Sekitar dua puluh menit—kurang lebih—Kris menghabiskan waktunya untuk melakukan sarapan bersama dengan penghuni rumah "Fool House" yang lain. Dan selama itu pula, ia menjadi bahan tontonan para bocah-bocah yang ada di meja makan sana. Well—benjolan di kepalanya tersebut sepertinya cukup menarik untuk dilihat.

Oh, pasti kalian tak lupa kan dengan tragedi pelemparan sandal jepit yang tadi terjadi 'kan?

"Ahjusshi—"

Salah seorang bocah berambut cokelat—yang kata si Kyungsoo bernama Baekhyun, memanggilnya dengan pelan. Membuat Kris memandanginya, menggunakan kedua matanya yang tampak basah. Bersimbah air mata.

"Berhentilah menangis. Sadar umur dong."

Krtak

Piring yang sedang dipegang Kris langsung pecah. Dan pria itu lalu pundung di pojok ruang makan.

Sungguh, ia merasa dipecundangi.

'Tuhan, jika Engkau berniat untuk menyiksa hambamu yang tampan ini. KENAPA HARUS SEPERTI INI CARANYAAAA?'

.

.

.

Fool House

.

Presented by autumnpanda

.

Tidak ada keuntungan apapun yang bisa saya ambil dari menulis fanfiction ini. Semua karakter yang muncul di sini murni milik Tuhan Yang Maha Esa. Saya hanya berani meminjam nama mereka saja :')))

.

Rated: T

.

Genres: Family, Humor, Romance

.

Casts: Kris Wu (Wu Yi Fan) + Zi Tao (Huang Zi Tao), EXO members, some OC's, and others

.

Warnings: Cerita ini mengandung banyak sekali kekurangan-kekurangan yang tak bisa saya sebutkan satu-persatu. Boys Lovesudah pasti. OOCmungkin. Dan lain-lain.

.

Selamat membaca ;)))

.

.

.

Bagi Kris, yang kehidupannya berubah semenjak ia tinggal di rumah dengan nama "Fool House" ini—bukan semenjak negara api datang menyerang lho ya. Itu sudah terlalu mainstream soalnya. Ia juga merasa, jika harga dirinya sedang dipertaruhkan.

Well—menjadi seorang pengasuh, bukanlah hal yang mudah. Ia tahu itu.

Dia kan seorang artis—artis yang hampir meredup lampu kepopuleritasannya. Setidaknya ketika ia pensiun, atau tengah cuti seperti sekarang ini, ia sudah membangun sebuah agensi miliknya pribadi. Lalu melatih beberapa trainee untuk ia bina dan menjadikan mereka bintang baru. Setidaknya ya seperti itu.

Tapi apa mau dikata? Pucuk dicita ulamnya tidak tiba. Miris.

Jadi sekarang, ketika si nyonya rumah—tapi bukan pemilik rumah ini—seseorang bernama Mei Li itu menyuruhnya untuk memomong Oh Sehun, si member termuda. Ia hanya bisa duduk, dan melihat si balita bergigi jarang itu tengah sibuk mengotak-atik televisi dengan sebuah obeng yang dipegangnya.

Hebat sekali!

Kris bahkan berpikir, sepertinya ketika si balita ini sudah dewasa. Ia pasti bercita-cita menjadi seorang mantri. Yah, mantri untuk barang elektronik tentu saja.

"Oiy, memangnya kau boleh mengotak-atik televisi itu?"

Bosan karena suasana hening mulai menghampiri Kris dan Sehun. Si pria tampan itu kemudian berjongkok di sebelah sang balita, dan mensejajarkan tubuhnya dengan bocah berpopok tersebut.

Si balita berambut cokelat tak menjawab, tapi ia hanya balas memandang Kris dengan mata besarnya yang mengerjap lucu.

Ah, andai saja Kris tak mengingat bahwa makhluk unyu di depannya ini manusia. Ia pasti sudah menguyel-uyelnya—uyel-uyel itu bahasa apa?—karena gemas.

"Cicapuwaaa iyaaa?"

Bandit.

Ini dia yang membuat Kris geram jika harus dihadapkan pada bocah ini. Bahasa mereka berdua saja sudah tidak koheren satu sama lain. Bagaimana mereka mau saling memahami coba? Untung saja hal tersebut tidak membuat kontroversi di hati Kris. Bayangkan jika hal tersebut bisa membuat ekonomi negara semakin labil. Konspirasi kemakmuran kita mau dikemanakan, bung?

.

.

Tunggu, sepertinya aku baru saja mengetik hal yang sudah sangat mainstream ya? Hm, abaikan sajalah.

Kembali pada Kris. Pria itu hanya bisa membuka mulutnya lebar. Istilah jawa kerennya, mangap. Cengo dengan kata-kata yang baru saja terlontar dari bibir kecil Sehun.

"Bubapuwaaa! Owa owa iyaaa?"

Kris menggaruk kepalanya. Bingung.

"Jijaaapuwaaaaa!"

Jemari Kris mulai merambati helaian pirangnya. Dan menjambaknya keras. Frustasi.

Sungguh, demi Spongebob Squarepants, Squidward Tentacle, dan Mister Eugene Crab! Ia tak bisa memahami kata-kata bocah di hadapannya sekarang. Jadi please, mbak author, buatlah subtitle khusus untuk balita berambut cokelat itu saat ia sedang berbicara.

"Didakuwa..." —paman.

Oh, subtitlenya berhasil. Alhamdulillah. Terima kasih mbak author, terima kasih klinik Tong Fang. Berkat Tong Fang, penyakit ambeien ayah saya bisa terobati. Hidup klinik Tong Fang.

.

.

Err, kenapa tiba-tiba hening?

.

.

Baiklah, baiklah. Kalian boleh mengabaikan iklan di atas kalau begitu. Kita kembali ke cerita.

.

.

"Hn?"

Kris mendongak. Dan memandang si balita itu yang tengah mengunyah obeng di tangannya sembari tersenyum tampan.

"Bubapuwaaa! Owa owa owa iyaaa? Bubapuwa!" —Benda ini rasanya enak! Apa aku bisa memakannya? Coba deh, kau pasti juga ketagihan!

Kris tersedak ludahnya sendiri. Merasa takjub dengan tingkah ajaib si balita. Ia berdehem kecil, dan kembali memasang wajah tampan khasnya.

"Mungkin kau bisa memakannya. Tapi aku tidak menjamin kau bisa mengeluarkannya lagi. Dan untuk tawaranmu barusan, tidak terima kasih."

