"Ku..roko.." Panggilan pemuda bersurai hijau itu pun membuat para pemuda yang lain bergegas kearahnya.
"Ada apa Midoromacchi?"
"Atsushi, cepat panggil dokter. Shintarou hubungi keluarga Harada. Daiki hubungi Satsuki, kemudian Taiga hubungi seirin. Lakukan sekarang juga." Perintah Akashi.
Tanpa diperintah dua kali dan juga memikirkan bagaimana karakter pemuda merah itu jika mereka tidak segera melakukan perintahnya. Para pemuda sewarna pelangi itu pun langsung menjalankan apa yang diperintahkan oleh sang pemuda merah.
Pemuda bersurai baby blue itu sedikit demi sedikit mulai membuka matanya yang selama dua hari kemarin selalu terpejam.
"A..aka..shi-kun.." Ucap pemuda itu pelan.
"Tenanglah Tetsuya, sebaiknya kau jangan terlalu banyak bergerak. Mereka sedang memanggil dokter dan yang lain." Jelas pemuda berambut merah yang dipanggil Akashi. "Dan kalau kau ingin bertanya kenapa aku harus memberitahu yang lain, itu karena kami semua ingin mendengar penjelasan tentang hal yang selama ini kau sembunyikan. Kau pasti tau hal apa itu kan Tetsuya? Dan ku harap kau akan menjelaskan semuanya kepada kami." Sambung Akashi sebelum pemuda dihadapannya itu mengunggapkan pertanyaan yang ada didalam pikirannya.
I REMEMBER YOU
Disclaimer::
Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatosi
I Remember You © Sunakumakyumin
Genre::
Family, Friendship, hurt
Warning::
Typo, AU, jalan ceritanya membingungkan, pemilihan kosa kata yang tidak tepat, dan sedikit mengandung unsur Yaoi.
Chapter 2:: Permohonan.
RnR Please~
Seorang pemuda dengan tinggi lebih dari dua meter memasuki ruangan. Dibelakangnya seorang dokter yang selama dua hari ini menjadi dokter penanggung jawab Kuroko mengikuti. Bersamaan dengan datangnya sang dokter satu per satu pemuda dengan surai pelangi itu pun memasuki ruangan.
"Bisa anda mulai memeriksa keadaanya dok? Dan jika anda ingin kami menunggu diluar maka kami menolak. Anda bisa memeriksanya dan kami akan menunggu disini tanpa mengganggu anda." Ucap Akashi tanpa ingin dibantah.
"Baiklah, kalian bisa menunggu disini. Tapi jangan ribut dan mengganggu." Balas sang dokter.
"..."
"Keadaan Kuroko-san sudah lebih stabil. Tapi, kalian harus menjaga waktu istirahatnya. Karena keadaannya masih belum stabil secara keseluruhan. Kalian menggerti?" Jelas sang dokter setelah beberapa saat serius memeriksa keadaan Kuroko.
"Kami mengerti dok. Dan anda bisa mempercayai ku untuk membuat mereka semua bungkam dan tidak menggangu waktu istirahat Tetsuya." Ucap Akashi, aura kelam mulai menyelimutinya dan siap menyerang siapa saja yang menolak perintahnya.
"Sepertinya kau memang dapat dipercaya untuk urusan itu nak." Jawab sang dokter sambil tersenyum. "Kalau begitu, aku akan kembali. Masih banyak pasien yang menungguku."
Begitu sang dokter keluar, perhatian mereka tertuju pada sang pemuda bersurai baby blue. Merasa diperhatikan pemuda itu pun balik menatap mereka semua dengan ekspresi datar andalannya.
"Kita tunggu yang lainnya sebelum aku jelaskan apa yang ingin kalian dengar itu." Ucap Kuroko.
Dengan begitu suasana kembali menjadi sunyi, hingga lima belas menit kemudian keluarga Harada, Tim Seirin beserta Momoi pun datang.
"Kau bisa memulai penjelasan mu itu Tetsuya." Pinta (re: Perintah) Akashi.
"Baiklah Akashi-kun." Kuroko menghela nafas pelan.
"Sepertinya kalian semua sudah mendengar tentang penyakiku? Gomen ne, jika sebelumnya aku harus menyembunyikan keadaan ini kepada kalian semua termasuk Tou-san, Kaa-san dan Baa-san. Aku hanya tak ingin membuat kalian khawatir." Ucap Kuroko.
"Ya, Tou-san mengerti, Dan kami semua memaafkanmu. Tapi, bukan berarti kami semua menerima caramu ini Tetsuya. Seharusnya kau bisa lebih terbuka kepada Keluargamu, ataupun Sahabat-sahabatmu ini." Tuan Harada mengelus surai baby blue milik Kuroko sayang. Kuroko menganggukan kepalanya dalam diam.
"Aku mengetahui tentang penyakit ini 4 tahun yang lalu. Dokter bilang penyakit ini adalah efek samping yang ku terima karena kecelakaan yang menimpa keluargaku satu tahun sebelumnya."
Kuroko mengalihkan perhatiannya kearah jendela, menatap birunya langit yang sewarna dengan surainya.
