Junmeanssi proudly presents
"Explosions : Knock Out."
"You aren't the same like others and yet you keep comparing."
a/n : awalnya saya berencana membuat pairing Suho x Minseok, tetapi saya merasa kalau Minseok ke depannya nanti akan justru lebih mencolok daripada Suho.
-xoxo-
Make—up seluruh tubuh?
Yang benar saja, Minseok merasa dirinya mati kutu. Selama ini belom ada yang diijinkan untuk melihat bentuk tubuhnya yang sangat proporsional, yang akan membuat pihak laki laki merasa minder dan perempuan merasa canggung. Minseok benar benar menjaga bentuk badan dan pola badannya sampai sejauh ini dan—sekarang dia dihadapkan dengan make up stylist yang ingin mendandani seluruh tubuhnya?
"Kenapa kau jadi pucat begitu? Aku kan tidak akan memperkosamu." gelak tawa Baekhyun terdengar, membawa satu set peralatan make up lengkap dengan blush on yang lumayan besar, bahkan ukurannya jauh lebih besar daripada blush on yang digunakan untuk memoles pipinya dan pelipisnya tadi.
Minseok meneguk ludahnya cemas.
Dia pikir dia akan suka tempat ini.
"Ya ampun, jangan pucat begitu, ini hanya sesi make—up biasa, sungguh. Yang menyentuhmu kali ini hanya peralatan make-upku saja, kau tidak perlu khawatir." Baekhyun tersenyum sangat manis ke arah Minseok yang memgang kancing cardigannya gugup.
"Baiklah, aku akan ganti baju du—"
Baekhyun tersenyum tipis, menenteng blush on berukuran besar ke arah cardigan Minseok, "Tidak usah ganti baju, buka saja bajumu, kau hanya perlu memakai dalamanmu, Minseokkie." Jawabnya.
Minseok awalnya menegang, namun bukankah ia sudah berjanji siap menerima resiko dan tuntutan untuk bekerja disini? Ayolah—ini hanya make up seluruh tubuh yang biasa dilakukan para aktor untuk menunjukkan penampilan –tubuh—terbaiknya, apa yang harus dikhawatirkan?
Akhirnya dengan berani Minseok melepas sepatu sneaker yang digunakannya, lalu membuka cardigan dan setelan lengkap dalamannya, skinny jeansnya pun ia lepas dengan cekatan lalu melipatnya dengan rapi, diletakkannya semua pakaiannya itu di kursi terdekat.
Sekarang Minseok hanya menggunakan dalaman dan menampilkan tubuh atletisnya, belum lagi lengannya yang berotot itu, sangat maskulin. Guratan di sekitar pinggang kebawah celana dalamnya benar benar membuat Baekhyun menahan nafas, its such a turn on.
Tindik di telinga Minseok pun tidak dilepaskannya, Minseok memang anti melepas tindikkannya karena menurutnya sisi maskulin dari dirinya akan hilang. Baekhyun tak ambil pusing, lalu menyuruh Misneok merebahkan diri di salah satu tempat tidur yang memang khusus digunakan untuk make—up seluruh tubuh.
Baekhyun memulai menyapukan kuas blush—onnya pada warna dasar kulit, yakni coklat muda, namun karena memang pada dasarnya kulit Misneok sudah berwarna sangat apik, Baekhyun tidak perlu susah susah mengoleskan foundation banyak banyak pada aktor baru yang baru bekerja di tempatnya ini, ia pun tersenyum tipis lalu membubuhkan make—upnya pada daerah dada dan bahu Minseok.
"Bentuk dadamu bagus sekali, daripada milik Chanyeol." Ujarnya menimpali, tangan Baekhyun masih berkutat dengan polesannya sementara Minseok mengingat kembali nama yang dilontarkan make—up artistnya ini.
"Chanyeol? Sepertinya aku pernah mendengarnya."
"Dia cameraman yang bertugas disini, dia yang mengatur semua scenario dan tak jarang membantuku sedikit dalam menulis naskah, dia pria yang hebat." Jawab Baekhyun bangga, yah siapa juga yang tidak bangga kalau kekasihmu sendiri dibanggakan seperti ini.
"Yang tadi bertengkar dengan Kris dan errr—siapa itu namanya Yixing?"
Baekhyun mengangguk, meneruskan polesannya turun kebawah perut Minseok, dan membuat Minseok harus tahan dengan sensasi geli yang ditimbulkan dari sapuan telaten Baekhyun, "Iya, mereka memang suka cekcok disini, hampir setiap scene yang berhubungan dengan Yixing, Kris pasti akan ikut andil juga. Beruntung saja Junmyeon hyung yang mengambil alih semua kebijakan yang ada untuk syuting disini, jadi Kris tidak bisa melakukan apapun."
"Dia sangat keras kepala ya." sahut Minseok pelan.
