THE DEIMON KINGDOM

Disclaimer: Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata

Pair: Hiruma Youichi & Anezaki Mamori

Genre: romance, family, friendship, sedikit mengandung unsur dongeng

Story: yuci-chan

Rated: T

Warning:OOC, tidak sesuai alur EYESHIELD 21, sinetron banget, TYPO tersebar, gak jelas

Dan segala macam kekurangan lainnya, mohon di maafkan.

Chapter 3

Sebelum memulai cerita ini, Yuci-chan mau mengucapkan banyak terima kasih kepada ALLAH swt. Yang telah memberikan hidayah disaat Yuci-chan kehabisan ide. Terima kasih juga untuk kepada semua author yang setia menunggu dan membaca fanfick abal buatan yuci. Semoga kalian tidak kapok. Kekekekeke

Terima kasih juga untuk adikku Yovi yang telah mengajariku beberapa hal, kau sangat membantuku, kekeke *cubit pipiYovi

Terima kasih juga untuk Mayou-san yang sudah bersedia aku tanya-tanya terus… *lirik Mayou

Terima kasih juga untuk modemku yang sekarang sudah tidak ngambek lagi

Terima kasih juga- (authors : udeh *nempeleng)

Iye…iye… sekarang kita mulai aja ceritanya. Semoga chapter 3 bisa memuaskan.

Mentari mulai bersinar dari ufuk timur, memancarkan cahaya terang yang tak ada tandingannya. Sepasang bola mata beriris toska mulai terbuka, memancarkan sinar yang indah bagi yang melihatnya. Anak laki-laki itu mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengurangi silau yang dari tadi mengganggunya. Setelah mulai terbiasa dengan cahaya menyilaukan tadi, dengan rasa malas, anak laki-laki berambut hitam itu bangun dari tidur nyenyaknya. Merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa tegang akibat bergelut dengan alam mimpi tadi malam. Matanya yang masih belum fokus melirik jam dinding mewah yang ada di dalam kamarnya. Matanya menyipit, dan membulat sempurna saat ia sadar jarum jam menunjuk angka sembilan tepat.

'Sial…. Aku kesiangan,' batin anak berambut hitam tadi. Dengan segera ia mengambil haduk dan menuju ke kamar mandi. Setelah selesai dengan acara mandinya yang menghabiskan waktu setengah jam, anak berambut hitam yang diketahui bernama Youichi segera berpakaian rapi ala kerajaan. Baju kerajaan berwarna emas dengan campuran hitam menambah kesan keren pada anak ini. Youichi mendengus melihat pantulan dirinya di cermin.

"Tch…. Menjijikan," gumam Youichi pada dirinya sendiri.

Setelah merasa cukup, Youichi segera turun dari kamarnya yang berada di lantai tiga istana menuju ke lantai dua istana. Niat awal Youichi adalah makan bersama dengan keluarganya, ups… ralat dengan ayahnya saja, karena sampai kapanpun dia tidak akan menganggap dua orang itu sebagai keluarganya. Namun niatnya terpaksa harus digugurkan, bukan hanya sang ayah, ibu dan adik tirinya pun sudah tak ada.

Tak heran mereka sudah tidak ada, acara sarapan pagi itu jadwalnya dari pukul setengah delapan hingga pukul setengah sembilan, dan sekarang sudah pukul sepuluh. Ya… bisa dikatakan Youichi, terlambat.

Ia menghampiri meja makan yang tengah dibersihkan oleh anak kepala pelayan, Musashi. Ada juga beberapa pelayan yang ikut membantunya. Menyadari putra mahkota mereka datang, para pelayan membungkuk hormat, termasuk Musashi. Padahal sudah beratus kali Youichi bilang padanya 'Jangan melakukan hal menjijikan seperti itu. Kau bukan pelayan, kau itu budakku. Mengerti ?' Musashi mengerti makna dari kata budak adalah sahabat. Setiap kali Youichi berkata seperti itu, Musashi hanya dapat tersenyum memahami makna terselubung di balik kalimat Youichi. Walau dia anak yang terlihat kasar tapi Musashi yakin terselip kebaikan dari sang ibu di dalam hatinya. Meskipun memahami maksud Youichi, tapi tetap saja Musashi tidak enak hati, apalagi jika di depan orang banyak seperti sekarang.

Youichi menghampiri Musashi yang tengah asyik membersihkan meja makan. Tanpa ditanya, Musashi tau apa yang sedang dipikirkan sahabatnya ini.

"Raja dan Ratu sudah berangkat sejak setengah jam yang lalu, mereka bilang ada urusan dengan para petinggi kerajaan, sedangkan Pangeran Akaba sedang bermain di ruang keluarga," kata Musashi datar.

"Hn," jawab Youichi sekenanya.

"Tadi aku ingin membangunkanmu, tapi Raja tidak memperbolehkannya. Katanya kau tidur nyenyak sekali, jadi tidak usah dibangunkan dulu." Musashi terus melakukan kegiatannya mengelap meja makan yang hampir bersih itu.

"Kau mau sarapan apa?" tanya Musashi sambil menoleh ke arah tuannya.

"Tidak," jawab Youichi cuek.

"Sang Raja bilang kalau kau ingin pergi main harus sarapan dulu." Musashi melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.

"Aku masih kenyang. Hei, apa itu kue sus?" tanya Youichi sambil menunjuk ke arah sekotak kue yang berada di atas meja.

"Ya… kau mau?" tanya Musashi.

"Berikan padaku semuanya," kata Youichi sambil megulurkan tangannya.

Musashi mengambil kotak besar penuh kue sus tersebut dan meletakkannya di tangan Youichi. Kue sus adalah makanan kesukaan mendiang ibunda Youichi. Walau sekarang dia sudah tak ada, ayah Youichi masih tetap membeli makanan kesukaan ibunya itu. Mungkin untuk mengurangi rasa rindu. Biasanya kue ini akan habis dalam sekejap saat ibu Youichi masih hidup, tapi sekarang kue ini hanya jadi pajangan yang tak tersentuh di meja makan dan akan berakhir di tong sampah.

"Tumben sekali kau mau kue sus, bukankah kau tidak suka makanan manis, hah?" tanya Musashi sambil menyerahkan kue tersebut.

"Bukan urusanmu," kata Youichi dingin.

"Kau selalu seperti itu." Musashi hanya dapat tersenyum melihat tingkah sahabatnya ini. Musashi sedikit khawatir melihat sahabatnya yang semakin lama semakin tertutup. Biar begitu, Musashi tetap akan menunggu sahabatnya ini untuk menceritakan semuanya padanya. Rasa sakit, sedih, senang, dan marah, Musashi yakin suatu saat Youichi pasti mau bercerita padanya. Mungkin agak mustahil, tapi Musashi selalu siap untuk mendengar keluh kesah sahabatnya ini kapanpun Youichi mau.

"Oi, mana baju yang kau janjikan?" tanya Youichi datar.

