Forget Me Not (Innocent Of Snow)
.
Pairing : KyuBum x KyuMin
Disclaimer : OOC, typo(s), BL, Fast, Abal-abal, Bored, RnR
Warning : Tidakkah kalian tau bila Tuhannya cerita adalah author? Jadi, jangan hujat amoree ne *DitimpukSendal
.
.
Kyuhyun terdiam disudut kafe dengan berpangku tangan. Ia mengarahkan pandangannya ke sisi luar kafe yang terbatasi oleh kaca transparan lebar yang mampu menjadi pembatasnya antara dunia luar. Disaat satu sisi tangannya berpangku pada lehernya, satu sisi tangannya lain seraya mengetuk meja dengan beberapa bantuan jemarinya. Ia tampak terlihat bosan. Bahkan PsP yang biasa menjadi pendampingnya disaat ia tengah bosan, tergeletak begitu saja dihadapannya dengan sebuah tulisan 'You Lose' dari Lcd PSPnya. Namun seperkian detik, matanya terbelalak petanda senang saat didapatinya Kibum dan Sungmin berjalan mendekati kafe. Ia segera beranjak dari duduknya dan menunggu mereka dibalik pintu untuk menyambut kedatangan mereka.
"Semoga harimu berseri dan selamat datang di Kona Beans café.." sambutnya yang merupakan slogan resmi dari kafe tersebut. Sungmin tersenyum lembut namun tidak dengan reaksi Kibum yang hanya menggeleng melihat pola tingkah Kyuhyun barusan.
"Silahkan ikuti saya.. tempat duduk kalian ada disana.." tuturnya seraya menunjuk tempat duduknya tadi. Mereka berdua mengikuti langkah Kyuhyun yang merupakan pemandu untuk mereka saat ini. Kyuhyun tersenyum lebar memandangi mereka satu persatu yang kini tengah duduk dihadapanya. Ditatapnya Kibum yang sedari tadi hanya menunduk. Kyuhyun bertanya pada Sungmin dengan bahasa isyarat mereka tentang apa yang terjadi pada Kibum. Namun respon Sungmin hanya tersenyum kaku sebagai tanggapannya.
"Oh ya hyung.. ada hal penting apa yang ingin kau katakan pada kami? Hingga kau memaksa kami 2 hari yang lalu untuk berkumpul bersama?" tanya Kyuhyun yang tampak antusias. Ia tertawa riang dengan sesekali memandang raut datar kekasihnya itu. Kini giliran Sungmin yang harus menunduk, ia tau apa arah permintaan Kibum tersebut. permintaan yang pernah ia tuturkan beberapa hari yang lalu saat dirumah sakit.
"Oh.. pasti ini pesta perayaan sebelum kita menjejaki pesta pernikahankan?" tebak Kyuhyun.
"Bisakah kau diam dulu Kyu?" sergah Kibum dengan nada dinginnya.
"Hyung?" tanya Kyuhyun bingung. Kibum masih diam dan menatap Kyuhyun lekat. Sungmin segera meremas jemari Kibum sebagai tanda penolakan baginya agar Kibum tak melanjutkan perkataannya. Tapi Kibum tak menggubris, bukankah ia tak mengerti akan isyarat tubuh? Jadi percuma saja bagi Sungmin untuk mencegahnya.
"Pernikahan itu.. Bukankah akan berlansung 3 hari lagi?" tanya Kibum yakin menatap Kyuhyun.
"Ne.." jawab Kyuhyun singkat masih dengan raut kebingungannya.
"Aku tak bisa melakukannya…"
"Mwo?" kaget Kyuhyun. Jelas bila ia terkejut akan keputusan Kibum. Pernikahan yang sudah diambang pintu bagi mereka harus diputuskan oleh satu belah pihak dan orang tersebut adalah Kibum. Kyuhyun menatap lekat manik kelam Kibum, mencari titik kebohongan dimaniknya… namun apa? Semua nihil, ia tak dapat mencari titik asa itu.
"Hyung…"
"Tapi kau jangan takut, aku sudah menemukan orang yang tepat untuk menggantikanku. Dia adalah Sungmin-ah.."
"Hyung! Ada apa denganmu? Kau tak usah bergurau! Leluconmu itu sangatlah tidak lucu!" erang Kyuhyun murka. Mungkin bila erangan tersebut ia lontarkan ditempat keramaian, suaranya yang keras mampu menarik perhatian semua orang, tapi tidak dikafe ini. Ya, Kona Beans tengah sepi didatangi pengunjung.. yang ada hanya mereka dan juga beberapa pegawai Kona Beans termasuk Siwon yang tengah berdiri dimeja kasir.
Kyuhyun berdiri dari duduknya dan menyalak menatap Kibum. Tak dipedulikannya tatapan heran mereka yang mengarah padanya, toh kafe ini adalah miliknya juga. Siwon menghentikan kegiatannya dan memperhatikan mereka. Ia juga bingung tentang apa yang tengah terjadi hingga Kyuhyun sampai terlihat murka dari sorot matanya yang dalam. Dilihatnya juga Kibum yang menunduk dan tak dapat ia nilai bagaimana raut dari namja putih tersebut.
