Naruto disclaimer by "kishimoto-sensei"
Sakura-chan life! by Sarokun.
Warning : this story can make sick your eye's
Typo's, cerita mungkin kurang menarik,kesalahan pengejaan dan lainnya.
Saya berharap reader-sama menyukainya.
Rate : T-T+ ,mungkin M Genre: Romance/Drama
.
.
.
Pagi kembali datang, sinar mentari mulai menampakan kilaunya walau masih sedikit. Pagi ini aku seperti mengalami sebuah dejavu. Dia, sosok yang sedang tertidur lelap di belakangku, sambil memelukku erat masih seperti dulu. Wajahnya, postur tubuhnya, tidak ada yang berubah. Mantan kekasih yang kini menjadi calon suamiku, Uchiha Sasuke.
Sudah jam berapa ini? Aku masih saja bersantai, padahahal aku ada jadwal operasi jam sebelas siang nanti. Aku harus bergerak! Tapi, sepertinya seseorang yang sedang memelukku kini tidak mengijinkannya. Aku berusaha melepaskan pelukannya tapi dia malah tambah merapatka tubuhnya denganku. "Sasuke-kun, lepas! Aku harus bangun." Tak ada jawaban. Huft, yasudahlah.
Sepuluh menit, lima belas, empat puluh menit. Oke! Aku sudah mengulur waktu terlalu lama. Aku harus bangun sekarang juga. "Sasu, kau ada rapat direksi jam sepuluh nanti, dan aku ada operasi jam sebelas. Kita harus bersiap, sekarang sudah pukul delapan."
"Lima menit.!"
"Ini sudah lewat empat puluh menit sayang."
"Morning kiss, jika tidak aku tak mau bangun."
Dasar!
-o0o-
Aku sudah bersiap sekarang tinggal membuat sarapan untuk kami berdua. Karena tak punya banyak waktu jadi aku hanya membuat sandwich dengan ayam dan tentunya tambahan tomat untuk calon suamiku tercinta. Beberapa menit krmudian sandwichpun sekesai, namun aku tak menunjukkan tanda-tanda Sasuke akan segera turun. Jadi aku memutuskan untuk menyusulnya kekamar. Sepertinya itu ide yang bagus.
"Sasuke, kau didalam?"
Sepertinya dia tidak mendengar panggilanku, aku memutuskan untuk masuk kedalam kamar dengan langkah yang pelan. Aku melihat Sasuke sedang menerima telepon, sepertinya penting. Bagaimana aku tahu? Tentu saja aku tahu, dari gesture tubuhnya yang seakan seperti menutup diri dengan menerima panggilan dipojok kamar dengan suara berbisik. Apa ada sesuatu yang dia rahasiakan?
"Sasuke?"
"Eh, ya." Dia langsung menutup teleponnya denga buru-buru. Aku jadi semakin curiga, sebenarnya ada apa?
"Sarapan." Aku menjawab seperlunya.
Sasuke mengangguk, dan menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya menuju ruang makan. Tak ada yang aneh saat kami makan, masih sama seperti kemarin. Sasuke yang manis,yang selalu mengelap sisa makanan di sudut bibirku. Sasuke yang manja, yang menginginkan sebuah kecupan ringan jika selesai makan. Dan itu semua membuatku menjauhkan semua pikiran buruk tentangnya. Karena bagiku, Sasuke sudah berubah.
Selesai sarapan dan membereskan sisa piring, aku segera menuju kerumah sakit diantar Sasuke. Karena letak gedung kantornya yang tak terlalu jauh dari rumah sakit tempatku bekerja. Selama perjalanan hanya diisi kekosongan hingga sampai di tempat kerjaku.
"Sudah sampai, sebaiknya kau cepat masuk. Oia, maaf nanti aku tak bisa menjemputmu. Kau pulang naik taksi ya, ingat! Jangan dekat-dekat dengan pria lain. Oke?
"Iya, Sasu-"
"Bye-bye.
"-ke-kun."
Sasuke-kun kenapa sih? Memangnya dia sedang ada jadwal meeting? Aneh. Aku mulai melangkah memasuki gedung rumah sakit. Pikiranku sekarang sedang bercabang, aku merasa sedang di bohongi. Apa Sasuke-kun menyimpan suatu rahasia? Aku mulai merasakan gelagat tak enak sejak memanggilnya untuk sarapan tadi pagi. Dia terlihat seperti terburu-buru sekali. Ada apa? Ada apa? ADA APAAAA?