"Oh iya… sebentar aku ambilkan." Musashi pergi meninggalkan Youichi ke suatu ruangan. Setelah beberapa menit berlalu, ia kembali dengan sepasang pakaian yang dilipat rapi dalam genggamannya. Musashi menghampiri Youichi yang sekarang tengah duduk dan memangku dagunya dengan tangan kanannya.

"Ini," kata Musashi seraya menyerahkan pakaian yang ia bawa kepada Youichi. Youichi menerimanya dengan wajah malas seperti biasa. Youichi turun dari kursi dan segera berangsur pergi jika saja sebuah suara tak membuat langkahnya terhenti.

"Kalau Raja sampai tahu, aku tak mau tanggungjawab," Musashi yang masih berdiri dibelakang Youichi mulai mengingatkan.

"Kau tak usah khawatir, orang tua sialan," kata Youichi membelakangi Musashi. Youichi meneruskan langkahnya sambil menyeringai.

"Dasar…" Musashi hanya dapat bergumam pelan sambil tersenyum. "Pasti ada sesuatu yang setan itu sembunyikan." kini Musashi kembali mengerjakan tugasnya lagi.

Thedeimonkingdom

Hiruma POV.

Aku berjalan dengan santai ke halaman belakang istana. Sebagian halaman ini cukup terawat, namun sebagian yang lain tidak. Sejak ibuku meninggal, halaman ini jarang dikunjungi orang. Hanya ada tukang kebun sialan yang biasa membersihkan halaman ini.

Aku berjalan kearah bagian yang kurang terawat. Istana Deimon dilindungi oleh tembok tinggi sialan yang terbuat dari beton sialan yang bisa dibilang tidak tertembus oleh siapapun, kecuali aku. Aku mengendap lewat semak-semak yang cukup tinggi. Aku mencari gerbang sialan yang biasa menghubungkanku dengan dunia luar. Gerbang yang membuatku dapat mengenal cewek sialan itu.

Setelah lama mencari gerbang sialanku, akhirnya aku menemukannya. Gerbang yang lebih pantas dibilang lubang ini cukup besar. Jadi aku tidak perlu bersusah payah untuk melewatinya.

Ya-ha…. Sekarang aku sudah sampai di dunia seberang. Dunia yang penuh dengan kebebasan, dunia yang penuh dengan kebahagiaan. Tak ada yang akan mengatur-ngaturmu seperti di Istana, tak ada yang akan memarahimu jika kau melakukan suatu kesalahan. Hidup di sini bagaikan di surga. Tidak seperti di Istana. Kenapa aku berkata seperti itu?

Aku yakin orang akan berkata aku gila, tapi memang benar. Di Istana semua kehidupanku diatur oleh yang namanya jadwal sialan. Kapan aku harus makan, tidur, mandi, main, pertemuan ini, pesta itu, rapat ini, rapat itu, semuanya diatur. Benar-benar tidak bebas. Aku seperti boneka bodoh yang ditarik kesana kemari. Menjijikan.

Berbeda dengan disini. Disini tidak akan ada yang mengaturku seperti di Istana, tak akan ada yang memarahiku. Semua bebas ku jalani, selama aku tidak melanggar peraturan. Inilah hidup sebenarnya.

Aku berjalan mencari tempat sepi untuk mengganti baju kerajaan sialanku dengan baju yang diberikan oleh si tua tadi.

Kini aku sudah berganti baju, baju berwarna merah dengan celana jeans panjang membuat diriku lebih nyaman. Sebelum pergi, aku melihat baju kerajaan sialanku yang tergeletak dengan malas.

'Hah… biar sajalah. Masih ada banyak dilemari,' batinku seraya pergi meninggalkan baju sialan itu. Aku berjalan santai menyusuri jalan setapak yang ada di pinggir hutan. Tangan kananku membawa sekantung penuh kue sus. Tangan kiriku kumasukkan ke dalam saku celana. Mataku menatap tajam ke depan. Inilah hari pertama aku bermain bersamanya.

"kekekekekeke….bersiaplah gadis jelek."

Thedeimonkingdom

Aku hampir sampai di sebuah rumah. Mataku masih menatap kosong ke depan, ralat, sebenarnya mataku menatap satu objek menarik. Cewek jelek itu ada disana. Dia melambaikan tangannya padaku.

"Hei, You…" dia tersenyum sambil melambaikan tangannya.

Aku tak menggapi. Kini aku berada tepat di depannya. Aku menyerahkan kantung plastik yang tadi kubawa. Dia menerimanya dan berkata, "Apa ini?"

"Lihat saja sendiri," kataku datar.

"Wah…kue, sepertinya enak. Ini untukku?"

Dasar cewek bodoh, sudah jelas aku menyerahkan kantung itu padanya, dia masih bertanya juga.

"Hn," aku hanya menjawab sekenanya.

"Ah… terima kasih ya, You." Dia memberikan senyum itu lagi. 'Sial… senyum sialanmu itu, kenapa persis sekali dengan senyuman ibuku?'

"Kau sedang apa disini?" tanyaku mengalihkan padangan dari senyum manis sialan miliknya itu.

"Eh? A-aku…aku sedang menunggu ayahku. Ahahahah," jawabnya disertai tawa sialannya yang aneh.

"Kau menunggu ayahmu atau menungguku? Kekekekekek…" aku mulai menggoda gadis bersurai auburn itu. Entah kenapa aku ingin menggodanya saat ini.

"Hah? Ti-tidak kok…" jawaban macam apa itu? Tidak ada nyambung-nyambungnya dengan pertannyaanku. Tapi aku senang, kini wajahnya mulai memerah. Sungguh menggelikan.

"Yang benar?" tanyaku lagi dengan nada yang masih menggoda tentunya. Aku mempersempit jarak antara wajahku dengan wajahnya.

"Be..benar kok," katanya lagi dengan wajah yang semakin memerah. Sungguh menyenangkan menggoda anak ini, aku sampai ketagihan.

"Yang benar?" tanyaku dengan nada yang semakin menggoda.

"I..iya.." katanya lagi.

"Yang benar?"

"Iya! Sudahlah You, lebih baik kita masuk. Ibu sedang membuatkan makan siang untuk kita." Kini dia mulai mengalihkan pembicaraan. Dasar cewek jelek, aku sedang senang menggodanya, dia malah membicarakan hal lain, hah..

Dia menarikku untuk masuk ke dalam rumahnya. Kesan pertama yang kudapat saat aku melihat interior rumah ini adalah, ini rumah atau kandang sapi? Bagian dalam rumah ini tak ada bedanya dengan bagian luar. Bagian dalamnya tampak kecil, sempit, dan terlihat seperti tak ada cukup oksigen untuk bernapas, ditambah lagi asap yang mengepul di dalam ruangan ini. Aku kira ada kebakaran.

