Past, Present and Future
Disclaimer: It's sad, but I just own the plot. Y, Why... © CN Blue
Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Typo, OOC dan OOC, shounen ai and even, probably, yaoi
.
.
Enjoy!
.
.
Gaara kembali menatap bayangan yang terpantul jelas pada cermin di hadapannya. Ia menarik napas panjang dan melirik jam tangannya selama beberapa detik sebelum kembali memandang cermin.
Pemuda berambut merah itu sadar betul dengan kenyataan yang akan dihadapinya beberapa menit lagi. Ketika ia melangkah keluar dari restroom ini, semuanya tidak akan lagi sama. Ia sama sekali tidak memiliki pilihan lain selain menemui pemuda itu.
Tidak ada jalan lain, tidak ada langkah mundur—buntu.
"Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa masih disini?"
Sang Sabaku refleks menolekan kepala kearah pintu di mana seorang wanita berambut merah muda tengah berdiri dengan kedua lengan dilipat di depan dada.
Gaara menatap pantulannya di cermin satu kali lagi sebelum menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri, dan melangkah mendekati wanita yang sama sekali tidak asing dimatanya.
"Kenapa kau ada disana? Kau menjemputku?" tanya Gaara kepada wanita yang melangkah bersamanya menyusuri selasar tempat acara pernikahan diadakan.
"Kau pikir apa lagi? Dia sudah panik di depan altar karena kau tidak juga muncul," balas sang wanita sembari mengerlingkan mata bosan.
"Dia sudah berdiri di altar?" Gaara tidak bisa menyembunyikan nada takjub di ucapannya.
"Apa kau kira dia akan terlambat datang ke acara pernikahannya sendiri, Gaara?"
Tawa pelan dari pewaris bungsu keluarga Sabaku yang disusul tawa gadis bermarga Haruno terdengar menggema di selasar yang masih mereka tapaki.
"Aku sama sekali tidak menyangka bahwa Naruto adalah orang pertama yang akan mengucapkan sumpah setia sehidup semati."
Gaara hanya tersenyum tipis menanggapi penuturan mantan 'rival'-nya. Ia memasukkan tangan kanannya kedalam saku celana yang ia kenakan dan menggenggam kotak kecil yang berisi cincin di dalamnya.
"Dan aku ikut bahagia karena aku tahu sahabat pirangku itu akan menghabiskan sisa hidupnya dengan orang yang baik. Aku tahu aku bisa mempercayakan Naruto pada orang itu dan aku tahu orang itu akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakan Naruto."
Gaara menolehkan kepala dan membalas tatapan yang disertai senyum teduh dari sang lawan bicara. Ia membalas senyum itu dan mengangguk kecil.
"Aku bisa meyakinkanmu kalau dia akan bahagia," ungkapnya mantap.
Sakura melebarkan senyum dan menganggukkan kepala. Tidak ada alasan untuk tidak mempercayai ucapan pemuda yang lebih muda darinya itu karena memang tidak ada keraguan mengenai pernyataan itu.
"Aku pasti akan memastikan dia hidup dengan bahagia," lanjut Gaara yang sudah mengalihkan pandangan ke pintu berukuran cukup besar didepannya.
"Aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku hanya ingin melihat orang-orang yang kusayangi bahagia," Sakura menatap pemuda disampingnya lekat-lekat, "Termasuk kau."
.
-0-
.
"Kau bahagia?"
Sabaku muda yang baru saja mendapatkan pertanyaan hanya mengerutkan dahi menanggapi pertanyaan pemuda pirang yang berdiri tepat dihadapannya. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa Naruto melontarkan pertanyaan itu ketika dia sudah mengetahui dengan pasti apa jawaban yang akan ia berikan.
"Beritahu aku, apa kau bahagia?" ulang sang pemilik iris mata biru kepada sosok di depannya.
"Apa kau serius menanyakan hal itu padaku? Apa ada alasan bagiku untuk tidak bahagia dengan pernikahan ini?" Gaara balik bertanya.
