Yugioh © Kazuki Takahashi-sensei.

INVASI © Sora Tsubameki

-Chapter 3-

Rutinitas memasaknya terulang kembali.

Hari ini Jou akan mencoba menu baru. Mengingat-ingat menu masakan yang sering ia santap dulu. Kaki jenjangnya melangkah mantap menuju dapur. Siap tempur!

Namun secara tak terduga persediaan makanan dalam lemari pendingin itu terlihat menyedihkan.

Hanya ada tabung beraneka ukuran terjajar rapih.

"Tak ada satupun sayuran atau daging tersisa. Ck!" tangannya terus mengaduk-aduk, mencari sisa kehidupan (sayur mayur) yang ada. Nihil.

.

.

.

"Tak boleh." Hanya dua kata itu yang Jou dapatkan setelah bersusah payah menggedor pintu ruang kerja Seto Kaiba dan memaksa masuk ke dalamnya.

"Aku tidak niat melarikan diri. Hanya membeli makanan di minimarket terdekat!" Jou melancarkan protes kembali.

"Tetap saja itu sangat berbahaya. Apa kau bodoh? Mereka tak akan berhenti hingga menemukan mayatmu mengambang di perairan. Termasuk juga dengan mayatku-"

"Ck! Ahrrhh! Kau bukan ibuku. Aku akan pergi walau tak kau ijinkan sekalipun!"Jou mengacak-acak rambut emasnya.

Gusar.

Ia kalah argumen.

Seto hanya menyeringai menikmati situasi.

Segitu marahnya kah anak manusia satu ini hanya karena tak diijinkan keluar? Jika Jou berniat tak meminta ijin kepada Seto, bisa saja ia pergi begitu saja daritadi bukan?

"Aku akan mengutus beberapa orang untuk mengurus bahan makanan untuk mengisi dapur bodohmu itu. Dan terakhir kali kukatakan tidak tetap tidak. Tak ada bantahan, anjing kampung!" .

.

.

.

"Memang siapa dia! Sudah kukatakan kalau bahwa aku akan tetap pergi walau tak mendapatkan ijin darinya." Jou melangkah keluar mansion dengan gusar.

"soft lense..ah syukurlah..hufthh!" Jou bernafas lega.

Lensa mata palsu itu masih melekat di kedua bola matanya. Yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk itu hanyalah dari perbedaan warna retinanya.

Kaiba memberikannya untuk berjaga-jaga.

Sempat Jou menanyakan darimana Kaiba bisa mendapatkannya, mengingat tak sebegitu mudahnya mengelabui makhluk asing.

Tak ada jawaban. Kaiba hanya mengatakan bahwa soft lense itu mengandung dna spesifik, cukup tebal untuk mengelabui alat pendetektor yang terpasang di tempat umum.

Alat kerjanya terbalik, dimana aslinya warna mata perak itu didapat dari hasil pengendalian otak kecilmu oleh makhluk asing, sedangkan tiruan ini didapat dari dna yang tertanam di selaput tipis matamu menuju otak kecilmu tanpa mengganggu fungsi kesadaranmu.

Oke, cukup rumit mengetahui bagaimana barang itu bisa Kaiba peroleh. Namun tak mustahil kan, mengingat Kaiba merupakan salah satu petinggi pergerakan pembebasan manusia.

Tentu akan banyak orang-orang penting yang berperan di dalamnya. Mengingat itu semua diam-diam Jou berharap hal tabu.

Mungkin suatu saat nanti ada saatnya semua akan baik-baik saja. Kehidupan di bumi akan berputar normal. Hak hidup manusia akan didapat kembali. Yah..mungkin..mungkin suatu hari nanti. Akan tetapi Jou tak akan berharap penuh jika saatnya tiba ia masih bisa menikmatinya di atas tanah ini.

Cukuplah itu menjadi hadiah terindah bagi kematiannya.

Semoga nyawanya tak terbuang sia-sia. Yah..semoga.

