A Little Secret
Disclaimer : I own the story. Others? Not mine. Secret Garden © SBS.
Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Yaoi, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst
.
.
Enjoy It!
#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
.
.
Naruto kembali menghela napas panjang begitu melihat dua sosok yang tengah duduk saling berhadapan saling melemparkan tatapan serius. Ia tidak tahu kenapa keadaannya bisa jadi seperti ini, tapi yang jelas, meminta Sasuke menemaninya disaat ia tengah bekerja bukanlah hal yang baik.
"Kau yakin tidak akan melindunginya?" tanya Shikamaru disertai seringai meremehkan.
"Kenapa bertanya padaku? Bukankah kau juga mempunyai kewajiban untuk melindunginya?" Sasuke balik bertanya dan melemparkan seringai serupa.
"Kau tahu, aku bisa membunuhmu dengan mengambil dua langkah maju," kali ini Shikamaru meraih botol sake di atas counter bar.
"Dan kurasa kau tidak menyadari kalau aku akan membunuhmu sekarang," cetus Sasuke sembari mencondongkan tubuh dan membuktikan perkataannya.
Kali ini helaan napas panjang yang terdengar bukan berasal dari sang Uzumaki, melainkan dari sang 'kakak' yang tengah memijit pelipisnya pelan.
"Skor kembali imbang," ucap Sasuke yang sudah menegakkan posisi duduk dan membiarkan otot-ototnya yang tadi kaku sedikit rileks.
Belum sempat Shikamaru mengembalikan pion-pion catur kembali ke posisinya masing-masing, Naruto meraih papan catur dari atas counter bar. Dua orang yang sejak setengah jam yang lalu terus mengulang pertandingan catur mereka menatap si pemuda berambut pirang dengan alis terangkat.
Sejujurnya Naruto tidak tahu apakah ia harus merasa geli atau takjub karena baru kali ini ia melihat ada orang yang bermain catur di dalam pub, tapi yang jelas ia tidak akan membiarkan dua lelaki yang duduk di depan counter bar memulai kembali 'pertarungan' mereka.
"Kenapa kau tidak pulang? Tidak biasanya kau masih ada disini dan menungguku menutup pub," tanya Naruto kepada pemilik rambut yang diikat tinggi.
"Aku sedang tidak ingin pulang lebih awal," Shikamaru menatap sang penanya dengan bosan.
Kali ini sang Uzumaki menatap kekasihnya yang tengah menghabiskan isi kaleng coke-nya perlahan.
"Aku memintamu datang untuk menemaniku, Teme, tapi yang kau lakukan beberapa jam belakangan malah mengobrol dan bermain dengan bosku. Kekasih macam apa kau ini?" sindirnya tajam.
Naruto menahan diri untuk tidak melemparkan lap yang sedang digenggamnya ke arah sang kekasih karena kemarahannya hanya mendapat balasan 'hn' yang sama sekali ia tidak ketahui maknanya.
"Sebelum kau mengusirku lagi, sebaiknya aku pergi," cetus Shikamaru sembari beranjak bangkit dan meraih kunci mobilnya di atas counter bar.
"Dan sebelum hari beranjak lebih pagi, sebaiknya kita cepat keluar dari sini," timpal Sasuke beberapa saat setelah Shikamaru menghilang.
Naruto mengangguk dan segera melangkah ke ruang ganti. Semua pekerjaannya sudah selesai dan ia tidak mau memerangkap dirinya lebih lama di tempat ini.
Sasuke membalikkan tubuh dan mengerutkan dahi melihat sosok yang baru saja masuk ke dalam pub. Ia kira sudah tidak akan ada yang datang lagi karena pub sudah ditutup sejak satu jam yang lalu.
"Sedang apa kau disini?"
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau datang ke tempat ini? Kau sudah cukup terkenal karena skandal penjiplakanmu dan aku tidak mau kau menjadi lebih terkenal karena paparazzi mendapatimu pergi ke tempat semacam ini."
"Aku harus bicara dengan Naruto. Ada yang harus kutanyakan padanya."
Sasuke menaikkan alis mendengar perkataan sahabatnya tapi ia memilih untuk tidak mengucapkan apapun.
"Huh? Kalau kau mau minum, kau terlambat, Neji. Aku baru saja akan benar-benar menutup pub," papar Naruto yang baru saja kembali dan sudah melepas semua atributnya sebagai 'Blonde'.
"Kita harus bicara," balas Neji singkat.
