Chapter 4
Teman Baru dan Kematian
Aku tidak berani mengambil surat itu, aku langsung mengambil langkah mundur dan menjauhi jasad itu. Tidak berselang lama Dektektif Kaito dan Kaiko kembali ke tempat kami. Dektektif Kaito menceritakan kalau di lantai bawah telah terjadi pembunuhan, seluruh petugas listrik terbunuh mengenaskan, Dektektif Kaito juga menjelaskan bahwa dia menemukan sebuah clue.
Dektektif Kaito bertanya, "Apa yang terjadi di tempat ini?"
Sepertinya Dektektif Kaito dan Kaiko baru menyadarinya.
"Seperti yang kau lihat, di sini terjadi pembunuhan juga," Aku menjawab.
"Aku sudah menelpon Polisi dan Ambulan, mereka sedang menuju kemari," Akaito berkata.
Lalu tidak terlalu lama aku mendengar suara sirine.
"Sepertinya mereka sudah datang," gumamku.
"Apa yang kau temukan di kamar ini, Len?" tanya Dektektif Kaito.
"Mayat, lambang aneh, dan sebuah surat," jawabku singkat.
"Biar aku periksa," Dektektif Kaito berkata lalu masuk ke ruangan.
Aku melihatnya sudah menggunakan sarung tangan khusus. Akaito dan Kaiko membawa Rin ke dalam ruangan kamar Dektektif Kaito sedangkan aku membantu Dektektif Kaito menyisir lokasi. Di saat aku menyisir lokasi, aku mencium bau yang sangat tidak enak dari kamar mandi, bau ini membuat bulu kudukku merinding. Aku memanggil beberapa polisi dan Dektektif Kaito untuk mengecek ke dalam kamar mandi.
"Sepertinya kamar mandi ini terlihat terkunci dari dalam," kata seorang petugas kepolisian.
"Bawa masuk tim spesialis ke sini," Dektektif Kaito menyuruh bawahannya memanggil tim lain.
Aku melihat ada 1 regu yang berjumlah 5 orang masuk ke ruangan, mereka menggunakan perlengkapan yang lengkap dan mempersenjatai diri mereka dengan MP7.
"Sepertinya ada orang di dalam," bisik Dektektif Kaito kepadaku.
"Apa kau yakin?" tanyaku.
"Ya aku sangat yakin," jawab Dektektif Kaito singkat.
Tiba–tiba ada ledakan keras di lantai bawah dan terdengar suara tembakan.
"Apa yang terjadi?" seorang pasukan berteriak.
Tiba–tiba listrik padam di ruangan ini. Aku memiliki firasat buruk dengan ini, aku melihat Dektektif Kaito keluar dengan membawa senjata P90-nya dan berlari ke lantai bawah tempat terjadinya ledakan.
Aku keluar ruangan dan melihat Dektektif Akaito juga sudah mempersiapkan dirinya dengan senjata yang diberikan Kaiko, aku berlari mendekatinya.
"Ada apa ini?" tanya Dektektif Akaito.
"Entahlah, dimana Rin dan Kaiko?" jawabku.
Lalu aku melihat Rin yang sudah sadar keluar bersama Kaiko.
"Di dalam gelap jadi kami keluar," Kaiko berkata.
Tiba–tiba ledakan besar dari ruangan yang berada 3 blok dari ruangan ini atau tepatnya tempat ditemukannya surat itu. Kami semua terpental cukup jauh. Aku bangkit dari tempatku dan mencari Rin. Aku takut dia terpental jauh dan terluka parah.
"Rin... Rin... dimana kau?" Aku berteriak.
Koridor ini semakin gelap, hanya cahaya dari jendela yang masuk menerangi koridor ini.
"Cough, cough, ada apa ini?" Dektektif Akaito bangkit dan berkata.
"Dektektif Akaito, apa kau tidak apa–apa?" tanyaku.
"Sepertinya aku tidak apa–apa, dimana Rin dan Kaiko?" jawab Dektektif Akaito.
Tiba–tiba aku mendengar teriakan meminta tolong.
