Yugioh © Kazuki Takahashi-sensei.
INVASI © Sora Tsubameki
-Chapter 2-
"Aku..belum mati?" Jou bergumam setengah sadar.
Sedikit ada penyesalan karena tujuannya tak tercapai.
Bukankah skenarionya sudah sedramatis itu? Mengapa tubuhnya belum juga sekarat?
Bahkan luka yang didapat sudah mulai membaik.
Bukankah ini terlalu cepat? Banyak sekali pertanyaan yang hinggap di benaknya.
Bahkan sekarang dia sudah berada di kamar bersih, dan berselonjor di atas kasur empuk. Sudah sangat lama sekali Jou tak merasakan suasana senyaman ini.
Biasanya dia akan tertidur setelah lelah berlari seharian, bersembunyi di balik tembok raksasa gedung dan perkantoran. Terbiasa merasakan dingin yang menusuk tulang dan berselimutkan langit kelam.
Namun,saat ini perasaannya serasa tercampur aduk. Dia serasa kembali ke masa lalu, dimana orang tuanya masih bersamanya. Dimana manusia masih mendominasi bumi,dimana semua masih berjalan dengan normal.
"Kau harus banyak makan..kau terlihat kurus sekali..." Seorang pria bersurai coklat memasuki ruangan sambil sibuk menata beberapa botol di atas meja.
Layaknya telah mengenal sosok Jou lama, tak ada raut sungkan atau niatan untuk menjelaskan peristiwa dramatis yang mereka alami semalam.
Masih dalam kebisuan, Jou memandang sesosok tubuh ramping yang disibukkan dengan botol-botolnya. Coatnya agak tersibak tertiup semilir angin pagi segar yang masuk melewati jendela kecilnya.
Segar..bahkan Jou sudah lupa akan segar dan manisnya udara di pagi hari.
"Siapa kamu..dimana aku..apa tujuanmu?" Jou bertanya dengan nada lemah.
Entah sudah berapa hari tubuhnya tak mendapatkan asupan nutrisi. Saat ini mencuri makanan sudah semakin susah saja. Makhluk-makhluk itu makin kejam saja, mengalokasikan makanan mereka ke dalam kemasan atau mengubahnya menjadi cairan yang ditempatkan pada tempat yang sulit dicuri oleh pihak asing.
Jou menggigit bibir bawahnya. Rasanya lapar..dia butuh makanan.
"Minumlah..setelah itu kita akan bicara panjang lebar"
"KAU!" tubuh Jou tiba-tiba menegang. Mata itu..tak salah lagi. Dia merupakan salah satu dari spesies menjijikkan itu!
"LEPAS!LEPAS!" Dengan panik Jou berusaha turun dari ranjang. Namun pergerakannya tertahan oleh borgol yang terkunci pada pergelangan kirinya.
"MAU APA KAU!" Lelehan air mata makin mengaburkan pandangannya. Meja operasi beserta peralatan pisaunya telah terbayang di benaknya. Bahkan nyeri yang dirasakan saat menyayat kulit dan organ tubuhnya saat operasi berlangsung telah berhasil ia rasakan saat ini. Mengerikan!
"Bisakah kau tak mengganggu ketenangan pagi ini? Suaramu seperti kaleng rombeng saja.." manik perak memandang Jou sinis. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, diam memberi waktu Jou meronta di ranjang, hingga diam sendiri karena lemas.
"Aku tak akan berbuat jahat padamu, bodoh! Sudah kubilang, isi dulu perutmu. Kita bisa bicara setelahnya." sang penolong mengambil satu botol cairan cukup besar, melemparkannya begitu saja ke ranjang, tepat didepan mata Jou.
"MINUM!" nada dingin makin menguar dan menghilangkan nafsu makan Jou. Dia tak sudi menelan sesuatu yang diberikan para alien itu padanya. Mungkin saja itu adalah obat bius pra operasi.
"Atau kau sengaja agar kupaksa,eh?" sang penyelamat menaiki ranjang dan membuka tutup botolnya. Menarik kepala Jou dan menenggakkan paksa isi botolnya. Jou berusaha meronta,tapi tenaganya sudah tidak ada lagi. Kejam..pikirnya. Mereka sungguh kejam. Mungkin beberapa saat kemudian dia sudah tertidur. Sudah tak akan bisa mengontrol sendiri pergerakan tubuhnya.
"Kenyang?" manik perak memandang remeh orang dihadapannya. Perlahan Jou merasa lambungnya terisi penuh.
"Itu makanan cair penemuan baru mereka. Seperti makanan para astrounot. Tak perlu mengisi energi tubuh beberapa hari. Cairan itu mampu memenuhi nutrisimu beberapa hari kedepan. Diekstrak dari berbagai tumbuh-tumbuhan kaya vitamin dan nutrisi." Jou masih termenung. Banyak sekali sensasi aneh yang terasa saat ini.
