Summary: Sikembar Kagamine Rin & Len dan temannya, Miku, Gumi, Kaito, SeeU, Piko, Oliver menjalani masa sekolahnya di VocaUtauKuen, sekolah elit tetapi muridnya tidak seelit sekolahnya, bagaimanakah kesan yang akan dihadapinya?


A Vocaloid Fic

Present:

A School Life in VocaUtauKuen

Made by: lenlenka092

DISCLAIMER:

The Vocaloids 1/2/3 and Utauloids and the other loids where I don't know isn't mine, I just made the story

WARNED:

Typos and other may I forget to tell


Chapter 9: Shota Kawaii Cafe


NORMAL POV

VocaUtauKuen terasa ramai, ya, hari ini adalah hari festival sekolahnya, festival yang sengaja diadakan kepala sekolah dan just for fun... Ya, benar-benar just for fun

"Onee-chan! Jangan bercanda! Kita disuruh makai baju gak layak ini?", Len memandangi baju yang dikenakannya, ya, gak layak, baju maid berwarna putih-pink yang membuat para wanita yang memandanginya ingin nosebleeding 5 ember

"Em... Kenapa ada sayap?", tanya Oliver sambil menoleh kepunggungnya, ada sepasang sayap kecil di baju maid nya

"...", Piko tak berani berkomentar, ia sudah pundung di pojokan

Rin, Miku, dan Gumi sedang asik menyiapkan para maid (?) yang akan digunakan di maid cafe-nya

"Selera Defoko-chan bagus juga, baju maid-nya benar-benar imut!", seru Gumi sambil menata baju Len

"Iya, masalah baju beres... Sekarang, tinggal tata rambutnya", Rin membawa sisir, dan mendekati Len

"Hm... Model rambut yang lucu untuk anak ini... Bagaimana kalau dikepang?", tanya Miku sambil mengamati rambut Len

"WAT? DIKEPANG? GA MAU!", tolak Len mentah-mentah, Miku cuma sweatdrop

"Sabar, Len-chan... Gue kan belom mau ngepang rambut lu, gue cuma nanya pendapat"

Len cuma diam, Len-chan?,...

Len pasrah dirinya sedang diutak-atik wanita, Piko masih pundung dipojokan, Oliver berusaha melepaskan baju maid-nya, tetapi percuma, ia ditahan oleh murid lainnya

"Penyesalan memang selalu ada diakhir, sekarang gue nyesel napa gue ngedaftarin diri gue disekolah ini kalau tau murid wanita disini pada 'kagak waras' semua", seru Oliver sambil pasrah

"Itu sudah menjadi kebiasaan para murid wanita untuk menjadikan para lelaki shota-nya sebagai maid di cafe setiap festival...", jelas Piko yang sudah berhenti pundung dipojokan

"Jadi lu pada udah biasa begini?"

"Banget, tapi bukan berarti kami enjoy... Karena setiap kali pasti makin parah aja, pernah kami dipakaikan baju cosplay maid yang buat kami bener-bener malu"

"Kalau aja ini sekolah ngebolehkan muridnya ngundurin diri dari sekolah, abis festival ini gue pasti akan ngundurin diri gue", Oliver sweatdrop, anggukan menyertai Len dan Piko

Pasrah

Itulah kata yang bisa diutarakan oleh mereka bertiga

Oke, author malah mendramatisir keadaan

"Oke, mode rambut untuk Len sudah selesai dipikirkan... Piko... Tak perlu, cuma perlu diberi pita-pita mungil... Oliver?", otak Rin, Gumi, dan Miku langsung macet memikirkan mode rambut Oliver, mungkin susah untuk dijadikan mirip wanita, Oliver lalu tersenyum kecil

"So... Karena rambut gue susah diatur... KABUUUR!"

"LU JANGAN KABUR!"

Oliver sudah mempersiapkan ancang-ancangnya untuk melarikan diri, tetapi langsung ditarik oleh kedua temannya itu, Oliver langsung sweatdrop

"Kalau lu berani kabur, abis festival gue jemur lu", seru Len dan Piko mengancam, Oliver sweatdrop lagi

"Sorry"

Akhirnya mereka bertiga dihias oleh para wanita

"Gumi, minta mascara-nya"

"Ha'i Mikuu~"

"Rin, tolong ambilkan beberapa alat make up di laci"

"Ha'i"

"Dan yang nganggur, boleh membantu gue ngehiasi... Lelaki ini?"

"Siap"

Ya, mereka lanjut menghiasi dan menata dengan rapi para lelaki yang malang ini, akhirnya 10 menit selesai sudah mendandani ketiga lelaki ini... Readers wanita boleh membayangkan gimana dandanan terimut kalian untuk ketiga lelaki ini

"ONEE-CHAN!"

"MIKU!"

"GUMI!"

"Iya?"

"..."