"Jadi, apa itu artinya kau bahagia?"
"Menurutmu?"
Sang Uzumaki menunjukkan cengiran lebar dan tanpa ragu memeluk lawan bicaranya dengan erat, sama sekali tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya sendiri.
Gaara menggelengkan kepala dan mengulas senyum tipis melihat sikap kekanakan yang ditunjukkan pemuda yang lebih tua darinya itu dan membalas pelukan yang diterimanya beberapa detik yang lalu.
"Aku lega mendengarnya. Aku sangat lega," ungkap Naruto setengah berbisik. Ia tahu bahwa walaupun ia berkata dengan nada normal, orang-orang disekitarnya tidak akan terlalu peduli. Tapi ia tidak mau orang lain mendengar nada cemas di perkataannya.
Gaara melemparkan pandangan ke seisi ruangan dimana acara resepsi diadakan dan pandangannya sukses terpaku pada seorang pemuda berambut raven yang melemparkan pandangan tajam padanya.
Sebesar apapun keinginannya untuk melepaskan diri dari pelukan Naruto, ia sama sekali tidak bisa menggerakkan tangannya untuk mendorong tubuh si pemuda berkulit kecoklatan. Ia tidak bisa menolak rasa nyaman dan aman yang ditawarkan sang Uzumaki. Dan karena itu, ia hanya bisa membalas satu-satunya tatapan tajam yang ia terima dengan pandangan penuh permintaan maaf.
"Apa ada hal lain yang kau inginkan, Gaara?" tanya Naruto memecahkan kebisuan diantara keduanya.
Gaara kembali mengerutkan dahi. Setelah ia mendapatkan apa yang paling ia inginkan selama bertahun-tahun belakangan, Naruto masih menanyakan keinginannya yang lain? Semua yang diterimanya hari ini sudah lebih dari cukup, ia sama sekali tidak bisa meminta lebih dari ini.
"Tidak ada," jawabnya tenang.
"Jangan bercanda. Kau pasti masih menginginkan sesuatu," balas pemuda yang masih memeluknya.
"Aku tidak menginginkan apapun lagi, Naruto. Sungguh."
"Baiklah," Naruto melepaskan pelukannya dan menatap iris hijau milik lawan bicaranya. "Tapi aku masih punya satu permintaan yang harus kau lakukan," lanjutnya disertai senyum lebar.
Sabaku muda itu tahu jika instingnya jarang sekali meleset, dan saat ini instingnya berkata kalau apa yang diinginkan pemuda dihadapannya bukanlah hal yang sederhana.
"Apa yang kau inginkan?"
Naruto makin melebarkan senyum mendengar pertanyaan si pemilik rambut merah. Ia memposisikan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan bahu Gaara dan membalikkan tubuh pemuda itu menhadap ke arah panggung.
"Nyanyikan satu lagu untukku."
Setenang apapun Naruto melontarkan permintaannya nyatanya tetap berhasil membuat tubuh Gaara membeku selama beberapa detik.
"Kau memintaku untuk apa?"
Naruto menggembungkan pipi mendengar kelambanan lawan bicaranya mencerna ucapannya.
"Nyanyikan satu lagu untukku. Please~" pintanya dengan nada semanis mungkin.
Gaara menarik napas panjang dan menggelengkan kepala. Namun tindakan yang kemudian dilakukannya sama sekali berbanding terbalik dari gestur penolakan yang ia buat beberapa detik sebelumnya.
Gaara tidak tahu kapan terakhir kali ia bernyanyi didepan orang sebanyak ini. Yang jelas itu terjadi sudah lebih dari tiga tahun yang lalu, di panggung terakhirnya bersama mantan rekan duetnya.
Helaan napas kembali dihembuskan Sabaku bungsu itu. Inilah alasan utama ia tidak pernah mau lagi menyanyi didepan banyak orang. Kegiatan yang akan segera ia lakukan itu hanya mengingatkannya kepada orang itu. Orang yang sudah menjerumuskannya ke dunia entertain, sekaligus orang yang sudah menjerumuskannya ke perasaan yang entah kenapa masih ia miliki sampai detik ini.