Kris menjawab enteng. Membuat Sehun kembali mengerjabkan mata besarnya yang kini berair.

"Jujapuwa, bubu!" —Kau jahat!

Kris terperanjat. Ia tidak kaget karena melihat Sehun yang seperti ingin menangis itu. Ia hanya heran. Bagaimana bisa bocah sekecil Sehun mengatainya seperti tadi? Ini kan pelecehan namanya.

"Kok aku jahat?"

"Kuwaiya, bubu!" —Tentu saja, jahat!

"Kenapa aku jahat?"

"Owa ujija puwa!" —Karena kau sudah menolak tawaran baikku!

"Heh, bocah! Kau pikir manusia waras sepertiku mau menelan obeng? Dimana otak bayimu itu kau letakkan?" berang Kris, tak terima. Dan balita bernama Sehun itu menyipitkan kedua matanya, ikut marah.

"Bubuwa kuwa!" —AKU KAN BAYI, WAJAR JIKA AKU MENYURUHMU MENELAN OBENG ITU!

Kris diam. Dan hanya menghela nafas panjang.

Aku bisa dibilang gila jika beradu argumen dengan bocah ini. Begitu pikirnya.

Dan heningpun kembali melanda mereka berdua.

Hendak mengacuhkan Sehun, Kris mulai menyibukkan diri dengan mengambil beberapa majalah yang terletak di sebuah rak kecil di samping televisi. Hey, sepertinya ia kenal dengan wajah yang menjadi model sampul majalah tersebut.

Edisi Januari tahun 2003, New Year in Winter.

"Lho, ini kan—"

Kris tertegun saat melihat salah satu majalah yang ia pegang. Karena penasaran, ia pun kemudian mengambil semua majalah lain yang berada di dalam rak.

Edisi April tahun 2003, Spring Vacation.

Edisi September tahun 2003, Hot Summer.

Edisi Oktober tahun 2003, Halloween and Autumn.

Edisi Spesial tahun 2003, Kris Wu: The Boy Who Born to be a Prince.

Kris memandangi dengan cermat majalah-majalah yang ada di hadapannya. Majalah dengan nama yang sama, namun Edisinya berbeda. Ditambah lagi, majalah-majalah tersebut ternyata dipenuhi dengan foto gambar dirinya ketika ia baru memulai debutnya menjadi salah satu bagian dari dunia entertain. Ada juga sih beberapa majalah lain yang berbeda nama. Namun tetap fotonya juga yang menjadi sampul depannya.

Dan ia kemudian sadar. Rupanya—siapapun yang memiliki majalah ini, sudah mengoleksinya dari tahun ke tahun. Bahkan sudah sekitar sepuluh tahun lamanya ia mengoleksi majalah dengan Kris yang menjadi model utamanya.

Bah! Macam pemilik majalah ini seorang stalker saja.

Tapi yang jadi pertanyaannya. Siapa si stalker tersebut?

"Jijiyaaa.." —Lho iniii..

Kris tersentak, ketika ia mendapati si balita bermarga Oh mulai merangkak ke arahnya dan mencoba duduk di pangkuannya. Kris pun lalu membantu Sehun untuk duduk di atas pahanya. Siapa tahu dia bisa mengetahui pemilik majalah-majalah ini kan dari bocah berambut cokelat tersebut?

"Sehun-ah, kau tahu siapa pemilik majalah ini?"

Sehun yang ditanya hanya tersenyum lebar, dan menunjuk-nunjuk salah satu majalah yang memuat foto Kris tengah melakukan pose berenang di sebuah kolam.

"Uwaaaa!" —Orang ini mirip denganmuuu!

"Tentu saja. Orang itu memang aku."

"Dodo!" —Tidak, yang ini jauh lebih tampan!

Twitch

Satu perempatan kecil mulai mampir dengan epik di kepala Kris. Dengan sabar ia mulai menjawab kata-kata Sehun.

"Foto itu diambil saat usiaku masih dua puluh tahunan. Tentu saja terlihat jauh lebih muda."

"Bubuwaaa? Jija.." —Aku bilang lebih tampan bukan lebih muda, kau bodoh ya? Dasar..

Twitch

Twitch

Dan beberapa perempatan lain mulai bermunculan.

Ah, andai saja Kris tidak mengingat kalau balita di pangkuannya ini manusia. Ia pasti sudah mencekiknya sekuat tenaga.

"Didakuwaaaa.." —Pamaaan..

"Apa lagi?"

"Nyenye."

Kris mengerutkan dahinya. Bingung kenapa untuk kata-kata yang satu itu si author tidak menyediakan subtitle-nya. Ada apa gerangan?

"Nyenye! Nyenye! Nyenye!"

Balita di pangkuan Kris mulai berontak. Dan mencakari lengan Kris.

Bah! Kemana pula subtitle yang biasanya menyertai bocah ini saat berbicara?

"Ada apa, heh? Bicara yang jelas!"

"NYENYE!"

"NYENYE ITU APA?"

"NYENYEEEE, HUWEEEE!"

Bocah keparat. Kenapa dia malah menangis?

"Walah, jangan menangis bocah. Aku sungguh tidak mengetahui kata-katamu yang itu."

"Huweee, didakuwa bubu!" —Paman bodoh!

Hei Kris, kuberitahu sesuatu mau?

"Apa?"

Wah, keren. Kau bahkan bisa berkomunikasi denganku juga di sini.

"Ini fanfiction milikmu bodoh, wajar jika aku bisa berkomunikasi denganmu. Haaah—cepat katakan apa maksud kata-katamu tadi!"

Err, oke. Biasanya, kalau balita rewel seperti itu. Kemungkinannya cuma ada tiga.

Pertama, dia rewel kalau mainannya direbut.

Kedua, dia rewel karena lapar.

Karena kemungkinan pertama dan kedua sepertinya bukanlah penyebabnya. Berarti jawabannya tinggal kemungkinan ketiga.

"CEPAT KATAKAN DAN JANGAN BERTELE-TELE, BODOH!"

Sabar dong, kau ini sukanya terburu-buru sekali.

"Cepat katakan sekarang atau aku akan—"

Kemungkinan ketiga kalau Sehun rewel, dia pasti sedang buang air!

"Jangan memotong kata-kataku bodoh! Eh? Tunggu dulu—apa katamu?"

Sehun, buang air.

"Buang air? Tapi dia kan pakai popok?"