"Siapa maksudmu?" tanya Baekhyun, kedua alisnya bertatut.
"Ah—itu, Kris Wu."
Baekhyun berdesis, lalu mengoleskan sedikit foundation pada lengan Minseok dengan rata. "Temperamental dan keras kepala, entahah, kenapa orang seperti Yixing mau mau saja berpacaran dengan orang seperti dia. Setahuku, Yixing orang yang berkecukupan namun sayang dia di keluarkan dari anggota keluarganya karena tersandung masalah hutang."
Alis Minseok bertatut mendengarnya, "Hutang?"
Baekhyun yang masih berkonsentrasi memoles bagian collarbone Minseok yang memang belum rata sapuan make—upnya itu lalu bercerita, "Ya, Yixing dikeluarkan dari anggota keluarganya karena dia sudah membuat keluarganya berhutang pada yakuza sebesar 10 milyar, dan dia berhutang karena ingin membantu Kris, kekasihnya. Kris sendiri hanyalah seorang pengangguran yang tanpa sengaja menjadi penjahat, lalu menyelundupkan senjata illegal dan ketahuan, untuk menutup rapat seluruh para anak buahnya Kris harus mencari uang sebesar 5 milyar. Syukurlah kasusnya selesai karena saat itu pengadilan memvonis Kris hanyalah sebagai korban karena yang menjadi tersangka sebenarnya adalah anak buahnya sendiri. Yixing yang sudah terlanjur berhutang banyak saat itu ketahuan, dan diusir dari keluarganya. Beruntung dia bertemu dengan Junmyeon hyung yang ingin membangun sebuah usaha film dokumenter dengan mereka berdua sebagai aktornya, namun belum ada hasil yang baik dari penjualan film yang digarap mereka." Baekhyun bercerita panjang lebar, sementara Minseok terdiam, menyerapi dan menelaah setiap kejadian yang terjadi saat itu, terutama yang terjadi pada Kris dan Yixing.
Minseok berjengit saat Baekhyun akan menurunkan celana dalamnya, "H—Hei apa yang kau lakukan?"
"Aku akan memoles milikmu, Minseokkie. Milikmu tidak boleh terlihat loyo dan kurang segar." Jelas Baekhyun, tangannya masih berkutat dengan foundation yang akan dilumurinya pada kepemilikan Minseok.
"T-tidak tadi kau bilang—"
"Ayolah, buka dalamanmu sekarang Minseokkie—" suara rengekan Baekhyun bahkan terdengar mengerikan bagi Minseok sekarang.
Pintu ruang make up tiba tiba terbuka, sosok lelaki masuk ke dalam dengan keadaan peluh disana sini, dan Minseok bersumpah dia melihat lelehan putih yang masih mengalir di kemejanya bagian bawahnya. Mungkin saja dia aktor yang baru saja selesai dengan scenenya, tapi dia bukan Kris atau Yixing, apakah dia Jongin yang disebutkan Chanyeol tadi?
"Baek? Apa yang kau lakukan? Mau bertindak asusila lagi?" tanya lelaki itu, ekor matanya melirik Minseok yang seketika itu juga mendudukkan tubuhnya di atas kasur.
Baekhyun menggeleng lalu meletakkan semua peralatan makeupnya di meja terdekat yang ada disamping pintu, "Kau ini selalu datang tiba tiba, tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu?" Baekhyun merengut sebal. Ekor mata Baekhyun menangkap bercak yang timbul di baju lelaki tersebut lalu menyeringai.
"Aku rasa kau yang berbuat asusila di kantor, Kyungsoo."
Kyungsoo menepuk keningnya dan meraba di daerah sekitar kemeja bawahnya yang sedikit basah karena lelehan putih dan bercampur sedikit peluhnya disana sini, "Ap—tsk sial. Aku lupa membereskannya."
"Kau menjijikkan, bersihkan dulu dengan tisu basah, pikirlah dulu kalau mau melakukannya dengan Junmyeon hyung! Jangan dikantor, kau pikir ini club malam?" Baekhyun lalu merogoh sakunya mengambil seplastik tisu basah dan menyodorkannya pada lelaki tersebut, sementara Minseok masih memandangi keduanya dalam diam.
"Memangnya kau dan Chanyeol tidak pernah melakukannya? U-uh bohong sekali Byun Baek." jawab Kyungsoo sembari terkekeh lalu mengambil sehelai tisu dan membersihkan kemeja miliknya. Minseok lagi lagi hanya diam, namun dalam hatinya dia tergelak. Sudut bibir Minseok pun terangkat sedikit, menahan tawa.
"Hei Kyungsoo, sudah kubilang jangan berbicara di tempat umum mengenai hal itu! Payah! Kau bukan penjaga rahasia yang baik." Bibir Baekhyun mengerucut sebal. Dan Kyungsoo yang masih membersihkan bajunya malah terkekeh ringan.
