Chapter 3
Lambang dan Ruangan
Hari ini aku di telpon oleh Dektektif Kaito untuk datang ke kepolisian, aku tidak tahu untuk apa dia memanggilku. Aku datang ke sana tanpa memberi tahu Ibuku, aku tahu sudah beberapa hari ini aku tidak masuk sekolah karena kasus ini, pihak kepolisian meminta izin kepada pihak sekolah agar aku bisa membantu memecahkan kasus ini. Anehnya pihak sekolah malah ingin aku enyah dari sekolah itu.
"Selamat pagi Len," Dektektif Kaito menyapaku.
"Pagi," Aku membalas.
"Ada apa kau memanggilku Dektektif Kaito? Apa ada clue baru?" Aku bertanya.
"Tidak ada, hanya kau harus mendengar cerita dari korban yang selamat ini," Dia menjawab.
"Ahhh, membosankan, mengapa aku harus mendengar penjelasan anak itu?" batinku.
"Baiklah, dimana anak itu?" Aku berkata sambil menuju suatu ruangan.
Ekspresi pertama yang aku lihat dari wajah anak itu adalah wajah ketakutan saat melihatku, ya, aku tahu kalau dia takut olehku karena pembunuhnya sangat mirip denganku. Jika ku ingat-ingat wajah keparat itu yang berbeda hanyalah pandangannya terhadap manusia, dia terlihat sangat menakutkan saat dia mulai membelah mayat.
Aku mencoba menenangkan anak itu, "Tenanglah aku Len Kagamine, kau tidak ingat aku? Aku tetanggamu dari perumahan nomor 5."
Sepertinya itu tidak ampuh, dia masih terlihat sangat ketakutan. Aku tertawa saat melihatnya seperti itu.
"Tunggu, apa yang terjadi? Fokus, kenapa aku tertawa? Kenapa aku merasakan sesutau yang aneh? Apa ini? Apa aku tertular penyakit ini? Penyakit Psikopat?" batinku.
Dektektif melihat tingkah lakuku yang aneh lalu menjauhkan diriku dari wanita itu, mungkin dia mengetahui kalau wanita itu semakin ketakutan. Aku menenangkan diriku di luar ruangan itu.
"Ada apa Len? Mengapa kau langsung berubah seperti itu?" Dektektif Kaito bertanya padaku.
"Entahlah, aku sedikit kurang enak badan karena memikirkan kasus ini," Aku menjawab.
Aku melihat seorang dektektif lain datang dan membawa minuman.
"Wah, pas sekali kau membawa minuman Akaito," Dia menyapa temannya.
"Hahahaha, aku melihat kalian terlalu tegang tadi, makanya aku membawakan minuman ini," Dia menjawab.
"Perkenalkan, dia temanku, Akaito," Dia memperkenalkan temannya.
"Aku Akaito, umurku 20 tahun, aku akan membantumu sebisaku untuk memecahkan kasus ini."
"Sebaiknya kau mundur dari kasus ini, jika kau terlibat kau akan berakhir seperti korban–korban yang termutilasi kemarin," Aku berkata.
Entah mengapa aku mengucapkan kalimat yang aneh itu. Aku melihat Akaito malah tertawa mendengar ucapanku.
"Hahahahaha, jika takdirku mati dengan cara seperti itu mau bagaimana lagi? Aku akan tetap memecahkan kasus ini," Dia menjawab.
Aku hanya terdiam.
"Wah wah, kalian baru kenal sudah sangat akrab, memang team yang kompak. Kau akan mendapat patner baru lagi Len, dan aku yakin kau pasti suka dengannya." Dektektif Kaito memecahkan keheningan.
"Dan satu lagi, jangan terlalu tegang menghadapi kasus ini, tetap rileks dan fokus, jangan sampai terpengaruh ya," Dia berkata.
"Apa kau tahu, kita menghadapi pembunuh keji yang brutal. Aku tidak yakin kita akan hidup sampai akhir kasus ini," Aku menjawab.
"Kau benar, tapi jangan di ambil pusing lah," Dia menjawab dengan santai.
