THE DEIMON KINGDOM

Disclaimer: Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata

Pair: Hiruma Youichi & Anezaki Mamori

Genre: romance, family, friendship, sedikit mengandung unsur dongeng

Story: yuci-chan

Rated: T

Warning:OOC, tidak sesuai alur EYESHIELD 21, sinetron banget, TYPO tersebar, gak jelas

Dan segala macam kekurangan lainnya, mohon di maafkan.

Chapter 2

NORMAL POV.

Gerbang besar nan megah it mulai terbuka secara perlahan. Manampakan sesosok bayangan anak kecil yang tengah berjalan masuk kedalam istana. Wajahnya yang tampan, pakaiannya yang mahal dan rambutnya yang berwarna merah menyala, memberi kesan keren pada anak ini. Tatapannya terus tertuju ke depan, raut wajahnya yang tampak kesal tak mengurangi kadar ketampanannya. Dia berjalan dengan penuh wibawa menuju pintu utama istana.

Saat pintu dibuka, terlihat sekitar sepuluh orang dewasa berbaris untuk menyambutnya. Kesepuluh orang itu membungkuk untuk mengucapkan salam dan memberikan seluruh rasa hormat mereka kepada bocah ini. Anak itu berhenti sejenak untuk menunggu instruksi dari sang pemimpin barisan yang biasa disebut kepala pelayan di istana ini.

"Selamat datang, Pangeran Akaba," sapa pelayan itu ramah, namun tak ditanggapi oleh siempunya nama. "Sang Ratu telah menunggu anda di ruang singgasana," kata kepala pelayan lagi.

"Hn," anak kecil yang diketahui bernama Akaba hanya menjawab sekenanya lalu segera pergi menjauh dari barisan orang dewasa tadi.

Thedeimonkingdom

Inilah dia, tempat yang paling diangung-agungkan, tempat yang paling dipuja-puja, tempat yang menjadi impian orang-orang yang melihatnya. Sebuah bangunan megah, mewah, dan indah, dengan desain yang sangat menakjubkan baik desain interior maupun eksterior. Bangunan yang menjadi tempat tinggal orang-orang yang memiliki kedudukan penting. Bangunan yang bernama, Istana Deimon.

Bocah berambut merah tadi terus menelusuri lorong-lorong yang didominasi oleh warna merah dengan sedikit warna emas sebagai pelengkap. Lorong-lorong itu dihiasi oleh lukisan-lukisan besar, lukisan keluarga kerajaan. Sampai didepan sebuah pintu emas besar, anak itu berhenti, memandang sebentar, lalu mulai berjalan lagi. Penjaga yang berada didepan pintu emas tersebut membungkuk setelah menyadari tuan mudanya datang. "Selamat datang Pangeran Akaba," sapanya sama seperti kepala pelayan tadi.

Tanpa menunggu perintah, dia mulai membukakan pintu untuk tuannya. Akaba mulai berjalan masuk. Dibalik pintu yang berwarna emas tersebut, ada sebuah ruangan yang sangat megah. Ruangan itu di dominasi warna merah, dengan perabotan di dalammya yang berwarna emas atau mungkin memang terbuat dari emas. Lantainya terbuat dari batu marmer berwarna hitam. Ruangan tersebut memiliki beberapa jendela yang besar, tinggi menjulang dengan tirai panjang berwarna emas sebagai penghiasnya. Lampu-lampu kristal terpasang disana-sini dan menambah kesan mewah pada ruangan ini.

Akaba berjala diatas karpet merah menuju kesebuah singgasana yang menjadi pusat dari kerajaan, singgasana Raja dan Ratu Deimon. Namun kini yang terlihat sedang bersanding di singgasana hanyalah sang Ratu. Sudah seminggu ini Sang Raja yang biasanya menemani Sang Ratu sedang berada di negeri seberang. Hari ini adalah hari kepulangannya. Ya, tepat setengah jam lagi.

Akaba berhenti tepat didepan singgasana, dia membungkuk memberi hormat. Sang Ratu tersenyum seadanya. "Bagaimana anakku? Kau menemukannya?" tanya Sang Ratu yang diketahui bernama Suki.

