Rated: T
Genre: Drama, Romance
SasuSaku
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
.
.
-Haruka-
.
.
Sakura POV
Piip
"Halo semua~ hari ini tanggal 3 Januari 2014. Malam ini, aku mau ceritain tentang hal gila yang tiba-tiba terjadi tadi siang loh."
"Hari ini, dengan gilanya si baka Sasori menelponku disaat pelajaran kimia berlangsung. Bahh! Dan tentu saja hal itu membuat Kurenai sensei mengamuk di kelas! Untung saja si baka itu segera menelponku dan menjemputku ke sekolah."
"Tapi, tahukah kau mengenai berita utamanya? " setelah mengambil jeda yang cukup lama, aku kembali melanjutkan kalimat yang sempat terpotong tadi.
"Sasori-Nii bilang.. Sasuke itu tunanganku. Gila kan? Yah, dan kurasa hari-hari ke depanku juga akan lebih gila dari hari ini. Yap! Sekian dulu untuk hari ini. Jaaa~"
Piip
Segera kututup laptopku dan meletakkannya kembali di atas meja belajar. Yah, beginilah kebiasaanku. Membuat laporan singkat mengenai pengalaman yang telah kualami sepanjang hari.
Jika kebanyakan gadis menumpahkan segala keluh kesahnya pada sebuah buku diary, aku menumpahkan segalanya pada sebuah video singkat yang tak lebih dari 5 menit.
Cih, dasar Sasori baka! Kalau saja ia tak mengatakan hal aneh nan janggal saat dirumah sakit tadi, mungkin saat ini aku sudah terlelap dan bertemu dengan Henry Lau a.k.a pria idamanku itu di dunia mimpi!
Flashback On
"Lelucon macam apa yang tadi kau ucapkan huh? Garing sekali," kataku dengan nada meledek. Namun ia tak menanggapi gurauanku dan masih menatapku dengan serius.
"Ah aku tahu! Kau pasti ingin mengerjaiku kan? Dimana kau sembunyikan kameranya?" gurauku lagi seraya menyenggol lengannya. Namun lagi-lagi ia masih saja terdiam dan tak menanggapi perkataanku.
"Kau tak serius kan?" tanyaku dengan nada yang sudah berubah menjadi serius.
Belum sempat ia menjawab, tiba-tiba ada sesosok pemuda yang menghampiri kami dengan langkah tergesa-gesa.
"Bagaimana keadaan kaa-san?"
"Sudah mulai membaik. Dokter juga sudah memastikan bahwa beliau telah melewati masa kritisnya. Jadi, dapat dipastikan sore ini beliau sudah siuman," kata kakakku.
Ia terlihat sangat lega saat mendengar penjelasan dari kakakku. Tunggu, rasa-rasanya aku pernah melihat wajah pemuda ini. Tapi dimana ya?
"Ah! Kau yang tadi di ruang kesiswaan kan?" seruku tiba-tiba. Ia hanya menatapku datar tanpa berniat mengucapkan sepatah kata apapun.
"Iya aku sangat yakin! Kau pasti orang yang minta surat izin dari Anko sensei!" lanjutku lagi.
"Ssstt Sakura! Pelankan suaramu bodoh. Lagipula jaga sikapmu di depannya," perintah Sasori.
"He? Sejak kapan kau suka memerintah? Dan mengapa aku harus menjaga sikap dengannya? Apakah dia seorang kepala sekolah, sehingga aku harus menghormatinya? Atau mungkin dia itu sebenarnya seorang presiden, jadi aku harus selalu bersikap sopan begitu?"
"Sakura! Bicaramu sungguh keterlaluan."
"Ne, sejak kapan Sasori-Nii suka membela orang lain? Lihat, ia bahkan tak membantah ucapanku," ocehku lagi.
"Sakura, tolong dengarkan-"
"Ah aku baru ingat! Kau itu kan si artis itu kan? Siapa? Sasuke? Eh apa jangan-jangan Nii-chan itu fans nya Sasuke ya? Hmm, pantas saja kau membelanya terus-"
"Sakura!"