Buang air besar, maksudku. Dan dia minta agar kau mengganti popoknya. Dasar idiot. Katanya kau The Boy Who Born to be a Prince tapi kok kampungan sih? Masa begitu saja tidak tahu? Moron..

"Kurang ajar! Berani-beraninya kau mengata-ngatai tokoh utama fanfictionmu sendiri!"

Ini kan fanfictionku, terserah aku dong.

"Haaarrghhh, aku bisa gila berbicara denganmu!"

Kau kan dari dulu memang gila.

"Terserah apa katamu! Ayo Sehun, kita ke ibumu sekarang.."

"Iyaaaa~" —Okeee~

Kris kemudian bangkit berdiri. Sembari menyincing Sehun seolah bocah itu seonggok kutu yang hendak Kris buang keluar.

Pria blonde itu kemudian berjalan menuju dapur. Dan mendapati sosok wanita paruh baya berapron terlihat sedang sibuk mencuci setumpukan piring yang terletak di wastafel dapur. Sisa sarapan anggota "Fool House" tadi pagi.

"Noona.."

Kris memanggil pelan, membuat wanita itu meliriknya sekilas dengan ekor matanya.

"Hn.."

"Sehun buang air."

"Hn."

"Kau gantikan popoknya ya?"

"Kau tidak lihat aku sedang apa?"

Dahi Kris mengerut sadis, dan menatap wanita di depannya itu tajam. Masih dengan sebelah tangannya yang menyincing Sehun jijik. Sudah bagus dari tadi dia memomong bocah itu.

"Tapi noona, aku tidak—"

Kris ingin mengelak, namun kata-katanya langsung terpotong dengan desisan si nyonya rumah.

"Seharusnya kau ingat posisimu di rumah ini, Wu Fan."

Lho? Kenapa itu dibawa-bawa sih? Pikir Kris, mulai geram.

"Kau cuma numpang. Sadar dirilah sedikit."

BRENGSEEEEKKK!

"Tch, aku mengerti-mengerti. Akan kuganti popoknya! Puas?"

"Hn.."

Wah, Kris. Sepertinya ini hari yang sial untukmu ya?

"Tsk, diam kau!"

.

::

:: xOx ::

::

.

Dan malampun kembali menjelang.

Suasana di dalam rumah kembali ramai, mengingat para sepuluh bocah yang menjadi penghuni tetap rumah ini telah berkumpul menjadi satu di ruang tengah. Sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

Sebut saja Chanyeol, Baekhyun, Jongdae, dan juga Sehun yang asyik menggelar konser akbar mereka.

"LIHAT YANG MULUS!"

"BELOK!"

"LIHAT YANG BENING!"

"BELOK!"

"AMPE YANG DI SEBELAH GA—"

"JIJAPUWA!" —DITENGOK!

"MANTEB OH SEHUUUN!"

Benar-benar kondisi yang mampu membuat tokoh utama kita kali ini pusing mendadak.

"Ahjusshi.."

Kris yang tadi memandang nanar ke empat bocah labil tersebut. Segera menolehkan kepalanya, dan memandang Kyungsoo, bocah dengan kedua matanya yang menyerupai bola, sudah berdiri di depannya sembari menekuk bibirnya. Cemberut.

"Ada apa?" tanya Kris pelan.

Bukannya menjawab, Kyungsoo malah memalingkan wajahnya ke arah lain. Dan semakin memajukan bibirnya ke depan. Wah, kalau dilihat-lihat, Kyungsoo terlihat mirip sekali dengan ikan Koi ya?

"Apa sih? Jangan memasang wajah menyeramkan seperti itu ah."

Kyungsoo makin manyun, dan ganti menatap Kris sengit. Merasa tersindir.

Hei, dia bukan cenayang yang bisa membaca pikiran Kris kan?

"Aku disuruh eomma untuk memanggil Yuang Zhin-noona. Ini sudah waktunya makan malam." ketus Kyungsoo kemudian.

"Ya terus?"

Kris mendecih kecil dalam hati. Dia kira ada apa. Ternyata cuma disuruh memanggil si pemilik rumah toh?

"Kau tahu kan? Aku—"

Jeda sebentar.

"GAK GAK GAK KUAT! GAK GAK GAK KUAT!"

"AKU GAK KUAT!"

"YAMA PEBOY! PEBOY!" —SAMA PLAYBOY! PLAYBOY!

Hoiy, yang di sana bisa tenang sedikit tidak?

"..."

Bagus. Lanjutkan Kyungsoo.

"—sedikit trauma dengan adegan pelemparan sendok sup kemarin. Jadi kalau bisa—"

Jeda lagi.

Dan Kyungsoo terlihat memainkan jemari tangannya.

"—kau yang gantikan aku untuk memanggilnya ya?"

Kris mendelik. Kaget sekaligus horor.

Apa katanya? Menggantikan si bocah bermata bola itu untuk memanggil monster berkedok perempuan yang telah menghantamkan sebelah sandalnya tadi pagi? Demi semvak Lee Sooman. Yang benar saja!

Kris tidak ingin cari mati, ya nak. Dia masih sayang nyawa.

"Tidak ah. Aku juga masih trauma."

Kyungsoo kembali cemberut kala ia mendengar penolakan Kris.

Ayolah, ia juga sangat menyayangi nyawanya. Apalagi di jam-jam seperti ini wanita itu pasti sedang berkutat dengan eksperimen rahasia miliknya. Kalau dia merasa terganggu, bisa-bisa bukan centong nasi lagi yang bersarang di kepalanya. Mungkin microwave.

Lagipula, siapa juga yang tidak ngeri dengan perempuan bermotto: "LU SENGGOL, GUE BACOK!" tersebut?

Ah, membayangkannya saja mereka berdua sudah merinding kok.

"Ayolah paman.."

"Tidak, terima kasih."

"Kumohoooon.."

"Kubilang tidak ya tidak, Do Kyungsoo."

"Hooo, begitu ya? Jadi ahjusshi sudah berani mempertaruhkan hidup ahjusshi di tanganku sekarang?"

Dahi pria jangkung itu mengerut sempurna. Dan menatap heran bocah di depannya tak mengerti.

"Apa maksudmu?"

Kyungsoo menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. Tersenyum miring dengan sangat memukau.

"Aku memegang rahasiamu loh, Kris Wu-ahjusshi.."

Kris tercekat.

Rahasia apa?

Aku kan tidak

Kedua iris matanya membola lebar.

Mungkinkah bocah ini, mengetahui jika ia telah berciuman dengan Zi Tao? Putra tunggal si nyonya rumah.

