Disclaimer: Om kishi-muach (bejeked xD)
Warning: AU, Super OOC, alur kecepetan, typos bertebaran, tanda baca nyasar, cerita awut-awutan, gajeness, absurdness, dwwl.
-SasuHina Present-
A/N: holla, akemi holic dan akemi licious dimanapun anda berada. Yo yo yo, ketemu lagi dengan akemi disini (Jebreeet XD) dengan bangga bercucur peluh darah dan air mata akemi mempersembahkan fic ini. jika kurang berkenan di hati anda, jangan salahkan saya. Saya kan polos ga tau apa-apa (buagh)
-The Girl by Akemi M.R-
Saya tidak mendapat keuntungan apapun baik yang materiil maupun non materiil dari pembuatan fanfic ini.
Don't Like Don't Read. So, here we go. Happy reading, minna!
.
Summary: Apa jadinya jika seorang vokalis grup Band terkenal seantero jepang harus berkeliling kota karena tersasar? Bagaimana ceritanya jika vokalis Band itu menjadikan seorang pustakawati menjadi guide dadakannya?
.
.
"Kemana?"
"Distrik Nagoya"
Belakangan ini, Sasuke menganggap per tak lebih dari kesenangan sesaat. Menurutnya, tak adil jika hanya satu orang perempuan saja yang mendpt seluruh rasa perhatiannya dan membuat gadis yang lain iri. Tapi, menyamakan Sasuke dengan Playboy alias Heartbreaker dan se-spesies dengan itu membuatnya tersinggung. Hei, Sasuke bukanlah makhluk-makhluk bersifat tak wajar yang se-genus dengan itu. Titik!
Ia Cuma berpindah dari satu perempuan ke perempuan yang lain saja. Tak lebih!
Jadi, saat ada seorang gadis yang menarik perhatiannya. Namun, nampaknya gadis itu tak memiliki ketertarikan yang sama bahkan jika diteliti lebih lanjut, sepertinya gadis itu tak tertarik pada hal lain selain buku itu membuat jiwa dominasi nya –Sasuke lebih suka menyebutnya seperti itu- tergugah. Semakin sulit apa yang diraihnya, maka semakin memuaskan pula hasilnya.
"Kudengar ada group band Ibu kota yang akan datang kesini" cuap Hinata mencoba membuka keheningan dengan percakapan yang tergolong basi. Well, kabar itu sudah tersiar seantero kota selama beberapa pekan terakhir, Jadi siapa makhluk kudet yang bakal ketinggalan kabar itu?
Namun, tak disangka itu membuat bahu Sasuke menegang. 'Apa mungkin dia tahu?'
"Err, aku tak terlalu suka dengan mereka. Walaupun aku tak mengenal mereka" gurau Hinata singkat.
Sasuke bersumpah mendengar ada kegetiran dalam nada suaranya. Entah kenapa, itu membuat hatinya terkoyak antara ingin menghIbur gadis itu atau melindungi jati dirinya.
"Kenapa?" Tanya pemuda onyx itu. kernyitan dikeningnya membuktikan keheranannya. Setahunya, hampir seluruh gadis lajang menyukai err- ralat, menggilai mereka karena berbagai factor –seringnya sih tampang. Gadis itu lajang, tapi kenapa ia malah membenci mereka? itu yang membuat benak si bungsu Uchiha bertanya-tanya.
"Itu karena mereka laki-laki" jawab Hinata inosen. Senyum polos nan tak berdosa disertai tatapan geli terpatri diwajahnya.
Sasuke cengo. 'Jangan bilang kau penyuka sesama jenis, Nona-Siapapun-Juga'
"Kau membenci mereka, karena… mereka laki-laki?"
Sumpah baru kali ini ia terdengar tak yakin dengan apa yang diucapkannya. Entah seperti apa raut wajahnya sekarang ini. yang jelas ia tak peduli. Toh, hoodie ini menutup hampir seluruh tiap senti wajahnya. Thanks God!
Dan demi apa, dengan entengnya gadis itu mengangguk. Oh, tuhan!
"Oh, maaf. Sepertinya kami para pria tak bisa memilih gender kami. Dengan berat hati aku menyatakan, itu sudah menjadi takdir" protes Sasuke tak terima jika rasnya dibenci tanpa alasan yang jelas. Dipikir-pikir lagi, bukankah gadis itu sama sekali belum menyatakan alasannya?
Dan sejak kapan ia mulai peduli dengan hal remeh seperti itu? Toh sebentar lagi mungkin mereka takkan pernah bertemu lagi. Well, gadis itu bisa bertemu dengannnya a.k.a melihat dirinya lewat televisi. Dan kenapa memikirkan hal itu saja perasaannya mendadak tercubit? Ini sungguh membingungkan!
"Aku tidak suka pria karena mereka kasar…"
Well, gadis itu sudah menyatakan alasannya sekarang.
"…mereka kasar. Ibu pernah menangis karena Ayah memukul Ibu. Kata Ayah, sbg seorang calon heiress tidak seharusnya aku bersikap manja. Aku juga tidak boleh bergantung pada orang lain, orang lainlah yang harusnya bergantung padaku. Aku dituntut sempurna dalam segala bidang, tak boleh ada cacat sekecil apapun. Jadi, Ayah mendidikku sgt keras. Tiap kali Ibu menunjukkan kasih sayangnya padaku, Ayah selalu menentangnya. Mereka sudah meninggal lima tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan besar." Terang Hinata.
