Our Kids
Cast ::
SM Town Member With The Kids.
Jaeyeon = 18 yo – Soohee, Myungjin, Henmi = 17 yo – Moon, Houry, Shinoo = 15 yo – Minyoung, Jaeyoung, Kiki, Adrea, Chanyoo, Chansoo, Jinhyun, Taeho = 14 yo – Minkyung, May, Ray, Sun, Kyunghee, Wun, Ken = 13 yo – Kimi, Juny, Joon, Hoon, Zizi, Fai, Yean, Hyon, Zang, Xing = 12 yo – Ino, Qi = 7 yo – Sunyoung, Junyoung, Eunyoung = 1 yo
Genre ::
Romance, Friendship, Family.
Rating ::
T
Summary ::
Disclaimer ::
© SM Entertainment. Our Kids & Oc's © Brie APel.
Warning :::
MPERG! YAOI! YURI! DLDR! OOC!.
A/N ::
Annyeong!
Brie balik lagi~ Gomawo buat yang dah riview~
Brie saranni baca SM Town Kids Profile dulu ya~
.
.
Chapter 3
.
.
"Taemin-ah!" seru Minho.
"Bawa kerumah sakit sekarang!" seru Jaejoong. Minho langsung mengangkat tubuh Taemin ala pengantin dan memebawanya menuju mobil.
"Aku, Jaejoong dan Key yang akan ikut! Kalian disini saja!" seru Leeteuk.
"Umma!" seru Moon, Leeteuk menatap Moon, Moon mengisyatakan mata pada Taeho yang tampak mematung dalam pelukan Kai.
"Ah, Taeho-ah! Kajja!" seru Leeteuk. Kai menepuk punggung Taeho. Taeho akhirnya sadar saat Kimi mengenggam tangannya.
"Umma, boleh Kimi ikut?" tanya Kimi. Leeteuk menganggukan kepalanya. Dan berangkatlah mereka menuju rumah sakit.
"Ya Tuhan!" seru seseorang.
"Waeyo Krystal-ah?" tanya Amber saat melihat wajah kekasihnya itu yang memucat.
"I-itu~ A-ada d-darah d-ditempat T-taemin Oppa jatuh~" ucap Krystal terbata. Yang lain membelalakan mata mereka dan mengeceknya.
"Ya Tuhan!" seru mereka.
"Semoga Taemin baik-baik saja~"
.
.
Leeteuk mengelengkan kepalanya saat melihat Minho yang terus mondar-mandir di depan ruang UGD. Leeteuk tahu betul, namja Choi itu pasti cemas, namun yang dilakukan Minho sekarang malah membuat ia, Jaejoong dan Key makin cemas.
"Minho-yah~" panggil Leeteuk. Minho menatap Leader Super Junior itu sejenak lalu kembali mondar mandir. Leeteuk mengelengkan kepalanya.
"Ya! Choi Min Ho!" seru Key. Minho menghentikan langkahnya dan menatap Key tajam dan dibalas tatapan tajam juga oleh Key.
"Waeyo?! Kau tidak lihat aku cemas?!" seru Minho pada Key. Key mendelik tajam pada Minho, ia hendak menjawab saat Leeteuk angkat bicara.
"Minho-yah~ Kami tau kau cemas, kami juga cemas. Tapi tenanglah sedikit" nasihat Leeteuk. Minho mentap Leeteuk kemudian menyandarkan dirinya ditembok dekat pintu ruang UGD. Jaejoong berjalan mendekatinya, ditepuknya pundak namja tampan itu.
"Teukie Hyung benar, kami juga cemas. Tenangkan dirimu. Ahn Uisa ada disana, ia bisa menagani Taemin dengan baik" ucap Jaejoong, Minho menganggukan kepalanya. Leeteuk ikut mendekat.
"Nah, sekarang seseorang juga butuh kau tenangkan" ucap Leeteuk sambil mengisyartkan dengan dagunya pada seorang namja yang sedang bersandar pada pundak seorang yeojya.
Minho menatap objek yang ditunjuk Leeteuk. Matanya membulat, dan seakan ada palu besar yang menghantam kepalanya, Minho sadar, bahwa bukan hanya dirinya, Leeteuk, Key dan Jaejoong saja yang cemas. Tapi juga sosok malaikat kecilnya. Putranya dan Taemin, ia juga cemas dan terlihat terpukul. Biar bagaimana pun Taeho masih kecil, ia juga pasti terkejut melihat Ummanya yang tiba-tiba tak sadarkan diri didepan matanya.