"Aku tak bercanda Kyu.. aku ingin kau menikah dengan Sungmin." Jawab Kibum dengan datarnya.
"Cukup Kibum!" bentak Sungmin. Kibum menoleh. Ditatapnya Sungmin lekat yang tengah berurai airmata. Kibum hanya mengerjap polos memandang Sungmin. Diraihnya pipi kanan Sungmin dan menyentuh airmata tersebut. Ia meraihnya kembali hingga tak ada genangan lagi yang tersisa disana. Kibum tak tau apa yang ia lakukan. Hatinyalah yang menggerakkan fikirannya untuk melakukan demikian.
"Inikah yang dinamakan tangisan?" monolognya seorang.
"Hyung…" panggil Kyuhyun.
"Kibum.. aku mohon hentikan!" ucap Sungmin. Kibum tak merespon. Ia hanya memandang Kyuhyun dengan seluruh kesungguhannya dan berkata, "Maaf. Maafkan aku yang tak bisa bersama disampingmu, Kyu. Bukan karena aku tak mencintaimu, tapi aku hanya ingin kita berhenti untuk saling menyakiti.."
"Hyung.."
"Penyakit itu datang Kyu. Dan kau tau apa yang akan kualami nantinya…Aku tak ingin kau sakit karenaku nanti. Jadi, menikahlah dengan Sungmin."
"Prosopagnosia?" tanya Kyuhyun yang mungkin ia tujukan untuk dirinya seorang.
Tes..
Bulir bening itu berhasil lolos dari kukungan matanya. Kyuhyun terduduk lemah berhadap lansung dengan Kibum. Bulir bening itu masih saja membasahi pipinya. Kibum meraih pipi Kyuhyun dan merasakan hangatnya tangis yang Kyuhyun keluarkan.
Tap..
Kyuhyun meraih pergelangan tangan Kibum yang tengah membersihkan derai aimatanya. Ditatapnya Kibum lekat yang juga dibalas dengan tatapan datarnya. Kibum melepaskan tangannya yang dicengkram Kyuhyun. Ia meraih kedua sudut bibir Kyuhyun hingga membentuk sebuah lekungan disana. Lalu ia meraih kedua sudut bibirnya seorang dan membuat pola bulan sabitnya seorang walau masih tampak begitu kaku tergambar.
"Bukankah semua harus dihadapi dengan senyuman? Itukan yang kalian ajarkan padaku?" tanya Kibum dengan tampang polos miliknya. Sungmin semakin meraung dalam tangisnya yang pecah begitupun dengan Kyuhyun namun hanya derai bening nan deras mengiringi sakit dihatinya. Siwon yang sedari tadi menjadi penonton dibalik meja kasirnya menunduk dalam, merasakan apa yang tengah mereka rasa.
"Aku akan melupakanmu, bahkan kedua orangtuaku nantinya. Aku tak ingin menyusahkanmu, membuatmu sakit, dan juga mengecewakanmu. Dari buku yang kubaca, ia mengatakan sebuah bahtera rumah tangga harus dilingkupi dengan rasa cinta diantara satu sama lain. Tapi aku takut bila nantinya hanya kau yang akan mencintaiku dan mengurusi hidupku hingga membuatmu lelah…"
'Aku ingin kembali ke masa lalu, dimana disampingku hanya ada permen dan juga balon, dan aku belum merasakan kepedihan akan cinta' (Kyuhyun)
Kyuhyun menggeleng keras menapik semua apa yang harus ia dengar dan ia terima. Bukan begini akhir yang ia inginkan. Harus tetap hidup tanpa orang yang dicintai, bukan itu yang Kyuhyun mau. Hatinya meringis perih dengan apa yang Kibum putuskan telak. Merasa dipermainkan? Ia mungkin terlalu buta untuk berfikir demikian, Cintanya benar-benar tulus hingga ia rela harus diperbudak oleh cintanya seorang, walaupun ia tau beginilah akhir sebenarnya.
"Apa kau tau hyung bila cinta menjadikan mereka sempurna? Tapi cinta tidak membutuhkan orang yang sempurna, karena kesempurnaan dari cinta tersebut dapat kita raih bila kita saling memiliki. Jadi, kenapa kita harus berpisah?" tanya Kyuhyun dengan senyum paksanya. Kibum tertegun akan penuturan Kyuhyun, cukup lama ia diam.. tersirat akan kata-kata Kyuhyun tadi. Dilihatnya kehidupan luar akan rutinitas orang-orang, lalu ia menjawab "Apakah kau tau Kyu, terkadang cinta hadir hanya memberikan kesempatan pada seseorang untuk saling mengenal… bukan untuk saling memiliki."