Panggilan Sasori menghentikan ocehanku sesaat. Ia menatapku dengan wajah yang terbilang sangat serius.
"Ada hal penting yang harus ku katakan padamu."
"Ada apa sih denganmu Nii-chan. Ini pertama kalinya loh aku melihatmu seserius ini," gurauku untuk kesekian kalinya.
"Dia tunanganmu."
Seketika itu juga senyum jenaka di bibirku pun lenyap. Aku menatap Sasori dan berusaha untuk mencari suatu kebohongan disana. Namun yang kutemukan hanyalah sebuah tatapan sendu nya.
Lalu kutatap pemuda tersebut. Namun aku tak dapat menemukan apapun disana. Aku tak dapat menyelam ke dalam pikirannya. Seakan ia tak mengizinkan siapun untuk masuk ke sana.
"Ini hal paling gila yang pernah kudengar sepanjang hidupku," ucapku pelan setelah lama terdiam.
"Aku tahu Sakura ini sulit bagimu. Tapi ini juga merupakan isi surat wasiat kaa-san."
Ah benar, kaa-san. Wanita paruh baya yang baik hati dan penuh cinta itu. Wanita yang mengangkatku sebagai anaknya setelah kecelakaan itu terjadi. Beliau selalu menyangiku sama seperti ia menyangi kedua anak lelakinya.
"Tapi.. kenapa aku?" cicitku. "Kenapa tidak kau atau Pein-Nii saja yang dijodohkan?"
Sasori menghela napas sejenak kemudian mengelus pelan pucuk kepalaku. "Semua itu pasti demi kebaikanmu, Sakura. Kaa-san pasti punya alasan tersendiri melakukan hal tersebut."
Aku segera menepis tangan tersebut dan menatap Sasori dengan tajam. "Aku memang sudah berjanji pada diriku untuk membayar semua cinta dan kasih sayang yang telah kaa-san berikan padaku. Namun bukan seperti ini yang kumaksud! Bukan dengan menjual diriku padanya!" ujarku penuh emosi sembari menunjuk pemuda raven tersebut.
"Sakura bukan begitu-"
"Sudahlah Nii-chan! Aku tak butuh penjelasanmu. Aku akan pulang ke rumah sekarang. Kau tak perlu mengantarku," kataku sambil berbalik meninggalkan mereka berdua.
"Sakura-"
Aku segera mengangkat tanganku. "Tak perlu. Kau harus menjaga bibi itu. Sebentar lagi ia akan siuman, bukan? Aku bisa menjaga diriku sendiri. Ah, dan satu lagi. Kau tak perlu takut akan melakukan tindakan bodoh. Karena aku bukanlah orang yang seperti itu."
Flashback Off
Lalu kucekik boneka beruang-pemberian Sasori yang sudah menemaniku sepanjang malam untuk berkeluh kesah. Beberapa sumpah serapah pun keluar dari mulutku.
"Sialan kau Sasori! Kau bahkan tak mengejarku saat dirumah sakit! Ya walaupun aku melarangnya sih.. tapi tetap saja! Kau itu sangat tidak peka arrgghh!"
Cekikanku makin keras pada boneka beruang tersebut. Namun kemudian aku segera melonggarkan cekikanku padanya. Berganti dengan tatapan sendu saat menatap kedua bola mata yang terbuat dari kancing itu.
"Kau bilang padaku bahwa kau menyangiku huh? Mana buktinya?"
Dan hujan deras yang baru saja turun pun mengakhiri keluh kesahku malam ini.
.
.
.
"Hei jidat, kau sedang tidak enak badan ya?"
"Ck. Kau berisik sekali pig. Aku sedang tak ingin mendengar suara cemprengmu itu," kataku seraya menelungkupkan wajahku pada tas kesayanganku itu.
