Rivaille x Eren ( Shingeki no Kyojin fanfic )

Sebaik apapun kamu menjaganya , sesuatu itu tidak pernah ada yang abadi.

.

.

.


Gelap ,

Kegelapan masih menyelimuti , semua tim Penyelidik memutar-mutar sekitar Hutan kastil untuk mencari Eren.

Walau para Titan tidak akan memburu mereka pada saat malam hari , tapi mereka tetap was-was.

Tidak bisa berhenti untuk khawatir – Raga dan Jiwa mereka terus membatin lelah .

Tentu saja lelah , mereka sudah berkelana dari sebelum matahari terbit sampai matahari terbenam , dengan bekal yang sedikit , mereka harus bertarung dengan kegelapan malam – disertai rasa takut yang sangat dalam.

Iming-iming walau mereka yakin tidak akan ada Titan yang menyerang mereka , mereka tetap takut ,karena mereka saat ini sedang berada di tempat yang 'sama sekali ' bukan wilayah mereka.

Semuanya berpikiran sama.

Mereka akan memakan kita .

Aku tidak ingin MATI DISINI.

Aku ingin pulang.

Bagaimana kalau Mereka muncul lagi ?

AKU INGIN PULANG . AKU INGIN PULANG . AKU INGIN KEMBALI.

Resah. Sadar akan buruknya situasi mereka saat itu ,

Hanji memecah kesunyian ,

" Irvin , kita sudah semakin jauh dari Kastil... sebaiknya kita kembali . Hari sudah mulai menjelang pagi."

Irvin mengangguk , ia tahu sudah saatnya mereka harus kembali , tim penyelidik mereka kewalahan. Semuanya terlihat di wajah mereka saat ini . Penuh dengan harapan kosong. Wajah mereka sudah bertuliskan ingin pulang – Ke balik Dinding. Berlindung .

" Kalian kembalilah duluan ... Aku masih ingin mencari ke sekitar sana ... " Levi mengambil obor , dan maju perlahan ke balik pepohonan yang gelap.

Hanji menghela nafas panjang , terdengar jelas karena malam saat itu begitu sunyi , suara serangga – atau binatang apapun tidak ada sama sekali . Kosong –seperti di dunia lain.

" Rivaille . Aku yakin Eren akan baik-baik saja , wala- "

" IA TIDAK PUNYA KEKUATAN TITAN LAGI , HANJI ! "

Levi memukul pohon dengan tinjunya , gemerisik suara pohon yang bergetar karena tinju Levi sontak mengagetkan seluruh tim Penyelidik. Salah-satu nya sampai menjatuhkan obor-nya.

Ya , Eren tidak punya kekuatan Titan lagi.

Ia sadar , Eren sudah menjadi manusia biasa. Yang seharusnya ia rayakan karena mereka dapat hidup tenang pada akhirnya , bahagia.

Tapi kali ini tidak , tanpa kekuatan Titan , Eren tidak bisa beregenerasi.
Eren yang terluka , bisa mati dimana saja , saat ini.

Semua hanya diam bisu menatap Levi , yang panas – khawatir – dan tidak sabar .

Ia hanya ingin tenang , melihat keadaan Eren yang baik-baik saja , tersenyum di sampingnya .
Apakah itu sulit ?

Terkejut , shock , tentang kenyataan dimana Eren tidak memiliki kekuatan Titan lagi.

Tapi semuanya tidak ada yang bersuara.

Pepohonan segera menyelimuti Levi yang mulai berjalan masuk dengan obornya ke arah hutan.

Irvin tidak bersuara – ia hanya melirik Hanji , dan Hanji mengerti .

Diambilnya lah 2 batang obor yang masih baru , dan sekantung ransum , malam ini pasti akan panjang.

Tidak ada seorangpun yang berpikir bahwa hal ini akan terjadi - Begitu cepat. Sangat Cepat.

.

.

.


Kejadian ini bermula dari tim Pengelidik yang mendapatkan perintah untuk menyisir daerah selatan luar dinding Wall Maria . Semua Titan sudah dibasmi. Mereka baru saja berpesta siang-malam kemarin . Baru saja.

Merayakan keberhasilan mereka bebas dari penjajahan para Titans.

Eren ,

Kembali dari interogasi dengan para Petinggi bersama Hanji , duduk terdiam di pinggiran sofa , meminum segelas teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya.

" Penyisiran keluar Dinding ?" Levi mengangkat alisnya , menaruh cangkirnya perlahan.

" Mereka , ingin kita menyisir daerah luar dinding Wall Maria." Irvin merapikan berkas-berkas yang ada di atas meja makan. Menatap Levi dan melipat tangannya kemudian menyender ke punggung kursi.

BRAK.

Meja bergetar , Levi memukul meja . Keras.

" Lalu apa hubungannya dengan Pengasingan Eren ?"

Irvin menghela nafas, baru saja ia datang berselang menit setelah menyusul kereta kuda Hanji dan Eren. dan fisiknya terkuras.

" Ada informasi mereka melihat Titans di sana. " Irvin memijat dahinya , kepalanya sakit sekali .

" AP- " Levi ternganga. Ia melihat ke arah Eren yang saat itu duduk bersebalahan dengan Hanji , wajahnya terkejut. Shock.