Naruto melirik jam tangannya dan menarik napas panjang. Sekarang sudah jam tiga pagi, dan masih ada hal yang harus diselesaikannya dengan sang penyanyi muda. Beruntung hari ini adalah akhir pekan sehingga ia tidak akan khawatir tertidur di kelas.
"Sebaiknya kita bicara di tempat lain."
Neji hanya mengangguk dan melangkah munuju pintu keluar.
.
-0-
.
"Ini yang kau sebut 'tempat lain', Dobe?"
Sasuke menaikkan alis dan menatap keadaan sekelilingnya yang cukup ramai. Naruto menganggukkan kepala dengan antusias dan menatap mangkuk yang mengepulkan uap panas di hadapannya.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya si pemuda pirang sembari mengaduk kuah ramen pesanannya.
"Ceritakan semua hal yang berkaitan dengan Gaara."
Naruto menggantung sumpit yang sudah menjepit mie tepat di depan mulutnya dan menegakkan kepala untuk melihat wajah sang penanya. Sementara itu Sasuke terlihat melipat kedua lengannya dan bersandar di punggung kursi. Uchiha bungsu itu bisa menebak percakapan dua orang pemuda yang tengah bersamanya akan jadi sangat menarik.
"Kenapa tiba-tiba? Kenapa aku harus memberitahumu?" tanya Naruto yang sudah kembali mendapatkan kesadaran dan melahap makanan favoritnya.
"Sebelum aku mengejarnya, aku harus mengetahui semua hal tentangnya agar aku tahu apa yang kulakukan. Aku harus tahu semua hal tentangnya agar aku bisa beradu argumen dengannya, membuatnya menyerah, dan mengikatnya untuk berdiri disampingku lagi."
Naruto menelan hasil kunyahannya dan meraih sendok untuk menyinduk kuah mie.
"Kau ingin mengejarnya? Untuk apa?"
"Haruskah kau bertanya? Bukankah kau sudah tahu jawabanku?"
"Hanya sekedar memastikan," Naruto mengangkat bahu. "Dia meninggalkanmu tanpa mengatakan apapun, bisa jadi itu adalah pesan bahwa dia tidak mau berhubungan lagi denganmu. Kau harus benar-benar punya cara jitu kalau kau ingin dia berdiri disampingmu lagi."
"Maka dari itu, aku butuh bantuanmu," Neji menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak akan melepaskannya kecuali dia memintaku untuk melakukan itu, dan aku tidak akan memberikan dia kesempatan untuk melakukannya."
Naruto menganggukkan kepala satu kali sebelum kembali menikmati makanannya. Neji menatap pemuda yang duduk tepat di hadapannya dengan tenang. Ia sama sekali tidak tahu apakah sahabat dari orang yang dicintainya ini akan membantunya atau tidak, tapi setidaknya ia harus mencoba. Ia tidak mau melewatkan apapun lagi. Tidak setelah ia membiarkan pemuda yang berhasil mencuri perhatiannya pergi begitu saja.
Dibandingkan dengan meja lain dimana orang-orang yang menempatinya tampak berbincang dengan seru, meja yang ditempati ketiga pemuda itu tampak tenang. Sasuke makin nyaman dengan posisinya dan ia memutuskan untuk tidak ikut campur ke dalam pembicaraan.
"Apa yang akan kudapatkan jika aku memberitahukan semua hal yang ingin kau ketahui?" akhirnya Naruto memecah ketenangan.
Neji menaikkan alis mendengar pertanyaan yang diajukan sang Uzumaki. Ia menolehkan kepala dan mendapati sahabatnya menanggapi pertanyaan kekanakan sang kekasih dengan kerlingan mata bosan.
"Apa yang kau inginkan?" pada akhirnya ia balik bertanya.
"Yang kuinginkan?" Naruto mendorong mangkuknya yang sudah kosong. "Aku ingin kau mentraktirku makan di tempat ini selama tiga bulan penuh, dengan catatan kau tidak boleh menolak permintaanku kalau aku ingin makan disini."
"Huh? Bagaimana dengan pekerjaanku? Aku tidak bisa pergi kapanpun aku mau, Naruto."
"Kau pikir aku bisa?" kini giliran si pemuda berkulit tan yang mengerlingkan mata. "Kau tidak perlu menemaniku makan, kau cukup meminjamkan kartu kreditmu untuk membayar semua pesananku. Do we got the deal?"