.

.

Jou melangkahkan kakinya dengan tergesa. Meski agak ragu, tapi Jou sedikit hapal jalanan umumnya. Bukankah ia sudah terlatih secara alami dalam petualangan kecilnya dulu? Saat ia jadi pelarian dan mengendap-endap setara tikus got untuk mencuri sisa makanan yang terjatuh atau terletak di meja kafe yang sengaja ditinggal pembelinya?

Namun kali ini keadaannya jauh berbeda. Ia tak harus sembunyi-sembunyi memperoleh bahan makanan yang ia mau. Ia tak harus berlari menghindari penangkapan layaknya anjing liar. Sekarang semua serasa berbeda.

Orang-orang yang dahulu memandang curiga padanya, kini tersenyum ramah dan berlalu begitu saja. Pun dengan penjaga bermuka garang yang terlihat di depan kios. Hanya menghadangnya untuk sekedar berbasa-basi saja.

Di depan kios itu terpasang detektor yang menempel sepanjang pintu masuk. Sensornya semacam sensor cahaya yang mendetect makhluk sekecil apapun yang melewatinya. Sensor tersebut akan menjerit nyaring jika terjadi kejanggalan.

Dengan agak gugup Jou memberanikan diri untuk melewatinya..dan whuzz..ajaib.

Tak terjadi apapun dengannya..hah!

Tak pernah Jou terkesima seindah ini. Dan nanti malam ia berniat berbaik hati memasak sup jamur untuk si rambut jamur itu sebagai ucapan terima kasihnya. Eh?

Dengan senyum mengembang Jou memasukkan beberapa sayur segar ke keranjangnya, memilih buah-buahan segar, dan bumbu pelengkapnya. Tak lupa dengan saus, dan kecap asin. Oh ya, jangan lupa juga dengan daging sapi segar itu. Oh ya satu ikan itu juga.

Tidak-satu lagi, acar segar itu juga. Ah tidak-tidak..masih ada lagi, roti kering ia masukkan juga ke keranjang belanjaannya. . .

"—Sepertinya anda memiliki hobi memasak yang cukup baik, tuan.." Sang penjaga kembali berbasa-basi, membantu Jou mengeluarkan belanjaannya dari keranjang.

"Ah, terima kasih.." Jou meraih kembali barang belanjaannya, dan menghindari pandangan yang sempat mengintimidasinya diam-diam.

Dengan agak tergesa, Jou menenteng barang belanjanya, melewati tikungan, dan gang sempit. Langkahnya lebih dipercepat dari sebelumnya. Suasana agak mencekam.

Jou menyadari akan kecurigaan si penjaga dan dia menduga bahwa penjaga itu menghubungi pihak keamanan untuk menyergap Jou saat ini juga.

.

.

.

Pertikungan jalan

-AH!

Secara tiba-tiba tubuhnya hampir saja terjerembam ke belakang jika tak ada tubuh tegap yang menangkapnyanya. Tepatnya membungkam paksa mulutnya dan menariknya ke dalam celah sempit di tepi jalan.

"Cih, lepas money bag!"

"Sepertinya kupingmu sudah tuli. Bukankah sudah kuperingatkan untuk tidak berkeliaran?" Mereka terlihat waspada. Bulir keringat masih keluar sebesar biji jagung.

Degup

Degup

Panik.

"Apa saja yang mereka katakan padamu?"

"Tidak ada."

Diam

Degup

Panik

"Sekarang kita hanya bisa menunggu mereka menjauh. Mati konyol jika kita keluar sekarang"

Posisi mereka terhimpit dan saling berhadapan. Ternyata spacenya memang begitu kecil. Hanya menyisakan beberapa senti saja agar tubuh mereka tak menempel satu sama lain. Bahkan hembusan napas Kaiba begitu menggelitik kuping Jou yang saat ini tengah memalingkan muka ke arah berlawanan.