Uh—oh Kris. Ini buruk kalau begitu.

Reputasimu sebagai seorang artis berada di tangannya sekarang.

"Apa yang kau ketahui bocah?"

Kyungsoo menarik sudut bibirnya semakin ke atas. Merasa dirinya telah menang.

"Semuanya ahjusshi."

Hening sekejap.

"Jangan kira aku tidak melihatmu melakukannya ya. Mataku ini daya penglihatannya baik sekali lho."

Lidah Kris kelu. Pria itu sudah tak tahu lagi hendak mengelak seperti apa. Sudah terlihat dengan jelas, bahwa ia telah kalah telak dengan bocah di hadapannya tersebut.

"Begitu ya?" dengus Kris pelan. Pasrah.

Ia kemudian melangkahkan kakinya perlahan. Dan berjalan menuju sebuah kamar dengan pintu yang ditempeli kertas besar yang berbunyi: "Masuki kamar ini tanpa izin. Dan ucapkan selamat tinggal pada dunia.". Seolah menuruti permintaan—bisa dibilang perintah—Kyungsoo.

Meninggalkan si bocah yang kini sedang membatin dengan riang gembira.

'Aku sudah tahu kalau kau yang mencuri pisang dari dalam kulkas semalam.'

Hm, sayangnya Kris bukan cenayang. Jadi dia tidak tahu dengan isi hati bocah bermata bola itu.

Sayang sekali ya dengan kesalah pahaman ini?

Sepertinya hari ini Kris benar-benar sial.

Dengan tangan sedikit gemetar, Kris mengetuk pintu di hadapannya itu pelan. Sangat amat pelan sehingga ia sendiri tak yakin jika penghuni kamar tersebut akan mendengar suara ketukan di pintunya.

Tok

Tok

Dua ketukan yang sedikit lebih keras mulai terdengar. Kris yang tersadar dengan tingkah brutal tangannya segera menarik sebelah tangannya tersebut. Dan memukulnya pelan. Seolah ia sedang memarahi anak kecil.

Tap

Tap

Suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan sayup-sayup telah didengar Kris. Pria blonde itu memundurkan tubuhnya sedikit. Berniat ingin kabur.

Cklek

"Apa sih? Kau tidak lihat tulisan ini ya?"

Sebuah suara sengau menyapa gendang telinga Kris. Artis lanjut usia itu—ehem—sontak mendongakkan kepalanya, dan memandang kaget si pemilik kamar yang terlihat asyik mengusap hidungnya menggunakan tisu.

Sedang wanita di hadapan Kris itu hanya mengangkat sebelah alisnya bingung. Dan balas memandangi si pria berambut pirang.

"Kau, tidak mau makan malam?"

Kris bertanya kemudian. Dan membuat si wanita yang kelihatannya berusia sebaya dengannya hanya menggeleng pelan. Lalu kembali mengusap hidungnya yang memerah dan berair.

"Tidak. Nanti biar aku makan sendiri saja. Kau tidak bisa lihat kondisiku yang mengenaskan ini ya? Aku sedang flu tahu!"

Wanita yang Kris ketahui bernama Yuang Zhin tersebut berkata ketus kepadanya. Sembari sesekali memijat kepalanya sendiri yang sepertinya terasa sakit.

"Err, baiklah. Mungkin nanti akan ada yang mengantarkan jatah makananmu ke sini."

"Hn.."

Kris menatap wanita di depannya sekali lagi. Seperti ingin menanyakan sesuatu.

"Berhenti melihatku dengan tatapan mesum seperti itu dong. Kau membuatku takut."

Kedua mata Kris membola kembali. Kurang ajar sekali wanita di depannya ini.

"Ada apa heh? Sepertinya kau mau mengatakan sesuatu?"

Yuang Zhin bertanya sekali lagi, membuat Kris yang sekarang menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak, tidak jadi."

Soal majalah yang tadi pagi kutemukan, mungkin besok saja aku tanyanya. Kasihan, mukanya kacau sekali. Pasti sakit flunya sangat parah.

"Kalau begitu aku ke ruang makan dulu."

"Hn, ya sudah. Pergi sana. Dasar kutu."

"Apa kata—"

Blam

"—mu?"

Ah. Malang nian nasibmu Kris.

Usai mendapat pujian—yang sebenarnya adalah hinaan—Kris pun kemudian berjalan ke arah ruang makan yang sudah penuh dengan sepuluh bocah penghuni "Fool House". Chanyeol masih terlihat asyik memukul-mukulkan sumpit miliknya ke atas meja. Tak menghiraukan teriakan Joonmyun yang mengatai kalau kelakuan bocah dengan senyum creepy itu sangat berisik.

"Ehem.."

Berdehem pelan. Kris lalu membuat ke sepuluh bocah yang tadi sangat ribut itu menghentikan aksi mereka. Dan ganti memandangnya dengan alis yang sama-sama terangkat.

Wow, kompak sekali. Pikir Kris takjub.

"Bagaimana ahjusshi?" tanya bocah bermata bola. Si Do Kyungsoo, yang tampak sibuk menata piring di atas meja makan, membantu sang nyonya rumah.

"Dia menolak untuk makan bersama kalian—"

Semua dahi bocah itu mengkerut, tak terkecuali Sehun yang masih balita. Mereka heran. Tak biasanya noona mereka menolak makan malam bersama-sama.

"—dia sedang flu."

CTAAAARRRR

Suara guntur yang menggelegar tampak terdengar keras—dan tidak ada yang tahu datangnya darimana. Membuat sepasang mata ke sepuluh bocah itu sontak membola. Sangat besar. Seolah berita yang baru disampaikan Kris itu akan mengguncang bumi dengan kekuatan gempa yang maha dashyat.

Lho? Aku salah bicara ya? Tanya Kris bingung, di dalam hati.

"APAAAAA?"

Ke sembilan bocah—minus Sehun yang masih belum teteh berbicara—menjerit kencang. Shock dengan kata-kata Kris. Chanyeol bahkan sudah melemparkan kedua sumpitnya, entah kemana.

"Err, noona dan jiejie kalian itu sedang flu. Jadi—"

JDEEEERRRRR

Bunyi petir kembali bergaung keras. Memekakkan telinga.

"HAAAAAH? JIEJIE/NOONA SAKIIIIT?"

Dan teriakan berfrekuensi mega itu lagi-lagi bergema kencang. Memenuhi ruang makan.