Rumah sialan ini terdiri dari lima ruangan, satu ruangan paling besar yang bisa disebut ruang serbaguna, dan empat ruangan lainnya. Disinilah aku, di ruang serbaguna sialan itu. Disini cukup luas, seluas kamar mandi di dalam kamar sialanku. Disini ada sebuah meja makan sialan yang terbuat dari kayu sialan dengan enam kursi sialan yang tertata rapi. Ruangan ini berdinding papan dan berlantai tanah. Di ruangan ini juga terdapat sebuah lemari besar sialan dari kayu yang berisi buku-buku sialan yang terlihat sudah tua. Di pojok sana terdapat sebuah peti sialan entah apa isinya, mungkin mayat manusia, kekekekeke….

"Selamat datang di rumah kediaman keluarga Anezaki," kata cewek sialan ramah, dia mulai terlihat seperti pelayan sialan di rumahku.

"Biar kujelaskan padamu, ini adalah ruang keluarga. Dari sini kita dapat melihat empat pintu yang menuju ke ruangan lain. Pintu yang disana, adalah kamarku dan Suzuna, pintu yang di sebelahnya adalah kamar Sena, lalu yang itu adalah kamar ibu dan ayahku, lalu pintu yang terakhir adalah dapur." Dia menjelaskan sambil menunjuk pintu-pintu itu secara bergantian. Dia benar-benar cocok menjadi pemandu wisata sialan, kekekeke…

"Dimana kamar mandinya?" tanyaku kepadanya. Aku bukannya ingin buang air atau apa, aku hanya bertanya sebab dari tadi dia tak menyebutkan hal itu.

"Kita tak membutuhkan kamar mandi di dalam ruangan," jawabnya masih dengan senyuman.

"Apa?!" tanyaku sedikit berteriak.

"Iya, kalau kau mau ke kamar mandi, ada di bagian belakang rumah ini. Kau bisa keluar lewat dapur, dan disana kau bisa temukan sebuah ruangan yang terpisah dari rumahku, itulah kamar mandinya. Tapi pintunya sedikit rusak, jadi tidak bisa dikunci dari dalam, kau harus mengganjalnya dengan ember yang ada di dalam kamar mandi." Wajahnya sama sekali tidak berubah saat mengatakan hal itu, dasar cewek bodoh.

Sekarang aku bisa mengambil kesimpulan kalau ini bukan rumah yang mirip kandang sapi, tapi lebih tepatnya kandang sapi yang mirip rumah, kekekekek…

"Ya~ You-nii sudah datang…," teriak seseorang yang keluar dari arah dapur. "Ibu, You-nii sudah datang. Ayah, Sena, You-nii sudah datang," teriaknya mengumumkan ke setiap pintu yang ada di rumah ini. Aku menatapnya heran. Kulirik cewek sialan di sampingku, wajahnya tersenyum, 'sial.. kenapa senyum itu lagi?' batinku.

"Ah.. Youichi, kau datang?" suara seorang wanita itu membuatku mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Seperti yang kuduga, ibu cewek sialan dengan adik laki-laki cewek sialan.

"Ya… aku tak'kan mengingkari janjiku," kataku datar.

"Oh.. jadi ini yang namanya Youichi, selamat datang di kediaman Anezaki. Aku Tateo Anezaki, ayah Mamori," kata seorang laki-laki dewasa yang keluar dari arah dapur.

Aku menatap cewek sialan di sampingku, dia juga menatapku. Aku menatapnya sinis dan tajam. Dia jadi salah tingkah dengan tatapanku.

"A…apa?" tanyanya dengan gugup.

"Sepertinya tadi kau bilang sedang menunggu ayahmu di luar," kataku dengan nada mengintrogasi.

"Ehmmm…itu.. ah, ibu aku lapar, kau juga 'kan You?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.

'Dasar cewek pembohong sialan, bilang saja tadi kau sedang menungguku, kekekekek….'batinku tertawa keras.

"Baiklah jika begitu, ayo kita makan siang. Ibu sudah siapkan makanan untuk kalian." Kini ibunya cewek sialan segera pergi ke arah dapur.

Aku, cewek sialan, dua adiknya cewek sialan, dan ayahnya cewek sialan bergegas menuju meja makan sialan yang ada di ruangan ini. Setelah kami semua duduk di tempat masing-masing, ibu cewek sialan datang dengan membawa dandang besar sialan yang mengepul.

Meja sialan ini berbentuk persegi panjang, bagian yang panjang dapat ditempati oleh dua kursi sialan, dan bagian yang pendek hanya satu kursi sialan. Aku duduk di bagian yang panjang, cewek sialan duduk di sampingku. Ayah dan adik laki-laki cewek sialan duduk di bagian yang pendek. Sedangkan ibu dan adik perempuannya duduk berhadapan dengan aku dan cewek sialan.

Di hadapanku kini telah tersedia sepiring nasi dan segelas air putih. Ibu cewek sialan sedikit memajukan badannya untuk menggapai piring sialanku. Dia meletakkan lauk dari dandang besar sialan tadi ke piringku. Lalu melakukan hal yang sama kepada semua anggota keluarganya.

Aku melihat makanan di depanku dengan wajah heran. "Apa ini?" tanyaku polos sambil menunjuk lauk sialan yang berada tepat di samping nasi sialanku.

"Kau tidak tahu ini apa?" tanya cewek sialan dengan wajah yang tak kalah heran.

"Kalau aku tahu, aku tak mungkin bertanya," jawabku kesal.

"Ini kerang, You-nii." Bukannya cewek sialan yang menjawab, malah adik perempuan cewek sialan.

"Kerang ini direbus dengan air yang ditambah garam." Cewek sialan mulai menjelaskan.

"Di rumahku kerang tidak dimasak seperti ini," kataku memberi tahu. Oh, ayolah genius, mana ada makanan seperti ini di kerajaan.

"Ahahahahaha….. iya, kau hanya akan menemukan ini di sini. Walaupun dimasak hanya menggunakan garam, tapi rasanya tetap enak kok." Kini ayah cewek sialan mulai ikut-ikutan berbicara, dia mengacak pelan rambut sialanku, seolah dia telah lama mengenalku. Aku kaget dengan perlakuan sialannya, tapi aku senang.

"Bagaimana cara memakannya?" tanyaku lagi.

"Begini." Ibu cewek sialan menunjukan caranya. Dia mengambil kerang dari piring sialanku, membuka kulitnya, lalu mengulukan tangannya ke mulutku bermaksud menyuapiku. Sekilas bayangan tenatang ibuku mulai menyergap lagi.

"Ibu," kataku spotan.

"Eh?" Ibu cewek sialan dan yang lainnya terkejut, dan itu sukses mengembalikan pikiranku yang tadi melayang entah kemana.

"Ehmm.. maaf." Aku menundukkan kepalaku berusaha menyembnyikan wajah sedihku yang memalukan.

Ibu cewek sialan membelai pipi sialanku dan mengangkat kepala sialanku, membuat mata sialanku kembali menatapnya. Dia tersenyum, senyum yang sama dengan cewek sialan dan ibuku. Senyum yang membuat bagian kecil dalam hati sialanku merasakan kehangatan.

"Aku sudah mendengar cerita tentang ibumu dari Mamo. Kalau kau mau, kau boleh memanggilku ibu," kata ibu cewek sialan lembut sambil tak henti membelai pipiku.

