Chapter 2

Teka – Teki Misterius


Ke esokan paginya aku mendengar kabar kalau Rei telah ditemukan, ya, ditemukan, tetapi bukan dalam keadaan hidup, melainkan sudah terpenggal dan termutilasi.

Aku sangat tidak percaya dengan kabar ini. Kata orang tuaku, dia ditemukan di sekitar rumahnya. Temanku Defoko sangat dendam terhadap pembunuh itu dan dia mengatakan akan membalas dendamnya. Aku berkunjung ke rumah dia untuk menyarankan agar semuanya diurus oleh kepolisian, akan tetapi dia tidak percaya terhadap kepolisian.

Tiba–tiba terdengar suara pecahan kaca, kami lalu mendatangi sumber suara tersebut dan melihat sebotol kaca yang terdapat surat.

Aku membukanya dan membacanya, "Aku dengar kau ingin membalaskan dendam adikmu, lalu apa yang kau tunggu? Aku menunggumu di belakang rumah bekas pabrik itu."

Aku terdiam sejenak, dan melihat Defoko sangat emosi setelah mendengar surat ini.

"Si keparat itu ingin menantangku, aku akan menghabisinya kali ini." Itu yang ku dengar dari Defoko.

Aku mencoba menyela, "Sabarlah, kita telpon polisi saja. Biar polisi yang menangani ini, kau tahu dia pembunuh berbahaya." Dia tidak mengindahkan kalimatku, dia pergi begitu saja.

Aku punya firasat buruk dengan ini, lalu aku mencoba menelpon polisi.

Tak berselang berapa lama Defoko tiba dengan berlumuran darah, Ibunya menjerit dan aku melihat wajahnya Defoko sangat pucat.

"Ada apa Defoko? Jelaskan padaku," aku bertanya.

"Aku datang ke rumah itu bersama kelompokku, yang aku ingat tiba–tiba dari ruang yang gelap terdengar suara pisau dan saat aku berbalik semua teman–temanku tewas," Defoko menjawab.

"Tetap tenang aku sudah menelpon polisi, sudah ku bilang jangan ke sana." Aku mencoba menenangkan nya.

Aku melihat Ibunya sangat sedih. Ibunya lalu membawa dia ke dalam rumah. Aku pergi ke rumah kosong itu.

"Jadi ini rumah itu, Blok 13 cukup menyeramkan," aku bergumam.

Sambil menunggu polisi datang aku berjalan menyisir tempat ini sambil mencari benda yang mencurigakan. Rumah ini semakin ramai dikerumuni oleh warga yang mendengar tentang pembunuhan itu.

"Akhirnya polisi itu datang," aku bergumam sendiri.

"Sore Tuan Len. Anda yang memanggil kami?" Dektektif sekaligus kepala polisi itu bertanya.

"Ini sungguh aneh Dektektif Kaito, kau seperti baru mengenaliku," aku balas menjawab, lalu dia tertawa.

"Baiklah ceritakan yang terjadi di sini sebelum kita menggeledah rumah bekas pabrik ini."

Aku lalu menjelaskan kejadian yang menimpa temanku, Defoko, ke dektektif itu. Setelah itu detektif itu menyuruh anak buahnya untuk memulai menyisir rumah itu.

"Ini gila, sungguh ini pandangan yang sangat mengerikan," seorang polisi berteriak.

Aku langsung berlari masuk bersama dektektif itu.

Ini sangat mengerikan. Apa yang aku lihat ini sangat sulit untuk dibayangkan, padahal dari luar sepertinya tidak terjadi apa–apa, akan tetapi saat aku baru membuka pintu yang aku lihat pertama kali adalah temanku yang lain, ya, dari kepalanya aku mengenalinya kalau itu dia.

Lalu aku melihat ke seluruh penjuru tempat. Aku mulai mual dengan bau darah yang amis, aku melihat banyak organ tubuh terburai yang membuat seluruh polisi muntah, termasuk juga aku.

Aku melihat tubuh utuh, ini cukup aneh seorang psikopat melupakan 1 tubuh? Aku melihat di tubuh itu penuh goresan.

"Angka? Sepertinya aku menemukan petunjuk," aku berteriak.

Setelah itu detektif itu mendekatiku dan berkata, "5, 3, dan ada jejak darah di dinding bertuliskan DEAD MAN. Apa menurutmu ini sebuah petunjuk?"

