Chapter 2
Note : Maaf pada chap ini agak terlalu panjang.
Keesokan Harinya, Hana mengantar Hinata ke sekolahnya, Hana ingin mengurus Sasuke. Dan sepertinya itu lancar-lancar saja karena ketika Hana keluar dari Konoha High School, Hana menenteng beberapa seragam laki-laki.
Sedang Sasuke mengantar Hanabi ke sekolahnya. Tidak siswa tidak guru semuanya sama saja. Semua memandang Sasuke berbinar-binar bagai melihat artis yang tidak tau jalan dan kesasar.
Sasuke memegang tangan kecil Hanabi
"Kakak lihat? Mereka juga terpesona sama kakak." Kata Hanabi, Sasuke menoleh melihat wajah Hanabi.
"Mereka gila." Ujar Sasuke sambil tersenyum ke Hanabi.
"Jadi aku juga gila? =3=" Hanabi cemberut.
"Wah kau pintar juga Hanabi. Haha tentu saja kau tidak gila." Kini Sasuke berhenti kemudian berjongkok lagi dihadapan Hanabi.
"Hanabi adalah pacar Sasuke." Mendengar penuturan Sasuke, secepat angin mood Hanabi kembali ceria malah lebih lebih lebih ceria.
"Benarkah?" Hanabi nyengir kuda. Sasuke mengangguk. Hanabi langsung memeluk Sasuke. Sasuke menggendong Hanabi sampai ke kelasnya.
"Ibu guru, tolong jaga pacar saya." Ucap Sasuke tanpa malu. Guru yang mendengar langsung aih tidak bisa digambarkan.
"Hanabi, kakak tunggu di mobil yah." Kata Sasuke.
"Kakak betah?"
Sasuke mengangguk mantap.
"Sep sep."
Sasuke meninggalkan Hanabi dan menuju kemobil, mobil itu milik Hana. 'Yah dia masih SD, pasti cepat pulangnya.' Batin Sasuke.
"Hanabi, tadi itu siapa?" tanya guru Hanabi.
"Itu pacar Hanabi Ibu guru."
"Ibu boleh titip salam?"
"TIDAK BOLEH BU GURU!" Ibu guru beserta teman Hanabi yang mendengar teriakan Hanabi sweatdrop berjamaah.
-0-
Sasuke berada didalam mobil, ia menjalankan AC mobil sambil memasang headsetnya di telinga dan colokannya di pasang di laptop mini yang Sasuke bawa tadi. Ia memasang modem ke laptopnya kemudian, ia membuka akunnya.
Ia mencari profil Shisui dan dapat. Sasuke mengirimkan pesan bahwa dia baik-baik saja. Dan Sasuke menanyakan kabar mereka yang ada disana. Sasuke juga meminta tolong agar Ducati miliknya dikirim ke Jepang. Itu saja.
Lalu Sasuke menelaah sekolah barunya. Ia melihat foto-foto sekolah barunya. Dan ternyata sekolah itu adalah sekolah elite. Tidak apa-apa, Bibi Hana tidak mungkin membiarkannya terlantar disekolah terserah murid.
"Shit!" Sasuke mendapati akun Sakura aktif. Sasuke lupa menonaktifkan akun miliknya.
"Sasuke, you're so nasty." Sakura mengirimkan chat
"What is my fault huh?" Sasuke membalasnya dengan cepat.
"Why did you leave without a word?"
"I was in a hurry, didn't get to tell you."
"So where are you now? I'm so sad, please come back."
"Sorry Sakura, I don't want to be disturbed. I beg understood. Watch youself." Kalimat terakhir Sasuke telah menghancurkan Sakura. Kini Sasuke mencabut kasar modemnya sehingga semua koneksi terputus total.
Sasuke akhirnya pergi meninggalkan sekolah Hanabi karena sepertinya masih banyak waktu yang tersisa. Sasuke mengarahkan Honda Jazz hitam itu ke sekolah Hinata. Sasuke memakai GPS smartphonenya agar mengetahui letak sekolah Hinata.
