Rated: T
Genre: Drama, Romance
SasuSaku
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
.
.
-Haruka-
.
.
.
"Nah, ini adalah patung Hachiko. Kau tahu kan siapa Hachiko itu?" ujarku seakan menjadi tourguide dadakan.
"Tidak."
"Ka-kau benar-benar tak tahu siapa itu Hachiko?" tanya Sakura dengan nada tak percaya.
Pemuda yang bernama Gaara itu tiba-tiba langsung terbahak tanpa sebab. Yah, setidaknya itulah yang pertama kali terlintas di kepala Sakura.
"K-kau sakit? Apa jangan-jangan tadi aku salah memberimu obat? Aduh bagaimana ini?! Sepertinya ia jadi tak waras gara-gara aku," ujar Sakura panik. Melihat hal itu, tawa Gaara semakin keras terdengar. Bahkan beberapa gadis mulai terlihat berbisik.
Setelah puas tertawa, akhirnya Gaara memutuskan untuk berhenti menakuti gadisnya itu dan menatapnya sejenak. Hei tuan Sabaku, sejak kapan Sakura menjadi gadismu eh?
"Aku baik-baik saja. Dan ayolah Sakura.. jangan pernah menunjukkan mimik wajah yang seperti itu lagi dihadapanku."
"Mimik wajah yang seperti apa?" tanya Sakura polos.
Gaara bahkan mati-matian menahan tangannya agar tak mencubit pipi gadis tersebut.
"Kau tahu kan? Mimik polos dan bodoh sepertimu."
"Mi-apa?! Aku tak bodoh!" ujar Sakura, pura-pura merajuk. Gaara kembali terpingkal melihat sikap gadis dihadapannya itu. Baru saja beberapa jam lalu ia melihat sisi lain Sakura. Dan sekarang, sifatnya itu berubah 180 derajat! Sepertinya Sakura bisa menjadi seorang aktris yang sukses jika berminat pada dunia hiburan.
"Kau tahu.. ini adalah kali pertamanya aku bertemu dengan gadis aneh sepertimu. Dan lagi, apakah kau sama sekali tak mengenalku?" tanya Gaara seraya mendekatkan wajahnya pada Sakura.
Sontak Sakura langsung menarik wajahnya dengan gugup.
"Tidak. Aku sama sekali tak mengenalmu."
"Begitu ya? Padahal aku ini kan cukup terkenal di kalangan para gadis."
"Tch. Sepertinya tingkat kepercayaan dirimu sudah meningkat ya?" sindir Sakura.
"Ini semua berkatmu, Sakura-chan. Terima kasih ya."
Wajah Sakura langsung memerah mendengar hal itu. Jujur saja ini adalah kali pertamanya mendapatkan pujian setulus itu. Apalagi pujian tersebut berasal dari mulut seorang pemuda.
"Oh! Sepertinya aku harus segera pergi. Kau tahu, bos ku itu agak cerewet jika aku tak kembali dalam waktu 30 menit."
"Baiklah. Eh? Kau sudah bekerja?"
"Hmm bisa dibilang begitu. Tapi ini hanya kerja sambilan kok. Dan jauhkan pikiran kotormu itu bahwa aku ini sudah om-om. Karena kenyatanya adalah aku ini masih SMA," ujar Gaara sambil terkekeh.
"Oh benarkah? Baguslah."
"Baguslah? Jadi kau senang ya saat mengetahui bahwa kita seumuran? Apa jangan-jangan kau jatuh cinta padaku ya?" goda Gaara.
"A-apa? Tentu saja tidak!" bantah Sakura. Ia bahkan berani bersumpah bahwa wajahnya sudah sangat memerah sekarang.
"Kau itu lucu sekali ya jika sedang gugup," kata Gaara sembari mengelus pucuk kepala gadis musim semi tersebut.
"Aku pergi ya. Kuharap kita bisa bertemu lagi, Sakura-chan."
Sakura membalas lambaian tangan pemuda tersebut. Baru saja ia berbalik tiba-tiba saja pandangannya menangkap sebuah papan reklame yang cukup besar. Iklan minuman ringan rupanya.