"Taeho-yah~" Minho mendekati kedua orang tersebut, ia berjongkok didepan namja tampan empat belas tahun itu, menangkupkan telapak tangan besarnya pada wajah Taeho
"Appa~ Umma-" lirih Taeho yang sepertinya bisa menangis kapan saja. Minho membawa Taeho kepelukannya dan mengelus punggungnya.
"Sssttt, gwenchanayo~ Umma baik-baik saja~ kita berdoa untuk Umma ne" Taeho menganggukan kepalanya. Minho mengecup pucuk kepala Taeho.
Cklek!
Minho melepaskan pelukannya pada Taeho dan menatap pintu ruang UGD yang terbuka dan menampilkan sosok namja berjas putih.
"Kim Uisa" seru Leeteuk, namja berjas itu membungkukan badannya pada Leeteuk, Jaejoong, Key dan Minho.
"Uisa! Bagaimana keadaan Taemin?" tanya Minho. Kim Uisa menghembuskan nafasnya lalu mengelengkan kepalanya.
"Waeyo?" seru Key, ia bingung dengan isyarat Kim Uisa.
"Mian, tapi kami tidak bisa menyelamatkannya" sesal Kim Uisa.
"MWO! APA MAKSUD MU! JANGAN BILANG KAU TIDAK BISA MENYELAMATKAN TAEMIN!" seru Minho marah, ia mencengkram kerah jas Kim Uisa. Leeteuk dan Jaejoong menarik tangan Minho.
"Minho-yah~ Sabar~" ucap Leeteuk lirih. Taeho menjatuhkan dirinya saat mendengar perkataan Kim Uisa. Kimi memeluk tubuh Taeho, ia juga ikut menagis.
"Minho-shii, tenang, Taemin-shii baik-baik saja" Kim Uisa berusaha melepaskan cengkraman Minho pada kerah jasnya. Minho yang mendengar ucapan Kim Uisa berangsur-sangsur melepaskan cengkramannya.
"Jinja?" seru Minho, Kim Uisa menganggukan kepalanya, Minho menghela nafas lega. Taeho ikut menghela nafas lega saat mendengar perkataan Kim Uisa, ia mengeratkan pelukan pada Kimi.
"Lalu apa maksud ucapan anda tadi?" tanya Jaejoong. Kim Uisa kembali menghela nafas.
"Minahae, kami tidak bisa menyelamatkan calon anak kalian~" Minho membulatkan matanya.
"Mwo?! Apa maksudmu!" Kim Uisa menyeritkan keningnya melihat keterkejutan namja-namja didepannya.
"Kalian tidak tau kalau Taemin-shii mengandung?" tanyanya. Minho makin membulatkan matanya. Leeteuk, Jaejoong dan Key sama terkejutnya.
"Hamil? Taemin hamil?" seru Key.
"Nde. Tapi karena kondisinya yang lemah, dan juga kelelahan fisik yang dialami Taemin-shii, janinnya tidak bisa diselamatkan" jelas Kim Uisa.
Tubuh Minho lemas seketika ia menatap Taeho yang sama terkejutnya saat mendengar penjelasan Kim Uisa. Minho tau Taeho pasti sedih, adik yang selalu diharapkannya tidak tertolong. Dan juga bagaimana dengan Taemin. Taemin satu nama itu langsung membuat Minho sadar.
"Taeminnie, dia sudah tau?"
"Nde. Dia sempat histeris saat tau, sekarang dia sudah tenang karena obat penenang. Kau masuklah, Taemin membutuhkan dukungan darimu" Kim Uisa menepuk pundak Minho. Minho mentap Taeho.
"Taeho-ah~ Kau mau ikut Appa?" tanya Minho. Taeho terdiam, ia bingung.
"A-ak-aku"
"Anni, Taeho Oppa dengan Kimi saja, Minho Appa masuk saja" ucap Kimi mewakili, Taeho menatap Kimi yang tersenyum dan megelus lengan Taeho. Minho mendekati Taeho dan mengecup keningnya.
"Masuklah, Taeho dengan kami" ucap Leeteuk. Minho menanggukan kepalanya. Minho kembali mengecup pucuk kepala Taeho dan berjalan masuk kedalam ruangUGD.
"Taeho-ah~ Kajja, kita pulang~ Besok kita kembali dan menjenguk Umma mu lagi" ajak Jaejoong. Taeho menganggukan kepalanya. Ia dituntun oleh Kimi dan mereka pulang.
.
Minho berjalan perlahan menuju tempat Taemin, ia bisa melihat namja manis itu sedang menatap kearah luar jendela sambil menagis. Minho tahu, Taemin pasti sangat terpukul dengan berita ini.
