A Little Secret
Disclaimer : I own the story. Others? Not mine. Secret Garden © SBS, Haru Haru © Bigbang, Blind © TRAX.
Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Yaoi, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst
.
.
Enjoy It!
#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#
.
.
Gaara mengerutkan dahi ketika melihat lampu dapur menyala. Iris hijaunya tertuju pada jam dinding yang menunjukkan kalau saat ini sudah pukul delapan malam. Siapa yang masih ada di dapur di jam seperti ini?
Pemuda berambut merah itu makin mengerutkan dahi ketika melihat seseorang yang tengah membungkuk di depan kulkas yang terbuka. Walaupun Gaara tidak bisa melihat kepala sang pemilik tubuh karena terhalang pintu kulkas, ia bisa menebak siapa 'tikus' yang sedang 'mencuri' persediaan makanan di tempat tinggal sementaranya ini.
"Apa yang kau lakukan?"
"WHUAHH!"
Sang Sabaku bungsu tertawa pelan dan duduk di kursi makan dengan tenang, sama sekali tidak mempedulikan tatapan tajam yang dilemparkan seorang lelaki berambut pirang yang sudah mengeluarkan kepalanya dari dalam kulkas.
"KAU MAU MEMBUNUHKU, EH?"
Gaara menggelengkan kepala dan meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, memberi isyarat lelaki tadi untuk diam. Ia tidak mau ada yang terbangun karena keduanya.
Yahiko, lelaki yang berhasil dikejutkan Gaara, menarik napas panjang dan ikut duduk setelah memastikan detak jantungnya sudah kembali ke tempo normal.
"Kukira Iruka-san bangun dan mendapatiku disini lagi," ucap Yahiko dengan suara jauh lebih pelan dari sebelumnya.
"Lagi? Apa maksudmu dengan 'lagi'?"
"Beberapa kali aku tertangkap basah ketika sedang menikmati camilan larut malamku disini, dan dia mengancam untuk memasang alarm di kulkas karena aku selalu memakan cadangan makanan yang sengaja dia beli," papar pemuda berusia duapuluh lima tahun itu.
"Ah," Gaara mengangguk paham. "Jadi, apa aku harus memberitahu Iruka-nii sekarang karena kau baru saja tertangkap basah olehku?"
"Don't you dare."
Gaara kembali tertawa pelan mendengar ancaman sosok yang sudah dianggapnya sebagai kakak itu.
"Kenapa kau masih disini? Kau tidak pergi?" tanya Yahiko yang kini sedang membuka pisang yang baru saja ia ambil dari keranjang buah di atas meja makan.
"Aku akan berangkat beberapa menit lagi. Aku sudah memberitahunya kalau hari ini aku akan datang terlambat."
"Dan dia mengijinkanmu melakukannya?"
"Tentu saja."
"That stupid woman."
Yahiko melahap sisa pisang di tangannya sekali jalan dan mengunyahnya dengan kesal. Kenapa Gaara diperbolehkan datang terlambat sedangkan ia tidak?
"Entah kenapa aku makin curiga kau dan Naruto sebenarnya benar-benar kakak-beradik," cetusnya.
"Huh?"
"Kau baru saja mengatai kekasihmu dan percaya padaku, Naruto juga sering melakukan itu pada kekasihnya."
"Benarkah? Adikku melakukannya juga?"
Gaara menganggukkan kepala. "Kurasa kalian benar-benar kakak-beradik. Ikatan kalian kuat sekali."
Yahiko tertawa mendengar penuturan Gaara. Sejak pertama kali bertemu, pemuda itu memang sudah mencurigai hubungannya dengan sang Uzumaki, yang tentu saja segera disalahkan keduanya. Walaupun mereka berdua mirip secara fisik dan sifat, pada kenyataannya ia dan Naruto memang tidak memiliki hubungan darah. Mereka hanya kakak-beradik yang sama-sama besar di panti asuhan dimana Gaara sedang tinggal saat ini.
Ah, mengenai kedatangan Gaara ke tempat ini...
