Holla ! :*
Cie cieee, akhirnya ada yg review :v -_-
Oke, oke, disini author berusaha ngelanjutin cerita ane yg terbengkalai -_-
.
.
.
.
.
Anak tersebut mendongak menatap Light.
Sementara disisi lain Light malahan menjadi gemetar sedikit ketika mata kelam sang anak menatapnya dengan tegas. Aura kedewasaan menguar dari mata tersebut. ' Apa – apa an ini ? kenapa dia tampak seperti orang dewasa ? huh ' batin Light
" Tuan bertanya siapa saya ? " anak itu memiringkan sedikit kepalanya, memberikan tatapan menyelidik yang cukup membuat ngeri Light.
" Ummhh, oke, jangan panggil saya 'Tuan'. Panggil saja Light… " Light melarang anak itu memanggilnya dengan sebutan 'Tuan' karena Light merasa tidak nyaman dan panggilan itu membuatnya terkesan lebih tua dari umurnya. Hei ! hei ! Walaupun seorang KIRA , Light baru berumur kurang lebih dua puluh tahunan ! jadi jangan salah kira ya.
" Kan memang fakta bahwa anda lebih tua dari saya " jawab anak itu polos.
" Yaa, itu aku juga tahu ! Yang penting jangan panggil aku 'Tuan' " tegas Light sambil sedikit merengut.
" Oh, sudahlah.. Jangan dipermasalahkan,… siapa namamu ? " Light kembali mengulang pertanyaan yang tadi sempat terabaikan gara – gara debat tidak penting soal panggilan tadi.
Anak itu diam saja. Diam, diam, dan terus diam.
Ketika Light mulai sebal karena didiamkan, anak itu berkata " Light, tuan, atau.. siapapun anda,, anda tidak perlu tahu nama saya.. " kata si anak dingin.
Wajah Light sedikit memerah karena menahan kesal. Light mati – matian menahan keinginan tangan nya yang rasanya mulai gatal ingin menggunakan Death Note saat ini juga. Tentunya hanya akan bisa dilakukan Light jika Light tahu nama anak keras kepala ini.
" Hufftt.. " Light memejamkan mata sejenak. ' Tenang dia hanya anak – anak '.
" Oke, baiklah dimana orangtua mu ? Biar aku mengantarkanmu pada mereka " Light celingak – celinguk kesekelilingnya, berharap menemui orangtua – orangtua atau siapapun yang sedang kebingungan mencari seorang anak.
" Tidak… " jawab anak itu lirih. Light menoleh dan terkejut melihat mata sang anak sedikit dihiasi air mata. ' Oh, Kami – sama ! apa salahkuuu ?! ' Light mengira dirinya lah yang menyebabkan sang anak menangis kembali.
" Ja.. Jangan menagis " Light dengan ragu menghapus air mata sang anak.
" tidak, tidak… " sang anak menggelengkan kepalanya.
" Saya.. tidak mempunyai… orang tua " anak itu menunduk.
Light membulatkan matanya. Jadi… jadi…. anak ini….
.
.
'Ya Tuhan.. dia yatim piatu…' hati Light merasa iba mendengar perkataan anak itu.
Light menarik anak itu dalam pelukkannya ketika anak itu kembali menangis mungkin karena rindu kepada orangtua nya. Light hanya ingin membuat anak itu merasa nyaman dan aman, walau tanpa kedua orangtua nya, walau hanya sendiri.
Karena.. Karena Light tahu bagaimana rasanya ditinggal orang yang dikasihi.
Ketika Light ditinggal pergi ayahnya, dan juga KETIKA LIGHT DITINGGAL L !
Light sadar mereka berdua, mereka – mereka yang Light kasihi tak akan kembali. Ketika itulah Light juga merasa kesepian, merasa sendirian.
Sekarang Light hanya ingin mencoba mengurangi derita anak kecil malang itu.
.
Beberapa menit setelah itu, sang anak mulai tenang. Light melepaskan pelukannya.
.
" Kumohon, ceritakan apa yang terjadi, aku akan membantumu sebisaku, percayalah.. " Light menatap anak itu lembut.
.
.
TBC :')
Wahahaha, kapan2 saya akan update lagi ya #moga-moga
Maap typo yang bertebaran :D moga nyambung
Lope u rider, saranghae :*