Ketiga lelaki malang ini cuma diam, teriakannya yang menggelegar cuma dijawab santai oleh wanita yang merasa terpanggil, ya, baju mereka, muka mereka, sangat imut, kalau aja para wanita yang mendandani mereka semua ini asli, author udah sewa dia untuk bekerja di salon shota terdekat (?)

Len dan Piko menutupi muka mereka dengan telapak tangannya, Oliver menatap mukanya di kaca

"NAUJUBILAH! WHAT HAPPEN IN MY FACE? (APA YANG TERJADI DENGAN MUKA GUE?)"

Itulah teriakannya, semua makhluk diruang tata rias itu menutup telinganya, reaksi yang indah untuk pemula :v

"Wat hepen, u ask? Wel,... De right wat hepened is... Yu fes be so kyut... (What happen, you ask? Well,... The right what happened is... You face be so cute...) (Apa yang terjadi, kau tanya? Yah... Yang sebenarnya terjadi adalah... Wajahmu menjadi sangat imut)", jelas Gumi, Oliver langsung mengepalkan tangannya

"MENJADI IMUT NDASMU! MUKA GUE MAU DITARUH DIMANA? LUBANG WC?"

"Sabar Oliver... Kami juga mengetahui penderitaanmu"

Ruang tata rias itu hening

"Oke, Oliver udah imut... Tapi, perban dimatanya menganggu", Rin menerawangi mata kiri Oliver yang tertutup, memang benar sih

"Tenang, itu sudah kuatasi... Lihat yang kubawa!", Miku memegang erat sebuah penutup mata berwarna pink terang

"Oke... Itu menjadi penutup mataku... Kenapa bentuknya lope-lope?"

"Masa mau makai bentuk tengkorak? Ini Ma-... Ehem, Shota Cafe... Bukan Halloween...", jelas SeeU yang duduk santai memandangi ketiga shota ini didandan

"Setidaknya persegi... Memalukan!"

"Apa yang tidak memalukan kalau sudah didandani menjadi wanita?"

Ucapan Piko membuat Oliver dan Len memandanginya, benar, apa yang tidak memalukan dari itu?

"Oke hentikan berdebat, kalian menjadi makin imut loh... Oke, Oliver, ini penutup matamu, pakailah sendiri, jangan lupa balikkan badanmu, gua gak mau berteriak", Miku menodohkan penutup mata pink terang lope-lope (?) itu, Oliver menurutinya, ia mengambil penutup mata yang didedikasikan (?) untuk dirinya, dan memakainya

Len dan Piko menunggu, sambil difoto-foto oleh para wanita, andai saja tak ada yang namanya Hak Asasi Manusia, Len dan Piko pasti sudah melempar wanita itu lewat atap sekolah

"Bisa berhenti foto-foto gue gak sih?", tanya Len sambil berusaha menutupi mukanya

"Nggak bisa, lu terlalu imut"

"..."

Akhirnya mereka selesai mengambil beberapa foto dari para duo shota mereka, Oliver juga selesai memasang penutup mata barunya itu, ia membalikkan tubuhnya

"Gue su-"

"WAAAAAAAA... KAWAII!"

"IMUUUT!"

"OLIVEER... TATAP SINI DOOONG!"

"..."

Oliver terdiam melihat para wanita dengan sigap memotong ucapannya dan memfoto dirinya, Len dan Piko sweatdrop

"Gue bersyukur gue tak terlahir sebagai Oliver", seru mereka berdua

'Tok, tok, tok!'

Terdengar suara pintu terketuk se-, eh, maksudnya terdengar suara orang mengetuk pintu, semua makhluk disana menoleh

"Yaa... Masuk saja gak apa"

'Krieeek...'

"Haloo... Apa mereka semua sudah selesai dirias?", tanya salah seorang penanggung jawab Shota Kawaii Cafe yang baru saja memasuki ruang tata rias, atau gak usah kelewat formal, kita sebut saja namanya Kaito Shion

"Ya, sudah, oh ya Kaito, bagaimana cafe-nya? Beres?", seru Miku

"Tentu saja... Gue dan rekan-rekan telah menyewa jasa khusus dan bill nya sudah gue oper ke rekening lu"

Ruang tata rias menghening, Miku mengepalkan tangannya, mendekati Kaito perlahan

"GUE SURUH LU DAN REKAN-REKAN LU NGERJAIN SENDIRI! BUKAN BAWA JASA KHUSUS! UDAH GUE SIAPIN PROPERTI DAN RANCANGANNYA KE ELU-ELU PADA! HONTOU WA BAKA ANATA-TACHI!"

'BUAKKKKKKKK!'

'Klontang! Grusak! Brak brak...'

"..."

"Poor Kaito"

"Itu anak masih hidupkan?"