"Chagiya~" panggil Minho pelan, ia duduk disamping ranjang Taemin. Taemin membalikkan wajahnya dan menatap Minho dengan mata berkaca-kaca. Minho mengengam tangan Taemin dan mengcupnya, saat itu juga air mata Taemin jatuh.
"Hiks... Hyung~ Hiks..." tangis Taemin. Minho mendekap tubuh Taemin.
"Sssttt... Uljima~" ucap Minho, ia berusaha menahan air matanya. Biar bagaimana pun ia harus tegar didepan Taemin.
"Hiks... Hyung~ Dia.. Dia pergi.. Dia pergi Hiks.. karena aku~ Hiks.." Minho mengeratkan pelukannya.
"Anniya~ Ini bukan salahmu~ Ini takdir Chagi~ Tuhan mungkin masih belum mempercayakan kita seorang anak lagi~ Mungkin Tuhan ingin kita merawat Taeho dulu hingga tiba saatnya nanti akan hadir malaikat lainnya~" Minho mengecup pucuk kepala Taemin.
Taemin meremas bagian depan baju Minho dan menangis makin keras. Minho terus mengucapkan kata-kata penenang sembari mengecup pucuk kepala Taemin, hingga Taemin kelelahan dan tertidur.
.
.
.
Malam pekat mengelayuti Seoul. Seorang yeojya bertubuh tinggi, berdiri didepan jendela besar sebuah hotel. Ditangannya terdapat gelas berisi wine yang tersisa sedikit.
Helaan nafas terdengar dari bibir yeojya tersebut. Ia kembali meneguk wine miliknya dan kembali menatap pemandangan malam pekat.
"Kenapa perasaan ku tidak enak ya? Apa aku pulang sekarang saja?" ucap yeojya tersebut. Ia berpikir sejenak kemudian menganggukan kepalanya.
Yeojya tersebut meraih ponselnya dan mencari list nama seseorang. Ia kemudian menekan tombol hijau dan meletakan ponselnya pada telinganya. Ia kembali meminum winenya sambil menunggu jawab dari seberang telepon.
"Yeoboseyo" sahut orang disebarang telepon.
"Yeoboseyo, Eonni~" ucap yeojya tersebut.
.
.
Yeojya bertubuh mungil itu sedang asyik duduk didepan televisi, dipangkuannya terdapat sebungkus besar keripik kentang. Mata yeojya itu fokus pada benda kotak didepannya dengan tangan yang terus mengambil segengam keripik kentang dan memasukannya kedalam mulut.
Entah apa yang ditontonnya hingga yeojya itu tak sadar kalau sejak tadi ponsel miliknya berdering.
"Waa, Donggie Chagi tampan sekali~" setelah sekian lama yeojya itu hanya fokus pada benda kotak itu, ia mulai meregangkan tubuhnya. Kemudian ia memandang kesamping tepatnya kearah ponselnya berada.
"Omo, ada telepon" ucap yeojya itu, ia mengambil ponselnya dan menyeritkan keningnya saat melihat sederetan angka yang tak dikenalinya.
"Nugu?" ucapnya entah pada siapa.
"Yeoboseyo" ucap yeojya tersebut.
"Yeoboseyo, Eonni~" ucap seseorang disebarang. Yeojya itu menyeritkan keningnya.
"Nuguya?"
"Eonni~ Nari Eonni~" ucap yeojya diseberang sana.
"Nde? Nuguya?"
"..." Nari melebarkan matanya dan menutup mulutnya.
"Nde, Akan ku sampaikan pada Dongie Oppa" ucap Nari, ia mengangguk-anggukan kepalanya saat yeojya diseberang sana berbicara. "Nde~ Sampai bertemu besok~" ucap Nari dan memutus sambugan teleponnya. Nari tersenyum.
.
.
.
Namja cilik berwajah imut, terlihat berjalan mondar mandir didalam kamar. Sesekali ia berguma sambil mengelengkan kepalanya. Bibir yang dikerucutkan, dangan kuku ibu jari kanan yang digigit, sesekali ia menatap cermin yang dipegang dengan tangan kirinya.
"Aish!" kesal namja imut itu dan mulai mengacak-acak rambut coklatnya.
Kelakuan namja imut itu tak luput dari perhatian namja tampan yang juga memiliki wajah mirip dengan namja imut itu. Sang namja tampan sesekali mengikuti kelakuan sang namja imut.
"Hyung~" Seorang namja cantik bermata kucing masuk kedalam kamar, ia menghampiri namja tampan yang duduk diatas kasur dan duduk disampingnya.