"Apa yang kau lakukan?"
Naruto sama sekali tidak berniat menolehkan kepala dan tidak juga menolak sepasang lengan yang melingkar di dadanya.
"Setelah kau memaksanya menjadi pendamping priamu dan menyeretnya kemari, kau masih berani menyuruhnya menjadi wedding singer di acara resepsi kita? Sahabat macam apa kau ini, Dobe?"
"Aku tidak menyuruhnya, Teme. Aku memintanya secara baik-baik," Naruto menggembungkan pipi kesal. Ucapan suaminya membuatnya terdengar sangat buruk.
"Tapi kau tahu pasti kalau dia tidak menyukai apa yang kau minta itu, Dobe," Sasuke mengeratkan pelukannya.
"Kurasa tidak juga."
"Hn?"
Sasuke melemparkan pandangan ke arah dimana mantan partner kerjanya berada. Gaara tengah duduk tepat ditengah panggung dengan gitar dipangkuan dan standing mic tepat di depannya.
Wajah pemuda itu terlihat sangat tenang, sama sekali tidak menunjukkan banyak emosi. Seperti biasa. Tapi Sasuke, sebagai pengamat yang teliti, tentu bisa menangkap binar di mata beriris hijau sang Sabaku.
.
.
When you come in my life, see my eyes
My life is never the same
My eyes tell you truth
I wanna live in your live...
.
.
I'll feel your love forever, I wanna know your feeling
This feeling is so true, girl
I'll need your love forever, I can feel your heart
So please, breath with me forever...
.
..
-0-0-0-
..
.
Gaara menghentikan langkah tepat di depan sebuah toko alat musik. Kakinya melangkah perlahan mendekati bagian alat musik favoritnya, piano dan keyboard. Niat utamanya datang ke toko ini adalah untuk membeli kembali keyboard yang pernah ia jual untuk biaya 'melarikan diri'.
Gaara tahu tindakannya itu ia lakukan bertahun-tahun yang lalu, dan ia tahu kemungkinan keyboard itu masih berada di toko ini sangat kecil. Itulah kenapa ia tidak terlalu terkejut ketika matanya sama sekali tidak menemukan benda kesayangannya.
Awalnya Gaara sama sekali tidak berniat tinggal lama di Tokyo. Bagaimanapun juga kini ia memiliki tanggung jawab untuk mengontrol dan menjalankan bisnis kuliner yang sudah sepenuhnya diserahkan sang ayah, namun ia sama sekali tidak berniat menolak paksaan Kankuro untuk berlibur di Tokyo selama satu minggu.
Kankuro memang kakak yang baik, tapi sebagai seorang adik yang pernah tinggal selama lebih dari sepuluh tahun bersamanya, Gaara tahu betul kalau lelaki itu sama sekali tidak sebaik yang orang kira. Setidaknya kakaknya itu tidak cukup baik untuk memberinya waktu libur selama seminggu di Tokyo dan bersedia menggantikan posisinya di kedai.
Sangat wajar jika Gaara mencurigai tindakan sang kakak yang menurutnya jauh dari batas normal, tapi ia tentu tidak akan melewatkan kesempatan untuk beristirahat dan melakukan petualangan kecil di Tokyo. Ia tidak mau ambil pusing mengenai perubahan sifat kakaknya. Selama perubahan itu tidak merugikannya, ia tidak akan merasa keberatan.
"Ah, tuan, selamat datang."
Gaara membalikkan tubuh dan menangguk kecil, membalas salam gadis yang ia kenali sebagai pelayan yang menanyakan niatnya ketika baru saja menjual keyboard-nya.
"Sudah sangat lama sejak terakhir Anda berkunjung kesini," ungkap sang gadis disertai senyum.