Neji menatap sosok yang sudah dianggapnya sebagai sahabat itu dengan heran. Apa ia tidak salah dengar? Naruto bersedia menukarkan semua rahasia sahabatnya hanya dengan biaya makan ramen selama tiga bulan? Bukankah itu terlalu 'murah'?
"Kau yakin hanya itu yang kau mau?" tanyanya memastikan.
Naruto menaikkan alis dan mengangguk yakin. Tidak ada yang lebih menggiurkan selain ramen dimatanya.
"Okay."
Neji bisa menangkap seringai rubah di wajah lawan bicaranya. Sasuke sendiri hanya menarik napas panjang dan mengutuk kebodohan sang sahabat. Ia yakin Neji pasti akan menyesal telah menyetujui perjanjian kekanakan dengan kekasihnya ini.
"Oke! Apa yang ingin kau tahu tentang sahabatku itu?" Naruto menegakkan tubuh dan melipat kedua lengannya di atas meja, bersikap seperti seorang murid yang siap memulai pelajaran.
"Kau tahu masa lalu Gaara? Maksudku, ceritanya semasa kecil bersama keluarganya."
Sesuai dengan perkataannya, Neji ingin tahu semua hal tentang pemuda berambut merah itu dan tentu ia harus mengetahui semua hal dimulai dari awal. Benar-benar dari awal.
"Seperti yang kau tahu, Gaara adalah anak bungsu dengan dua orang kakak. Ibunya meninggal ketika melahirkannya dan ayahnya adalah pemilik salah satu kedai sushi yang cukup terkenal di daerah asalnya."
"Apa pekerjaan kakaknya?"
"Kankuro maksudmu?"
Neji mengangguk. Ia sudah tahu cerita tentang Temari dan ia tidak mau membahas wanita itu. Walaupun Naruto hanyalah sahabat Gaara, tapi ia tahu kalau pemuda pirang itu juga mendapatkan dampak psikologis dari kematian sang Sabaku sulung.
"Kankuro bekerja sebagai salah satu chef di kedai sushi keluarga Sabaku. Saat ini dia sedang berusaha membangun kedainya sendiri di Tokyo."
Neji mengangguk paham. Pemuda berambut coklat sebahu itu ikut menyandarkan diri di punggung kursi.
"Ceritakan bagaimana kau bisa mengenal Gaara. Kapan pertama kali kalian bertemu?"
Naruto mengangkat sebelah lengannya dan menyangga dagunya dengan telapak tangan. Ia tersenyum mengingat pertemuan pertamanya dengan Gaara kecil.
"Aku adalah salah satu anak asuh di panti asuhan yang dikelola keluarga Sabaku. Keluarga itu memang tidak termasuk kalangan atas, tapi sejak dulu mereka menjadi donatur panti asuhan tempatku tinggal. Karena mereka termasuk staff pengelola, Gaara sering datang dan bermain bersama anak-anak disana, termasuk aku."
"Jadi kalian memang sudah lama saling mengenal," gumam Neji.
"Dan itu menjelaskan kenapa kau bisa memahami pemuda rumit itu dengan baik."
Naruto tertawa mendengar celetukan kekasihnya.
"Percaya padaku, dia tidak serumit kelihatannya. Kalian hanya harus lebih cermat dan teliti ketika berhadapan dengan pemuda satu itu."
Dan Neji bukanlah orang yang cermat dan teliti. Kini ia tahu kenapa ia tidak bisa menjalin hubungan yang lebih baik dengan mantan rekan duetnya.
"Kami bertemu saat kami masiih kecil, dan kami bersahabat dengan baik. Dibalik sikap dingin dan acuhnya, dia adalah adik yang menyenangkan dan manis," Naruto kembali tersenyum.
Istilah 'Don't judge a book by its cover' nyatanya memang sangat tepat untuk menggambarkan seorang Sabaku no Gaara. Naruto tahu betul bagaimana acuh, dingin dan kasarnya pemuda itu, tapi ia juga tahu betul kalau semua itu adalah cara Gaara untuk menunjukkan perhatiannya.
Gaara memang bukan orang yang terbuka. Ia tidak menolak ketika seseorang mendekatinya, namun ia tidak mudah dekat dengan orang yang baru dikenalnya. Ia selalu memberikan jarak dan bahkan kadang membentengi dirinya agar ia tidak memiliki hubungan dekat dengan seseorang, terlebih setelah kematian Temari.
