Pojok manusia nista bertitah :
Hai, minna-tachi! kangen Ameru, yaa~? #geer #plakk
setelah mendapat review yg membangun, akhirnya Ameru memutuskan untuk menamatkan fic ini! iya, fic ini udah berlumut! ga Ameru apdet, kucian~~ *digebuk bata*
Udah gasabar liat akhirnya?! oke oke, ini diaa~~ jng lupa tinggalkan jejak berupa review~~
MESSAGE
Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira
FanFiction © Ameru-Genjirou-Sawada
Dan sejak itu, Tsuna mulai mengatakan hal yang aneh pada teman-temannya. Ia menasehati teman-temannya, meminta mereka melakukan hal yang aneh—bagi mereka. Menyiratkan pesan-pesan pada mereka, dan hal-hal lainnya. Persis seperti orang yang akan mati.
Tunggu?
Pada awalnya tidak ada yang menyadari maksud dari semua pesan Tsuna. Semua menjalankannya, menganggap itu hanya sebuah pesan atau perintah biasa. Namun tidak ada yang tahu, kalau tidak lama lagi, pesan itu tidak akan pernah dijalankan lagi.
Hari ini, Yamamoto dan Gokudera berjalan berdampingan dilorong dua Nami-chuu. Sebenarnya, pemandangan yang tidak biasa. Mengingat mereka tidak (akan) bisa akur, dan pastinya ada Tsuna ditengah-tengah mereka.
"Kemana Tsuna..?" Yamamoto bertanya—memecah keheningan diantara mereka. Gokudera mengangkat bahu acuh.
"Juudaime tidak memberitahuku apa-apa.." Jawabnya seadanya. Yamamoto mengangguk, lalu berjalan kembali. Keheningan mencekik mereka.
"Ne, Gokudera.." Yamamoto bicara lagi.
"Maumu apa lagi, yakyuu-baka?" Tanya Gokudera sewot. Yamamoto menggaruk tengkuknya kikuk.
"Ano.."
"…?" Gokudera menatap Yamamoto bingung.
"Apa kau tidak aneh dengan Tsuna belakangan ini..?" Tanya Yamamoto berikutnya. Gokudera agak terkesiap mendengarnya. Ia juga merasakan hal yang sama seperti Yamamoto.
"Benar juga, yakyuu-baka, Juudaime bertingkah aneh belakangan ini.., sejak keluar dari rumah sakit karena pingsan itu.." Gokudera mengerutkan dahinya. Yamamoto terdiam.
"Menurutmu—"
"Tidak. Tidak mungkin…, mungkin Juudaime hanya ingin meminta tolong pada kita saja.." Gokudera mengelak.
Iris auburn itu berkilat.
"Tapi—"
"Percayalah, yakyuu-baka.., apa kau tidak punya rasa percaya pada Juudaime..?" Gokudera menatap iris itu sengit. Tidak seperti biasa Gokudera tidak emosi. Mungkin ia lelah.
Yamamoto tersenyum kecil, "Yah, mungkin."
Gokudera berpaling, melanjutkan perjalanannya. Dilanjutkan Yamamoto dibelakangnya.
Diranjang itu, alat bantu nafas terpasang dimulutnya. Jarum infuse dimana-mana. Alat detector jantung senantiasa didekatnya. Iris caramel itu belum terbuka.
Seorang berambut coklat pendek memandang sedih bocah rambut anti gravitasi itu. Ia belum sadar. Seorang wanita berjas putih menepuk pundak wanita itu pelan.
"Dokter Kasamoto.." Sang wanita memanggil lirih nama dokter itu—Dokter Kasamoto Yuimo.
"Tenanglah, Sawada-san.., semua akan baik-baik saja.." Ujar sang dokter lembut—menenangkan.
"Bagaimana…berapa lama waktunya..?" Tanya Nana Sawada khawatir. Dipandangnya lagi sang anak yang terbaring lemah tak sadarkan diri.
"Kondisinya cukup buruk, kanker otaknya sudah stadium 4, sudah parah…, kita hanya bisa berharap adanya keajaiban.." Sang dokter berbicara lirih. Berusaha agar sang ibu dari pasien tidak tersinggung.
"Terimakasih, Dokter Kasamoto.." Ujar Nana mulai tenang. Dokter Kasamoto tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi, Sawada-san.." Ujar Dokter Kasamoto meninggalkan Nana. Suara pintu tertutup berdebam, mengisi kesunyian.
"Tsu-kun.., bertahanlah.." Ujar sang ibu lirih. Berharap keajaiban.
Dua minggu.
Tsuna tidak masuk sekolah selama dua minggu, dan tidak ada kabar sama sekali darinya. Semua temannya nampak khawatir. Mereka merasakan firasat buruk mengenai Tsuna. Namun sekali lagi, mereka menepis pikiran negatif itu.
"Juudaime pasti sedang keluar kota.., menjenguk kakek-neneknya.." Ujar Gokudera meyakinkan dirinya. Yamamoto menyeruput susunya dengan lesu.
"Tapi, Gokudera.., ini sudah terlalu lama.." Yamamoto kembali berucap. Gokudera berdecak kesal. Sungguh, ia rasanya ingin meledakkan kepala si yakyuu-baka ini.
"Berisik, yakyuu-baka! Juudaime pasti akan kembali!" Hardik Gokudera yang sudah habis kesabarannya. Yamamoto terdiam, llalu mengangguk lemah. Gokudera kembali berkutat pada buku catatannya.
Satu bulan.