Aku melihat Akaito juga tertawa.
"Apa ini lelucon? Jadi menurutmu pembunuh yang mengintai kita adalah badut sehingga kau tertawa?" Aku berkata.
Tiba–tiba terdengar teriakan dari ruangan wawancara. Kami langsung berlari memasuki ruangan itu, dan melihat pemandangan yang di luar dugaan. 4 polisi yang mengawasi korban selamat terbunuh dengan kepala terpenggal.
Aku melihat wanita itu sangat syok, dia menangis histeris.
"Apa yang terjadi? Jawab pertanyaanku," Aku bertanya.
Dia terdiam dan menangis.
"Mengapa kau hanya diam? Jawab pertanyaanku," Aku kembali bertanya.
"Sudahlah Len, dia syok, mana mungkin bisa menjawab dalam keadaan seperti itu," Dektektif Kaito menyela.
"Panggil ambulan cepat," Dektektif Akaito berkata kepada polisi yang berjaga di sana.
Keadaan semakin kacau, ini sangat gila, dimana pembunuhan terjadi pagi hari dan terjadi di tempat yang tak terduga.
"Ini kantor polisi, bagaimana dia bisa masuk? Bagaimana dia bisa keluar? Aku bahkan tidak melihatnya masuk ke ruangan itu, padahal ruangan wawancara dan kami berada saat itu hanya berjarak 5 meter," batinku berkata.
Aku membawa wanita itu keluar dari ruangan wawancara, aku melihat banyak sekali darah di bajunya. Dia masih terlihat syok, aku memberikannya minuman yang di bawa Akaito padanya.
"Apa kau tidak apa–apa?" tanyaku.
Dia hanya terdiam sambil memegang botol minumannya dengan erat. Aku tahu, ini seperti mimpi buruk baginya, dimana dia harus melihat keluarganya di bantai di depan matanya dan harus melihat lagi pembantaian yang terjadi di kantor polisi.
"Aku Kagamine Rin," Dia mengenalkan diri.
"Aku tahu, kan sudah aku bilang aku tetanggamu," Aku hanya menjawab dengan singkat.
"Aku minta maaf, aku tidak mengenalmu sebelumnya," Dia membalas.
"Kau tidak perlu meminta maaf, kau bisa ceritakan semua kepadaku ketika semua ini di atasai oleh polisi," Jawabku.
Dia terlihat tenang meski dia terkadang terlihat ketakutan, aku baru menyadari kalau dia ketakutan akan sesuatu, aku baru merasakan bahwa pembunuh itu masih berada di kantor polisi ini.
Aku mencoba menenangkannya, "Tenanglah, kau aman di sisiku, aku yakin dia tak berani menyentuhmu di saat kau bersamaku."
Dia terlihat tenang, dan wajahnya memerah. Dalam hatiku tertawa, aku tidak bermaksud menggodanya, aku pun ketakutan jika berhadapan langsung dengan pembunuhnya.
"Siapa namamu? Mengapa wajahmu mirip dengannya?" Dia memulai pembicaraan.
"Namaku Len, aku berumur 17 tahun tapi kau tidak perlu memanggilku kakak. Jadi kau membandingkan aku dengan pembunuh itu?" Aku menjawab sambil memperkenalkan diriku.
"Ohh, tidak, aku tidak bermaksud membandingkanmu. Aku minta maaf jika kamu tersinggung oleh ucapanku," Dia membalas.
Aku melihatnya mulai menangis, karena wajahku terlihat serius dalam berbicara dengan orang, mungkin dia pikir aku tersinggung oleh ucapannya.
"Hahaha, kau sangat lucu, mengapa kau meminta maaf? Aku tidak tersinggung oleh ucapanmu," Aku menjawab dengan tenang sambil mengelus kepalanya dan mengusap air matanya.
Kembali aku melihatnya tersenyum dan wajahnya kembali memerah. Dektektif Akaito dan Dektektif Kaito datang menghampiri kami.
"Sepertinya pembunuhnya masih di sini, tempat ini tidak aman Len, bawa dia ke ruang tamu. Timku akan datang membawa baju ganti untuk gadis itu," Dektektif Kaito berkata padaku.