"Saat itu, lima tahun yang lalu. Keluargaku dan juga seorang sahabatku sedang dalam perjalanan untuk mengisi waktu liburan musim panas. Awalnya semua berjalan baik-baik saja hingga di tengah perjalanan, mobil yang kami tumpangi mengalami masalah pada bagian rem sehingga mobil kami pun jatuh kedalam jurang. Aku tak tau apa yang terjadi selanjutnya, namun ketika aku sadar. Aku sudah berada di rumah sakit. Aniki dari Kaa-san ku bilang dalam kecelakaan itu Kaa-san dan Tou-san meninggal, Tatsu-kun mengalami luka yang cukup parah pada mata kanannya, dan sahabatku yang ikut dalam kecelakaan itu mengalami amnesia dan juga luka pada mata kirinya. Tapi ji-san bilang sebelum kaa-san meninggal ia meminta dokter untuk mendonorkan matanya pada mereka berdua. Sementara keadaanku, ji-san bilang aku mengalami luka yang paling parah karena melindungi mereka berdua. Dua tulang rusuk ku patah dan menggenai jantungku sehingga aku perlu melakukan operasi untuk membuat keadaanku lebih stabil. Lalu setelah kecelakaan itu, kami pun pindah ke Amerika bersama Ji-san. Dan satu tahun setelah itu, akhirnya aku mengetahui penyakit it. Dokter bilang jantungku tidak lagi dapat berfungsi secara optimal. Karena walaupun aku sudah melakukan operasi untuk memulihkan jantungku, namun luka yang terjadi akibat kecelakaan itu tidak benar-benar mengembalikan fungsi jantungku seperti semula." Jelas Kuroko.
Pemuda itu kembali mengalihkan perhatiannya pada orang-orang yang ada di dalam ruangan. Kuroko dapat melihat ekspresi sedih yang terpancar dari wajah orangtua angkatnya dan juga sahabat-sahabatnya. Bahkan beberapa orang sudah mengeluarkan cairan bening dari manik mereka.
"gomen ne..." Gumam Kuroko.
"Tak apa, Tetsu-chan. Seharusnya kau katakan semua ini pada kami dari awal. Kaa-san tak suka melihatmu seperti ini. Kau tau Kami semua sangat menyayangimu." Nyonya Harada mendaratkan kecupan hangat di dahi Kuroko.
"Arigatou.."
"Ano.. Kuroko-kun. Siapa Tatsu-kun yang kau ceritakan tadi?" Tanya Riko, suaranya masih terdengar sangau akibat tangis.
"Dia adalah Adik kembarku. Namanya Tatsuya." Ucap Kuroko tersenyum samar.
"Kuroko/Kuroko-cchi/Kuroko-kun/Tetsu/Tetsuya/Tetsu-chan/Kurochin/Tetsu-kun KAU MEMILIKI SAUDARA KEMBAR?" Teriak semua yang ada disana sambil membulatkan mata mereka kaget (kecuali Akashi, Midorima dan Murasakibara).
"Heem.. Apa aku tidak pernah cerita sebelumnya?" Tanya Kuroko dengan wajah datarnya.
"TIDAK!" Jawab yang lain serentak.
"Ah. Sumimasen." Balas kuroko singkat. "A-no Minna.. Bolehkah aku meminta sesuatu pada kalian?" Tanya Kuroko dengan wajahnya yang kelewat polos.
"Katakanlah Kurokocchi,, apa yang kau inginkan-ssu?"
Sebenarnya Kise ingin langsung memeluk Kuroko seperti biasanya kalau saja tangan kekar milik Aomine dan juga Aura iblis milik sang kapten Rakuzan itu tak menghalanginya.
"Bisakah kalian memberikan perhatian kepada Tatsu-kun? Suatu hari nanti ia pasti akan kemari, dan jika saat itu tiba bisakah kalian juga memberikan perhatian kalian kepadanya seperti apa yang kalian lakukan kepadaku?" Ucap Kuroko.
"Kenapa kau meminta hal itu nanodayo?" Tanya Midorima.
"Aku hanya ingin memberikan Tatsu-kun rasa sayang yang tidak pernah ku berikan kepadanya tiga tahun ini." Jawab Kuroko.
"Kau bisa memberikannya langsung jika nanti Tatsu-kun kemari Tetsu-kun. Tapi, kami juga akan memberikan perhatian yang sama padanya." Ucap Momoi. Kuroko hanya tersenyum tanpa menanggapi lebih lanjut pernyataan dari Momoi.
"Arigatou Minna.. Apa pun yang terjadi nanti. Kumohon bantuannya untuk menjaga Tatsu-kun." Ucap Kuroko.
"..."
"Oi Kuroko. Jadi, kenapa kau kembali kemari tiga tahun yang lalu?" Tanya Kagami.
"Apa Kagami-kun penasaran tentang hal itu?" Tanya Kuroko balik.
"Jika aku bertanya tentu artinya aku penasaran." Balas Kagami sedikit emosi.
"Itu karena aku ingin bertemu dengan sahabatku yang mengalami amnesia itu." Jawab Kuroko singkat.