"Tolonggg... Tolongggg..." teriakan seseorang.
Aku dan Dektektif Akaito berlari ke sumber suara. Aku melihat Rin digendong oleh seseorang dengan menggunakan jubah hitam.
"Lepaskan dia," teriakku.
Aku melihat Akaito hanya terdiam, sepertinya dia belum mempersiapkan dirinya untuk berhadapan dengan pembunuhnya.
"Selamat datang di duniaku kembaranku," kata orang misterius.
"Sepertinya aku belum mengenalkan namaku, namaku adalah Len," Dia membuka jubahnya.
"Tii-tidakk mungkin, kaauu.." Aku berkata terbata–terbata.
"Len, hati–hati. Dia mencoba mempengaruhimu," Dektektif Akaito mencoba menyadarkanku.
"Tolong aku, tolong aku Kak," Rin berteriak.
"Hhhmmm, sepertinya kamu lupa Rin, aku membiarkanmu hidup agar aku dapat menggunakanmu," kata dia yang berwujud sepertiku.
"Sepertinya sudah saatnya menggunakanmu, kau sangat mempesona hari ini," pembunuh itu berkata sambil menjilat pipi Rin.
"Lepaskan aku keparat," Rin berontak.
Aku tidak bisa melakukan apa–apa, tiba–tiba tubuhku tidak bisa ku gerakan.
"Ada apa kembaranku? Sepertinya kau terlihat sangat lelah. Hahahahahaha," Kembaranku berkata.
"Kau hanya punya waktu sampai pukul 12 malam untuk menyalamatkan wanita ini Len, aku menunggumu di gedung tua bekas pabrik itu, jika kau tidak datang aku akan benar–benar menggunakan anak ini, hahahahaha," Pembunuh itu berkata lalu pergi.
Aku berusaha bergerak.
"Dektektif Akaito, berikan besi yang ada di sebelahmu," Aku berkata.
Lalu Dektektif Akaito melemparkan besi yang cukup panjang dan sangat pas, ujungnya lancip. Tanpa basa–basi aku melemparkan besi itu ke arah pembunuh yang serupa denganku. Akan tetapi refleknya sangat baik, dia menangkap besi itu lalu melemparnya balik.
Aku berhasil menghindar, tapi aku baru menyadari bahwa targetnya bukan aku, akan tetapi Dektektif Akaito.
"Dektektif Akaito, menghindar!" Aku berteriak.
Tapi itu terlambat, aku melihat besi itu sudah tertancap di dada Dektektif Akaito, lalu Dektektif Akaito jatuh tersungkur.
"Tiidaak! Tidaaak! Kaauuu!" Aku menjerit histeris.
"Lagi–lagi kau membuat kesalahan kembaranku, hahahahahaha," Dia berkata lalu pergi.
Aku sangat tidak percaya ini, ini terjadi sangat cepat. Aku sangat lebih tidak percaya kalau pembunuh itu mirip denganku, atau dia adalah aku? Sisi lain dariku? Pandanganku semakin kabur, siapa aku? Aku ini apa? Apa...
Tiba–tiba aku tersadar di sebuah ruangan. Entah ruangan apa ini. Pandanganku masih kabur, aku hanya melihat cahaya putih yang membuatku pusing. Aku mendengar suara.
"Kau sudah sadar rupanya," Seseorang berkata padaku.
"Dimana aku?" Aku bertanya.
"Tenangkan dirimu," Seseorang berkata kembali.
"Suara ini? Sepertinya aku kenal," batinku berkata.
Aku tersadar bahwa aku sedang di rumah sakit sekarang.
"Bagaimana keadaanmu Len?" Dektektif Kaito bertanya.
"Ternyata benar suara itu adalah kamu Dektektif Kaito," jawabku.
"Sepertinya aku sudah membaik," lanjutku.
Aku teringat sesuatu tentang Dektektif Akaito, lalu aku bertanya kepada Dektektif Kaito.
"Akaito, bagaimana keadaan Dektektif Akaito?" Aku bertanya.