"Hyung,," lirih Kyuhyun.
"Aku bukan ladang kebahagiaanmu, Kyu. Kau salah bila menganggapku demikian. Aku hanya bisa membawa penyakit untukmu. Cobalah buka hatimu, dan temukan seseorang yang menjadi kebahagiaanmu…jadi, dengarkan permintaan terakhirku ini Kyu.." tutur Kibum. Kyuhyun tersedu dalam tangisnya begitupun dengan Sungmin. Kibum hanya diam, menjadi penonton menyaksikan derai tangis mereka dihadapannya. Ia bingung harus berbuat apa. Menghibur ataupun menjadi batu sandaran mereka ia bingung bagaimana ia harus berbuat. Kibum hanya bisa diam tak ingin bertindak terlalu lebih, hingga…
"Kalian berdua siapa?" tanyanya.
Deg!
Sontak interupsi Kibum mengharuskan semua pandang semakin terarah padanya. Kibum tampak bingung dengan apa yang ia lihat. Dua orang yang menangis disampingnya, apakah ia berbuat sesuatu hingga membuat mereka menangis?
"Kenapa kalian berdua ada dimejaku? Apakah aku yang mengajak kalian?" tanyanya bingung. Kyuhyun menghapus jejak airmatanya kasar lalu berdiri seraya menunduk dalam. Ia berusaha tersenyum walau masih terlihat kaku. "Maafkan kami tuan atas ketidaknyamanan anda.." tuturnya. Sungmin juga berbuat demikian. Ia berdiri dengan senyuman paksa yang terkembang dibibirnya dan berkata, "Senang bertemu denganmu, Kibum-ssi"
Kibum menggaruk tengkuknya pelan. Ia sangat bingung dengan apa yang ia dengar dan lihat. Kibum mendesah berat, lalu beranjak dari duduknya hendak berlalu, namun langkahnya terhenti dan berkata "Aku tak begitu ingat apakah kita saling mengenal atau tidak, tapi… maafkan aku!"
Kibum berlalu menghampiri pintu utama Kona Beans. Langkahnya yang tegap, ia jejakki meninggalkan mereka yang tampak kacau. Ia lantas bingung dengan apa yang ia lakukan tadi hingga membuat kedua orang yang menurutnya tak ia kenal menangis. Hingga Kibum tak menyadari bila bulir bening dari manik kelamnya juga ikut membasahi pipinya. Siwon yang sudah beralih berdiri disamping pintu merogoh sakunya dan memberikannya sebuah sapu tangan. Kibum cengo hingga pernyataan Siwon menginterupsinya, "Kau menangis.. pipimu basah"
Kibum memegangi pipinya dan ternyata benar adanya. Ia tak lansung menerima niat baik Siwon namun menyapu kasar genangan air yang masih setia dipipi mulusnya menggunakan tangannya. Kibum lantas bingung kenapa ia bisa menangis? dan apa yang membuatnya hingga bisa menangis? Ia tak berhak untuk menelusuri penyebabnya dalam memorinya, toh ia takkan mampu untuk menyelaminya hingga jauh kedalam.
"Cinta mungkin akan membuatmu terluka, tapi ketahuilah bahwa ia juga membuatmu semakin dewasa. Jadilah pribadi yang selalu memaafkan tuan, terutama…ini" tutur Siwon seraya menunjuk letak jantungnya. Kibum sedikit terpana namun lagi-lagi ia bingung dengan apa penyebabnya. Tak dihiraukannya ucapan Siwon, Kibum melesat pergi meninggalkan Kona Beans bersama tatapan-tatapan sendu mereka.
"Selalu ada alasan kenapa Tuhan memberi umatnya cobaan. Jadilah pribadi nan kuat Kibum untuk melalui cobaan tersebut.." lirih Siwon dengan senyum tipisnya.
"Ketika semuanya telah terjadi, aku hanya bisa berdiam diri.. menerima apa akhirnya dan tentunya aku merasa kecewa dengan akhir tersebut" (Kyuhyun)
Kyuhyun menatap kepergian Kibum yang semakin menjauh dari jangkauannya. Ia tak menangis lagi ataupun meraung kecewa disana, hanya melihat kepergian kekasihnya yang semakin jauh. Kyuhyun tersenyum tipis saat sosok Kibum tak mampu lagi ia jangkau dalam pandangannya. Sungmin menangkap senyum Kyuhyun tersebut walaupun terlihat samar baginya. Ia menepuk bahu Kyuhyun hingga namja pucat itu menoleh padanya. "Gwenchana?" tanya Sungmin namun hanya seulas senyum yang Kyuhyun berikan. Ia membereskan beberapa softdrink bekas miliknya dan juga kertas bahkan semua barang elektroniknya yang berantakan. Kyuhyun hanya diam walau gerak tangannya cukup luwes membereskannya. Sungmin dan juga Siwon yang sedari tadi memperhatikannya hanya mampu diam dan diam melihat sikap Kyuhyun sekarang.