Levi menggigit bibirnya , " ITU BUKAN EREN. "
" Mereka sudah tidak ada – musnah. AKU yang membasmi mereka."

" Tidak semua , Rivaille."

Irvin menatap rekannya , tepat di depannya.

"Masih ada satu yang tersisa."

PRANG.

Cangkir jatuh dari atas meja , tumpahan teh merembes ke atas karpet .

Levi menarik kerah Irvin , menabrakkan Irvin ke dinding yang berada di depannya.
Lelaki pirang ini tidak melawan , ia menatap mata Levi yang penuh dengan kemarahan.

" ITU BUKAN EREN." menaikkan nada suaranya , Levi mengancam.

Hanji melingkarkan tangannya ke bahu Eren , bocah 15 tahun ini gemetar.

" Aku tahu ." ditepisnya tangan Levi dari kerahnya. " Tapi keberadaan-nya..." Irvin melirik Eren.

Tidak ada yang sadar , tapi Eren tahu. Ia tahu.
" Meresahkan masyarakat , Levi ."

" EREN TIDAK MEMBAHAYAKAN. IA BUKAN TITAN- yang ... seperti MEREKA PIKIRKAN."

Baru kali ini , Levi terdengar begitu , desperate . Nada suaranya hampir seakan-akan memohon.

Bukan – Bukan ini yang kuinginkan.

" Tenang , Rivaille ." - Hanji tiba-tiba angkat suara.

" Kita semua tahu , Informasi tentang penampakan Titan di selatan wall Maria bisa saja palsu."

Hanji tersenyum kearah Eren yang saat itu gemetar - berada dalam pelukannya.
" Karena itulah , aku ada bersama Eren tadi . Mencoba meluruskan beberapa fakta."

Tidak pernah Levi begitu bersyukur bahwa ia punya Rekan. Bukan – Tapi Teman , Sahabat yang bisa Ia percayai.

" Jadi ... ?" Levi menengok ke arah pria berambut pirang dan bertubuh jangkung besar yang sedang menyeruput tehnya.

Irvin tersenyum , " Kita akan menyisir daerah Wall Maria , untuk membuktikan bahwa Titan itu bukanlah Eren – bukan seperti yang mereka pikirkan."

.

.

.


Sinar pagi mulai masuk dari kisi-kisi jendela kamar , cukup terik sehingga Levi harus mengernyitkan matanya dan kemudian terbangun dari tidurnya lalu menarik gorden untuk menutupi cahaya yang bikin sakit mata itu.

Tidak biasanya kepala Levi terasa berat hari ini , entah mimpi apa dia semalam , tapi kelihatannya itu bukan mimpi yang indah untuk diingat , mungkin tentang pembasmian titan , atau mimpi yang lain ia tidak mau mengingatnya lagi.

Sembari merapikan rambutnya , ia menyentuh sesuatu , berambut cokelat brunete dan halus , dengan tubuh yang terlihat seperti kurang gizi dan tertidur dengan pulasnya tanpa pakaian dengan gaya tengkurap dengan indahnya. Seperti Mengempeng , kedua tangan Eren berada tepat di samping kepalanya.

Tch. Masih tertidur dia.Pikir Levi dengan entengnya , sambil tersenyum sedikit , ia kemudian mengelus rambut pria yang sangat dia cintai ini .

Masih tidak terbangun juga, Levi mengambil kesempatan ini untuk terus mengelus kepala Eren

kepala Levi masih sakit karena soal semalam , ia masih melanjutkan mengusap kepala kekasihnya. Apalagi pesta kemarin malam masih membekas di ingatannya , lelah.

Ia masih tidak bisa melupakan suara kembang api yang bising , dan warna yang menyala-nyala di kegelapan langit malam. Eren masih tertidur dengan pulas. Usapan tangan Levi tidak dihiraukannya.

" Eren , bangun. " ditepuknya pipi si bocah dengan perlahan.

Mata jamrud Eren terlihat , bersinar cerah karena terkena cahaya matahari pagi.

"...Aku masih mengantuk..." mengusap matanya dengan tangan , Eren memutar badannya , posisi tidurnya sekarang menghadap ke arah dinding. Memunggungi Levi. Menarik selimut dan menutupinya dari sengatan matahari pagi yang silau.

Segera diciumnya bahu Eren , kecupan ringan. Tidak lebih.

" Eren , bangun. Sebentar lagi Hanji akan datang. "

Levi beranjak bangun dari tempat tidurnya , menyisakan Eren yang hanya berbalut selimut , tidak ingin terbangun.

Jaket yang di gantung di samping pintu , di ambil dan dilemparkan ke arah pinggir ranjang.

" Eren."

Tidak ada jawaban.

Masih tidak mau bangun juga ?

ck

Levi mendecak , ia memakai kausnya , dan mendekati Eren yang masih berkutat di balik gulungan selimut. Kemudian berbisik pelan di telinga si rambut coklat gelap .

" Jangan membuatku panas di pagi hari , Eren."

Saat itu juga , Eren langsung bangun dan memakai bajunya. Dalam hitungan detik.
Levi tersenyum licik , " Sayang sekali , padahal kamu cukup seksi dengan balutan selimut ."

.

.

.


Misi yang mudah , seharusnya.

Tidak ada pembantaian – tidak ada apapun – hanya pengecekan ke sebuah Kastil luar Wall Maria Selatan.