"Kenapa kau tiba-tiba kemari? Aku tahu kau menyukai panti ini, tapi sudah hampir satu tahun berlalu sejak terakhir kali kau datang berkunjung. Dan terakhir kali kau datang bersama Naruto, tidak sendirian seperti sekarang. Kau juga bahkan memutuskan untuk tinggal disini sementara waktu. Apa yang terjadi?"
Gaara bangun dari duduknya dan membuka pintu kulkas. Ia meraih karton jus dan membawanya ke meja makan setelah meraih gelas di rak. Ia menuangkan isi karton perlahan sebelum kembali duduk dan menikmati minumannya.
Ia tahu cepat atau lambat kedatangannya akan dipertanyaan seperti ini. Dan kalau bukan Iruka, maka Yahiko lah yang akan mempertanyakannya.
Ia sudah menduga semuanya. Dan ia sudah mempersiapkan diri untuk menjawab kecurigaan pemuda yang sama sekali tidak melepaskan pandangan darinya ini.
"Kankuro mengetahui keberadaanku."
"Lalu?"
"Kau tahu aturan mainnya 'kan?"
Yahiko mengangguk sekali. Ia memang mengetahui permainan 'catch me if you can' yang sudah dilakukan Gaara dan kakaknya sejak pemuda berkulit pucat ini memutuskan keluar dari kediaman keluarga Sabaku.
"Lalu kenapa kau memilih untuk pergi kesini? Ke panti?"
"Entahlah," Gaara mengangkat bahu. "Mungkin karena aku yakin kalau tempat ini adalah tempat terakhir yang akan dicurigai Kankuro."
Kadang memang tempat yang terdekat denganmu adalah tempat yang sama sekali tidak dicurigai sebagai tempat persembunyian. Bagaimana kau bisa menyebut tempat itu sebagai sebuah persembunyian kalau semua orang tahu keberadaan tempat itu?
"Panti ini adalah tempat yang memiliki tingkat kecurigaan terkecil dibanding tempat-tempat lain, dan kurasa Kankuro sudah meminta bantuan teman-temannya yang bekerja di bagian imigrasi untuk mengetahui tempat selanjutnya yang akan kutuju."
Gaara tidak mau tertangkap semudah itu. Teman Kankuro yang bekerja di kantor imigrasi memang tidak akan menangkapnya, tapi mereka pasti akan memberitahu sang kakak mengenai kota yang ia tuju. Itulah kenapa Gaara sama sekali tidak pernah tertarik untuk kabur melalui bandara. Ia lebih memilih perjalanan menggunakan kapal, kereta dan bus dibandingkan pesawat terbang.
Lalu kenapa ia memilih tempat ini sebagai persinggahan sementaranya?
Sebenarnya Gaara sama sekali tidak berpikiran untuk 'bersembunyi' di tempat ini. Tadinya, setelah ia mengunjungi makam sang kakak dan bercerita sebentar kepadanya, ia berniat pergi ke kediaman keluarga Hyuuga. Sudah hampir dua bulan sejak terakhir ia bertemu dengan 'paman' dan 'sepupu'nya, dan tentu tidak akan ada yang menyangka bahwa ia akan pergi ke kediaman keluarga pemuda yang ia sukai.
Tapi ia membatalkan niat itu.
Mungkin Neji memang tidak akan mencurigai kediaman pamannya, tapi kalau Naruto tahu siapa paman sang penyanyi, maka pemuda pirang itu pasti akan langsung mencurigai kediamannya.
Naruto tahu betul bagaimana hubungan Gaara dengan Hyuuga Hiashi. Naruto tahu kalau lelaki itulah yang mengisi ruang kosong di hatinya ketika ia mulai kehilangan figur seorang ayah. Naruto tahu kalau lelaki itu adalah satu-satunya, selain dirinya, yang masih terus menjalin komunikasi dengannya.
Karena alasan itulah Gaara mencoret kediaman keluarga Hyuuga sebagai tempat persembunyiannya.
Kembali ke pertanyaan awal; Kenapa ia memilih tempat ini sebagai persinggahan sementaranya?
