Past, Present and Future

Disclaimer : I own the story. Others? Not mine.

Warning : AU. DON'T LIKE, DON'T READ! Shounen Ai, Yaoi, Typo, OOC dan OOC, dll, dkk, dst

.

.

Enjoy It!

#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#*#

.

.

Yahiko membalas tatapan penuh tanda tanya yang dilemparkan sosok baru dihadapannya dengan sorot serupa.

"Aku tidak tahu, jadi jangan bertanya," cetusnya tanpa menghentikan gerakan tangan yang sedang mengaduk cokelat hangat di cangkirnya.

"Kau yakin kau tidak tahu apa-apa?"

Yahiko mengangguk mantap dan mengangkat cangkirnya, meniup isinya perlahan sebelum meneguk minuman racikannya.

Sang lawan bicara menaikkan alis dan kembali melemparkan tatapan penuh rasa tertarik ke sosok yang sedang memeluk adiknya setelah masuk ke ruang dapur panti tanpa permisi.

Yahiko sendiri sudah tidak begitu tertarik memperhatikan objek yang berhasil mencuri perhatian sang kekasih. Di menit-menit awal sosok itu masuk ke ruangan tempatnya berdiri dan memeluk sang Sabaku, ia memang memberikan mereka tatapan yang sama persis seperti tatapan yang tengah ditujukan Konan, tapi sekarang ia sudah tidak mau melihat public display of affection pemuda yang tidak asing di matanya itu.

"Kenapa dia bisa disini? Dan kenapa mereka bisa berada di posisi seperti itu?" tanya si wanita dengan rambut panjang tanpa mengganti fokus pandangan.

"Sepertinya dia datang kemarin, dan aku tidak tahu kenapa dia bisa ada disini. Kenapa mereka berpelukan? Kurasa karena dia merindukan Gaara. Wajar 'kan dia melakukannya?"

Konan menganggukkan kepala, menyetujui kalimat terakhir yang meluncur dari mulut kekasihnya. Wanita tomboy itu mengangkat bahu dan mengikuti langkah si lelaki berambut oranye meninggalkan dapur. Ia tidak mau mengganggu momen penting kedua pemuda itu lebih lama.

Gaara akhirnya kembali ke alam sadar dan membalas pelukan pemuda dihadapannya setelah mendengar suara pintu yang baru saja ditutup. Ia tak sungkan mempererat pelukannya setelah yakin sosok didepannya nyata, bukan hasil imajinasinya semata. Ia menutup mata dan menarik napas panjang, merasa lega dengan keberadaan pemuda dipelukannya.

"Kenapa kau jadi manja begini, eh? Sejak kapan kau jadi orang yang sensitif, huh?"

"Shut up, freak."

Sang lawan bicara mendengus geli dan membiarkan dadanya terasa sesak karena pelukan sang Sabaku yang makin mengerat tiap menitnya.

"If I'm a freak, then what are you? You're more than a freak, you know?"

Gaara memukul bahu pemuda yang masih dipeluknya sebelum bergumam, "Just shut up, will you?"

Dan kali ini pemuda yang sedikit lebih tinggi dari si pemuda berambut merah itu benar-benar melepaskan tawa. Ia tidak bisa mengelak dari kenyataan kalau sejak dulu ia memang tidak pernah bosan membuat pemuda yang masih memeluknya ini terkejut.

.

-0-

.

Iruka menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal dengan canggung. Tidak ada satu orang pun yang menyukai tatapan tajam terarah pada mereka, dan ia juga memiliki perasaan yang sama.

"Gaara... bisakah kau... menghentikan tatapan membunuhmu itu?" tanya sang pengurus panti sehati-hati mungkin.

Helaan napas panjang meluncur mulus dari lelaki yang sudah menginjak usia kepala tiga itu saat permintaannya sama sekali tidak digubris. Kali ini ia melemparkan tatapan penuh harap kepada dua orang yang duduk bersisian di hadapannya, tepat disamping pemuda yang mengacuhkan perkataannya.