"Waw, alat make-up-nya menumpuk"

"Untung kagak ada yang rusak ya"

"Iya, kalau muka Kaito yang hancur sih gak apa, kalau alat-alatnya yang hancur keluar uang deh kita"

"Iya, kalau juga Kaito mati, tinggal bawa ke RS terdekat, dikremasi, lalu dimakamkan, selesai"

Komentar yang 'nikmat' didengar oleh Kaito, Kaito dengan susah payah bangkit dari pukulan menyenangkan Miku, alat make-up yang terjatuh dan terkena kepalanya berjatuhan satu persatu, Kaito menyapu bajunya yang sedikit berdebu, menghirup nafasnya dalam-dalam

"Huah... Miku, tadi cuma bercanda... Gue kagak ngoper ke rekening elu-"

"Eh? Gomen... Haha, jadi, lu urusin cafe itu sendiri kan?"

"Gue belum selesai ngomong!"

"Oke lanjutkan"

"Jadi, gue bercanda soal ngoperin bill itu kerekening elu, tapi gue oper bill-nya kerekening kakak lu, gimana?"

Miku terdiam, semua yang disana sweatdrop berjamaah, Miku menghela nafasnya 5 detik, dan mendekati Kaito yang babak belur

"Gimana? Hm, pendapat gue... Lebih baik gue bunuh lu detik ini aja ya...

MAKAN NIH! MIKU MIKU NI ATTAKKU SHITE AGERU! (?)"

(Censored... Sfx: BUAK! KLONTAK! PLAK PLAK PLAK! HYUUU (?)! PRAAANG...)

"Waw... Manusia terbang rupanya enak dilihat", seru SeeU sambil menjilati eskrim yang ia curi dari saku Kaito

"Darimana lu dapatin eskrim itu...?", tanya Rin sambil sweatdrop

"Ah, ini? Ya, waktu Kaito melayang, gue lihat sebungkus eskrimnya jatuh, yaudah... Gue ambil aja, itung-itung mubazir. Enak lho, rasa stroberi!"

"..."

"Oke... Sekarang festivalnya hampir dimulai, cafe juga sudah siap... Ayo bawa para... Shota? Maid... Kita ke cafe", perintah Gumi, semua wanita pun bersemangat mengangkut (?) para shota pilihan mereka ke cafe yang berada tak jauh, mereka membuat sendiri ruang tata rias yang mudah dijangkau, atau gimana jelasinnya author-pun tak mengerti

Mereka sudah keluar dari ruang tata rias, dilihatnya banyak murid dari sekolah lain berlalu lalang

"Wah, ramai", respon SeeU sambil tetap menjilati eskrimnya

"Haha, makin seru dong... Ayo Len, Piko, dan Oliver, kita ke-... Eh?", Miku terkejut melihat ketiga sosok yang seharusnya berada disampingnya menghilang

"Anu, minna... Para shota kita kemana?"

"Gak liat"

"Dia kan ada disampingmu"

"Seharusnya, tapi ilang"

"Wah gawat!"

"Iya nih, nanti kalau festivalnya udah dimulai ia belum ada gawat kita"

"Bukan itu, jangan-jangan dia hantu!"

"..."

Para wanita pun mulai mencari, kecuali SeeU, ia masih menjilati eskrim hasil curiannya, mereka mencari, dan mencari... Sampai akhirnya Rin menggeledah semak-semak yang tak jauh dari tempat ia berdiri tadi, dilihatnya ketiga sosok yang ia cari sedang meringkuk

"Mi...tsu...ke...taaa~"

"KYAAAAA"

Para ketiga shota yang ngumpet langsung kaget

"Apa-apaan sih onee-chan?", tanya Len sambil memegangi dadanya, yah, sepertinya ia jantungan

"Apa-apaan apaan? Kenapa lu kabur?"

"Eh... Yah... Ma... Malu...", Len menutupi mukanya, Rin mendengus

"Gak ada kata malu! Lu kan udah kebiasaan begini!", Rin menarik tangan Len dan menyeretnya. Piko dan Oliver yang melihat nasib Len memandangi satu sama lain

"Untung kita kagak diseret..."

"Apa lu bilang? Hei kalian berdua, kalian musti ikut juga! Mau kabur pun masa dengan baju gituan?"

Piko dan Oliver memandangi bajunya, benar juga, akan lebih memalukan kalau mereka kabur dengan mengenakan baju maid

"..."

Mereka berdua tak berani berkomentar, mereka keluar dari semak-semak mengekori Rin dan seorang temannya, tentu saja sambil menutupi bajunya dan memandangi sekeliling

...