Sasuke nampak lesu sekali, macet membuatnya makin gelisah. Tapi 12 menit kemudian jalanan akhirnya lancar. Akhirnya Sasuke sampai juga didepan sekolah Hinata. Sasuke dapat melihat banyak anak laki-laki yang nongkrong di luar sekolah.
'Cihh, kalau tidak berniat sekolah sebaiknya kalian pulang saja' itulah pikiran Sasuke dengan anak laki-laki yang sedang tertawa didepan gerbang dan disudut berbagai tempat yang agak gelap lainnya.
'Ngh?' Sasuke melihat Hinata dari kejauhan berjalan keluar dari sekolahnya, ia melihat Hinata sedang membawa beberapa lembar kertas putih bersama temannya yang berambut pirang diikat ekor kuda.
Sasuke sudah memperkirakan bahwa Hinata akan diganggu oleh beberapa laki-laki yang ada disitu. Dan benar saja, Hinata kini diganggu. Sasuke memutar bola matanya bosan melihat tingkah gadis yang suka berteriak tidak jelas kalau diganggu.
Ketika seorang laki-laki tengah menghadang Hinata barulah Sasuke bergerak. Sasuke membuka pintu mobilnya dan menutupnya dengan kasar.
"Hei, bocah. Menyingkirlah." Ucap Sasuke dengan nada bosan. Hinata kaget melihat Sasuke, dan teman Hinata kini berbinar-binar melihat pahlawannya yang benar-benar mirip aktor di film laga. Bagaimana tidak? Badan Sasuke atletis, memakai kaos oblong berwarna hitam berlengan pendek dan celana dengan motif warna tentara selutut yang mempunyai banyak kantong kiri kanan depan belakang sambil memegang kunci mobil.
"Memangnya siapa kau? Preman? Kamilah preman disini." Bacot laki-laki tadi yang menghadang Hinata.
"Begitu?" Sasuke memandang jijik orang itu.
"Hah kau ini meremehkan sekali tuan." Kata teman orang yang menghadang Hinata.
Sasuke melihat Hinata menggeleng mungkin maksudnya jangan. Sasuke malas sekali Hinata selalu meragukan dirinya.
Dan...
"BRUKK DUKK BUKK ZZZ..." dua orang tepar ditanah.
"Masih ada heh?" kata Sasuke menatap tajam ketiga bocah yang tampangnya itu memohon ampun. Akhirnya ketiga bocah itu lari karena ketakutan.
"Pecundang." Desis Sasuke.
"Kau mau kemana ? kau bodoh sekali." Ucap Sasuke menatap malas Hinata.
"A-apa? Aku bodoh?" Hinata tidak terima.
"Siapa dia Hinata?" bisik Ino. Sasuke masih bisa mendengar bisikan teman Hinata itu.
"Aku pacarnya." Ucap Sasuke dengan tampang err mungkin kalau Ino bisa langsung mempercayainya karena Sasuke berkata seperti itu dengan wajah serius.
"Kau mengotori tanganku Hinata." Ujar Sasuke meninggalkan Hinata dan temannya. Sasuke masuk ke mobil lalu pergi meninggalkan Hinata dengan kecepatan tinggi.
"Benarkah itu pacarmu Hinata?" tanya Ino memastikan. Hinata hanya menggeleng ragu jadi Ino susah mengartikannya.
"Hah lupakan Hinata, kita harus segera mengcopy kertas ini." Kata Ino menyeret Hinata. Hinata mengangguk mantap.
'Siapa laki-laki itu?' batin seseorang berambut merah yang memiliku tatto ai di pinggir jidatnya, yang telah melihat Hinata ditolong tadi.
"Sepertinya kau kesiangan Gaara." Ucap laki-laki rambut model nanas dibelakang laki-laki yang sedang menatap Hinata dari jauh.
"Bukan urusanmu." Ucap Gaara dingin.
"Sebaiknya kau mengatakannya langsung sebelum dia jadi milik orang lain. Aku sedih melihatmu menunggunya selama 2 tahun." Timpal Kiba.
-0-
'Dia benar-benar butuh bodyguard.' Batin Sasuke.
