Past, Present and Future
Disclaimer: It's sad, but I just own the story. Severely © FT Island. Fiction © B2ST. Miss You © Tohoshinki
Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Typo, OOC dan OOC, shounen ai and even, probably, yaoi
.
.
Enjoy!
.
.
Severely, I guess I loved you too severely
I don't even breath and I look around for you
I don't know when I'll be able to stop
.
Severely, I guess I loved you too severely
I think letting you go is more severe than dying
.
.
"Tidak bisakah kau menyanyikan lagu yang lebih... menarik?"
Pemuda yang masih meletakkan kesepuluh jarinya di atas tuts terlihat menolehkan kepala ke arah suara teguran berasal.
"Kenapa orang-orang selalu memintaku untuk mengganti genre lagu?" tanyanya dengan dahi berkerut.
"Karena kau selalu memainkan sekaligus menciptakan lagu yang bernuansa seperti tadi. Seorang penulis lagu tentunya harus menguasai berbagai macam genre dengan tempo yang beragam."
Gaara mengerlingkan mata bosan mendengar penuturan lelaki yang baru saja masuk ke ruang musik tempatnya berada selama dua jam belakangan.
Sasuke duduk di sofa panjang yang tersedia dan menyandarkan punggung di lengan sofa agar ia bisa menatap lurus sosok pemuda yang sedang memunggunginya. Ia cukup terkejut ketika pemuda ini tiba-tiba datang berkunjung ke management.
"Jangan berpikiran macam-macam, Uchiha. Aku datang kesini bukan untuk mengajak bekerja sama atau semacamnya. Aku hanya berkunjung," papar Gaara sebelum kembali memainkan sebuah lagu.
Sasuke menaikkan alis. 'Sejak kapan pemuda ini bisa membaca pikiran?'
Gaara memilih untuk bersenandung pelan sembari terus memainkan melodi dari salah satu lagu yang ia ciptakan bertahun-tahun yang lalu. Tidak semua bagian ia ingat, tapi bagian terpenting dari lagu ini masih ia hapal dengan baik.
"Eh? Kau sudah datang?"
Kali ini Gaara tidak berniat menolehkan kepala. Ia tetap menikmati permainannya dan menutup mata untuk lebih bisa berkonsentrasi di beberapa bagian yang ia lupa.
Sasuke kembali menaikkan alis saat melihat suaminya masuk ke dalam ruangan dan tanpa ragu duduk di sebelah adik Sabaku no Kankuro yang masih bersenandung pelan.
"Aku ingin menguji daya ingatmu!"
Naruto menahan kedua tangan Gaara dan menempatkannya di pangkuan pemuda itu sendiri. Sasuke bangun dari duduknya dan berdiri tepat di samping kekasihnya dan melemparkan tatapan penasaran. Apa yang akan dilakukan pemuda pirang ini?
"Seharusnya kau masih mengingatnya karena kau masih mengingat lagu yang baru saja kau senandungkan," tutur sang Uzumaki disertai cengiran lebar.
Naruto menarik napas panjang dan meletakkan kesepuluh jarinya di atas tuts sebelum menekan beberapa tuts secara bersamaan dan bergantian sehingga menghasilkan sebuah melodi. Ia menolehkan kepala dan memberi aba-aba agar Gaara cepat menyanyikan lirik dari lagu yang sedang ia mainkan dan Gaara tanpa ragu menyunggingkan seringai sebagai tanda kalau ia menerima tantangan pemuda yang lebih tua darinya itu.
.
.
Even today. I'm in the story of you and I that hasn't ended still, in Fiction
.
I will say this again, one more time
Right now you are next to me
I'm believing like that
.
.
"Kau masih mengingatnya!" Naruto tidak bisa menahan kegembiraannya.
"Tentu saja."
"Percaya diri sekali," cibir Naruto saat melihat raut sahabatnya. "Kita lihat, apa kau masih bisa mempertahankan kepercayaan dirimu sekarang," ucapnya sembari memainkan melodi baru.
Gaara mengerang kesal saat mendengar melodi yang cukup lama tidak sampai ke telinganya. Ia melemparkan tatapan tajam pada pemuda berkulit tan yang terlihat menyeringai licik.
.
.
Baby come again, I feel you
Listen to my heart, I love you
My heart so I know you want me
Baby stay with me
I miss you
.
.
"Kau tidak ingat lagumu sendiri?"