Suki adalah anak seorang pedagang terkemuka di desa. Ayahnya adalah pedagang yang sangat sukses dan ibunya adalah ibu rumah tangga yang baik. Sebelum menikah dengan Sang Raja, dia memiliki suami yang sangat kaya raya. Hidupnya sangatlah sempurna, ditambah lagi kehadiran anak pertamanya, Akaba. Sayangnya orang tua Suki telah meninggal dalam kecelakaan. Dan dua bulan setelah orang tuanya meninggal, suaminya menyusul. Kehidupan Suki mulai susah. Dia harus berusaha mati-matian menghidupi dirinya dan Akaba yang usianya belum genap tujuh tahun. Hidupnya sangat menderita kala itu, hingga ia bertemu Yuuya disebuah club malam.

Yuuya adalah seorang raja. Kenapa dia berada di club malam? Jawabannya adalah frustasi. Sudah enam bulan sejak kepergian istri tercintanya, Ratu Mizuki. Walau sudah cukup lama, namun perasaan sedih dan duka yang mendalam masih setia hinggap didalam benaknya. Sejak kepergian istrinya, dia menghabiskan waktunya didalam sebuah club. Perlu diketahui saat itu kerajaan Deimon hampir hancur. Yuuya bingung harus berbuat apa. Banyak beban yang harus ditanggungnya. Kelangsungan kerajaan, kehidupannya dengan anak sematawayangnya, dan rasa sedihnya yang belum hilang.

Dulu saat Mizuki masih hidup, apapun masalah yang dihadapi Yuuya akan terasa sangat ringan, sebab semua masalah akan mereka tanggung bersama. Namun kini, tak ada lagi yang bisa diajak untuk menanggung semua masalahnya, tak ada lagi yang mau mendengar keluh kesahnya, tak ada lagi yang menjadi sandaran saat Yuuya lelah. 'Kenapa harus Mizuki yang pergi? Kenapa harus dia yang menanggung penyakit itu? Kenapa harus aku yang kehilangan?' itulah pertanyaan yang sering muncul dibenak Yuuya.

Namun semangat Yuuya yang hampir luntur tersebut dapat kembali bersinar saat dia bertemu Suki. Dimata Yuuya, Suki adalah wanita yang baik, pintar, cantik, dan memiliki wibawa. Walaupun dia seorang janda beranak satu, namun dimata Yuuya, Suki adalah wanita yang sempurna. Sempurna untuk mengisi kehidupannya, sempurna untuk menggantikan posisi mendiang istrinya, dan sempurna untuk merawat anak kesayangannya.

Dan tepat sebulan yang lalu mereka melangsungkan pernikahan. Pernikahan yang sangat mewah. Semua orang bahagia disana, kecuali satu orang, Hiruma Youichi.

Hiruma Youichi atau yang akrab dipanggil pangeran Hiruma. Dia adalah satu-satunya orang yang tidak menyetujui pernikahan ini. Dimata Youichi yang berusia tujuh tahun, Suki tak lebih dari perempuan yang akan menghabiskan harta keluarganya. Menurut Youichi, Suki tak pantas jika disbanding-bandingkan dengan ibunya, Mizuki. Suki adalah wanita jahat.

Youichi sering melihatnya mengadakan pesta minum-minum dikerajaan, berbelanja barang-barang mewah, dan memecat pelayan kerajaan seenaknya. Sejak menikah dengan Suki, Yuuya sering pergi ke negeri tetangga. Yuuya jarang berada di kerajaan. Mungkin dia berfikir sekarang telah ada Suki yang dapat mengurus semuanya, jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun semua itu terbalik. Suki menyalahgunakan kekuasaannya, memerintah seenaknya, dan mengatur semaunya.

Youichi sering mengadukan hal tersebut pada ayahnya, namun tak ditanggapi. Menurut Yuuya, Youichi seperti itu karena masih belum terbiasa dengan kehadiran ibu baru. Ditambah lagi, setiap Yuuya berada dirumah, Suki selalu mengubah sikapnya seratus delapan puluh derajat. Itu yang membuat Yuuya lebih percaya kepadanya dibandingkan anaknya sendiri.

Kembali kepercakapan Suki dan Akaba.