"Baiklah, ayo kita pergi Rin," Aku lalu mengajak Rin pergi.
Tiba–tiba terdengar suara kegaduhan dari gudang.
"Pergilah Len, Aku dan Dektektif Kaito yang akan ke sana," Dektektif Akaito berkata lalu pergi.
Aku melihat beberapa polisi bersenjata lengkap pergi bersama dengan Dektektif Akaito dan Kaito. Aku dan Rin pergi ke ruang tamu, kami di sambut oleh tim Dektektif Kaito.
"Aku Kaiko, aku adiknya dektektif Kaito sekaligus timnya, jadi kau yang bernama Rin?" Wanita itu memperkenalkan dirinya.
Aku hanya melihat Rin mengangguk.
"Hihihi, kau lucu ya, ikut bersamaku, kamu harus ganti baju dulu," Kaiko mengajak Rin ke sebuah ruangan.
Aku di tinggalkan ber 2 dengan orang aneh berjubah ini.
"Jangan–jangan dia pembunuh nya, Kaiko tidak menyadari kalau orang berjubah itu di dekatnya, buktinya dia tidak memperkenalkan orang itu," batinku.
Aku ketakutan tetapi tetap berpikiran positif, mungkin saja Kaiko lupa. Dektektif Akaito dan Kaito pun datang, aku melihat beberapa polisi dan petugas keluar masuk ruangan ini dengan membawa 12 kantung mayat. Aku terheran–heran mengapa jadi 12?
"Hah, aneh sekali. Pembunuh itu sangat nekat membunuh para polisi dan staff-nya di markas polisi," Dektektif Kaito memulai pembicaraan.
"Ada apa? Mengapa menjadi 12 kantung mayat?" Aku bertanya.
"Di gudang terjadi pembunuhan lagi, 8 staff kebersihan terbunuh dengan cara yang sangat sadis, di setiap tubuh korban ditemukan gambar segitiga terbalik dan angka 555 di dahinya," Dektektif Akaito menjawab pertanyaanku.
"Lalu kegaduhan apa yang terjadi tadi?" Aku kembali bertanya.
"Itu kegaduhan box dan peralatan kebersihan terjatuh, mungkin itu cara pembunuhnya menarik perhatian agar para polisi tahu kalau di sana telah terjadi pembunuhan," kali ini Dektektif Kaito yang menjawab pertanyaanku.
"Oh yaa, apa kau telah bertemu adikku? Dimana dia sekarang? Mengapa kau sendirian?" Dektektif Kaito bertanya padaku.
"Sendiri? Tapi aku ber ..." Aku baru menyadari kalau aku sedirian di ruang tamu ini.
"Apa tadi itu hantu?" batinku. "Ahh sudahlah, mereka tadi ke ruang ganti mungkin, kan Rin sedang mengganti pakaiannya," kataku.
"Oooh, begitu," Jawab Dektektif Kaito singkat.
Aku jadi sangat merinding, mengapa orang berjubah itu hilang? Apa benar dugaanku? Jadi benar dia pembunuhnya yang mengintaiku? Aku memiliki perasaan buruk, aku harus ke ruangan itu. Lalu aku berlari ke ruang ganti, Dektektif itu tidak mencegahku tapi mereka terlihat heran dan mengejarku.
"Ada apa Len?" Akaito mencoba menghentikanku.
"Aku memiliki firasat buruk," jawabku singkat dan terus berlari ke ruangan itu.
Tanpa basa–basi aku lalu mendobrak pintu itu. Saat aku baru saja mau mendobrak pintu itu, aku melihat pintu itu terbuka dan di depannya adalah Rin yang membuka. Aku tidak bisa berhenti berlari.
"Ini sangat buruk, aku berlari terlalu cepat, pasti tabrakan nih," batinku.
Rin kaget, dia juga terlihat tidak bisa menghindariku. Aku menabraknya hingga terjatuh ke belakangnya.
"Wah–wah, kalian sangat romantis, ehh, kau ini masa di tinggal Rin sebentar saja langsung kangen begitu," Kaiko berkata.