Gaara melemparkan tatapan tajam kepada pemuda yang kali ini menyandarkan sisi tubuhnya ke sisi ujung bagian grand piano.
"Lagu ciptaanya lumayan banyak, walaupun tidak semua dipublikasikan," papar Naruto ringan, jemarinya masih bermain diatas tuts keyboard dengan tenang.
"Selain itu, aku juga tidak terlalu menyukai lagu tadi. Kau tahu betul apa genre kesukaanku," tambah sang Sabaku yang sudah kembali menatap ke depan.
"Siap untuk lagu berikutnya?"
"Hm."
Naruto menyeringai. Ia menghentikan permainannya sejenak sebelum kembali memulai, dengan lagu baru yang berhasil membuat mata Gaara yang sempat tertutup kembali terbuka lebar.
Sasuke melipat kedua lengannya di depan dada sembari terus memperhatikan dua pemuda yang duduk di depan piano. Ia sangat ingin mengetahui respon pemilik rambut merah itu terhadap permainan piano si pemuda pirang.
"Aku tidak akan mengganti lagu ataupun berhenti bermain, Gaara. Kau harus menyanyikan liriknya dan jangan coba-coba untuk kabur karena aku tidak akan membiarkanmu lolos," tutur Naruto dengan mata tertutup, menikmati alunan musik yang dihasilkan jemarinya.
Putra bungsu keluarga Sabaku itu terlihat menarik napas dalam-dalam sebelum kembali menutup mata. Ia mengutuk kelemahannya yang tidak pernah bisa melawan sang Uzumaki di dalam hati.
.
.
Don't go, don't go... Can't you stay by my side?
Lies, all lies... I don't hear anything
I love you, I love you... Can't you show me those words?
I love you, I love you... Can you love me again?
.
.
"Kau pasti menyesal sudah memberikan lagu itu padaku. Aku belum pernah membawakannya sebaik tadi."
Naruto bangun dari duduknya dan menarik sebelah tangan Sasuke, mengajak kekasihnya keluar dari ruang musik dan memberikan waktu kepada pemuda yang tengah mematung di depan piano dan pemuda yang sudah berdiri di ambang pintu ruang musik sejak sang Uzumaki memainkan lagu terakhir tadi.
Gaara menghela napas panjang ketika pertanyaan Naruto tempo hari terlintas di kepalanya.
"Apa yang akan kau lakukan kalau kalian bertemu lagi?"
Sabaku muda itu tahu kalau tingkat penasaran sahabat kentalnya memang tinggi, tapi ia tidak pernah menyangka kalau pemuda berkulit kecoklatan itu akan sampai melakukan hal ini hanya untuk menjawab rasa penasarannya. Gaara menahan diri untuk tidak menghantamkan kepala ke alat musik di hadapannya saat mengingat kalau hari itu, karena tanpa sadar, secara tidak langsung, ia sudah menantang Naruto untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan tadi.
Kenapa ia bisa melupakan bagaimana komptetitifnya seorang Uzumaki Naruto? Gaara berusaha menahan diri untuk tidak mengerang kesal. Seharusnya ia tidak menantang pemuda itu.
Sang Sabaku muda kembali menghela napas.
Neji masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Iris lavendernya masih menatap punggung pemuda berambut merah yang juga masih terpaku di depan piano.
Tidak ada yang berubah, pikir sang Hyuuga. Tidak ada perubahan berarti; hanya tinggi badan sang Sabaku dan panjang rambut pemilik iris mata berwarna hijau itu. Selebihnya Neji tidak menemukan perubahan berarti pada pemuda yang terlihat kembali memposisikan kedua tangannya di atas piano dan memainkan melodi sederhana.
.
..
-0-0-0-
..
.
Neji menggelengkan kepala dengan senyum terulas di bibirnya. Ia meraih saputangan yang selalu ia bawa dan bangun dari duduknya untuk mencondongkan tubuh beberapa derajat agar bisa mengusap wajah pemuda berambut merah yang tengah duduk makan siang dengannya.
"Hm?" sang pemuda mengangkat pandangan dan mengerutkan dahi melihat gestur yang amat jarang diperlihatkan seniornya.
"Ada float di wajahmu," ucap Neji ringan dan mengangkat bahu sebelum kembali ke posisi awal dan melahap bento pesanannya.
"Thanks."