Mereka semua telah sampai didepan cafe nya, cafe-nya amat bagus dihiasi pernak-pernik dan aksesoris dipintu masuk, dan terdapat spanduk bertuliskan


WELCOME TO OUR SHOTA KAWAII CAFE


Para shota sweatdrop, lalu mereka melihat disamping pintu terdapat tulisan


Bagi para wanita, jangan lupa siapkan tisu kalian, kami tak mau tanggung jawab bila kalian nosebleed melihat para maid istimewa kami


"Tulisan apa-apaan ini?", seru mereka bertiga protes

"Yah, kenyataan kan? Kami aja kepingin nosebleeding melihat kalian", balas para wanita kalem

"Especially for Oliver-kun (Terutama untuk Oliver-kun)"

"..."

Mereka pun memasuki cafe mereka yang masih sepi, festival dimulai beberapa menit lagi, para shota sudah siap ditempat, para wanita mengawasi dari jauh, dan para lelaki juga

"Aaaa... Gue gak bisa nerima kenyataan kalau si bertiga yang didepan itu lelakiiii!", komentar Dell melihat Len, Piko, dan Oliver yang duduk manis jauh didepan mereka

"Samaaaa", komentar Rinto lagi sambil menangis merdu (?)

"Apakah ini saat yang tepat untuk gue menjadi homo?", komentar Yohioloid sambil ber-smirk ria

"Kalau lu macam-macam ama gue, besok lu gak bakal liat mentari bersinar terang layaknya senter didepen muka lu ntar!"

"Istilahmu kepanjangan, Piko"

"Oh"

'TEEENG TEEEENG'

Bel tanda festival dimulai berbunyi, sekolah elit memang lain dari yang lain, peringatan festival dimulai aja pakai bel

"Miku, tugas lu ngepromosiin cafe kita kan?", tanya Rin ke Miku yang asik merapikan bajunya

"Iya, kenapa?"

"Yaudah lakuin lah bego, nanya kenapa lagi!"

"Mana brosurnya?"

"Nih"

"Oke, ittekimasu!"

Para maid shota menunggu, Gumi mendekati mereka bertiga

"Nanti jangan lupa sewaktu melayani para pelanggan pakai senyuman dan gaya imut ya!"

"EEEH?"

"Harus doong...! Kalau enggak...", Gumi memasang ekspresi mengancam, yang merasa ancaman itu ditujukan padanya ketakutan

"Iya ya kulakuin!"

"Nah gitu dong, ganbarouze!"

"..."

10 Menit Kemudian

Suara dari luar terasa ramai, para shota memandangi satu sama lainnya

"Ini mungkin... Saat yang bagus... Untuk kehilangan harga diri kita, friends", seru Len sambil berekspresi layaknya orang yang akan berperang

"Ya..."

Terlihat bayangan seorang, saat orang itu akan memasuki cafe, para maid shota (?) langsung bersiap

"Iraishima...se... Eh?"

"...Eh? Kalian ngapain?"

Suasana cafe menghening, hening sekali

"HAHAHAHAHAHAHAHAA!", para makhluk selain para maid shota dan orang itu tak bisa menahan tawanya

Para maid shota terdiam, entah malu atau marah, iya, bagaimana tidak malu, mengetahui yang masuk adalah guru mereka sendiri, Lily-sensei, apalagi tadi mereka bergaya amat manis

Mereka menoleh ke arah Gumi, Gumi sudah cengingisan gaje

"GUMIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII"

"Eh, kalian Kagamine-san, Utatane-san, dan Oliver-san kan? Kenapa kalian kok... Dandanannnya mirip cewek?"

Len, Piko, dan Oliver langsung pokerface

"...Pe... Penjelasannya panjang, Sensei..."

"Haha... Oh ya, sensei datang kesini untuk sekadar memberi penilaian, kudengar kelas kalian membuat cafe ya?"

"Ya... Begitulah..."

"Kenapa namanya Shota Kawaii Cafe?"

"Saya nggak tau selera wanita gimana, sensei"

"Haha... Oke, nilai kalian A saja, jarang banget yang makai cowok sebagai maid-nya... Kerapian cafe sudah bagus, oh ya... Kenapa ada tulisan aneh disamping pintu?"

"Untuk itu silahkan sensei tanya kepada murid wanita yang menyebalkan disana"

"Ya... Ya.. Oke, terimakasih untuk pengijinannya... Sayonara", Lily-sensei pergi meninggalkan cafe, para shota bengong, kini mereka benar-benar malu

"Beneran dah, kalau sekolah ngijinin muridnya untuk pindah sekolah, gue sekarang udah pindah!", seru Oliver sambil blushing, sama seperti temannya yang berdua

"Gumi!", Len mengepalkan tangannya kehadapan Gumi yang masih berusaha menahan tawanya

"Haha... Makanya liat dulu dong... Siapa yang datang"

"Grrrr..."

Setelah merasa cukup melampiaskan sedikit kemarahan mereka kepada Gumi, mereka pun kembali duduk manis, menunggu orang yang datang

...

"Hah? Shota Kawaii Cafe? Maksudnya apaan?"

"Cafe biasa saja... Tapi, ada sesuatu yang tidak biasa dibalik biasa itu!"