"Aku yakin suatu saat adikmu akan ditemukan"

Hening

"Pernyataan macam apa itu?" Kaiba mendengus tak terlihat tersinggung. Mungkin hanya basa-basi penghilang kejenuhan selama menunggu dalam celah sempit itu pikirnya.

"Tidak. Aku sungguh-sungguh memikirkannya beberapa hari ini. Kau tak terlihat melanjutkan ceritamu setelah itu tentangnya. Dan sepertinya kau memiliki harapan besar agar bisa bertemu dengan adikmu lagi." Kali ini Jou menatap manik peraknya intens.

Kaiba hanya mengangkat bahu. Tak terlihat berminat melanjutkan topik pembicaraan. Matanya beralih ke arah lain, terlihat mengawasi seseorang yang mulai mendekat.

Napas mereka tertahan, dan berusaha setenang mungkin agar tak mengundang perhatian di tempat persembunyian.

Tap

Tap

Kaiba makin menyipitkan maniknya. Seburuk-buruknya ia telah mempersiapkan moncong pistol yang kedap suara di balik sabuk celana panjangnya.

Tap

Tap

Langkahnya semakin nyata.

Secara perlahan Kaiba mengeluarkan pucuk pistolnya, mengangkat tepat di depan mukanya. Siap membidik.

Pip pip

"Ya..baiklah." Terlihat pembicaraan singkat via telepon.

Setelah itu langkahnya mulai menjauh seiring mengendurnya urat ketegangan dua orang yang saat ini telah banjir keringat.

.

.

.

"Itu harus menjadi terakhir kalinya kau melakukan tindakan bodoh" Kaiba memijit kepalanya, agak pening.

"Aku bukan hewan peliharaan yang setiap saat harus mematuhi perintahmu, money bag!"

"Jangan membantah!" Kaiba menggebrak meja tanda frustasi.

Susah payah ia hirup oksigen yang seolah menghimpit paru-parunya karena murka. Situasinya tidaklah sesimpel yang Jou pikirkan. Tindakan bodohnya itu tidak hanya akan membahayakan nyawanya. Tapi juga membahayakan dirinya dan orang-orang yang ada di belakangnya. Maka dari itu Kaiba gusar tak terkira melihat reaksi Jou yang di luar perkiraan. Dia kira Jou akan menyesal dan berjanji tak akan melanggar perintahnya lagi.

"Berkemas-kemaslah. Hari ini adalah hari terakhirmu berada di sini!" Mata Jou membelalak tak percaya.

Apakah ia akan di lempar ke jalanan lagi? Hanya karena tak mematuhi perintah Seto untuk tidak keluar rumah? Lalu bagaimana tentang missi kemanusiaan itu?

-AH!

Jou memalingkan muka tanda menyesal. Nafasnya terasa berat. Bukan begini akhir yang ia inginkan. Sejak usaha bunuh dirinya itu ia sudah tak berharap hidup untuk dirinya sendiri. Ia sudah ikhlas dengan apa yang akan terjadi pada dirinya demi membantu pembebasan kaumnya. Akan tetapi jika sekarang ia di buang ke jalanan lagi, apa yang bisa ia perbuat untuk missi mulianya itu? Jou tampak kalut dan menggigit bibir bawahnya.

"Merasa menyesal,eh?" Kaiba menyeringai.

Maniknya berkilat terpantul sinar matahari yang menerobos sisi jendela ruang kerjanya. Entah sejak kapan ia senang sekali menjahili pemuda polos berambut pirang yang mematung di depannya saat itu.

"Kemari.." Seto melambaikan tangannya, memerintahkan Jou untuk mendekat.

Secara spontan Jou mendongak dan mengikuti perintah Seto untuk mendekat. Persis seperti anak anjing saja.

"Tunjukkan sikap menyesalmu dan minta maaflah padaku." Manik peraknya berkelebat nakal. Kaiba menggerakkan tangan kanannya, menyisir setiap helai rambut pirang Jou, sedang tangan kirinya menarik pinggang raping Jou dan mendudukkan Jou di atas pangkuannya.