Sang Hyuuga mengangguk kecil. Matanya masih memperhatikan sosok yang sudah kembali ke kegiatannya; membaca lembaran partitur dengan berbagai goresan di atasnya. Ia tahu kalau pemuda ini harus segera menyelesaikan tugas aransemennya, jadi ia mengerti kenapa anggota keluarga Sabaku ini sampai membawa kertas-kertas itu ke meja makan mereka.
"Menurutmu mana yang harus kuberikan kepada Sasuke?"
Neji menatap dua kertas yang kini ditunjukkan sang pemuda dan membaca keduanya beberapa saat sebelum menunjuk salah satu kertas dengan sumpitnya. Sang Sabaku mengangguk singkat dan memasukkan kertas yang tidak terpilih ke dalam sebuah folder, sementara kertas yang terpilih ia selipkan di buku musiknya.
Sementara pemilik rambut coklat sudah mendorong kotak bento menjauh dari tangannya, pemuda yang duduk di hadapan pemuda yang disebut sebelumnya malah baru membuka tutup cup ramen instan, menu makan siangnya hari ini.
"Kau mengingingatkanku pada pemuda pirang berisik itu," ungkap Neji yang kini duduk bersandar dengan kedua lengan dilipat di depan dada.
"Hm? Naruto, maksudmu?"
"Dia pasti langsung menegurmu kalau tahu kau memanggilnya seperti itu," Neji menggelengkan kepala.
"Aku tahu. Dia terus berkata kalau dia lebih tua dariku, tapi aku yakin aku lebih dewasa darinya. Aku tidak mau menurunkan harga diriku dengan melemparkan panggilan sopan kepada orang yang lebih kekanakan dariku."
Putra tunggal keluarga Hyuuga itu tidak bisa menahan tawa yang sudah di ujung bibir. Ia sama sekali tidak akan ragu untuk membenarkan pernyataan lawan bicaranya.
Suasana kafetaria yang cukup ramai nyatanya tidak berhasil menutupi suara bisik-bisik dari orang-orang yang duduk di dekat sang Hyuuga dan sang Sabaku itu. Neji sudah cukup terbiasa dengan hal ini, walaupun kadang ia harus mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak melemparkan tatapan tajam pada mereka—khususnya para gadis—yang terus membicarakan mereka.
"Beritahu aku, apa yang terjadi kemarin."
Neji mengerutkan dahi mendengar permintaan diluar perkiraan yang dikatakan dengan nada serius oleh sosok di hadapannya.
"Berita pertemuanmu dengannya sudah tersebar luas dan kurasa bisikan mereka hari mengenai pertemuanmu dengan mantan rekan duetmu kemarin."
"Mereka sudah mengetahui itu? Kau juga tahu?"
"Kau pikir Naruto tidak akan memberitahukan kedatangan saudaraku sendiri, eh?" Sabaku no Sasori, pemuda yang sejak tadi ada bersama sang Hyuuga, mengerlingkan mata bosan.
"Mengerikan. Benar-benar mengerikan," Neji menggelengkan kepala.
Neji tahu kalau ia termasuk salah satu dari banyak orang yang mendapatkan perhatian khusus di management ini, terlebih sejak kepulangannya satu bulan yang lalu. Ia juga tahu kalau masih ada orang-orang yang terus mengikuti dan tanpa sungkan mengorek kehidupan pribadinya, walaupun kini ia sudah bukan seorang pelaku seni, tapi ia tidak menyangka kalau hal mengenai pertemuannya dengan Gaara, keponakan dari Sasori, sudah tersebar luas.
"Jangan harap kau bisa memiliki hidup yang tenang selama kau masih berhubungan dengan dunia entertain seperti ini," Sasori mulai menyumpit makan siangnya.
"Aku tahu," Neji menghela napas panjang.
Sebenarnya pemilik iris mata lavender ini tidak berniat untuk kembali ke dunia yang sudah membesarkan namanya. Ia sama sekali tidak berpikiran untuk kembali menjadi bagian dari keluarga management Rookie Nine. Ia sama sekali tidak menyangka Sasuke akan menjebak dan memojokkannya.
Yep, Hyuuga Neji kembali menapaki jalan yang ia tinggalkan selama beberapa tahun belakangan karena terpaksa. Lebih tepatnya dijebak. Oleh sahabatnya sendiri.
"Uchiha berengsek," umpatnya kesal.
"Berhenti melakukan itu. Lama kelamaan kau bisa sama buruknya dengan Naruto karena selalu mengatai Sasuke yang notabene kini berstatus sebagai atasanmu."