"Ini tidak lucu," batinku. "Maaf Rin aku menabrakmu," Aku meminta maaf kepada Rin.
Aku tidak menyadari kalau Rin pingsan, mungkin aku menabraknya terlalu keras.
"Kau ini Len, kau sangat panik sekali," Dektektif Kaito menasihatiku.
Aku hanya terdiam.
"Kalau begitu angkat dia ke ruang tamu, aku akan mengambilkannya minum dan minyak gosok," Kaiko berkata lalu pergi.
Aku membawa Rin ke ruang tamu, tapi saat aku mengangkat tubuhnya aku melihat sebuah kalung segitiga terbalik dan di lengannya terdapat symbol yang aneh. Aku juga melihat Dektektif Akaito tertawa melihatku, hal yang sangat menjengkelkan sekali.
Kaiko pun tiba dengan membawa air kemasan dan minyak gosok. Kami mengobrol sambil menunggu Rin sadar, aku menanyakan kode yang ditemukan pada tubuh korban saat di gedung, tetapi dektektif Kaito hanya mengulang–ngulang perkataannya. Hingga Rin sadar tiba–tiba kantor polisi itu mati listrik, dan membuat keheningan.
"Huh, mengapa tiba–tiba listrik jadi padam? Apa ulah pembunuh itu?" Kaiko memecah keheningan.
"Mungkin ada pemadaman bergilir," Dektektif Akaito mencoba mencairkan suasana.
"Hahaha, mana mungkin listrik di kantor polisi ini bisa padam? Bukannya setiap kantor polisi memiliki cadangan listrik?" tanyaku.
"Ya, kau benar Len, kantor ini memiliki cadangan listrik. Ayo pindah ke apartemenku, di sini semakin tidak aman," Dektektif Kaito menutup pembicaraan.
Aku melihat Rin yang baru sadar kebingungan dengan pembicaraan kami.
Aku mencoba menenangkannya, "Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjagamu karena kau adalah harta berharga bagi tim ini."
Muka Rin memerah dan dia mulai salah tingkah, mungkin dia salah mengerti dari ucapan yang baru saja aku ucapkan. Dia memang harta berharga saat ini, karena dia lah yang tahu ciri–ciri lebih rinci pembunuhnya, dan hanya dia lah yang dapat mengundang pembunuh itu datang ke sarang polisi.
Kami berangkat dengan menggunakan mobil van, entah mobil itu milik siapa karena aku sangat malas menanyakannya, kami melewati sebuah gedung tua yang pernah terbakar, entah bagian mana yang terbakar yang pasti dari luar tidak terlihat seperti terbakar. Aku melihat gambar di sebuah jendela di gedung tersebut, dan gambar itu terlihat sangat familiar bagiku.
"Rin, coba kau lihat di jendela itu, ada sebuah lambang yang sangat mirip dengan kalungmu," ucapku sambil menunjukan lambang itu.
"Hmmmm, kamu benar Len," jawabnya singkat.
Aku melihat reaksinya yang singkat membuatku berfikiran kalau Rin berkaitan dengan pembunuh itu. Tapi sepertinya dugaanku salah, setelah aku melihat reaksinya yang singkat, aku melihat wajahnya sangat ketakutan.
Aku berusaha menenangkannya, "Maafkan aku, sepertinya aku menakutimu."
Rin hanya menggelengkan kepala. "Hmm, tidak kok."
"Apa kita perlu ke sana Len?" tanya Dektektif Kaito.
"Saat ini tidak, Dektektif. Terlalu berbahaya, kita tidak tahu apa yang menunggu kita di sana," jawabku.
Setelah itu aku melihat seseorang berada di jendela gedung itu, dan dia terlihat tersenyum padaku, aku merasakan bahwa orang itu menyadari bahwa aku sedang memantau gedung itu. Hal ini membuatku makin ketakutan jika memikirkan kalau clue selanjutnya adalah gedung itu.
Kami sampai ke apartemen dimana tempat Detektif Kaito tinggal.