Ck, aku kepo.
-o0o-
Jam dua belas lewat sepuluh, sebenarnya jadwalku sudah selesai. Pasien inap sudah aku kontrol, pasien yang datang untuk diperiksa juga sudah tak ada. Apa sekarang anak-anak sudah sehat semua? Amin. Aku merasa bosan, apa yang harus aku kerjakan? Matsuri, dokter jaga penggantiku sudah datang. Aku mengecek handphoneku dan aku teringat sesuatu. Aku sudah tiga hari tidak pulang kerumah! Oke, aku anak yang berbakti. Aku akan menengok orang tuaku dulu.
"Ano, Matsuri-chan!"
"Ne, Sakura senpai." Matsuri , menjawab sapaanku dengan senyuman ramahnya. Ah, kohaiku memang manis.
"Matsuri-chan, aku akan mengakhiri jam kerjaku sekarang. Aku mau pulang dulu, jika ada sesuatu telpon aku ya?"
"Ha'i senpai!"
-o0o-
"Cah! Akhirnya aku sampai juga." Setelah berjuang dengan menggunakan bus, akhirnya sampai juga di rumah! Aku merindukan tempat ini.
Ting tong
"Sebentar!"
Aku mendengarnya! Suara okaa-san!
"Tadaima Okaa-san!"
"Saki!"
Aku berpelukan dengan Okaa-san, melepas rindu karena sudah lama tiga hari tak bertemu. Okaa-san mengajakku untuk masuk. Kesan pertama yang aku dapatkan adalah bau harum masakan. Wah, ternyata dia baru selesai memasak makan siang.
"Okaa-san, kenapa baru memasak makan siang sekarang? Kan ini sudah jam setengah tiga, sudah bukannya jam makan siang."
"Itu karena Otou-san baru pulang dari toko nanti jam tiga sore. Tadi dia menelpon , katanya tidak makan siang di toko karena tak selera. Kau tahu alasannya? Dia memikirkanmu."
Aku jadi terharu dengan Otou-sanku tercinta.
"Maaf, aku tidak memberitahukanmu. Aku menghilang secara tiba-tiba, maafkan aku. Aku-"
"Kami tahu alasannya. Sasuke kemarin datang, dia bilang ingin menyambung kembali pertunangan yang sepat terputus karena kebodohannya dulu."
Aku tertegun. Sungguh?
Okaa-san membelai rambutku dan tersenyum."Sudahlah! Sekarang ayo sini! Bantu aku membereskan meja ini sebelum Otou-san pulang!"
"HA'I"
Lima belas menit telah terlewat. Meja makan telah penuh dan rapih. Aku telah berganti baju dengan baju khusus untuk dirumah, piyama santai kesayanganku. Aku dan Okaa-san kini sudah ada di ruang depan dekat pintu masuk, kami akan menyambut kepulangan Otou-san.
"Tadaima!"
Itu dia.
""OKAERINASAI!" Aku dan Okaa-san menjawabnya serempak. Dan dapat aku lihat wajah Otou-san yang kaget.
"SAKI!"
Dan selanjutnya, kami menghabiskan acara siang dengan tertawa dan kehangatan.
-o0o-
Sudah pukul tujuh malam Setelah makan malam aku langsung naik kekamar, dengan alasan mengantuk. Dan aku tidak menerima kabar apapun dari Sasuke. Ini aneh! Apa yang dilakukannya? Apa dia sudah pulang? Apa dia lembur? Kenapa tak ada kabar?
"Arrghh, dasar ayam betina bodoh! Apa yang kau lakukan! Kenapa tak ada kabar!"
Ini semakin aneh, sejak tadi pagi. Aku memutuskan untuk menelponnya, dari pada aku penasaran.
Tuuuuut. Tuuuut.
Tuuuuut. Tuuuut.
Tuuuuut. Tuuuut.
Kenapa tak diangkat? Aku mencoba lagi.
Tuuuuut. Tuuuuut.
Masih tersambung namun belum diangkat juga. Memang apa yang dilakukannya sih?
"Moshi-Moshi"
"Sasu- loh, kok perempuan!"
"Hey, aku memang perempuan. Siapa kau, mengganggu saja!"
Loh, kok aku yang mengganggu? Seharusnya wanita ini yang mengganggu.
"Hei kau wanita bodoh! Mana Sasuke-kun! Aku ingin bicara!"