Gaara kembali menganggukkan kepala. Memang sudah sangat lama sejak terakhir ia menginjakkan kaki di tempat ini.
"Apa ada yang bisa kubantu, tuan?"
"Sebenarnya aku mencari keyboard yang pernah kujual disini. Apa kau mengingatnya, nona?"
"Ah, keyboard itu," sang pelayan menganggukkan kepala. "Maaf, tuan, benda itu sudah terjual beberapa hari setelah Anda menjualnya kemari."
"Tidak masalah," balas Gaara tenang, berusaha sebaik mungkin untuk tidak menunjukkan kekecewaannya. Ia tidak mau membuat gadis dihadapannya merasa lebih bersalah.
"Tapi aku memenuhi permintaan Anda, tuan. Aku memberikan keyboard itu ke orang yang baik. Aku yakin orang itu pasti menjaga barang kesayangan Anda dengan sangat baik."
"Benarkah?"
"Tentu."
"Syukurlah kalau begitu," Gaara tersenyum tipis. "Apa aku bisa memainkannya?"
Gadis berambut sebahu itu mengikuti arah jari telunjuk pengunjung tokonya sebelum tersenyum lebar dan menganggukkan kepala.
"Akan sangat menyenangkan jika aku bisa melihat penampilan Anda lagi, tuan."
Senyum tipis kembali terulas di wajah sang Sabaku. Tanpa ragu ia duduk di depan grand piano yang tadi ditunjuknya dan langsung memosisikan kesepuluh jarinya diatas tuts. Gaara menarik napas perlahan, berusaha menenangkan pikirannya dan menutup mata. Setelahnya melodi indah terdengar memenuhi toko.
.
-0-
.
"Kenapa kau ada disini?"
"Bukankah seharusnya aku yang melemparkan pertanyaan itu?"
"Apa yang kau lakukan? Kalau kau ada disini, lalu siapa yang mengontrol kedai?"
"Tousan."
Gaara mengerutkan dahi, sama sekali tidak mempercayai perkataan sosok yang duduk dengan santai didepannya.
Rencananya mengunjungi kedai sang kakak untuk menikmati makan siang ternyata berakhir dengan pertemuannya dengan sang pemilik tempat yang seharusnya berada di kedai keluarga Sabaku untuk menggantikan posisinya.
"Tousan yang menggantikanku?"
Kankuro tidak bisa menahan senyum yang sudah diujung bibir. Sudah berkali-kali ia mendengar sang adik mengucapkan kata 'tousan' sejak pemuda itu kembali menyandang marga Sabaku, tapi Kankuro tetap merasakan ketenangan saat mendengar panggilan itu meluncur dari mulut adiknya.
Sementara Kankuro mengagumi panggilan yang dilontarkan adiknya, Gaara masih mengerutkan dahi mendengar penuturan kakaknya. Seingatnya sang ayah pernah berkata kalau ia tidak akan turun tangan lagi ke bisnis keluarganya setelah Gaara mengambil alih, tapi kenapa sekarang ayahnya melanggar ucapannya sendiri?
Gaara tentu tahu betul kalau ayahnya tidak akan pernah menarik kembali ucapannya, itulah yang menjadi alasan kenapa ia sama sekali tidak mempercayai perkataan kakaknya.
Tidak mau membuat hari 'petualangannya' dihiasi dengan sakit kepala, si bungsu menggelengkan kepala dan menggenggam sumpit kemudian menikmati menu pesanannya.
"Bagaimana hari pertama liburanmu? Ada hal menyenangkan yang terjadi?"
"Sejauh ini semuanya menyenangkan."
"Kau sudah bertemu teman lamamu?"
"Teman?" Kerutan kembali terlihat di dahi Gaara.
"Ya. Sakura, Sasuke, Shikamaru, dan yang lain. Kau sudah bertemu dengan mereka hari ini?"
Gaara menggelengkan kepala dan melanjutkan kegiatannya.