Alasan pertama dan utama, seperti yang sudah dikatakannya kepada Yahiko, karena tempat ini adalah tempat yang tidak akan menarik kecurigaan. Gaara yakin Naruto tidak akan yakin kalau ia 'kabur' ke tempat ini dan ia lebih yakin kalau sang kakak tidak akan memeriksa panti. Kankuro tahu, setelah kematian Temari, panti adalah tempat yang dihindari sang adik karena terlalu banyak menyimpan kenangannya bersama wanita cantik berambut pirang itu.
Alasan kedua, Gaara yakin Neji tidak akan memikirkan kemungkinan ia pergi ke tempat ini. Kalau Naruto dan Kankuro saja tidak mencurigai tempat ini, untuk apa Neji mencurigainya?
Alasan ketiga, karena tempat ini adalah satu-satunya tempat dimana ia merasa nyaman. Ia mengenal hampir semua staff yang bekerja disini dan orang asing yang ditemuinya hanyalah 'adik-adik'nya yang selalu berganti tiap tahun. Berada di tempat dimana kau mengenal orang-orang disekitarmu tentu membuatmu merasa nyaman 'kan?
"Kau tidak mengajak Naruto kemari?" kali ini Yahiko mengambil jeruk dari keranjang buah.
"Aku sedang kabur, bukan berlibur. Bagaimana bisa aku mengajaknya?" Gaara mengerlingkan mata. "Lagipula aku tidak mungkin bisa membawanya menjauh dari kekasihnya yang super posesif itu," ungkapnya kemudian.
"Aku tidak percaya dia memilih Uchiha Sasuke sebagai kekasihnya," Yahiko menggelengkan kepala.
"Aku lebih tidak percaya Sasuke mau memiliki kekasih seperti Naruto."
"Kau hanya iri, Gaara."
Sang Sabaku mengerutkan dahi dan melemparkan tatapan tidak percaya kepada lelaki yang duduk berhadapan dengannya.
"Jangan bercanda."
Yahiko tertawa pelan mendengar celetukan lawan bicaranya. Ia sudah mendengar cerita lengkap mengenai hidup Naruto beberapa saat setelah Gaara menginjakkan kaki di panti dan bertemu dengan Iruka. Iruka adalah pengasuh yang sejak dulu tinggal di panti dan dia adalah salah satu sosok yang menempati posisi 'ayah' di kehidupan sang Uzumaki.
Itulah kenapa Gaara merasa memiliki kewajiban untuk memberitahu lelaki bermarga Umino itu mengenai kehidupan sang Uzumaki muda. Dan ia merasa senang ketika melihat sorot lega, bahagia dan bangga di mata Iruka setelah ia menyelesaikan ceritanya.
"Kenapa kau tidak melarangnya berpacaran dengan Sasuke? Bukankah kau mencintai pemuda berisik itu?" tanya Yahiko tanpa sungkan.
Memang hanya beberapa orang di panti asuhan ini yang mengetahui ketertarikan seksual Gaara, dan hanya lelaki berambut oranye ini dan Iruka saja yang tahu kalau ia memendam perasaan kepada Naruto.
Baik Iruka dan Yahiko tidak pernah menganggap 'keunikan' Gaara sebagai sebuah masalah dan mereka juga sama sekali tidak pernah sungkan menggoda pemuda berambut merah itu mengenai perasaannya kepada si pemuda berkulit tan. Bagi mereka perasaan sang Sabaku kepada sang Uzumaki sama saja seperti perasaan remaja yang sedang dimabuk cinta pada umumnya.
"Sejak kapan aku memiliki hak untuk melarangnya melakukan sesuatu? Kalaupun aku melarangnya, apa kau pikir dia akan mendengarku?"
"Tentu saja. Kau adalah sahabat baiknya."
"Dan selamanya akan tetap seperti itu," timpal Gaara.
Ia tidak akan memungkiri kalau ada saat-saat dimana ia merasa cemburu dengan kedekatan Sasuke dan sahabatnya, but here we go again; Gaara tidak memiliki hak apapun atas kehidupan Naruto.