"Hanya itu? Sebenarnya siapa Sahabatmu itu Tetsu? Apa kami mengenalnya." Tanya Aomine.
"Sumimasen Aomine-kun. Aku tidak ingin menjawabnya. Tapi yang pasti nanti kalian akan tau hal itu dengan sendirinya." Jawab Kuroko.
"Hei! Jawaban macam apa itu Tetsu –"
CKRIS
Suara gunting membuat Aomine menghentikan aksi protesnya dan melihat seorang pemuda bersurai merah yang sedang mengeluarkan Aura iblis lengkap dengan gunting merah ditangannya.
"Lebih baik kalian semua keluar sekarang juga." Ucap atau lebih tepat disebut perintah dari Akashi.
"Baiklah, kita biarkan Tetsuya istirahat. Mari kita keluar minna. Dan Akashi, bisakah aku percayakan tugas menjaga Tetsuya kepadamu?" Tanya tuan Harada. Ia terlihat tenang-tenang saja dengan aura mencekam milik Akashi.
"Tentu Harada-san. Dan bisakah aku minta tolong kepada anda untuk membawa mereka keluar sekarang juga?"
"Dengan senang hati. Kalau ada apa-apa kau bisa menghungi kami." Tuan Harada mulai berjalan keluar ruangan. "Ayo Minna." Ucap Tuan Harada.
Akhirnya mereka semua pun keluar dari ruangan itu, meninggalkan pemuda bersurai merah dan baby blue.
"Akashi-kun, seharusnya kau tidak usah berbuat seperti itu." Tegur Kuroko.
"Itu cara tercepat membuat mereka keluar dan membiarkanmu istirahat Tetsuya." Kilah Akashi.
"Aku tau, masih ada alasan lain kan Akashi-kun?"
"Kau pasti sudah tau apa yang akan aku katakan kan Tetsuya. Bukankah kau bisa menduganya dengan 'mata' itu?"
"Ya aku tau Akashi-kun." Jawab Kuroko pelan.
"Lalu, kenapa kau mengatakan hal 'itu' tadi? Walau tidak secara terang-terangan, tapi dari setiap kalimat yang kau keluarkan tadi. Setidaknya beberapa orang akan bisa menangkap maksud ucapanmu itu Tetsuya."
"Tidak ada alasan pasti untuk itu akashi-kun. Aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan. Aku ingin mereka menyayangi Tatsu-kun jika hal 'itu' terjadi." Ucap Kuroko lirih. Ia mencengkram dengan erat selimut diatas pahanya.
"Kau tau Akashi-kun. Dengan mata ini, aku bisa melihat hal yang seharusnya tidak bisa dilihat. Namun, bukan berarti aku bisa mencegah atau pun menghindarinya. Dan aku hanya takut untuk membuat Tatsu-kun merasa seorang diri."
Satu tetes airmata mulai mengalir dari manik sewarna langitnya. Akashi langsung memeluk tubuh Kuroko pelan seolah takut melukai tubuh lemah itu.
"Aku takut Akashi-kun.. Seandainya.. Seandainya aku bisa.. aku.. aku masih ingin bersama dengan kalian semua.. aku.. Hiks.." Kuroko mencengkram bagian depan baju milik Akashi.
"Tenanglah Tetsuya, aku pasti akan memenuhi permohonan mu itu. Dan aku yakin mereka juga akan melakukan hal yang sama untuk Tatsuya. Semua hal yang kau takutkan tentang adik mu itu tak akan terjadi. Ku mohon percayalah padaku." Balas Akahi.
"Arigatou Akashi-kun. Aku senang bisa bertemu sekali lagi denganmu seperti ini." Ucap Kuroko.
"Aku juga.. Sekarang istirahatlah. Aku tau dari tadi kau sudah terlalu mamaksakan dirimu itu kan Tetsuya."
"Baiklah Akashi-kun. Tapi, bisakah Akashi-kun tetap disini menemani ku untuk istirahat." Pinta Kuroko.
"Kau sudah berani memerintahku ternyata." Balas Akashi.
"Terserah Akashi-kun jika permintaanku ini kau anggap perintah." Jawab Kuroko.
"Istirahatlah sekarang juga. Aku akan duduk disini." Akashi pun memdudukan dirinya disamping ranjang Kuroko.
Kuroko mulai memejamkan kembali matanya, sebetulnya memang sejak tadi kuroko merasa tubuhnya sangat lelah, walau sebenarnya tak ada yang kuroko lakukan selain berbaring diatas ranjang sejak ia membuka matanya setelah dua hari ini ia selalu terpejam. Belaian tangan seseorang di surai baby bluenya semakin membuat kuroko nyaman. Akashi hanya menatap Kuroko yang saat ini sudah kembali tertidur, tangannya tak henti untuk terus mengelus surai baby blue milik Kuroko.
To be continued
Minna~ Arigatou yang udah nyempetin baca..
Gomen kalo ceritanya ga sesuai keinginan, dan masih banyak typo yang bertebaran XP
Dan makasih juga buat yang udah Follow ama fav~
Berkenan untuk memeberikan Review? ^_^
Jaa~
Suna