Disana terpampang sebuah wajah yang sangat familiar. Siapa lagi kalau bukan Sasuke? Beberapa kata makian bahkan langsung meluncur dari mulutnya. Namun bukan itu permasalahannya.
Sakura menatap sosok pemuda yang berdiri tepat di sebelah Sasuke. Ia mengenakan kaos berwarna putih polos dengan aksesoris berupa gelang di tangan kirinya.
Pupil Sakura pun langsung melebar saat menyadari siapa sosok tersebut. Mungkin Ino akan mengatainya lagi jika ia menceritakan pengalamannya hari ini. Bertemu seorang penyanyi yang tak lain adalah member kedua Haru. Sabaku no Gaara.
.
.
.
"Tadaima-"
"Sakura apa kau terluka? Oh Tuhan.. aku benar-benar khawatir!" kata Sasori seraya merengkuh tubuh mungil Sakura.
"Kau ini kenapa sih?" tanya Sakura dingin sambil berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Sasori. "Berhentilah sok baik dan perhatian padaku."
Sasori menatap adiknya tak percaya. Bahkan disaat-saat seperti ini Sakura masih bisa mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu. Tak tahukah ia bahwa saat melihat berita tentang adiknya itu di televisi, Sasori benar-benar kalang kabut?
Ia bahkan baru saja akan pergi ke TKP untuk mencari serta mengetahui keadaan adiknya. Walaupun ia tahu bahwa Sakura adalah seorang atlet tembak yang terlatih, tapi tetap saja ia merasa sangat khawatir. Namun apa yang ia dapat? Hanya wajah dingin dan kata-kata menusuk yang menamparnya.
"Kau itu yang kenapa?! Tiba-tiba saja berubah menjadi dingin. Aku yang bahkan sekarang sedang mengkhawatirkan keadaanmu pun tak kau pedulikan?" tanya Sasori dengan nada yang sedikit meninggi.
"Tch kau peduli padaku? Setelah kau menjual adikmu pada orang lain, kau masih bisa menyebut dirimu 'peduli' padaku?" sinis Sakura.
"Sudah kubilang aku tak menjual-"
"Hentikan Sasori. Hentikan semua omong kosongmu itu. Aku tak ingin mendengar apapun yang keluar dari mulutmu," kata Sakura dingin.
"Dan kau! Sedang apa kau berada di rumahku hah?" lanjut Sakura seraya menatap tajam pemuda yang baru saja ia temui kemarin saat di rumah sakit.
"Sakura! Kau harus berkata lebih sopan padanya! Bagaimana pun ia adalah calon suami mu," ujar Sasori.
"Calon suami? Aku bahkan belum menyetujui pertunangan ini, dan kau bilang apa? Calon suami? Hebat sekali!"
"Sakura!"
"Terserah kau saja-hei! Apa yang kau lakukan hah?!" tanya Sakura saat sebuah tangan kekar menariknya paksa agar masuk ke kamarnya.
"Saya akan mencoba untuk berbicara padanya. Permisi."
Sasori mengangguk pasrah sambil memijit pelipisnya yang terasa nyeri.
Blam
"Lepaskan aku bodoh!"
Dengan satu hentakan Sasuke segera melepaskan tangan gadis itu dan menatapnya tajam. Bukannya merasa takut, Sakura malah semakin merasa tertantang.
"Apa?!" tantang Sakura.
"Kau.. kau pikir aku mau bertunangan denganmu hah?! Memangnya hanya kau saja yang menolak pertunangan ini?!" ujar Sasuke dengan nada yang agak meninggi sembari memojokokkan Sakura ke tembok. Sontak hal itu membuat Sakura gugup bukan main.
"Ka-kalau begitu kenapa kau tak menolaknya saja?!"
"Kau ini bodoh ya?! Kita ini sudah ditunangkan semenjak kita kecil, bahkan sebelum kau bergabung dengan keluarga ini!"
Kedua alis saling Sakura bertaut. "Apa maksudmu?"
"Waktu itu umur kita masih 6 tahun. Bahkan kita pernah bertemu sekali."
"Bicara yang jelas Uchiha! Aku sama sekali tak mengerti apa maksudmu. Omong kosong lagi heh?"