Sejak awal Naruto tidak pernah melihatnya dari sisi dimana ia melihat pemuda itu. Sejak awal Naruto tidak pernah memiliki perasaan 'semacam itu' padanya. Sejak awal Naruto selalu mengatakan kalau apa yang Gaara rasakan padanya hanyalah perasaan seorang adik kepada kakaknya—tapi Gaara tahu betul bahwa seorang adik pasti tidak pernah memiliki keinginan untuk mencium kakaknya sendiri.
"Lagipula aku sudah tidak mencintainya. Ada orang lain yang sudah berhasil membuatku berpaling dari Naruto."
"Hyuuga Neji?"
Gaara hanya menganggukkan kepala untuk menjawab tebakan salah satu pengasuh di panti itu.
Ia tidak akan pernah berusaha berbohong dihadapan Iruka dan Yahiko karena hal itu tidak akan pernah berhasil; sama seperti ketika ia berusaha berbohong dihadapan Temari, Kankuro dan Sabaku senior.
"Ternyata kau benar-benar mencintai penyanyi itu. Kukira berita yang beredar hanya skandal yang dihembuskan untuk menarik perhatian agar lagu kalian laris di pasaran."
Yahiko mengerang pelan ketika Gaara menendang tulang keringnya dari bawah meja.
"Semua berita itu memang skandal, bodoh! Kami tidak sebegitu putus asanya sampai-sampai membuat berita bohong sebagai sarana promosi lagu," papar Gaara kesal.
"Sorry."
Gaara kembali mengangkat gelas dan meneguk isinya pelan.
"Tapi kau benar mencintainya 'kan? Lalu kenapa kau tidak membenarkan berita itu?"
"Dan menghancurkan karir yang sudah dibangun oleh Neji selama bertahun-tahun? Tidak, terima kasih. Harusnya kau tahu kalau aku tidak seegois itu."
Yahiko tersenyum tipis.
"Tapi tidak ada salahnya untuk sesekali memenuhi keingian egoismu, Gaara. Pada akhirnya kau tidak akan mendapatkan apapun kalau kau tidak memperjuangkan apa yang kau mau. Dunia tidak akan mengalah padamu, kau yang harus melawannya."
Dunia memang tidak akan mengalah padanya, tapi ia juga tidak akan mengalah pada keegoisannya untuk memiliki sang Hyuuga.
Gaara tahu dan mejadi saksi bagaimana perjuangan karir Temari dari awal hingga akhirnya diakui keberadaannya oleh orang-orang. Gaara tahu semua kerja keras sang kakak agar bisa menjadi seorang seniman yang baik. Gaara tahu semua depresi dan masa sulit yang harus dilewati sang kakak untuk mencapai posisinya saat itu.
Gaara tahu semua perjuangannya, dan ia tentu tahu bahwa apa yang dialami Temari juga dialami Neji.
"Aku bisa mengerti kalau kau tidak mau menghancurkan karirnya, tapi apa kau sadar kalau kau sebenarnya sedang memaksanya untuk memilih diantara dirimu dan karirnya?" tanya Yahiko setelah menelan hasil kunyahannya.
Gaara melipat kedua lengannnya di depan dada dan menatap lawan bicaranya dengan dahi berkerut.
"Aku tidak pernah memaksanya memilih. Sejak awal aku bahkan tidak pernah memberinya pilihan apapun."
"Tapi kenyataannya kau memang memberinya pilihan," Yahiko mengerlingkan mata.
"Pilihan apa?"
"Kau memberinya pilihan apakah dia mau mengejar dan menemukanmu atau tidak. Kalau dia sampai menemukanmu, maka secara tidak sadar kau memberinya pilihan lagi; apakah dia mau memulai hubungan denganmu atau tidak."
Gaara menarik napas panjang. Ia tidak mau menyetujui ucapan si lelaki berambut oranye, tapi pada kenyataannya apa yang sosok itu katakan tidak seratus persen salah. Neji memang dihadapkan pada pilihan-pilihan yang disebutkan Yahiko, tapi bagi Gaara bukan dirinya yang memberikan pilihan, melainkan situasi.
"Aku tahu kau mencintainya dan entah kenapa aku memiliki firasat kalau dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu. Apa firasatku benar?"