Aku terdiam sejenak, kemudian berkata,"Tidak, terima kasih. Bagiku hanya ada satu orang yang berhak kupanggil ibu, yaitu ibuku sendiri."

Dia tersenyum kemudian melepaskan belaiannya dari pipi sialanku, kulihat yang lain juga tersenyum. Aku tak mau kalah, aku juga tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai. Seringaiku semakin besar saat aku menemukan ide jail untuk menggoda cewek sialan.

"Kecuali…." kataku menggantungkan kalimatku.

"….saat aku sudah resmi menjadi suami anakmu nanti," kataku melirik cewek sialan di sampingku.

Semua diam, kaget dengan ucapanku yang terkesan tidak pantas diucapkan oleh anak seusiaku. Aku melihat mereka satu persatu, wajah mereka benar-benar terlihat bodoh, apalagi cewek sialan. Mulutnya yang masih berisi nasi, terbuka lebar. Sesaat kemudian dia menelan nasinya itu, lalu berteriak,"APA?!"

Wajahnya bersemu merah, 'kekekekekeke…. Kena dia' batinku tertawa lepas.

"Ahahahahahahahahahahahaha…." ayah dan ibu cewek sialan mulai tertawa, dilanjutkan adik-adiknya,"fufufufufufufu….ahahahahah"

"jadi kau berniat melamar anakku?" tanya ayah cewek sialan.

Belum aku mejawabnya, cewek sialan sudah menyelanya. "Ayah… apa-apaan sih?" bentaknya sambil menggemungkan pipinya yang sudah sangat merah itu.

"Ahahahahaha…. Kau ini ternyata anak yang menyenangkan ya You, bagaimana jika selesai makan nanti kita main catur? Kau bisa, kan?" ajak ayah cewek sialan sambil merangkul pundakku.

"Tentu saja," kataku menerima ajakannya.

"Ayah…! Nantikan Youichi mau main denganku," protes cewek sialan seolah boneka kesayangannya telah direbut.

"Oh begitu ya? Ah.. sekali-kali tidak apa-apa 'lah dia main bersama ayah, dia'kan calon mantu ayah. Kau ini belum menjadi istrinya saja sudah cemburu begitu," goda ayah cewek sialan. Kurasa sekarang ada yang mendukungku untuk menggodanya.

"ehmmm itu.. bu..bukan begitu maksudku. Ah, percuma aku bicara sama kalian," kata cewek sialan dengan wajah yang semakin merah. Dia memalingkan wajahnya pertanda dia ngambek.

"ahahahaha… kekekekekekekek," aku dan ayah cewek sialan tertawa bersama.

Anggota keluarga yang lain hanya dapat tersenyum melihat tingkahku dan cewek sialan ini. Walaupun aku baru mengenal mereka semua, tapi aku benar-benar merasa seperti sudah lama akrab dengan mereka. Mereka seperti keluargaku sendiri, bahkan keluarga sialanku saja jarang seperti ini. Mereka memberikan kehangatan yang selama ini aku butuhkan, mereka memberi kebahagiaan yang selama ini aku cari, mereka… aku tak percaya harus berkata kalau aku menyayangi mereka.

Thedeimonkingdom

Selesai makan siang, aku dan cewek sialan pergi bermain ke hutan sialan, tempat pertama kami bertemu kemarin. Aku naik ke atas pohon sialan, dan aku ulurkan tanganku untuk membantunya naik. Kini kami berdua telah berada di batang pohon sialan yang kemarin. Kami duduk sambil sesekali mengayun-ngayunkan kaki kami, merasakan setiap hembusan angin sialan yang menerpa tubuh kami.

Ku lirik cewek sialan yang ada di samping kananku. Nampak ia sedang memakan kue sus yang tadi kubawa untuknya. Sepertinya ini potongan yang ke sepuluh. Dia memakan benda yang menurutku menjijikan ini dengan lahap. Kenapa aku bilang ini menjijikan? Karena rasanya yang terlalu manis, baunya yang tak dapat dijelaskan, ditambah lagi wajah orang-orang yang memakannya yang bisa dibilang sangat menggelikan. Bukan hanya ibuku yang terlihat bodoh jika sudah berhadapan dengan kue sialan ini, bahkan cewek jelek yang baru berkenalan dengan kue ini juga tak kalah terlihat bodoh, kekekekeke….

"Kenapa?" tanyanya yang kini telah menyadari dari tadi aku memperhatikannya.

"Sepertinya mulai sekarang aku harus memanggilmu 'monster sus', kekekekekeke…" ejekku.

"Mou, kau menyebalkan, ayo kita turun," ajaknya sambil mengusap mulut sialannya yang penuh dengan cream.

Aku mengikutinya turun. Kini kami telah berada di bawah, angin di sini tak sekencang di atas pohon sialan tadi, tapi cukup sejuk untuk kami berdua.

"Kita main ini ya?" tanyanya meminta persetujuanku. Dia mengeluarkan sebuah benda sialan yang entah darimana. Benda sialan itu berbentuk seperti burung dua dimensi yang sedang merentangkan sayapnya. Benda sialan ini berwarna merah dengan benang yang mengikat setiap sudutnya. Yap.. kalian pasti tahu, ini adalah layangan sialan.

"Ini layangan, kau pernah memainkannya?" tanyanya lagi karena tak mendapat tanggapan dariku.

"Pernah, tapi dulu. Aku sudah lupa cara memainkannya," jawabku apa adanya.

"Baiklah, nanti akan aku ajarkan. Tapi sekarang… ah, ini," katanya mengeluarkan selembar kertas putih sialan dan sebuah pena sialan lalu memberikannya padaku.

"Apa ini?" tanyaku heran.

"Dasar bodoh, ini kertas dan pena," katanya menjelaskan seolah aku benar-benar tak tahu nama benda ini.

"Aku tahu, tapi untuk apa ini?" tanyaku lagi.

"Untuk menulis surat,"

"Surat?"

"Ya… Surat untuk ibumu." Dia tersenyum manis.

"Kenapa aku harus menulis surat?" tanyaku semakin heran, memangnya kita bisa menulis surat untuk orang yang sudah mati? Anak ini benar-benar bodoh.

"Tentu saja harus. Apa kau tidak merindukan ibumu? Aku tahu kau merindukannya. Dengan menulis surat ini, kau bisa mengungkapkan semua rasa rindumu. Lalu kita terbangkan dengan layang-layangku. Mungkin saja ibumu membacanya dari atas sana." Dia menjelaskan panjang lebar.

"Mana mungkin bisa seperti itu? Memangnya kau kira layanganmu bisa menembus dunia arwah, hah?" tanyaku meremehkan.

"Uuuuhhhhh kau ini, sudah tulis saja. Kalaupun tidak bisa dibaca oleh ibumu, setidaknya kau sudah meluapkan rasa rindumu, dan itu bisa membuatmu lebih baik serta mengurangi rasa penasaranmu," omelnya kepadaku yang tidak mau menuruti perintahnya.