"Mungkin, perumahanku nomor 5, mungkin selanjutnya adalah perumahan nomor 3 atau 2, seperti 5 – 3. Yang pasti kita harus mewaspadai ini, lalu dengan jejak darah itu DEAD MAN, aku tidak tahu itu apa, mungkin nama pembunuh itu," aku menjawabnya.

Setelah itu aku keluar, dan melihat banyak mobil ambulan dengan kantong–kantong mayat. "Sepertinya tempat ini akan semakin angker saja," aku bergumam.

"Hahahahaha, kau ini ada–ada saja," Dektektif itu tertawa, "Jika benar itu kode 5 3 adalah perumahan nomor 3 atau 2, kita hanya fokus ke tempat itu saja bukan?" dia melanjutkan dengan pertanyaannya.

"Entahlah, aku juga tidak tahu menahu. Semoga saja dugaanku benar," aku menjawabnya.

"Err, Len, apa kau mau membantu kami dalam memecahkan masalah ini? Aku lihat kau lebih tau dengan kasus ini, dan kau sangat hebat dalam memecahkan masalah." Aku hanya diam mendengar perkataan dektektif itu.

"Tenang saja, keluargamu kami jamin kesalamatannya," dia melanjutkannya.

Lalu aku menjawab, "Aku tidak percaya denganmu, aku tidak ingin terlibat dalam kasus ini. Jika aku terlibat, keluargaku dalam bahaya, kau mengerti."

Lalu aku pergi meninggalkan TKP, aku pulang dengan rasa ketakutan. "Sepertinya aku melihat sesuatu, ahh, sudahlah mungkin ini hanya imajinasiku," aku bergumam setelah melihat bayangan seseorang melewati ruang gelap.

Sesampainya di rumah aku mendengar Ibunya Defoko berteriak histeris, aku langsung berlari menuju ke rumahnya.

Hal yang sangat menakutkan hingga aku tidak percaya. Defoko terbunuh di kamarnya sendiri, disaat orang–orang lain datang ke rumahnya atau dalam keadaan ramai. Apa ini nyata? Mengapa seluruh teman–temanku dibantai? Ini pasti mimpi.

Aku sangat ketakutan setengah mati karena tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Dektektif itu datang kembali ke tempat Defoko dan mencoba menenangkan Ibunya.

Ibunya Defoko sangat kaget dengan apa yang terjadi pada anak–anaknya, aku menyadari perasaan dia, dia sangat sedih dengan kepergian putra–putrinya dengan keadaan yang sadis.

Dalam hatiku memiliki kebencian amat dalam dengan pembunuh itu.

Apa dia setan? Apa dia iblis? Darimana dia masuk ke kamar itu di mana tiada jendela hanya ada 1 pintu masuk. Aku sangat ingin membalas ini, aku menghampiri dektektif itu dan berkata, "Aku akan membantumu dalam memecahkan masalah ini, aku akan membalaskan dendamku, dendam teman–temanku yang terbunuh."

Dektektif itu menjawab, "Oke, kalau begitu kita akan menangkapnya bersama–sama, selamat bergabung dengan kami."

Entah dari mana aku merasa ada seseorang yang mengitaiku dan aku mendengar bisikan dari dia, "Bagus, jadilah kuat dan bunuhlah aku." Bisikan itu membuat diriku sangat merinding ketakutan.

Ke esokan paginya aku mendengar telah terjadi pembunuhan di perumahan nomor 3, "Jadi dugaanku ada yang benar," aku berkata dalam hati. Aku melihat ponsel, ternyata ada banyak panggilan masuk, aku tidak mengenal panggilan ini.

Aku keluar dan pergi ke TKP, Mamaku mewanti–wanti agar tidak ikut–ikutan dalam kasus ini, tapi aku sudah terlanjur masuk ke dalam kasus ini. Aku tidak pernah memberi tahu Mamaku, aku yakin dia pasti marah ketika mendengar ini.

Aku pergi ke tempat itu, ternyata dektektif itu sudah tiba lebih awal dari pasukannya.

"Pagi Len, kenapa kau tidak mengangkat telpon dariku?" dia menyapaku.

"Pagi Dektektif Kaito, aku tidak tahu kalau kau mencoba menelponku, karena setahuku aku tidak pernah memberikan nomerku," aku menjawab.