"Kalian harus membantuku," tuturnya.

"Nope," Konan menggelengkan kepala dan kembali menikmati makan malamnya. Tidak setiap hari ia mendapatkan kesempatan makan malam di panti seperti sekarang, dan ia tidak akan merusak kesempatan yang ia dapatkan dengan menanggapi permintaan Iruka.

"Jangan menggantungkan harapan padaku," cetus Yahiko setelah menelan hasil kunyahannya.

"Tapi aku... Ugh, Gaara... hentikan tatapanmu."

Lelaki bermarga Umino itu akhirnya bisa menarik napas lega ketika pemuda dihadapannya menghentikan serangan death glare. Ia melemparkan pandangan penuh rasa terimakasih kepada sosok yang sudah membantunya keluar dari 'penderitaan'.

Yahiko menggelengkan kepala melihat sikap kekanakan dua orang yang bergabung di meja makan. Ia melemparkan pandangan pada kekasihnya yang masih menunjukkan tatapan takjub. Konan tentu tidak menyangka ia masih bisa melihat sifat kekanakan Gaara yang muncul ke permukaan setelah sekian lama.

Sosok yang belum lama datang ke panti itu memang patut diacungi jempol karena bisa membuat Gaara keluar dari jalur aman yang selama ini ia tapaki.

"Kenapa kau bisa ada disini? Darimana kau mengetahui keberadaanku?" Gaara sama sekali tidak berniat meraih sumpit dan memulai acara makan malamnya.

"Bukan hal yang sulit bagiku untuk menemukanmu, Gaara. Apa kau lupa kalau aku memiliki banyak mata-mata?" balas pemuda yang duduk tepat dihadapan si pemuda beriris hijau.

"Siapa yang memberitahumu?"

"Aku ragu kau tidak bisa menebak hal itu."

Iruka kembali menghela napas saat pandangan yang sempat dihentikan Gaara selama kurang dari tiga menit kini sudah kembali terarah padanya.

"Jangan salahkan Iruka-sensei. Dia hanya memenuhi janjinya untuk selalu memberitahuku kalau kau datang ke tempat ini."

"Lalu untuk apa kau datang kemari?"

"Hanya berkunjung."

"Jangan bercanda," Gaara mengerlingkan mata bosan. "Dan jangan katakan padaku kalau dia juga ikut datang bersamamu," tambahnya disertai death glare yang lebih tajam dari yang ia tujukan kepada Iruka.

Sikap diam yang dilakukan sang lawan bicara sukses menarik pelatuk amarah sang Sabaku. Dengan tenang adik dari Sabaku Kankuro itu bangun dari duduknya dan melangkah meninggalkan ruang makan.

Iruka menggelengkan kepala dan memijat pelipisnya pelan, berusaha meredakan rasa sakit kepalanya. Sudah cukup lama sejak ia terakhir kali melihat kejadian semacam ini terjadi di ruang makan.

"Kau tidak mengejarnya, Naruto?" tanya Yahiko tanpa menghentikan kegiatan makannya.

"Nanti. Aku mau makan dulu," balas si pemuda pirang dengan nada ringan.

"Sebaiknya kau kejar dia sekarang," tutur Iruka yang sudah menggenggam sumpit dan bersiap menikmati makan malamnya yang sempat tertunda beberapa menit yang lalu.

"Nanti saja. Aku tidak yakin dia bisa diajak bicara dengan tingkat emosi setinggi itu."

"Memangnya kau pikir siapa yang sudah membuatnya jadi begitu, eh?"

"Hm?"

"Kalau kau tidak bermanja kepada Iruka-san dan mengacuhkannya seperti tadi, Gaara tidak akan memiki tingkat emosi setinggi itu sekarang."

"Apa salahnya memeluk sensei-ku sendiri? Gaara saja yang terlalu sensitif."