"Aku tidak menemukannya. Sudahlah bu, biarkan saja anak itu. Nanti dia juga pulang sendiri. Kalaupun tidak pulang, bukankah itu lebih baik?" kata Akaba kesal.

"Ya… mungkin memang lebih baik untuk kita, namun tidak untuk ayahmu. Kalau sampai dia tahu anak kesayangannya hilang, ibu bisa-bisa diceraikan olehnya, dan kita akan hidup miskin lagi. Kau mau itu terjadi?" ucap Sang Ratu panjang lebar.

"Lalu bagaimana? tanya Akaba lagi.

Belum sempat menjawab, seseorang yang tadi bertugas sebagai kepala pelayan datang dengan tergesa-gesa.

"Ada apa?" tanya Sang Ratu.

"Raja Yuuya telah sampai, Yang Mulia." kata kepala pelayan terengah-engah.

"Baiklah, gerakkan semua penjaga untuk mencari anak itu, jangan sampai Raja tahu kalau Pangeran Youichi tak ada di istana" kata Ratu Suki memberi instruksi.

"Baik, Yang Mulia." jawab kepala pelayan dan segera pergi.

"Bagaimana ini?" tanya Akaba cuek.

"Biar ibu yang menghadapi ayahmu." kata Sang Ratu berusaha tenang.

Thedeimonkingdom

Sang Raja berjalan penuh wibawa. Sudah lama ia tidak menyentuh lantai istana tercintanya. Penyambutan dilakukan oleh beberapa pelayan yang berbaris rapi. Dia berjalan menuju ruang keluarga. Biasanya sekarang keluarganya tengah berkumpul disana. Dia membuka pintu yang tak kalah besarnya dengan ruang singgasana, di dalamnya juga tak kalah megah. Mungkin memang tak banyak barang-barang yang terbuat dari emas, namun ruangan ini tak kalah mewah dengan ruangan lain. Di ruangan ini biasanya dia menghabiskan waktu bersama keluarganya, terutama saat mendiang istrinya masih hidup, tempat ini mejadi favorite keluarganya. Didalam ruangan ini ada tungku api yang cukup besar. Ada sofa-sofa yang empuk berwarna hitam dengan karpet berwarna merah dibagian bawahnya. Lampu kristal menggantung dan memberi kesan mewah. Jendela-jendela besar juga menjadi penghias ruangan ini. Beberapa foto keluarga, foto pernikahan, dan foto pangeran Akaba dan Youichi terpampang di dinding maupun di meja yang ada di ruangan ini.

Raja membuka pintu dan menemukan dua orang yang sangat ia cintai. Ratu Suki istrinya dan Akaba anak tirinya. Mereka tersenyum kearah Sang Raja. Dia menghampiri keduanya dan menggendong Akaba sebagai ungkapan betapa rindunya dia dengan rumah.

Merasa cukup, Raja Yuuya menurunkan Akaba dari gendongannya. Kini ia mencium istrinya dengan penuh kasih. Tunggu dulu, ada yang kurang…

"Dimana Youichi?" pertanyaan yang sama sekali tak diharapkan oleh Sang Ratu.

"Dia…euhmm dia belum pulang," kata Sang Ratu dengan raut wajah bersalah.

"Belum pulang? Memang dia kemana?" tanya Sang Raja lagi. Kini ia mulai panik.

"Itulah, dia tidak izin mau kemana, aku sudah mencarinya, namun hasilnya belum ada." kata Sang Ratu penuh penyesalan.

"Bagaimana bisa dia keluar istana?"

"Maafkan aku, mungkin aku yang ceroboh. Aku sering menasehatinya, namun tak pernah sekalipun didengarkan. Hiks… mungkin dia masih belum bisa menerima kehadiranku dan Akaba." kini Sang Ratu mulai menangis.

"Sudahlah, biar nanti aku yang akan menasehatinya. Sudah jangan menangis," sang Raja berusaha menenangkan istrinya.

'acting ibu boleh juga,' batin Akaba.

Thedeimonkingdom

Kini jam sudah menunjukan pukul enam sore. Suasana di sekitar kerajaan sudah sepi. Terlihat dari kejauhan siluet seorang anak laki-laki tengah berjalan dengan santai. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celananya. Matanya menatap lurus. Kilau toskanya memancarkan sinar yang indah.

