Disclaimer: Om kishi-muach (bejeked xD)

Warning: AU, Super OOC, alur kecepetan, typos bertebaran, tanda baca nyasar, cerita awut-awutan, gajeness, absurdness, dwwl.

-SasuHina Present-

A/N: holla, akemi holic dan akemi licious dimanapun anda berada. Yo yo yo, ketemu lagi dengan akemi disini (Jebreeet XD) dengan bangga bercucur peluh darah dan air mata akemi mempersembahkan fic ini. jika kurang berkenan di hati anda, jangan salahkan saya. Saya kan polos ga tau apa-apa (buagh)

-The Girl by Akemi M.R-

Saya tidak mendapat keuntungan apapun baik yang materiil maupun non materiil dari pembuatan fanfic ini.

Don't Like Don't Read. So, here we go. Happy reading, minna!

.

Summary: Apa jadinya jika seorang vokalis grup Band terkenal seantero jepang harus berkeliling kota karena tersasar? Bagaimana ceritanya jika vokalis Band itu menjadikan seorang pustakawati menjadiguidedadakannya?

.

"Dan bagaimana dengan keluargamu?" Tanya Hinata gugup.

Tak tau mengapa kalimat itu terucap. Tidak seharusnya ia bertanya tentang masalah sepribadi itu dengan orang yang baru dikenalnya kurang dari Dua jam yang lalu. Ia tak mau dianggap suka mencampuri urusan orang lain. Tapi sialnya, sudah terlanjur untuk menarik ucapannya.

"Well, Hidupku biasa saja. Aku mempunyai kakak yang juga seorang heiress. Aku meninggalkan clan di usia 18 tahun, setelah itu aku bekerja untuk menghidupi diriku sendiri. Kedua orang tuaku sudah meninggal. Ibu meninggal setelah melahirkanku dan ayah meninggal karena sakit yang dideritanya. Para tetua di clan-ku juga mendidik kakak dengan sangat keras hingga tak jarang dulu dia jatuh sakit. Tapi sekarang, kurasa semuanya baik-baik saja" terang Sasuke.

Menceritakan sekelumit kecil penjelasan mengenai kehidupannya dan itu nyata. Tanpa direkayasa. Bisa saja ia berbohong, namun entah kenapa lidahnya mengingkari. Tak mengijinkan.

Ada sebuah perasaan janggal ketika menceritakan itu. Berbeda saat menceritakanya dengan teman-temannya, menceritakan ini pada gadis dihadapannya terasa jauh menenangkan.

Jika selama ini para penggosip dan orang-orang hanya melihat sosok Sasuke sebagai salah satu artis idola yang tak jarang menggandeng wanita yang berbeda. Itu semua memang pendapat yang ingin ditanamkan Sasuke pada mereka.

Sasuke sendiri tak yakin apakah nantinya ia akan menemukan sebuah cinta, apalagi cinta sejati, terlebih karena ia sendiri tak meyakininya serta banyak factor lain.

Sasuke hanyalah orang yang terbuang. Itu kenyataan yang telah dijelaskannya pada Hinata secara tak langsung serta salah satu faktornya.

Kebanyakan system clan memang mengharuskan pewaris keDua – selain pewaris pertama- untuk keluar dari clan dan hidup sendiri dengan dibiayai keluarga. Namun, si bungsu menolak. Tak ada gunanya hidup di tengah orang-orang yang tak pernah menganggapmu ada. Itulah nasib keturunan garis keDua seperti dirinya.

Dunia ini memang menyebalkan!

Terdengar isakan disamping Sasuke. Semakin lama isakan itu semakin kencang dan sekarang berubah menjadi tangisan. Sasuke mengeruntukan keningnya heran. Bertanya-tanya mengapa gadis disampingnya menangis begitu kencang.

Seingatnya, ia tak pernah membuat kesalahan dalam bentuk apapun pada gadis indigo itu atau barang kali Sasuke sendiri yang tak menyadarinya?

Entahlah.

"Hei, kenapa kau menangis?" Tanya Sasuke panic.