"Aku sedang serius Haruno!"
"Aku juga sedang serius Uchiha-sama yang terhormat. Kau sama saja dengan Sasori! Sekarang juga tolong keluar dari kamarku!"
Setelah berkata seperti itu, Sakura segera mendorong tubuh Sasuke. Dan pintu kamar itu pun tertutup rapat. Sasuke mendecih kesal melihat perlakuan 'tunangannya' itu.
Namun tiba-tiba Sakura kembali membuka pintu kamarnya dan menatap pemuda tersebut dengan mata berbinar. Sasuke cukup terkejut dengan perubahan wajah Sakura yang terbilang sangat tiba-tiba itu.
"Oh ya, dan tolong sampaikan pada Sasori-Nii bahwa aku sudah berubah pikiran dan akan menerima pertunangan itu."
"Jadi kau sudah berubah pikiran rupanya? Cepat sekali," sindir Sasuke. Bukannya merasa tersindir, senyum Sakura malah semakin lebar.
"Aku akan dengan senang hati menerima pertunangan ini jika..." Sakura menggantung kalimatnya sendiri. Sementara Sasuke mulai tak sabar menunggu kelanjutan kalimat tersebut.
"...Sasori yang menggantikan tempatku sebagai pengantin wanitanya HAHAHAHA."
Blam
Setelah berkata seperti itu, Sakura segera menutup pintunya disertai tawa kemenangan. Ia bahkan tak mempedulikan Sasuke yang masih berdiri di depan kamarnya dan mengucapkan sumpah serapah padanya.
"Persetan dengan Sasuke! Memangnya siapa dia yang berani mengatur-atur hidupku? Calon suami? Mimpi saja sana!" gerutu Sakura pada boneka beruangnya.
.
.
.
Kriinngggg~
Sakura segera membuka matanya dengan malas saat mendengar suara nyaring tersebut. Rupanya jam weker pemberian Sasori-Nii selalu berguna setiap pagi. Buru-buru ia tersadar dan langsung menatap jam weker itu dengan tatapan kesal.
"Cih.. bahkan barang pemberianmu pun terlihat sangat menyebalkan sekarang. Kau juga Teddy! Pokoknya aku tak akan berbicara denganmu selama seminggu. Titik," oceh Sakura seraya meletakkan boneka beruang tersebut di tepian jendela.
Butuh waktu 20 menit baginya untuk bersiap-siap menuju ke sekolah. Itu sudah termasuk waktu mandi dan berdandan ya saudara-saudara.
Tok Tok Tok
"Sakura, bangun! Hari ini aku ada kelas pagi. Jadi, jangan buat aku terlambat."
Tok Tok
"Saku-"
Cklek
"Tanpa kau ingatkan pun, aku sudah tahu baka," ujar Sakura sambil menatap wajah kakaknya itu dengan gusar.
Sasori hanya bisa menggeleng melihat tingkah adiknya itu. Sepertinya membujuk Sakura itu pekerjaan sulit ya, Sasori?
Sakura segera menghampiri meja makan dan mengambil roti selai kacang kesukaannya.
"Bagaimana tidurmu, Sakura? Nyenyak?" tanya Pein sambil menyesap Earl Green Tea miliknya.
"Sama sekali tidak nyenyak. Dan kurasa hal ini akan terus terulang hingga beberapa hari kedepan."
"Memangnya kenapa? Apa kau terkena insomnia?" tanya Pein sambil menunjukkan wajah khawatirnya. Sakura langsung menggeleng cepat.
"Bukan itu."
"Lalu?"
"Ini semua karena dongeng yang Sasori ceritakan beberapa hari lalu. Tentang seorang gadis yang dipaksa untuk menerima pertunangan dengan pemuda yang tak dikenalnya. Dan berkat dongeng tersebut, aku menangis sepanjang malam memikirkan nasib sang gadis," kata Sakura panjang lebar. Matanya tak henti melirik tajam Sasori yang sedang mengolesi rotinya dengan selai. Sementara Sasori menatap Sakura dengan wajah bingung.
"Apa?"
Pein tertawa terbahak mendengar penuturan sang adik. Ia tahu betul apa maksud dari perkataan adiknya itu.