Yahiko menggelengkan kepala mendengar tanggapan asal salah satu adiknya itu namun tidak berniat membalas. Ia yakin Naruto lebih tahu apa yang baik dan tidak baik dilakukan ketika berhadapan dengan Gaara.

"Jadi, sebenarnya kenapa kau datang kesini?" tanya Iruka setelah mulai menyantap makanannya.

"Aku hanya menemani Neji, tidak ada niatan khusus," jawab si pemuda berambut pirang tanpa menghentikan kunyahan.

"Dia juga ada disini? Mana?"

"Dia di kota ini, tapi dia tidak di tempat ini, niisan. Dia belum mau bertemu dengan Gaara setelah datang ke tempat ini tempo hari."

"Ah, sayang sekali. Padahal aku ingin memintanya bernyanyi di kafeku," Konan menghela napas kecewa.

Naruto hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan neechan-nya. Ia sendiri sebetulnya sedikit kesal ketika pemuda bermarga Hyuuga itu menolak ajakannya datang ke panti. Bukankah dia yang menyeretnya datang ke kota ini? Lalu kenapa dia malah menghindar ketika dia sudah hampir mendapatkan targetnya?

"Apa Uchiha itu juga ikut denganmu?"

"Tidak. Terlalu banyak hal yang harus dia selesaikan di Tokyo," Naruto melahap tempura kesukaannya, "Tapi aku pasti akan membawanya kemari secepatnya agar kalian bisa bertemu, sensei."

Iruka hanya tersenyum. Sebenarnya tanpa membawa lelaki itu kemari pun ia sudah tidak meragukan perasaan pemuda yang sudah dianggapnya anak sendiri itu.

Naruto memang bukan orang yang serius, tapi Iruka tahu betul kalau tidak semua orang bisa benar-benar menjadi orang pilihan si pemuda pirang. Dibalik sikap bersahabatnya, ternyata Naruto memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dengan pemuda yang tadi meninggalkan ruang makan.

Ya, nyatanya Naruto juga bukan seseorang yang mudah memberika kepercayaan pada orang lain.

"Sebenarnya apa yang terjadi ketika Neji datang kemari?" tanya Naruto setelah mangkuknya kosong.

"Dia tidak memberitahumu?" Yahiko mengerutkan dahi.

"Nope. Dia hanya berkata kalau dia bertemu sebentar deganmu, selebihnya dia tidak berkata apa-apa. Sebaiknya kau memberitahuku apa saja yang kau katakan padanya karena setelah kembali dari sini, dia selalu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu," papar Naruto dengan pandangan mengarah lurus kepada si lelaki berambut oranye.

Yahiko meneguk minumannya dan mengangkat bahu, enggan menjawab dan memberitahu apa yang terjadi ketika Hyuuga muda itu datang ke panti.

"Kalau dia tidak memberitahumu, bukankah itu artinya dia tidak ingin kau mengetahui apa yang terjadi, Naruto? Kau tenang saja, yang terjadi tempo hari sama sekali bukan hal yang buruk."

.

..

-0-0-0-

..

.

"Kau sudah selesai berkemas?"

"Perlukah kau bertanya?"

"Baru kemarin Konan memberitahuku kalau kau belum berniat pergi dari sini."

"Aku baru berniat pergi pagi tadi."

"Kali ini kau akan pergi kemana?"

"Kau tidak perlu tahu."

Naruto menggembungkan pipi mendengar ucapan dingin yang dilontarkan sahabatnya. Biasanya ia tidak akan langsung mengerti kenapa pemuda yang sibuk memasukkan pakaiannya ke dalam ransel itu mengacuhkannya, tapi untuk kali ini ia benar-benar tahu alasan sang sahabat.

Naruto tidak mau mengkuinya, tapi ya, kali ini ia sudah melewati batas. Ia sudah melangkah terlalu jauh ke dalam masalah pribadi Gaara dengan memberitahu Neji mengenai keberadaan pemuda beriris hijau ini.

"Kau tidak bisa terus lari, Gaara."

