"Apa yang ingin kau jelaskan sekarang saku-chan?"
"Maaf. Jika malam itu aku meninggalkanmu. Sungguh, bukan maksudku melakukan itu. Malam itu aku diculik."
"Kau kira aku akan percaya?" Sasori mulai berdiri dari duduknya, kini dia mencondongkan tubuhnya ke arahku.
"Kau harus percaya. Maaf."
"Tapi kau belum menjawab lamaranku malam itu! Jadi aku mau jawabannya sekarang!"
"Baiklah, maafkan aku Sasori-kun. Aku tidak bisa menerima lamaranmu, karena hatiku tidak bisa berbohong. Aku mencintai seseorang, dan aku sudah bertunangan."
"Kau bilang dirimu single! Aku begitu menaruh harapan pada dirimu Saku-chan. Pikirkanlah dengan baik. Please."
"Aku sudah memikirkannya dengan ba-."
"CAKULAAA!"
Eh, suara itu.
.
.
.
Naruto disclaimer by "kishimoto-sensei"
Sakura-chan life! by Sarokun.
Warning : this story can make sick your eye's
Typo's, cerita mungkin kurang menarik,kesalahan pengejaan dan lainnya.
Saya berharap reader-sama menyukainya.
Rate : T-T+ ,mungkin M Genre: Romance/Drama
.
.
.
Selama dua tahun aku menjadi dokter anak di rumah sakit ini, baru kali ini aku merasakan aura dingin menyelimuti ruang kerjaku. Baik Sasuke maupun Sasori masih saling melemparkan tatapan sinis penuh tanya.
"Em Saku-chan, siapa orang asing yang memanggilmu 'cakula' ini huh?" Akhirnya Sasori mulai bertanya. Setidaknya sudah ada interaksi sekarang di bandingkan tadi. Sankyu kami-sama.
"A-ano dia itu-."
"Suami Cakula."
"-eh?"
"WHAT! Are you kidding me, mister?" Sasori kaget bukan main.
Sasori menatapku seakan meminta jawaban yang pasti. Dia masih menganggap Sasuke sedang melucu. Hey, orang bodoh mana yang mengatakan itu tanpa pikir panjang? Jawabannya Sasuke. Apa sih sebenarnya yang dia pikirkan? Suami? Bahkan beberapa menit yang lalu aku mengatakan pada Sasori bahwa aku sudah tunangan, dan hanya selang beberapa menit kemudian ada pria yang mengatakan bahwa dia suami aku? Tampar aku sekarang juga!
"Sayang~ dia siapa?" Sasuke menunjuk Sasori.
"Sa-sakue-kun. Dia itu Sasori, teman lamaku. Hampir menjadi kekasihku dua hari yang lalu jika kau tidak menculikku." Oke, aku hanya mampu menjawab itu. Terserah nanti apakah Sasuke marah atau Sasori yang marah. Entahlah.
"WHAT!"
"WHAT!"
Oh, mereka berdua manis sekali kaget bersamaan. Ini jarang sekali terjadi dalam hidupku, dua orang pria sedang memperebutkanku dan mereka kaget bersamaan. Sungguh kompak!
"Hampir menjadi kekasih dia?" Sasuke menunjuk Sasori, namun tangan Sasuke segera di tangkis Sasori karena tepat berada di hidung Sasori. "Kau berselingkuh dariku malam itu Cakula! Dengan dia? Dengan boneka merah ini? Yang benar saja!"
"Hei, siapa yang kau sebut boneka merah huh? TU-AN-PAN-TAT- A-YAM?" Oh, bagus sekali sekarang Sasori mulai tidak terima di panggil boneka merah.
"Bayi besar!"
"Ayam kampung!"
"Boneka barbie versi cowok!"
"Hei! Apa-apaan itu? Dasar tuan pantat ayam! Hati hati ada telur keluar dari rambutmu yang berbentuk pantat ayam betina. HAHAHAHAHAHA!"
Apa? Pantat ayam betina? Kau sungguh hebat Sasori-kun. Hahahaha sungguh aku benar - benar ingin tertawa tapi dalam hati saja, hahahahahahha.
"Kau benar-benar memancing emosiku ya, dasar kau! BONEKA MERAH BESAR YANG MENJIJIKAN!"
Oke, aku rasa ini sudah mulai kelewat batas. Sasuke mulai memanas sedangkan Sasori mengeluarkan seringai liciknya.