"Baiklah kalau begitu, aku harus kembali mengurus kedai. Akan kumasukkan tagihannya langsung ke rekeningmu," ucap Kankuro disertai tepukan ringan di bahu adiknya.
"Tidak bisakah kau mengeluarkan kebijakan makan gratis kepada adik kandungmu sendiri, niisan?"
Kankuro melepaskan tawa ringan mendengar permitaan si bungsu dan meneriakkan kata 'tidak'.
Gerakan tangan sang Sabaku yang hendak meraih sumpit terpaksa terhenti saat posel yang ia letakkan di atas meja berdering pelan. Pemuda berkulit putih itu hanya menghela napas saat melihat nama yang terpampang di layar dan memutuskan untuk mengabaikan panggilan masuk yang bisa ia pastikan tidak begitu penting itu—walaupun pada akhirnya ia mengangat panggilan karena dering ponselnya tak juga berakhir.
"Hm?"
"Apa begitu caramu mengucapkan salam di telepon, Gaara?"
Pemilik iris mata berwarna hijau itu menelan hasil kunyahannya sebelum menjawab pertanyaan yang baru saja diajukan via telepon.
"Aku sedang makan siang, Naru. Ada apa kau menghubungiku?"
"Ah... Kau makan siang dimana? Kita harus bertemu."
Gaara tampak berpikir sejenak. Dari nada bicara sahabatnya ia tahu betul kalau pembicaraan mereka tidak akan berlangsung ringan, dan ia tidak mau mendapatkan pembicaraan semacam itu di hari liburnya.
"Kau sedang dimana? Aku akan kesana sekarang juga."
Tapi lagi-lagi Gaara tidak memiliki alasan untuk menghindar dari si pemuda berambut pirang ketika suara pintu ditutup sampai ke telinganya. Naruto pasti sedang menuju lift untuk keluar dari gedung apartemen.
"Aku ada di kedai," Gaara tidak punya pilihan lain selain menjawab dan mempersiapkan diri menghadapi percakapan yang akan berlangsung.
"Oke, aku kesana. Jangan pergi sebelum aku datang, kau mengerti? Atau aku akan memastikan Kankuro-niisan menahanmu sampai aku sampai."
"Hm."
Gaara meletakkan ponselnya di atas meja dan menatapnya selama beberapa saat. Masih tidak mau merusak hari liburnya dengan acara sakit kepala, pemuda itu memutuskan untuk menghabiskan lauk di piring makannya.
.
-0-
.
"Berhenti memandangku seperti itu," tegur pemuda yang sedang berayun pelan di sebuah ayunan taman kota.
"Kau mengganggu acara makan siangku dan menyeretku keluar dari kedai hanya untuk menemanimu menghabiskan waktu di tempat ini sembari menunggu Sasuke pulang dari kantor?" tanya Gaara takjub dan tidak percaya.
"Tidak ada yang bisa kuajak pergi, Gaara, dan tidak ada seorangpun di apartemen. Kau pasti tahu betul kalau aku tidak suka sendirian."
Gaara menarik napas panjang dan duduk di ayunan kosong tepat disamping ayunan yang dimainkan sahabatnya.
"Kenapa Sasuke pergi ke kantor? Apa dia tidak mengambil cuti?"
"Kau tahu bagaimana dia, jadi kurasa kau tidak perlu bertanya," Naruto menggembungkan pipi.
"Kalau kau sangat ingin ditemani suamimu, kenapa kau tidak mengusulkan untuk segera pergi bulan madu saja, hm?"
"Aku tidak bisa mengganggu jadwalnya. Management sedang bersiap membuat debut untuk tiga artis mereka dan Sasuke tentu tidak mungkin tidak terlibat didalamnya. Lagipula ada dua lagu yang belum sempat dia selesaikan karena pernikahan kami."
Gaara mengangguk paham. Menjadi seorang produser sekaligus penulis lagu memang bukan hal yang mudah. Benar, pekerjaan itu akan terasa sangat menyenangkan ketika artis yang diproduseri dan lagu yang ditulis mendapatkan ketenaran dan penghargaan, tapi proses untuk mencapai kesuksesan seperti itu tidaklah mulus.