"Kenyang..aku..kenyang..hiks..hhkk.." Jou menangis sesenggukan. Air matanya meleleh menganak sungai. Rasa syukur, sedih, terharu bercampur jadi satu. Sudah lama sekali dia tak merasakan perutnya terisi penuh. Sekarang rasanya agak aneh. Suhu tubuhnya menghangat. Kulitnya yang semula pucat pasi mulai agak mengeluarkan keringat. Sang surai coklat mendiamkan sejenak bocah yang sedang menangis senggukan di depannya, tak niat mengganggu.
XXX
"Jadi..adikmu juga menjadi korban mereka? Dan kau..mengapa kau masih bisa mengendalikan dirimu disaat makhluk itu hidup tepat di otak kecilmu, Kaiba?" Jou bertanya getir..semuanya begitu membingungkan..Akan tetapi ia sudah jauh lebih baik dalam pengendalian emosi.
"Mereka dengan mudah menemukan kami. Menghabisi para penjaga dan menyeret kami ke laboratorium. Saat itu semua begitu putih. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi pada adikku saat itu. Yang terasa pasca operasi hanya rasa nyeri dan kebingungan yang amat sangat. Mereka mengembalikanku kepada kehidupan sedia kala. Dengan para penjaga dan semuanya. Tak ada satupun yang hilang..kecuali jati dirimu".
Jou menatap Kaiba tanpa ekspresi. Semua tahu rasanya kehilangan. Bahkan Jou sudah lama merasakan hal itu. Semua keluarga Jou tak luput dari pengejaran mereka. Ayah, adik, dan ibunya mati seketika ketika diinjeksi. Rupanya ketahanan fisik juga merupakan salah satu faktor yang menunjang keberhasilannya. Jou saat itu berhasil kabur dari pengejaran tepat sebelum operasi. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri ratusan orang diikat dan dibungkam mulutnya. Menunggu para alien membius dan membawanya satu persatu ke ruangan operasi.
Ia sendiri menganggap meja operasi itu seperti penjagalan, dimana yang kuat akan bertahan hidup menjadi makhluk asing dan yang lemah akan mati seketika. Sungguh..tak ada bedanya..
"Sekarang katakan..apa yang kau inginkan? Mengapa kau menyelamatkanku?" Jou memendang Seto intens.
"Simple saja. Menolong generasi kita tepatnya." Seto balas menatap.
Sudah lama semangat hidup Jou memudar. Putus asa..dan memilih mati.
Tapi Ra merencanakan lain. Mungkin ini takdirnya..mungkin orang tuanya belum menginginkannya mati sia-sia. Setidaknya dia harus mati dengan lebih berarti. Membela keberadaan kaumnya.
"Oh..i see.." Jou mengangguk lugu.
XXX
Suasana terasa agak ramai dengan kehadiran Jou. Rumah ini bukanlah hanya untuk tempat berlindung. Kaiba perlahan mulai menanamkan prinsip padanya dan memulai pergerakan bawah tanah.
Ternyata Kaiba termasuk salah satu leader pembebasan kaumnya. Dengan adanya Jou bertambah satu lagi tenaga pembantu pergerakannya. Namun sikap ceroboh Jou perlulah di waspadai.
Jou bukanlah seorang yang jenius atau cekatan dalam bertindak. Akan tetapi Kaiba sadar betul akan potensi Jou. Si pirang ini memiliki semangat tinggi dan Kaiba tahu akan ada saatnya Jou dapat mengemban tugas yang tak bisa orang lain lakukan.
Hari-hari berjalan sangat membosankan. Walau banyak penjaga namun Jou diamanati agar tidak banyak bicara dengan banyak orang. Mereka bukan lagi manusia. Mereka hanyalah jasad yang di kontrol oleh makhluk kecil transparan yang bersarang di dalam kepalanya. Memikirkannya saja sudah membuat Jou naik pita. Namun Jou tak boleh lepas emosi atau semuanya akan berantakan.
Saat ini Jou sedang berada di dapur utama. Semua peralatan hanyalah formalitas saja. Kitchen set yang tersedia layaknya seperti pajangan yang menghiasi sudut tiap ruangan. Makanan didapat dalam ruang pendingin yang hanya bisa diakses melalui code DNA.
Tinggal kau buka kaleng nya dan BOOM! Kau akan merasakan perutmu penuh setelah menenggaknya beberapa saat dengan nutrisi dan kadar kalori yang mencukupi.