"Kyu?" panggil Sungmin. Kyuhyun mendongak dengan senyum kekanakkannya dan juga beberapa sampah dikedua genggaman tangannya. "Hyung, apa kau tau dalam kehidupan cinta pasti ada dua pilihan didalamnya. Yang pertama memilikinya dan yang kedua kehilangannya. Jika aku memilih untuk memilikinya, aku takut karena keegoisanku itu pilihan yang kedua akan ikut serta dalam hidupku. Oleh karena itu, aku berusaha rela untuk kehilangannya namun hatinya tetap aku miliki. Jadi, jangan mengkhawatirkan keadaanku ne" jelas Kyuhyun masih dengan senyum kembangnya.
Kyuhyun beranjak menuju pantry dengan segenggam sampah yang ia pegang dan juga tas yang ia sandang dibahunya. Begitu terbalik dengan apa yang ia lihat beberapa waktu yang lalu dengan Kyuhyun yang sekarang. Tak ada bekas luka ataupun kekecewaan yang tergambar dimanik coklatnya. Ia begitu tampak tegar, tidak sedemikian Sungmin. Namja cantik itu masih saja rapuh dengan kejadian tadi. Siwon yang sedari tadi menjadi penonton ulung, hanya diam tak ingin turut serta dan kembali pada pekerjaannya.
'Disini..aku yang paling lemah! Untuk bangkitpun aku masih perlu dibantu. Menghibur jiwa seseorang cukup menyita waktuku yang lama, Bagaimana aku akan menjadi pelipur lara yang lain?' (Sungmin)
Ingatannya sesungguhnya telah lenyap termakan. Sungguh cepat penyakit itu bersarang padanya dan membuatnya semakin menjadi pribadi yang lain untuk mereka. Hari-harinya bahkan berlalu sama setiap hari dan juga bertegur sapa bersama mereka yang tentunya orang sama untuknya. Mereka sakit, walau seulas senyum tetap mereka senandungkan mengiringi penjelasan baginya. Ia mengerti, namun penjelas itu tak dapat dimasukkan kedalam otaknya. Ya, Kim Kibum sekarang sangat jauh untuk dijangkau kembali.
"Kim Kibum?" monolognya seorang saat ia memandang lengan kirinya yang terukir nama tersebut. Kibum, namja yang kini duduk seorang disudut gereja hanya menatap bingung tulisan yang menurutnya aneh tersebut. Ia mencoba menghapusnya, namun saat satu ungkapan melintas difikirannya.. ia mencoba mengurungkan niatnya tersebut, ' Itu adalah namamu.. aku akan mengukirnya disini ne. Jadi, bila orang-orang bertanya kau bisa melihatnya sebagai bantuan.'
Ya, bukan hanya orang-orang terdekatnya harus terlupakan olehnya.. bahkan sosok dirinya pun juga ikut terenggut akan kebenarannya. Kibum tak dapat mengenal siapa dirinya, dan bagaimana wajahnya pun ia juga lupa. Prosopagnosia aperseptif, itu yang mereka katakan. Tingkatan tinggi dalam catatan prosopagnosia yang memakan seluruh memori otaknya bahkan untuk dirinya sendiri.
"Hei.." sapa seseorang. Ia duduk dua baris dibelakang tempat Kibum kini tengah duduk. Namja tersebut tersenyum tipis saat Kibum mengarah padanya. Siwon, namja pemilik senyum tersebut beralih untuk duduk disamping Kibum. Kibum menggeser letak duduknya takut akan keberadaan Siwon.
"Apa kau mempunyai kitab?" tanya Siwon dan Kibum hanya menggeleng. Siwon tersenyum maklum melihatnya. "Aku sering melihatmu disini, jadi..siapa namamu?"
Kibum ragu untuk menjawab, dan Siwon tau itu. Namja tampan itu lagi-lagi tersenyum dan semakin membuat Kibum bingung karenanya. Siwon memejamkan matanya dan menggenggam kedua tangannya hendak berdoa. Cukup lama ia berdoa dan entah apa doa yang ia panjatkan.
Kibum terenyuh dan ikut memanjatkan doa bersamanya. Doa yang sama selalu ia panjatkan, dan juga dengan kata-kata yang sama..' Tuhan, apakah kau ada untuk mendengar doaku? Engkau pasti mendengarku kan?'
"Doa yang sama Kim Kibum?" tebak Siwon dengan membuka sebelah matanya. Ia tersenyum kembali pada Kibum dan berkata, "Itu kan namamu? Kim Kibum?"