Perlu usaha super keras dan pengorbanan super besar untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan publik, terlebih tidak hanya sepuluh atau dua puluh orang yang berkecimpung di dunia hiburan. Persaingan ketat menuntut tiap artis untuk menunjukkan performance terbaik mereka, yang tentu saja tidak didapatkan dalam jangka latihan yang pendek.
"Aku senang melihat keadaanmu sekarang," ungkap Naruto membuka topik pembicaraan baru.
"Apa yang membuatmu senang? Tidak banyak yang berubah dari hidupku," Gaara ikut mengayunkan diri perlahan.
"Mungkin memang tidak banyak yang berubah, tapi perubahan mendasar dari hidupmu sekarang inilah yang membuatku merasa senang. Sekarang aku tahu kau tidak pernah sendirian."
"Hm."
"Tapi kau tetap sendirian."
"Hm?"
"Kau masih belum memiliki pasangan."
"Bisakah kita tidak membicarakan hal ini?"
"Nope. Aku sudah memberikan waktu yang cukup lama untuk membiarkanmu bebas dari pembicaraan ini. Aku mau mengungkitnya sekarang."
Genggaman tangan Gaara di rantai ayunan tampak mengeras. Ia sama sekali tidak menyukai ide sahabatnya untuk menyinggung sisi kehidupannya yang satu itu.
"Aku sama sekali tidak mempermasalahkan kesendirianku, Naruto. Tapi aku tidak akan mengelak dari kenyataan bahwa memang ada beberapa orang yang kupertimbangkan."
"Huh? Kau sudah tidak mencintai Neji lagi?"
"Menurutmu? Sudah bertahun-tahun berlalu, apa kau pikir aku akan tetap bertumpu pada satu orang yang bahkan saat ini tidak diketahui keberadaannya? Kalaupun aku masih memiliki perasaan padanya, aku tidak akan menutup mata dan membiarkan orang lain mendekatiku."
Suasana medadak hening. Yang mengisi kekosongan hanya suara percakapan orang-orang yang juga tengah menghabiskan waktu di taman dan suara tawa lepas anak-anak kecil yang bermain tak jauh dari dua pemuda yang sibuk berenang di pikiran mereka masing-masing itu.
Memang sudah cukup lama sejak pertemuan terakhir Gaara dan mantan rekan duetnya. Juga sudah lebih dari tiga tahun sejak Gaara mendengar kabar terakhir dari sang Hyuuga.
Dua tahun setelah Gaara mengambil keputusan untuk tidak lagi bersentuhan dengan dunia showbiz, Neji mengambil keputusan yang sama. Tidak, Neji tidak melakukannya demi Gaara, tapi ia melakukannya demi menyelesaikan dan melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda karena kesuksesan yang berhasil ia gapai.
Tidak sedikit orang-orang yang berkecimpung di dunia musik yang menyayangkan keputusan penyanyi muda berbakat itu. Tidak sedikit juga fans yang menentang tindakan idola mereka. Tapi, seperti biasa, tidak ada yang bisa mengalahkan sifat keras kepala seorang Hyuuga Neji. Pemuda berambut coklat itu tidak akan pernah merubah keputusan yang ia buat, dan semua keputusan yang dibuatnya tentu sudah melalui beratus-ratus kali pemikiran dan pertimbangan.
"Aku ingin tahu, apa yang akan kau lakukan kalau kau bertemu dengan Neji lagi?"
Pemilik marga Sabaku terlihat menolehkan kepala dan menatap sisi wajah lawan bicaranya.
"Kau ingin aku melakukan apa?" balasnya, balik bertanya.
Gaara bisa melihat dahi Naruto yang berkerut dan raut tidak puas terlukis jelas di wajah tan-nya.
"Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu, jadi jangan membalikkan yang akan kau lakukan?"
