naruto terkekeh mengingat seberapa dalam Ino mengenal kebiasaannya. Bahkan, sampai bisa membaca hal apa yang akan terjadi ketika Naruto kehilangan dirinya.
Saat ini, Naruto tidak lagi merasa ragu.
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
Naruto memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk Panti Himawari. Ia berjalan masuk dan disambut anak-anak kecil yang sudah menunggu kehadirannya. Pemuda pirang ini membiarkan dirinya ditarik sementara matanya mulai mencari sosok Hinata di antara kerumunan di hadapannya.
Lalu, ia menyadari ada anak kecil berambut merah sedang duduk di bawah pohon sambil memeluk boneka beruang. Ia mengenali anak itu. Ia sering melihat Hinata memberikan perhatian khusus pada anak itu. Kali ini, gadis cilik itu terlihat sendirian. Naruto menghampirinya.
"Hei, namamu Sõra, kan?" sapa Naruto ramah. Gadis itu menengadah dan mengangguk sebelum kembali melamun.
"Kenapa sendirian disini? Tidak mau bermain dengan yang lain?"
Sõra mendelik. "Paman tidak lihat aku sedang bersama teddy-kun?"
"Pa-Paman?" Naruto sedikit shock mendengar panggilan yang diberikan Sõra padanya. "Hei, aku belum setua itu."
Sõra tidak menanggapi elakan Naruto. Gadis kecil itu hanya merengut sembari memeluk erat bonekanya. Naruto duduk di sebelahnya dan menatap gadis itu lekat-lekat.
Rambut merahnya yang menyala seperti api yang membara. Bola mata violet yang teduh dan kulitnya yang seputih susu. Gadis ini mengingatkannya pada sosok ibunya. Jangan lupa sifatnya yang sedikit ketus.
Naruto sedikit tersenyum mengingat Ibunya yang sering terlihat seperti balita di depan ayahnya.
"Paman."
Naruto menoleh pada Sõra yang memanggilnya dengan suara lirih.
"Apakah Paman seorang malaikat?" tanyanya dengan sorot mata berbinar penuh pengharapan. "Hinata-nee bilang, akan ada malaikat yang menjemputku dari sini."
Naruto menatap Sõra bingung.
"Kulihat di buku, malaikat itu berambut pirang dan bermata biru. Apa Paman benar-benar malaikat? Kalau begitu, bawa aku dari sini."
Sõra memegangi lengan Naruto dan memasang wajah yang memelas, namun menyimpan harapan.
"Sõra-chan tidak suka berada di Panti Himawari?" tanya Naruto.
Sõra melepaskan tangannya. "Bukan begitu… hanya saja, Hinata-nee bilang, malaikat akan menjanjikan kebahagiaan untukku."
"Kebahagiaan?" Kening Naruto mengernyit heran.
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
"Data tentang Sõra?" tanya wanita paruh baya itu kaget. Pemilik Panti Himawari itu tidak percaya Naruto akan menanyakan hal semacam itu.
"Iya, Rin-san. Bisakah kau membantuku mengenai itu?"
Rin menelusuri data penghuni Panti Himawari. "Kenapa kau tertarik pada Sõra? Ah, ini dia."
Rin menyerahkan buku yang terbuka dengan foto Sõra di dalamnya. Rouran Sõra. 30 Juni XX.
Naruto tertegun. "Dia lahir tanggal 30 Juni?"
"Ah, iya. Berdasarkan akte kelahiran miliknya, dia memang lahir di tanggal itu. Ada masalah?"
Kita akan bahagia. Aku janji.
Naruto teringat akan janjinya pada Ino. Sebuah janji yang sama yang diucapkan Hinata pada Sõra.
Dia sendiri yang turun tangan untuk membuatmu menepatinya.
"Apa ini caramu meminta padaku menepati janji, Ino?" batin Naruto.
Naruto… yakusoku dayou.
Naruto menoleh pada bahu kirinya. Ia seperti melihat Ino yang tersenyum dan menepuk bahunya ringan. Kemudian, gadis itu mengangguk.
"Permisi, Rin-san."