"Hei! Aku kan hanya mengkhawatirkan keadaanmu. Ya sudah aku mau bermain dengan Hinata saja," kata Ino dengan suara yang dibuat-buat. Aku hanya terkekeh pelan melihat hal itu.
"Dia itu tunanganmu."
Tch. Sialan. Kenapa sih harus kalimat laknat itu yang terngiang-ngiang di telingaku. Tunangan tunangan. Kau saja yang bertunangan! Aku mengambil sebuah I-Pod berwarna kehijauan. Tangan lincahku segera memilih sebuah permainan yang sempat booming beberapa bulan lalu. Flappy Bird.
"Dia itu tunanganmu."
Lagi-lagi kalimat itu terngiang-ngiang di telingaku. Dan tentu saja kalimat tersebut langsung mengganggu konsentrasi bermainku.
Duk
Aku segera melempar I-Pod ku ke dalam tas-kesal karena burungku telah menabrak tiang dan mati. Aku dapat menarik kesimpulan dari permainan tadi. Jangan pernah memainkan Flappy Bird disaat mood mu sedang tidak bagus.
Jika kebanyakan games akan membuatmu lebih rilex, berbeda dengan Flappy Bird. Games itu hanya akan membatmu lebih sensitive. Dan yang paling penting, dapat memperburuk keadaan dan membuat emosimu tidak stabil.
.
.
.
Normal POV
"Sakura! Ayo kita mampir dulu ke kedai es krim sepulang sekolah. Setidaknya kau bisa mendinginkan kepalamu yang kulihat mengeluarkan asap itu semenjak tadi pagi."
"Kurasa itu ide yang bagus. Lagipula aku sedang ingin makan strawberry sekarang."
"Apa sih enaknya buah berasa asam itu? Ayo kita berangkat sekarang sebelum-kau tahu kan tempat itu penuh sesak?"
Sakura terkekeh pelan lalu memeluk lengan sahabatnya itu.
"Kau memang bisa kuandalkan Ino. Yah setidaknya kau lah orang yang paling mengerti saat aku sedang bete seperti saat ini."
"Ya ya aku memang sangat bisa kau andalkan. Lagipula kau berhutang penjelasan denganku. Tapi hei! Sudah lepaskan tanganmu! Orang-orang akan menatapku sebagai pecinta sesama jenis bila kau memelukku seperti ini."
"Tidak mau~"
"Haruno Sakura! Cepat menjauh dariku!" cecar Ino. Mungkin terdengar sangat menusuk, namun kata-kata itulah yang dapat membuat seorang Haruno Sakura tertawa dan menghilangkan sedikit kejenuhan yang sedang ia rasakan.
.
.
.
"Tuh kan kubilang apa. Tempat ini sesak!" gerutu Ino sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Sudahlah Ino. Makan saja es krim mu itu," balas Sakura seraya menyendok es krim dengan rasa Strawberry itu ke mulutnya.
"Hhh.. kau benar. Oh ya, aku mau menagih hutangmu."
"Ne? Hutang apa? Bukankah kau yang sering meminjam uang padaku?" tanya Sakura dengan polosnya.
"Bukan hutang yang seperti itu maksudku baka. Tapi hutang penjelasan. Kau wajib menceritakan alasan mengapa seharian penuh ini kepalamu terus-menerus mengeluarkan asap."
"A-asap? Bwahahaha apa kau bilang? Asap?"
"Apanya yang lucu? Sudahlah cepat kau ceritakan saja," potong Ino tak sabaran.
"Ceritakan apa huh?" tanya Sakura seraya menghapus jejak air mata karena tadi ia tertawa terlalu keras.
Ino melipat kedua tangannya di depan mata. Kemudian memutar kedua bola matanya dengan bosan. Oh ayolah. Semua orang juga tahu bahwa Sakura sengaja mengulur waktu agar tak menceritakan perihal masalahnya!
"Baiklah baiklah. Kau kan tidak perlu memberikan tatapan menyeramkan seperti itu kepadaku," kata Sakura enteng. Kemudian ia kembali memakan es krimnya.