"Sudahlah tenangkan dirimu dulu, nyawa Dektektif Akaito tidak dapat diselamatkan. Besi itu menembus jantungnya," jawab Dektektif Kaito.
"A..e...e... Agghh, kenapaa? Kenapaa?" Aku histeris.
Aku tidak percaya kalau Dektektif Akaito telah tewas, kejadian itu sangat cepat, aku baru mengenalnya 1 hari, dan dia mati? Mengapa pembunuh itu selalu mengambil teman–temanku? Mengapa aku harus melihat teman–temanku terbunuh? Mengapa aku tidak bisa menyelamatkan mereka semua. Tiba–tiba aku teringat sesuatu.
"Jam berapa ini?" Aku bertanya.
"Ada apa Len, tenangkan dirimu, masih ada hari esok untuk kita kerjakan," Dektektif Kaito mencoba menenangkan diriku.
"Jangan kau alihkan pertanyaanku, jam berapa ini?" Aku berkata membentak.
"Heh, baiklah, sekarang pukul 8 malam. Sekarang istirahatlah," jawab Dektektif Kaito
"Tenang? Tenang? Dimana Rin sekarang?" Aku kembali bertanya.
"Kau terlihat seperti orang tidak waras, tenangkan dirimu Len, Rin belum di temukan setelah ledakan tersebut, adiku Kaiko sedang menyisir lokasi dan mengirimkan beberapa mata–matanya untuk mencari jejak pembunuh itu," Dektektif Kaito menjawab.
Aku mengingat sesuatu.
"GEDUNG TUA, GEDUNG TUA ITU!" Aku berteriak.
"Kau akan membuat seluruh pasien bangung Len, tenangkan dirimu, ada apa dengan gedung tua?" Dektektif Kaito mencoba menenangkanku.
Aku melihat Dektektif Kaito mengatakan kepada bawahanya untuk membawakan sesuatu. Aku melihat seseorang masuk dengan membawa suntikan.
"APA ITU?!" teriakku.
"Itu hanya obat penenang," jawab dokter itu.
"Kau bohong," kataku.
Tanpa basa–basi aku melepas selang infusku.
"Len apa yang kau lakukan?" Dektektif Kaito mencoba menenangkan diriku.
"Shsshshhs, kau mau menipuku? Itu obat bius," Aku menjawab.
Aku merasa semakin gila.
"Apa yang terjadi padamu Len? Sadarlah," Dektektif Kaito mencoba menenangkan diriku.
"Aku harus menyelamatkan Rin, enyahlah," Aku menjawab.
"Tenanglah, Rin besok pasti ditemukan, sekarang kau harus istirahat dulu," Dektektif Kaito menahan ku untuk pergi.
"TENANG KATAMU? HAHAHAHA," Aku berkata.
Aku merasakan gejolak yang gila, apa ini? Perasaan ini? Dektektif Kaito mengekang lenganku.
"Cepat Dok," Dektektif Kaito memberi isyarat untuk menyuntikan bius itu.
"KAU, argh!" Aku memberontak.
Aku membanting Dektektif Kaito ke depan, lalu menyerang Dokter itu.
"Len, ada apa denganmu?" Dektektif Kaito mencoba menghentikanku.
"Maafkan aku Dektektif Kaito, tapi aku harus pergi, pergi ke gedung tua itu," jawabku.
Aku berlari menyusuri koridor, aku menggunakan tangga darurat agar aku tidak terlihat oleh polisi yang berjaga, dan menggunakan pintu darurat untuk keluar dari rumah sakit itu. Aku tahu tindakanku salah, aku melihat dari kejauhan Dektektif Kaito menyuruh bawahanya untuk mencariku. Aku juga melihat Dektektif Kaito sedang berbicara dengan adiknya.
Aku berlari menjauh dari rumah sakit itu dan pergi menuju gedung tua itu.
Setelah aku sampai di gedung tua itu aku melihat seseorang menggunakan jubah.
"Sepertinya aku pernah melihatnya," Aku bergumam sambil mengingat.