Sudah satu bulan terlewat. Surai coklat anti gravitasi itu belum terlihat juga. Senyuman hangatnya dirindukan teman-temannya. Tawanya mereka dambakan. Sejak hilangnya Tsuna selama sebulan ini, banyak orang sudah berspekulasi tentang absennya Tsuna tersebut.
"Mungkin dia sudah pindah sekolah.." Ucap salah seorang siswa.
"Mungkin ayahnya pindah kerja keluar negeri.." Seorang siswi ikut menyeletuk. Siswa berambut biru muda yang duduk paling belakang ikut mengangkat suaranya.
"Ah, mungkin Sawada sudah mati." Cari mati kau, nak.
Gokudera berdiri dari tempatnya dengan membawa dynamite ditangannya, "TEME! JUUDAIME TIDAK MUNGKIN MATI!" Hardiknya kasar, yang langsung ditahan Yamamoto dan Ryohei.
"Go—Gokudera—sudah..hentikan!" Yamamoto menghalau Gokudera yang akan melempari siswa itu dengan dynamite. Namun acara itu terhenti setelah Nezu-sensei memasuki kelas. Wajahnya terlihat tertekuk sedih.
"Anak-anak, pulang sekolah nanti, kita pergi keacara pemakaman.." Ujar Nezu-sensei mengangetkan semuanya. Hah? Acara pemakaman? Siapa yang meninggal?
"Sawada Tsunayoshi. Ia meninggal kemarin..akibat kanker otak.." Nezu-sensei berucap lagi—seolah tahu pemikiran murid-muridnya. Semuanya diam. Tidak ada yang berkomentar, semuanya nampak shock.
"Juu—Juudaime—" Gokudera yang nampak paling tidak terima.
Yamamoto hanya diam membisu.
Ryohei mengepalkan tangannya erat, berusaha untuk tidak menangis.
Kyoko menangis dalam diam.
Atmosphere saat itu sungguh gelap.
Keajaiban tak datang..
ia sungguh pergi..
Kenapa..
kenapa Kami-sama begitu jahat?
Disini terbaring Sawada Tsunayoshi
Meninggal : 23 Mei 20xx
Itulah yang tertulis pada nisan itu. Semilir angin menerbangkan dedaunan dan kelopak dandelion. Gokudera, Yamamoto, Ryohei, Kyoko, Haru, semuanya berkumpul didepan makam itu.
Gokudera berlutut meletakkan sekuntum mawar putih diatas makam itu, air matanya tak kuasa ia bendung.
"Maafkan aku, Juudaime.., aku telat menyadarinya, bahkan aku belum mengucapkan selamat tinggal—" Omongannya terputus dalam isakan. Gokudera tak kuasa kehilangan teman yang sudah ia anggap seperti keluarganya itu. Yamamoto dengan iba mengelus pelan punggung Gokudera.
"Terimakasih atas segalanya, Tsuna.., aku dan Gokudera akan menjadi akrab mulai sekarang.." Ujar Yamamoto seraya tersenyum pedih. Baginya, Tsuna sudah seperti adiknya.
"Sawada, semua pesanmu akan kuingat to the extreme.." Ryohei mengepalkan kedua tangannya diselingi isakan tangis. Pemilik manik caramel itu adalah temannya yang sangat baik.
Kyoko dan Haru tidak mampu berkata apa-apa lagi. Mereka menangis meraung-raung. Sulit rasanya kehilangan sahabat yang sangat istimewa dihati mereka.
Pedih.
Menyakitkan.
Nana Sawada memperhatikan teman-teman putranya dengan pedih. Akhirnya putra tunggalnya itu pergi meninggalkannya. Tapi, ia ingat segelintir pesan yang Tsuna tinggalkan untuknya, dan untuk teman-temannya.
Temannya yang berharga.
"Kaa-san…bolehkah…aku berpesan sesuatu..?" Tsuan berbicara dengan lirih. Nana dengan setia berada disisinya. Tangannya menggenggam lembut tangan pucat Tsuna.
"Ya, Tsu-kun…, silakan.." Ucap Nana. Tsuna tersenyum pahit.
"Untukmu dan Tou-san, berbahagialah.." Tsuna memulai. Ia menatap nanar langit-langit ruangannya itu.
"Untuk Gokudera-kun…, ia…aku ingin ia akrab dengan Yamamoto.., dan aku ingin dia berhenti merokok.., merokok itu tidak baik.." Tsuna berkata sambil terkekeh. Ia ingat pertengkaran Gokudera dan Yamamoto yang tidak ada habisnya itu.
"Untuk Yamamoto, aku ingin dia jadi atlet baseball yang terhebat se-Jepang. Bakatnya itu tidak boleh disia-siakan.." Lanjutnya. Nana menatap pedih putranya itu.
"Onii-san dan Kyoko-chan, mereka harus bahagia, Onii-san harus jadi atlet tinju yang hebat…, dan Kyoko-chan…, aku ingin ia bahagia.." Ujar pemilim surai anti gravitasi lagi.
"Kaa-san.." Tsuna menatap lirih sang bunda. Nana mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Ya, Tsu-kun, ibu pasti akan mengatakannya pada teman-temanmu.." Genggamannya semakin erat. Ia tahu sudah waktunya Tsuna pergi. Tsuna tersenyum bahagia,
"Arigatou…, Kaa-san.." Dan mata Tsuna tertutup. Senyum abadi terkembang diwajahnya. Mengantarkannya menuju peristirahatan terakhirnya.
Selamat tinggal.
FIN
FINN! FINN! YEAY! #apa deh
akhirnya fic ini, resmi! fin! yeaaay~~ *nari gangn*m style*
makasih semuanya buat yg udah review, apalgi sampe susah2 fav, Ameru terharu... *nangis bombay*