Sasuke kini kembali ke sekolah Hanabi. Sekarang sudah jam 11, mungkin saja Hanabi telah pulang atau menunggunya diluar pagar. Sesampainya Sasuke didepan sekolah Hanabi ternyata Hanabi belum keluar dari sekolahnya.
'Mungkin sebentar lagi." Pikir Sasuke. Sasuke menempelkan punggungnya di sandaran kursi mobil, dan ia tertidur.
-0-
"Ayah?"
"Ya?"
"..."
"Sasuke, aku tidak punya banyak waktu, katakan apa maumu."
"Ayah, apa Ayah tidak pulang? Aku ingin merayakan ulang tahunku bersama Ayah."
"Maaf Sasuke, Ayah sibuk. Mintalah ditemani dengan Itachi."
"Begitu? B-baiklah."
"Tutt tutt tutt."
'Ayah, aku merindukanmu.' Batin Sasuke.
-0-
"Tokk tokk.." Sasuke terbangun kaget, sepertinya ia mimpi kelam lagi. Sasuke berbalik kearah jendela yang diketuk.
"Aaaa." Sasuke berteriak kaget melihat wajah Hanabi yang hidungnya mirip babi karena ditempelkan dikaca jendela. Untung saja bocah itu tidak mendengar teriakannya. Jika ia, bisa berabe dia berteriak dihadapan bocah. Itu namanya bencong.
Sasuke menurunkan kaca jendelanya.
"Kakak tidur?" tannya Hanabi.
"Maaf yah Hanabi." Kata Sasuke. Hanabi kini duduk di kursi penumpang.
"Kakak lelah menunggu Hanabi?" tanya Hanabi, Sasuke menggeleng cepat.
"Besok tidak usah mengantar Hanabi."
"Kenapa? Hanabi marah eh?" tanya Sasuke. Kini Hanabi yang menggeleng.
"Kakak." Ujar Hanabi.
"Ya?"
"Antar Hanabi makan kakak, Hanabi lapar. Kakak tidak dengar suara cacing diperut Hanabi?" Hanabi memelas sambil mengusap perutnya itu.
"Hahaha maaf maaf, ok. Hanabi mau makan apa eh?"
"Hanabi mau makan pasta."
"Hn, baiklah."
Sasuke memutar balik mobilnya ke restourant mahal tempat ia sering makan dengan keluarganya saat kecil dulu. Hanabi kebingungan namun ia tetap diam.
"Kakak kenapa ke kawasan orang kaya?" kini Hanabi bertanya.
"Sasuke ingin mengajak Hanabi kencan." Jawab Sasuke.
"Yaaa kakak bisa saja!" Hanabi termakan rayuan, kini wajahnya memerah, ia berdiri kemudian memukul lengan Sasuke, Sasuke hanya tersenyum.
"Nah kita sampai Tuan Putri." Kata Sasuke. Kemudian ia turun duluan dan membukakan Hanabi pintu.
"Terima kasih kakak." Hanabi keluar dan memegang tangan besar Sasuke.
Hanabi melihat Sasuke memberikan kunci mobil mamanya kepegawai yang ada disitu.
"Ayo kita masuk." Sasuke menarik Hanabi masuk kedalam gedung pencakar langit itu. Sasuke mengajak Hanabi masuk kelift kemudian Sasuke menekan tombol ^ 4 segera lift itu bergerak naik. Ketika liftnya telah sampai dan pintunya telah terbuka, Sasuke keluar bersama Hanabi. Mereka telah memasuki kawasan restourant elite di gedung itu.
"Selamat datang Tuan, boleh saya mencatat keperluan anda?" tanya pelayan yang ada.
"Aku pesan dua pasta paling enak dan jus tomat satu." Kata Sasuke.
"Hanabi mau minum apa?" tanya Sasuke.
"Aku mau ice cream vanilla kakak." Kata Hanabi.
"Dan satu ice cream vanilla untuk pacarku ini." Lanjut Sasuke. Pencatat pesanan hanya tersenyum geli mendengar ucapan gila Sasuke.
"Baik, saya akan mengulangi pesana~"
"Tidak usah." Kata Sasuke memotong ucapan wanita pencatat itu kemudian meninggalkannya dan menarik Hanabi duduk di kursi yang kosong.