Yang dilansir terdapat barang berharga milik kerajaan yang hilang , egois memang.

Mereka yang hidup di balik dinding , makan dan minum , hidup seperti binatang ternak , tidak mengerti bagaimana sulitnya mereka ketika regu Penyelidik harus penuh dengan kesiapan yang matang untuk menyisir , dengan bekal informasi yang minim – menempuh jarak yang sangat amat jauh , yang para Atasan menyebutnya , MUDAH.

Pencarian Harta berharga yang tertinggal ?

Ya , itu hanya alasan saja . Mungkin.

Tidak menutup kemungkinan para Petinggi telah merencanakan sesuatu sampai mengharuskan misi ini disertai oleh Eren , bukan ?

Walaupun mereka percaya bahwa keberadaan Titans sudah tidak ada .
Tapi KERAGUAN masih terlihat di wajah anggota tim Penyelidik.
Informasi mengenai penampakan Titans , siapa yang tidak takut ?
Ini seperti mimpi buruk yang tiada akhirnya.

Semua kuda sudah siap , persiapan sudah lengkap.

Beranggotakan Irvin , Levi , dan Hanji . Serta Eren yang tidak didampingi oleh dua sahabat masa kecilnya dan 5 orang anggota tim Penyelidik . Entah apa yang direncanakan oleh pihak Atas. Mengikutkan Eren dalam misi kali ini.

Well , seharusnya tidak ada masalah . Karena ini bukan Misi yang tingkat kesulitannya tinggi.
MUDAH – bukan ?

Sampai saat mereka menyisir daerah pegunungan , tidak jauh dari jarak pandang mata , ada pemukiman , yang sudah pasti ditinggalkan pemiliknya – mungkin.

Irvin dan Hanji sudah turun dari kudanya , dan mengecek sekitar – AMAN.

Levi menarik kudanya ke tepi jurang , tepat dibawahnya ada sungai kecil , jernih , berwarna hijau karena sangat jernih. Levi turun dari kudanya ,memperhatikan sekelilingnya , penuh dengan kewaspadaan. Masih memperhatikan aliran air yang turun kebawah , tidak jauh , ada suara air terjun, mengartikan mereka tidak jauh dari tujuan mereka .

" Eren , bawa kemari peta-nya. " Levi tidak melihat Eren sama sekali , masih memperhatikan sekitar mereka. Irvin dan Hanji pun sudah mulai mengelilingi pondok kecil yang ada di depan mereka.

Sangat sigap.

Semuanya melaksanakan tugasnya ,

Alih-alih Eren ,baru saja ingin turun dari kudanya ,tersangkut di pedal kuda ,terjatuh dengan wajah duluan. Sial sekali.
semua orang memandanginya ,

Beberapa membantu dia berdiri , ada yang tertawa , ada juga yang menahan tawa-nya walau gagal.

Levi hanya memukul jidat melihatnya , sifat ceroboh bocah ini harus diperbaiki nanti.

Eren yang sudah memberikan peta dari ransel yang di ikat di kudanya ke Levi.

Takjub , pemandangan yang berbeda – wajar. Dia tidak pernah berjalan jauh bahkan berkelana mengelilingi tempat lain selain Barrack tempat mereka berlatih , dan dipikir-pikir , saat kecil , hanya ada bukit di sekitar mereka , ini berbeda – ini Gunung.

Terhenyak sebentar ,

Eren mengambil batu yang berada di sekitar kakinya , dan melemparkannya ke arah air sungai yang menurun tidak jauh dari bawah kakinya.

Batunya menghasilkan suara decak air yang melompat-lompat. Walau pada akhirnya batu itu tenggelam pada lompatan ke 3.

" Jangan main batu, Eren." Levi mengambil paksa batu yang ada di tangan Eren, lalu melemparnya ke dalam sungai.

Eren mengumpat kecil , ia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil . Apalagi oleh kekasihnya sendiri.

Sibuk dengan memperhatikan peta , Levi tidak menggubris keberadaan Eren yang lagi cemberut disampingnya. Ah , sebaiknya aku ke Hanji-san , mungkin ada yang bisa kulakukan?

Disampiri-nya Hanji yang sedang mengelap kacamatanya yang berembun karena embun .

" Hanji-san ! "

" OH – Eren ? Ada apa ? Kamu tidak menemani pacar-mu ? " Hanji tertawa kecil ,

" um... Tidak , dia sibuk dengan petanya. . . " Eren memutar matanya , mengambek.

" HAHAHAHA ! " Hanji tertawa terbahak-bahak , ia tidak bisa menahannya . Sayang sekali.

Eren bingung , apa yang ditertawakan oleh Hanji sebenarnya ?

Irvin yang berada tidak jauh dari mereka-pun ikut datang menghampiri percakapan ,

" Itu tandanya Dia serius , Eren. " Senyum bertengger terlihat di wajah si pria pirang ini.

" Serius ?" kepala si bocah miring 15 derajat. Masih mencerna.

" Kalau kita menemukan Titan –kan tandanya kamu punya alibi , Eren ! " Dibuka kedua tangan-nya lebar-lebar ke atas langit. Hanji memang penuh semangat kali ini. Tidak tahu karena ia juga ingin membersihkan nama Eren ,atau memang karena dia SENANG masih bisa menemukan Titans lagi dan mungkin juga ia berniat untuk mengoleksinya dan dibawa pulang.