"Dia orang misterius yang berada di kantor polisi itu, dari jubahnya dia juga mirip dengan jubah pembunuh keparat itu," celotehku.
Tanpa berpikir panjang aku mencari senjata tajam di sekitar situ, aku menemukan sebuah besi panjang.
"Cukup untuk melumpuhkannya," gumamku.
Aku berlari menerjang orang misterius itu, tapi dia sangat lincah, dia melihatku saat aku menyerangnya, dia bergerak menghindariku dan menendang wajahku. Aku jatuh tersungkur dan berusaha bangkit lalu menyerangnya lagi.
"Kena!" dalam hatiku.
Seranganku kali ini mengenai wajahnya.
"Ternyata seranganku terlalu lemah," ucapku.
Aku melihatnya sedang membersihkan darah dari bibirnya.
"Kenapa kau serang aku," kata orang misterius itu.
Aku terkejut ternyata dia seorang wanita.
"Kau.., kau bukan pembunuh itu?" ucapku.
"Menurutmu aku ini siapa? Seenaknya kau memukulku. Apa kau Len?" ucap wanita misterius itu.
"Kau mengenalku?" Tanya ku.
"Tidak juga, tapi namamu cukup terkenal di kalangan polisi," jawab wanita misterius itu.
"Kau polisi? Apa kau ingin menangkapku?" tanyaku lagi.
"Untuk saat ini, aku hanya di tugaskan untuk mencari wanita berambut kuning itu. Aku mata–mata yang di kirim ke gedung ini, Kaiko menyuruhku karena dia mendengar darimu kalau pembunuh itu berada di sini," jawabnya.
"Aku tidak mengatakan pembunuhnya berada di sini, aku hanya berkata aku akan ke gedung ini untuk menyelamatkan Rin, kau sendiri ke gedung ini? Kau cukup pemberani, apa kau tahu pembunuh yang kau hadapi telah membunuh banyak orang? Dia psikopat sadis, dan tidak segan untuk membunuh," kataku.
"Aku tidak sendiri, aku tau tentang pembunuh itu, aku ke gedung ini bersama 5 orang lainnya, 5 orang itu sudah masuk ke gedung itu. Sudah 2 jam dari mereka pergi dan aku tidak mendengar kabar apa pun dari mereka," jawabnya.
"2 jam, jam berapa sekarang?" tanyaku.
"Jam 10 malam, memang kenapa?" jawabnya sambil bertanya.
"Sial aku harus masuk ke gedung itu," kataku.
"Baiklah ayo kita masuk," katanya dengan tenang.
"Kau tidak menghalangiku? Siapa namamu?" tanyaku.
"Buat apa aku menghalangimu? Tugasku adalah memata–matai tempat ini dan menangkap pembunuhnya. Namaku Hatsune Miku, kau bisa memanggilku Miku," jawabnya.
"Aku Len," kataku memperkenalkan diri.
"Aku sudah tau, mengapa kau mengenalkan diri lagi?" jawabnya.
Aku melihat wajahnya sudah mulai jengkel dengan ucapanku.
"Maaf," kataku.
Kami berjalan masuk menuju gedung itu. Entah mengapa aku merasa seperti sedang diawasi.
"Aku merasakan ada orang yang mengawasi kita," kataku.
"Hati–hati saja, saat aku menunggu mereka ber-5 aku mendengar teriakan seseorang dari gedung ini," jawabnya.
"Apa kau takut?" tanyaku.
"Tentu tidak, aku sudah terbiasa dengan mayat sejak aku kecil, bahkan ruanganku penuh dengan mayat," jawabnya.
"Apa kau bergurau?" tanyaku.
Dia hanya diam.
Tiba–tiba aku melihat bayangan yang berlari ke sebuah ruangan. Aku berniat mengejarnya.
"Aku melihat bayangan!" teriakku sambil mengejar bayangan itu.
"Jangan dikejar!" teriak Miku.
Tubuhku tidak merespon untuk berhenti, aku merasakan adrenalin yang kuat akan membunuh, aku terus mengejar bayangan itu sambil mempersiapkan serangan pertama untuk melumpuhkan bayangan itu. Aku tiba di sebuah ruangan kosong.