Kaiba meminimalisir jarak mereka. Kaos yang Jou kenakan melorot setengah mengekspose pundak kanannya yang mulus.

"Menurutmu, apa warna di balik manik ku?" Kaiba menatap Jou intens sambil sesekali mengelus pipi halus Jou. Muka Jou memerah bak kepiting habis di rebus. Mengapa Kaiba bisa membaca pikirannya? Sudah sejak lama juga Jou bertanya-tanya hal yang sama, namun tak berani menanyakannya langsung. Akhirnya pertanyaannya hanya ia simpan rapat di dalam benaknya.

"Maaf atas semua tindakan bodohku." Jou berkata lirih sambil terus menundukkan pandangan, tak berani memandang Kaiba sedekat itu.

"Hm?" Kaiba terheran. Jawabannya kurang sinkron. Tapi toh Jou sudah mengabulkan perintah Seto yang pertama untuk meminta maaf padanya.

Kaiba menahan kepala Jou yang bergerak gelisah. Anak ini mungkin bisa menjadi penghiburnya di saat seperti ini. Sudah lama sekali Kaiba tak merasakan sensasinya. Perasaan menyimpang dari urusan missi yang kian hari makin memuakkan saja.

Sudah lama juga Kaiba tak merasakan masakan manusia-maksudnya lidahnya sudah tak pernah mengecap langsung rasa daging atau sayuran hasil bumi. Kebutuhannya dipersimple dengan botolan pengisi nutrisi brengsek itu. Rasa itu ia dapatkan kembali saat Jou hadir di kehidupannya.

Saat ini entah kenapa sisi kebutuhannya meluap hebat tak terbendung. Matanya kian mengeruh, berkabut.

Kebutuhan akan seks.

Setengah memaksa Seto menempelkan kedua bibir mereka dan mengecap rasanya dengan menggebu. Sedangkan Jou makin gelagapan merespon. Ia tak tahu apa yang akan ia lakukan sekarang. Semuanya begitu tiba-tiba.

Degup

Degup

Reaksinya terulang kembali. Bukan rasa panik seperti saat mereka hampir tertangkap the seeker di celah sempit itu. Namun rasa melambung seperti ada kupu-kupu yang terbang menggelitik dari dalam perutnya.

"Coklat madu.." Seto menuntaskan aksinya, menyisakan benang saliva di antarnya.

"Apa?"

"Warna manikku coklat madu."

Hening

"Tapi aku tak pernah menarik perkataanku. Kau harus berkemas." sambung Seto lirih.

AH!

Jou membisu. Ekspresinya sulit tergambar.

"Berkemaslah. Dan kau akan kubawa ke tempat persembunyian kami. Missi mu akan segera kau dapat." Pandangan Jou nanar.

Prediksinya jauh menyimpang. Ia kira ia akan dibuang begitu saja seperti sampah. Luapan kebahagiaan menguar hebat.

Ya, mungkin ini saatnya raganya mulai diperlukan.

.

.

Tbc

A/N: HEYYO‼ GW BALIK LAGI. Di chapter ini gw mencoba melakukan revolusi (?) pada gaya tulisan gw. Terima kasih banyak pada para author fandom tetangga yang telah banyak menginspirasi gw. Gw sujud sembah sama kalian. Kalian amazing‼

Oke oke. Disini gw nyoba membangun perasaan Kaiba ke Jou. Semoga feelingnya dapet. Dan target gw di chapter 3 ini tercapai. Akhirnya Jou bakal melek (bahasa gw enggak bgt). Jou bakal tahu kayak gimana missi dan struktur organisasi mereka nanti. Bukan gw kalo ngga nganu-nganuin mereka. Pokoknya humu dimana-mana ntar. HUAHAHAHAHAHA (tawa nista)

Akhir kata wassalammualaikum wr wb (?)