Kibum tak lansung menjawab. Ia mengambil tas kecilnya dan beranjak meninggalkan gereja. "Tuhan selalu ingin yang terbaik untukmu. Dia mamiliki solusi untuk setiap masalahmu, lega untuk setiap sedihmu, dan bahagia yang selalu menantimu. Jangan biarkan hidupmu penuh dengan rasa sedih, marah, dan juga kecewa. Bebaskan dirimu dari rasa sakit masa lalumu dan hiduplah lagi…" wejang Siwon. Sejenak, saat uraikan kalimat itu menerjang pendengarannya..Kibum terhenti melangkah. Dan saat wejangan tersebut selesai, Kibum kembali melajukan langkahnya tak peduli.
"Dan aku selalu memberi nasihat yang sama padanya.." lirih Siwon dengan senyum tipisnya. Begitulah! Namja tampan tersebut sering mengunjungi gereja ini hanya sekedar untuk berdoa, dan disetiap kunjungannya itu ia juga sering berjumpa dengan sosok Kibum disini. Awalnya Siwon hanya bersikap acuh dan tak memperdulikannya, namun melihat keadaannya kini yang rapuh Siwon tak mampu mengacuhkannya. Seringkali ia bertegur sapa dan dapat ditebak, Kibum lagi-lagi tak mengenal sosok Siwon dan selalu mengacuhkannya disetiap Siwon mendekatinya.
"Sejak kami memutuskan untuk memakai gereja ini sebagai tempat pernikahan kami, ia juga sering berkunjung kemari.." seru Kyuhyun. Namja pucat tersebut berdiri disamping Siwon, ikut melihat kepergian Kibum. Tampak Kibum menghentikan langkahnya dan membenarkan letak tasnya kesamping dan memakai earphone yang sering bergantung dilehernya. Kyuhyun tersenyum melihatnya, biar bagaimanapun Kibum-nya tak pernah berubah sedari dulu. Ia tau betul lagu apa yang menjadi primadona kekasihnya itu.. alunan lagu ballad yang mempunyai arti yang begitu dalam, terlihat jelas dari judulnya 'Don't forget me (Huh Gak)'
"Kau juga sama, selalu mengikutinya kemanapun ia pergi. Ingat bocah, pernikahanmu itu besok" tegur Siwon. Kyuhyun mengangguk lemah walau pandangannya masih mengarah pada Kibum. Jelas bagi Kyuhyun itu bukanlah pernikahannya, menikah bukan dengan pilihannya begitu sulit baginya dirasa. Apakah benar jalan untuk pengorbanan cintanya?
"Kalau kau tak menginginkannya kau bisa membatalkannya, sebelum akhirnya kau benar-benar menyesal" saran Siwon seraya merangkul adik tersayangnya itu, dan hanya senyum tipis yang Kyuhyun berikan.
'Dalam cinta.. janganlah menunggu seseorang yang tepat menghampiri hidupmu. Lebih baik jadilah orang yang tepat yang menghampiri hidup seseorang'(Siwon)
Hari sacral itupun tiba. Tak ada aura kepanikan ataupun gugup dihari itu, semua berjalan biasa seperti hari-hari lainnya. Kibum juga tampak demikian, tak menampakkan raut kesedihannya.. hanya tatapan datarnya yang selalu menemani setiap harinya. Kini ia tengah berdiri dihadapan cermin, memandang setiap lekuk wajahnya. Dipegangnya kedua matanya, hidungnya, bibirnya, bahkan rambutnya. Tatapannya masih datar bercampur sendu terlihat jelas dimanik kelamnya. Pertanyaan sama selalu ia dendangkan 'Inikah aku?' dan seperkian detiknya ia akan melupakan sosok dirinya yang ia patut dihadapan cermin tadi.
"Kibum.." panggil eomma. Tak ada respon yang ia berikan, hingga yeoja tersebut memegang bahu kanannya dan membuat Kibum beralih memandangnya.
"Aku eommamu nak, dan aku adalah orang baik." Tuturnya lembut penuh perhatian. Kibum hanya cengo tak tau apa yang harus ia lakukan. Namun ia tak menolak akan sikap perhatian yeoja yang mengaku sebagai ibunya tersebut.
"Sekarang, kau bersiap-siap ne. Hari ini adalah hari pernikahan sahabatmu.." ucapnya kembali lembut dan perlahan beranjak meninggalkan Kibum yang masih dengan tatapan bingungnya.
'Sahabat?' batinnya.
.
Kibum menuruni tangga kamarnya dan segera melesat menuju rak sepatunya. "Kibum.. mau kemana nak?" panggil eomma dengan menepuk bahu Kibum. Kibum menoleh masih dengan raut datarnya.
"Aku eommamu nak, dan aku adalah orang baik" ucapnya kembali dengan perkataan yang sama seperti sebelumnya. Kibum berdiri dari duduknya ketika hendak memakai sepatu. Ia memegang tas kecil yang ia sandang kesamping bersama dengan earphone yang ia kenakan dilehernya. "Aku akan ketaman kota.." jawab Kibum singkat.
"Tapi kita akan ke gereja menghadiri pernikahan sahabatmu.." bantah eomma lembut.
"Eh?"
"Ya sudah sebaiknya kita pergi sekarang ne.."