Dia tertawa, sebelum kemudian menjawab, "Hahaha, ya, maafkan aku. Sangat mudah mendapatkan nomermu, tapi aku lupa memberi tahumu. Sudahlah kembali ke kasus ini, sepertinya dugaanmu benar kalau akan terjadi pembunuhan di perumahan nomor 3, ini sunggu mengerikan."

"Bagaimana keadaan mayatnya?" aku bertanya.

"Satu keluarga terbunuh dan termutilasi, hanya ada 1 orang yang selamat, dia bersamaku di mobilku," Dektektif itu menjawab, lalu kami pergi ke mobil dektektif itu.

"Bagaimana anak itu menghubungimu?" aku bertanya.

"Anak buahku menelponku kalau telah terjadi pembunuhan, yang aku heran adalah dari pengakuan anak itu kalau dia bertemu pembunuhnya dan berkata akan melepaskannya jika anak itu berhasil membunuh pembunuh itu," Dektektif itu menjawab. Aku semakin heran dengan ini.

"Apa lagi yang dia katakan kepada anak itu?" aku kembali bertanya.

"Hmmm, oh yaa, anak itu berkata kalau dirinya akan digunakan, aku tidak tahu apa maksudnya yang pasti dia aman sekarang," Dektektif itu menjawab.

Ternyata dia anak perempuan berumur 15 tahunan sepertinya, aku langsung terheran–heran mengapa pembunuh itu melepaskannya, akan tetapi adiknya temanku, Koe Utane, malah diperkosa lalu dibunuhnya.

Aku tidak jadi menanyakannya ke wanita itu, aku langsung pergi ke rumah TKP itu.

"Ohh, kau tidak jadi bertanya dengannya?" Dektektif itu bertanya padaku.

"Tidak," kataku

"Baiklah, mari kita masuk ke TKP, sepertinya anak buahku sudah tiba," Dektektif itu membalas jawabanku.

Hal pertama yang aku liat saat membuka pintu adalah seperti tidak terjadi apa–apa. Setelah aku masuk ke ruangan dapur aku melihat bekas darah di dinding berbentuk suatu lambang.

"Gambar ini mirip gambar segitiga terbalik," kataku.

"Kau benar Len," Dektektif itu membenarkannya.

Aku bingung apa maksud dari pembunuh ini, lalu aku melihat sesosok mayat tergeletak di depan komputernya. Yang aku heran kata dektektif itu seluruh korban termutilasi, akan tetapi yang satu ini tidak.

Aku melihat teks yang ada di komputernya, aku ingat orang ini adalah pembuat novel, ini kalimat terakhirnya: "Di saat ini, yang aku lihat hanyalah kegelapan, guntur, dan angin yang sangat mengerikan dan mencekam setelah itu akue309ih933."

Aku yakin kalau bukan orang ini yang menulisnya, karena aku melihat darah yang mengalir dari lehernya, aku pastikan dia mati sebelum sempat menulis ini, sepertinya pembunuh itu yang menulisnya. Aku yakin ini clue untuk tempat pembunuhan selanjutnya.

Lalu aku pergi ke kamar, aku melihat sesosok mayat wanita yang ususnya terburai dan seluruh anggota tubuhnya terpenggal, aku melihat polisi itu mencoba mencari bagian tubuhnya.

Lagi–lagi aku melihat segitiga terbalik dan angka 555. Di kamar itu terdapat kamar mandi, aku sangat mual saat masuk ke ruangan itu, apalagi saat masuk ke kamar mandinya, karena aroma amis darah saat membuka pintu kamar mandi itu langsung tercium, aku langsung ingin muntah saat melihat otak dan jantung beserta tubuh berserakan.

Aku melihat di kaca tertulis angka 4343. Apa ini kode? Aku melihat alamat yang sepertinya aku tahu kalau itu adalah gedung dari bekas pabrik yang sudah lama sekali tidak terpakai karena kebakaran, tapi gedung itu tidak pernah benar–benar terbakar karena tidak ada bekas terbakar di dalam gedung tersebut.

Aku keluar dari tempat itu dengan rasa sangat takut, aku menulis tanda segitiga terbalik termasuk angka 555 4343. Mungkin angka ini akan berguna nantinya. Aku sangat merinding setelah aku melihat sesosok bayangan melintas di depanku sebelum aku keluar dari rumah ini.

Tubuhku bergetar karena dia membisikan sesuatu, "Selamat datang di duniaku, kembaranku."

.

.

.

To Be Continued...


A/N: Setelah dibaca review yaa :D