Si bocah bermata bulat segera meletakkan piring yang masih dibawanya ke atas meja. Takut ia akan menjatuhkannya secara tak sengaja hingga pecah.

"Tidak mungkin.." desis bocah bermata sipit. Zhang Yi Xing.

Bocah itu kemudian memandang bocah di sampingnya dengan bibir yang menyerupai paruh bebek, Kim Jongdae. Dan menggenggam jemari bocah tersebut erat.

"Yuang Zhin-jiejie yang maniak eksperimen dan bermuka monster itu... Aku tidak menyangka, bisa terkena flu juga." lanjut Yixing.

Apaan sih? Dia kan juga manusia.

"Tapi kalau noona bisa sakit begitu. Kayanya bakal ada hujan panah beracun!" pekik Baekhyun dengan mata melotot. Ngeri.

"Jangan-jangan, ini pertanda keanehan cuaca di bumi!" teriak Minseok, si bocah berpipi bakpau. Ikut histeris.

"Ayo kita selamatkan diri Sehun-ah. Sebentar lagi ada angin topan menyerang!" ajak seorang bocah berkulit tan, dan segera mengangkat Sehun dari kursi bayinya.

"Puwaaa?" —Kita mau kemanaaa?

"Bocah tengik! BISA DIAM TIDAK SIH? INI WAKTUNYA MAKAN MALAM LOH YA!"

Ah, akhirnya ada yang waras juga..

"JONGIN, LETAKKAN SEHUN KEMBALI. KYUNGSOO, JANGAN MULAI MENGGOSIP DENGAN LUHAN-HYUNG. DAN YIXING—"

Si bocah berkulit pucat, yang Kris kenal dengan nama Joonmyun, menghentikan kata-katanya sebentar, sembari menatap bocah bermata sipit di depannya sengit.

"—lepaskan genggaman tanganmu pada Jongdae."

Wah, sepertinya cuaca mulai berubah panas ya? Ehem.

Menurut, Yixing kemudian melepaskan genggaman tangannya. Ia lalu memalingkan wajahnya ke arah lain, sembari bersiul pelan. Tak menggubris teman-temannya yang sedang ber'cie-cie' ria.

Apa-apaan sih? Masih kecil kok sudah pacaran. Begitu pikirnya.

"Ribut-ribut apa ini?"

Sebuah pertanyaan lalu terlontar dari sosok wanita si nyonya rumah. Dari dalam arah dapur, muncul-lah Huang Mei Li, yang masih setia menggunakan apron miliknya. Sembari membawa satu nampan penuh gelas-gelas yang berisi susu cair.

"Yuang Zhin-noona.."

Jongdae hendak menjawab pertanyaan sang ibu. Namun tertahan ketika Yixing mencubit pahanya pelan.

"Jangan dikasih tahu." bisik Yixing lirih. Sembari melirik ibunya takut-takut.

"Dia kenapa?" tanya si nyonya rumah sekali lagi. Menyipitkan matanya. Sepertinya ia sudah mencium ketidak-beresan di sini.

"Dia sakit."

Plak!

Celetukan tiba-tiba dari Kris kontan membuat ke sepuluh bocah di depannya menepuk dahi mereka keras-keras. Sepertinya pria itu tak sadar jika kata-katanya tadi sudah membuat sang nyonya rumah membelalakkan kedua matanya. Kaget.

"Bodoh sekali paman itu.." celoteh bocah berkulit tan, Kim Jongin.

Seorang bocah berambut cokelat terang dengan sigap segera bangkit dari posisi duduknya. Dan menghampiri si ibu yang berdiri dengan tubuh sedikit limbung.

"Mama, tenanglah. Jiejie hanya pilek.." ujar bocah tadi, dan mengambil nampan yang tadi debawa sang nyonya rumah.

"Xiexie Luhan.."

"Tuh, lihat! Eomma saja sampai shock. Berarti memang sebentar lagi bakal ada hujan panah beracun."

"Atau keanehan cuaca."

"Atau angin topan yang sebentar lagi akan datang."

"Baekhyun, Minseok, Jongin.."

"Y-ya, eomma?"

"Tenanglah. Tidak akan terjadi apa-apa."

Ucapan sang nyonya rumah akhirnya mampu membuat ke sepuluh bocah itu menarik nafas lega. Yah, semoga saja tidak terjadi apa-apa. Begitu-lah doa mereka dalam hati.

Kris tersenyum kecil. Keluarga yang ada di depannya ini sungguh menarik. Masa mendengar salah seorang anggota keluarganya sakit saja, mereka sampai mengeluarkan ekspresi seperti narapidana yang hendak dihukum pancung?

Sungguh menakjubkan.

"Siapa yang menyuruhmu duduk, Wu Yi Fan?"

Kris tersentak, kaget.

Ketika ia hampir saja meletakkan pantatnya ke atas kursi. Tiba-tiba sang nyonya rumah menginterupsinya, dan membuatnya tak jadi duduk dengan damai sentosa.

"Bukankah, ini waktunya makan malam?" tanya Kris, sembari memiringkan kepalanya. Bingung.

"Memang."

Kalau begitu kenapa aku tidak boleh duduk? Batin Kris pilu.

Si nyonya rumah memasang wajah tak peduli, dan tersenyum tipis. Wah, ternyata wajahnya lumayan cantik juga kalau dia tersenyum seperti itu? Namun sayang..

"Dan karena putraku, Huang Zi Tao, belum pulang dari kerja. Maka mulai hari ini, kau kusuruh untuk menjemputnya setiap hari, sebelum jam makan malam tiba. Kau mengerti kata-kataku barusan kan? Otak kosong?"

Mulut wanita satu ini, tajamnya melebihi silet.

"HAAAAAH?"

Kris melongo dan terkejut. Dia, si artis tampan yang sudah belasan tahun menggeluti dunia hiburan tanah air itu. Setelah disuruh—dipaksa—menjadi pengasuh seonggok kutu berambut cokelat—Oh Sehun maksudnya, sekarang ditugaskan—dipaksa dengan kejam—untuk menjemput si pengasuh yang lain?

Oh, Tuhanku Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang!

Entah kenapa semenjak berada di sini, Kris Wu kita ini nasibnya sungguh ironis.

"Kau menolak?"

"Ta—tapi, noona.."

"Ingat kedudukanmu di rumah ini Wu Fan." peringat si nyonya rumah, dan kembali tersenyum tipis.

"KAU. CUMA. NUMPANG." koor para bocah, kompak.