"Ayolah Sakura.."
"Kemarin aku mendengar berita paling gila dari mulut Sasori," potongku.
"Berita macam apa itu? Oh apa jangan-jangan kakakmu itu telah menghamili seorang gadis?" tanya Ino dengan hebohnya. "Oh my God. Oh my no. Oh my way~!"
Sakura menatap gadis berambut pirang tersebut dengan jijiknya saat ia menirukan kata-kata seorang aktris dalam sebuah sinetron yang cukup terkenal.
"Jadi benar ya?" tanya Ino lagi dengan tatapan penuh menyelidik.
"Yang benar saja! Kalau sampai hal itu terjadi, Sasori akan dibakar hidup-hidup oleh Pein-Nii."
"Ah sayang sekali.. padahal aku sangat ingin menyaksikan pembakaran hidup-hidup itu," seru Ino dengan mata berbinar. Sekarang Sakura harus yakin bahwa sahabatnya itu memiliki darah seorang psikopat dalam dirinya.
"Bukan itu.." desah Sakura pelan.
"Lalu?"
"Tapi kau harus berjanji terlebih dahulu tak akan tetawa, apalagi menceritakan hal ini pada siapapun," kataku dengan nada serius. "Janji?"
"Iya iya aku janji. Ayolah, lanjutkan ceritamu," rengek Ino.
Sakura menengok kanan dan kiri. Berusaha memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang sedang menguping pembicaran mereka berdua. Kemudian ia membisikkan sesuatu pada Ino.
Setelah mendengarnya, Ino hanya bisa menganga lebar. Dan pembicaraan penting tersebut pun diakhiri dengan tawa keras Ino yang membuat semua pengunjung menatap mereka berdua dengan pandangan aneh.
.
.
.
"Dasar menyebalkan! Sepertinya aku sudah membuat kesalahan besar dengan menceritakan hal itu padanya! Sekarang ia akan menganggapku sebagai seorang maniak karena telah memikirkan hal 'liar' terhadap seorang idola! Tapi hei! Aku bahkan tak mengidolakannya!" gerutu gadis bermata emerald tersebut.
Gadis itu masih saja menggerutu selama melewati beberapa pertokoan di Shibuya. Ia bahkan tak mempedulikan orang-orang yang memandangnya aneh karena berbicara sendiri.
"Pokoknya aku tak akan menceritakan apa-apa pada Ino-"
Prang
Suara nyaring tersebut mampu menghentikan kalimatnya. Terlihat kaca etalase sebuah toko perhisan yang tak jauh dari tempat ia berdiri baru saja pecah. Seorang lelaki mengenakan pakaian serba hitam dan tak lupa topeng yang menutupi wajahnya itu, baru saja menerjang etalase tersebut.
Ia membawa sebuah karung yang dapat dipastika berisi perhiasan serta senjata api di tangannya.
Dor Dor
Suara tembakan nyaring terdengar diiringi teriakan para gadis. Sakura segera menyembunyikan dirinya di balik mobil yang tak jauh terparkir disana.
'Sialan. Kenapa harus ada perampokan sih disaat seperti ini?," batin Sakura.
Ia kembali mengintip dari balik kaca mobil tersebut untuk melihat keadaan. Lelaki tersebut berusaha untuk melarikan diri dengan cara menembakan senjata apinya ke sembarang arah. Sayangnya tembakan tersebut melukai seorang pemuda.
Dengan gerakan cekatan, Sakura menghampiri pemuda tersebut. Lengan kirinya terlihat mengeluarkan banyak darah. Kemudian Sakura segera mengeluarkan sebuah sapu tangan dari dalam tas nya dan melilitkannya di lengan pemuda tersebut.
"Nghh.." rintih pemuda tersebut saat Sakura mulai melilitkan sapu tangannya.