Menghadapi seorang gadis yang menangis bukanlah termasuk salah satu keahliannya dan Sasuke tak berniat untuk mempelajarinya sekarang.

"Pasti berat menjalani hidup sendiri seperti yang kau jalani. Setidaknya aku mempunyai adik" tangis Hinata makin menjadi.

Ia jelas merasa senasib sepenanggungan dengan pemuda diisampingnya. Bukan hal yang mudah menjalani hidup dengan tekanan ekonomi makin menyempit. Tapi, sepertinya factor itu bukan hal yang sulit untuk pemuda itu mengingat kepala clan yang juga merangkap jabatan sebagai kakaknya masih hidup serta pakaian yang dikenakannya tampak begitu elegan.

Namun, Hinata telah belajar dari kehidupan. Bukan 'cover' yang menentukan tingkat kekayaan seseorang –meskipun seringnya begitu- dan itu mungkin berlaku sekarang.

"Kau pasti kesepian"

Rasanya menyenangkan sekali saat mengatakan perasaan terpendammu pada orang lain. Mungkin inilah sebab seorang pria mencari kekasih. Bukan berarti Sasuke akan menjadikan gadis itu pacarnya.

Tapi, akankah ada wanita yang menerimanya sebagai seorang Uchiha Sasuke, si Uchiha terbuang dan bukannya Uchiha Sasuke, sang artis group band terkenal? Tapi bukankah itu sudah dalam satu paket?

Sial, kenapa dengan hanya bertemu gadis ini memunculkan berbagai pertanyaan yang tak ingin dijawabnya?

"Aku mengerti perasaanmu Tuan-Siapapun-Namamu" ucap Hinata tulus.

Well, entah kenapa momen emosional ini tiba-tiba rusak karena panggilan unik itu. Padahal, hati si Uchiha bungsu ini sudah tersentuh dengan ketulusan yang terpancar dari sorot mata bening gadis itu.

"Andai saja aku bisa membantumu" Hinata pernah merasakan apa yang dirasakan Sasuke dan ia ingin membantu pemuda itu. Lalu, entah kenapa ia benar-benar ingin mengetahui pribadi pria itu lebih lanjut.

Sebut itu penasaran dalam hal yang tak lazim, Hinata tak peduli.

"Tentu kau bisa" jawab Sasuke cepat

"Dengan apa?" Tanya Hinata meredakan isak tangisnya yang mulai menyusut(?).

"Hapus dengan ini!" kata yang lebih sesuai jika dianalogikan perintah dari Sasuke sembari menyodorkan sebuah sapu tangan dengan bordiran indah di ujungnya.

Hei apa yang kau harapkan dari seorang Uchiha Sasuke? Meminta?

Jangan harap!

Hati Hinata mencelos kala melihat dengan seksama bordir halus yang terjalin rapi di ujung kiri sapu tangan polos berwarna biru donker itu.

Uchiha Sasuke

'Uchiha Sasuke, artis terkenal itu!' erang Hinata dalam hati frustasi.

Memejamkan matanya rapat seolah dengan itu bordiran itu akan menghilang. Tapi tidak. Bordir itu masih bertengger ditempatnya seakan mengejek Hinata. Sial!

Sejarah terulang kembali dimana Hinata salah menyukai orang lain dan orang lain yang disukainya nyatanya takkan pernah mau menerimanya. Well, itu masih anggapan Hinata semata. Tapi, ayolah! Seorang artis dan pustakawati?

Tak ada yang cocok mengenai keDua hal itu.

Lagipula, menurut gossip yang beredar di kalangan masyarakat luas, bungsu keluarga Uchiha yang satu ini adalah gambaran pasti seorang cassanova sejati, playboy yang memiliki jam terbang tinggi yang tidak lain gemar membuat wanita menangis. Well, beberapa detik yang lalu ia juga menangis gara-gara pemuda ini bukan?

Rasanya sesak.

Kenapa dengan begitu gampang rasa sukanya kembali tetambat pada seorang pria?