"Len, kau harus tahu, tempat ini bukan hanya aku yang tinggal. Di sini juga tempat Kaiko tinggal loh," Dektektif Kaito memulai pembicaraan.
"Aku tidak peduli, yang pasti tempat ini aman, kan?" jawabku singkat.
"Hahahahaha," semua di mobil itu tertawa.
Kami menuju parkiran mobil dan langsung menuju ruangan Dektektif Kaito. Apartement ini terdiri dari 12 lantai dan yang aku dengar kalau kamar Dektektif Kaito berada di lantai 5, setiap ruangan di sini di beri nomor awal berdasarkan lantainya.
"Jadi dimana kamarnya?" tanyaku.
"516," jawab Dektektif Kaito singkat.
"Aku ke ruanganku dulu, mengambil beberapa cemilan," ucap Kaiko lalu pergi.
"Huh, anak itu, apa dia tidak takut yah, padahal bisa saja pembunuhnya berada di ruangannya," celoteh Dektektif Kaito.
Sebelum sampai ke ruangan Dektektif Kaito, aku melihat lambang segitiga terbalik lagi di sebuah pintu masuk seseorang yang berjarak 3 blok dari ruangannya. Apakah tempat itu adalah tempat pembunuhnya?
Aku menanyakan sejak berapa lama lambang itu berada kepada Dektektif Kaito, tapi dia hanya menjawab bahwa itu hanya lambang biasa, dan tidak ada kaitannya dengan kasus ini, karena kasus ini beberapa hari terakhir banyak orang menggambarkan segitiga terbalik di depan pintu rumahnya agar pembunuh itu tidak masuk. Aku tidak terlalu tahu apa cara itu benar–benar ampuh atau hanya hoax belaka, yang pasti setelah lambang itu terekam di salah satu kamera yang meliput kejadian itu, banyak masyarakat yang membuat lambang itu menjadi penangkal pembunuhnya.
"Memang dia setan, dengan menggambar lambang seperti ini bisa menangkalnya. Aneh–aneh saja," ucapku dalam hati.
Kami masuk ke ruangan Dektektif Kaito.
"Anggap saja seperti rumah kalian," kata Dektektif Kaito sambil tersenyum pada kami.
Di luar tiba–tiba cuaca mendung, dan aku merasakan merinding yang luar biasa. Aku merasa seperti ada yang mengincar kami, aku sangat kaget karena tiba–tiba listrik padam. Aku langsung berinisiatif untuk melindungi Rin, karena aku khawatir Rin adalah targetnya.
"Jangan jauh–jauh dariku Rin," kataku.
Dia hanya mengangguk.
"Pegang revolver ini Len, arahkan ke badan atau kaki, jika kau bisa tembak saja kepalanya. Aku dan Dektektif Akaito akan memeriksa ke luar sambil mencari penerangan," kata Dektektif Kaito sambil memberikan aku sebuah senjata.
Tiba–tiba petir menyambar membuat kaget semua orang, aku mendengar seluruh blok di apartemen ini teriak. Dektektif Kaito langsung lari keluar dan mencari adiknya karena takut terjadi apa–apa dengan adiknya.
Aku melihat Akaito kebingungan sekali, ruangan semakin gelap, aku berinisiatif membuka tirai jendela dan pintu agar cahaya bisa masuk. Seperti sudahku duga, orang–orang memilih menunggu listrik nyala di luar daripada di dalam ruangan, ya, aku mengerti karena mereka takut akan kegelapan semenjak pembunuh itu meneror orang–orang dari kegelapan.
"Dimana Dektektif Kaito, mengapa lama sekali, apa dia baik–baik saja?" kata Dektektif Akaito.
"Entahlah, aku tidak berani ke luar, jangan jauh–jauh Rin," aku menjawab.
Aku sangat khawatir dengan mereka berdua, karena sudah 15 menit Dektektif Kaito dan Kaiko belum datang ke sini. Aku juga khawatir dengan Rin, jika aku tinggal dia dengan Dektektif Akaito, aku takut kalau pembunuhnya datang dan menghabisi mereka berdua. Aku hanya bisa berdoa kalau mereka berdua datang ke tempat ini dengan selamat.