"Secara cuma-cuma." lanjut si nyonya rumah.

Ah, pasrah sajalah Kris.

"Baiklah-baiklah, aku pergi sekarang.."

.

::

:: xOx ::

::

.

Dan di sinilah Kris berada sekarang.

Dan sepertinya aku pernah tahu kalimat tadi.

Menurut penuturan si nyonya rumah bermulut bak pisau daging itu—ehem. Sang puteranya, adalah salah seorang pegawai di toko roti yang terletak tak jauh dari "Fool House".

Dan benar saja. Sekarang Kris bisa melihat sosok pemuda bersurai hitam itu baru saja keluar dari dalam toko roti yang dimaksud. Sembari melambaikan tangannya ke arah seorang pemuda lain.

Mungkin teman sesama pegawainya.

Pria bersurai pirang yang sedang berdiri di seberang jalan pun melihat sosok pemuda bernama lengkap Huang Zi Tao itu mulai melangkahkan kakinya. Menyusuri jalanan yang tampak gelap karena minimnya cahaya lampu. Kris menarik nafas pendek, dan mengikuti si pemuda dari belakang.

Merasa ada yang aneh. Pemuda dengan rambut kelam itu menghentikan langkah kakinya sejenak. Membuat langkah kaki Kris juga ikut terhenti.

Ia menolehkan kepalanya sekilas, dan mendapati sesosok tubuh jangkung. Sedang berdiri di belakangnya. Di dalam kegelapan.

Pemuda itu tampak membelalakkan matanya kaget. Dan segera memalingkan wajahnya. Berusaha menghindari kontak mata yang mungkin terjadi.

"Gawat, ada yang mengikutiku.." desis pemuda itu lirih, sembari mencengkeram tas selempang yang tersampir di bahunya.

Huang Zi Tao, si pemuda tadi, mulai melangkahkan kakinya kembali. Mencoba untuk tenang, dan berjalan sewajar mungkin. Seolah tak akan ada hal buruk yang menimpanya. Tapi ia tak bodoh. Ia juga tahu kalau sosok jangkung di belakangnya itu juga kembali berjalan.

Menunjukkan dengan sangat jelas kalau sosok itu memang sedang mengikutinya.

"HUWAAA! JANGAN IKUTI AKUUUU!"

Zi Tao sontak menjerit kencang, dan segera mengambil langkah seribu. Meninggalkan si sosok jangkung yang sedang melongo di tempat.

"Ho—hoiy! Tunggu aku!"

Zi Tao kembali menjerit, tapi entah kata-kata apa yang keluar dari mulutnya. Pemuda itu semakin mempercepat laju larinya, sembari sesekali mencari tempat untuk sembunyi.

"Sembunyi! Sembunyi! Aku harus sembunyi!"

Greb

Tapi naas.

Di tengah usahanya yang mencari tempat aman untuk berlindung. Kerah jaket yang dipakainya malah dicengkeram oleh seseorang yang ia duga sebagai si penguntit tadi.

"GYAAA! AMPUN OM! JANGAN PERKOSA SAYA OM!"

Zi Tao mengatupkan kedua tangannya di depan wajah manisnya. Dan memejamkan kedua matanya takut. Seharusnya di saat seperti ini ia bisa mengeluarkan kemampuan bela dirinya. Tapi apa daya, sepertinya si penguntit itu punya tenaga yang besar sekali.

"Kampret, kau masih berani memanggilku seperti itu, hah?"

Dahi Zi Tao kontan berkerut. Sepertinya ia kenal dengan suara ini.

"Lho? Kris-ahjusshi?" tanyanya pelan, berusaha memastikan.

"Jangan memanggilku seperti itu, bocah!"

Dan kemudian wajah tampan Kris-pun muncul di bawah cahaya lampu jalan yang bersinar redup. Membuat Zi Tao menghela nafas lega. Rupanya sosok jangkung yang mengikutinya sejak tadi itu, memanglah Kris.

"Ah, syukurlah. Ternyata memang paman. Kau membuatku takut karena aku kira kau itu penguntit yang suka memperkosa bocah polos sepertiku.."

Kini giliran dahi Kris yang mengkerut. Sebal.

"SUDAH KUBILANG JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU! KAU CARI MATI YA? DASAR BOCAH PANDA!"

Suara teriakan Kris bergema dengan keras, meramaikan jalanan yang semula lengang.

Wajah tampan pria itu memerah, melebihi warna kepiting yang baru saja direbus.

"Ahjusshi, tenanglah, tenanglah.. Jangan membuat keributan di sini." ujar Zi Tao sembari menepuk pelan bahu Kris. Sukses menyebabkan Kris mempunyai keinginan untuk menendang pantat seksi bocah di depannya ini.

Lho, Kris? Pikiran kotor macam apa barusan?

"Terserah apa katamu!"

Kris mulai melangkahkan kakinya menjauh, ganti meninggalkan Zi Tao yang melongo.

"Ngambeknya jelek ih.." celetuk Zi Tao saat ia sudah berjalan bersebelahan dengan Kris.

Pemuda berdarah Cina itu mulai merogohkan tangannya ke dalam tas. Dan mengambil sesuatu dari dalam sana.

"Nih, ahjusshi pasti belum makan 'kan?"

Si bocah bersurai hitam menyerahkan sebuah roti yang dibungkus dengan kantung kertas ke arah Kris. Dan memamerkan senyuman manisnya.

Kris melirik roti yang ada di hadapannya dan si bocah bergantian. Ia mulai menaikkan sebelah alis tebalnya, memasang raut bingung. Walaupun begitu ia tetap menerima roti pemberian si bocah panda.

"Darimana kau tahu kalau aku belum makan?" tanya Kris saat pria itu mulai membuka kantung kertas yang tadi dipegangnya. Tampak sekepulan uap panas mulai keluar dari dalam kantung, menghamburkan wangi menggoda dari mentega dan harum cinnamon yang usai dipanggang.

"Sudah menjadi kebiasaan mama untuk menyuruh seseorang menjemputku saat orang tersebut belum makan. Biasanya sih, Yixing atau Baekhyun yang jadi korban. Tapi sepertinya hari ini posisi mereka digantikan olehmu ya?"

Kris menganggukkan kepalanya kecil, menjawab pertanyaan Zi Tao. Ia sudah tak peduli lagi saat bocah yang berjalan di sisi kiri tubuhnya itu mulai berceloteh sepanjang mereka berjalan menuju rumah.