Aku menaikan sebelah alisku, mencoba memikirkan baik-baik perkataan gadis sialan ini yang ada benarnya. Selama ini aku memang merasakan seperti ada beban sialan yang mengganjal di hati sialanku, tapi aku tidak tahu apa itu.

"Baiklah, tapi kau tak boleh lihat," kataku menyetujui. Dia tersenyum dan sedikit memperbesar jarak di antara kami agar aku bisa lebih leluasa menulis.

Thedeimonkingdom

Di sinilah aku, di padang rumput di pinggir hutan. Di hadapanku ada sebuah kertas putih polos dan sebuah pena sialan yang belum kusentuh sejak lima menit yang lalu. Aku bingung harus menuliskan apa di kertas kosong ini. Aku berpikir keras, dan aku mulai menulis.

Ibu,

aku merindukanmu

salam sayang,

Youichi Hiruma

Sebuah kata-kata singkat karena memang aku tak pandai merangkai kata-kata. Tapi, ini tulus dari hati kecil sialanku. Kulipat surat sialan ini, lalu aku menghampiri cewek sialan. Seperinya dia sedang sibuk, aku menghampirinya dan ia menoleh ke arahku sambil tersenyum.

"You, ini." Dia menyerahkan sesuatu kepadaku.

"Apa ini?" tanyaku datar.

"Ini mahkota bunga, lihat aku juga punya. Aku membuatnya sendiri," katanya sambil tersenyum. sepertinya senyumnya itu tak akan pernah habis.

"Maksudmu, aku harus memakainya?" tanyaku lagi.

"Tentu saja,"

"Aku tidak mau memakai benda menjijikan seperti ini," kataku ketus.

"Mou… Setidaknya kau hargai sedikit hasil karyaku," katanya sambil memalingkan wajah pertanda ia mulai kesal.

"Kekekeke… baiklah monster sus, kemarikan benda itu," kataku mengambil paksa mahkota sialan dari tangannya. "Kekekekekek….. lihat aku, akulah Raja Deimon," kataku sambil memakai mahkota sialan di kepalaku. Bicara apa aku ini? aku 'kan memang akan jadi raja.

"Aaah… kalau begitu aku akan jadi putrinya," katanya sambil memakai mahkota yang sama di kepalanya. Dia tersenyum manis ke arahku. Dia terlihat lebih manis dengan mahkota itu dan tanpa kusadari aku membalas senyumnya.

"Daripada menjadi putri, kenapa kau tidak menjadi ratunya saja?" tanyaku dengan nada menggoda dan sukses membuat tanda merah di pipinya. Dia menunduk malu menyembunyikan wajahnya yang semakin merah. "kekekekekekek…. Wajahmu terlihat bodoh," kataku mengejek.

"Mou…!"

"Ini," kataku menyerahkan kertas sialan di tanganku.

"Ah, sudah selesai. Baiklah, ini kita selipkan di sini, lalu kita terbangkan. Nanti kau pegang layangannya ya, biar aku yang memegang ujung benangnya. Nanti saat hitungan ketiga kau lepaskan," katanya memberi instruksi.

Aku mengambil layangan dan berdiri agak jauh dari tempat monster sus itu berada.

"Baiklah, You. Satu..dua..tiga." Aku melepas layangan sialan dan dia menarik talinya. Kini layangan sialannya dan surat sialanku perlahan mulai naik.

"Lihat, You. Indah bukan, semoga ibumu melihat dan membaca pesanmu dari atas sana," katanya tersenyum ke arahku. Aku tahu, tidak mungkin orang yang sudah meninggal dapat melihat atau bahkan membaca surat yang kita kirim, apalagi jika hanya diterbangkan dengan layangan. Tapi aku tetap senang, setidaknya aku bisa melihat anak sialan ini tersenyum puas karena merasa telah membantuku. 'kekekekekeke monster sus bodoh, terima kasih.'

Thedeimonkingdom

Aku berjalan menjauh dari kediaman keluarga baru sialanku. Tangan kananku membawa layangan sialan lengkap dengan surat sialan yang masih terselip di atasnya. Monster sus meminjamkan layangan sialannya untukku, kalau-kalau aku mau berlatih menerbangkannya. Setelah selesai main, aku langsung pamit untuk pulang. Tidak terasa sore telah menjelang. Entah omelan apa lagi yang akan keluar dari mulut pak tua itu.

Aku masuk ke Istana lewat pintu depan, percuma saja jika aku lewat lubang keluar tadi. Sekarang seluruh orang Istana pasti sudah tahu aku tidak ada di Istana alias kabur. Aku tidak peduli. Aku lewati semua penjaga dan pelayan Istana yang terus bertanya aku dari mana, kenapa baru pulang, raja menunggu, dan apapun itu. Aku bosan dengan pertanyaan-pertanyaan sialan itu.

Aku terus berjalan, sampai aku bertemu sebuah pintu besar sialan tempat ruang keluarga berada. Sekarang pak tua dan istri sialannya pasti ada di dalam. Aku berjalan ke arah pintu dan kudapati seseorang yang tak asing lagi bagiku. Bukan penjaga sialan yang biasanya menyapaku, bukan juga kepala pelayan sialan, tapi dia adalah adik tiri sialanku. Dia bersandar di bingkai pintu sialan dan tersenyum meremehkan ke arahku. Aku tak meperdulikan keberadaannya. Aku terus berjalan dengan tatapanku yang masih fokus ke depan.

Saat aku berada tepat di depannya, dia berkata setengah berbisik, "Habis kau kena marah ayah." Aku tak menanggapi dan terus berjalan ke arah ruang keluarga.

"Darimana saja kau?" suara yang tak asing lagi di telingaku, suara ayah sialanku. "Kenapa kau berpakaian seperti ini? Dan kenapa kau kotor sekali, hah?" belum sempat aku menjawab pertanyaan sialannya yang pertama, ayah sialan terus melontarkan pertanyaan sialan yang lainnya.

"Hiruma Youichi, jawab pertanyaanku! Kenapa kau terlihat seperti orang yang tidak terurus?-"

"Karena memang tak ada yang mengurusku," kataku memotong omelan ayah sialan.

"Seharusnya kau mematuhi perintah ibumu," kata ayah sialan

"Dia hanya mengurusi hartamu, kau tahu itu?" Aku kesal, kenapa aku selalu berada dalam posisi bersalah di depan ayahku sendiri.

"Youichi, teganya kau berkata seperti itu kepadaku?" kata ibu tiri sialan memasang wajah sedihnya.

"Cih, hebat juga actingmu." Aku tersenyum sinis.

"Apa ini?" Dengan tiba-tiba adik tiri sialan merampas layangan sialan dari tanganku. "Hei, kembalikan itu, rambut merah sialan!" Aku mencoba merebutnya secara paksa, namun dia pintar sekali mengelak.

"Aku mau pinjam ini, boleh'kan, bu?" dia tersenyum ke arah ibunya, "Tentu saja, sayang," kata ibunya sambil tersenyum, 'Cih menjijikan.'