Di luar semakin gaduh, banyak orang berdoa karena badai juga semakin ganas hingga merobohkan beberapa pohon, aku tidak melihatnya tapi aku mendengar suara seperti pohon tumbang.
"Sudah 30 menit, tapi mereka belum datang," Dektektif Akaito memulai pembicaraan.
"Iya aku tahu, tapi kita harus bagaimana lagi? Berharap baik lah semoga mereka datang dengan selamat," jawabku.
Aku semakin khawatir dengan mereka, lalu aku berinisiatif untuk mencari mereka dengan membawa Dektektif Akaito dan Rin juga.
"Bagaimana kalau kita mencari mereka? Tapi ingat jangan berpencar," kataku.
"Baiklah," jawab Dektektif Akaito.
Aku melihat Rin sangat takut dan juga terlihat sangat tegang, hal yang sama terlihat dari wajah Dektektif Akaito.
"Sudahku bilang, kau jangan ikut–ikutan dengan kasus ini Dektektif Akaito. Kau terlihat seperti wanita ketakutan," ejekku.
Dia tidak berkata apa–apa. Saat kami mau melangkah mencari mereka, tiba–tiba ada suara dari halaman ruangan Dektektif Kaito.
"Aku akan memeriksanya, jaga Rin," kataku kepada Dektektif Akaito.
Akaito langsung mengeluarkan senjatanya untuk berjaga–jaga, aku juga mengeluarkan revolver yang di berikan Dektektif Kaito kepadaku. Aku melihat bayangan dari tirai halaman belakang apartemen ini, aku berusaha tetap tenang agar aku bisa fokus menembak.
Aku melihat Dektektif Akaito dan Rin mengikutiku dari belakang.
"Mengapa kalian mengikutiku?" tanyaku.
"Kata kau tadi kita harus bersama, jadi kami mengikutimu," jawab Dektektif Akaito.
"Hah, bilang saja kau takut," ejekku kepada Dektektif Akaito.
"Masa lebih berani aku daripada kau, hahaha," lanjutku.
"Heh, sudahlah fokus sana," celoteh Dektektif Akaito kepadaku.
Aku ingin tertawa saat melihat ekspresi ketakutan mereka, padahal saat di kantor polisi tadi Dektektif Akaito sangat percaya diri. Aku melanjutkan perjalanan menuju halaman belakang, tiba–tiba terdengar suara dari dapur.
"Ups, maaf, aku menyenggol sesuatu," kata Dektektif Akaito.
"Kau tahu, kau baru saja membuatku kaget, hampir saja senjata ini ku tembakan ke tirai itu," kataku.
Aku mengintip dari jendela. "Sepertinya tidak ada apa–apa," batinku.
Aku membuka pintu halaman belakang dan berharap tidak terjadi apa–apa, aku sudah memkirkan hal aneh–aneh yang membuatku parno untuk membuka pintu itu, tapi aku harus memeriksanya.
Jantungku berdetak sangat hebat, aku membukanya dan menodongkan ke segala arah saat aku masuk ke ruangan itu. Aku tidak melihat apa–apa, hanya tumbuh–tumbuhan yang sangat tidak penting dan bangkai kucing hitam yang tergorok kepalanya.
"Hah, ternyata dia banci juga memiliki kebun di sini," ejekku.
"Tunggu, bangkai kucing?" Aku kembali menatap bangkai kucing itu.
"Hei, apa kau tidak apa–apa Len?" tanya Dektektif Akaito.
"Aku baik–baik saja, kemarilah karena di sini cukup terang," jawabku.
Lalu mereka berjalan menuju tempatku.
"Huhft, aku sangat ketakutan," Rin memulai pembicaraan.
"Kau tenang saja Rin," jawabku.
Jika aku pikir–pikir, aku juga sangat takut. Jika aku bisa lari, aku ingin lari dari kasus ini. Aku sudah muak dengan kasus ini.
"Woow, bangkai kucing? Apa ini clue?" tanya Dektektif Akaito.
"Entahlah," jawabku.