Sang lawan bicara menyelesaikan kegiatannya dan kembali melemparkan tatapan tajam. Gaara yakin Naruto tahu kalau dia sudah melewati batas, tapi sepertinya pemuda itu sama sekali tidak memiliki niat untuk menghentikan langkah.

"Awalnya aku ingin datang kesini sendiri karena aku ingin memastikan keadaanmu, tapi pada akhirnya aku memutuskan untuk memberitahunya karena kupikir sekarang sudah waktunya kau menghentikan permainan kekanakan ini."

"Sejak kapan kau memiliki perhatian yang begitu tinggi mengenai kehidupan pribadiku, huh? Dan sejak kapan kau pikir kau punya hak untuk mencampurinya?"

Naruto sudah mengenal sosok yang kini sedang meletakkan ranselnya di dekat pintu kamar ini selama bertahun-tahun, dan ia sudah sangat memahami sisi introvert yang dimilikinya.

"Aku peduli padamu sejak dulu, tapi aku selalu membiarkanmu melakukan apa yang ingin kau lakukan karena aku tahu kau membuat keputusan yang terbaik. Tapi kali ini aku tidak mempercayai keputusanmu."

Naruto memang selalu mempedulikan sang Sabaku. Pemuda itu adalah teman semasa kecilnya, dan sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Pemuda itu adalah sosok yang selalu ada disisinya selama ia bersekolah, tanpa mempedulikan perbedaan sosial yang ada diantara keduanya. Pemuda itu adalah satu-satunya orang yang ia selalu bisa ia berikan kepercayaan tanpa menuntut jaminan apapun.

Sang Uzumaki selalu merasa bertanggung jawab atas sang Sabaku. Ia selalu merasa memiliki kewajiban untuk memberikannya perhatian dan kasih sayang yang cukup. Ia selalu merasa harus memastikan keadaan sang adik agar selalu baik-baik saja.

"Aku tidak peduli kau mau melakukan apa dengan hidupmu karena kau memegang semua hak atas itu, tapi aku memiliki kewajiban untuk selalu mengingatkan dan menegurmu. Aku tidak pernah mau hal buruk terjadi padamu, kau tahu itu 'kan?"

Gaara menghembuskan napas panjang yang sejak tadi ia berusaha sembunyikan. Ia duduk diatas futon, tepat berhadapan dengan pemda yang pernah dicintainya.

"Darimana kau tahu kalau keputusan yang kuambil kali ini adalah keputusan yang salah? Kenapa kali ini kau tidak bisa mempercayaiku?"

"Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semua itu padamu, tapi yang jelas aku tahu ini tidak akan membawamu ke akhir yang baik," kali ini Naruto yang menghembuskan napas panjang.

"Kau yakin aku tidak akan menyesal kalau aku menerima lelaki tidak peka itu sebagai kekasihku? Kau yakin dia tidak akan mengecewakanku? Sebagai sahabatku dan sahabatnya, apa kau mau bertanggung jawab penuh atas apa yang akan terjadi pada kami jika kami bersama nanti?"

Sang Uzumaki memijat pelipisnya pelan. Ia tahu jawabannya akan sangat mempengaruhi kelanjutan acara 'kejar-mengejar' antara kedua sahabatnya dan ia bisa membuat Gaara menghentikan permainan kecil ini hanya dengan melontarkan jawaban 'ya' pada semua pertanyaan pemuda itu, tapi ia tahu kalau ia tidak bisa.

Naruto memang yakin kalau kedua pemuda itu saling mencintai satu sama lain, dan ia berani bertaruh demi persediaan ramennya selama setahun untuk hal itu. Tapi ia tidak bisa—dan tidak mau—menjamin kebahagiaan mereka. Untuk masalah kelanjutan hubungan mereka, Naruto sama sekali tidak memiliki hak untuk mencampuri dan semua hal yang akan terjadi diantara mereka sama sekali tidak ada digenggaman tangannya.