"Bah! Tidak berseni. Bahkan aku saja yang memakannya selama satu minggu sudah bosan dengan rasanya. Tak bercita rasa. Ck!"
Jou terlihat menyibukkan diri dengan lemari pendingin yang ada di depannya.
"Ada sedikit daging segar..merica..garam..dan beberapa sayuran yang hampir layu. Hmm..setidaknya aku harus memperhatikan penderitaan lidahku juga" dengan tersenyum simpul Jou memulai acara memasaknya pagi ini.
XXX
Tak ada yang bisa Jou kerjakan. Tiap harinya hanya menghabiskan sebagian besar waktu untuk mengerjakan hal yang kurang penting. Jou sadar Kaiba menyelamatkannya bukan tanpa sebab. Ada missi penting yang harus Jou lakukan. Tapi Kaiba sendiri tak pernah memberitahukan kapan saatnya tiba.
Seperti biasa hari ini Jou terlihat sibuk untuk mempersiapkan hidangan makan malamnya. Mungkin kebiasaan 'kampungan'nya ini sudahlah mendarah daging.
Tak peduli jaman telah banyak berubah. Namun selera makan Jou masih sama.
Hey dia itu manusia. Hanya alien-alien sajalah yang tahan dengan makanan cair semacam itu. "Dasar makhluk aneh tak bercita rasa" Jou bergumam mencemooh.
"Siapa yang kau bilang tak bercita rasa?" Seketika bulu kuduk Jou meremang mendengar baritton yang menyapa indra pendengarnya seketika.
"Ehhh?" Hampir saja Jou menusukkan pisau dapur ke mata Seto.
Orang itu secara tiba-tiba memgurung tubuh Jou yang masih terbalut celemek dari belakang. "Jangan bertingkah laku aneh secara tiba-tiba, bastard!" Jou mendorong tubuh Kaiba, mengisyaratkan agar makhluk itu agak menjauh.
"Kau saja yang terlalu sibuk dengan eksperimenmu, bodoh." dengan jengah Kaiba mendudukkan dirinya di kursi makan yang ada di dapur mini itu.
Pandangannya menyapu kepulan asap yang tercipta dari makanan yang telah tersedia rapih di meja. Dengan tidak berperi-kealienan, Kaiba mencomot daging yang ada di dalam mangkuk dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya.
"Apa ini bisa dimakan?" terdengar nada meremehkan dari nada suaranya.
"Jangan dimakan! Itu aku buat dengan susah payah!"
Baru saja Jou ingin mengambil slice daging yang ada di tangan Kaiba, si jamur itu telah terlebih dahulu memasukkannya ke dalam mulut kotornya.
"Ambil sendiri kalau kau mau!" Kaiba tersenyum iblis.
Oh God! Mother fucker! Maksudnya Jou masih punya kesempatan memperjuangkan kepemilikan secuil daging itu dengan merebutnya langsung dari mulut Kaiba? Hell no! "Iyuhh~~" Jou menatap pasrah, merelakan secuil daging memasuki lambung si jamur. "Sepertinya tak berbahaya. Selamat makan!" Jou megap-megap seperti ikan kekurangan air. Apa yang bisa ia lakukan?APA? Mengapa si rambut jamur berubah brutal seperti ini? Perasaan baru saja suasana terasa damai tentram dan secara mendadak si jamur datang lalu menghabiskan makan malamnya.
"Hah.." Jou lemas seketika. Terpaksa malam ini makan makanan cair itu lagi.
Brengsek kau Kaiba. Bahkan hidupku sudah menderita jauh sebelum terlibat missi yang kau janjikan!
Siku kudrat terlihat bertengger manis di jidat Jou.
Tbc
Oww..Jou. Sabar ya. Kaiba memang begitu. Tapi nanti bakal baik sendiri kok. Hihihi.
Dari pertama saya memang mengarang indah. Referensi nya hanya berlaku pada prinsip-prinsip yang krusial saja. Seperti makhluk-makhluk yang menempati kepala manusia. Dan the seeker itu. Itu saja. Hahaha! Selebihnya murni imajinasi liar sang author.
Dalam pengerjaannya banyak sekali pengorbanan. Mood kadang suka naik turun. Semoga gaya bahasanya ga terlalu terlihat banyak perbedaan. Di tengah cerita sempet drop moodnya. Ternyata membuat cerita serius itu amat sangat membuat mood jeblok. Kampret!
Masalah tanda titik atau tanda baca ga usah dipermasalahkan lah ya. Saya sudah cukup gila mikirin cerita dan nulisnya yang butuh pengorbanan banyak. Hahaha. Mau dibaca lagi dari awal? wani piro? huehehe
Doakan saja ya ceritanya bisa selesai dengan selamat.
Akhir kata ditunggu reviewnya~~