Gaara menaikkan bahu dan bangun dari duduknya setelah melirik jam dinding.
"Kalau kau ingin tahu, kau harus menanyakan itu padanya. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana perasaan pemuda itu padaku." Gaara memakai jaket yang sejak tadi ia sampirkan di punggung kursi. "Aku berangkat."
.
-0-
.
Don't look back and leave
Don't find me again and leave (on)
Because I have no regrets from loving you,
take only the good memories
.
I can bear it in some way
I can stand in some way
You should be happy if you are like this
I become dull day by day
.
.
"Kau masih menyayikan lagu semacam itu."
Gaara kembali melanjutkan kegiatannya yang terhenti setelah ia turun dari panggung. Ia meneguk isi gelas dan menikmati kehangatan dari kopi Americano yang beberapa saat lalu ia pesan.
"Apa kau tidak bisa menyanyikan lagu dengan suasana yang lebih menyenangkan, Gaara? Pelanggan kafeku bisa kabur kalau kau terus menyanyikan lagu sendu."
"Kalau begitu lebih baik aku tidak main lagi disini."
"Dan membuatku berusaha mencari pianis sekaligus penyanyi baru, begitu? Tidak, terima kasih."
"Apa itu artinya aku tetap bisa menyanyikan lagu apapun yang kusuka?"
Gaara mendengus geli ketika melihat bos barunya menggembungkan pipi dan melipat kedua tangan di depan dada. Entah kenapa wanita cantik yang tengah duduk di hadapannya ini bisa sama kekanakannya dengan lelaki yang setengah jam lalu ia tinggalkan di dapur panti asuhan.
"Kau jadi makin menyebalkan karena bisa membalikkan ucapanku, Gaara," cetus Konan sembari meraih garpu dan mulai memotong cake yang ia bawa sendiri dari counter.
"Dan kurasa kau makin payah karena kesulitan membalas ucapanku," tutur si pemuda berambut merah setelah meneguk kopinya.
Konan hanya mendengus pelan dan melanjutkan makannya sembari memperhatikan suasana kafenya yang cukup ramai. Musim yang sudah kembali bergulir membuat suhu udara makin menurun, dan saat seperti ini adalah saat dimana kafenya ramai seperti sekarang.
"Sampai kapan kau tinggal disini?" tanyanya setelah menghabiskan kuenya.
"Entahlah. Sejauh ini aku belum punya rencana untuk pergi kemanapun. Kenapa?" Gaara balik bertanya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya harus mencari penggantimu kalau kau berniat segera pergi dari kota ini."
Saat ini Gaara memang menghabiskan waktu malamnya di kafe milik Konan, kekasih Yahiko. Ia tidak melakukannya sekedar untuk mendapatkan uang, tapi juga untuk tetap menyalurkan hobinya bermain musik.
"Umm, maaf... Apa aku boleh meminta tanda tanganmu, Gaara-san?"
Konan menaikkan alis dan memperhatikan pemuda yang tadi tengah diajaknya bicara kini sedang tersenyum tipis dan menerima selembar kertas bersama sebuah bolpoin dari tangan gadis pengunjung kafenya.
Gadis itu tersenyum lebar ketika mengambil bolpoin dan kertas yang kini sudah dibubuhi tanda tangan penyanyi idolanya.
"Umm, kudengar kontrakmu dan Neji-san sudah selesai. Apa... apa kalian tidak akan berduet lagi?" tanya si gadis. Ia tampaknya belum mau menjauhi sang Sabaku.
"Begitulah. Aku belum memikirkan kelanjutan kerjasama kami," jawab Gaara ramah.
"Lalu... mengenai skandal lagu plagiat itu... Aku percaya padamu, Gaara-san! Aku tahu kau adalah orang baru di dunia entertain, tapi aku yakin kau bukan orang licik yang akan melakukan hal semacam tadi," papar sang gadis sungguh-sungguh.
"Terima kasih," Gaara kembali tersenyum.
"Lagipula, aku yakin Neji-san tidak akan memilih sembarang orang untuk menjadi partner-nya. Ah, terima kasih untuk tanda tanganmu. Aku berharap aku bisa melihatmu lagi di televisi dalam jangka waktu dekat."