Entahlah!

Mungkin karena cerita orang itu.

Mungkin karena ia merasa nyaman mengungkapkan apapun unek-unek dihatinya pada pemuda itu.

Mungkin karena ia merasa senasib dengan pemuda itu.

Atau mungkin karena sikapnya yang terlalu percaya diri menghadang tiap masalah yang datang dan terkesan menganggap remeh kehidupan berat yang dijalaninya. Yang jelas, Hinata kagum pada pemuda itu. Sesederhana itu.

Bukankah cinta adalah perasaan sederhana yang subjek-nyalah yang membuat perasaan itu kian rumit?

"Boleh kutau siapa namamu?"

DEG

Bahu pemuda itu kembali menegang waspada. Dua kali terbatuk dan berdehem gugup sepertinya untuk menstabilkan suaranya.

"Kau bisa memanggilku Sasuke" jawab pemuda itu.

WUSH

Angin kencang berhembus kuat hingga membuat tudung yang menutupi area kepalanya melorot jatuh ke dasar leher jenjangnya.

Bingo!

Tepat sekali.

Buru-buru Sasuke merapikan kembali tudung mantelnya seperti semula takut-takut Hinata mengetahui identitas yang berusaha disembunyikannya. Sasuke berdo'a pada apapun yang bisa mendengarnya di atas sana semoga gadis itu tak memperhatikannya tadi.

Bodoh sekali Hinata karena sempat meracau tentang kehidupannya yang sulit, keluarganya, pepatah yang ia yakini –walaupun belum sempat ia ucapkan dan Hinata sangat bersyukur karena dapat menjaga lidahnya kali ini- dan kesepian.

'Sial!'

Mana mungkin orang seperti Sasuke kesepian? Langit bisa runtuh jika hal itu sampai terjadi.

Dengan berjuta-juta penggemar, beribu-ribu kenalan, beratus-ratus teman dan ah, tak perlu menjelaskan lebih lanjut karena tiga hal tadi sudah menjelaskan hamper segalanya.

Sasuke yang popular, Sasuke yang terkenal, Sasuke yang menjadi pusat perhatian. Sedangkan, dirinya tak lebih dari Hinata Hyuuga, seorang gadis biasa. Ralat pustakawati yang membosankan.

"Apa distrik Nagoya masih jauh?" gumam Sasuke lirih, namun masih dapat tertangkap indra pendengar Hinata. "Karena aku masih ingin ada disini, bersamamu" lanjutnya dalam hati.

Seorang gadis akan sangat senang jika merasa ia diperhatikan dan Sasuke akan melakukan segala cara untuk membuat gadis yang satu ini merasa nyaman bersamanya. Suatu hubungan yang baik terkadang –well, seringnya- berawal hanya dari suatu kenyamanan. Itu konsep dasar yang Sasuke anut.

Tapi, sepertinya gadis ini salah mengartikan atau malah tak memahami maksud tersembunyi dari pertanyaannya. Karena bukannya menjawab, gadis itu malah mengeruntukan keningnya dan kembali bertanya dengan pertanyaan yang sangat melenceng jauh dari topic semula.

"Bagaimana jika kita menghabiskan waktu yang tersisa dengan bersenang-senang?" Tanya gadis itu tersenyum cerah. Sekarang giliran Sasuke yang mengernyitkan kening hingga kedua alisnya berada dalam satu garis horizontal.

"Tunggu! Aku belum tau siapa namamu?" cegah Sasuke tepat saat Hinata akan menarik pergelangan tangannya dengan paksa.

Sasuke bersumpah jika ia tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Segalanya terasa kacau. Tapi anehnya, ia rela membiarkannya dan berharap itu terus terjadi.

Suaranya bergetar, jantungnya berdetak cepat, suhu tubuhnya naik drastic. Ini pertama kalinya selama Dua puluh tahun masa hidupnya Sasuke merasakan perasaan seasing ini.

"Panggil saja aku, Hinata"

.

.

.

TBC

Salam

Akemi M.R :*