"Wae?" tanya namja tampan pada namja cantik tanpa menatap sang namja cantik dan tetap menatap namja imut didepannya.
"Apa yang kau lihat Hyung?" tanya namja cantik itu. Ia ikut melihat arah pandang sang namja tampan. Namja cantik itu menyeritkan keningnya saat melihat namja imut sedang mondar-mandir didekat tempat tidur.
"Kiki-ah~" panggil namja cantik itu. Kiki menghentikan gerakannya dan menatap namja cantik yang memanggilnya. Kiki menuju tempat kedua namja itu dan duduk ditengah-tengah mereka.
"Umma~" manja Kiki pada namja cantik tersebut.
"Waeyo chagi" tanya Key, Umma Kiki. "Apa yang kau lakukan?" lanjutnya sambil mengelus rambut keriting Kiki.
"Aku sedang berpikir Umma~" rengeknya dan kembali menekuk wajahnya sambil memajukan bibirnya membuat sang Appa, Onew, menarik bibir itu. Kiki makin memajukan bibirnya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Onew.
"Aku sedang berpikir, bagaimana caranya agar Taeho tak sedih lagi~" ucpanya dengan imut. Key dan Onew saling pandang.
Sudah dua hari ini sejak kabar Taemin keguguran dan Taeho masih terus bersedih. Padahal Taemin dan Minho sudah tidak apa-apa. Taeho masih menyalahkan dirinya sendiri karena gagal menjaga calon adiknya. Taemin sendiri sudah agak baikkan, walaupun masih terlihat sedih.
"Kau sudah mengajaknya main seperti biasanya?" Kiki mengerucutkan bibirnya.
"Sudah Umma~ Tapi Taeho diam saja saat kami ajak main~ Dia sering menagis diam-diam" ucap Kiki dengan wajah sedihnya.
"Kau tidak usah melakukan apa-apa" ucap Onew, Key memandang suaminya itu aneh, Kiki menatap Appanya itu bingung.
"Maksudnya?"
"Ya, lakukan seperti biasanya" ucap Onew. Kiki mencerna perkataan Appanya. "Apa yang biasa kalian lakukan?" tanya Onew.
"Hm, kami biasanya main, ngedence, nyanyi, main alat band, hm.. Terus apa lagi ya~" Kiki berpikir apa saja yang biasa dilakukan oleh mereka.
"Nah, seperti itu! Lakukan seperti itu!" seru Onew. Kiki menganggukan kepalanya mengerti maksud Onew. Key hanya mengelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua orang yang dicintainya itu.
.
.
"Shinoo-ah! Paliwa!" seru Shindong, ia sudah terlihat rapi dengan kaos hitam celana jins biru gelap, dan jaket tebal coklat.
"Kau mau kemana Hyung?" tanya Sungmin.
"Ah, itu, Nari minta aku dan Shinoo bertemu" ucap Shindong. Ia mengecek ponselnya yang berdering. "Shinoo-ah!" serunya.
"Nari? Sudah lama tidak bertemu, sampaikan salam kami padanya ne" ucap Leeteuk. Shindong menganggukan kepalanya. Shinoo mucul bersama Sun yang sedang memakaikan jaket pada Shinoo.
"Aku siap Appa!" serunya. Shindong menganggukan kepalanya. Ia dan Shinoo berpamitan pada yang lain. Shinoo juga berpamitan pada Sun. Ray mantap interaksi Shinoo dan Sun dengan mata yang dipicingkan.
"Hati-hati dijalan Oppa! Shin Appa!" seru Sun. Ia tersenyum kemudian berbalik masuk kedalam rumah.
"Cie~ yang baru nganter suaminya~" seru Minyoung jahil. Wajah Sun merona merah, sedangan Ray memelototkan matanya pada Minyoung, terlihat tidak rela saudara kembarnya dengan Shinoo. Ryeowook menatap Ray dengan alis yang bertaut, ia kemudian terkekeh kecil saat tau kenapa putranya itu terlihat kesal.
.
Shinoo bersenandung mengikuti lagu yang terputar di radio yang ada di mobil. Shindong sesekali mengikutinya. Keduanya tertawa saat saling bersahutan menyanyikan bagian rap dari lagu yang mereka dengar.
"Appa, tumben Umma minta kita yang jemput? Ada apa?" tanya Shinoo. Shindong menatap sejenak anak semata wayangnya kemudian fokus kembali pada jalan.