"Tak apa. Aku sudah mengentikan pendarahanmu. Ah ya, aku harus mengejar perampok itu terlebih dulu. Sebentar ya," ucap Sakura ringan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Sakura segera meninggalkan pemuda tersebut dan mendekati seorang polisi yang baru saja tiba di lokasi. Kemudian gadis bersurai merah muda tersebut mengambil sebuah senjata api yang melingkar di pinggangnya.
"Hei! Apa yang lau lakukan hah?!" teriak sang polisi saat menyadari bahwa Sakura telah mengambil senjatanya.
Sakura lalu berlari dan berusaha untuk mengejar sang perampok. Sementara beberapa polisi berusaha untuk mengejar Sakura di belakang. Setelah yakin bahwa tembakannya dapat menjangkau si perampok, Sakura segera melepaskan tembakan ke arahnya.
Dor
Bruk
Satu tembakan tepat mengenai kaki kiri sang pelaku. Beberapa orang dan tentu saja para polisi sangat tercengang atas kejadian tersebut. Kemudian para polisi segera meringkus pria yang terkena peluru Sakura tadi.
"Apa kau sudah kehilangan akal?!" bentak seorang polisi kepada Sakura. Kemudian mengambil kembali dengan paksa senjatanya yang tadi dirampas oleh gadis tersebut.
"Maaf. Aku hanya merasa perlu melakukannya karena kalian lambat dalam penanganan," kata Sakura polos.
"Apa kau bilang?!"
"Sudahlah. Lagipula benar yang ia katakan tadi. Kita memang lambat dalam penanganan," ujar seorang polisi yang baru saja mengahampiri mereka berdua.
"Seharusnya kau berterima kasih padanya Shuigetsu! Bukannya malah membentaknya," lanjutnya lagi.
"Kenapa kau malah membelanya sih senpai?" tanya lelaki yang bernama Shuigetsu itu dengan nada lebay. Bahkan Sakura pun merasa jijik saat mendengarnya.
"Sudah sana pergi. Tadi Juugo mencarimu."
"Jadi senpai mengusirku? Hiks senpai jahat..."
Sakura menatap kedua manusia ajaib itu tanpa ekspresi. Rasanya ia sudah cukup muak melihat pemandangan tersebut. Sakura pun memutuskan untuk berbalik dan menjauhi mereka berdua.
"Hei tunggu. Apa tanganmu terluka? Perlu ku panggilkan ambulans?" tawar polisi yang tadi sempat membela Sakura.
Sakura menatap kedua tangannya yang bersimbah darah. Ah iya, ini kan darah si pemuda tadi.
"Aku tak apa-apa. Lagipula ini bukan lukaku. Oh ya, aku harus segera pergi kesana sekarang," kata Sakura seraya menunjuk sebuah toko perhiasan tadi.
"Untuk?"
"Ada seorang pemuda yang terluka disana. Lengannya terkena tembakan sang perampok," kata Sakura panjang lebar. Polisi tersebut hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Sakura.
"Perlukah ku panggil ambulans untuknya?"
"Mmm kurasa.. Aku akan kesana untuk memeriksa keadaannya terlebih dahulu. Setelah itu aku akan mengabarimu lagi."
Sakura pun segera bergegas ke depan ppertokoan tadi, tempat dimana pemuda itu terluka. Namun ia tak menemukan seorang pun disana. Setelah berkeliling cukup lama di daerah pertokoan tersebut hanya untuk mencari pemuda tadi, akhirnya Sakura memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Ngh.."
Tiba-tiba Sakura mendengar suara rintihan dari dalam sebuah gang sempit. Bulu kuduk Sakura langsung merinding seketika. Ia pun ingat akan cerita Ino minggu lalu. Bahwa di daerah pertokoan Shibuya ini memang ada penunggunya.
Menurut Ino, hantu tersebut tinggal di gang sempit. Sayangnya ia tak mengetahui di gang sempit yang mana-berhubung di Shibuya ini ada belasan gang sempit.
Rintihan itu pun kembali terdengar. Dengan takut-takut, Sakura segera menghampiri arah suara tadi. Tak lupa Sakura menggenggam erat jimat pemberian ibu kandungnya dulu. Beliau berkata bahwa jimat tersebut dapat mengusir berbagai aura negatif, khususnya hantu.