Eren tersenyum malu , wajahnya merah padam , salah tingkah.

" Apa saja yang kalian bicarakan kemarin malam ?" Pria setengah baya ini menggoda si bocah yang masih blushing dengan suksesnya.

Eren menggigit bibirnya , " err.. tidak ada... yang penting..." masih salah tingkah.

Irvin tersenyum , gerak-gerik Eren sudah memberitahu-nya , dan kissmark di leher cukup jelas .
Pasti kemarin panas sekali.

Well , sebenarnya memang tidak ada apapun kemarin malam , awalnya.

Eren hanya kembali ke kamarnya dengan Levi , dan mereka tidak membicarakan apapun kecuali tentang rumah baru mereka nanti , percakapan normal tentang bagaimana mereka akan mendekorasi-nya . Seperti pasangan pengantin baru –yang entah kenapa berakhir dengan kemesraan yang dimulai dari kecupan , Hingga mereka tertidur pulas karena adegan intim yang begitu liar , mungkin. Eren tidak dapat mengingat lagi soal kemarin malam dengan jelas , karena itu cukup membuatnya melamun lama dan malu.

Tapi ,

Sayang sekali lamunan Eren tiba-tiba buyar.

" EREN ! KEMARI ! "

Teriakan Levi membuat Eren sadar dari lamunan-nya. Ia segera berlari ke arah si pria pendek itu.

Hanji menyikut Irvin , "Jangan terlalu sering menggoda-nya , nanti kalau Levi sudah membenci-mu , baru tahu rasa !"

Irvin tertawa geli , " Sepertinya aku sudah dibenci-nya . . . " sambil menatap ke arah Levi yang sedang memeluk Eren dan mempelototi Irvin dari jauh.

Levi yang posesif memang lucu.

.

.

.


Matahari mulai naik , walaupun mereka sedang berada di pegunungan , cahaya hangat masih terasa di kulit mereka , yang berbeda hanya mereka lebih sulit untuk bernafas di pegunungan, karena tipisnya oksigen – berbeda dengan dataran rendah.

" Kita sudah sampai di pinpoint ,tidak jauh dari sini seharusnya kita sudah bisa melihat kastil , tapi kabut mulai datang , cuaca di gunung tidak menentu , sebaiknya kita istirahat disini untuk hari ini." Irvin mengikat kudanya di kayu pinggir sebelah pondok yang masih terlihat cukup layak untuk ditinggali.

Levi ikut menarik kudanya ,lalu mengikatnya tepat di samping kuda Eren.
" Irvin ! Hanji ! Aku dan Eren akan tidur di pondok yang disana ! " menarik tangan Eren , tidak memberikan Eren kesempatan untuk membuka mulut ataupun menepis – bahkan berpikir.

Beberapa prajurit mulai berbisik –bertanya.

Namun sebelum kecurigaan dan gossip tak sedap mulai mengambang ,

Hanji angkat suara, " Rivaille masih ditugaskan untuk menjaga Eren. Setiap waktu..."

Baru mereka semua mengangguk dan diam . Tidak mempertanyakan lagi soal Levi dan Eren yang saling berdekatan dan sepondok.

Alasan yang cukup reasonable .

Dalam sekejab , Eren dan Levi sudah di dalam pondok , pondok yang tadi berada tepat di pinggir jurang , sepertinya daritadi Levi memang sudah merencanakan untuk tidur bersama di pondok yang berbeda dengan yang lain. Eren tersenyum kecil.

Ditaruhnya jaket Scouting Legion dan jubahnya di pinggir pintu , kotor memang , jujur.

Pondok ini pasti sudah ditinggal oleh penghuninya sekian tahun – atau mungkin bahkan puluhan.

Keadaan pondok masih terawat , wangi kayu yang basah dan jamur atau daun pohon tercium sampai sekeliling ruangan . Pondok nya tidak besar , 1 ruangan mencangkup semua , ada perapian , kasur , bahkan meja makan tersedia di dalam pondok. Yang mengecewakan adalah , banyaknya sarang laba-laba dan debu yang terlihat sangat jelas ada di manapun.
Levi mulai gatal ingin membersihkannya. Tapi Eren memintanya untuk tidak membersihkan semuanya kecuali daerah kasur yang nanti akan menjadi tempat mereka tidur disana.

Untuk apa kita membersihkannya ?

Kita kan hanya 1 hari disini.

Sayang sekali , awalnya hal itu menjadi alasan kenapa Levi tidak membersihkan satu pondok , tapi ketika dia bernasib sial kejatuhan laba-laba di kepalanya , selesai sudah.
ia mencari ke seluruh penjuru pondok untuk mendapatkan sebuah sapu dan kain pel.
dibersihkannya 1 pondok , tentunya Eren juga dipaksa membantu , walau sebenarnya ia malas sekali untuk membantu. Tentu alasannya karena , satu , mereka tidak menginap berhari-hari seperti dulu saat membersihkan kastil dengan regu tim Rivaille Heichou. Tidak ada gunanya membersihkan tempat yang akan mereka tinggalkan keesokan harinya –bukan ?