Gaara sedikit membungkukkan tubuh untuk membalas hormat sang gadis.
"Wow, ini sudah kesekian kalinya aku melihatmu memberikan tanda tangan secara cuma-cuma kepada fans-mu. Kalau begini, aku yakin penjualan kafeku akan terus meningkat karena mereka pasti datang untuk melakukan hal semacam tadi," ujar Konan.
"Dan kau akan menyesal ketika kafemu makin ramai karena keberadaanku karena itu adalah indikasi kalau aku harus segera meninggkalkan tempat ini," balas Gaara sembari meneguk minumannya.
"Eh? Bukannya tadi kau bilang kalau kau belum punya rencana untuk pergi?"
"Hm, tapi bukan berarti aku tidak bisa pergi 'kan? Lagipula aku belum berniat menyerahkan diri kepada Kankuro, kau pasti tahu itu."
Selain sebagai pemilik kafe, Konan juga adalah salah satu donatur di panti asuhan, sama seperti keluarga Sabaku. Gaara sudah mengenal wanita yang memiliki pembawaan tenang itu sejak kecil dan hubungannya dengan wanita yang lebih tua lima tahun darinya itu makin erat setelah kematian Temari.
Bagi Gaara, Konan adalah sosok pengisi kekosongan yang ditinggalkan kakak sulungnya.
"Sampai kapan kau mau terus melakukan permainan ini, Gaara? Aku yakin kau tahu kalau sebenarnya Sabaku-sama sudak tidak mempermasalahkan hal itu lagi," tanya Konan hati-hati.
Gaara mengosongkan cangkirnya dan melemparkan pandangan keluar jendela, berusaha mengacuhkan perkataan wanita yang masih memperhatikan gerak-geriknya.
"Bukankah ini sudah waktumu untuk pulang? Kau ingat apa yang kau janjikan kepada Temari, bukan? Bahwa kau akan mengambil alih kedai ayahmu saat usia beliau menginjak akhir kepala empat?"
Pemuda berkulit putih itu tentu tidak melupakan hal yang diungkit kekasih Yahiko itu. Ia masih ingat betul ketika Temari memberitahunya kalau dia tidak akan mengambil alih usaha keluarga Sabaku setelah wanita itu membulatkan tekad untuk terjun seratus persen di dunia seni. Ia tentu tidak akan melupakan janjinya kepada wanita cantik itu untuk menggantikan posisinya sebagai pewaris kedai sushi sang ayah.
Ia tidak akan pernah bisa melupakan apapun tentang kakak perempuannya itu.
Dan seperti yang dikatakan Konan, waktu untuk memenuhi janji itu kini sudah tiba.
"Apa menurutmu dia akan mempercayaiku dan menyerahkan 'harta karun'nya padaku setelah apa yang kulakukan selama ini?" tanya Gaara tanpa mengalihkan pandangan.
Konan mengerutkan dahi mendengar pertanyaan sang pemuda.
"Memang apa yang sudah kau lakukan?" Ia memutuskan untuk balik bertanya.
"Jangan pura-pura tidak tahu," Gaara mengerlingkan mata. "Dan jangan katakan kalau apa yang kulakukan bukanlah hal yang salah."
Konan menydandarkan diri ke punggung kursi dan menatap lawan bicaranya yang masih memandang jalan di luar kafe.
"Sejahat apapun seorang anak, kurasa orang tua tidak akan pernah bisa membencinya. Kau memang melakukan hal yang salah, dan aku senang kau tahu apa yang sudah kau lakukan, tapi kau juga tidak melakukan hal yang buruk."
Gaara melemparkan lirikan tidak setuju atas perkataan sang wanita di hadapannya.
"Oke, kau memang melakukan hal yang buruk. Tapi alasanmu melakukanya tidak membuat tindakan itu sepenuhnya buruk, kau tahu? Kau pergi dari rumah karena kau tidak mau membuat ayahmu malu; aku tidak bisa merasakan dimana kau meletakkan 'keburukan' disana."