"Dia memang berengsek. Kalau saja dia tidak mengancamku untuk memperkarakan kontrak itu, saat ini aku pasti sedang menikmati hidup yang nyaman tanpa perhatian berlebihan dari orang-orang disekitarku."
Sasori kembali mengerlingkan mata. Tidak perlu waktu yang lama untuk bisa memahami pemuda yang satu tahun lebih tua darinya ini. Dengan perkenalan mereka yang singkat, pemilik rambut berwarna merah itu sudah tahu dan paham bagaimana tabiat sosok di hadapannya sekarang.
Sasuke memang melakukan ancaman dan tekanan yang sangat hebat hingga berhasil membuat Neji kembali ke dunia entertain. Bukan sebagai penyanyi seperti sebelumnya, melainkan sebagai pelatih vokal sekaligus anggota dari tim arranger Rookie Nine.
"Aku tidak percaya dia adalah sahabatku. Bagaimana bisa dia mengancamku untuk kembali bergabung di sini?" gerutunya.
"Terima saja nasibmu. Kau tidak mau dia memperkarakan kontrakmu dulu kan?"
Neji menghela napas panjang dan menggelengkan kepala.
Ia tidak tahu kenapa ia bisa mempercayai perkataan Sasuke ketika lelaki itu mengijinkannya berhenti dari dunia entertain. Ia juga tidak tahu kenapa ia begitu bersyukur saat Sasuke berkatan kalau dia tidak akan menuntut apapun atas kontraknya dan RookieNine yang belum habis.
Seharusnya ia tahu kalau Sasuke tidak sebaik itu karena ternyata, tanpa sepengetahuannya, lelaki yang sudah menjadi pemilik sah management itu bekerja sama dengan mantan manager-nya untuk membuatnya melanjutkan karir di bidang yang ia tinggalkan.
Well, Sasuke memang memusnahkan kontrak lamanya, tapi bukan tanpa jejak. Lagi-lagi, tanpa sepengetahuannya, Sasuke dan Hanabi mengubah isi kontrak itu. Kalau sebelumnya kontrak berisi keharusan Neji menjalani kegiatannya sebagai seorang penyanyi selama tiga tahun di bawah label, kini kontrak itu berisi keharusan Neji bekerja di bawah label yang sama sebagai seorang arranger dan song writer.
"Kalau kau benar-benar tidak mau bekerja disini, kenapa kau tidak membayar denda saja? Kalau kau bisa menyelesaikan pendidikanmu di universitas itu, aku yakin kau bisa membayar uang denda yang tertera di kontrakmu."
"Apa kau pikir Sasuke akan melepaskanku jika aku melakukan itu? Apapun yang kulakukan, hasil akhirnya akan tetap sama. Dia punya beribu cara untuk maksa seseorang yang dia anggap pantas mendapatkan posisi di kantor ini."
Benar. Sasori tahu apa yang dikatakan salah satu rekan kerjanya ini memang benar. Karena ia juga bisa berakhir di kantor ini karena alasan yang sama—walaupun pada akhirnya ia merasa berterima kasih kepada Sasuke karena sudah berhasil memusnahkan kontrak lamanya dengan salah satu agensi.
Sasori sama sekali tidak pernah berniat untuk mendapatkan pekerjaan di management ini. Uh, sebenarnya ia pernah memiliki keinginan untuk melakukan ini, hanya saja tidak dengan alasan yang melatarbelakangi keputusannya bekerja dibawah pimpinan seorang Uchiha Sasuke.
"Apa kau pernah berpikiran untuk berhenti dari pekerjaanmu, Neji?" Sasori meletakkan sumpitnya.
"Setelah kontrakku habis, ya. Kalau untuk saat ini, kurasa aku tidak punya pilihan. Kau?"
"Entahlah. Aku menyukai pekerjaanku di sini dan aku belum pernah berpikiran untuk berhenti. Mungkin kalau ada orang yang Sasuke anggap bisa menggantikanku, aku akan berhenti."
"Jangan bercanda. Hanya ada dua orang yang Sasuke percaya untuk menyentuh folder berharga yang berisi ratusan lagu itu—kau dan Gaara. Selain kalian berdua, Sasuke selalu mengambil sendiri file lagunya sebelum dia serahkan pada orang lain."
"Berhubung kau menyebutkan namanya, kau harus menjawab pertanyaanku di awal pembicaraan, Neji. Beritahu aku, apa yang terjadi kemarin?"