Ia tidak berani mempertaruhkan apapun untuk masa depan hubungan Neji dan Gaara sampai sejauh itu.

"Untuk kali ini, apa kau merasa sebegitu pentingnya menyatukanku dengan Neji?"

Tapi untuk pertanyaan satu ini, ia tidak akan merasa canggung untuk menjawab, "Ya."

"Kau tahu, sejujurnya baru kali ini aku merasa begitu ragu untuk meninggalkan tempat pelarianku," Gaara menundukkan kepala.

"Dan kau tahu pasti apa alasan dari keraguanmu itu," timpal Naruto. Ia tersenyum ketika melihat anggukkan kecil dari sang lawan bicara.

"Tapi apa yang bisa kulakukan? Kau tahu pasti bagaimana keadaannya, Naruto. Kau tahu pasti apa yang akan terjadi padanya kalau aku menyerah dan berhenti 'berlari'. Kau tahu semua resiko yang jelas-jelas terpampang dihadapannya," Gaara menyandarkan diri ke dinding kamar.

"Demi Tuhan, bersikap egoislah demi kebaikanmu sendiri, Sabaku no Gaara!"

Nada dingin dan menusuk yang digunakan si pemuda pirang berhasil membuat sosok disebelahnya tersentak dan beringsut menjauh beberapa senti.

Naruto memijit sisi kepalanya pelan dan menggelengkan kepala beberapa kali. Ia sama sekali tidak percaya masih ada orang yang sangat naif dan selalu mementingkan orang lain di zaman sekarang ini. Ia tidak tahu apakah ia harus memuji atau mengutuk sikap 'baik hati' sahabatnya.

"Untuk kali ini saja aku ingin kau tidak memikirkan dampak dari tindakanmu. Untuk kali ini saja aku memperbolehkanmu 'merusak' hidup orang lain. Untuk kali ini saja, demi semua ramen yang akan kumakan selama sisa hidupku, aku ingin kau bersikap egois dan memikirkan dirimu, Gaara," paparnya penuh penekanan.

Gaara menundukkan kepala dan berusaha memikirkan permintaan 'kakak'nya.

Naruto melipat kakinya di depan dada dan menumpukan dagu diatas lutut. Mata beriris langitnya melirik dan memperhatikan raut berpikir keras yang ditunjukkan sang adik.

"Untuk kali ini saja, aku ingin kau menjadi dirimu sendiri dan mempertaruhkan semuanya untuk sesuatu yang sangat kau inginkan. Untuk kali ini saja, aku ingin kau menerima kenyataan dan mendapatkan semua yang kau idam-idamkan. Sekarang..." Naruto menarik napas panjang, "benar-benar sudah saatnya bagimu untuk menjauh dari bayang-bayangku sepenuhnya."

Sang Sabaku memainkan jemari yang ada diatas pangkuannya sendiri sembari menahan emosi yang sudah siap tumpah.

Gaara memang tidak pernah mengatakan ataupun menunjukkan perasaannya secara terang-terangan, tapi Naruto tentu bisa menebak apa yang sebenarnya ada di pikiran dan perasaan sahabat kentalnya.

Sejak pemuda berambut merah itu datang ke Tokyo dan menemuinya, ia tahu kalau sebenarnya dia belum mau menerima penolakannya semasa SMA. Sejak pemuda berkulit putih itu memutuskan untuk tinggal di apartemen dan bekerja di tempat yang sama dengannya, ia tahu Gaara sedang berusaha menunjukkan sisi lainnya dan berusaha merubah perspektifnya.

Naruto tahu kalau Gaara diam-diam masih menyimpan perasaan itu, dan ia merasa sudah menjadi kakak yang jahat ketika ia memutuskan untuk menerima Sasuke menjadi kekasihnya dan tanpa sungkan menunjukkan kedekatan mereka dihadapan adik Kankuro ini.