"Siapa yang kau sebut bodoh! Ada urusan apa kau memanggil Sasuke-kun!"
Kurang ajar! Wanita ini tidak tahu diri sekali sih, memang dia siapa? Selingkuhan? Jadi baru tiga hari kami baikkan sekarang Sasuke-kun sudah selingkuh lagi!
"Aku nyonya UCHIHA!" aku sudah tidak tahan lagi. Aku tak bohong, memang sebentar lagi aku akan menjadi nyonya Uchiha.
"A-ah, nyo-nyonya! Maafkan saya! –'Sasuke-kun ini dari nyonya Uchiha ingin bicara denganmu'-"
Aku mendengar dari balik telepon wanita itu sedang bicara dengan Sasuke.
"Moshi-moshi."
Suara berai itu. "Sasuke-kun!"
"Sa-sakura!"
"Kau sedang dimana? Tadi itu siapa?"
"Em.. a-aku sedang di kantor!"
"Kau gugup. Apa kau ber bohong?"
"Tidak! Sudahlah aku sibuk, nanti saja telpon lagi."
"Kau berbohong!" aku memutuskan sambungan.
Aku tak percaya dia berbohong. Aku jadi kembali teringat akan malam itu. Malam dimana dia merebut hartaku paling berharga. Aku menyesal! Aku harusnya tak percaya begitu saja padanya! Aku bodoh! Wanita murahan! Aku benar-benar wanita murahan yang gampang tergiur bujuk rayu lelaki. Bukab hanya Sasuke! Bahkan aku aku hampir tertipu oleh Sasori! Huaaaaaa...
-o0o-
Sudah dua hari sejak malam itu. bahkan Sasuke tak juga mengabariku. Aku bahkan bingung dengan hubungan ini, gantung. Sebenernya apa sih yang sedang dilakukannya! Jadi benar dia selingkuh! Aku sudah tidak tahan lagi, aku ingin menangis. Bahkan air mataku sudah beranak sungai, huaaa.
Aku kembali lagi menjadi sosok diriku yang rapuh. Memang wanita mana yang tak menangis jika dikhianati kekasihnya dua kali? Aku bahkan tak sanggup lagi untuk bergerak, tubuhku bahkan melemas. Aku tak masuk kerja, dan sekarang aku sakit karena tak makan.
Apa dia mengingatku? Kurasa tidak. Apa dia mengkhawatirkanku? Kurasa juga tidak. Dia pasti sedang bersenang-senang dengan pacar barunya itu. Ini sungguh menyesakkan, kalian tahu? aku sungguh menyesal. aku menyesali keputusannku yang malam itu rela melepas keperawananku. Bagaimana jika aku hamil, lalu anakku lahir kedunia tanpa seorang ayah, dan dia akan menganggap dirinya anak haram! Dan aku adalah wanita paling jahat didunia. Air mataku menetes lagi.
Tapi, belum tentu juga aku hamil. Bisa saja aku sedang tidak masa suburku, masalahnya aku lupa kapan masa suburku. Dan aku kembali menangis.
-o0o-
Tepat dua minggu sejak malam itu, Sasuke masih tak ada kabar. Aku sudah berusaha menelponnya, tapi selalu di matikan. Aku mencoba untuk memberanikan diri pergi kerumah keluarga uchiha, tapi apa yang kudapat? Mereka tak ada dirumah. Mencoba menghubungi teman terdekat, mereka tak mau memberitahuku. Terakhir kemarin malam, aku ke apartemen Sasuke dan ternyata dia tak ada disana! Aku hanya ingin kejelasan tentang hubungan ini.
Hal yang aku takutkan terjadi, aku positif hamil. Tadi pagi aku mencoba mengetesnya dengan tespeck, dan aku mendapatkan dua garis merah di tespeck itu. Aku hamil!
Tubuhku semakin lemah saja. Okaa-san sudah tahu semuanya, aku menceritakan semuanya, termasuk aku yang sudah tidak perawan lagi. Okaa-san kaget! Dan marah padaku karena tak menjaga harta yang paling berharga pada seorang wanita. Aku tak menyalahkan Okaa-san, aku saja marah pada diriku sendiri. Tapi aku harus ingat bahwa aku sudah tak sendiri lagi.
-o0o-
Ini adalah minggu ke tiga hubungan gantungku dengan Sasuke. Dan menjadi minggu pertama kandunganku. Aku tak megalami kesulitan, mungkin karena masih berumur satu miggu. Tadi pagi aku mendapatkan berita buruk. Dan sekarang ku sedang tertidur lemas di kasurku.