Sang penjaga yang sedari tadi berjaga didepan gerbang besar istana, segera bersiap-siap menyambut kedatangan tuannya. Dia membukakan gerbang besar itu, membungkuk dan mengucapkan "Selamat datang, Pangeran Hiruma,"

"Hn," jawab anak itu sekenanya.

Dia masuk tanpa memperdulikan keberadaan penjaga tadi. Langkahnya masih memiliki tempo yang sama. Kini dia berada didepan pintu utama istana. Disana seorang pelayan telah menunggunya dengan was-was. Youichi berhenti tepat didepan kepala pelayan tersebut.

"Selamat datang, Pangeran Hiruma," sapa kepala pelayan sambil membungkuk. "Tuan dari mana saja?" tanya kepala pelayan lembut.

"Bukan urusanmu," jawab Youichi dingin.

Kepala pelayan tersenyum, memakumi tingkah tuannya ini. Sejak kepergian ibunya, Pangeran Hirumanya ini memang sedikit lebih tertutup.

"Sang Raja sudah pulang, tuan. Dia menunggumu di ruang keluarga." kata kepala pelayan memberi informasi dan sukses membuat Youichi terkejut, namun dia masih bisa mengontrol raut wajahnya.

Youichi berjalan seolah tak peduli dengan ucapan pelayan tadi. Dia terus berjalan melewati lorong-lorong menuju ruang keluarga, tempat ayahnya menunggu. 'Sial.. kenapa dia sudah pulang?' batin Youichi.

Youichi hampir sampai didepan pintu ruang keluarga. Sang penjaga membungkuk dan segera membukakan pintu untuknya. Youichi masuk dan mendapati tiga orang yang tak asing lagi baginya.

Ada ibu tirinya, adik tirinya, dan ayahnya yang sudah lama tak ia lihat. Mereka sedang bercengkrama rupanya. Pangeran Akaba duduk disebelah ayahnya, dia sedang mencoba robot-robotan baru hadiah dari ayahnya. Sementara ayahnya yang duduk disebelahnya sedang tertawa melihat tingkah anak tirinya yang menggemaskan. Sang Ratu yang duduk berhadapan dengan Sang Raja pun ikut tertawa.

Youichi teringat saat ia bersama keluarganya dulu, saat ibunya masih hidup. Saat-saat yang indah. Bercanda, tertawa, dan bermain bersama. Setiap hari mereka lewati bersama, baik didalam istana, ditaman, didekat sungai, mereka selalu bersama. Sang Raja selalu punya waktu untuk keluarga kecilnya dulu, tidak seperti sekarang. Dia ingat saat mereka bertiga pergi piknik, walau hanya pergi ke halaman belakang istana. Disana Youichi dan ayahnya berencana mengumpulkan bunga-bunga yang akan dijadikan hadiah ulang tahun ibunya. Youichi dan ayahnya sepakat merangkai bunga mawar yang ada ditaman. Bunga-bunga itu tampak indah. Namun saat memberikannya, bukan ucapan terima kasih yang terlontar dari mulut sang ibu, tapi malah omelan panjang. Ternyata bunga tersebut adalah tanaman milik sang ibu yang sudah ia rawat sejak lama. Wajar saja sang ibu marah. Akibatnya Youichi dan ayahnya dihukum untuk menanam kembali mawar yang baru. Akhirnya acara piknik berubah menjadi acara berkebun, namun tak mengurangi kebahagiaan diantara mereka. Sang ibu yang tadinya marah juga ikut membantu. Mereka berkebun bersama, tertawa, dan bercanda. Youichi bahkan masih ingat senyuman indah ibunya. Kenapa saat-saat seperti itu harus cepat berlalu?

"Youichi, kau sudah pulang ,nak?" suara Yuuya membuyarkan lamunan Youichi. Kini perhatian ketiga orang itu tertuju pada Youichi.

"Youichi, kau dari mana saja? Ibu mengkhawatirkamu," kini Suki ikut-ikutan bicara.

"Cih… berhenti memanggilku seperti itu. Yang boleh memanggilku 'Youichi' hanya orang tuaku," kata Youichi sedikit dengan nada kesal.