Tidak, tidak, Naruto tidak menerima Sasuke untuk mematahkan perasaan Gaara. Walaupun sangat enggan—dan malu—untuk mengakuinya, tapi ya, Naruto menerima 'klaim' Sasuke karena ia memang sudah 'jatuh' kepada lelaki dingin itu.

Dan ia merasa lega ketika ia menyadari ketertarikan yang ditunjukkan 'adiknya' kepada sang penyanyi muda yang tak asing di hidupnya. Naruto merasa lega, dan ia merasa perlu untuk mendorong Gaara untuk lebih memahami perasaannya kepada Neji. Ia tahu Gaara tidak pernah mudah tertarik kepada seseorang, dan ia sangat tahu Gaara tidak mudah mengakui dan menunjukkan perasaannya kepada seseorang. Itulah yang menjadi alasan utama kenapa ia terus berusaha keras mendekatkan dua pemuda berbeda karakter itu.

Tapi Naruto tidak pernah menyangka tindakannya menjodoh-jodohkan Gaara dan Neji akan berjalan serumit ini.

Yeah, Gaara and his stubborness while Neji and his stupidity. Perfect couple, 'rite?

"Kalau kau tidak mau melakukannya untuk dirimu sendiri, jadikan aku alasan untukmu melakukan itu," cetus Naruto, membuat Gaara langsung menolehkan kepala dan beradu tatap dengan lawan bicaranya.

.

-0-

.

Yahiko melingkarkan sebelah lengannya ke bahu sang kekasih dan memperhatikan sebuah taxi yang baru saja meluncur meninggalkan panti. Ia menolehkan kepala ke sosok pemuda pirang yang berdiri tepat disampingnya.

"Jadi pada akhirnya dia tetap memutuskan untuk pergi," ucapnya memecah kesunyian.

"Ya, kurasa begitu."

"Sangat disayangkan remaja seperti Gaara harus mengalami masa muda seperti itu. Seharusnya dia ada di rumah dan hidup seperti remaja lain seusiaya. Tinggal dengan bahagia dengan keluarga," tutur Konan.

"Jangan khawatir. Hidupnya memang terlihat sulit, tapi dia bahagia. Dia bisa melakukan semua hal sekaligus bisa pergi ke tempat manapun yang dia inginkan. Itu adalah hal yang sangat membahagiakan bagi remaja sepertinya, bukan?" Naruto menyunggingkan senyum lebar.

"Aku tidak percaya kau masih memiliki tingkat kekanakan yang sama dengan adik kesayanganmu itu," Yahiko mengerlingkan mata.

Taxi yang ditumpangi sang Sabaku muda sudah menghilang dari batas padang, namun tidak ada seorangpun dari ketiga sosok itu tampak beranjak dari posisi mereka.

"Lalu bagaimana dengan Neji? Aku heran kenapa dia tidak datang kesini untuk menghentikan Gaara," ungkap Konan.

"Dia tidak tahu Gaara memutuskan untuk pergi. Lagi," Naruto menggelengkan kepala. "Dan aku tidak tahu kapan dia pergi meninggalkan kota ini. That dumbass," gerutunya sebal.

"Huh? Dia pergi?" Yahiko mengerutkan dahi.

"Yep, dia mengilang pagi tadi tanpa meninggalkan jejak. Kalau tahu akan ditinggalkan seperti ini, sejak awal aku tidak akan mau diseretnya datang kemari dengan terburu-buru. Aku bahkan bertengkar dengan Sasuke karena baru memberitahunya kalau aku pergi dari Tokyo saat di perjalanan," ujar si pemilik iris mata berwarna biru.

"Aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiran kedua orang itu. Benar-benar tidak mengerti," Yahiko menggeleng-gelengkan kepala.

"Dia datang!" Naruto tersenyum lebar ketika melihat sebuah mobil berwarna hitam melaju mendekati tempatnya berdiri.

Tiga pasang mata terus mengikuti laju mobil hingga benda itu benar-benar berhenti di pekarangan panti, tak jauh dari tempat mereka berada.

"Itu..."