"Tapi aku tak ingin ke gereja.. bukan saatnya kini aku kesana" jawab Kibum
"Nanti kita terlambat.." balas Eomma. Walau ia masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, Kibum menurut dan segera mengikuti jejak eomma. Pakaiannya sama, tak ia rubah sedikitpun. Eomma tau itu dan tak ingin memaksa Kibum untuk merubahnya menjadi formal karena menurut catatan medis.. Pengidap prosopagnosia selalu menyukai pakaian yang bernada lembut dan tak suka diubah bila bukan kehendaknya, dan walaupun diubah tak ada bedanya dengan warna pakaian sebelumnya.
Eomma menggandeng lengan Kibum yang berjalan beriringan dengannya. Eomma sesekali tersenyum memandang Kibum yang hanya dibalas dengan tatapan datar Kibum. Langkah mereka terhenti disebuah florist 'Sun Blue'. Eomma melepas gandengannya dan berjalan mendahului Kibum memasuki toko bunga itu. "Kau tak ingin memberi sahabatmu hadiah nak?"tanya Eomma saat didapatinya Kibum hanya termangu didepan toko.
"Eh?"
Eomma kembali tersenyum dan menarik tangan Kibum lembut untuk mendekati hamparan bunga ditoko itu. Warna-warni bunga yang tersuguh, mampu mendamaikan hati untuk Kibum yang melihatnya. Kibum memegang sebuah bunga yang menarik perhatiannya.
"Itu Zinnia Yellow" seru seorang ahjumma. Ia tersenyum memandang Kibum dan bergantian mengarahkan pandangannya pada bunga yang Kibum pegang tadi.
"Bunga itu mengartikan dirinya sebagai kenangan setiap hari." Ucapnya lagi.
"Menyedihkan.." balas Kibum. Ahjumma itu mengangguk pelan, menyetujui ucapan Kibum. Ahjumma itu perlahan mendekati Kibum yang masih setia memandang setiap kemolekan bunga 'Zinnia Yellow' yang menarik perhatiannya itu.
"Walau menyedihkan, tapi ia mempunyai sebuah harapan yang besar untuk terus menjalani hidup. Tak dipedulikannya cuaca yang tak menentu, ia tetap tumbuh bersama harapannya itu. Apa kau mengerti nak?" Kibum mengangguk paham dan kembali memantau bunga-bunga yang seakan memanggilnya. Dan lagi, ia tersenyum memandang dua pot kecil yang berdampingan yang berisi bunga-bunga cantik yang tumbuh bersamanya.
"Rosemary dan Forget me not"
"Eh?" Kibum bingung walau pandangannya masih mengarah pada dua bunga yang menurutnya unik tersebut. Kelopak-kelopak mereka sangat kecil, namun mereka mempunyai warna yang jelas berbeda. Rosemary yang terkesan anggun dengan warna ungu bercampur putihnya terlihat elegan dipandang, dan tak lupa dengan bunga yang bernama Forget me not tersebut. Warna biru cerah yang menghiasi kelopak kecilnya tampak cantik dipandang seakan tengah meneduhkan hati orang yang melihatnya.
"Rosemary memiliki makna, bila seseorang memiliki memori yang begitu kuat dan tak akan terlupakan kelak. Begitupun dengan Forget me not. Mereka mempunyai makna yang senada.. terdengar jelas dari namanya, forget me not."jelas ahjumma pemilik toko.
"Aku ingin menjadi mereka" ujar Kibum dengan tatapan teduhnya saat memandang bunga tersebut.
Kibum menoleh, menangkap raut ahjumma pemilik toko dan lagi-lagi pertanyaan standar selalu ia dendangkan apabila maniknya menangkap raut orang asing untuknya. Ahjumma itu tersenyum maklum mendengarnya. Ia bukan orang lain bagi Kibum, dan mereka mempunyai hubungan darah yang cukup dekat.. karena ahjumma itu adalah bibinya. Tentu ia tau akan keadaan keponakan yang sungguh ia kasihi ini dan merasa terpukul untuk dirinya seorang. Kibum yang telah ia anggap sebagai pengganti putranya yang telah tiada, penghiburnya dikala sepi dan selalu menemaninya ditoko tersebut walau dengan raut dingin nan datarnya itu.. ahjumma itu tetap merasa senang dan juga bahagia dahulu, namun kini… ia lagi-lagi harus kehilangan anak laki-lakinya.
"Oh ya, kau ingin bunga apa yang akan kau bawa ke pesta sahabatmu nak?" tanya ahjumma tersebut. Kibum menunjuk sekumpulan mawar kuning yang berkombinasi dengan warna merah diujung kelopaknya. Mawar itu memang terlihat cantik dipandang, seakan menunjukkan pada dunia tentang keunikannya tersebut. "Eh..ok. bagaimana kalau kita mix dengan bunga yang lain?" tanya ahjumma pemilik toko.