"Sakura, benarkah kau sudah menikah dengannya? Dia jeas tidak lebih baik dari aku! Lihat, dia itu emosional. Bisa – bisa nanti kau dipukul!"
Ho, dan yang ini adalah pikiran liar yang paling liar yang Sasori ucapkan.
"Sakura. Siapa nama asli boneka merah itu. Aku tampak tak asing dengan mukanya."
Eh? Apa Sasuke pernah bertemu dengan Sasori? "Akasuna Sasori." Jawabku sekenanya.
"AHA! Itu dia! Akasuna Sasori. Bagaimana dengan kabar Dahlia?" Sasuke bertanya pada Sasori. Aku mulai tidak mengerti dengan situasi sekarang. Tadi Sasuke sudah sempat marah besar, lalu sekarang? Secara tiba – tiba dia bertanya dengan Sasori. Dan yang menjadi bahan pertanyaannya adalah dahlia? Siapa itu Dahlia?
"A-apa maksudmu! Aku tidak mengert. Pantat ayam!"
"Hei, tak usah pura-pura. Aku tahu kau siapa, Akasuna!" Sasuke kembali mengarahkan wajahnya kehadapanku, dia berjalan dan berdiri tepat di belakangku. Tiba – tiba aku merasakan dua buah tangan kekar memeluk tubuhku, dan aku merasakan sebuah dagu mendarat di bahuku. "Sakura, kau tahu?" aku hanya menyernyitkan kedua alisku pertanda aku bingung dengan ucapannya. "Aku beruntung menculikmu malam itu. kau harus berterima kasih padaku nanti malam, karena aku sudah menyelamatkanmu dari penjahat kelamin seperti dia." Sasuke mengacungkan jari telunjuknya kearah Sasori.
Apa maksudnya? Penjahat kelamin? Siapa? Sasori? Aku mengalihkan pandanganku ke arah Sasori. Dari sini aku bisa melihat tubuh Sasori sedikit bergetar. Ada apa? Apa Sasori sakit? Atau dia tengah ketakutan karena rahasianya dibongkar? Tapi Sasuke tahu dari mana? Bukankah sana saja dia memfitnah jika menuduh seseorang tanpa barang bukti? Aku bingung.
"Apa maksudmu pantat ayam? Kau menuduhku maniak seks yang merekam adegan saat sedang bercinta?"
"Hei! Aku tak menuduhmu seperti itu. Aku hanya bilang kau penjahat kelamin. Sekarang terbuktikan? Omonganmu itu bukti kalau kau maniak seks yang akan merekam setiap adegan intimu dengan wanita yang baru kau pacari? Lagi pula aku pernah melihat videomu! Ini buktinya!"
Oke, sekarang lebih parah menunjukkan sebuah video di handphonenya kepada kami. Maksudku, aku dan Sasori.
'A-ahh~ Sasori-chan! Fuck me more! Ooohh. Yeah, yeah ash!'
'Ofcourse Dahlia!'
'Yeah, yeah, yeah. A~ah aaahh, im coming. Aaaaaaaaaaaahhhh~ ugh, vaginaku penuh dengan spermamu. I like you banana.'
Nani? Apa itu barusan. Mukaku memerah, aku melihat kearah Sasori yang kini mukanya juga tak kalah memerah dengan aku. I-ini, seperti mimpi. Aku tak sanggup berkata-kata lagi ini benar – benar membuatku shock! Ada rasa yang sangat lega di hatiku karena aku selamat dari Sasori, tapi kenapa tiba – tiba kakiku begitu lemas dan kepalaku pusing. Kejadian hari ini benar-benar membuatku lelah! Adegan yang baru saja aku lihat begitu menguras emosiku.
"Sa-sasori, itu? benarkah?"
"Saku-chan aku bisa jelaskan!"
Sasori mencoba mendak kearahku namun di tahan Sasuke.
"Tak ada yang perlu di jelaskan lagi Sasori-san! Sekarang tak ada yang perlu kau khawatirkan lagi. Jalani hidupu sendiri Sasori-san, karena Sakura sudah punya kehidupan sendiri." Ucap Sasuke.
"Gomen, Saku-chan." Sasori lekas keluar dari ruanganku.
Blam!