"Teme!" Naruto melambaikan tangan ke arah pemuda yang baru saja keluar dari dalam mobil.

Sasuke melangkah mendekati sosok yang sudah tiga hari tidak ditemuinya itu dan membungkukkan tubuh ketika matanya menangkap dua sosok asing yang berdiri disamping kekasihnya. Yahiko dan Konan membalas salam sang pemuda sebelum melemparkan pandangan ke sosok adik mereka.

"Kau tidak memberitahu kami kalau calon adik iparku akan datang hari ini," celetuk Yahiko yang langsung mendapatkan balasan berupa kerlingan mata dari sang Uzumaki.

Sasuke mengulurkan tangan dan mengacak rambut pirang pemuda dihadapannya. Ia segera merapikannya kembali ketika si pemilik rambut menggembungkan pipi kesal.

"Siapa yang ingin kau kenalkan padaku?"

Sasuke cukup terkejut ketika Naruto menghubunginya dan memintanya datang ke panti tadi malam. Ia tahu Naruto bukan orang yang manja, jadi rasanya wajar jika ia merasa terkejut saat pemuda berkulit tan itu merengek agar ia mengosongkan jadwal selama dua hari kedepan dan datang ke panti.

Ketika ia menanyakan alasan Naruto mengundangnya datang, pemuda itu hanya menjawab kalau ada seseorang yang ingin dia perkenalkan. Pemuda itu tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai pemberitahuan yang ia katakan.

"Dia ada di dalam," jawab Naruto sembari membalikkan tubuh Sasuke dan mendorongnya pelan ke arah pintu masuk panti.

Ia membiarkan Sasuke menapaki pekarangan panti dan menatap kedua kakaknya selama beberapa saat.

"Gaara memang pergi, tapi dia tidak sepenuhnya pergi," ungkapnya disertai seringai main-main sebelum menyusul langkah kekasihnya.

Yahiko dan Konan saling memandang selama beberapa saat, berusaha mencerna perkataan membingungkan yang dilontarkan adik mereka.

"Jadi, siapa yang akan kutemui, Dobe?" tanya Sasuke setelah Naruto berhasil menyusul langkahnya.

"Uh, bagimana aku mengatakannya," Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kau tidak tahu siapa yang ingin kau kenalkan?" Sasuke menaikkan alis.

"Bukan begitu, hanya saja sulit untuk menjelaskannya padamu," tutur Naruto. "Ah, singkatnya, anggap saja kau akan bertemu dengan calon ayah mertuamu!"

"Ayah mertua?"

"Yep."

Naruto menggenggam pergelangan tangan sang Uchiha dan menyeretnya masuk ke dalam panti, sama sekali tidak mempedulikan wajah kekasihnya yang tampak sedikit lebih pucat karena terkejut. Ia datang tanpa persiapan apapun dan harus langsung bertemu dengan calon ayah mertuanya. Sasuke tidak yakin ia masih bisa bernapas dengan normal setelah kakinya menapak di lantai ruang tamu panti.

Hei, siapa yang bilang seorang Uchiha tidak pernah merasa gugup?

.

.

TBC

.

.

A/N: Dan ternyata saya tidak bisa meng-update sesuai deadline yang saya buat -,- Sudah mulai sangat mendekati akhir~ Sepertinya ending-nya tidak akan sesuai dengan rencana awal (baca: happy end). Terlalu banyak ide 'jahat' di otak saya untuk bagian akhir fic ini, kekekeke~

.

.

Review Reply:

.

.

Meg chan: Sudah di-update~~

Rofuneko: Ga akan bisa update kilat ^^' Ne, ganbarimasu!

damsel in the pain: Masih belum fokus ke mereka juga~ Tadinya emang ga berencana bikin multichap, tapi ternyata banyak yang detail yang rasa-rasanya harus dibahas. Jadi yah... ^^ Yep, fighting!

Racoon Lov3: NejiGaa-nya masih belum muncul juga ^^'