Dua , Eren sudah sangat amat teramat lelah dengan perjalanan mereka dari pagi. Pantatnya sakit sekali karena terlalu lama duduk di atas kuda. Alasan lain karena sex semalam.

Ia masih menggumam betapa melelahkannya hari itu dan sebaiknya tidak usah membersihkan pondok.

Tapi pemikiran Eren ternyata salah , SEMUA prajurit ternyata tengah membersihkan pondok mereka masing-masing. Well , tidak untuk Hanji , dia sedang merapikan api unggun di tengah-tengah pondok mereka. Eren sesekali mengambil kesempatan untuk melirik keberadaan Levi , membantu menyiapkan api unggun lebih seru daripada membersihkan pondok yang hanya berukuran 10x10 kan ?

yang ternyata sialnya ia sadar , kalau Levi tidak akan mengizinkannya pergi sebelum ia menyelesaikan pekerjaannya , membersihkan pondok.

Hari sudah semakin sore , pondok sudah hampir selesai dibersihkan semuanya , pondok yang tadinya terlihat kotor mulai lebih sedap dipandang , kaca jendela dan kisinya yang berjamur sudah bersih.

Pondok Irvin dan yang lainnya juga hampir selesai , mereka tinggal merapikan ranjang .
tempat tidur mereka tutupi dengan seprei yang dibawa oleh masing-masing .

Eren sudah daritadi bersama Hanji membicarakan menu untuk makan malam nanti.

Mulai dari daging kelinci sampai daging rusa. Mau dibakar atau direbus. Pembicaraan mereka layaknya koki restoran ahli. Beberapa prajurit memberi makan dan minum kuda-kuda mereka , sisanya merapikan barang-barang bawaan ke dalam pondok .

Damai sekali. Tidak ada tanda-tanda Titan , atau makhluk apapun. Yang ada disekeliling mereka hanya alam.

Levi mengeluarkan 2 buah ember dari pondok , hendak mengambil air dari aliran sungai.

Eren mengikutinya.
" Heichou !" kemudian memeluk kekasihnya dari belakang.

Dalam hati , Levi senang , akhirnya tiba saat mereka bisa ngobrol dan menghabiskan waktu berdua saja. Tidak ada serangga pengganggu yang berkacama ataupun berambut pirang.

" Hati-hati , bodoh. Kamu tidak membawa pakaian ganti kan ?" Lengannya yang kuat , membalas pelukan Eren ,pelukan mesra tidak bisa dielakkan lagi , daritadi mereka sudah tidak tahan untuk bermesra-an . Kalau bukan karena ada prajurit lainnya , mereka pasti sudah seakan-akan berada di dalam dunia mereka sendiri. Memberi Kecupan demi kecupan di bibir masing-masing.

" Unn...Hei-chou..."

Desahan Eren membuat api dalam tubuh Levi sedikit memercik. Seperti percikan kembang api di dalam dadanya. Panas.

" Apakah kamu tahu , Eren ?" Bibir mereka masih terpaut. Terdengar suara kecupan lagi , Levi memang tidak melepaskan kesempatan saat bibir ada tepat di depannya. Tidak sedikitpun , walaupun mereka sedang mengobrol.

"..uhn..soal ap- hnn.." Levi menyerang leher Eren , tidak memberinya kesempatan untuk membalas pertanyaannya. Ia kemudian meremas pinggul Eren dan mendaratkan ciuman panas di mulut Eren.

Eren mulai tidak fokus , kepalanya mulai berputar –tidak dunia seakan berputar mengelilinginya.

Tubuhnya sangat panas. Suasana mulai tidak terkendali , sampai Irvin memanggil Levi untuk mulai rapat misi beserta Hanji.

Eren dan Levi sempat terdiam sejenak , entah apa yang ada di pikiran masing-masing.

Aku tidak ingin berhenti .

Aku ingin terus bersamanya.

Sentuhan tangan Levi di pipi Eren sangat panas –perlahan , tapi sangat...

" Oi , Eren."

Mata Jamrud Eren tidak berkedip. Hijaunya seakan-akan menghisap Levi , tidak ingin meninggalkannya , seperti sihir.

Bukan. Tepatnya , BlackHole.

Banyak yang ingin diungkapkan , sebenarnya.

Tapi semua tersangkut di tenggorokan , Eren pun tidak mengeluarkan suara.

Kesunyian saat itu lebih bermakna ribuan kata. Walaupun mereka hanya saling menatap.

Tapi sangat berarti , Eren memegang erat pinggir baju Levi , tidak ingin berpisah .

Kebisuan sangat terasa, yang terdengar hanya suara nafas masing-masing ...

Tarik , hembuskan.

Tarik , hembuskan.

Levi menatap mata Eren , ribuan kata tidak bisa menjelaskan bagaimana perasaan mereka saat ini.

Aku mencintaimu.

Aku mencintaimu.

Aku mencintaimu.

Ingin rasanya berteriak agar semua orang tahu , bahwa mereka adalah satu.

Tidak terpisahkan . Saling mencintai . Seperti pecahan puzzle . Mereka begitu lengkap satu sama lain.

Eren melingkarkan tangannya , naik dari pegangan pinggir baju , ke leher Levi .

Levi menarik-nya masuk ke pinggir bebatuan , agar tersembunyi.