"Hah?"

"Penasarankan? Bagaimana kalau masuk?"

Para manusia yang didalam cafe langsung memandang keluar setelah mendengar suara ribut-ribut dari luar

'Gimana gak penasaran, ngasih tau aja kagak jelas gitu', batin para manusia 'tidak biasa' itu

"Kayaknya Miku berbakat untuk menjadi promotor", komentar Rin

"Ya"

Suara kaki berlari terdengar keras, para maid yang shota itu memandang satu sama lain

"Apa ramai?"

"Mungkin"

"Ingat, posenya jangan imut!"

"Oke!"

Pintu terbuka, Len, Piko dan Oliver bengong, menunggu siapa yang masuk

"WAAA... CAFE-NYA LUCUUU", seru beberapa orang yang masuk memandangi bagian langit-langit cafe

Len, Piko, dan Oliver memandangi satu sama lain

"Kita diabaikan ya?"

"... Maybe yes, maybe no (Mungkin iya, mungkin tidak)"

"WAAA... KURSINYA LUCUUUU"

Para 'konsumen' langsung berlari menuju kursi cafe, dalam sekejap cafe yang hening itu mulai ribut

"Cafe-nya memang lucu... Tetapi dimana maid-nya?", tanya seorang konsumen, Miku mendekatinya dan berkata kalem

"Baru saja kalian lindas didepen pintu masuk tadi"

"Ha?"

"Lihatlah", Miku mengarahkan jemarinya ke arah manusia yang rata dengan lantai

"..."

Len, Piko, dan Oliver tersadar dari tidurnya (?), dan memandangi orang-orang yang barusan melindasnya, dan orang-orang itu juga memandanginya

"Itu Kagamine-san dan Utatane-san kan? Siapa orang yang memakai penutup mata berbentuk hati itu?"

"Orang baru?"

"Dia kayaknya lebih imut"

Len, Piko, dan Oliver bengong dan sweatdrop, tetapi mereka sadar posisi mereka sekarang, sebagai maid yang melayani para konsumen, Oliver mendekati salah satu meja, berisi tiga orang wanita

"Em... Ano... Ladies... How are you...? What you want to order here? We serves many sweets foods and drinks like shortcakes and milkshakes... Okay, here the menu... If you interesting for order, just call me (Para wanita... Apa kabarmu? Apa yang mau kau pesan disini? Kita menyediakan makanan manis dan minuman seperti shortcake dan milkshake... Oke, ini menunya... Bila tertarik untuk memesan, panggil aku)"

"KYAAAA... KAWAIII...! HEY HEY, MINNA! ANAK BARU INI NANYA KABAR GUE LOOOH!"

Oliver cuma sweatdrop

"Tolong jangan buang waktu... Ini cafe untuk festival sekolah bukan tempat buat ngadem atau tereak gak jelas", seru Oliver sambil menodongkan menu yang ia pegang

"Wah, bisa bahasa Indonesia ya?", tanya salah seorang wanita dan memegangi menu pemberian Oliver itu

"Kagak"

"Terus tadi apaan?"

"Gue pake bahasa Spanyol, sayangnya malah kedengeran mirip ama bahasa Indonesia ya?"

"... Wasurete ..."

Oliver membungkuk, dan berbalik badan, menunggu panggilan mereka bertiga

Meanwhile in Piko

"Piko-chan... Lu makin hari makin mirip ama wanita ya? Tak tertarik untuk berganti kelamin sekarang?", seru seorang pelanggan lelaki, kayaknya ia sudah terbiasa dengan Piko

"Lu sudah ngomong hal yang sama beberapa kali, dan jawabannya... GAK"

"Ara ara... Jangan marah... Boleh gue mengintip *pip* mu sebentar?"

"Gila lu"

"Gak apa... little peek..."

"Gue gak akan segan bunuh lu detik ini juga..."

"Jangan marah my little Piko... Kayaknya gue cinta ama lu deh"

"EMAAAK... APA SALAH ANAKMU INI?"

"Kau tak salah... Di sekolah ini ngadain festival dansa... Nanti kita dansa bareng yuk, jangan ganti baju ya"

"DANSA NIH DENGAN BUKU MENU!"

Piko melempar buku menu yang ia pegang kehadapan muka lelaki itu

"Gue malas layanin lu", serunya singkat dan pergi

"Oke... Jangan lupa nanti kita dansa bareng yaaa!"

Piko sweatdrop

Meanwhile in Len

"Leen... Nyanyikan lagu untukku doong... Aku suka suaramu yang moe!"

"Aku sudah menyanyikan beribu lagu yang sama untukmu, apa kurang puas?"

"Ayo dong,... Sekarang aku ingin kau menyanyikan sebuah lagu yang lain..."