"Aku bilang kembalikan, SEKARANG !" teriakku kesal. Semakin lama rambut merah sialan ini semakin menyebalkan.

"Pangeran Hiruma Youichi, ayah sedang bicara denganmu, jangan kau mengalihkan pembicaraan hanya karena sebuah layangan," kata ayah sialan semakin emosi. "Kau ini putra mahkota, seharusnya kau bisa bersikap lebih baik sedikit, terlebih lagi kepada ibumu sendiri," kata ayah menasehati dengan suara kencang.

"SUDAH BERAPA KALI KUBILANG, DIA BUKAN IBUKU! WANITA SIALAN SEPERTI DIA TAK PANTAS JIKA DISEBUT IBU," kataku tak kalah kencang.

"Kau?!" Ayah sialan mengangkat tangannya ke udara, bersiap menghempaskannya ke pipi sialanku, namun pergerakannya tertahan saat ia melihat butiran bening mulai jatuh dari pelupuk mata sialanku. Rasanya seperti ada yang meledak di dalam dada sialanku, rasanya sakit, seperti saat aku mengetahui ibuku telah meninggal enam bulan yang lalu. Dia menghempaskan tangannya ke bawah, wajahnya tampak marah, terlihat dari mata sialannya yang melihatku tajam.

"Mizuki pasti sedih melihatmu tumbuh menjadi anak yang kurang ajar seperti ini," kata ayah menurunkan volume suaranya namun masih terdengar tegas.

"JANGAN BAWA-BAWA IBUKU! Kau… kau menyebalkan, kau sama menyebalkannya dengan dia," kataku menunjuk Suki.

"Cukup ! Mulai sekarang kau akan diawasi dan dijaga ketat, kau tidak boleh keluar Istana, dan kau harus menuruti semua perintah ibumu, sekarang kau masuk ke kamarmu !" kata ayah sialan masih dengan tingkat emosi yang sama.

Aku tak menaggapi perkataan ayah sialan yang terakhir. Aku berlari menuju kamar sialanku, dan melakukan kebiasaanku membanting pintu. Aku kesal, aku marah, bahkan ayah sialanku sendiri tak membelaku. Dia malah lebih memilih membela orang lain daripada anak kandungnya sendiri. Kenapa aku harus hidup di keluarga sialan seperti ini? Kenapa ibuku harus meninggalkanku disaat aku sulit seperti ini? Kenapa harus aku yang merasakan kesepian? Kenapa bukan orang lain saja? Aku marah pada ayah sialanku, aku marah pada diriku, aku marah pada hidup ini.

Aku duduk di samping meja yang berada tepat di samping ranjang sialanku sambil menekuk lututku, aku menggertakkan gigi-gigi sialanku pertanda aku sangat marah. Aku dapat merasakan benda basah yang terus mengalir di pipiku. 'Oh ayolah, kenapa aku jadi cengeng begini? Ini menjijikan. Bukankah aku sudah berjanji pada ibu tidak akan menjadi anak yang cengeng. Hei mata sialan, berhentilah mengeluarkan benda basah sialan yang tidak ada gunanya ini. Ayolah Hiruma Youichi, kau kuat, kau harus kuat. Aku benci terlihat lembek seperti ini,' runtukku pada diriku sendiri. Aku memukul meja di sampingku untuk meluapkan sedikit demi sedikit emosiku.

Tiba-tiba sebuah benda berbentuk persegi panjang terjatuh ke bawah lantai. Aku mengambil benda itu. Sebuah bingkai foto, di dalamnya terdapat gambar sesosok wanita dengan gaun putih tengah tersenyum ke kamera, matanya yang berwarna hijau toska tampak sangat bersinar, ditambah rambut pirangnya yang panjang terurai menambah kesan cantik pada wanita ini. Di sampingnya terlihat seorang anak laki-laki berusia enam tahun yang tak lain adalah aku yang tengah merangkul leher sang wanita yang tak lain adalah ibuku. Aku memakai pakaian berwarna putih atas bujukan ibuku. Aku juga tersenyum ke arah kamera. Pipiku dan pipi ibu menempel menggambarkan rasa cinta yang besar antara aku dan dia. Aku mengelus pelan foto sialan tersebut, mengingat kembali kenangan manis sialan bersama ibuku.

"Kau jahat," kataku bicara sendiri. "Kenapa kau meninggalkanku, aku merindukanmu,"

Thedeimonkingdom

Normal POV.

Hari sudah larut, seorang laki-laki berjalan tenang menuju sebuah ruangan. Ruang mewah ini tampak sepi, tak ada seseorang pun di dalam ruang singgasana ini. Laki-laki tersebut berjalan masuk dan mendekati sebuah benda kesayangannya. Sebuah batu rubi berwarna merah peninggalan istrinya. Ia ingat, dulu istrinya sangat menyayangi benda ini. Batu rubi merah itu diletakan di sebuah kotak kaca. Warnanya yang indah membiaskan sinar rembulan yang datang dari arah jendela besar di sudut ruangan. Tangan laki-laki itu menyentuh dinding kotak kaca, wajahnya terlihat sendu, tidak seperti tadi saat ia meluapkan semua amarahnya. Ia menutup matanya dan cuplikan-cuplikan film masa lalu mulai terputar di pikirannya.

"Lihat, dia tersenyum, senyumnya sangat mirip denganmu, Yuuya,"

"Sudah berapa kali kubilang, jangan marahi dia seperti itu, dia masih kecil,"

"Sudah ya sayang, jangan menangis, ada ibu disini, Youichi pangeran tampan tidak boleh menangis,"

"Kau harus menjaga dia, dia harta yang paling berharga yang kita miliki,"

Mata tua itu kemudian mulai terbuka. Mengingat semua kenangannya bersama sang istri sangatlah menyakitkan. Seyumnya, sikapnya, cerewetnya, perhatiaanya terhadap suami dan anaknya adalah segelintir hal yang paling ia rindukan dari sang permaisuri.

"Kenapa begitu cepat kau meninggalkan kami? Kenapa harus kau? Mizuki, apa yang harus kulakukan? Kalau kau masih ada, mungkin sekarang kau akan memarahiku karena telah memarahi dan aku hampir menampar pipi anak kita. Aku harus minta maaf, ya..aku harus minta maaf."

Thedeimonkingdom

Sang Raja berjalan dengan gagahnya melewati lorong-lorong gelap menuju sebuah ruangan tempat anak kebanggaannya tidur. Dia sudah membulatkan tekad untuk meminta maaf pada anaknya ini. Dia tahu, pasti sekarang Pangeran Youichi sudah tidur. Meskipun begitu dia tetap mencoba dan berharap anak kesayangannya masih terjaga, agar ia bisa meminta maaf secara langsung.

Sekarang dia telah sampai di depan sebuah pintu besar, dia sentuh gagang pintu yang terasa sangat dingin. Dia masuk ke dalam ruangan itu, ruangan yang gelap dan sepi pertanda sang pemilik sudah terlelap.