Kris kemudian mengeluarkan sepotong roti berwarna cokelat ke-emasan dari dalam kantung. Pertanda bahwa roti itu telah terpanggang secara sempurna. Pria pirang itu kemudian menghirup aromanya sejenak. Dan kemudian membuka mulutnya lebar-lebar untuk menggigit permukaan roti empuk itu.

Haup

"Waaaaaa.."

ENAK SEKALIII..

INI MAKANAN TERLEZAT YANG PERNAH AKU MAKAN!

"Bagaimana?"

Zi Tao bertanya tiba-tiba. Membuat lamunan Kris langsung buyar seketika.

"Eh—apa?"

"Rotinya. Bagaimana? Enak?"

Kris mengerutkan dahinya. Mau dijawab jujur atau bohong ya?

Tapi kalau bohong, nanti dosa dong?

"Enak.."

"BENARKAAAAH?"

Zi Tao bertanya sekali lagi. Dan kali ini ditemani dengan kedua matanya yang berbinar bahagia.

Kris hanya menganggukkan kepalanya pelan. Dan mulai menghabiskan sisa rotinya.

"Itu roti pertama buatanku loh. Kau orang yang beruntung karena bisa memakan roti spesial ini!"

"Uhuk—!"

Apa katanya barusan? Ini roti pertama buatannya? Tapi, bagaimana mungkin rasanya bisa seenak ini?

"Kau bercanda ya?"

"Err, kenapa? Tidak enak ya?"

"Enak kok. Apalagi untuk ukuran seorang pemula, roti ini termasuk lezat."

"Syukurlah. Aku kira roti ini tidak bisa dimakan. Hari ini, aku baru diperbolehkan bosku untuk memasuki dapur. Biasanya aku hanya bertugas di bagian kasir."

"Hm.."

"Padahal rencananya aku ingin memberikan roti itu untuk Yixing atau Baekhyun. Tapi ternyata Dewi Fortuna sedang berpihak padamu hari ini."

Dewi Fortuna apanya?

"Ooh.."

"Err, ada apa sih?"

"Hah?"

"Terjadi sesuatu ya?"

Kenapa dia bertanya seperti itu?

"Di rumah baik-baik saja kan?"

"Baik kok. Hanya saja—"

"Hanya saja apa?"

"Jiejie-mu sedang flu."

BLAAAARRRR

Kris memiringkan kepalanya bingung. Ia sedikit kurang mengerti saat Zi Tao mulai berjalan mundur beberapa langkah menjauhinya. Sembari membelalakkan mata pandanya horor. Mengacuhkan kilatan-kilatan petir yang membayangi tubuh bocah panda itu.

Bocah ini kenapa sih?

"Ke-kenapa, kau.."

Jeda sebentar.

"TIDAK BILANG DARI TADIIII?"

Dan ditemani teriakan barusan, Zi Tao kontan menyeret tubuh Kris paksa. Dan membawa pria bersurai pirang itu untuk kembali ke rumah.

.

::

:: xOx ::

::

.

"Kenapa kalian heboh sekali saat mendengar berita bahwa jiejie kalian sakit?"

Zi Tao yang masih melangkahkan kakinya hanya diam. Tak kunjung menjawab.

"Memangnya hal itu akan membuat negeri ini dihujani panah beracun ya?"

Masih diam.

"Oh, jadi hal itu sebagai penanda bahwa keanehan cuaca bumi akan terjadi?"

Tetap diam.

"Woiy, kalau orang tua sedang berbicara tolong didengar ya?"

Langkah Zi Tao kemudian terhenti.

Pemuda itu kemudian melepaskan genggaman tangannya pada lengan mantel yang dikenakan Kris—mengingat sejak tadi ia rupanya menyeret pria tersebut. Lalu memandang pria di sampingnya dengan raut muka yang sukar untuk dibaca.

"—parah dari itu." desisnya lirih. Membuat Kris hampir tak bisa mendengar kata-katanya.

"Apaaa?"

"Congek! Kubilang lebih parah dari itu!"

Dahi Kris kontan mengerut. Perasaan bingung dan kesal mulai berbaur dan campur aduk di dalam kepalanya.

Apanya yang lebih parah?

"Sebenarnya—"

"Oh, Zi Tao.."

Baik Kris dan Zi Tao sontak menolehkan kepala mereka kaget. Zi Tao yang tadi masih ingin berbicara, kontan menghentikan kata-katanya. Dan memandangi beberapa pria asing—bagi Kris—tengah berjalan mendekati mereka berdua.

"Jung-ahjusshi?" panggil Zi Tao heran. Saat ia mendapati pria bermata musang itu berada di sekitar kawasan tempat tinggalnya.

Pria yang dipanggil "Jung-ahjusshi" oleh Zi Tao hanya memasang seringaian kecil. Dan memandang Zi Tao remeh.

"Aku baru saja dari rumah."

Deg

Jantung Zi Tao berdesir kencang, kala ia mendengar ucapan si pria Jung. Ia mulai merasa was-was. Takut akan terjadi sesuatu yang tak diinginkannya menimpa keluarganya di rumah.

"Ada apa ahjusshi? Bukankah perjanjiannya masih lama?"

Kris kembali mengerutkan dahinya bingung. Ia sungguh tak mengerti dengan pembicaraan si bocah panda dan pria musang di depannya ini. Apalagi kawanan pria musang itu sejak tadi memandanginya dengan tatapan tajam.

"Tidak Zi Tao."

Si pria musang itu mulai mengulurkan tangannya ke samping. Meminta sebatang cerutu pada salah seorang kawannya.

"Waktu kalian sudah hampir habis."

Ia kembali mengulurkan tangannya yang lain. Meminta pematik.

"Kalau kalian belum bisa memenuhi apa yang aku inginkan. Maka siap-siap saja pergi dari dalam rumah itu."

Pria bermata musang itu semakin melebarkan seringaiannya. Dan mulai menyulut cerutunya dalam diam. Ia kemudian melangkahkan kakinya kembali, dan di saat tubuhnya hampir mendekati tubuh Zi Tao. Ia menepuk bahu pemuda itu pelan.

"Bersiap-siaplah nak..." ujarnya lirih. Sembari tersenyum dingin.

Zi Tao hanya diam, dan mengepalkan kedua tangannya hingga buku jarinya memutih.

Bocah itu tak mengacuhkan kepergian si pria Jung. Dan mulai memandang Kris yang masih berdiri mematung.

