Kasihan...

Sungguh kasihan...

Semua orang menyalahkannya tanpa peduli alasan mengapa dia melakukannya.

»»««

Pandora Hearts © Jun Mochizuki

»»««

Menjijikan! Dasar parasit!

Jack hanya tersenyum untuk semua caci-maki yang dilemparkan orang-orang itu kepadanya. Ia tidak membalas, karena ia tahu ia tidak pantas; ia tidak berhak―bahkan untuk sekadar merasa marah―karena ia bukan siapa-siapa, bukan apa-apa―karena ia hanyalah seorang pendosa.

Ia yang terlahir haram ini sudah tidak mungkin bisa termaafkan lagi. Sudah sangat banyak―bahkan terlalu banyak―dosa yang ia perbuat. Tragedi Sabrie, kematian Glen Baskerville, kebohongan tentang 100 tahun lalu; semuanya adalah salahnya. Tak heran bila semua orang menyalahkannya.

Tapi...

Tahukah kalian apa alasannya bertindak sampai sejauh itu?

Tidak. Tidak ada yang tahu, karena tidak ada seorangpun yang peduli. Semuanya hanya bisa menyalahkannya tanpa―pernah―peduli apa alasannya melakukannya; mencaci-maki dirinya tanpa tahu rasa sakit yang dideritanya. Membela diri pun percuma, karena tidak ada seorangpun yang ingin mendengar pembelaan dirinya. Semuanya memilih untuk menutup mata dan telinga, dan berpura-pura seolah tidak ada yang terjadi.

Dunia memang tidak pernah adil padanya―tidak barang sedikitpun. Semua hal yang ada padanya direbut begitu saja dari tangannya tanpa ia bisa melawan.

Tidak benar kau kehilangan segalanya. Kau hanya kehilangan keinginanmu untuk hidup.

Itu kata-kata gadis itu beberapa tahun yang lalu, saat pertama kali mereka bertemu. Lacie namanya―seorang gadis yang keberadaannya seterang cahaya sekaligus segelap kegelapan Abyss.

Kata-kata itu sangat ia percaya, awalnya. Tapi belakangan, terbukti bahwa ia tidak hanya kehilangan keinginannya untuk hidup, melainkan juga seluruh hal yang ia miliki―jabatan, keluarga, teman baik, dan bahkan gadis itu. Apa sebegitu tidak pantasnyakah ia memperoleh hal itu sampai dunia merenggut segalanya darinya?

Satu. Hanya satu hal yang selalu ingin ia wujudkan―impiannya. Ia tidak perlu jabatan yang tinggi, juga tidak perlu harta yang banyak. Ia tidak butuh keluarga yang tidak pernah mengakui dirinya. Yang ia butuhkan hanyalah tetap berada di sisi gadis itu, selamanya. Untuk alasan itulah, ia berjuang mati-matian, mengembara tanpa tujuan, menunggu tanpa kepastian―agar suatu hari nanti, hal yang telah hilang dari dirinya itu bisa kembali lagi.

Nyatanya, gadis itu kembali. Yah, gadis itu kembali lagi ke sisinya, bertemu lagi dengannya, untuk kedua kalinya―lalu kembali hilang. Kali ini, untuk selama-lamanya. Tidak ada yang bisa Jack lakukan, kecuali berdoa dan bertindak. Bertindak? Yah, bertindak―apa saja akan ia lakukan untuk gadis itu, apa saja akan ia korbankan untuknya.

Takkan ia biarkan dunia yang serakah ini mengambilnya kembali darinya. Untuk alasan itulah―hanya untuk alasan itulah, ia melakukan ini―menjadi seorang pendosa yang dibenci oleh semua orang. Dihina sehina apapun, divonis seberat apapun, takkan bisa menghalanginya. Ia, seorang Jack Vessalius yang kini menyandang status sebagai seorang pendosa, akan merebut kembali apa yang menjadi miliknya.

»»««

Iseng-iseng buat nih fanfic. Hasilnya ya begini. Gimana? Bagus? Buruk? RnR, please?