Langkahnya terhenti tepat di samping sebuah ranjang berukuran king size. Dilihatnya sang iblis kecil yang tengah tertidur pulas. Bajunya belum berganti menjadi piama, badannya juga masih tampak kotor, 'Sepertinya dia kelelahan sehingga tak sempat membersihkan diri,' batin Sang Raja menduga-duga. Tak ada niatan di hatinya untuk membangunkan dan menggangu tidur pangeran kecilnya.

Dibelainya lembut rambut hitam iblis kecil kebanggannya ini. Matanya terhenti saat melihat satu objek yang menarik perhatiannya. Sebuah benda berbentuk persegi panjang yang berada dalam genggaman anaknya. Diambilnya benda tersebut. Dia tersenyum miris melihat gambar yang terpampang pada benda yang ternyata adalah bingkai foto itu. Kemudian meletakkan benda tersebut di atas meja yang terdapat di samping ranjang.

Kemudian matanya menangkap lagi objek yang menarik, benda perak yang juga berada dalam genggaman tangan kiri sang anak. Diambilnya benda perak tersebut. Dia memandang benda perak yang ternyata adalah kalung dengan wajah sedih. Kalung perak dengan bandul batu berwarna hijau berbentuk diamond. Kalung yang ia berikan saat melamar Mizuki dulu. Kalung yang sangat Mizuki sukai. Kali ini dia kembali meletakkan benda perak itu ke tempat semula. Dia tersenyum ke arah anaknya, wajah yang tenang dengan peluh yang sedikit membasahi. Disekitar matanya terlihat jejak-jejak air mata yang masih tampak jelas. Sang Raja menyesal, sangat menyesal malah.

"Ayah macam apa aku ini? Seharusnya aku tahu selama ini Youichi kesepian, seharusnya aku tahu selama ini Youichi membutuhkanku. Kenapa aku malah memarahinya, bahkan aku tega hampir menamparnya. Mizuki, maafkan aku. Youichi, maafkan ayah," gumam Yuuya pada dirinya sendiri sambil membelai lembut rambut hitam Youichi lalu mencium keningnya. Kemudian bergegas pergi, membiarkan pangeran kecilnya kembali bermimpi, mimpi indah tentunya.

Thedeimonkingdom

Pagi ini pagi yang cerah, matahari bersinar lembut memancarkan cahaya indahnya. Menyapa setiap mata yang baru terbuka. Seperti pagi-pagi sebelumnya, pagi ini pun seluruh pelayan di Istana sedang sibuk berlalulalang. Ada yang menyiapkan sarapan, ada yang menyiram tanaman di kebun, ada yang menyapu, mengelap, mengepel, hingga membantu Sang Ratu berdandan.

Kebiasaan pertama keluarga nomer satu di Negri Deimon ini adalah sarapan bersama. Raja Yuuya duduk di bagian paling ujung, memimpin jalannya sarapan. Di sebelah kirinya, Sang Ratu tengah menikmati berbagai macam hidangan istimewa buatan koki terbaik kerajaan ini. Dan di samping Ratu, Pangeran Akaba tengah sibuk dengan robot-robotan kesayangannya.

"Akaba, kalau kau terus memainkan mainan itu, kapan kau akan memakan nasimu? Kalau dingin rasanya jadi tidak enak, sayang," kata Sang Ratu menasehati anak laki-laki berambut merah ini.

"Baik, bu," jawab Akaba malas.

Sang Raja tersenyum melihat tingkah laku anak bungsunya ini. Seorang pelayan yang bertubuh kecil sedang membawa nampan lengkap dengan isinya, sepiring nasi, dan beberapa hidangan lain yang terlihat sangat lezat. Tak lupa susu menjadi pelengkapnya. Langkah sang pelayan kecil terhenti saat suara Sang Raja memanggil namanya. "Musashi, mau kau bawa kemana makanan itu?" tanya Sang Raja ramah.

"Saya diperintahkan membawanya ke kamar Pangeran Youichi, Yang Mulia," jawab Musashi sopan.

"Dia sudah bangun? Kenapa tidak makan di meja makan?" tanya Sang Raja lagi.

"Dia bilang, dia sedang kurang enak badan, Yang Mulia," jawab Musashi

"Suruh dia turun." Kalimat yang tak dapat disanggah lagi, akhirnya Musashi terpaksa menyuruh sahabanya untuk turun. Awalnya Youichi menolak, karena masih kesal dengan kejadian kemarin. Namun dengan sedikit bujukan, akhirnya Youichi luluh juga. Kini dia berjalan malas menuju ruang makan. Wajahnya masih menampakkan sisa-sisa kekesalan. Dia bersumpah tidak akan bicara apa-apa saat di meja makan nanti.

"Ahh.. pangeran Youichi, ayo sarapan. Ayah dan yang lainnya sudah menunggumu," kata Sang Raja ramah bertolak seratus delapan puluh derajat dari kemarin. Youichi sedikit heran, 'apa ia sudah melupakan kejadian kemarin, mudah sekali dia melupakanya,' batin Youichi.

Youichi duduk di samping kanan Sang Raja, tepat di hadapannya Pangeran Akaba tengah asyik sarapan. Youichi memandang bocah berambut merah itu dengan tatapan sinis.

"Heh, ada masalah?" tanya Pangeran Akaba dengan nada meremehkan.

"Mana layanganku?" tanya Youichi ketus.

"Kubuang." Jawaban singkat yang sukses menciptakan tiga perempatan di wajah Youichi.

"Apa?!" teriak Youichi sambil membanting tangannya di meja makan. Tubuhnya dicondongkan seolah menantang adik tirinya.

"Layanganmu jelek, pasti harganya murah. Baru kuterbangkan sekali saja sudah rusak. Ya sudah, kubuang saja," jawab Akaba enteng, namun sangat sukses manaikkan tingkat emosi Youichi.

"Kau! Kau selalu mencari masalah denganku, ya? Kemari kau !" tantang Youichi yang emosinya sudah tak tertahan lagi.

"Cukup…ini meja makan, bukan ring gulat. Youichi, itu'kan hanya sebuah layangan, jangan hanya kerena masalah kecil, kau jadi berkelahi dengan adikmu sendiri." Sang ayah mulai menasehati.

"Tapi—"

"Ayah bilang, 'cukup!' jangan sampai ayah marah seperti kemarin," kata sang ayah sambil menatap tajam ke arah Youichi. Yuuya hanya ingin Youichi bisa akur dengan adiknya. Walaupun Akaba hanya adik tiri Youichi, setidaknya dia bisa memberikan contoh yang baik untuk adiknya. Apalagi Youichi akan menjadi penerusnya nanti.

"Ayah akan memberikan yang baru," kata Yuuya memberi solusi.

"Aku tidak mau yang baru," kata Youichi dingin seraya pergi meninggalkan meja makan.