Tidak berselang beberapa lama aku mendengar suara teriakan orang dari 3 blok dari ruangan Dektektif Kaito, saat itu juga listrik tiba–tiba menyala.
"Sepertinya listrik sudah menyala, apa kau mendengar teriakan orang?" tanyaku.
"Aku tidak mendengar apa–apa Len," jawab Dektektif Akaito.
Rin membenarkannya, apa ini hanya perasaanku? Mungkin saja karena aku terlalu berfikiran aneh–aneh.
"Baiklah listrik sudah menyala, mari kita cari Dektektif Kaito dan Kaiko," ajakku.
"Oke," jawab Dektektif Akaito.
Aku berlari menuju pintu depan, tiba–tiba ada seseorang yang membuka pintu, dan itu membuatku kaget setengah mati.
"Maaf membuat kalian lama menunggu," Dektektif Kaito dan Kaiko berkata lalu masuk.
"Hey, apa kau gila? Kau nyaris membuat jantungku berhenti," teriakku.
"Hahahaha, maaf Len, aku tidak tahu kalau kau ingin membuka pintu," jawab Dektektif Kaito singkat.
"Syukurlah kalian tidak apa–apa," Rin berkata sambil menangis.
"Maaf ya Rin dan juga maaf buat kalian karena jadi menghawatirkan kami," Kaiko mencoba menenangkan suasana.
Aku hanya melihat Dektektif Akaito diam seribu bahasa.
"Mengapa kau lama sekali Dektektif Kaito?" tanyaku.
"Aku mencari adikku, saat aku sudah bertemu dia, dia mengajaku untuk ke generator listrik yang berada di lantai bawah. Kau tahu kan kalau listrik padam jadi kami melewati tangga," jawabnya.
"Apa di lantai bawah baik–baik saja?" tanyaku lagi.
"Ya, kau lihat sendiri bukan, butuh waktu beberapa menit untuk menyalakannya. Aku tidak bisa bekerja sendirian, dan aku takut memperburuk generator tua itu, jadi aku telpon petugas listrik dan menunggunya datang," jawab Dektektif Kaito.
"Lalu mereka datang dan memperbaikinya, aku khawatir dengan kalian jadi kami memutuskan untuk ke ruanganku lagi. Eh ternyata saat sampai di lantai 5 ini listrik menyala dan kau berteriak saat aku membuka pintu," lanjutnya sambil tertawa.
"Hhhmm, generatornya rusak?" tanyaku lagi.
"Mungkin," jawab Dektektif Kaito singkat.
"Ini sulit di percaya kalau generator tua rusak dengan sendirinya, jika karena pemakaian harusnya generator itu meledak bukan?" Aku berusaha menganalisis.
"Sebentar, mungkin perkataanmu ada benarnya, tetapi mungkin sajalah," jawab Dektektif Kaito.
"Biasanya generator itu di pagari bukan?" tanyaku lagi.
"Ya," jawab Dektektif Kaito singkat.
"Apa kau melihat pintu masuk generator itu rusak? Atau seperti disengaja dirusakan?" tanyaku.
"Saat kami sampai di lantai bawah, aku yang pertama membukanya. Memang aneh karena pintu itu sepertinya sudah terbuka," jawab Kaiko.
"Berarti ini ulah seseorang, dan sengaja merusaknya," batinku.
Tiba–tiba aku merasakan hal buruk akan terjadi, aku menyuruh Dektektif Kaito dan Kaiko pergi ke lantai bawah untuk memastikan petugas listrik itu, dan menanyakan penyebab utama listrik ini padam.
Aku melihat Dektektif Kaito kebingungan, akan tetapi dia mengangguk.
"Sebentar, aku mengambil P90-ku dulu, untuk berjaga–jaga," Dektektif Kaito berkata dan mengambil senjata yang berada di box di bawah tempat tidurnya.
"Kau memiliki senjata berat?" tanyaku kaget.
"Ini tidak berat kok," jawabnya singkat sambil tertawa.
"Pegang ini Kaiko, buat jaga–jaga." Dia memberikan AK 47 kepada Kaiko.
"Kak, ini berat, mengapa kau tidak memberikan P90 itu saja," celoteh Kaiko.