"Appa juga tidak tau, Umma cuma bilang kita disuruh menjemputnya" ucap Shindong, ia memutar stir mobilnya agar mobil berbelok kearah kanan, dan mobil melambat saat memasuki kawasan perumahan. "Mungkin Umma rindu" ucap Shindong sambil tersenyum, mobil miliknya berhenti disebuah rumah sederhana bercet putih, dengan halaman yang tidak terlalu besar, namun cukup asri dengan berbagai macam bunga yang menghiasi.
"Umma!" seru Shinoo saat turun dari mobil, ia langsung memeluk tubuh mungil Nari. Nari tersenyum dan mengecup pucuk kepala Shinoo dengan sayang.
"Hai, Chagi~" Shindong mengecup kening dan bibir Nari. Nari tersenyum manis pada suaminya itu.
"Hai Oppa~ Kajja kita pergi sekarang, aku takut dia menunggu terlalu lama~" ucap Nari. Shindong dan Shinoo mengnyeritkan kening mereka.
"Nugu?" tanya Shindong, Nari hanya tersenyum manis, ia mengecup bibir Shindong.
"Rahasia~ Nanti kau tau sendiri~" ucap Nari jahil. Shindong memutar bola matanya. "Kajja Yooeun-ah~" ucap Nari dan mengandeng Shinoo menuju mobil Shindong. Shindong mengelengkan kepalanya. Ia pun menyusul anak dan istrinya, tak butuh lama mobil milik Shindong pun meninggalkan kawasan perumahan tersebut.
.
.
Hari sudah mulai beranjak malam, lampu rumah yang semula mati sudah mulai dinyalakan. Sekarang waktu menujukan pukul 08.45 PM KST.
Beberapa orang yang tinggal di Shean Mansion sudah mulai masuk kedalam kamar, namun ada juga yang masih melakukan kegiatan diluar kamar, seperti beberapa anak-anak yang masih asyik bermain PS bersama, juga beberapa orang dewasa yang masih asyik mengobrol.
Seperti seorang namja tampan yang terlihat mondar-mandir didekat pintu utama Shean Mansion. Sesekali namja itu akan menatap jam di pergelangan tangannya setiap beberapa detik sekali.
"Ya! Apa yang kau lakukan?" tanya seorang yeojya pada namja tampan itu, sang namaja tampan hanya menatap sekilas sang yeojya lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Sang yeojya mendelik tajam pada namja itu.
"YA! WU KEVIN!" seru yoejya itu.
"What, Hwang Stephanie?" ujar namja itu sambil menandang yeojya bernama Hwang Stephanie atau Tiffany itu. Tiffany menatap Wu Kevin atau Kris tajam.
"Taeng!" seru Tiffany berniat mengadu pada sang kekasih.
"Waeyo Mushroom?" Taeyeon menghampiri Tiffany. Tiffany menunjuk Kris yang kembali melakukan kegiatanya seperti semula. "Ya! Wu Yi Fan! Apa yang kau lakukan pada Mushroom ku!" seru Taeyeon dengan wajah yang disangar-sangarkan. Kris menatap Taeyeon sejenak sebelum memutar bola matanya.
"Dia mengacuhkan ku!" seru Tiffany. Kris kembali memutar bola matanya mendengar rengekkan Tiffany pada Taeyeon. Tumben sekali yeojya dengan julukan eyesmile itu manja.
Taeyeon hendak memarahi Kris saat pintu utama Shean Mansion terbuka dan menampakkan sosok yeojya cantik dengan gaya tomboy yang menenteng tas punggung dan juga membawa tongkat, yeojya itu juga masih mengunakan kaos olah raga sekolahnya.
Kris menatap yeojya cilik yang juga menatapnya. Kris mengangkat lenganya dan menatap jam yang melingkarinya. 09.05 PM KST itu lah waktu yang tertera pada jam tersebut.
"Kenapa baru pulang?" tanya Kris masih dengan suara yang dibuat sebiasa mungkin. Yeojya cilik yang ditanya memandang Kris dengan mata datarnya.
"Bukan urusanmu" ucapnya dingin, kemudian melangkahkan kaki rampingnya kedalam rumah.
"WU ZI FAN!" seru Kris, ia sudah cukup besabar dengan kelakuan Fai.
"What?" tanya Fai tanpa membalikan tubuhnya. Kris berjalan mendekati Fai dan membalikan tubuh yeojya berumur dua belas tahun itu. Kris meremas bahu yeojya yang memiliki tubuh yang sangat tinggi untuk anak seumurannya itu.
"Kau! Daddy tanya! Kau dari mana!" Kris mengeratkan remasanya pada bahu Fai.
"Kris!" seru Tiffany saat melihat Fai yang meringis kesakitan.