"Kakak, kakak sanggup membayarnya?" bisik Hanabi.
"Tentu saja." Sasuke balik membisik Hanabi.
"Hanabi tidak mau patungang lho kak." Ucap Hanabi, Sasuke tertawa.
"Ini pesanan anda." Dua orang pelayan tengah mengangkatkan pesanan Sasuke dan diletakkan diatas meja.
"Tolong panggilkan pemilik gedung ini." Kata Sasuke.
"Katakan, musuhmu ada direstourant milikmu." Lanjut Sasuke.
Dua pelayan itu langsung mengangguk ngeri melihat Sasuke dan mendengar kata-katanya. Secepat kilat pelayan itu berlari terbirit-birit.
"Apa maksud kakak?" tanya Hanabi.
"Makan saja makananmu Hanabi-chan, nanti kamu maag. Sasuke tidak mau punya istri berpenyakit maag."
"=3= kakak jahat." Kata Hanabi.
"Hei, pantat ayam." Dari jauh seorang pria berjas hitam memanggil Sasuke.
"Hn, zombie." Balas Sasuke menyeringai melihat orang itu. Hanabi berhenti makan, ia makin tidak mengerti.
"Kau sendiri huh?" tanya zombie yang dimaksud Sasuke.
"Kau tidak melihat wanita didepanku eh." Kata Sasuke mengerakkan kepalanya.
"Hahaha, wanitamu sangat cantik, Sasuke." Ucap orang itu.
"Perkenalkan, nama saya Sai Uchiha, pemilik gedung dan restourant ini Nona. Apakah anda merasa nyaman?" kata Sai ke Hanabi. Hanabi kikuk.
"Anda siapanya kakak Sasuke?" tanya Hanabi.
"Dia itu keponakanku." Jawab Sai dengan senyuman vandettanya.
"Apaaaa?" Hanabi tidak percaya.
"Jadi kapan Nona menikah dengan keponakan nakalku itu?" tanya Sai.
"Besok, iya kan, Hanabi-chan?" seringai Sasuke.
"Kakak kakak ini mempermainkanku! =3=" Hanabi kesal dan melahap rakus pastanya.
"Duduklah Om zombie." Kata Sasuke. Sai mengangguk dan menarik kursi lalu duduk diatasnya.
"Kau kesini, naik apa?" tanya Sai.
"Honda Jazz." Kata Sasuke ia bisa menebak bahwa Sai, saudara ibunya akan tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha." Benar kan tebakan Sasuke.
"Kau tinggal dimana? Kenapa tidak tinggal disini saja?" tanya Sai lagi.
"Aku tinggal dirumah pacarku ini. Aku tidak mau berhutang padamu om zombie." Jawab Sasuke.
"Kau kira aku sejahat itu huh? Kau ini tidak berubah Sasuke."
"Berubah eh? Berubah jadi power ranger? Gila."
"Omnya kakak Sasuke, ice creamku mencair. Bisakah aku minta satu lagi?" Hanabi memutuskan obrolan Sasuke dengan Sai.
"Tentu Nona. Pelayaan.." Sai agak berteriak
"Iya bos?" tanya pelayan itu
"Ambilkan satu lagi ice cream untuk nona cantik ini." Kata Sai, pelayannya hanya mengangguk.
Pembicaraan itu memakan waktu beberapa jam. Kini Sasuke dan Hanabi meninggalkan gedung Sai. Sasuke tidak membayar makanannya, dan malah meminta dibungkuskan tiga porsi pasta. Hahahaha bejat tidak tau diri.
-0-
Kini Sasuke telah sampai dirumah Hyuuga. Saat membuka pintu, Hana langsung menghela napas.
"Ada apa bibi?" tanya Sasuke watados.
"Darimana saja kalian? Bibi cemas bukan main!" Hana kini marah.
"Maafkan kami mama, Hanabi menyuruh kakak Sasuke mengantar Hanabi makan karena Hanabi lapar. Jadi kakak Sasuke membawa Hanabi ke restourant." Jelas Hanabi.