"Jalan buntu, kemana orang itu. Keluarlah keparat, berhentilah bermain–main," teriakku.
Aku jadi memiliki firasat buruk.
"Jangan–jangan targetnya adalah Miku," gumamku.
Aku berbalik.
"Haahh, kau mengagetkanku Miku," teriakku.
"Aku yang kaget bodoh, sudahku bilang jangan dikejar," ucap gadis itu.
Aku mendengat suara aneh dari jauh.
"Apa kau mendengar itu?" tanyaku.
Aku hanya melihatnya terdiam, tiba–tiba ruangan tempatku berada sekarang bergetar hebat.
"Cepat lari dari ruangan ini," ucap Miku.
Tapi terlambat, tiba–tiba lantai tempat kami berpijak terbelah menjadi 2. Kami terjatuh di dalam jebakan. Saat aku tersadar, lantai itu tertutup kembali dan membuat ruangan tempat kami terjatuh menjadi sangat gelap.
"Tenanglah, jangan panik Miku. Kau dimana Miku?!" teriakku.
"Kau yang panik bodoh," jawabnya singkat.
"Sepertinya aku memegang kepala, apa ini kepalamu?" tanyaku.
"Mungkin kau salah pegang, aku berada di belakangmu tadi," jawabnya.
Aku merasa aneh dengan tempat ini, aku mencium bau amis darah dan aku sering memegang benda yang lembek.
"Ingat kau jangan teriak saat aku menyalakan penerangan," ucap Miku.
"Memang kenapa? Apa tempat ini begitu mengerikan," tanyaku.
"Sudah ku bilang, aku sudah terbiasa dengan mayat," ucapnya.
Aku bingung dengan perkataan Miku.
"Apa maksudmu Miku?" tanyaku heran.
"Kau tidak mengerti apa pura–pura bodoh? Aku terbiasa dengan mayat. Apa kau tidak mencium dari aromanya?" jawabnya.
"Aku mengerti sekarang, dia mencoba memberi tahuku agar tidak panik. Karena tempat sekarang ini adalah gudang mayat," gumamku dalam hati.
"Baiklah nyalakan saja penerangannya," ucapku.
"Sabar bodoh, aku sedang mencari senterku, senterku terjatuh," Miku berkata.
"Maaf, ku kira kau tinggal menyalakannya saja," ucapku.
Aku berjalan mencari Miku sambil menunggu dia menyalakan listriknya. Saat aku meraba, di saat itu juga aku menjadi paranoid, tetapi aku merasakan ada gejolak yang aneh.
Aku tersandung sesuatu dan menyentuh sesuatu yang sangat lembek.
"Keparat kau, sudah seperti ini masih saja mencari kesempatan," teriak Miku sambil memukulku.
Aku tidak tahu apa yang aku sentuh hingga membuatnya marah.
"Aku minta maaf, aku tidak tahu aku menyentuh apa. Aku sedang mencarimu dan aku tersandung oleh sesuatu," ucapku sambil mengelus pipiku yang di pukulnya.
"Padahal ruangan ini gelap, tapi pukulannya bisa pas mengenai wajahku," gumamku dalam hati.
"Memang aku menyentuh apa? Hingga kau memukulku sekeras ini," tanyaku.
Dia memukulku lagi.
"Diamlah, lupakan saja bodoh," teriaknya.
"Hhufft," batinku.
"Aku menemukan senternya," ucapnya.
Dia langsung menyalakan senternya, aku benar–benar terkejut sekaligus takut dengan pemandangan yang aku lihat ini. Sampai–sampai aku tidak bisa bangkit dari tempatku.
"Kenapa? Apa kau takut dengan mayat–mayat ini? Kau akan menjadi seperti mereka, mengapa kau harus takut? Bangunlah dari tubuh mayat itu Len," ucapnya.
"Mayat?" Aku menoleh kebawah dan terkejut.
"Wooaahh," Aku berteriak dan bangun menjauh.
"Kau terlihat seperti pecundang sekarang," ucap Miku.