Dikecupnya kening Eren . Jemari Levi menyisir rambut Eren yang bersandar pada tebing batu.

Ahh. This is it.

Perasaan damai menyebar keseluruh tubuh –terutama hati .

Dipeluknya lagi Eren , erat.

Lebih erat. Seakan-
Tidak ingin berpisah.

Sahutan nama Levi terdengar lagi dari arah pondok , mereka mencari keberadaan Levi.

Sudah saatnya untuk kembali rupanya. Perasaan kecewa terlihat dari wajah Eren.

Eren menjilat bibirnya sedikit , berusaha untuk mengingat lagi kehangatan yang ditinggalkan Levi di bibirnya.

" Ayo." Levi mengulurkan tangannya , membantu Eren untuk naik ke atas tebing , walau jaraknya tidak tinggi dari arah sungai sampai tepi pondok , tapi Levi tetap mengulurkan tangannya , ingin menghabiskan waktu selama mungkin berdua. Walau itu hanya untuk membantu Eren naik ke atas tebing yang berjarak kurang lebih 2 meter tingginya. Sambil membawa 2 ember tentunya.

Eren tidak basa-basi , karena perasaannya juga sama . Disambutnya tangan Levi dengan bahagia.

Senyum merekah di wajah si bocah ,hingga menggelitik hati Levi.

Ditariknya tangan Eren , agar ia jatuh ke dalam pelukannya , di saat itulah , Levi mencium Eren untuk terakhir kalinya.

" aku mencintaimu , Eren. "

Eren sedikit terkejut , rasa gembira atau apapun itu namanya , menyebar , tubuhnya bergidik dengan cepat , ia menahan tangis , ia menahan rasa haru-nya.

Andaikan ia bisa menemukan kata yang mendeskripsikan perasaannya saat itu.
pastilah kata itu adalah , Sempurna.

.

.

.


Hanji mengeluarkan peta dan menyebarkannya di atas meja makan di pondok Irvin.

Rapat untuk memilih rute , karena sepertinya awan kabut cukup tebal malam ini.
Irvin yakin besok akan hujan.

Levi menyilangkan tangannya , memperhatikan balik jendela sambil menyeruput teh yang baru dihangatkan oleh Hanji di perapian.

" Bagaimana menurut-mu , Levi ? " Irvin menyadarkan Levi dari lamunannya.

" Huh ? Rute apapun tidak masalah untuk-ku. "

" Baiklah , kalau begitu kita lewat dari pinggir sungai saja , di hilir nanti akan langsung terlihat Kastil tujuan kita." Irvin menunjuk peta , memberi tanda dengan jari telunjuknya.

Hanji mengangguk setuju .

Baru saja ia ingin menambahkan soal kelanjutan pencarian Titan, tiba-tiba suara air hujan yang deras langsung menyerbu –disertai dengan suara dempuran petir.

" Hujan ? " Hanji segera merapikan peta , takut ada tetesan air yang akan menghancurkan peta mereka.

" Bukan , ini Badai . " Levi mendecak kesal ,

Irvin berdiri dari kursinya , dan mulai merapikan berkas yang berserakan di atas meja. Di ambilnya jubah dan jaketnya. " Pindahkan semua kuda ke pondok yang kosong , beritahu yang lain."

Hanji dan Levi langsung mengambil jubah mereka , keluar dari pondok dan membagi jadi 2 regu , Hanji ke pondok prajurit yang berada tidak jauh dari pondok Irvin , dan Levi tentu saja ke pondoknya.

Memberitahu pada Eren terlebih dahulu.

Tidak disangka , serbuan air hujan sangat deras,sangat sulit untuk melihat , Levi mencoba meraba dan berjalan perlahan sambil menutupi matanya dengan tangan dan jubah , setidaknya ia masih bisa melihat sedikit. Ketika ia sampai di pintu pondok , tiba-tiba ada suara petir yang keras , menggema , dan mendarat tidak jauh dari tempatnya berdiri , sebuah pohon di ujung sungai terbakar.

Ini bukan badai biasa. Ini Bencana.

Pukulan air hujan sangat sakit di tubuh Levi , dan bunyi petir serta hujan yang gemuruh membuatnya tidak bisa mendengar apapun . Walau ia tahu , Hanji sedang meneriaki namanya , tapi ia hanya ingin fokus untuk menyelamatkan Eren terlebih dahulu.

" EREN ! "

Dibukanya pintu pondok , segera Levi masuk dan menutup pintu , membuka penutup kepalanya dan mencari Eren.

Tidak ada . Eren tidak ada di dalam pondok .

Tidak . Tidak . Tidak . Tidak . Tidak.

DIMANA DIA ?

" TITAN ! ADA TITAN ! "

suara Hanji memecah guruh badai , teriakannya sangat keras,

" AMBIL 3D manuver kalian ! "

Di Ikuti oleh suara prajurit lainnya dan samar-samar terdengar teriakan Irvin yang memberi komando di tengah badai.

Levi segera mengambil peralatannya dengan cepat , dikepalanya penuh dengan EREN.

Persetan dengan MONSTER itu.

Tapi legalah dia ketika ia membuka pintu pondok , dilihatnya Eren sedang berlari ke arah Hanji sembari membawa kedua kuda mereka.