"Baiklah..., hah... Sebelum itu pesan dulu makanan dan minumanmu"

"Okee... Seperti biasa... Jus apel dan kue apel"

"Baik tunggu dulu"

Oke Len gak ada masalah, ia sudah bersahabat baik (?) dengan wanita ini

Para maid (ya tuk sementara sebut saja mereka begitu), berbalik ke posisi mereka, menunggu para konsumennya tuk memanggil dirinya

"Gimana pengalaman pertama lu, Oliver?", tanya Len simpel kepada Oliver yang membetulkan roknya

"...Nyebelin... Lu?"

"Ah biasa aja gue... Kalau Piko? Anak itu ada buat hal apa?"

"Yah jangan ditanya, itu cowok pengen gue parut rasanya pake pemarut keju didapur"

"Emang kenapa itu cowok?"

"Dia pingin ngintipin itu gue, padahal gue kan jelas lelaki!"

"Itu?"

"Kalau lu ga ngerti yaudah dah"

"Itu itu maksudnya... Oliver, sini, telinga lu..."

"Ya..."

"Psst... Psst"

"WAT?"

Teriakan Oliver sontak mengagetkan seluruh manusia yang di cafe mereka termasuk Len, yang membisikkan hal 'itu' pada Oliver

"Kaget ya kaget, jangan keres-keres bego!", teriak pelan Len sambil mengetuk kepala Oliver

"Gi... Gimana gak mau kaget!", respon Oliver, pipinya memerah

"Len! Lu bisikin apa ke dia?!", pandang Piko ke Len, pipinya juga memerah

"Ya... Maksud dari itu lah!", balas Len lantang

"Lu jangan berkata lain dari maksud gue ya!"

"Ya, gue emang ga tau maksud lu apa tentang itu, yang gue tau, itu itu maksudnya pasti itu!", Len berkata tanpa mengubah tekanannya dengan ekspresi serius, tetapi orang yang disekitarnya pasti bingung dengan yang diucapkan Len

"ITU ITU ITU ITU AJA MULU! MENDING LU URUSIN PELANGGAN LU!", teriak Miku yang tak jauh dari mereka, mereka bertiga langsung bengong

Pelanggan yang barusan diurus Oliver memanggilnya, Oliver menuju ke arah mereka

"Sori, pelanggan gue manggil"

Setelah ia telah sampai, iapun memulai pembicaraan

"Em... Ehem... Ada pesanan?"

"Ya, kami untuk makanan memesan fish steak, dan minuman kami memesan bubble vanilla ya!"

"Baiklah, ap-"

"GUE NANTI KOPIKAN FOTO-FOTO LU LAGI POSE ANEH ITU YA!"

"NANTI GUE SEBARIN KESELURUH SEKOLAH KALAU LU ITU CEWEK SERATUS PERSEN!"

"GUE AKAN NYURUH SELURUH MURID SEKOLAH MANGGIL LU LENNY!"

"GUE NANTI TELANJANGIN LU DI DEPEN SEKOLAH!"

"..."

Oliver terdiam, mendengar kedua temannya berantem gaje, para ketiga wanita itu memandanginya dan bertanya

"Em... Itu rekanmu kenapa?"

"Ma... Maaf... Dia mungkin lagi korslet... Otaknya masih di bengkel, ketinggalan..."

"LU KALAU NGOMONGIN GUE MACEM-MACEM GUE TUSUK MATA KANAN LU BIAR BUTA SEKALIAN!"

"..."

"Oke anggap itu tak pernah terjadi... To... Tolong tunggu tuk beberapa menit... Da... dah"

Oliver mendekati kedua temannya yang masih berdebat itu, ia menghirup nafasnya dalam-dalam

"LU PADA BISA DIEM KAGAK SIH? MALU GUE BODOH!"

"GIMANA GAK DIEM? INI ANAK NYEBELIN! ITU YANG GUE MAKSUD BUKAN ITU YANG DIA MAKSUD TAPI DIA MASIH NYOLOT!"

"LAH BENER KAN ITU ITU ITU? NYOLOT APAAN? JELAS GUE BENER! GUE KAN NGASI TAU RINCINYA!"

"AAAAA GAJE! ITU ITU ITU! YANG PASTI LUPAIN AJA! GEGARA ITU LU PADA BERANTEM!"

"... Tapi", Len menghirup nafasnya, dan melanjutkan perkataannya

"Kalau dipikir, semua kan salah lu yang teriak karena gue ngasi tau lu tentang itu..."