"Sasori, seharusnya kau menceritakan kisah yang lebih romantis pada adikmu ini. Bukannya menceritakan kisah tragis seperti itu."
"Kisah tragis apanya?" tanya Sasori tak terima. Tapi ia lebih tak terima melihat perlakuan Sakura pada Pein. Sangat tidak adil bukan melihat sikap manis adiknya itu pada Pein, sedangkan ia tidak.
"Kau tahu Sakura? Kurasa di balik kisah tragis, pasti ada hikmahnya. Dan oh! Kurasa jika kau tidak segera berangkat, kau akan terlambat," ujar Pein sambil melirik arlojinya.
"Baik Nii-chan, aku pergi dulu. Ayo cepatlah Sasori! Tadi kau menyuruhku untuk cepat bersiap, tapi kau sendiri masih santai-santai seperti ini!"
"Hei! Apa-apaan itu? Mana bisa kau bersikap tak adil seperti ini? Kau kejam, Sakura-chan~" ucap Sasori dengan nada yang dibuat-buat dan terkesan menderita. Sedangkan Sakura hanya menatap kakak keduanya itu dengan wajah datar. Kemudian segera berjalan mendahului kakaknya tersebut.
"Sasori, kau tak lupa kan dengan janji malam ini kan?" tanya Pein sesaat Sakura pergi.
"Ya ya aku tahu itu. Rapat dengan Uchiha Crop kan? Tapi semua itu kan tergantung bocah Uchiha itu. Kalau ia tak kunjung membuat Sakura menyetujui pertunangan ini, kurasa semua rencana kita akan batal."
"Kita berdoa saja semoga ia bisa membujuk adik termanis kita itu.
"Adik termanis apanya? Dia lebih terlihat seperti nenek sihir-"
"Sasori-Nii! Cepetan dong! Nanti kalau aku telat gimana?!" teriak Sakura dari luar.
"Iya bawel!" balas Sasori.
"Cih dasar curang. Masa cuma aku yang terkena imbasnya sih?" lanjut Sasori.
Pein hanya tertawa mendengar gerutuan adiknya tersebut. "Karena itu kau harus lebih berusaha."
"Hhh berusaha apanya?"
.
.
.
Sakura POV
"Kau sedang bertengkar dengan kakakmu ya?" tanya Ino sambil berjalan beriringan dengan Sakura.
"Kalau yang kau maksud adalah Sasori, maka jawabanku adalah 'ya'," jawabku dengan memberikan sedikit penekanan disana.
"Memangnya ada masalah apa? Oh jangan bilang ini berhubungan dengan cerita konyol yang kau ceritakan 3 hari lalu?!" pekik Ino tertahan. Aku memutar kedua bola mataku dengan bosan.
"Ja-jadi semua itu benar? Kau benar-benar bertunangan dengan Sasuke!?"
Sepertinya aku harus memberikan ucapan terima kasih pada Ino, karena berkat suara 'cemprengnya' itu, kini semua siswa sedang menatap kami berdua sambil berbisik-bisik. Bahkan tak jarang yang melemparkan tatapan sinis dan merendahkan pada kami.
Segera kuseret Ino menuju kelas kami. Yah, setidaknya kami bisa menjauhkan diri dari tatapan sinis mereka untuk sementara waktu. Namun sepertinya semua tak semulus dugaanku. Kami berdua berpapasan dengan Sasuke di koridor. Ino sih terlihat senang, kelewat senang malah. Tapi tidak denganku.
"Tunggu," panggilan itu berhasil membuat langkahku berhenti. Mati-matian tadi aku bersikap setenang mungkin dan tak meliriknya sedikit pun. Tapi sepertinya ia sama sekali tak mengerti dengan 'kode' yang kuberikan. Dasar tidak peka!
"Psstt Sakura, kurasa tunanganmu itu ingin bicara denganmu," bisik Ino.
"Biarkan saja Ino. Toh, sepertinya ia tak memanggilku," ucapku acuh.
"Kalau memang begitu, kenapa tadi kau berhenti bodoh?"