"Kau tidak bisa merasakannya, tapi Sabaku-sama pasti bisa. Aku akan memenuhi janjiku pada Temari, kau tidak perlu khawatir. Hanya saja kurasa saat ini belum waktunya aku kembali ke tempat itu."
Konan kembali menutup mulutnya ketika melihat Gaara bangun dan melangkah menuju panggung. Ia menatap pemuda yang kini tengah memangku gitar dan memposisikan diri di kursi dengan stand-mic dihadapannya.
.
.
Just once, just this once, please look at me
The more you feel, the more you feel
I become more and more invisble
At the end of my desperate prayers
If only you can find me, so that I can have you in my arms
.
..
-0-0-0
..
.
"Sudah selesai? Begitu saja? Cepat sekali," Gaara tidak bisa menyembunyikan nada takjub diucapannya.
"Apa maksudmu dengan 'cepat sekali' dan 'begitu saja'? Kau mau management-ku bermasalah lebih lama dari ini, huh?" balas suara diseberang sambungan telepon.
"Tidak masalah 'kan kalau itu terjadi? Bukankah kau sudah biasa menyelesaikan skandal semacam ini, Sasuke?"
"Memang, tapi bukan berarti aku mau berurusan dengan masalah merepotkan semacam ini selama hidupku. Aku juga butuh waktu libur, kau tahu?"
Gaara tertawa pelan dan mendongakkan kepala, menatap langit yang gelap di hari yang masih cukup pagi.
"Terimakasih, Sasuke. Aku sangat terbantu."
"Perlukah kau mengatakannya setelah membuatku kerepotan seperti ini?"
Si pemuda berambut merah tersenyum lebar mendengar sindiran mantan produsernya.
"Dan maaf karena sudah merepotkanmu. I mean it."
"Yeah, yah, I know."
Gaara memutskan sambungan telepon dan kembali meletakkan ponselnya di saku.
Ia baru saja menghubungi Sasuke untuk mengetahui perkembangan masalah yang ia tinggalkan di Tokyo. Selama ini ia tidak memantau kabar yang berkaitan dengan skandal penjiplakan lagunya sendiri. Ia sudah tidak mau berhubungan dengan dunia itu lagi maka ia memutuskan untuk benar-benar menjauh dari semuanya.
Selama ini ia mempercayai Sasuke untuk mengurus dan membereskan masalah yang sudah ia buat, dan ketika Sasuke memberitahunya kalau ia dan Kankuro sudah berhasil menyelesaikan dan menjelaskan semuanya kepada publik mengenai kebenaran lagu yang ditulisnya, Gaara kini bisa benar-benar benapas lega. Ia tahu mantan atasan dan kakaknya itu bisa meluruskan benang kusut yang ia tinggalkan begitu saja.
"Siapa yang kau telepon tadi?"
Gaara mengalihkan pandangan kepada lelaki yang entah sejak kapan sudah duduk disebelahnya dengan pandangan kaget.
"Sasuke. Kekasih Naruto," jawabnya sembari melemparkan pandangan ke taman panti asuhan. Ia masih senang melakukan kebiasaannya duduk di beranda panti saat pagi hari seperti saat ini.
"Ah, dia," Yahiko menganggukkan kepala. "Untuk apa kau menghubunginya? Menayakan keadaan cinta pertamamu?"
"Tidak," Gaara mengerlingkan mata bosan. "Bisakah kau tidak mengungkit hal itu lagi? Sasuke tidak akan sungkan untuk membunuhku kalau kau terus menyangkut- pautkanku dengan kekasihnya."
Yahiko tersenyum lebar. "Tapi menggodamu adalah hal yang sangat menyenangkan, Gaara. Aku tidak bisa berhenti melakukannya."
Gaara kembali mengerlingkan mata mendengar alasan kekanakan dari pemuda yang jelas beberapa tahun lebih tua darinya ini.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Aku menyimpulkan kalau kau belum memiliki niatan untuk menemui Sabaku-sama, dan aku juga menyimpulkan kalau kau tidak akan kembali menginjakkan kaki di Tokyo dalam jangka waktu dekat. Apa yang akan kau lakukan?"