Naruto terbelalak melihat sosok Hinata memasuki ruangan itu. Tak pelak, Hinata lebih kaget lagi melihat Naruto berada di ruangan pemilik Panti Himawari.
"Naruto-kun? Kamu sedang apa disini? Bukannya, tugasku sudah selesai?"
"Naruto ke sini ingin melihat data Sõra, Hinata. Ah, benar juga. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Kenapa kau tiba-tiba ingin melihat data Sõra?"
Naruto tersenyum penuh arti. "Aku ingin menepati sebuah janji. Janji untuk bahagia. Dan, sepertinya." Naruto melirik Hinata. "Ada yang menjanjikan hal yang sama pada Sõra-chan."
Naruto menahan tawa melihat Hinata yang mendadak gugup dan salah tingkah. Rin menunjukkan ekspresi heran.
"Aku ingin mengadopsi Sõra. Menjadi malaikat yang akan menjanjikan kebahagiaan baginya. Tapi,"
Naruto menggantungkan pernyataan yang ingin ia kemukakan dan berjalan menghampiri Hinata. Pemuda itu meraih tangan Hinata dan menautkannya dengan miliknya.
Reaksi yang ditimbulkan tiap insan di ruangan itu berbeda. Hinata bersemu dan menundukkan kepalanya. Sedangkan Rin terbelalak kaget. Tidak percaya akan melihat adegan ala drama tv secara langsung di ruangannya
"Aku ingin kau membantuku, Hinata."
"Me-Membantu d-dengan apa?" Hinata balas bertanya dengan gugup. Di benaknya terlintas satu kemungkinan. Tapi, ia tidak mau mempercayai benaknya sendiri.
"Kamu tahu syarat utama untuk mengadopsi anak, Hinata?"
Wajah Hinata semakin memerah. Tentu saja ia tau. Ia sudah menjadi sukarelawan selama 4 tahun. Ia sudah hapal di luar kepala apa yang harus dipenuhi oleh calon orangtua angkat. Yeah, calon orangtua bukan calon ayah.
Rin menahan napas. Ia berusaha menahan diri untuk tidak menginterupsi sepasang anak muda yang dimabuk cinta itu. Ia sudah berpengalaman mengenai hal-hal semacam ini.
Tapi, reaksi Hinata yang terlalu gugup membuat Ibu dua anak itu gregetan sendiri. Ia ingin langsung berteriak pada Hinata agar lebih cepat bereaksi terhadap pernyataan Naruto.
"Jadi, maukah kamu membantuku memenuhi persyaratannya, Hinata?" Naruto mencondongkan tubuhnya agar dapat berbisik di telinga Hinata. "Ini permohonan, bukan permintaan."
Hinata dengan wajah semerah tomat menjawab. "O-One Wish Company bersedia mengabulkan permohonan anda."
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
"Kamu yakin, Hinata?"
"Hmph~" Hinata menahan tawa. "Sudah sejauh ini, kamu baru bertanya. Bukannya sudah terlambat untuk membatalkan. Atau, kamu yang tidak yakin, Naru-kun?"
Naruto menggeleng kuat. "Aku hanya tidak ingin kamu menyesal." Naruto menggenggam tangan Hinata erat dan menatap langsung ke amethyst Hinata yang terlihat sangat menarik.
Hinata balas menatap Naruto dan tersenyum manis. "Apapun yang terjadi di masa depan, aku tidak akan menyesal telah memilihmu."
"Hinata~" Naruto terharu akan kata-kata Hinata yang berhasil menghapus semua prasangka buruk yang sempat terlintas di benaknya.
"Baiklah, Namikaze Naruto. Hyuuga Hinata. Kalian sudah siap?" tanya seorang pria paruh baa yang mengenakan topi panjang dan baju besar berwarna putih.
Senyum lebar dari Naruto dan senyum manis dari Hinata sudah cukup untuk menandakan persetujuan dari mereka.
"Nah, kita mulai acara pengucapan janji kedua mempelai," ujar pria itu lagi.
"Aku bersumpah, akan mencintai Hinata dan mempercayainya. Menjaga dan melindunginya. Menafkahi dan membahagiakannya. Lahir dan batin. Dan, aku bersumpah, untuk hari ini, dan seterusnya, akan mendampingi Hinata."