"Sudah ku katakan, bukan urusanmu!" ucap Fai sambil melepaskan tangan Kris dibahunya, cukup mudah karena Fai seorang atlet wushu dan Kris juga tidak mengeluarkan semua tenaganya. Fai langsung berbalik, ia sempat menatap Tao yang berdiri di anak tangga, namun Fai mengabaikanya dan berjalan menuju kamarnya.
Kris yang merasa urusannya dengan Fai belum selesai, mengejar sang anak. Tepat sebelum Fai menutup pintu kamarnya, Kris menerobos masuk, Fai sedikit terkejut. Tak menyangka Kris akan mendorong pintu kamarnya.
"Daddy belum selesai bicara!" ucap Kris, Fai mendengus kesal.
"Aku capek, besok saja kalau mau bicara" ucap Fai ketus. Kris megeram marah.
"Kau! Ada apa dengan mu! Kelakuan mu berubah! Apa selama kami tidak disini kau selalu bergaul dengan anak-anak nakal!" seru Kris marah. Fai menatap Kris tajam.
"Apa itu sesuatu yang penting! Tidak usah menyalahkan orang-orang yang ada disekitar ku!" seru Fai juga.
"Kau! Bernainya Kau membentak ayah mu sendiri!" seru Kris lagi.
"Ayah! Kau masih menyebut dirimu ayah ku! APA ORANG YANG SUDAH MEMBUANG ANAKNYA PANTAS DISEBUT AYAH! AKU TIDAK MEMPUNYAI ORANG TUA SEPETI ITU!" seru Fai keras. Kris melebarkan matanya, wajahnya memerah menahan marah.
PLAK!
"KRIS!"
Tao memekik histeris saat melihat Kris menampar Fai. Tak beda jauh dengan yang lain, mereka tak menyangka Kris akan menampar anaknya sendiri.
Fai tersenyum miris, ia memegangi pipinya yang berdenyut, menyeka darah yang keluar dari ujung bibirnya, ia menatap Kris yang mematung menatap tangannya yang baru saja digunakan untuk menampar Fai.
"Setidaknya itu membuktikan, aku memang pantas untuk dibuang oleh anda Tuan Wu!" desis Fai, ia langsung berlari meninggalkan Shean Mansion, tak peduli dengan panggilan-panggilan dari para saudara atau keluarganya yang lain.
"FAI!/ZI!" seru Zizi dan Yean, kedua yeojya itu berlari mengejar Fai. Zizi menghentikan langkahnya saat dirinya berpapasan dengan seorang yeojya bertubuh tinggi.
"Shungmo~" lirihnya lalu kembali berlari mengejar Fai dan Yean.
"JAHAT! GEGE JAHAT! KENAPA KAU MENAMPAR ANAK KU!" Tao terus memukuli tubuh Kris sambil menangis histeris, Kris sendiri hanya diam, ia tak berniat menghetikan pukulan istrinya itu.
"Kenapa berhenti? Tidak jadi menyapa mereka?" seru sebuah suara yang membuat orang-orang yang tadinya menatap Kris dan Tao beralih menatap kearah pintu utama Shean Mansion.
Mereka terkejut menatap seseorang yang berdiri didepan pintu utama. Terlihat Shindong, Shinoo bersama Nari dan juga seorang yeojya bertubuh tinggi yang begitu dirindukan oleh orang-orang yang ada disana.
Yeojya bertubuh tinggi itu menatap datar orang-orang yang menatapnya penuh kerinduan. Lalu pandanganya jatuh pada namja tinggi berambut pirang yang memeluk namja manis berambut hitam.
"Taopan" panggil yeojya itu dengan suara berat dan datarnya.
Tao melepaskan pelukan Kris dan menatap seseorang yang memanggilnya Taopan. Hanya seorang saja yang memanggilnya dengan nama itu, Taopan, Tao Panda.
"Jiejie~" Tao berlari dan langsung memeluk tubuh tinggi yeojya tersebut.
"KyuLine" ucap yeojya itu sambil masih memeluk Tao. Orang yang dimaksud memandang yeojya tersebut yang mengerakan kepalanya mengisyaratkan pintu keluar Shean Mansion.
"Kajja" ucap Kyuhyun pada Changmin dan Minho. Kedua namja itu menganggukan kepala mereka dan berjalan keluara Shean Mansion.
"Hyung! Aku ikut!" seru Sehun. Kyuhyun menganggukan kepalanya dan Sehun segera menyusul ketiga namja itu.
Hening. Setelah KyuLine dan Sehun pergi, keadaan hening seketika. Mereka masih belum bergerak dari tempat mereka. Shindong, Nari dan Shinoo pun salling pandang, bingung kenapa suasana menjadi tegang.