"Aku tidak tahu. Sejujurnya, aku tidak pernah berpikiran untuk bertemu lagi dengannya," Gaara kembali menggerakkan kaki untuk mendorong tanah dan mengayun tubuhnya pelan.
"Jangan bercanda. Kau tidak pernah punya keinginan untuk bertemu dengannya lagi?" Naruto mengikuti tindakan sahabatnya.
"Pernah, tapi aku tidak pernah membiarkan diriku membayangkan hal yang lebih dari sekedar pertemuan singkat yang disertai jabat tangan dan menanyakan kabar masing-masing."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak mau," Gaara mengangkat bahu. "Kalau dulu aku memikirkan karirnya, kali ini aku memikirkan karirku. Kalau dulu aku tidak membiarkannya meninggalkan dunia entertain, kali ini aku tidak membiarkan diriku berhenti berbisnis."
"Tidak ada yang memintamu untuk berhenti, Gaara," Naruto mengerlingkan mata. "Dan aku yakin dia juga tidak akan menghentikanmu. Dia tahu, percuma menghentikanmu ketika kau sudah membulatkan tekad untuk memutuskan sesuatu."
Gaara tahu betul kalau apa yang baru saja dikatakan sahabat kentalnya memang benar. Semua ucapan pemuda pirang itu memang benar, tapi yang dimaksudkan oleh Gaara bukan sebagatas pada bisnis saja. Dibalik urusan bisnis yang ia geluti, ada hal amat penting yang tidak bisa ia lepaskan untuk kedua kalinya.
"Keluargaku," Gaara mendongakkan kepala ke arah langit. "Masalah pribadiku akan berdampak besar pada image keluargaku beserta bisnis yang mereka miliki."
"Kau peduli? Sejak kapan kau memikirkan pandangan orang lain terhadapmu? Kau bukan seperti Gaara yang kukenal."
"Seiring berjalannya waktu pemikiran seseorang akan berubah, Naruto. Kau juga pasti akan melewati masa ini nanti."
Ya, hal utama yang ada dibalik bisnisnya adalah keluarga Sabaku. Dulu ia memang tidak terlalu mempedulikan pendapat orang lain mengenai dirinya, tapi kini, setelah ia mendapatkan posisi tertinggi di bisnis yang sudah dibangun sang ayah dengan susah payah, ia tentu tidak bisa mengabaikan penilaian orang lain.
Sabaku no Gaara kini tidak hanya berdiri untuk dirinya sendiri, melainkan juga berdiri untuk keluarganya. Kini ia adalah representasi keluarga Sabaku, bukan sebatas representasi Sabaku no Gaara semata. Kini ia memiliki tanggung jawab yang berkali-kali lipat dari tanggung jawab yang ia pikul ketika kembali menyandang marga Sabaku. Kini ia memiliki kewajiban tidak hanya untuk menjaga nama baiknya sendiri, tapi juga menjaga nama baik seluruh anggota keluarganya.
"Apa kau pikir kau bisa mengelak dari hal ini dengan menggunakan keluargamu sebagai tameng, Gaara?"
Sang pemuda yang dimaksud segera menatap sosok di sampingnya dengan dahi berkerut.
"Percaya padaku, apapun yang kau lakukan dengan nama Sabaku-mu itu, Sabaku-sama dan Kankuro akan selalu menganggapmu menjadi bagian dari keluarga. Kalau kau pikir apa yang kau lakukan berpengaruh sedemikian besar terhadap keluarga Sabaku, seharusnya bisnis keluargamu sudah gulung tikar saat Sabaku-sama mengetahui perbedaanmu. Tapi nyatanya tidak kan?"
Pemuda yang dimaksud kembali menatap langit. Ia tidak bisa menatap pemuda yang tengah bersamanya itu lebih lama.
Naruto menarik kembali pemikirannya mengenai perubahan sang Sabaku. Pemilik rambut berwarna merah ini sama sekali tidak berubah. Dia tetap seorang remaja yang masih memikirkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri.