Oliver tak berkutik, Piko berusaha mengatur nafasnya karena lelah berteriak

"Oke lupain"

Mereka langsung menghening, Len dan Oliver menunggu pesanan pelanggan mereka selesai dibuat, Piko sedang tak ada kerjaan, di cafe ini ada beberapa tukang masak yaitu Miku dan Gumi, sedangkan para murid lain cuma menjadi pengawas, kenapa Rin tak mau ikut kerja bersama Miku dan Gumi? Karena terdapat insiden pada setahun yang lalu, saat Rin memasak steak untuk pelanggan, karena keasikan memakan jeruknya, ia tak menyangka kalau steak-nya sudah matang sejak 30 menit yang lalu dan... Ya readers bisa nebak apa yang terjadi setelah itu, nahasnya sang kembar Kagamine disuruh mengganti kerugian sebesar 50.000 Yen, alhasil selama setahun itu mereka tak ada jajan sama sekali

Berbicara tentang Rin, Rin sedang berkeliling, atau mondar-mandir disekitar sang maid, memandangi lantai

"Piko, daripada gak ada kerjaan,... Coba lu bersih-bersih", suruh Rin yang terus memperhatikan Piko memainkan tali pita yang dikepalanya, apa tali pitanya menganggu dirinya? Wakaranai

"Enak aja, males gue bersih-bersih..."

Rin diam, memperhatikan sekeliling, mengambil sebuah sapu dan menodong ke kepala Piko

"Lu lebih milih lu ngebersihin ini cafe atau gue bersihin muka elu?"

"Be... bersihin cafe...!"

'Ting Ting!'

"Satu kue apel dan jus apel siaaaaaap!", teriak pelan Gumi dari dapur

"Ha'i...!", Len berdiri dan mengambil kue apel dan jus apel yang didedikasikan untuk pelanggan mininya (?)

Len buru-buru menuju sang pelanggannya, dan menyuguhkan pesanan yang dia pesan

"Ini..."

"Arigatou Len-nii-chan!... Oh, masalah lagu, Yuki-chan udah bawa nih Karaoke Box-nya!", seru sang pelanggan bernama Kaai Yuki menunjuk ke sebuah benda yang tertutup tirai, ah atau apalah namanya

"WE TE HA? Sejak kapan kau bawa itu barang?"

"Sejak Yuki-chan memesan"

Len facepalm ditempat, sedangkan seluruh pelanggan memandangi ke arahnya, dan mengelu-elukan namanya

"Ayo nyanyi! Nyanyi! Nyanyi!"

"Kyary Len Leeen!"

"Leeen...!"

"Nyanyiiii!"

"Nyanyi untukku juga doong!"

Len pasrah, memandangi sebuah benda besar itu dan mengambil sebuah mic

"Check one, two..."

"AAAAAAAAAAAAAAAAA"

Belum selesai Len mengecek mic, para pelanggan sudah berteriak, Len mendekati mulutnya ke arah mic dan berkata lantang

"INI BUKAN LAGU WORLD IS MINE...! GUE NGECEK MIC BUKAN NYANYI!"

Para pelanggan terdiam, mereka berdehem, dan menghening

"Oke... Sekarang gue mau nyanyi lagu..."

"Error of Love!"

"PONPONPON!"

"Servant of Evil!"

"Messiah or Desire!"

"MESUM!"

"Migikata no Chou!"

"Magnet!"

"Rolling Girl!"

"The Disappearance of Kagamine Len!"

"Tsunde Lenka!"

"Gomibakooo!"

Len terdiam, ia menaruh mic dimeja Kaai Yuki, dan berkata pelan

"Belum gue nyanyi, tenaga gue udah ilang duluan", Len berjalan pergi mendekati kedua rekannya yang cengingisan. Kaai Yuki menunjukkan muka tak senang

Kaai Yuki berdiri dimeja, mengambil mic, dan mengacungkan jarinya keatas

"MUSIK!"

'Kriiik... Teneneneneneng... Neneneneng...'

Kaai Yuki memegangi erat mic-nya, mengambil nafas

"Sekai wa shingeki desu, shingeki desu... Jinsei wa ichido kiri... Shikasi dare mo ga kanashi?... Atashi ga shiranai wa, jinsei no imi... Shinjite subete no mono... Hitobito wa mada nokosu... Daijoubu desuka?, daijoubu desuka?... Atashi wa kodomo naiyo... Nanimo kakusanaide... Uso wo tsuitenai, hontou ni desuka?... Atashi wa shinjiteiru... Tsumeni shinjitsu dayou... Ehem... Souka, Len-san?"

Bulu kuduk Len berdiri, dan buru-buru berlari ke arah Yuki dan merampas mic yang Yuki pegang

"Ha'i, wakarimasu Yuki-chan! Gue mau nyanyi, tapi tolong jangan nyanyikan lagu itu, apalagi ngubah nama *pip* (disensor demi keamanan) jadi nama gue!"

"Haha, poinku satuuuu!", Yuki berdansa ria di atas meja ala keinosenan (?) anak-anak

Akhirnya karena merasa dipermainkan anak kecil, Len mau bernyanyi, ia menyanyikan lagu PONPONPON, musik serasa seru dan cafe terasa ramai, semua dalam keadaan berbahagia kecuali Len yang entah harus mengikuti arus kebahagiaan atau malu

"KYAAA... KYARY LEN LEEEN!"