Perlahan Yeojya itu berjalan menuju sofa dengan Tao yang masih memeluknya. Mendudukan dirinya disamping kanan Taemin. Tao masih sesegukan dibahu kiri yeojya itu.
"Nuna~" lirih Taemin, sang yeojya menatap Taemin, ia mengerakan tangganya mengelus rambut Taemin. Taemin menyamankan diri dibahu kanan yoejya tersebut.
"Tidak ada yang mau menceritakannya?" tanya yeojya itu dengan nada suara yang dingin dan datar, dan tanpa menatap kearah orang-orang sekitarnya.
Hening. Semuanya masih menutup mulut mereka. Yeojya itu mengangkat wajahnya dan menatap lurus pada Kris.
"Yifan" Kris tersentak kaget mendengar namanya disebut oleh yeojya tersebut."What's wrong" lanjut yeojya itu saat Kris menatapnya. Kris menundukan kepalanya. "Li Jia Heng!" seru yeojya itu, sudah cukup dengan kesunyian yang terjadi, ia butuh penjelasan.
"S-She-Shean-ah~" panggil Leeteuk, ia sedikit tergagap menyebutkan nama yeojya tersebut. Shean menatap Leeteuk, Ia tertawa datar.
"Apa aku begitu menakutkan sampai kalian tidak ada yang mau bicara!" seru Shean keras, ia sudah tidak memusingkan dia berbicara pada siapa, entah pada yang lebih tua darinya atau yang lain.
"Saechan-ah~" Nona Jung mendakati tempat Shean.
"What. Mau menjelaskan sesuatu Nona Jung?" tanya Shean dingin. Nona Jung sedikit terkejut, namun ia tersenyum, karena salah satu kebiasaan Shean saat kesal adalah berbicara dingin.
"Nde~" jawab Nona Jung, ia mengisyaratkan Shean untuk mengikutinya. Shean melepaskan pelukan Tao dan membiarkan Taemin yang memeluknya. Lalu keduanya menghilang dilantai dua.
.
.
Fai terus berlari, ia tak memperdulikan dimana dirinya berada. Yang dipikirkannya sekarang adalah berlari sejauh mungkin.
Fai akhirnya menghentikan larinya, ia menatap sekelilingnya. Ia berada disebuah taman yang jaraknya lima blok dari Shean Mansion, dan itu sangat jauh, kalau mengunakan sepeda kurang lebih tigapuluh menit baru sampai, tapi Fai berlari dari Shean Mansion dan itu membuatnya lelah.
Akhirnya Fai memutuskan untuk duduk diayunan yang ada ditaman itu. Fai termenung, ia menyentuh pipinya yang berdenyut. Dengan kasar ia menyeka air mata yang sempat mengalir membasai pipinya.
Semakin Fai menghapus air matanya semakin deras air mata itu keluar. Fai berdecak sebal. Ia sakit, entah fisik maupun batinnya. Fisiknya sakit jelas karena tamparan Kris bukan main-main. Batinnya juga sakit dan tersiksa karena melihat Tao kembali menangis karenanya.
Fai mengayunkan perlahan ayunan yang didudukinya. Ia mengusap-usap lenganya saat merasakan hawa dingin.
"Hei lihat, ada kucing kecil yang tersesat" Fai mendongakan kepalanya dan melihat tiga namja mabuk sedang menatapnya dengan pandangan mesum. Ketiganya bertubuh kurus, tidak terlalu tinggi dengan rambut hitam.
"Cih, Aku bukan kucing!" seru Fai galak.
"Wah, wah, wah, ternyata bukan kucing, tapi macan" ucap namja lainnya sambil menirukan suara macan.
"Cih, pergi kalian! Aku sedang tidak ingin berkelahi dengan cacing kepanas seperti kalian!" ucap Fai, ia berdiri dan hendak beranjak dari tempatnya saat salah satu dari ketiga orang itu menahan pergelanggan tangannya.
"Cih, tikus kecil sepertimu berani pada kami!" seru namja yang memegang pergelangan tangan Fai. Fai menatap namja itu tajam. Ia bisa saja menghajar ketiga namja itu. Tapi ia benar-benar sedang tidak dalam kondisi yang fit, lelah setelah latihan untuk turnamennya juga lelah karena berlari tadi.
Mau tak mau Fai berontak, ia melepaskan pegangan namja itu dengan mudah dan mendang perutnya, membuat namja itu jatuh.
"YA! Kau!" seru dua namja lainnya saat Fai lari dari tempat tersebut, mereka sempat membantu teman mereka berdiri lalu mengejar Fai.