"Sabaku-sama bisa mempertahankan semuanya karena beliau menjagamu dengan baik, tanpa kau sadari. Walaupun banyak omongan miring yang beredar mengenai perbedaan yang kau miliki, nyatanya beliau tidak pernah menghapus namamu dari silsilah keluarga Sabaku dan tetap menganggapmu sebagai salah satu dari tiga orang anak yang beliau miliki. Kau yang memutuskan untuk pergi, bukan dia yang memintamu untuk angkat kaki dari kediaman Sabaku—walaupun aku yakin dia pernah berpikir untuk melakukannya."
Gaara tidak bisa mengelak dari pernyataan sahabatnya. Pemuda yang tengah bersamanya itu terlalu memahami dirinya, dan kadang pemahaman yang sosok pirang itu miliki berhasil membuat pemilik rambut merah itu kesal.
Kesal karena ia tidak bisa membalas Naruto. Kesal karena ia tidak bisa mengelak dari Naruto. Kesal karena terkadang, bahkan mungkin sering kali, semua pemikirannya bisa dibaca dan dipahami pemuda itu.
"Apa yang akan kau lakukan kalau kalian bertemu lagi?"
Gaara tahu betul kalau tingkat keras kepala sahabatnya makin tinggi setelah menjalin hubungan dengan Sasuke, tapi ia baru kali ini ia sadar kalau ternyata tingkat memaksa sahabatnya juga mengalami peningkatan yang sama.
"Aku tidak tahu."
"Apa perlu kita cari tahu?"
Gaara mengerutkan dahi dan kembali menolehkan kepala, menatap Naruto yang sudah menghentikan ayunannya dan melemparkan tatapan lurus ke arah langit.
"Apa perlu kita cari tahu, apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengannya?" tanya Naruto lagi, dengan nada yang lebih tenang dari sebelumnya.
"Kau mau kita mencari tahu? Bagaimana caranya?" tanya Gaara dengan nada yang sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan.
"Kau bisa bertemu dengannya."
Gaara memberikan tatapan 'yang-benar-saja-apa-kau-sudah-gila' kepada sosok di sebelahnya selama beberapa saat sebelum mengikuti arah pandang sang pengantin baru.
"Entahlah. Kau bisa mencobanya kalau kau mau, tapi aku tidak akan melakukan apapun untuk mengusahakannya."
Kini giliran Naruto yang menolehkan kepala, menatap pemuda disebelahnya dengan tatapan 'sahabat-macam-apa-kau-ini'.
"Kau bisa mengusahakan semua hal untuk bisa menjawab semua pertanyaan yang menumpuk di otakmu itu, tapi aku tidak akan melakukan apapun. Lakukan sesukamu," ungkap Gaara tanpa membalas tatapan si pemuda pirang.
.
TBC
.
A/N: Setelah sekian lama, akhirnya~~ Ugh, perkiraan saya tentang panjang fic ini sepertinya meleset. Well, you see, chapter lima ini, yang harusnya jadi chap terakhir, baru mengarahkan jalan cerita ke bagian akhir. Semoga ga ada yang keberatan dengan perpanjangan chapter ini dan maaf karena sudah menghabiskan banyak waktu untuk melanjutkan fic ini ^^
.
.
Review Reply:
.
.
Meg chan: Bagian ending-nya masih dipikirkan dengan seksama #halah Semoga aja plot happy ending bisa mampir di otak dan dipake di fic ini ^^
anon: Berubah haluan? Fic ini tadinya emang mau dibikin sad ending, lho ^^
damsel in the pain: Wueeehh, violent reader! Hahahaha. Ah, masalah telat update... ^^" I'm asking your forgiveness, but I won't give any reason why that happened though. I don't want let my reader hear any of my nonsense speech. Yep, fighting! Fighting! ^^
Henny: Masih menunggu kah? Kalau masih, terima kasih banyak sudah mau amat sangat bersabar menghadapi keleletan saya sebagai seorang author #bow ^^