"Youichi, dia ini kan ibumu, berarti dia adalah orang tuamu juga. Kau tidak boleh berkata kasar kepadanya." kata sang ayah tegas membela istrinya.

"Sudah berapa kali kubilang, DIA BUKAN IBUKU !" kata Youichi dengan nada yang sedikit dinaikkan.

"cukup Pangeran Youichi, kau sudah keterlaluan. Kau ayah hukum tidak makan malam. Sekarang masuk ke kamarmu." kata Sang Raja marah.

Youichi tidak menanggapi dan langsung pergi. Dia kesal, sejak menikah dengan Suki, ayahnya berubah menjadi menyebalkan. Apakah virus menyebalkan Suki menular pada ayahnya?

Youichi terus berjalan tak memperdulikan sekitanya. Para pelayan melihatnya heran. Dia membuka pintu kamarnya, dan membanting pintunya dari dalam.

Dia menjatukan tubuhnya keatas kasur. Mungkin tidur dapat mengurangi emosinya yang sedang memuncak ini. Kamar Youichi tak berbeda dengan ruangan lain. Besar dan megah masih menjadi ciri utamanya. Dominasi warna merah dan emas juga lantai marmer hitam sama seperti ruangan lain. Bedanya, ruangan ini tidak memiliki lampu kristal yang mewah seperti yang dimiliki ruangan lain. Di ruangan ini terdapat sebuah ranjang king size dengan selimut berwarna hitam. Ada juga beberapa lemari pakaian yang besar-besar. Sofa, meja, rak buku dan beberapa perabot mewah juga tersedia disini.

Sudah satu jam Youichi tertidur. Dia membuka matanya tepat saat ia merasakan hawa dingin yang mulai masuk melalui jendela yang berada tepat disamping tempat tidurnya. Dengan malas, Youichi menutup jendela itu. Setelah itu dia bergegas ke kamar mandi. Walau kepalanya sedikit pusing, Youichi tidak akan membiarkan tubuhnya kotor.

Selesai mandi, dia berjalan kearah balkon kamarnya. Melihat bintang adalah kegiatan rutinya, apalagi saat sang ibu masih ada. Mereka biasa melihat bintang dan menghitungnya bersama. Jika sedang tidak ada bintang, biasanya Youichi akan ngambek dan ibunya menjadi sasarannya.

Seperti sekarang, kelihatannya para bintang tidak akan datang malam ini. Youichi ingin ngambek seperti biasanya, tapi sekarang tak ada lagi orang yang akan menjadi sasarannya. Jadi dia lebih memilih masuk daripada harus sakit.

Kesepian, kata itulah yang ia rasakan sekarang. Satu kata yang tak pernah ia harapkan. Namun ingatannya kembali kepada gadis auburn yang sadang tersenyum itu. Mamori, gadis cantik yang akan mengisi hari-harinya yang suram menjadi menyenangkan. Youichi tersenyum mengingat saat anak itu menggembungkan pipinya, terlihat begitu menggemaskan.

"Besok kita akan bertemu kembali gadis jelek, bersiaplah." kata Youichi berbicara pada dirinya sendiri.

Lamunan Youichi terhenti saat ada yang mengetuk pintu kamarnya. Terlihat seorang anak laki-laki seumuran dengannya, namun wajahnya tampak lebih tua. Dia adalah anak dari kepala pelayan di istana ini. Musashi, begitulah orang memanggilnya.

"Ada apa orang tua sialan?" kata Youichi kasar.

"Tidak apa-apa, aku hanya diperintahkan Raja untuk membawakanmu makan malam," katanya.

"Tadi dia bilang aku dihukum tidak makan malam."

"Ya…biar bagaimanapun dia tak akan membiarkan kau mati kelaparan,"

"Berikan padaku," kata Youichi seraya mengambil nampan berisi nasi lengkap dengan lauk pauknya.

"Aku juga ingin mengambil pakaianku yang kau pinjam tadi pagi," kata Musashi sambil mengulurkan tangannya.

Youichi segera mengambilkan pakaian yang tadi dipinjamnya dan memberikannya pada Musashi. Sekedar informasi, Musashi dan Youichi sudah lama bersahabat. Youichi sudah menganggap Musashi sebagai anggota keluarganya. Jika disuruh memilih antara Akaba dan Musashi, sudah jelas dia akan lebih memilih Musashi. Untuk sekarang ini, hanya Musashi yang mau mendengarkan setiap keluh dan kesahnya.