Fai sesekali menegok kebelakang dan menemukan ketiga namja itu semakin dekat denganya.
'Sial, aku lelah' keluh Fai dalam hati, ia benar-benar lelah sekarang.
Bruk! Kelalahan yang diderita Fai membuatnya tak melihat ada batu yang cukup besar yang menghalangi jalannya. Fai berdecak sebal saat merasakan kakinya mati rasa. Fai merasakan tubuhnya terangkat keatas, karena kaos olah raga bagian belakangnya ditarik dengan kuat.
"Dapat kau tikus kecil!" seru namja yang menarik belakang baju Fai.
"Kita apakan dia?" tanya namja lain. Namja yang sempat ditendang Fai menyeragai.
"Sedikit bermain dengan tikus ini" ucapnya, ia menyetuh pipi Fai yang berdesis tajam pada mereka.
BUGH!
"Akh! Appo!" dua namja tersungkur sambil mengerang kesakitan, membuat namja yang memagang Fai menatap kedua temannya bingung.
"Ya! Kalian kenapa!" serunya.
Tap! namja itu membalikan badannya dan melihat seorang namja tinggi sedang menyerangai padanya.
"Lepaskan dia!" ucap namja tinggi itu datar.
"Apa urusanmu? Dia milik kami!" seru namja itu. Namja bertubuh tinggi di depanya makin menyeragai. Dan..
BUGH!
Namja tinggi itu meninju perut namja yang memengangi Fai, seketika Fai terlepas dari pegangan namja itu dan jatuh terduduk. Fai mendongakan wajahnya dan melihat tiga namja lain menghampiri namja tinggi sebelumnya dan menghajar ketiga namja mesum tersebut.
Fai menarik nafas lega saat mengetahui siapa mereka. Fai merebahkan dirinya karena kelelahan.
.
.
TBC
.
.
Nanda Angelf :: Ini dah lanjut, Gomawo dah review ^_^
Haehyukyumin :: hehe, tebakan kamu hampir benar, tapi terpaksa harus dibatalkan dulu. Ini dah lanjut, Gomawo dah review ^_^
restu. nawang :: iya Fai terpengaruhi sama seseorang. Kimi emang cerewet #dibekuin# Brie nulis bagian nari-nari itu aja sambil ketawa, membanyangkan kalau itu para namjadeul #dilempar kekandang buaya# Ini dah lanjut, Gomawo dah review ^_^
youra :: yups, mereka memang Brie buat punya couple. Anaknya Sungmin? itu Yean, anaknya HunHan. Ini dah lanjut, Gomawo dah review ^_^
Riyoung Kim :: jawabanya ada dichap ini, yups, akan diceritaan dichap depan. Ini dah lanjut, Gomawo dah review ^_^
Nurul Fajrianti :: Brie 19 April #ups# gomawo, Ini dah lanjut, Gomawo dah review ^_^
cc :: jawabanya ada dichap ini. Ini dah lanjut, Gomawo dah review ^_^
Kang Hyun Yoo :: nde, bangapseumnida #bow# pelan-pelan aja, brie juga harus lihat daftar mereka. Jawabanya ada dichap ini. Ini dah lanjut, Gomawo dah review ^_^
ZiTao99 :: Taemin nya ada sedikit problem #plak# yuos akan diusahaakan. Ini dah lanjut, Gomawo dah review ^_^
yurichu :: maaf, tapi Taem harus keguguran Ini dah lanjut, Gomawo dah review ^_^
HyunieWoo :: emang, ortu mereka aja unyu tunggu aja chap selanjutnya ;) yuos, yang dibandara emang Shean. Ini dah lanjut, Gomawo dah review ^_^
needtexotic :: #ups# hehe iya, Brie yeojya~ hehe, namanya emang gitu itu nickname Brie... Taeminnya harus keguguran~ Ini dah lanjut, Gomawo dah review ^_^
ajib4ff :: nde, gwenchanayo~ hehe gomawo~ iya diusahaain satu keluarga ada satu konflik.. Ini dah lanjut, Gomawo dah review ^_^
Annyeong~ Brie lama ya~ Minahae~ #bow#
Brie lagi persiapan UTS, trus jaringanya benar-bener ngajak ribut~
Sebenarnya mau update pas tanggal 19-20 kmren, pas ultah Brie, Mimi-ge, juga Luhan-ge. Tapi apa mau dikata...
Sekali lagi minahae ne #bow#
Dan gomawo buat yang dah review~ #bow#hug#kiss#
Salam~
Brie APel~
Pyong!