"Apa kau tidak takut?" tanyaku.
"Tidak, tidak sama sekali," jawabnya singkat.
Ruangan ini penuh dengan mayat, aku melihat banyak mayat–mayat yang sudah membusuk di gantung begitu saja. Kepala–kepala mereka terpenggal dan kepala–kepala itu menghiasi ruangan dinding ini.
"Sepertinya listrik di ruangan ini masih berjalan, aku akan mencari tombol lampu," ucapnya.
"Jangan tinggalkan aku," Aku berlari mengejarnya.
"Hahahaha, kau seperti anak perempuan," ejek Miku.
"Kau juga terlihat aneh saat aku menyentuh sesuatu darimu," balasku.
"Heeh." Dia menoleh dan memukulku.
"Kenapa kau memukulku lagi?" tanyaku.
"Diam kau bodoh," jawabnya.
Aku melihatnya sangat tenang saat melewati tumpukan mayat–mayat itu.
"Apa dia benar–benar tidak takut dengan mayat–mayat itu?" gumamku dalam hati.
"Binggo, aku menemukan tombolnya," ucap Miku.
Lampu di ruangan seketika menyala remang–remang. Sekarang aku bisa melihat seluruh ruangan ini penuh dengan mayat. Tiba–tiba aku merasakan ada seseorang yang memantau kami lagi, atau mayat–mayat itu yang sedang memandangi kami?
"Cepat kita cari jalan keluar," ucapku sambil menarik tangan Miku.
"Ehh, lepaskan bodoh, aku bisa jalan sendiri," ucap Miku.
"Berhenti berkata bodoh, apakau tidak tahu siapa aku?" ucapku.
Tiba–tiba ruangan hening seketika. Aku melihat 2 orang menggunakan jubah hitam, jubah yang persis dengan Miku.
"Apa mereka teman-temanmu Miku?" tanyaku.
"Bukan, mereka bukan teman–temanku," jawabnya singkat.
Tiba–tiba terdengar suara yang sangat familiar dari sebuah speaker.
"Hallo Len, sepertinya kau tidak akan datang ke tempatku sekarang dengan tepat waktu. Aku memberikan keringanan karena aku baik hati. Hahahahaha," ucap seseorang dari speaker itu.
"Kau..., jika kau sakiti Rin, aku tidak akan memaafkanmu," teriakku.
"Hmmm, kalau begitu datanglah, aku akan memberikan sedikit dongeng untukmu jika kau datang ke sini," ucap orang yang pernah mengaku sebagai diriku.
"Dongeng? Aku bukan anak–anak," teriakku.
"Shshshshhs, apakau ingin mendengar teriakan dari wanitamu yang menggoda ini?" ucap speaker itu.
"Tolong.., tolong aku Len, aku takut," teriak Seseorang dari speaker itu.
"Itu Rin," gumamku.
"Rin, aku akan menyelamatkanmu!" teriakku.
"Hahahaha, semoga kau masih selamat sampai akhir, ingat karena aku sangat baik hati, waktumu ku tambah hingga pukul 3 pagi, setelah itu aku akan menikmati masa–masa ku dengan wanita ini, shshsshshs," ucap orang yang mirip denganku.
Aku mendengar teriakan Rin.
"Tidak..., jangan, kumohon," teriak Rin.
"Bersabarlah Rin," teriakku.
"Hhhhmmm, aku lupa mengatakan sesuatu, orang–orang itu adalah suruhanku. Selamat bermain Len, hahahahahaha," ucapnya menutup pembicaraan.
"Sial, berhati–hatilah Miku," kataku.
"Kau seharusnya berhati–hati," ucap Miku.
Entah sejak kapan Miku telah mesenjatai dirinya dengan samurai.
"Sejak kapan kau..?" tanyaku.
"Sejak kau berbicara dengan para keparat itu," ucapnya memotong kalimatku.
Miku langsung menyerang 2 orang itu, 2 orang misterius itu memencar. Aku tidak tinggal diam, aku langsung menyerang dengan menggunakan besi yang ku bawa tadi. Tapi aku semua seranganku berhasil dihindari oleh salah satu dari mereka. Aku melihat Miku sedang asik menyerang salah satu dari mereka.