"Maafkan saya bibi, saya bertemu kenalan saya di restourant. Saya berbincang agak lama. Saya lupa mengirimkan pesan ke bibi kalau kami baik-baik saja. Lain kali saya tidak akan melakukan hal yang sama." Ucap Sasuke.
Hana mengangguk mengerti
"Ini mama, kakak Sasuke membungkuskan mama pasta paling enak seJepang." Hanabi memberikan kantong berisi pasta. Hana melihat ada logo perusahaan DAIWA dikantong pembungkus itu.
"Kalian makan di Daiwa?" tanya Hana selidik.
"Iya bibi." Jawab Sasuke.
"Apa ini tidak menguras kantongmu Sasuke?" tanya Hana
"Tidak, tentu tidak bibi." Senyum nista Sasuke. Dia makan tidak membayar sepersenpun.
"Kalau begitu terima kasih Sasuke." Kata Hana. Sasuke mengangguk lalu berkata "Aku naik keatas dulu bi." Hana mengiyakan.
"Oh Sasuke tunggu sebentar, ini seragam KHS, kau besok sudah bisa masuk kesana." Kata Hana sembari memberikan beberapa seragam KHS ke Sasuke. Sasuke berterimakasih kepada Bibi Hana karena telah membantunya sampai sejauh ini. Kemudian ia berlalu dari Hana dan Hanabi.
-0-
'Hari yang melelahkan.' batin Sasuke
'Deg.' Jantung Hinata berdetak keras, ia tersengal-sengal melihat Sasuke yang berpapasan dengannya, ia merunduk dan meninggalkan Sasuke cepat.
"Kau mau kemana eh?" tanya Sasuke. Hinata berhenti sekejap.
"Mau less." Jawab Hinata.
"Kuantar."
"Tidak perlu."
"Ayo." Sasuke menarik lengan Hinata.
"A-apa yang kau lakukan? L-lepaskan!" Hinata agak membentak Sasuke.
"Tidak butuh bantuan eh? Kau mau dijambret atau sejenisnya? Kau suka hah?" Sasuke menaikkan suaranya.
"IYA AKU SUKA! TIDAK USAH MENGURUSKU! AKU TIDAK BUTUH BANTUAN!" Hinata membuat hati Sasuke yang belakangan ini baik menjadi buruk drastis. Baru kali ini dia diteriaki oleh seorang gadis.
"Hn." Sasuke kembali dingin kemudian ia berbalik menuju kekamarnya lagi.
'K-kami-sama, apa yang kulakukan! Apa dia akan membenciku?' batin Hinata risau. Hinata menyesali perbuatannya, ia turun sambil merunduk.
"Hinata, kesini makan dulu. Sasuke tadi membeli pasta di Daiwa." Kata Hana yang sedang memakan pasta itu diatas sofa.
"Daiwa? Mama bercanda." Kata Hinata tidak percaya. Jika benar, berarti Sasuke adalah orang yang lebih kaya darinya. 'Dan itu memang benar, hanya saja kau belum tau Hinata' batin author #?
"Sungguh, Mama tidak bohong." Kata Hana memasang wajah setengah serius. Hinata penasaran kemudian berjalan mendekati mamanya. Ia mengambil garpu dari tangan mamanya dan dia mencobanya.
"Bagaimana?" tanya Hana
"...Sisakan untukku." Kata Hinata kemudian pergi meninggalkan mamanya.
-0-
'Apa aku tidak bisa merasakan kebahagiaan?' batin Sasuke.
'Hn dunia benar-benar terlalu kejam kepadaku.' Pikir Sasuke
'Tau begini aku tidak usah lahir saja.'
'Kebahagiaan, cinta, kasih sayang memang idiot.' kemudian ia terlelap diranjangnya.
-0-
'Aku menyesali kata-kataku Kami-sama.' Batin Hinata didalam taxi
'Aku berjanji, jika Sasuke mau bicara padaku... akan kubahagiakan dia.' Hinata membuat janji aneh.
-0-
"CTAAAARRRRRRR."