Minseok diam diam tersenyum menanggapi perkataan Baekhyun, Baekhyun ternyata bisa berubah dari yang awalnya manis menjadi beringas, dan itu artinya Minseok harus sedikit berhati hati padanya.
-xoxo-
Suasana kampus lumayan lengang, namun Luhan masih belum mau beringsut dari tempat duduknya, dia masih menunggu download dari film biru yang ingin ditontonnya, dengan The Dancing Thrones* dan Silver Hottie* sebagai aktornya. Entah beberapa kali ponsel Luhan berdering, namun sama sekali tidak diindahkannya.
Luhan yang akhirnya jengah dengan panggilan telepon yang terus menerus tersebut dengan malas mengangkatnya, "Ada apa?"
"Hyung, ayo pulang, aku sudah lapar, aku menunggumu hampir dua jam—"
"Kalau kau lapar pulang saja tidak usah menungguku! Merepotkan sekali, kau pikir berapa umurmu? Kenapa kau harus selalu bersamaku?" Luhan menjawab si penelpon, Oh Sehun dengan nada yang sama sekali tidak bersahabat.
Sementara Sehun di seberang telepon berusaha keras menahan emosinya untuk tidak menangis, "Hyung, ayo kita pulang."
"Tidak aku sibuk." Luhan menjawab dengan ketus, sembari memerhatikan sesekali layar laptopnya yang berisi waktu downloadnya.
Yes, sebentar lagi—batin Luhan senang.
"Hyu—"
"Dengar ya, anak kecil, aku pikir aku masih bisa memaklumi kelakuanmu yang selalu ikut bersamaku kemanapun aku pergi, aku bahkan sampai meninggalkan Baozi demi kau. Kupikir aku mencintaimu, aku saja yang terlalu naif." Luhan menaikkan kakinya keatas meja, menyampirkan ransel bag-nya di sebelahnya.
"Jangan katakan itu hyung aku mohon, bisakah kita pulang sekarang, aku benar benar lapar—" kali ini Sehun berbicara lagi di seberang, melirik kearah Luhan yang sedang anteng menjawab panggilan telepon darinya dari celah kecil pintu.
Ya, Sehun sudah berada di kampus Luhan untuk menunggu kekasihnya tersebut, namun Sehun bingung haruskah dia langsung masuk dan mengajak Luhan pulang, mengingat Luhan akan sangat marah kalau dia belum selesai menyelesaikan catatannya untuk mata kuliah hari ini. Sehun tahu jelas watak Luhan yang seperti itu hanya mengalah, lalu memilih menunggu. Sehun tidak sendirian, dia ditemani seorang pria yang sudah seperti bodyguardnya sendiri. Memang bukan bodyguard, namun dia dan Sehun sudah bersahabat sejak lama.
Pria ini sangat tampan, rambutnya dicat silver namun tidak terlalu menyala, badannya tegap, kontur wajahnya lumayan tegas dan saat ini dia diam berdiri di dinding menunggu Sehun selesai dengan teleponnya.
"Aku tidak mau pulang! Fileku belum sepenuhnya selesai ku download! Sudahlah! Aku sudah muak berhubungan dengan anak kecil sepertimu, Sehun!" Luhan membentaknya dengan keras, Sehun yang memang sedari tadi diluar kelas Luhan tentu saja mendengarnya, Sehun jujur saja lelah mempertahankan Luhan, tetapi dia sendiri tidak ingin kehilangan Luhan yang menjadi cinta pertamanya.
Lelaki yang bersama Sehun itu melepas kacamata berlapis lensa biru yang dimilikinya, lalu mengalungkannya pada t-shirtnya, beralih dengan iba menatap Sehun.
"Hyung, aku mohon—"
"Kita selesai Sehun, jangan pernah menghubungiku lagi."
Pip.
Suara telepon diputus.
Sehun seakan tidak bisa bergerak, dia hanya melihat Luhan yang masih bertopang dagu memainkan laptopnya. Pandangannya mengabur karena air matanya sendiri. Jujur, Sehun sudah lama mempertahankan dan bertahan dengan sikap Luhan yang seenaknya seperti ini.
Lelaki yang bersama Sehun itu mendekati Sehun dan memeluknya erat, merengkuhnya dalam, sementara Sehun terisak pelan sembari mengeratkan pelukannya pada jaket kulit orang yang dipeluknya tersebut.
"A-antarkan aku pulang, Jongin"
tbc.
The Dancing Thrones* = Nama samaran untuk Yixing dalam film.
Silver Hottie* = Nama samara untuk Jongin dalam film.
(Nama samaran ini berlaku bagi mereka yang berakting di film biru tersebut, setiap orang memiliki nama samaran yang berbeda)