Pria itu, ayah dari anak yang di kandungku akan menikah. Aku sangat kecewa padanya, dan sekali lagi aku menyalahkan diriku sendiri. Otou-san danOkaa-san sudah tahu kalau aku hamil. Mereka terkejut bukan main, bahkan Otou-san hampir pinsan saat aku memberi tahu mereka akan memiliki cucu.
Aku mengurung diri di kamar. Atensiku kembali kearah nakas disamping kasurku. Sebuah undangan yang sangat elegan dan terlihat berkelas. Khas Uchiha sekali!
KAMI YANG BERBAHAGIA! KELUARGA UCHIHA
KAMI AKAN MENIKAHKAN ANAK BUNGSU KAMI, UCHIHA SASUKE DENGAN WANITA PILIHANNYA
ACARA PERNIKAHAN AKAN DI LAKSANAKAN TANGGAL 28 JUNI 2013
BERTEMPAT DI CROWN ROYAL HOTEL
Itu adalah sepenggal kata yang aku baca di undangan si brengsek Uchiha itu. aku sudah muak memanggil namanya, aku sudah tak mau lagi mengingat namanya. Aku harus bangkit, mulai hari ini aku akan menjadi diriku sendiri, dan sudah kuputuskan aku bukanlah tunangan dari si brengsek itu lagi.
Selamat tinggal Teme, semoga kau bahagia dengan keputusanmu. Aku akan datang ke pesta pernikahanmu, akan kutunjukan padamu aku bukanlah wanita yang lemah. Aku mungkin bodoh, pernah tertipu olehmu dua kali. Tapi, mulai saat ini aku akan bangkit. Dan akan kutunjukan aku dan malaikat kecilku nanti akan bahagia tanpamu.
-o0o-
Hari ini adalah hari pernikahan si brengsek itu dengan wanita yang entah siapalah itu aku tak tahu. Keadaan tubuhku sudah lebih baik dari kemarin. Aku sudah segar, dan mampu melanjutkan aktifitas seperti biasa.
Cermin dihadapanku memperlihatkan penampilanku yang sekarang. Aku masih cantik kok.
Cklek.
"Kau sudah siap sayang?"
Okaa-san memelukku dan aku mengangguk dalam pelukannya sebagai jawaban.
Cuup. Okaa-san mencium keningku.
"Kau harus tegar ya?"
Aku kembali mengangguk, aku tak berani mengeluarkan suara. Aku takut air mataku melenggang keluar dari mata hijauku. Aku memang sudah tegar, tapi tetap saja! Ini sangat menegangkann bertemu dengan mantan tunanganmu di pesta pernikahannya. Apalagi kami berpisah dengan cara yang tidak enak untuk diingat.
"Oh iya, ganti bajumu. Okaa-san sudah memiliki gaun spesial untukmu. Sebentar ya, Okaa-san ambilkan."
Aku hanya diam, menunggu Okaa-san kembali dan membawa baju yang sudah di persiapkannya. Aku memang penasaran, memangnya kenapa dengan gaunku? Ini juga bagus kok.
"Sayang."
Aku menengok kearah pintu, dan mendapati Okaa-san yang berdiri sambil tersenyum sambil memegang gaun putih.
"Okaa-san, ini berlebihan! Gaun ini tampak seperti gaun pengantin. Hanya saja ini lebih simpel dari gaun pengantin ."
Okaa-san hanya tersenyum. Dan aku tak mau ambil pusing, langsung saja aku pakai gaun itu.
"Kau sangat cantik. Aku sangat menyayangimu, kau adalah anak yang paling kami banggakan. Dan kau mampu melewati badai yang menghampirimu. Sekarang, raihlah kebahagiaanmu nak."
Aku memeluk kembali Okaa-san, dan kami menangis bersama. Okaa-san mendandaniku karena make-up yang ku pakai luntur akibat air mata kami. Sebelum ke acara pernikahan si brengsek itu, aku kembali menatap cermin. Gaun indah ini begitu pas, berwarna putih dengan renda yang hanya di bawah gaun, sekilas memang seperti gaun pengantin.
Oke brengsek, akan kutunjukkan wajah terbaikku hingga kau menyesal meninggalkanku.
"Okaa-san, Otou-san mana?" aku memang tidak melihat Otou-san dari tadi.