"Aku Hyuuga Hinata, bersumpah akan mencintai Naruto. Mempercayai dan membantunya. Mendampingi dan membahagiakannya. Dan, aku bersumpah, akan menjaga perasaanku untuknya mulai hari ini dan seterusnya."
Pria paruh baya itu tersenyum. "Nah, dengan ini, kunyatakan kalian berdua sebagai suami istri-"
"Papa! Mama!" Sesosok gadis cilik berambut merah berlari melepaskan diri dari pria berambut pirang yang duduk di barisan depan. Sõra-gadis itu berlari menerjang Naruto.
"Ah, dan tentu saja. Papa dan Mama yang sah untuk Namikaze Sõra," tambah pria itu seraya mengedipkan mata pada Sõra yang sudah berada di gendongan Naruto.
Para tamu undangan tertawa melihat Sõra yang mengacungkan jempolnya untuk pria paruh baya itu.
"Papa! Kita akan tinggal bersama? Bersama Mama?" tanya Sõra penuh antusias. Naruto tertawa mendengar celotehan polos putrinya itu.
"Tentu saja, Sõra."
Sesosok pria yang tadi memangku Sõra berjalan menuju altar. Jika dilihat sekilas, ia berperawakan persis dengan Naruto.
"Ayo sini, Sõra. Kita duduk bersama Grandma, ya."
"Tidak apa, Dad. Lagipula pengucapan sumpah sudah selesai," ujar Naruto ringan menenangkan Ayahnya, Minato. Minato mendesah lega.
"Hei, aku benar-benar kaget. Kami memang memintamu untuk cepat menikah. Tapi, kami tidak menyangka akan langsung mendapat cucu semanis Sõra."
Para undangan kembali tertawa.
"Ah, suamiku itu…" gerutu Kushina yang menunduk malu.
Hari ini semua bahagia. Seluruh kerabat dan sahabat turut diundang untuk berbagi kebahagiaan ini. Di sudut ruangan bahkan terlihat beberapa wartawan yang bertugas mengambil berita. Shikamaru, Chouji, dan Kiba turut datang untuk menyaksikan prosesi sakral itu. Kiba bahkan membawa istrinya.
"Nah, kalian sudah boleh mencium sang putri." Sang pembawa acara berimprovisasi karena kedatangan Sõra ke tengah Naruto dan Hinata.
Naruto sedikit menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan wajah Hinata. Mereka berdua mendekat ke arah Sõra dan memjamkan mata. Sõra bahkan sudah menutup matanya terlebih dahulu. Dan…
CUP
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
"Ingat, Sõra tidak boleh mengintip," perintah Naruto. Ia menggendong Sõra yang menutup matanya dengan telapak tangannya yang kecil. Naruto membuka pintu yang ada di hadapannya.
"Nah, sekarang buka matamu."
Sora mengucek matanya sebelum benar-benar membuka mata. Ia tersenyum lebar dan memekik senang melihat ruangan yang bernuansa biru kehijauan dengan segala pernak-pernik khas anak perempuan seusianya.
"Kamu suka?"
Sõra mengangguk senang dan secara mendadak merengut kesal. "Kenapa tidak pink?"
"Kamu tidak ingin Papa memakai kacamata hitam saat ke kamarmu, kan?" elak Naruto.
Sõra berkacak pinggang. "Papa ga ngerti perasaan seorang lady, ya?"
Hinata tertawa tertahan melihat ekspresi Naruto yang shock.
"… la-lady?"
~OWARI~
Ngg, sebenarnya ini fic untuk NHFD tapii...