Neji menarik napas panjang dan menyesali ucapannya yang menyertakan nama Gaara.
"Tidak ada yang terjadi. Kami hanya bertemu dan menanyakan kabar masing-masing. Itu saja."
Sasori tampak menaikkan alis, sama sekali tidak mempercayai jawaban lawan bicaranya.
"Hanya itu yang terjadi, Sasori, tidak ada yang bisa aku tambahkan. Walaupun aku ingin ada hal yang terjadi lebih dari itu."
"Tentu saja," Sasori menunjukkan seringainya.
Sasori tentu tahu apa yang terjadi diantara saudaranya dan lelaki di hadapannya ini. Apa yang terjadi diantara keduanya adalah alasan utama kenapa ia terjebak di kantor ini sekarang͟͟—walaupun hal itu terjadi tidak secara langsung.
"Kau di sini?"
Neji mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk dan segera menolehkan kepala untuk melihat siapa yang baru saja disapa lawan bicaranya. Dan ketika ia tahu pada siapa sapaan tadi ditujukan, ia menyesal sudah berani menolehkan kepala.
"Hm," Gaara mengangguk kecil dan melirik pemuda yang sudah berhasil mencuri perhatiannya denangan ucapan yang terakhir ia dengar dari mulut sang Hyuuga.
Sasori bangun dari duduknya dan memeluk singkat pemuda yang lebih muda darinya itu selama beberapa detik. Ia lalu melingkarkan sebelah lengan di bahu pemilik iris mata hijau itu.
"Kau harus berterima kasih untuk pengorbananku selama ini. Demi melindungimu, aku harus terjebak di bangunan ini selama tiga tahun terakhir dan bekerja dengan orang-orang tidak waras seperti dia," cetus Sasori sembari menunjuk Neji.
"Hei!"
.
-0-
.
Gaara kembali menggelengkan kepala, entah untuk keberapa kalinya sejak satu jam terakhir. Ia masih tidak bisa percaya kalau pemuda pirang yang memintanya datang ke management berhasil kembali menjebaknya. Dan yang lebih tidak ia percayai adalah kelalaiannya membaca siasat yang ada di otak pemuda yang kini menyandang marga Uchiha itu.
Pandangan sang Sabaku beralih dari tuts piano di hadapannya ke seorang pemuda yang tengah memetik gitar di atas sofa. Ia tidak mengerti kenapa pemuda itu bisa tetap bersikap tengang ditengah situasi canggung seperti ini. Oh, mungkin hanya dirinya yang merasakan suasana canggung di sekitarnya.
"Aku sama sekali tidak mengerti kenapa Naruto sampai menjebak dan mengurung kita di ruang musik ini. Apa ada yang ingin kau jelaskan padaku, Gaara?"
Yang ingin dijelaskan? Gaara mengerlingkan mata. Tentu saja ada hal yang harus ia jelaskan, terutama mengenai sikapnya yang terang-terangan menantang pelaku penjebakannya kali ini. Tapi bagaimana cara ia memberitahu Neji tentang hal itu? Tidak mungkin kan ia berkata kalau ia sudah menantang Naruto untuk mempertemukan mereka? Ia tidak mau Neji sampai memiliki pandangan yang salah dengan kenyataan tadi.
"Gaara?"
Helaan napas meluncur mulus dari pemuda yang dipanggil. Setelah memperhitungkan dengan seksama, sang pemilik iris mata berwarna hijau memilih untuk bangkit dari posisinya.
"Kau tidak akan pernah bisa mengerti jalan pikiran pemuda berisik itu selama apapun kau mengenalnya," cetusnya tenang.
"Setuju. Tapi aku yakin dia memiliki alasan untuk menjebak kita. Apa hal ini ada kaitannya dengan pertemuan kita kemarin?"
"Aku tidak yakin. Menurutmu?"
Neji mengangkat bahu dan kembali memetik senar alat musik di pangkuannya. Ia cukup terkejut saat Gaara masuk—setelah kalah adu dorong dengan seorang pemuda berambut pirang—ke ruang kerjanya ini dan mendengar Naruto meneriakkan 'Cepat selesaikan apa yang harus kalian selesaikan' sebelum kemudian mengunci pintu dan pergi.