Ah ya benar, aku ini memang bodoh sekali. Jika sudah begini kan mau tak mau aku harus berbalik dan menatapnya. Aku terus merutuki kebodohanku hingga sebuah panggilan dapat membuyarkan lamunanku.
"Sakura, Ino? Apa yang kalian berdua lakukan disini? Kelas akan segera dimulai."
Aku menoleh mendapati sosok itu sedang tersenyum ke arah kami. Kulirik Ino yang kini wajahnya sudah memerah dengan sempurna. Dasar anak ini, membuatku iri saja.
"Ah ya, kami segera kesana Sai," ucapku mewakili Ino.
"Tunggu, Sakura. Pembicaraan kita belum selesai."
Aku menoleh. Kudapati Sasuke sedang menatapku tajam. Tunggu, tatapan macam apa itu? Kenapa terlihat err kesal? Atau mungkin ini hanyalah halusinasiku saja.
"Pembicaraan apa? Kau bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun. Sudah ya, jaaa~"
Segera kutarik Ino agar menjauh dari kerumunan tersebut. Sebelum si pantat ayam itu sempat mengucapkan kalimat-kalimat lainnya yang mungkin dapat membuatku naik darah.
.
.
.
"Harusnya kau berterima kasih padaku karena telah menolongmu tadi," ujar Sai sambil menyeruput jus mangga miliknya.
"Ya ya aku tahu itu. Terima kasih karena telah menolongku. Tapi.. darimana kau tahu?"
"Berita itu sudah menyebar tahu," timpal Ino.
"Berita ap-ne? Memangnya kau pikir berita itu menyebar gara-gara siapa hah?!" pekikku tertahan. Hampir saja kusiram wajah Ino dengan jus stroberi milikku, jika tak ada Sai a.k.a pacarnya itu disampingnya.
"Sepertinya aku akan menjadi bulan-bulanan para fans si pantat ayam itu," sambungku miris.
"Siapa yang kau sebut pantat ayam?"
Aku segera menoleh ke arah pemilik suara baritone tersebut. Kudapati Sasuke sedang menatapku dengan tatapan sinis. Sepertinya aku mulai terbiasa dengan tatapan sinisnya. Tunggu, apa tadi yang kupikirkan? Terbiasa?
"Tentu saja kau. Memangnya siapa lagi disini yang memiliki model rambut seperti pantat ayam?"
Ia terlihat sangat kesal akan ucapanku itu. Tiba-tiba ia menarik tanganku dengan kasarnya.
"Hei! Lepaskan aku bodoh!" perintahku.
Tapi ia sama sekali tak mempedulikannya. Bukannya melepaskan pergelangan tanganku, ia malah mempereratnya. Aku mendesah pelan. Pasrah akan perlakuannya yang menurutku sangat tak manusiawi itu.
Dapat kurasakan banyak tatapan membunuh yang ditujukan ke arah kami berdua. Yah, walaupun aku sangat yakin seratus persen bahwa tatapan itu hanya ditujukan untukku sih..
"Sebenarnya kau mau membawaku kemana sih?" tanyaku setengah berteriak.
"Tch. Berisik."
Aku kembali menekuk bibirku. Ia benar-benar menjengkelkan!
Tiba-tiba ia melepaskan cengkraman tangannya begitu saja. Hampir saja aku menyumpahinya jika melupakan bahwa kami sedang berada di tempat terbuka, bukan dirumah. Atau setidaknya di ruangan yang hanya ada kami berdua di dalamnya.
"Kau harus menerima pertunangan ini," ucap Sasuke dengan nada datar dan terkesan memerintah.
"Tidak mau. Dan tak akan pernah! Lagipula, kenapa aku harus menerima pertunangan itu? Apa hak mu untuk memerintahku?!"
Ia kembali menatapku dengan wajah stoic nya. Namun tiba-tiba saja ia mulai mendekat ke arahku. Refleks, aku langsung mundur beberapa langkah. Sayangnya, sebuah dinding dengan kaca super besar ini berhasil membuatku merasa terpojok. Sial.
"A-apa yang mau kau lakukan?!" tanyaku panik.