Aku terlalu fokus dengan Miku hingga aku tidak melihat pergerakan dari pembunuh yang sedang aku hadapi.
"Arrgghh," teriakku.
Pembunuh itu menendangku hingga aku jatuh tersungkur, dia melompat dengan sebuah pisau yang sangat panjang dan tajam, lalu mengarahkan pisau itu kewajahku.
"Shshshshs, sepertinya wajahmu sangat murung. Jangan sedih, aku akan membuatmu tersenyum selamanya, hahahaha," ucap pembunuh itu.
"Tidak semudah itu keparat," teriak Miku.
Miku menebas kepala pembunuh itu, dan pembunuh itu tewas seketika.
"Sudahku bilang hati–hati," ucap Miku kepadaku.
"Maaf," ucapku.
Aku masih kaget dengan apa yang terjadi, Miku langsung mengambil langkah cepat saat aku dalam keadaan terpojok.
"Dia sangat hebat," gumamku dalam hati.
"Sadarlah, jangan diam saja," teriak Miku.
"Ternyata laki–laki itu sangat lemah, dan kau sangat menarik, shshshsh," ucap pembunuh terakhir itu.
"Diamlah, sekarang giliranmu," teriak Miku.
Aku hanya terpaku dengan pertarungan sengit mereka berdua. Miku kalah cepat dengan pembunuh itu, aku melihat pembunuh itu berhasil menebas lengan kanannya. Darah segar mengucur dari luka tebasan itu.
"Shshshsh, pisauku sangat tipis, saat dia menyentuh kulit, memang tidak terlalu terasa sakitnya, tetapi luka yang dibuat akan sangat dalam, shshshs," ucap pembunuh itu.
"Aku lengah tadi, sekarang aku akan benar–benar menebas kepalamu," ucap Miku.
Lagi–lagi aku terdiam, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku melihat Miku semakin terpojok. Aku berpikir sejenak.
"Pisau yang dimiliki lawanku sebelumnya cukup panjang, jika aku mengkombinasikan pisau ini dengan besi yang ku bawa mungkin jadi senjata yang cukup berguna," pikirku.
Lalu aku mengambil pisau itu, aku mengikat ujung besiku dengan pisau itu dengan menggunakan sebuah tali yang berada di ruangan itu.
"Cukup kencang sepertinya," ucapku dalam hati.
Aku melihat Miku sudah sangat terpojok, tanpa basa–basi aku langsung menghunuskan senjataku ke arah perut pembunuh itu.
"Arrgghh, kaau..," teriak pembunuh itu kesakitan.
Aku menarik kembali senjataku, lalu ku serang kembali pembunuh itu. Pembunuh itu jatuh tersungkur.
Aku melihat wajah Miku yang tidak percaya saat aku membunuh orang itu.
"Cepat lari ke arah pintu itu," kataku.
Kami pun pergi dari ruangan itu. Setelah berhasil keluar dari ruangan itu kami menuju ke sebuah tempat. Tapi tempat ini membuat kami kebingungan.
"Tunggu, sepertinya kita sudah melewati tempat ini berkali–kali," ucapku.
"Sepertinya kau benar, tadi aku menjatuhkan sebuah koin. Kau lihat, ini koin yang aku jatuhkan," ucap Miku.
Kami menyusuri tempat tak berujung ini sambil mencari jalan. Sudah 2 jam kami menyusuri tempat ini.
Tiba–tiba aku mendengar suara langkah kaki.
"Apa kau dengar suara itu?" tanyaku.
"Tentu," jawabnya singkat.
Kami lalu masuk ke sebuah ruangan, atau lebih tepatnya sebuah dapur tidak terpakai.
Langkah kaki semakin dekat, tiba–tiba kami melihat orang misterius dengan menggunakan jubah hitam lagi.
"Apa? Pembunuh itu masih hidup, atau jangan–jangan itu pembunuh lainnya." tanyaku berbisik.