" EREN ! " Levi berlari , dengan kecepatan penuh. Resiko menggunakan manuver ditengah badai sangat tinggi . Namun untunglah jaraknya tidak begitu jauh , sehingga ia bisa langsung menyusul Eren.

" LEVI ! Jangan menggunakan manuver di tengah badai ! " Irvin menyusul dari pondoknya.

" BAGAIMANA DENGAN TITANNYA ?! " salah satu prajurit sudah mengeluarkan pedangnya , bersiap untuk bertempur.

" Mereka tidak bisa bergerak pada malam hari , kita cukup menunggu badai reda di dalam pondok !"

Hanji mulai tidak bisa melihat , suara nya kalah oleh gemuruh badai .

mereka semua kemudian berkumpul di pondok Irvin , dan berlindung –sampai badai reda.

Beberapa dari mereka mulai ketakutan .

bagaimana tidak , mereka terisolasi , dan disekitar mereka ada Monster pemakan manusia.

Berkeliaran , menunggu matahari terbit .

" Bagaimana kalau badainya tidak berhenti sampai pagi ?! KITA TIDAK BISA MEMAKAI MANUVER DALAM BADAI ! " Beberapa prajurit mulai tidak tenang.

Jujur saja , saat itu pilihan mereka hanya adalah berada di dalam pondok , menunggu badai reda , atau mengambil resiko bertarung di dalam badai.

yang kedua pilihan mereka sama-sama tidak akan berakhir dengan baik.

Semua masih menunggu , Irvin memilih untuk menunggu di dalam pondok , sembari adanya kemungkinan badai akan berhenti.

Pikiran mereka semua sangat tidak tenang , berbagai macam perasaan menghantui mereka ,

Rasa takut , kematian , kesedihan , putus asa. Bercampur menjadi satu.

Eren tidak bisa menghentikan dirinya dari rasa takut . Ia memegang punggung jubah Levi dengan erat , yang membuat Levi sadar , kalau ternyata Eren terluka.

" Eren –kamu terluka ? " dilihatnya lengan Eren , darah mengucur deras dari balik lengannya , ia terluka panjang , sampai ke bagian siku.

" Ah.. an-no.. ini karena aku terburu-buru menyelamatkan kuda... aku tergores kayu pasak yang ada di dekat ku... " Penuh perasaan bersalah , Eren berusaha menyembunyikan lukanya . Entah apa alasannya.

Ada yang ganjil . Eren tidak beregenerasi...

" Ere-"

DRRRRRRRRRRSSSSHH

Suara deburan air , keras , sangat keras sampai tanah yang mereka pijak bergetar.
Gempa yang kuat. Kaca jendela mulai pecah , lantai mereka mulai bergoyang.
Seperti tersambar petir , Tubuh mereka langsung gemetar , Adrenalin berpacu dengan cepat ,
Nafas memburu , mereka tahu apa yang datang.

Irvin langsung bangun dari tempat duduknya .

" LONGSOR ! "

"CEPAT KELUAR DARI PONDOK ! "

Seperti adegan slow motion ,

Dalam hitungan detik , lautan tanah dan air deras sudah menyusul , mendekati pemukiman mereka.

Hanji dan Irvin memberi arahan untuk para prajurit keluar dari pondok terlebih dahulu ,

Levi sudah ada di luar pondok , mengamankan kuda-kuda dan membantu para prajurit untuk menyelamatkan diri.

Semua kuda tidak bisa berhenti meringkik , mereka ketakutan. Ada yang melompat dan ada yang tidak mau bergerak sama sekali.

" Aku tidak mau keluar ! Ada Titan di luar sana ! Aku tidak mau ! "

Salah satu prajurit wanita meringkuk di bawah meja di dalam pondok,

Eren tidak bisa menghiraukan-nya , mereka sedang bertarung dengan waktu , ia menggenggam tangannya.

" TENANGLAH ! ADA AKU ! AKU AKAN MELINDUNGI KALIAN SEMUA ! "
Eren langsung menarik dan membawa keluar prajurit yang lemas – melemparkan dirinya ke arah Irvin yang ada di depan pintu pondok , menunggu.

"EREN ! CEPAT KELUAR ! " Irvin mendorong prajurit wanita yang ketakutan ke Hanji dan bersiap pergi.

Levi mencari Eren , matanya melihat ke segala penjuru , tidak ada.

Sampai matanya tertuju ke arah pintu pondok dimana Eren berada.

Tidak.

Langkah demi langkah , menyusul ke arah Irvin ,

Eren sudah berhasil keluar dari pondok , memakai jubahnya , ia memeluk Levi dengan spontan ,

Deburan ombak longsor semakin mendekat , tidak sampai semenit , pondok mereka sudah rata dengan tanah.

Irvin memberi komando untuk mendaki tebing , jauh dari ombak longsoran , walau mereka diserbu oleh hujan badai , setidaknya mereka bisa berlega , karena mereka bukan terseret longsor.

Beberapa kuda tidak sempat diselamatkan , kuda Hanji salah satunya.

Hanji hanya menangis melihat kudanya yang terseret ombak , meringkik tidak berdaya sampai tidak terdengar lagi .

Mereka berlindung dibalik rerimbunan pohon besar yang rindang. Berharap setidaknya hujan akan tertahan , dan mereka bisa bernafas untuk sementara.