Namun ia sama sekali tak mengindahkan perkataanku. Kepalanya sengaja ia dekatkan ke arah telingaku. Seperti akan membisikkan sesuatu. Samar-samar dapat kurasakan deru nafasnya yang sedikit memberikan sensasi menggelitik pada leherku.
"Kau harus menerimanya, Sakura. Satu hal yang kutahu tentang dirimu adalah kau ini tipe gadis yang penurut, terutama pada almarhum ibu angkatmu. Lagipula, pertunangan ini hanyalah sarana untuk membuat perusahaan kakakmu berkembang."
Aku menatap kedua mata kelam itu tak suka. Ia membalas tatapan ku dengan angkuhnya. Cih, dasar sombong. Kalau saja ia bukan anak dari Fugaku Uchiha, pemilik Uchiha Corp, dengan senang hati aku akan mendorongnya higga terjatuh dari lantai 3 ini sekarang juga.
"Aku sama sekali tak peduli dengan alasan yang kau berikan. Sarana agar semakin berkembang, katamu? Aku sangat yakin bahwa Pein-Nii dapat mengembangkan usahanya tanpa bantuan perusahaan ayahmu sekali pun!"
Sasuke tertawa sinis saat mendengar hal tersebut. Segera kudorong tubuhnya agar menjauh dariku. Setelah itu, aku langsung berjalan melewatinya tanpa mempedulikan tatapan tajam Sasuke.
"Apa kau tahu bahwa perusahaanmu sedang sekarat?"
"Apa?"
"Rupanya kau tak tahu tentang permasalahan tersebut. Apa kedua kakak 'kesayanganmu' itu tak memberitahu apapun padamu?"
Sakura kembali berbalik dan menatap Sasuke yang sedang menatap pemandangan di luar jendela besar itu. Kedua tangannya sengaja ia masukkan ke dalam saku.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan hah?!" tanyaku dengan nada gusar.
Ia terkekeh pelan saat menyadari perubahan emosi diwajahku. Entah kenapa ia terlihat sangat senang karena berhasil memancing amarahku.
"Bukankah aku sudah mengatakannya tadi? Kau harus menerima pertunangan itu. Apa perkataan ku tadi masih kurang jelas nona Haruno?" ujarnya seraya menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga.
"Lalu?" tanyaku sinis. "Lalu apa yang akan kau lakukan jika aku menerima pertunangan itu? Apa kau akan bersorak dengan gembira sambil meniupkan terompet kemenangan?"
"Mungkin.. tapi yang terpenting adalah perusahaan keluargamu akan terselamatkan. Bagaiman hmm?"
"Kau iblis."
Sasuke kembali terkekeh. "Aku bukanlah iblis. Aku adalah seorang penyanyi."
"Pasti mata para gadis yang mengidolakanmu itu sudah buta. Sepertinya aku harus pergi sekarang sebelum mataku juga ikut 'buta' saat melihat wajahmu yang sangat memuakkan itu."
Setelah berkata seperti itu, aku segera beranjak dari tempat tersebut. Namun sesaat sebelum aku beranjak dari sana, Sasuke menanyakan sesuatu. Dan aku hanya menjawab pertanyaannya itu dengan asal. Sepertinya aku sudah membuat sebuah keputusan yang sangat gila.
.
.
.
.
.
Tadaaa~!
Akhirnya scene SasuSaku nya muncul~ Maaf karena membuat kalian lama menunggu u.u yah, berhubung cerita ini agak err complicated sepertinya.
Banyak yang bertanya,"SasuSaku nya mana?"
Author: Ada disini kok *nunjuk hati author*
*Tiba-tiba Sakura muncul*
Sakura: Sialan lo thor.. lo bilang apa? Di hati lo? Sasuke tuh cuma punya gue seorang rang rang rang *efek suara2 menggema biar kedengeran agak dramatisir gitu ceritanya*
Author: Ngga boleh gitu. Sasuke itu milik kita bersama eh?
Pletak
*Kena lemparan bakiaknya Sakura. Tepar di tengah jalan*
Sekian dulu laporan saya sebagai author, untuk mengetahui lebih lanjut silakan menghubungi nomor dibawah ini *niiitttttttt* Jangan lupa kritik dan sarannya ditunggu ya~
Kecup manja dari author,
Muaahh :*