"Ini, aku belum mencucinya, jadi kau cuci saja sendiri," kata Youichi tanpa dosa.

"Aku sudah menduganya," kata Musashi sabar. Dia selalu memaklumi setiap tingkah laku sahabatnya ini. Dia memahami betul apa yang dirasakan Youichi saat ini. Dia juga pernah merasakannya dulu. Sangat menyakitkan jika kau harus ditinggal pergi oleh orang yang kau cintai, terlebih lagi itu ibumu. Ini adalah saat-saat yang sulit, diusiamu yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu, ibumu malah meninggal. Kau bisa bayangkan rasa sakit yang ditanggung anak ini?

"Aku akan meminjam bajumu lagi besok," kata Youichi sambil melahap makanannya.

"Untuk apa?" tanya Musashi

"Bukan urusanmu,"

"Jika Raja tahu bagaimana?"

"Dia tidak akan tahu selama kau menutup mulut sialanmu,"

"Memangnya kau mau kemana lagi besok?"

"Sudah kubilang itu bukan urusanmu, jika sudah selesai lebih baik kau pergi. Aku ingin istirahat," kata Youichi kesal.

"Baiklah.. tapi jika Raja tahu, aku tak mau menanggungnya,"

Akhirnya percakapan mereka berhenti sampai disini. Musashi pergi meninggalkan Youichi yang sedang sibuk dengan acara makan malamnya. Dia sama sekali tidak menggapi perkataan Musashi. Setelah selesai makan, dia bergegas menuju alam mimpinya, berharap bertemu Mamori disana.

Thedeimonkingdom

Malam semakin larut, hujan mulai membasahi kerajaan dan desa Deimon. Dari jendela sebuah rumah yang berada di pinggir hutan, terlihat gadis kecil tengah tersenyum mengingat pertemuan pertamanya dengan iblis kecil itu.

"Siapa kau? Lepaskan aku!"

"Aaaaaaaaaaaahhhhhh…. Hantu!"

"Hei..Diamlah! Aku bukan hantu, dasar bodoh!"

"Kau tidak tahu siapa aku?"

"Memangnya kita pernah bertemu?"

"Tidak. Perkenalkan Namaku Hiru…. Ehm, maksudku Youichi. Kau bisa memanggilku You."

"Aku Anezaki Mamori. Salam kena,l"

Dia tersenyum mengingat seringai pertama yang ditunjukan anak itu padanya. Seringai yang dapat membuatnya merasa nyaman. Dia tak sabar menunggu besok. Hari-hari akan terasa lebih indah dengan kehadiran sahabat barunya itu.

"Bagaimana caranya kau membawaku kesini?"

"Menggendongmu."

Tiba-tiba wajah gadis itu memerah mengingat kejadian tadi siang, 'dia benar-benar menggendongku, perlu kuulangi, MENGGENDONGKU,' batin sang gadis kegirangan. Berulang kali ia tersenyum membayangkan kejadian tadi siang.

"Mamo-nee ngelamunin You-nii ya?" suara itu membuyarkan lamunan sang gadis. Dia memalingkan wajahnya ke sumber suara. Dan didapati adik perempuannya yang sedang tesenyum menggoda.

"Ti….tidak kok…" kata Mamori gugup.

"Bilang saja kalau Mamo-nee merindukan You-nii kan? Mengaku saja Mamo-nee,"

"Kau ini, ini sudah malam, cepat tidur !" perintah Mamori mengalihkan pembicaraan

"ahahahah… tebakanku benar, wajah Mamo-nee merah." kata Suuzuna semakin menggoda.

"SUUZUNA….!" teriak Mamori.

Thedeimonkingdom

TBC

Update chapter 2…. Gak jelas banget ya….? Biar bagaimanapun tetep Review ya…? Ya? Ya? #maksa

yang ini rasanya kurang lengkap, tapi aku gak tau dimana. Jadi mohon bantuannya…

Kurang panjang? Di chapter 3 dipanjangin deh…. :)

nb. ratingnya naik..