"Terserah.. tapi aku ingin mawar itu yang terlihat mencolok" jawab Kibum.
'Sejenis namun dapat mempunyai arti yang berbeda, lalu beda tetapi mempuyai arti yang sama.. itulah bahasa yang bunga-bunga miliki' (Florist 'Sun Blue')
Kyuhyun duduk disamping gereja dengan menunduk. Ia menautkan semua jemari-jemarinya dan menggenggamnya erat disana. Kyuhyun resah, berseteru dengan batinnya. Deru angin dingin menyambutnya yang terlihat rapuh. Ia semakin ragu dengan keputusannya kini. Menikah dengan bukan orang yang ia cintai? Ini bukan pilihan yang tepat baginya, dan ini adalah keputusan salah yang pernah ia buat. Tapi nasi sudah menjadi bubur, ia tak bisa lagi mengelak ataupun mundur. Para undangan satu persatu sudah hadir mengisi bangku gereja untuk menyaksikan pernikahannya. Kyuhyun tak ingin mencoreng nama baik kedua orang tuanya bila ia melarikan diri. Bukankah ini kehendak kekasihnya?
"Kyu…" panggil seorang yeoja. Kyuhyun menoleh dan didapatinya dua orang yeoja tengah tersenyum padanya, eommanya dan juga eomma Kibum.
"Ommonim?" kaget Kyuhyun. Ia berdiri lalu menyambut kedatangan yeoja itu dengan senyum merekahnya. Kyuhyun menunduk hormat dan juga lansung memeluk yeoja paruh baya tersebut. Eomma Kibum tersenyum saat hangatnya pelukan Kyuhyun merayapi relung hatinya.
"Kyu.." panggil eommanya. Kyuhyun melepaskan pelukannya dari eommanya Kibum dan beralih menatap eommanya sendiri. Kyuhyun bingung saat ibunya menyodorkan sebuah bouquet bunga kepanya. Serangkaian mawar kuning dengan kombinasi merah dan juga bunga mawar putih. Kyuhyun menyambut buket tersebut dan memandangnya dalam. "Itu dari Kibum" seru eomma Kibum.
"Mawar ini?" monolog Kyuhyun.
"Mawar kuning itu punya arti sebagai ungkapan selamat. Dia yang memilihkan untukmu" jawab Eomma Kibum.
"Dimana Kibum hyung sekarang?" tanya Kyuhyun. Eomma Kibum dan juga eommanya saling bertatap. Mereka seolah enggan untuk menjawab namun Kyuhyun tau akan arti keraguan yang mereka ukir bersama..Kibumnya pasti telah pergi.
"Mawar ini, apa benar Kibum hyung yang memberinya?" tanya Kyuhyun dengan tatapan sendunya dan dibalas dengan anggukan oleh Eomma Kibum.
"Ketidaksukaan.. itu juga yang dapat diartikan sebagai bahasanya."lirih Kyuhyun masih dengan memandang buket bunga tersebut. Ia sedikit meneteskan air matanya, Kyuhyun bukan menangis namun ia sangat terharu atas jawaban ini. Ia senang, setidaknya Kibumnya yang dulu masih ada melekat dijiwa Kibum yang sekarang. Bukankah ini petanda bila ia tengah cemburu? Dan secara tidak lansung, hatinya juga turut menolak akan keputusannya beberapa waktu yang lalu.
"Pergilah.. bila kau tak menginginkan semua ini, pergilah!" seru eommanya. Kyuhyun mendongak kaget seraya beradu pandang dengan ibunya. Eommanya tersenyum lembut dan mengusap sayang pipi kanan anaknya itu. Kyuhyun menghentikan pergerakan tangan ibunya lalu menggenggam tangan hangat itu dengan penuh kasih. Kyuhyun menggeleng lemah, walau hatinya berkata iya.. Kyuhyun tak bisa untuk mengedepankan egonya semata, semuanya telah berkumpul menantikannya untuk berucap janji diatas altar. Dan dia akan melarikan diri? Ia tak mengapa bila orang-orang akan mencemoohkannya, namun tidak kepada kedua orang tuanya.
"Kami tak mengapa, kau tak usah khawatir nak. Yang terpenting adalah kebahagiaanmu sekarang. Melihatmu sakit, itu yang menjadi masalah untuk kami. Sakit fisikmu, kami dapat mengobati tapi bila hatimu yang sakit? Hanya dirimu sendiri nak yang mampu mengobatinya. Kejarlah ia..Kejarlah Kibum." tutur eommanya. Kyuhyun menangis haru dan lansung memeluk tubuh rapuh eommanya. Berkali-kali ucapan 'terima kasih' ia senandungkan dari bibirnya yang mulai bergetar. Eommanya benar! Sakit dihatinya hanya dia seorang yang bisa mengobatinya. Kyuhyun tak ingin sakit lagi, ia tak ingin kehilangan cintanya untuk kedua kalinya. Kyuhyun melepas peluknya lalu mencium kedua pipi ibunya dan juga eomma Kibum secara bergantian dan melesat pergi.