Gaara tidak mau mengalami rasa sakit yang sama seperti ketika ia ditinggalkan sang kakak.
"Apa lagi yang ingin kau tahu?" Naruto kini meletakkan dagunya di atas kedua lengannya yang ditumpuk di atas meja.
"Bagaimana dia sebenarnya? Aku tidak pernah bisa dekat dengannya dan seperti yang kau tahu, hubungan kami tidak sebaik itu. Aku ingin tahu karakternya yang tidak pernah ditunjukkannya didepanku."
Sasuke menahan diri untuk tidak mencubit pipi sang Uzumaki ketika pemuda itu menggembunggkannya dengan sengaja. Ia tidak tahu kenapa seorang lelaki bisa tetap tampak 'manis' ketika melakukan gestur kekanakan seperti tadi padahan usianya sudah diatas kepala dua.
Kekasihnya memang tidak biasa.
"Terlalu banyak yang dia sembunyikan darimu," tutur Naruto.
"Huh?"
"Dia menyembunyikan terlalu banyak hal darimu dan itu membuatku bingung harus memulainya darimana," tuturnya lagi.
Neji makin menyandarkan diri, menyamankan diri sebisa mungkin karena ia tahu percakapan mereka masih akan terus berlanjut.
"Gaara yang sebenarnya adalah seorang remaja polos yang berbakat. Dia bukan hanya pandai menulis lagu, ia juga bisa mengaransemen ulang lagu seseorang yang memberikan sense yang berbeda dengan sense aslinya. Kalau kau tahu bagaimana dia semasa sekolah dulu, kau pasti menyesal karena baru mengenalnya sekarang."
"Huh? Memang ada apa semasa sekolah?" Neji tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Dia adalah target incaran seisi sekolah. Aku bersekolah di tempat yang sama dengannya sejak SD hingga SMA, dan jangan tanyakan padaku berapa banyak orang yang gagal menjadi kekasihnya."
"Dia sehebat itu?"
Naruto memandang orang yang baru saja mempertanyakan fakta yang ia ungkapkan.
"Dia bahkan lebih hebat darimu, Teme," ungkapnya sembari melemparkan tatapan menantang.
Sang Uzumaki menahan diri untuk tidak menunjukkan senyum puas ketika ia berhasil menangkap kilat cemburu di mata beriris onyx yang kini sudah tidak ia perhatikan.
"Dia orang yang baik dan aku mengatakan ini bukan karena aku adalah sahabatnya. Dia orang yang sangat baik dan selalu mendahulukan orang lain dibandingkan dirinya sendiri."
Neji mengalihkan pandangan ke atas permukaan meja. Ia bisa memahami hal itu karena ia tahu bahwa salah satu alasan Gaara tidak menunjukkan perasaannya adalah karena ia tidak mau lebih mengecewakan sang ayah.
Orang lain mungkin menilai Gaara sebagai anak pembangkang karena keputusannya keluar dari rumah. Mereka juga mungkin menganggap sang Sabaku adalah orang yang kekanakan karena tindakannya menghidari sang ayah.
Tidak ada seorang pun diluar keluarga Sabaku yang mengetahui permasalahan sang putra bungsu dengan sang kepala keluarga. Pada kenyataannya hanya Sabaku senior dan ketiga Sabaku junior saja yang tahu bahwa keputusan Gaara diambil karena kenyataan mengenai masalah ketertarikan seksual si bungsu.
Orang luar mengira kalau Gaara keluar dari rumah karena bertengkar dengan sang ayah, dan itu tidak sepenuhnya salah. Tapi Neji tetap tidak bisa menerima penilaian orang-orang yang memberikan cap negatif kepada mantan rekan duetnya.
Dari percakapannya dengan Kankuro ia tahu kalau Gaara pergi karena tidak tahan dengan sikap Sabaku senior yang terus menjodoh-jodohkannya. Dan dari percakapan yang sama juga ia tahu kalau sebenarnya Gaara pergi karena ia tidak tahan melihat pandangan berbeda yang ditunjukkan sang ayah setelah lelaki itu tahu mengenai ketertarikan seksualnya.
Gaara tahu kalau ia sudah membuat ayahnya malu, dan itu menjadi alasan utama lain kenapa ia memilih keluar dari rumah tanpa diminta siapapun. Gaara tidak pernah mau menjadi seseorang yang memalukan, tidak ada orang yang mau menjadi seperti itu, sehingga ia tidak pernah menyebutkan marganya tiap kali ia bepergian.