"Ayo ahjusshi, kita pulang." ajaknya kemudian, lalu berjalan terlebih dahulu di depan Kris.

Dan sesampainya mereka di rumah.

Kondisi yang Kris terima, justru lebih buruk dengan adanya hujan panah beracun atau keanehah cuaca di bumi.

Di dalam sana, ia melihat dengan sangat jelas, menggunakan kedua matanya sendiri. Jika penghuni rumah itu sedang diam. Duduk melingkar dengan sangat damainya di atas sebuah karpet yang tergelar di tengah ruang keluarga.

"Mama, wei shenme?"

Huang Zi Tao yang tampak terkejut dengan kondisi keluarganya segera menghampiri sang ibunda sambil bertanya, berpura-pura tak mengerti. Ia hampir saja memeluk tubuh wanita yang melahirkannya itu sebelum sang ibu menepis tangannya pelan.

"Makanlah dulu. Ajak juga Kris."

Perintah si nyonya rumah tersebut lalu memandang Kris sekilas. Dan ia kemudian kembali memalingkan wajah paruh bayanya ke arah lain. Menghindari tatapan mata Kris yang seolah bertanya "Apa yang sudah terjadi?" kepadanya.

Kris membatin. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa kondisi mereka semua terlihat kacau seperti ini?

"Baiklah kalau begitu.."

Zi Tao kemudian kembali bangkit berdiri, dan berjalan dengan langkah gontai menuju ke ruang makan. Begitu tiba di sana ia tak kunjung mengambil tempat duduk. Tapi ia hanya berdiri, dan memandangi meja makan yang masih penuh dengan piring-piring berisi makan malam keluarganya. Tanda jika mereka baru saja akan mulai makan malam, sebelum akhirnya si bedebah itu datang dan membuyarkan acara makan mereka.

"Hei, bisa jelaskan padaku dengan apa yang baru saja terjadi?"

Kris yang baru saja datang di ruang makan segera menghampiri Zi Tao, dan memandang bocah itu dengan kedua alis tebalnya yang bertaut menjadi satu.

Bocah Huang di depannya masih bungkam. Enggan untuk menjawab.

"Hei, bocah.."

Kris memanggil lagi. Namun siapa yang menyangka jika tubuh pemuda di depannya itu akan bergetar. Diiringi sebuah isakan kecil yang meluncur mulus keluar dari bibirnya.

"Hiks, eottohkae?"

Si bocah kemudian terisak semakin kencang. Sembari memegangi bagian bawah jaketnya dengan erat.

Kris yang tak tahu harus melakukan apa segera mendekati sang pemuda itu. Dan mulai mengusap bahunya pelan. Berusaha menenangkan.

"Jangan menangis. Ceritakan padaku."

Permintaan si pria pirang tersebut entah kenapa bisa membuat isakan Zi Tao terhenti. Dengan kedua matanya yang mulai basah, Zi Tao mulai memandang pria di hadapannya dengan pias muka sendu. Mirip seperti seekor panda yang hendak ditendang keluar dari kebun binatang.

"Sebentar lagi—"

Jeda sebentar.

"—kita semua akan diusir dari sini."

Jeda kembali.

Dan Kris yang mendengar penuturan Zi Tao hanya bisa termenung.

Ia tak menghiraukan lagi suara-suara petir yang menyambar di belakang tubuhnya. Ia sudah tidak peduli dengan hatinya yang menjerit seriosa karena takut akan ikut diusir dari rumah ini. Ia juga tak menggubris suara retakan-retakan masa depan kehidupannya yang mulai hancur dihantam kerikil.

Yang jelas, ia sudah tahu, kenapa jika Yuang Zhin terserang pilek, penghuni rumah ini akan menjerit histeris seolah alien dari luar angkasa akan datang dan menyerang bumi.

Dan rupanya Zi Tao benar.

Hal ini, ternyata jauh lebih parah dari dugaan-dugaan konyol mereka semua.

"..."

"..."

"—ahjusshi.."

"..."

"Untuk malam ini, biarkan aku tidur di kamarmu lagi ya?"

"..."

"Aku—ingin menenangkan diri sambil melihat bintang."

"..."

"Boleh kan?"

"..."

"..."

"Hn, terserah."

Ah, Kris sudah tidak tahu lagi.

Menurutnya, mungkin saat ia berduaan dengan si bocah Huang itu. Hatinya yang ikut kalut dengan persoalan keluarga ini, bisa sedikit lebih tenang.

Yah, semoga saja

.

::

:: To Be Continued ::

::

.

[a/n]:

Chapter kedua yang ini, benar-benar menguras tenaga (-_-) Ngetik pas lagi sakit itu, ga enyaaak *plak* *kok curcol?*

Konflik yang ga jelas juga udah mulai gue keluarin. Dan itu tandanya, fanfic ini mungkin ga sepanjang fanfic berchapter gue yang lain (mungkin lho ya, doain aja semoga kaya gitu).

Terus, ada juga pertanyaan-pertanyaan yang ada di ripiu, yang ngebikin gue jadi mikir lamaaaa banget. Ga tau apa kalo kapasitas otak gue itu sebenernya minim? *sewot* *dijambak* *ya terus?*

Ah, buat yang udah tanya-tanya, mungkin pertanyaan kalian akan dijawab seiring berjalannya cerita *mesem*

Tapi ada beberapa hal yang harus diingat. Bocah-bocah penghuni Fool House itu bukan saudara kandung berooo. Anaknya si nyonya rumah ya cuma Zi Tao doang. Terus sepuluh bocah itu anaknya siapa dong? Tenang, entar juga ane jelasin di chapter-chapter berikutnya. Umur mereka berapa? Kalo Zi Tao, usia bocah kelas satu ato dua esema gitu lah. Bocah lainnya, minus Sehun, anggep aja masih esde. *ketauan banget kalo males ngejelasin* Terus, buat si nyonya rumah sama si pemilik rumah, abaikan aja mereka. Usia mereka ga mempengaruhi jalan cerita kok. *dorr* *emang ada yang nanyain?*

Yosh, sekian dulu cuap-cuap gue di chap ini. Masih ada yang bingung?

Bisa mengajukan(?) pertanyaan lewat kotak review :3 *modus*

Sampai jumpa di chapter depan ( ^^)/

Doakan saya sehat selalu yaaa? *ini apa?*

Spesial matur thank you buat kalian yang sudah rela membaca, dan mereview fanfiction abal ini. Thank you so much guys :'DDD

Semoga kalian terhibur dengan karya-karya abal saya :DDDD