Ekspressinya kosong. Sorot matanya pun tak focus, seolah ia sedang menerawang.
TES
Setetes air mata jatuh menuruni pipinya bercampur peluh dan menetes meresap tanah yang dipijaknya. Menceritakan kisah pahit itu kembali, sama saja dengan mengoyak luka yang telah lama menutup dan itu menyakitkan. tapi, lebih menyakitkan lagi saat harus terus memendamnya.
Apa salahnya Hinata menceritakan hal ini pada orang yang tak dikenalnya? Well, kelihatannya pemuda –meskipun Hinata masih ragu- itu orang yang baik. Sebut itu intuisi atau apapun, dorongan yang membuat Hinata menceritakan kisahnya. Yang jelas ia tak peduli. Toh mereka berdua juga sebentar lagi akan berpisah dan Hinata tak aka nada di kota ini untuk jangka waktu yang cukup lama.
Terima kasih pada Ino yang merekomendasikan sebuah perusahaan swasta yang sdengan mencari pegawai baru padanya. Meskipun itu cukup berat karena harus meninggalkan pekerjaan yang disukainya, menjadi pustakawati.
DEG
Sasuke tak tau apa karena cerita yang menyedihkan itu atau karena air matanya. Tapi yang jelas, hatinya terasa sakit seolah mengemban penderitaan yang sama. Mungkin, Sasuke harus angkat topi pada gadis menakjubkan yang beberapa jam lalu ditemuinya. Sayangnya, ia tak memakai topi sekarang.
Para tetua sebuah clan memang kebanyakan seperti itu. Tetua di clannya tak lebih baik. Untunglah, ia adalah anak bungsu sehingga kakaknyalah yang harus mengemban tanggung jawab berat itu dipundaknya. Ia berjanji setelah ini akan lebih sering mengunjungi kakaknya yang dpt dipastikan mendpt berbagai tekanan batin dari pihak para tetua sialan itu.
"Maaf, tak seharusnya aku menceritakan itu. itu pasti membuatmu bosan. Tidak biasanya aku banyak bicara seperti ini, percayalah" racau Hinata. Kembali ke sifat asalnya beberapa menit yang lalu.
"Jika kau yang mengatakannya, aku percaya" gumam Sasuke lirih hingga tak dpt didengar Hinata.
"Maaf?"
"Well, tak masalah. Kakakku juga seorang heiress clan " jelas Sasuke tak tau menau arah pembicaraan ini akan sampai kemana nantinya.
"Aku turut berduka cita" sesal Hinata bersungguh-sungguh.
Mau tak mau, sudut bibir tipis Sasuke terangkat sedikit demi sedikit hingga membentuk sebuah tawa geli. Tidak setiap hari ia merasa seterhIbur ini. terlebih karena kepolosan seorang gadis. 'Tapi, sial! Kenapa disini sgt panas? oh ya, hoodie laknat ini' gerutu Sasuke dalam hati.
"Tapi, aku bersyukur karena dengan kejadian itu tak ada lagi yang mengekangku dan menganggap salah setiap tindakanku. Aku bukannya senang dengan kematian Ayah. Aku bahkan menangisinya hingga saat ini. aku menyayanginya dengan sepenuh hatiku" terang Hinata.
Sedikit tawa getir tersungging dibibirnya kala ia mengatakan kata sayang pada Ayahnya. Jujur saja, ia memang menyayangi sang Ayah. Hiashi adalah seorang Ayah yang cukup baik. Tapi, ia memiliki prinsip yang cukup tegas mengenai pendidikan heiress clan.
"Kenapa kau memakai pakaian seperti itu? Disini suhu udaranya sgt panas akhir-akhir ini" terang si gadis beriris amethyst sambil mengipsi wajahnya menggunakan telapak tangannya sekedar menegaskan maksudnya. Meskipun sebenarnya memang cukup jelas.
"Bagaimana kalau beristirahat sebentar?" tawar Sasuke.
Tak dpt dipungkiri, kakinya benar-benar letih berjalan sejauh itu dan kenapa tak terpikirkan olehnya untuk menggunakan kendaraan umum?
Entahlah!
Beberapa jam terakhir dirinya seolah bukan seorang yang dikenalnya. Namun, Sasuke sendiri tak tau apa penyebabnya dan tak mempermasalahkannya.
"Bukankah tuan berkata sdengan terburu-buru?" Tanya Hinata mengernyitkan keningnya dalam hingga alisnya membentuk segaris tipis lurus.
"Aku tidak seterburu-buru itu. istirahat beberapa menit saja takkan mengganggu jadwalku"
'Karena jadwalku memang sudah terganggu sejak awal, Jadi kenapa tidak sekalian saja kutuntaskan?' lanjut Sasuke dalam hati.
Gadis itu mengangguk patuh dan membimbing jalan menuju kawasan terdalam taman kota yang jarang-jarang bersuasana sepi menenangkan seperti ini. keduanyapun duduk di sebuah bangku taman tak jauh dari kolam ikan yang berada di jantung taman tersebut.
"Dan bagaimana dengan keluargamu?"
.
.
.
TBC
Makasih buat reader2 dan ripyuwer budiman yang sudi membaca fic saya. Anw, saya bakal hiatus dulu dari dunia ffn. Jadi, mungkin hanya sempat nge-pub fic buat event SasoSaku yg bakal dihelat beberapa hari lagi. Itu juga fic paling ancur buat event itu ToT
Btw, terima kasih dan mohon maaf.
Mind to RnR?
Akemi M.R
Sign out,
.
.
.