Sakura melihat ada sesosok pemuda yang sedang duduk disana sembari memegangi lengan kirinya. Namun karena gang tersebut sangat gelap, Sakura tak dapat melihat sosok tersebut dengan jelas.
"Per-permisi..." kata Sakura dengan suara bergetar. "Apa kau manusia?"
"Tentu saja bodoh. Kau kira aku ini hantu?"
Seketika itu juga dahi Sakura berkedut. Kemudian ia segera mengambil senter di tasnya dan menyorot sosok tersebut. *Authhor juga bingung kenapa ngga dari tadi aja senternya dipake? -_-*
"Kau yang tadi terkena tembakan kan?"
Ia hanya terdiam menatap Sakura. Karena kesal tak kunjung mendapat jawaban, Sakura segera menarik lengan itu dengan paksa.
"Apa yang kau lakukan-"
"Tch. Dasar kau ini. Kenapa tadi kau menghilang hah? Kalau saja tadi kau sedikit bersabar menungguku kembali, pasti sekarang lukamu sudah terobati," omel Sakura.
"Ayo kita ke rumah sakit," perintah Sakura.
"Tidak mau."
"Kau ini keras kepala sekali sih.. ya sudah kalau begitu biarkan aku mengobatimu."
Kemudian Sakura mengambil kotak P3K nya dari dalam tas dan mulai membuka lilitan sapu tangan yang melingkar di lengan pemuda tersebut. Setelah itu ia membersihkan lukanya dengan alkohol, baru ia tetesi dengan obat merah dan melilitnya lagi dengan perban sungguhan.
"Nah sudah selesai."
Secara tak sengaja, Sakura melihat seperti ada bekas luka di kening pemuda tersebut. Baru saja ia akan membersihkannya dengan alkohol, tiba-tiba tangan Sakura langsung di tangkap oleh pemuda tersebut.
"Itu bukan luka."
"Ne? Tapi itu terlihat seperti bekas darah-"
"Bukan. Itu tato milikku."
"Mmm.. baiklah," ujar Sakura manggut-manggut kemudian segera merapikan kotak obatnya.
"Kau tak mau keluar dari tempat bau ini?" tanya Sakura saat selesai merapikan peralatannya. "Ayo."
Tanpa pikir panjang Sakura segera menarik tangan pemuda tersebut.
"Aku..."
"Kenapa? Kau tak mau keluar dari tempat bau ini?"
"Tapi-"
"Oh kau takut tersesat ya? Apakah ini kali pertamamu mengunjungi Shibuya? Aku akan menunjukkan tempat favorite ku disini, jika kau tak keberatan. Tapi.. kenapa sepertinya wajahmu terasa sangat familiar ya? Atau hanya persaanku saja? Eh? Apa yang kau lakukan?"
"Ayo tunjukkan tempat favorite mu," kata pemuda tersebut sambil mengenakan topi yang baru saja direbut dari Sakura. Wajah Sakura pun langsung sumringah saat mendengarnya.
"Oh ya, namaku Sakura. Kau siapa?"
"Panggil saja aku Gaara," kata pemuda tersebut sambil tersenyum tipis pada gadis di hadapannya itu.
.
.
.
.
.
Yuhuu~
Akhirnya aku bisa menambahkan sedikit adegan action di chapter ini! *nangis lebay* Hmm berhubung ini adalah kali pertamanya aku menulis cerita yang ada sedikit adegan actionnya, mohon kritik dan saran dari kalian semua ya.
Oh ya, aku juga mau ngucapin terima kasih sama kalian semua yang udah menyempatkan diri untuk menuliskan komentar di kolom review. Aku ngga pernah menyangka loh dapet review sebanyak ini di chapter pertama XD
Maaf ya aku kebanyakan ngomong xp Nah, mohon bantuannya ya senpai-senpai~! Cemangat~ (_ _)