"Dia sudah berangkat lebih dulu."
"Oh."
-o0o-
CROWN ROYAL HOTEL.
Aku telah sampai, kesan pertamaku saat telah sampai adalah megah dan mewah. Tapi disini sepi, apa aku terlambat? Tapi aku melihat Otou-san di depan pintu aula. Sepertinya Otou-san menunggu kami.
"Yang di tunggu akhirnya sampai." Otou-san langsung memelukku, aku melihat matanya yang mulai berkaca. Kenapa? Apa dia sedih karena anaknya juga sedih? "Kau anak yang Otou-san banggakan, Otou-san tak pernah menyesal memiliki anak sepertimu. Aku tak menyangka secepat ini."
"O-Otou-san." Mataku kembali berkaca.
"Ssst, jangan mengis."
"Aku tak apa Otou-san, aku kuat. Aku akan tegar, tak peduli Sasuke menikah dengan siapapun. Aku, Otou-san, dan Okaa-san kita akan bahagia." Aku melirik kebelakang tepat kearah Okaa-san. Dia tersenyum dan menghampiriku.
"Kau benar nak, kami akan bahagia. Karena kebahagiaan kami adalah kau," kata Okaa-san.
"Ayo Sakura." Otou-saan mengambil tanganku dan mengamitkannya di lengan Otou-san. Ck, seperti mempelai wanita saja, lalu aku menengok kebelakang, dan mendapatkan senyum lembut Otou-san.
CKLEK
Pintu besar aula terbuka.
Ya tuhan! Aku tak sanggup lagi berkata-kata. Kulihat samping kanan dan kiriku, semua tamu undangan nampak tersenyum kearahku. Air mata pertama menetes. Di ujung sana ada seorang pria yang menampilkan senyum menawannya kearahku. Si brengsek Uchiha Sasuke, tersenyum lega menatapku. Aku menengok kebelakang dan ternyata sudah ada dua anak kecil lucu memakai gaun putih untuk yang perempuan dan tuxedo untuk yanglaki-laki mengekori aku da Otou-san, aku kembali menengok mencari keberadaan Okaa-san. Oh, rupanya dia sudah ada du bangku paling depan dengan Mikoto-san, Ibu si brengsek. Aku kembali menangis bahagia.
Aku dan Otou-san telah sampai di depan altar, Otou-san menyerahkan tanganku pada Sasuke. Dan sebelah tangan Otou-san memegang pipiku untuk menghapus air mataku. Lalu dia mengecup keningku dan berkata. "Kebahagiaan kami adalah kau, anakku Sakura." Aku kembali meteskan air mata kali ini Sasuke yang menghapusnya.
Setelah itu aku dan Sasuke menghadap ke altar, sebelum menaiki panggung kecil tempat kami akan mengikrarkan janji sehidup semati, ada seorang wanita cantik yang kuketahui sebagai kakak ipar Sasuke, Konan. Dia berjalan dengan anggun menghampiri kami, dan berhenti tepat di hadapanku. Dia tersenyum, dan memakaikanku sebuah mahkota yang bertudung. Sebelum benar-benar pergi dia berkata, "Selamat datang di keluarga kami, Sakura."
Sasuke mendahuluiku selangkah dan kembali menghadapku. Dia membantuku menaiki panggung kecil ini, dan setelahnya kami jalan beriringan menuju tempat pendeta berada.
"A-aku ber-bersedia." Ucapku terbata, karena gugup ditambah aku habis menangis.
Tepuk tangan meriah mengiringi kami. Setelah acara pengucapan janji, aku dan Sasuke berhadapan. Dia membuka tudungku, dan mulai menarik wajahku. Sebelum kami menyatukan kedua bibir ini, dia berucap "Aku sangat mencintaimu Cakula!" dan kamipun menyatukan bibir kami, menyalurkan rindu yang teramat dan rasa sesakku selama tiga minggu terakhir. Ciuman hangat dan dalam, didepan seluruh tamu undangan. Sasuke tak mau melepasku.
"E-engh" Aku meleguh.
Sasuke menghentikan ciumannya, aku memanfaatkan kesempatan ini untuk bernafas. Menghirup okigen sebanyak-banyaknya. Dan Sasuke kembali menghisap bibirku. Ciuman kami belum juga terlepas, mukaku sudah memerah karena malu. Untung saja Otou-san datang, dan menjewer telinga Sasuke-kun.