"haaahh.." Yuuya hanya dapat menghela nafas panjang. Sepertinya akan sangat sulit mendidik Youichi untuk menjadi pemimpin yang bijaksana. Pasti akan memakan waktu yang lama. Tapi Yuuya tak boleh menyerah, biar bagaimanapun kelangsungan kerajaan berada pada tangan Youichi.

Thedeimonkingdom

Dia terus mngaduk-aduk tempat sampah di halaman belakang Istana, berharap menemukan sesuatu yang ia cari. 'Semoga masih ada,' batin anak berambut hitam ini.

Dia tak peduli wangi sampah yang sedikit menggangu penciumannya, dia tak peduli jika tangannya harus menyentuh benda-benda yang penuh kuman itu, dan dia tak peduli jika baju kerajaannya yang mahal harus terkena noda kotor yang sulit dibersihkan. Yang terpenting adalah bagaimana dia harus menemukan benda yang ia cari. Sebuah layangan dengan surat yang terselip di atasnya. Kalaupun layangannya sudah rusak seperti yang dikatakan Akaba, setidaknya dia tetap berharap surat yang menempel pada layangan itu masih ada. Ya, surat untuk mendiang ibunda tercinta.

Nafasnya memburu, peluhnya terus mengalir deras terutama di dekat pelipisnya. Sudah setengah jam dia di sini. Mengaduk-ngaduk tempat sampah ternyata melelahkan juga. Dari tadi yang ia temukan hanyalah potongan kertas layangan yang sudah tak berbentuk. 'Dimana surat sialan itu? Lihat saja, kalau aku bertemu bocah merah itu, akan kubunuh dia,' runtuknya dalam hati.

"Kau sedang apa?" tanya sebuah suara yang sudah tak asing lagi, Musashi.

"Bukan urusanmu," jawab Youichi ketus.

"Kau mencari ini?" tanyanya lagi.

Youichi menengok dan mendapati Musashi tengah berdiri dengan menggenggam sebuah benda yang ia cari. Dia mendekati Musashi lalu mengambil benda itu secara paksa.

"Dimana kau menemukannya?" tanya Youichi datar.

"Tadi pagi aku melihat Akaba membuangnya bersama layangan yang sudah rusak. Dan saat aku ingin membuang sampah, aku melihat kertas ini, di depannya ada tulisan namamu, jadi kupikir itu milikmu. Dan kuputuskan untuk menyimpannya. Tapi tenang, aku tidak membaca isinya," cerita Musasi panjang lebar. "Kalau kau ada masalah, bicarakan baik-baik. Dengan begitu kau akan mendapatkan jalan keluarnya dengan mudah. Jika tadi kau bertanya kepadaku tentang kertas itu, kau tidak harus mengadu-ngaduk tempat sampah, kan?" Musashi menasehati, namun Youichi tidak menggapi dan langsung pergi.

"Apa itu surat cinta?" Tanya Musashi dan sukses menghentikan langkah kaki Youichi.

"kekekeke…. Kau tidak perlu tahu." Youichi meneruskan langkahnya dan pergi meninggalkan Musashi yang masih berdiri di sana.

"Hmmmm… dasar anak bodoh. Masih saja bersikap tertutup." Musashi tersenyum dan kembali mengerjakan pekerjaanya.

Thedeimonkingdom

'Dimana tempat yang aman?' batin Youichi saat berada di dalam kamarnya. Dia mencari-cari tempat yang dapat digunakan untuk menyimpan surat yang dari tadi ia pegang. Dia putuskan untuk menyimpannya di dalam laci di samping ranjangnya. Setelah menyimpan surat berharganya itu, Youichi kecil berjalan menuju balkon yang berada di kamarnya. Menghirup udara pagi yang segar mungkin bisa sedikit mengurangi tingkat emosi bocah berusia tujuh tahun yang sejak kemarin terus memuncak. Tak pernah dia bertengkar dengan ayahnya sampai seperti kemarin. 'Ini semua gara-gara nenek sihir dan bocah merah sialan itu,' runtuknya dalam hati.

Dihirupnya udara pagi Negri Deimon yang terkenal sejuk itu. Kedua tangannya melipat di atas pagar balkon yang memang cukup tinggi itu. Kakinya sedikit berjinjit membantunya untuk melihat wilayah kerajaan yang indah. Kepalanya diletakan di atas kedua tangannya. Sejenak terlintas bayangan gadis auburn itu.

"Dia pasti sedang menungguku," katanya dengan sedikit menyeringai.

Namun ekspresinya kini berubah, "Maafkan aku, Monster sus. Mungkin untuk sementara aku tak bisa bermain denganmu." Wajahnya terlihat lesu dan sedih. Tak pernah disangka, kemarin adalah hari pertama dan mungkin terakhir ia bermain dengan monster susnya.

Angin berhembus kencang, menerpa wajah tampan putra mahkota. Sebuah bayangan muncul dari belakang, bayangan seseorang. Seorang wanita berambut pajang dan memakai gaun putih. Sebagian wajah cantiknya tertutupi rambut pirang yang sengaja digerai. Diam-diam sosok itu tersenyum. Youichi merasakan sosok yang semakin lama semakin mendekat itu. Ia ingin membalikan tubuh kecilnya namun terasa berat.

Youichi melihat sebuah tangan memegang pundaknya. Ia memaksakan badannya untuk memutar. Namun hasilnya nihil. Saat Youichi berhasil memutar seratus persen badannya, sosok wanita tadi menghilang bersamaan dengan angin yang bertiup kencang.

"Ibu… apa itu kau?" tanya Youichi sambil melihat kalung berbandul hijau yang sedari tadi menggantung di lehernya.

Thedeimonkingdom

Mamori manengok ke kanan dan ke kiri, berharap melihat sosok yang ia tunggu sejak dua jam yang lalu. Wajahnya tampak gelisah, cemas, dan sedih. Dia memegang sebuah bola kaki yang rencananya akan dia mainkan dengan anak laki-laki bergigi runcing itu. Harapannya semakin memudar ditambah dengan datangnya awan mendung yang siap menurunkan bebannya.

"Mamori," panggil sang ibu.

"Dia tidak datang," kata Mamori sambil menunduk. Suaranya terdengar bergetar. Mami tahu pasti sebentar lagi Mamori akan menangis.

"Mungkin dia sedang sibuk. Mungin besok dia datang. Sekarang sudah mau hujan. Ibu tidak mau kau sakit, dan ibu yakin Youichi juga tidak mau kau sakit." Mami mencoba menghibur sebisa mungkin.

"Mungkin ibu benar. Mungkin besok dia baru datang. Semoga," ucap Mamori menguatkan diri dan hatinya. Mami merangkul putri sulungnya itu dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.

Thedeimonkingdom

TBC

Thanks for reading. Aku sangat mengharapkan reviewnya. Jadi jangan sampe lupa ngereview ya minna-san. Di chapter 4 Hirumamonya udah gede, untuk Mayou: tuh udah gede.

Pokoknya mau bikin hiruma sengsara sejadi-jadinya *kejam banget

Yaudah itu aja, jangan lupa review ya…. J