Pintu ruang kerjaku tertutup. Aku masih tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika malam itu aku menerima lamaran Sasori. Mungkin saat ini video pornoku dengannya sudah tersebar luas. Aku menolehkan wajah ku kearah Sasuke yang masih setia di belakangku. Aku dapat merasakan tangannya mulai menuntunku untuk duduk di sofa yang empuk.
"Sasuke?"
"Hn."
"Aku sungguh shock melihat adegan di video tadi."
"Aku juga. Aku tak menyangka dia akan melamarmu jika aku tak menculikmu. Kau berhutang budi padaku Cakula!"
"Kau sudah dua puluh lima tahun Sasuke. Berhenti memanggilku Cakula!"
Huuuh haaaah. Tarik nafas buang pelan – pelan. Masih shock? Tentu saja! Tapi masih ada yang mengganjal di hatiku. Aku penasaran Sasuke mendapatkan video mesum itu dari siapa? Aku menundukkan wajahku menatap Sasuke yang kini tengah menaruh kepalanya di atas pahaku.
"Eng, Sasuke."
"Hn?"
"Kau, dapat dari mana video itu?"
"Tentu saja dari Neji!"
"Apa!"
Plak! Aku memukul kepala Sasuke.
"ITAI!"
Kurang ajar! Jadi si gondrong neji yang memberikan video itu ke Sasuke? Apa alasannya? Tidak mungkinkan dia tiba – tiba memberikan video itu ke Sasuke? Apa Sasuke yang minta?
"Aku memintanya dari Neji. Aku tahu kau pasti ingin bertanya dari mana aku dapat video itu, benarkan?" jelas Sasuke dan aku menjawab dengan anggukan.
"Tadinya, aku ingin mempraktekan itu nanti malam denganmu. Tapi tidak usah! Berhubung pemeran utamanya adalah penjahat kelamin yang hampir menelanjangimu jika aku tak menculikmu, jadi lebih baik kita mempraktekannya dengan gaya yang lain. Jangan sama seperti yang dia contohkan."
Plak! Aku memukulnya lagi.
"MESUM!"
-0o0-
Wortel, selada, cabai. Apa lagi ya? Mie instan? Mungkin. Saat ini aku sedang di supermarket bersama Sasuke. Hari ini aku tak jadi pulang kerumahku, karena Sasuke memaksaku untuk menginap kembali ke apartemennya.
"Cakula! Beli ini yang banyak ya?" Sasuke menunjuk kearah Tomat yang di pajang rapih di bagian sayur – sayuran. Aku mengerti sekali bahwa Sasuke begitu menyukai tomat ini.
"Tiga kilo apa cukup?"
"Lima kilo."
"Ha'i, kau mau apa lagi?" tanyaku padanya, dia tampak berpikir. Wajahnya lucu sekali seperti anak – anak.
"Tidak, itu saja. Kau silahkan pilih sesukamu."
"Baiklaah!" Ucapku dengan nada seriang mungkin
Kami terus memilih bahan makanan untuk makan malam nanti. Jika dilihat aku dan Sasuke memang benar – benar seperti sepasang pengantin baru. Sasuke begitu memperhatikanku dan sikapnya itu membuat hatiku menghangat. Sungguh! Dia sudah berubah seratus delapan puluh derajat kepadaku. Aku jadi mengingat Sasuke jaman dulu.
Dulu setiap aku bertanya padanya, dia hanya menjawah 'Hn' atau 'terserah' dan selalu menatap layar ponselnya. Sepertinya ponsel itu lebih asyik dari pada wajahku. Begitulah Sasuke yang dulu. Sasuke yang sekarang jika aku bertanya dia akan menjawabnya. Walaupun Cuma 'Hn' tapi perhatiannya selalu tertuju padaku. Tak ada lagi layar handphone saat kami berbicara.
-tbc-
Malam minna... terimakasih atas respon positif yang kalian berikan di chapter pertama. Aku sungguh berterima kasih. Untuk semua yang review aku sayang kalian. Dan yang baca aku juga sayang..
Chapter depan adalah chapter terakhir. Dan dari chapter ini ratenya di naikkan jadi rate M. Kare ada adegan Sasori dan dahlia.
Dan masalah typo, aku mohon maaf banget jika itu mengganggu kalian. Aku udah berusaha sebaik mungkin.
Sekali lagi ARIAGATOU! Terima kasih! GOMAWOO! Maaf tidak menyebutkan 1-1, tanpa mengurangi rasa hormat. Bye-bye..
-sarokun-