Ia tidak mau menjadi seseorang yang mempermalukan keluarganya, khususnya sang ayah.
"Apa lagi yang ingin kau tahu?"
Sang Hyuuga kembali mengangkat kepalanya dan menatap Naruto yang belum mengubah posisinya, tetap menyangga dagu dengan sebelah tangan.
"Sejak kapan kau tahu kalau dia... berbeda?"
Naruto mengerjapkan mata, memastikan telinganya tidak mendengar pertanyaan yang salah.
Wow, ia tidak tahu kalau lelaki dihadapannya serius ingin mengetahui semua hal tentang sahabat baiknya.
"Sejak SMA."
"Dia memberitahumu?"
"Err... sepertinya?"
Neji mengerutkan dahi, sama sekali tidak mengerti dengan jawaban sang lawan bicara. Ia bahkan tidak tahu apakah yang dikatakan Naruto tadi bisa dikategorikan sebagai sebuah jawaban.
"Anggap saja dia memberitahuku. Aku tidak mau membuat semuanya menjadi rumit dan tidak nyaman, oke?"
Huh?
Neji makin mengerutkan dahi. Kenapa jawaban dari pertanyaan itu bisa membuat semuanya menjadi rumit dan memberi kesan tidak nyaman? Memangnya bagaimana cara Naruto mengetahui perbedaan Gaara? Kalau Gaara memang memberitahunya, maka tidak akan memunculkan kerumitan dan rasa tidak nyaman bukan? Kecuali kalau Naruto mengetahui kenyataan itu dengan cara lain.
Cara lain.
Neji membulatkan mata dan menatap si pemuda pirang dengan tatapan tidak percaya.
"Jangan katakan kalau dia—"
Naruto menarik napas dalam-dalam mendengar sang Hyuuga yang jelas kesulitan melanjutkan perkataannya.
"Bukankah kubilang anggap saja begitu?" tuturnya sedikit kesal. Kalau sudah begini, ia harus menjawab dan menjelaskan semuanya agar tidak ada salah paham diantara mereka bertiga. "Dia pernah memintaku untuk menjadi kekasihnya sewaktu kami masih duduk di bangku SMA."
Naruto menikmati minumannya. Ia memutuskan untuk mengabaikan Sasuke yang mematung dan Neji yang melemparkan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Apa kubilang? See? Semuanya jadi rumit dan tidak nyaman kan?" Naruto menahan diri untuk tidak menggebrak meja karena Neji tidak mengatakan apapun selama beberapa menit terakhir.
Sasuke tampak berusaha mengembalikan kesadaran dan merilekskan tubuhnya sementara Neji berdehem pelan, berusaha menghilangkan kekakuan yang melanda otaknya.
"Jadi... Err... Apa kalian pernah..."
Naruto melemparkan tatapan tajam dan kembali menahan diri. Kali ini bukan menahan diri untuk tidak menggebrak meja, tetapi menahan diri untuk tidak bangun dan mencekik si lelaki berambut coklat. Kenapa lelaki satu ini masih tidak mau melepaskan topik pembicaraan ini?
"Tidak. Saat itu aku tidak memiliki perasaan apapun padanya."
"Saat itu? Apa maksudmu dengan 'saat itu'? Sebaiknya kau menceritakan semuanya dengan jujur, Dobe."
Inilah alasan utama kenapa ia berharap Neji tidak membahas hal ini lebih lanjut. Walaupun ia sudah menjadi kekasih sang Uchiha selama beberapa waktu, sampai sekarang ia masih belum memiliki cara untuk mengendalikan kecemburuan adik Uchiha Itachi ini.
"Kami tidak pernah berkencan, Teme. Yang kumaksudkan 'saat itu' adalah saat dimana aku memiliki seorang kekasih," Naruto menatap Sasuke tepat di mata sebelum kembali menolehkan kepala ke sosok yang sudah membaut suasana berubah tidak nyaman. "Kami tidak pernah melangkah sejauh itu," ungkapnya tegas.
Neji menarik napas lega. Ia tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana jika Gaara pernah berkencan dengan bartender favoritnya. Tidak ada yang salah dengan itu, Gaara memiliki hak untuk berkencan dengan siapapun. Hanya saja semuanya ia akan merasa kaku jika mereka pernah berkencan.
Naruto langsung melemparkan death glare super andalannya ketika melihat Neji hendak membuka mulut dan kembali membahas topik pembicaraan yang sama.