"Apa yang akan aku lakukan? Menikmati hidup?" jawab Gaara sekenanya.
"Kau selalu menikmati hidupmu, Gaara," balas Yahiko disertai gelengan kepala. "Apa yang akan kau lakukan?"
Gaara mengangkat bahu dan menggelengkan kepala. Ia memang sama sekali belum memiliki rencana apapun. Saat ini ia hanya ingin beristirahat dan menikmati waktu senggang yang sempat tidak didapatkannya beberapa bulan belakangan.
"Apa yang akan kau lakukan kalau pemuda Hyuuga itu datang ke tempat ini untuk membawamu kembali ke Tokyo?" tanya Yahiko tiba-tiba.
"Aku akan melarikan diri lagi, tentu saja. Kenapa kau bertanya?" balas Gaara sembari melirik lawan bicaranya.
"Hanya ingin tahu," kali ini Yahiko yang mengangkat bahu. "Apa yag harus pemuda itu lakukan agar kau mau menerimanya? Kau tahu 'kan kalau dia mencintaimu?"
Kali ini Gaara sepenuhnya memfokuskan diri pada sang kakak. Ia sama sekali tidak tahu darimana lelaki ini mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan perasaan dirinya dan Neji.
"Kau seharusnya jujur pada dirimu sendiri, Gaara. Tidak seharusnya kau menunggu seseorang mengatakan hal ini padamu," tegur Yahiko dengan nada tenang.
"Aku memang tidak jujur, tapi aku tidak menunggu siapapun untuk menyadarkanku. Aku malah berharap tidak akan ada yang melakukannya."
"Lalu apa yang akan terjadi? Kau akan menghindar dari perasaanmu selamanya?" tanya Yahiko tanpa sungkan. "Ini bukan pertama kalinya kau menahan perasaanmu pada seseorang, Gaara. Kau bahkan hanya jujur satu kali seumur hidupmu yaitu kepada Naruto."
Gaara menahan diri untuk tidak membalas perkataan si lelaki berambut oranye. Ia tidak mau membicarakan perasaannya. Ia sama sekali tidak mau membahas kelemahannya.
Pemuda berambut merah itu memilih untuk bangun dari duduknya dan membalikkan tubuh, bersiap melangkah menuju pintu masuk panti
"Apa yang harus dia lakukan agar kau mau menerimanya?" Yahiko mengulang pertanyaannya.
Gaara memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan mendongakkan kepala, berpikir beberapa saat sebelum menjawab, "Datang ke kediaman Sabaku dan meminta persetujuan Sabaku-sama."
Yahiko tesenyum lebar dan tidak menghentikan sang Sabaku muda. Ia bangkit dari posisinya dan melangkah ke sudut beranda.
"Kau sudah mendengar sendiri. Semua keputusan ada di tanganmu," bisiknya pada sosok yang baru saja ia lewati.
.
.
TBC
.
.
A/N: Sebelumnya saya harus meminta maaf karena saya terlambat meng-update. Gomennasai, minna (_'_) Dan, woooff, makin mendekati akhir! Kalau tidak ada halangan, saya akan meng-update lagi di akhir minggu. Tapi kalau ada, awal minggu depan saya usahakan fic ini sudah ada di chap 4.
.
.
Review Reply:
.
.
Meg chan: SasuNaru ditaruh di akhir ga buruk 'kan? X3 Sudah di-update~
Micon: Berhubung ini ga fokus ke pairing itu, jadi ga bisa masukin mereka banyak-banyak. Alhasil harus bikin yang singkat tapi berkesan ^^ Jangan panggil aku 'senpai' , Saya juga minta maaf soalnya telat update chap ini~
Rofuneko: Ne, ganbarimasu! ^O^ Wohoo, lagunya jangan yang terlalu mendayu. Bisa-bisa saya malah ketiduran #efek kebanyakan begadang
RacoonLov3: Gaara sudah muncul~ Semoga selanjutnya saya tidak terlambat lagi ^^"
haruna minnasan: Yep! ^^
damsel in the pain: Saya pernah bilang kalo mau ada lanjutan buat pairing ini 'kan? ^^ Akan di-update serajin mungkin~