"Hosh hosh hosh." Sasuke bangun dari tidurnya yang tidak sampai dua jam itu. sepertinya ia benar-benar tidak bisa tidur dengan tenang. Sasuke melihat jendelanya.
'Hujan deras.' Batinnya. Kilat masuk lewat kaca jendela kamarnya yang bening itu. dia pun bangun dan berjalan ke depan jendelanya. Dia tidak takut kilat ataupun petir dan guntur tapi itu membuatnya tidak nyaman segera dia menarik tirai agar kilat tidak masuk ke kamarnya.
Setelah itu Sasuke keluar dari kamarnya dan menuju lantai bawah. Mungkin saja dia enakan dibawah. Saat dibagian ruang tamu pribadi Hinata, Sasuke melihat jam dinding domo milik Hinata melekat diatas pintu teras, sekarang jam 16.56.
'Hn.' Sasuke menggeleng tidak jelas.
"Tap tap tap." Suara kaki Sasuke terdengar. Sasuke melihat Hana cemas sekali.
"Ada apa bi?" suara Sasuke mengagetkan Hana.
"Hinata belum pulang, mungkin dia terjebak kehujanan." Kata Hana.
"Memangnya dia less dimana bibi?" tanya Sasuke kemudian Hana memberitau alamat tempat less Hinata. Sasuke segera keluar dan tak lupa ia membawa payung. Ia mencari letak tempat less Hinata memakai GPSnya.
"Shit hujannya benar-benar lebat!" kata Sasuke memukul stir mobilnya.
Ia sudah sampai ditempat less Hinata, ia turun dan menanyakannya. Tapi kata orang, Hinata telah pulang 20 menit yang lalu. Sasuke makin frustasi.
'Hah dasar perempuan.' Sasuke membatin dengan wajah bodoh. Ia melihat Hinata sedang duduk di halte. Tatapan Sasuke berubah menjadi kasihan melihat Hinata yang pucat pasih mungkin kedinginan. Segera Sasuke menepikan mobilnya didepan halte. Ia membuka pintunya dan turun.
"S-sasuke?" Hinata ingin menangis.
"Hn." Sasuke berjongkok dihadapan Hinata. Sasuke memegangi kening Hinata. "Panas" itulah yang dirasakan Sasuke.
"Kau sakit." Ucap Sasuke, ia ingin memberi Hinata jakat, sayangnya dia tidak membawanya. Sasuke tidak mau bertele-tele lagi, dia membuka pintu mobil yang ada didepan disamping tempat menyetir mobil kemudian kembali kehadapan Hinata, tanpa disangka Sasuke mengangkat Hinata bridal style. Orang-orang yang ada dihalte disamping Hinata yang juga tengah duduk, kaget melihat aksi Sasuke. So sweet mungkin itulah yang dipikirkan orang-orang itu tapi Sasuke tidak ambil pusing. Segera Sasuke menyetir mobilnya pulang ke rumah.
'Katamu kau tidak butuh bantuan, tapi lihat ragamu sangat membutuhkan bantuan. Bodoh.' Batin Sasuke.
Tepat saat Sasuke telah sampai, Hana segera membantu mempayungi anaknya yang digendong oleh Sasuke.
"Hinataa.." Hana begitu cemas.
'Beginikah wajahmu Ibu ketika kau cemas?' batin Sasuke. Ia sangat iri terhadap orang-orang yang masih mempunyai Ibu.
"Kau basah Sasuke, sebaiknya kau cepat mandi." Kata Hana, yah Sasuke merasa beruntung masih ada orang yang mau mencemaskan dirinya. Sasuke mengangguk paham dan naik keatas kamarnya untuk mandi.
-0-
Setelah Sasuke mandi, ia berpakaian kemudian pergi ke bawah melihat kondisi Hinata. Ia masih melihat Hinata tertidur pulas didalam selimut tebal.
"Bagaimana bi?" tanya Sasuke
"Dia sepertinya demam. Tapi suhunya sudah agak turun." Kata Hana
"Sebaiknya Hinata dibawa ke kamarnya bi. Disini dingin." Ujar Sasukee.
"Aku akan menggendongnya." Lanjut Sasuke.