"GEDEIN VOLUME-NYA DONG...!"

Piko dan Oliver yang melihat rekannya bernyanyi cuma diam menikmati, Oliver menaruh tangannya di dagu dan berkata

"Wah wah wah... Len rupanya terkenal dariku ya...", serunya dengan nada sombong

"'Dariku'?", tanya Piko sambil mengerutkan keningnya

"Dia memang sudah terkenal sejak awal debutnya sebagai maid... Apalagi saat dia menyanyi", lanjut Piko menjelaskan sambil menaruh kedua tangannya didada

"Awal debut?", Oliver mengerutkan kening

"Ya, semiripnya"

"Kenapa lu kagak terkenal?", tanya Oliver tanpa dosa dan datar yang langsung membuat Piko sweatdrop

"Eh... Hehe... Biasa... Gue gak siap jadi terkenal gitu... Gawat kan kalau gue dikejer wanita?... Ha... ha"

"Heh... Bilang aja gak ada kemampuan lebih, and... Lu palingan 'bila' terkenal, lelaki yang bakal ngejer-ngejer elu sambil teriak 'Marry me Piko-chan... Marry meee...'"

'Grusak grusak... BRAK BRAK... BUAK... TOEENG...'

Beberapa patah kata indah dari mulut Oliver sukses membuatnya terlempar ke tong sampah

"Bisa diulang? Ini pertama kalinya gue emosi ama orang selain Len...", Piko berkata simpel sambil menggenggam kedua tangannya, nafasnya kencang memburu, membuat orang yang disekitarnya kaget

"...Aw sick...", seru Oliver dalam tong sampah

Ditengah perseteruan itu, di sisi Len, Len akhirnya menyelesaikan nyanyiannya, dengan tepukan meriah dari pelanggan yang tak menyadari adanya perseteruan kecil

"Arigatou... Nah, Yuki-chan, pu-... Yuki?", Len kaget memandangi Yuki malah asik mencomot apelnya sambil menonton perseteruan Piko dan Oliver

"Yuki, kau memperhatikan?!"

Yuki tak merespon

"YUKI!", Len meninggikan volumenya, membuat Yuki memandang tapi dengan ekspresi datar

"Ah, sudah selesai nyanyinya? Maaf, tadi rekan nii-san berantem, jadi kutonton!, oke, makasih!", seru Yuki simpel, dari nadanya sepertinya ia tak memperhatikan Len bernyanyi, Len menggigiti bibirnya dan berbicara dalam hati

'Gue rebus entar lu'

...

Akhirnya penderitaan sang maid yang tersiksa selesai, festival selesai, dan beruntung cafe mereka menjadi nomor satu sebagai cafe termenarik

"HUAAAAA... SELESAI JUGA PENDERITAAN GUE!", teriak sang ketiga shota melampiaskan emosi tersimpannya

"Omedetou, Omedetou...", seru para murid lain bertepuk tangan, sambil menebar senyuman

"Ah... Tisu dirumah gue bisa abis nih", seru para murid wanita, termasuk Miku, Gumi, dan Rin... SeeU? Dia tetap santai seperti biasa, dia orangnya tidak pedulian

Mereka semua pun pulang ke rumah masing-masing, khusus ketiga manusia yang jadi maid tadi mereka menaruh perasaan malu luar biasa, dan pikiran mereka sama

"Bagaimana bila esok disekolah gue jadi bahan pembicaraan?"

Ya, itu pikiran mereka


*T-B-C*


AAAAAAAAA... SELESAAAAAAAI...

SELESAAAAAAAI...

AKHIRNYAAAAA...

INI SELESAI...

CHAPTER INI SELESAI...!

Oke, gak usah kegirangan dulu... Mari balas review dari anonim, selalu sama... Always...


puchan:

Yaa saya juga ga sabar *smork* (?)

(SeeU: Ga maauuu... Belom siep nukar otak, tunggu nanti aja ya saat kita udah wafat jadi enak nuker otaknya :))

Iyaa... Udah update...! :)


Oke, sebelum memulai kata-kata penutup, author mengucap maaf dulu karena telat update untuk beberapa waktu...!

GOMENNASAI!

Oke, di chapter ini author mengalami the best of kendala, sampai harus ada bagian yang diilangkan... Ya, gimana ya, bingung... Maunya pokus ke cafe-nya, ngingat ini ada kata 'Humor', jadi harus di combine... SUSAH! Harus mikir berkali-kali... Akhirnya selesai... Now I can breathe in peace... And think for the next chapter... :v


Soreja... See you in next chapter

Saigo no Kotoba:

Please review but don't BLAME please

Please correct me when got misstypos or typos

It maybe OOC fic, but please enjoy

Story made by:

lenlenka092