"A-au. Sa-sakit Otou-san." Leguh Sasuke.
"HAHAHAHAHA" Kami semua tertawa.
'
'
'
-END-
OHAYOOOOOOOUUU!
Apa kabar minnaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~ aku kembali dengan menamatkan fanfic multichapter pertamaku yang benar-benar tamat.
Spesial kali ini karena fic ini cukup panjang 2500k dan 10 halaman.
Hulalalalalaa... mohon maaf kalo typo masih banyak berkeliaran. Inilah hasil dari jeripayahku. Semoga kalian suka..
Oia, ada beberapa pertanyaan tentang masalalu sakura dan sasuke. Yah ceritanya sasusaku itu dulu tunangan terus putus gara-gara sasu selingkuh. Soalnya di cerita ini Cuma khusus tentang tunangan yg udah putus terus nyambung lagi, kalo masalalunya kalian berimajinasi sendiri yaa...
Big thanks buat yang review chapter 1 dan 2 :
Gilang363, kihara, Hikaru Sora 14, hanazono yuri, ntika blossom, Cacha Emeralda, poetri-ch, gues, Ifaharra sasusaku, yuki, sofi asat, Anka-Chan, , Anisha Ryuzaki, Kin, Kumada Chiyu, Ah Rin, , ntika blossom, Arufi Rizuki Yoshida, YashiUchiHatake, Aiko Asari, poetri-chan, marukocan, chibigami, Hikaru Sora 14, momoi uchiha.
Mohon maaf untuk sehala penulisan yang salah, maupun yang tidak tersebut. Tidak mengurangi rasa hormat saya mengucapkan terimakasih. Juga buat silent reader, saya ucapkan terimakasih.
Bye-bye...
Sarokun.
'
'
'
-Bonus!- -Lime!-
3 Tahun kemudian
"U-ugh, aaahhhh~"
"Emmh~ Cakulaaah~"
Sepasang suami istri tengah memadu kasih di dalam kamar pribadi mereka. Sang suami tampak tak sabaran dengan tubuh Istrinya.
Cuup. Cuup. Cuup
Sasuke mengecup seluruh tubuh polos Istrinya, bagian bawahnya masih bekerja keras untuk mengeluarkan semua kemampuannya. Tubuh mereka sama-sama berkeringat. sedangkan tangannya terus membelai, meremas, dan memijat tubuh dan bagian sensitiv isterinya.
"A-aku mau sampai~"
"Aku juga. Kita sama-sama."
"Aaaahh~"
"Aku sangat mencintaimu, Cakula!"
"Aku juga." Jawab Sakura sekenanya.
"Juga apa!" Sasuke sepertinya tidak sabaran.
"Ck, Aku juga mencintaimu. Sasuke-kun. Sudah ah, aku lelah." Sakura membalikkan tubuhnya menghadap dinding.
"Kenapa kau tak berubah? Aku benci saat kau tidur membelakangiku!"
Tanpa banyak bicara Sakura membalikkan tubuhnya menghadap Sasuke. Wanita itu langsung merengkuh tubuh suaminya yang masih cemberut. "Sudahlah ayo tidur."
-0o0-
Sinar mentari masuk dengan malu-malu kedalam kamar Sasuke. Dia mulai terusik, dan bangun dari tidurnya. Mengucek mata sebentar, lalu mencari keberadaan istri tercintanya. "Huft." Dia menghela napas saat menyadari istrinya telah bangun terlebih dahulu. Diapun langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus menenangkan pikirannya dari bayang-bayang semalam saat dia dan istrinya bergumul.
Sakura tanpak sibuk di dapur, menyiapkan sarapan dan memandikan Kenichi, putra pertamanya dan Sasuke. "Caa-chan, Chaa-chan. Lapaaaal."
"Ia sebentar Kenichi-kun."
Tak, tak, tak.
Kenichi memukul piring pelastik tempat makannya dengan sendok pelastik pula. Tak lama kemudian Sasuke turun dengan pakaian kantornya.
"Caa-chan, Caa-chan, Chaa-chan." Kali ini Kenichi tak sendiri. Sasuke mengikuti gaya Kenichi untuk meminta makan.
Tak, tak, tak.
Sasuke dan Kenichi memukul peralatan makan mereka bersama. Ayah dan anak itu begitu kompak, sehingga perempatan kecil muncul di kening Sakura.
"BISA TIDAK KALIAN DIAM!" teriak Sakura.
-END-