Ia sudah berusaha menghubungi Sasuke untuk meminta bantuan, tapi usahanya sama sekali tidak berhasil. Pewaris Rookie Nine itu malah membenarkan tindakan si pemuda pirang dan meminta Neji untuk benar-benar menyelesaikan semuanya tanpa memberitahu dengan jelas apa sebenarnya yang harus ia selesaikan.
"Kau tidak berniat kembali ke atas panggung, Neji?"
Pertanyaan Gaara berhasil menghentikan permainan gitar sang Hyuuga selama beberapa detik. Ia menggelengkan kepala dan kembali memainkan melodi sederhana yang beberapa hari lalu ia ciptakan.
"Tidak. Aku menyukai kehidupanku yang sekarang dan aku tidak memiliki keinginan untuk merubahnya lagi," ungkapnya tenang. "Kau sendiri? Apa kau tidak berniat untuk kembali terlibat di dunia entertain?"
"Nope."
Neji kembali memainkan alat musik yang masih ia pegang ketika telinganya tidak menangkap lanjutan apapun dari pemuda yang kini duduk tak jauh darinya. Setelah sekian lama ia menunggu situasi seperti ini terjadi, dimana dirinya memiliki kesempatan untuk berdua dengan sang mantan partner, pikirannya malah kosong. Neji tidak tahu apa yang harus ia katakan. Saat ini kepalanya benar-benar kosong dan entah kenapa otaknya juga menolak untuk bekerja.
Sebuah senandung pelan berhasil mengembalikan pemilik marga Hyuuga itu ke alam sadar. Neji menolehkan kepala dan berusaha keras agar jemarinya tetap memetik senar gitar ketika matanya menangkap pemandangan yang paling ingin ia lihat selama beberapa tahun terakhir.
Sosok Gaara yang sedang duduk tenang dengan sepasang mata yang tertutup dan sebuah senandung merdu yang tercipta dari pita suaranya benar-benar membuat napas Neji tercekat selama beberapa detik.
Sang putra bungsu keluarga Sabaku terpaksa membuka mata ketika permainan musik pemuda di sebelahnya terhenti. Kini sepasang mata beriris hijaunya membalas lurus tatapan sepasang mata dengan iris keperakan milik Neji.
Butuh waktu hampir satu menit penuh bagi si pemuda berambut coklat untuk meyakinkan diri dengan keputusan yang baru saja terlintas di benaknya. Dengan perlahan Neji menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan degub jantung yang makin lama makin terdengar jelas di gendang telinganya.
"This time..."
Gaara sedikit menegakkan tubuh dan menunggu lanjutan kalimat dari sang lawan bicara. Dari cara Neji mengatur napas dan membalas tatapannya, sedikit banyak ia bisa memperkirakan kalau arranger muda itu sedang menyusun kalimat yang akan diucapkannya dengan hati-hati.
"This time," Neji menarik napas panjang, "let's do it right. Let's make it right."
Sang Hyuuga bisa melihat bagaimana pupil pemuda yang kini duduk hampir berhadapan dengannya membesar seiring dengan ucapan yang meluncur dari bibirnya. Dengan ragu ia mengulurkan sebelah tangan yang tidak menahan gitar di pangkuannya.
"Let's stop running away and make it real. Will you go out with me?"
.
.
TBC
.
.
A/N: Woah, it's been a while! ^^ Ada yang masih menunggu fic ini kah? Saya lupa sudah berapa lama saya meninggalkan fic ini dan ketika saya punya waktu luang dua hari yang lalu, entah kenapa saya langsung membuka file chapter ini dan menyelesaikannya. Chapter baru dari fic ini memang saya publish, tapi bukan berarti saya akan melanjutkan fic ini dalam jangka waktu dekat. Saya pasti akan menyelesaikan semua yang saya mulai, hanya mungkin kali ini saya butuh waktu yang lebih panjang. Semoga minna bisa mengerti~
.
.
Review Reply:
.
.
damsel in the pain: oh, you're not? ^^v Aaaahhh, gomen~ Untuk fic ini saya ga yakin kapan bakal update lagi ^^"
_sytadic_: nanti tulis namanya di kolom penname ya, biar saya ga bingung ^^ Ga apa-apa, saya juga telat lanjutin fic-nya kok ^^" Neji-Gaa sudah saya pertemukan di chap ini kan? Saya ga bisa janji kalo masalah update. Gomen #bow
shizu indah: umm, lain kali tolong isi kolom review lebih banyak dari ini ya? ^^ Next part sudah saya update