"Tidak usah, nanti kau tidak kuat. Hinatakan berat."
"Tidak apa-apa bi." Kata Sasuke kemudian dia mengangkat Hinata. Sebelum naik ketangga dia berdoa agar tulangnya kali ini benar-benar tidak akan lepas.
'Huaaaaaphh dia berat sekali!' batin Sasuke. Untung saja mereka sudah sampai didepan kamarnya Hinata. Segera Hana membukakan pintu tapi sayang, pintunya dikunci dan Hana tidak tau dimana kuncinya.
"A-ada apa bi?" kata Sasuke terbata dia sudah tidak kuat.
"A-ano kunci kamar Hinata?"
"Kalau begitu Hinata dikamarku dulu saja bi." Kata Sasuke pasrah, Hana hanya mengangguk.
"Huft!" Sasuke menghembuskan napasnya. Hinata kini tertidur diranjang miliknya.
"Jadi kau tidur dimana Sasuke?" tanya Hana.
"Aku diluar saja."
"Bagaimana kalau dikamar Hanabi?" usul Hana
"Tidak usah bi, aku tidak apa-apa." Hana benar-benar tertolong. Untung saja ada Sasuke, kalau tidak mungkin anaknya mati dehidrasi diluar sana.
-0-
Sasuke POV
Keesokan Harinya
Aku terbangun jam 06.42, aku mengingat ini adalah hari pertamaku untuk Sekolah. Segera aku masuk ke kamarku dan shit aku lupa ada Hinata didalamnya. Hah abaikan! Hinata masih tertidur, sebaiknya aku memanfaatkan keadaan untuk mandi.
Setelah beberapa menit mandi, aku keluar memakai handuk putih betengger rapih di perut sampai dilututku. Aku merasa aman aman saja karena kutau Hinata masih terbaring tidak sadar. Ini benar-benar gila! Kami bagaikan pasangan suami-istri tidak jelas. Segera kupakai seragam sekolah baruku dan mengemasi beberapa buku catatan dan apa-apa yang kuperlukan. Saat sudah selesai, aku melihat Hinata sebentar, kupandangi wajah cantiknya itu, cantik eh? Kau gila Sasuke! Lalu hatiku mencelos paksa, sembari ingin mencium pipi Hinata yang imut itu tapi logikaku menahannya.
"Argghh!" aku frustasi kemudian meninggalkan Hinata dikamarku. Apa yang kau pikirkan Sasuke! Kau datang ke Jepang bukan untuk ini. Hal itulah yang terus menahan nafsuku.
-0-
Aku melihat Bibi Hana tengah menyiapkan sarapan. Aku izin pamit untuk ke sekolah namun aku ditahan dan disuruh makan, haish ini benar-benar menyusahkan.
"Hanabi belum bangun bi?" tanyaku ke Bibi Hana
"Iya, nanti biar bibi yang mengantar Hanabi ke sekolah. Tolong sampaikan kepada guru Hinata, kalau dia sedang sakit" Kata bibi Hana. Dan aku hanya mengangguk.
Setelah sarapan aku bergegas keluar dan hn cantik, benar-benar pemandangan yang cantik. Aku melihat Ducatiku telah berdiri kokoh disamping Honda Jazz milik bibi Hana. Ducatiku lebih terlihat menarik dibandingkan Honda Jazz milik bibi. Aku masuk kembali dan menanyakan hal bodoh ke bibi Hana.
"Apakah itu motorku yang dikirim dari London bi?" pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.
"Oh astaga, maaf yah Sasuke, bibi sampai lupa. Iya itu motormu. Pagi sekali orang mengantarnya. Kuncinya ada diatas meja." Kata bibi Hana kepadaku. Aku hanya mengangguk dan melihat keatas meja. Hn, kunci Ducatiku beserta gantungan tazmanianya, cartoon kesayanganku.
'Kini jalanan milik kita.' Batinku sambil menyeringai.
TO BE CONTINUED sfx : Haru - haru by BIGBANG
Author minta reviewnya. Itu menjadikan semangat author bertambah x)
saran dan kritik sangat diterima.