Tampaknya Neji memahami dengan baik makna 'diam-atau-mati' yang disampaikan Naruto melalui tatapan dan aura hitam yang melingkupi sosoknya karena penyanyi muda itu terlihat mengurungkan niat untuk mengatakan apapun yang ada di kepalanya.
Naruto mengangguk puas melihat gestur menyerah sang Hyuuga dan kembali bersandar di punggung kursi. Ia menyeringai tipis ketika otaknya mendapatkan ide untuk membalas tindakan salah satu artis dibawah label Rookie Nine itu.
Sedikit membalas dendam tidak akan menyakitkan kan?
"Kami memang tidak pernah berkencan, tapi bukan berarti dia tidak pernah melalukannya. Gaara pernah berkencan beberapa kali. Kau bukan orang pertama yang pernah dia cintai dan bisa jadi sekarang dia sudah menemukan pemuda lain yang berhasil membuatnya jatuh cinta."
Setenang apapun Naruto mengatakan hal tadi nyatanya tetap membuat tubuh Neji membeku.
"Aku tidak berkata kalau Gaara adalah orang yang mudah jatuh cinta, tapi kurasa orang lain mudah jatuh cinta padanya. Kau tahu bagaimana menariknya dia kan?"
Mahasiswa muda itu berusaha keras menyembunyikan seringai kemenangan ketika melihat raut wajah lawan bicaranya.
"Aku akan menemukannya. Aku tidak akan membiarkannya lolos begitu saja."
Neji bangun dari duduknya dan segera melangkah meninggalkan kedai.
"Yeah, well, you're welcome," cetus Naruto sembari melambaikan tangan dengan malas. Ia benar-benar tidak menyangka Neji akan meninggalkannya begitu saja.
Setelah membayar, dua orang yang tersisa itu memutuskan untuk segera pergi ke halte dan pulang. Langit sudah mulai sedikit lebih terang dan Naruto baru menyadari kalau ternyata mereka menghabiskan waktu dua jam di kedai ramen.
"Menurutmu apa dia serius dengan perkataannya, Teme? Bahwa dia akan mengikat Gaara disampingnya lagi?" tanya Naruto setelah mereka duduk di dalam bus.
"Menurutmu?"
"Hn."
Sasuke sama sekali tidak bergeming saat Naruto memposisikan kepalanya di bahu sang Uchiha.
"Bukan salahku kau jadi cemburu seperti sekarang. Neji yang melakukannya," ucap Naruto hati-hati, berusaha agar hanya lelaki disampingnya yang bisa mendengar perkataannya.
"Hn."
Helaan napas panjang kembali dihembuskan pemuda berkulit kecoklatan itu.
"Trust me, there's nothing between us. Gaara terlalu berharga untuk kujadikan sebagai seorang kekasih," bisiknya lagi.
Naruto makin menyamankan kepalanya di bahu sang kekasih, sementara sebelah tangannya melingkar di bagian belakang pinggang sang Uchiha.
"You're the only one that make me swing this way and I'm pretty sure you know that."
Naruto membiarkan rasa kantuk menguasainya dan menutup mata, melewatkan senyum tipis yang terulas di bibir lelaki yang kini tengah menggenggam sebelah tangannya erat.
"Yeah, I do."
.
.
TBC
.
.
A/N: Shorter than the previous, I know, but this is the best that I can give. Saya tidak yakin bisa membuat chap ini lebih panjang lagi, dan seperti kemarin, saya tidak sempat mengedit. Ah, ada yang mau merekomendasikan lagu angst atau lagu ballad untuk membantu saya mendapatkan mood fic ini? Saya butuh asupan lagu semacam itu -,-
.
.
Review Reply:
Meg chan: Pertanyaannya bakal dijawab nanti, di chap selanjutnya~ ^^
sabishii no kitsune: woow. Aku kira ga ada yang nungguin, hehe. Ga akan panjang-panjang kok, 6 chapter(s) maksimal! ^^
Rofuneko: Ow, baru gabung di FFn? Selamat datang kalau begitu~ XD Ada typo kok, tapi belum saya benerin -,- Perasaan sih ga sampe 4000 kata, tapi ga tau kenapa yang keluar malah 4k+. Ne, ganbarimasu~~ ^^
Rui (jangan) males log in: Wheii, apa aku perlu tulis pemberitahuan di profil? Hehehe. Chap selanjutnya sedang dalam masa penggarapan~ ^^