Tapi bencana masih belum selesai.

Petir menyambar salah satu pohon yang ada di dekat mereka , membakar dan merubuhkan beberapa pohon sekaligus , asap membuat mereka tidak bisa bernafas , asap hitam mengepul karena api menyampur dengan derasnya air , daun kering memberikan media terbakar , semua kuda berlari kabur ketakutan ketika melihat api .

Mereka tidak bisa bernafas , kekacauan dan kepanikan terjadi , Hanji terluka di kepalanya saat pohon roboh dan patahan dahan menimpa dirinya. Levi terlempar ke balik rimbunan pepohonan saat kekacauan kuda yang panik , beberapa prajurit berteriak histeris , semuanya ketakutan , tidak berdaya , Irvin tidak bisa bergerak karena badan pohon menimpa kaki kanannya.

Dalam hitungan detik , semuanya jadi kacau.

Levi tidak dapat berdiri , punggungnya terluka , dan kepalanya terbentur keras badan pohon.

Matanya tidak fokus dalam kekacauan , derasnya hujan dan bunyi gemuruh membuat semuanya semakin sulit.

Sampai Irvin berteriak menyadarkan Levi ,

" RIVAILLE ! "

Siapa memanggilku...?

Levi memegang kepalanya. Darah mengucur mengalir ke mata.

Ia melihat ke sekitar , Irvin , berteriak pada dirinya , hendak memberitahu sesuatu , menunjuk ke arah pinggir tebing.

Mata Levi spontan bergerak ke arah yang ditunjuk Irvin ,

Tangan .

Terlihat jemari yang menempel di pinggiran tebing , berusaha untuk naik tapi gagal.

Hujan membuat pegangan tangan menjadi licin.

Saat itu ,

Jantung Levi seakan berhenti , tidak berdetak , suara deburan hujan dan longsor tiba-tiba menjadi sunyi. Tidak ada suara apapun di dalam kepala Levi . Hanya ada seorang , satu-satunya orang yang dia cintai dengan sepenuh hatinya , satu-satunya orang yang ingin ia bahagiakan sampai akhir hidupnya. Seorang bocah bermata hijau jamrud yang periang .
Nafasnya tidak beraturan , ia tidak ingin percaya dengan apa yang saat ini terjadi.

Bocah yang dicintainya itu , saat ini sedang berada di samping tebing , terjatuh dan berpegangan pada pinggir tebing.

" EREN ! "

Levi berteriak dengan seluruh tenaganya , berdoa di dalam hati ,

Tidak . Jangan . Jangan . Kumohon . Jangan

Ia berusaha untuk bangkit , tapi punggungnya yang cedera tidak membantunya sama sekali , ia merangkak dengan seluruh tenaganya , siraman air hujan masih dirasakannya ke seluruh tubuh , sakit.

Tidak ada tanda apapun , deburan debit air makin keras , air sungai meluap karena derasnya hujan , mengakibatkan longsor kedua turun , dengan ketinggian yang mencapai tebing tempat mereka berada.

Levi berdoa dengan sekuat tenaga. Seraya merangkak berusaha meraih tangan Eren yang masih mencoba berpegangan pada tebing- jaraknya dengan Eren sangat jauh, tapi Ia tidak menyerah.
Ia memohon . Untuk pertama kali dan terakhir kalinya.

. Jangan.

Irvin masih mencoba menyadarkan Hanji , mencari jalan keluar , dicarinya bantuan , namun 2 orang prajuritnya hilang , ia tidak bisa menemukan mereka. Tiba-tiba gempa datang , longsoran kedua datang. Sangat cepat . benar-benar sangat cepat.

Dalam satu kedipan mata , longsor besar menyapu samping tebing ,menendang mereka yang berada di atas tebing sampai masuk ke dalam rimba hutan di belakang mereka.

Levi membentur pohon yang terseret ombak , bertengger pada pohon besar yang ada di sampingnya, ia menyaksikan -
saat-saat terakhir ketika tangan Eren lepas dari pegangan tebing , dan Ombak longsor menyapunya pergi.

Menyeret Eren.

Darah yang mengucur di kepalanya sangat banyak.

Kepalanya terasa berat. Ia masih mencoba untuk berusaha sadar ,

Tapi tidak berdaya ,

Ia tidak bisa menahan-nya lagi.

Saat itu , semuanya menjadi gelap.

.

.

.


Chapter 2 ! maaf panjang banget dan bertele-tele #again

Askldjalskdjalksdljk maaf saya orangnya ga jago ngobrol #malu #gulingguling

Lalu makasih untuk review nya :")))) semua review bikin saya happy,

Apalagi review yang dari Hasegawa Nanaho / serius bikin buka mata sayaaa #yaoiming

#sembah orz , tapi karena saya udah mengantuk , saya kurang memberi detail dan memperbaiki lagi alksdjlkasdjlkasjdlk MAAFKAN SAYA #creiz #apalagichapteryangini aduhhhhh orzzzzzzzzzzzzzzzz
na-nanti di chapter selanjutnya diperbaiki laksdjlaksjdklasj #tiduran

Sekali lagi makasih atas dukungan fanfic yang gaje ini LMAOOOOOO #sebenernyainiceritapaansih #authornya aja bingung ROFL

Sampai jumpa di chapter 3 ! :D