"Ini benar–benar gila, dari mana kalian mendapatkan senjata itu?" tanyaku kaget.
Aku hanya melihat Dektektif Kaito tertawa sambil berkata, "Tidak perlu tahu kau dapat dari mana senjata ini, yang pasti jaga revolverku, jangan sampai hilang yah. Cadangan peluru ada di lemariku," jawabnya.
"Kami berangkat," lanjutnya.
Aku dan Dektektif Akaito hanya bisa terdiam, sedangkan Rin sangat terpana dengan senjata yang dikeluarkan Dektektif Kaito. Aku juga mendengar beberapa orang teriak kaget dengan mereka, karena mereka keluar dengan membawa senjata.
Aku mendengar dari jauh, "Tenanglah aku ini polisi."
Kami menunggu jawaban dari mereka.
"Ini sudah 10 menit, mereka belum memberikan kabar. Apa karena aku tidak mengatakan untuk memberi kabar, jadi mereka tidak memberi kabar," batinku.
Aku merasa gelisah, dan aku mengingat kalau aku mendengar teriakan dari kamar yang berada 3 blok dari ruangan ini. Aku mengajak Dektektif Akaito dan Rin untuk ikut bersamaku mengecek ruangan itu. Aku melihat mereka kebingungan tapi mereka mengangguk.
Kami keluar dan menuju ruangan itu, aku mengelurakan senjata untuk berjaga–jaga. Kali ini tiba–tiba jantungku benar–benar berdebar–debar. Aku membuka pintu itu dan sangat kaget dengan apa yang aku lihat. Rin teriak ketakutan dan aku melihat Dektektif Akaito sangat tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Cepat telpon polisi dan ambulan Dektektif Akaito," teriakku.
Tanpa basa–basi Dektektif Akaito langsung menelponnya. Ini benar–benar gila, pemandangan ini membuatku sangat merinding sekali. Sebuah kepala terpenggal tertancap paku di dinding dan seluruh wajahnya sudah di kuliti dengan otak yang terburai. Tubuhku bergetar hebat.
"Rin!" Dektektif Akaito berteriak dan mencoba merangkul Rin.
Aku melihat Rin tidak kuat dengan pemandangan ini, dia tidak sadarkan diri. Aku melihat sebuah lambang segitiga terbalik yang di lukis dengan darah, di ujungnya aku melihat lengan yang dipaku dengan besi, dan di bagian bawah adalah kaki yang terpaku. Di tengah–tengah gambar itu adalah kepala yang sudah di kuliti tadi.
Aku melihat korban lainnya yang terlihat utuh.
"Mungkin dia masih hidup, atau dia yang teriak tadi," batinku.
Aku mendekatinya, saat aku membalik tubuhnya, aku langsung melompat sekitar 1 meter dari tubuh itu, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat.
"Ada apa Len? Aku sudah menelpon Dektektif Kaito, katanya dia juga sudah menelpon ambulan dan juga polisi," Dektektif Akaito berkata.
"Jadi di lantai bawah..." Aku berucap terbata–bata.
"Ada apa Len?" tanya Dektektif Akaito.
"Mayat ini sangat mengerikan Dektektif Akaito," Aku menjawab sambil bangun dari tempatku.
Aku melihat Dektektif Akaito menggendong Rin dan berjalan mendekatiku. Dia terlihat sangat kaget juga saat melihat mayat ini.
Aku sangat heran, lehernya digorok akan tetapi dari belakang tidak terlihat, dan tidak ada bekas darah juga di lantai tempat mayat itu. Ini aneh karena jika itu leher yang tergorok seharus nya ada bercak darah. Saat aku membaliknya aku melihat tubuhnya membiru dan matanya melotot. Aku kembali mendekatinya dan melihat lambang besar di tubuhnya dan melihat sebuah kertas.
"Sebuah surat?" teriakku.
.
.
.
To Be Continued...
A/N: Maaf kalau update-nya lama.
Butuh kritik dan saran untuk melanjutkan chap selanjutnya.
Jangan baca saja ya, review juga.