Namun langkahnya terhenti saat sosok Sungmin tengah berdiri menghadangnya dengan berurai airmata. Kyuhyun tercekat karenanya melihat Sungmin yang tampak terpukul. "Hyung…" ucap Kyuhyun lirih.
Sungmin tersenyum dalam tangisnya dan lansung menerjang Kyuhyun dengan pelukan mendadaknya. Ia menangis dalam pundak Kyuhyun. Kyuhyun diam tak ingin bicara. Ia tau, disini.. ialah yang menjadi ujung tombak dalam dramanya. "Bodoh! Kenapa baru sekarang kau mengejarnya. Kenapa harus dihari pernikahan kita?" tangis Sungmin.
"Hyung.."
Sungmin melepaskan pelukannya yang posesif. Ia menghapus jejak airmatanya kasar lalu memukul bahu kiri Kyuhyun pelan. "Ayo cepat! Kejar ia sebelum menjauh.." tutur Sungmin dengan senyum manisnya. Kyuhyun tersenyum haru dan mengangguk pasti. "Gomawo Hyung…" jawabnya dan beranjak lari meninggalkan gereja.
'Cinta .. sejatinya memang harus dikejar, walau ketidakmungkinan mampu tercapai semakin menemui titi nol.'
Kibum terduduk dikursi taman kota. Dikenakannya earphone yang sedari tadi mengantung dilehernya, ia pasang untuk menutup telinganya. Kebisingan kota ataupun langkah kaki dari pengguna jalan yang kerap melintasinya tak dapat lagi ia dengar, hanya alunan nada yang menjadi kesukaannya yang telah mendominasi pendengarannya. Kibum tampak menikmati nada suara ataupun alunan music dari lagu yang tengah ia putar. Lagu yang sama setiap harinya ia dengar tak pernah bosan ia putar. Kibum tak dapat disalahkan, karena memang ini sudah menjadi kebiasaannya.
Tapp..
Kibum menoleh saat sebuah tepukan mendarat dipundaknya. Kyuhyun, ya.. namja pucat itu yang tengah memanggilnya. Namja pucat itu tersenyum ramah dengan menyodorkan sebuah rangkaian bunga
"Arbor Vi?"
Kyuhyun mengangguk pasti. Kibum melihat Kyuhyun dengan intens yang ia mulai dari ujung kaki hingga kepala. Kibum jelas bingung akan sosok namja yang menurutnya aneh. Bagaimana tidak aneh? Kyuhyun masih mengenakan setelan pernikahannya, bukan hanya Kibum yang menatapnya aneh..namun orang-orang yang berlalu lalang dihadapan mereka tak kalah anehnya juga menatap penampilan Kyuhyun.
"Bunga ini melambangkan persahabatan. Kau ingin kita berteman?"
'Bunga ini melambangkan persahabatan. Kau ingin kita berteman?'
Kalimat yang mereka tuturkan sama, namun dalam konteks ruang yang berbeda. Kyuhyun tersenyum dan mengangguk pelan. Kibum mendesis tajam dengan mengatakan bila Kyuhyun tengah bermimpi disiang bolong. Kyuhyun tau bila kini bukan saatnya matahari bersinar terik. Ini bukan siang hari, Kibum salah.. namun Kyuhyun tetap mengangguk dengan senyum childishnya.
"Kita tak bisa berteman"
'Kita tak bisa berteman'
Lagi-lagi mereka mengumandangkan kalimat yang sama, dan lagi-lagi Kyuhyun tersenyum menanggapi setiap perkataan Kibum.
"Aku itu namja aneh. Orang aneh dan orang normal tak bisa menjadi seorang teman."
'Aku itu namja aneh. Orang aneh dan orang normal tak bisa menjadi seorang teman'
Kibum semakin bingung akan respon Kyuhyun yang tak pernah menjawab. Ia memasang kembali earphonenya dan melesat meninggalkan Kyuhyun dengan tatapan dinginnya. Kyuhyun tersenyum melihat kepergian Kibum. Dilihatnya rangkaian bunga Arbor Vi yang kini telah tergeletak tak berdosa disampingnya. Ia tersenyum lalu mengambil bunga tersebut dan menggenggamnya lembut.
"Aku tak pernah melupakan saat pertama kita bertemu hyung.." lirih Kyuhyun.
'Ketika jatuh cinta, semua orang bisa melukai ataupun terlukai. Namun, jika mereka berusaha untuk tetap bersama.. Itulah yang dinamakan keajaiban cinta!' (Author)
Tbc
Amore udah bilang kan, kalau ff ini pernah amore publish dengan judul 'Innocent Of Snow' tapi entah kenapa ni efef ilang dari peredaran. Jadi, amoree publish ulang. Buat readers setia, udah cukup kan jawaban yang amoree kasih?