Yah, begitulah, semua memang tidak selalu sesuai rencana
hahaha
oke, bales review dulu ah
,amexki chan : makasih udah review dan di fav
,jihan . fitrina : oke, udah lanjutt
,hananozorin444 : ahahaha, hati hati, nanti luka loh
,orchideeumi : eh, maaf lama v_v
,nararhezty . cliquerz : heee, makasih udah review
,Nirina-ne Bellanesia : ahahaha makasih
,Yourin Yo : makasih suntikan semangatnya
,Dechan Nekoneko : makasih udah review ^^
,Kirei- neko :haik, ganbarimasu
,uchiha-yuda : sip, ini ch 3-nya dikasih
,artha namikaze : makasih^^
,Satoshi 'Leo' Raiden : ah, di fic lain aja yah, ngga sanggup ngubah cerita v_v""
,Waraney : ah, kamu perhatian sekali sama naru-ku *plak
,DindaHyuga : eh, ini lama ya? kamu masih ... atau udah ...
kriiiiiiiik
Nah, untuk pada reader-tachi, ini giliran kalian untuk meninggalkan jejak setelah membaca fic ini. Saran, kritik, caci maki(?), pujian (maunyaa), atau apapun saya terima! Ikhlas!
Oh iya, habis ini masih ada bonus OMAKE...
Ciao vee~
.
~SIMPLY ABSURDITY~
.
OMAKE
Hari ini keluarga Hinata berkunjung ke kediaman Naruto.
"Kakeeeeeeeeeek!" Sõra menerjang ke arah Hyuuga Hiashi dan meninggalkan sebuah benda-apapun itu-berwarna oranye yang sejak tadi ia tusuk-tusuk dengan jarinya.
"Itu… apa? Keset? Boneka?" batin Hiashi heran. Jantung Hiashi berdegup kencang saat 'benda' itu bergerak dan mengeong. "I-Itu… kucing?"
"Aaaah, kyuubi jangan pergi…" seru Sõra kecewa.
"Itu apa?"
"Kyuubi? Itu kucing yang Papa beli di Okinawa. Keren 'kan, Kek!"
Sorot mata Hiashi mengikuti 'kucing' yang berukuran ekstra itu dengan mata penasaran. Naruto datang dari arah dapur sambil membawa mangkuk makanan kucing.
"Ayah, ayo duduk. Hinata sedang menyiapkan the. Aku memberi makan Kyuubi dulu."
Lalu dari pintu masuk datang gadis remaja yang bermata serupa dengan Hiashi dan Hinata.
"Kenapa sepi sekali," ujar gadis itu ringan. "Ayah melihat apa, sih?"
Hiashi menoleh singkat pada putri bungsunya itu dan kembali memperhatikan Kyuubi yang sedang makan dengan lahapnya.
"Nii-chan. Itu ras Maine Coon, ya? Besar sekali," celetuk Hanabi.
"Ma-Maine Coon?" beo Hiashi bingung. Hanabi memandang ayahnya tidak percaya.
"Ayah cuma tahu ras tabby, sih. Ah, Sõra! Sini bibi gendong."
Sõra berpindah tangan ke pelukan Hanabi. Saat itu Hinata datang membawa nampan berisi teko dan piring kue. Mereka pun duduk di ruang tamu.
"Bibi Hanabi?" Sõra menarik-narik lengan baju Hanabi.
"Ada apa?"
Hanabi menatap Sõra yang tampak penasaran.
"Bagaimana rasanya punya saudara?" bisik Sõra.
"Hmm… memangnya kenapa?"
Sõra melirik ayahnya sebelum menjawab. "Soalnya, Papa bilang Sõra akan segera menjadi kakak."
TIIING
Hiashi menghentakkan cangkir yang baru saja ia hirup isinya ke meja. Hinata terlihat salah tingkah.
"K-Kau… Hinata…"
Naruto memukul dahinya. "Ah, seharusnya ini rahasia 'kan, Sõra."
Hanabi tergelak santai melihat ayahnya yang tampak senang sekaligus panik.
Sementara itu, di sebuah gedung yang tampak familiar, Shizune tengah berkutat di depan komputer. Ia memeriksa daftar e-mail yang masuk di perusahaannya. Tak menyadari ada sosok yang berjalan menghampirinya.
"Permisi."
Shizune mendongakkan kepalanya.
"Saya ingin-"
"Ah, selamat datang di One Wish Company. Kami bersedia mengabulkan satu permohonan dari anda. Masalah bayaran bisa di negosiasikan. Jadi, apa permohonanmu?"
~OFFICIALLY, END~