"Entahlah, sepertinya itu orang berbeda," jawab Miku.
Orang itu pergi, tapi aku yakin orang itu mengetahui keberadaan kami, karena saat orang itu pergi dia tersenyum.
Kami menyusuri dapur ini, dapur yang sangat kumuh.
"Sepertinya aku menemukan lorong di bawah sini," bisikku.
Tanpa basa–basi aku langsung masuk ke lorong itu.
"Aku duluan, jaga belakang ya," ucapku.
Aku hanya melihat Miku menangguk. Sepertinya dia sudah mulai menuruti perkataanku, dan tidak memakiku bodoh lagi semenjak aku menolongnya.
"Oh ya," ucapku.
Aku merobek bajuku dan mengikatkannya ke bekas luka Miku.
"Setidaknya ini memperhambat keluarnya darah," ucapku.
Dia hanya terdiam, dan terlihat senang.
"Apa kau khawatir denganku?" tanya Miku.
"Tentu saja, aku tidak ingin kehilanganmu di tempat ini," jawabku.
Entah aku salah berbicara, atau dia salah mengartikan, yang pasti aku melihat wajahnya memerah.
"Bodoh," ucap Miku.
"Hah," batinku.
Kami menyusuri lorong ini.
"Benar–benar gila, lorong ini pun menjadi seperti labirin," ucapku.
Tiba–tiba lorong ini runtuh, dan kami terjatuh.
"Apa kau baik–baik saja Miku?" tanyaku.
"Huufftt, apakau tidak bisa diam? Kau selalu membuatku terjatuh," jawabnya lalu bangkit.
"Hah," batinku.
Akupun bangkit dan menyadari kalau ruangan ini hanya memiliki satu buah pintu.
"Angka? Lambang? Sepertinya aku ingat lambang ini," ucapku.
"Cepat pecahkan kode itu, kita tidak punya banyak waktu, biar aku yang menghadapi orang ini," jawab Miku.
"Hah? Orang apa?" aku menoleh.
Aku melihat orang yang tadi melewati dapur berdiri di belakang patung.
"Hallo tuan dan nyonya–nyonya, selamat pagi. Sudah sangat lama aku menunggu kalian," ucap orang misterius itu.
"Pagi? Pukul berapa sekarang?" tanyaku.
"Pukul 12 lewat 15 pagi tuanku," jawab orang misterius itu.
"Kau berada di pihak mana?" tanya Miku.
Dia membuka jubahnya dan mengelurakan pedang yang cukup besar dan panjang.
"Sepertinya aku berada di pihak berlawanan," dia menjawab sambil tersenyum.
"Ciih, lawanmu adalah aku," Miku berkata sambil membuka senjatanya.
"Woow, aku tidak terbiasa melawan gadis cantik, bergabunglah dengan kami, mungkin kau akan hidup," ucap pembunuh itu.
"Diam kau," teriak Miku langsung menyerang.
Pembunuh itu berhasil menghindari serangan Miku.
"Woow, aku belum selesai memperkenalkan diriku, kau sudah sangat antusias menyerangku. Perkenalkan aku, ehm, kau bisa menyebut julukanku Dead Father, sudah cukup basa-basinya ya," pembunuh itu berkata sambil mempersiapkan senjatanya.
"Len, pecahkan kode itu, biar aku yang menanganinya," ucap Miku.
Aku bingung, aku harus memecahkan kode ini atau membantu Miku? Yang pasti aku tidak memiliki banyak waktu, aku harus berguna, setidaknya aku harus berhasil memecahkan kode keparat ini, dan membawa pulang Rin sebelum keparat itu membunuhnya.
.
.
.
To be Continued...
A/N: Sorry baru bisa update, karena sibuk les dan masuk universitas :D
Untuk chapter selanjutnya minta kritik dan saran.
Minta saran juga untuk alur cerita chap depan.
Ingin alur bagus, atau buruk?
Sekian dan terima kasih.
Untuk chapter selanjutnya, originalnya alurnya bagus, tapi bisa jadi bad sesuai permintaan.
