The Allure Of Tears

Disclaimer : Bleach by Tite Kubo

The Allure Of Tears by Silver Hau, Skipper Cheng, Barbara Wong Chun-Chun, Lawrence Cheng Tan-Shui

Rate : T

Genre : Angst/Romance


Catatan author :

Sebenernya the allure of tears itu salah satu film hongkong yang author suka. Maksudnya nulis cerita ini, author pengen yang meranin cerita ini , pairing – pairing kesukaan author.


Story 2 (GinKira)

Disebuah ruangan, terlihat seorang pria berambut perak dengan senyum seperti rubah, sedang memainkan sebuah cello dihadapan sebuah poster bergambar pria berambut pirang dengan tuksedo hitam membalut tubuh rampingnya dan sedang memainkan biola. Pria dalam poster itu adalah izuru kira, seorang pemain biola yang terkenal. Namun, entah kenapa dia menghilang kurang lebih 2 tahun. Sedangkan pria berambut perak itu adalah ichimaru gin, seorang guru musik.

Mungkin jika kalian melihat hal ini, kalian akan mengira gin terobsesi pada kira. Namun, kalian salah, dia mencintai kira sejak mereka masuk kesekolah musik milik yamamoto. Ya, mereka saling kenal. Hanya nasib mereka yang berbeda. Kira , merupakan violis handal. Yamamoto bisa melihat bakatnya sejak pertama kali mendengarnya bermain biola, dan gin jatuh cinta pada kira juga saat pertama kali mendengar kira bermain biola.

Kring Kring Kring

Ponsel gin berbunyi

" hallo, gin "

" ya ? ichimaru gin disini. "

" ini aku, kepala sekolah yamamoto "

" ooh, pak kepala. Ada apa ? "

" gin, bisa kau datang ke sekolah hari ini. Ada yang ingin ku bicarakan. "

" ahh, baiklah. Aku segera kesana "

" ya kutunggu. "

Pembicaraan mereka pun ditutup. Gin segera pergi ke sekolah. Bagaimanapun dia tetap menghormati kepala sekolahnya itu. Dia tidak mau membuatnya menunggu.

" pak kepala ? "

" ahh, gin kau sudah sampai ? "

" yaa, apa yang ingin anda bicarakan. "

" kita berbicara ditaman belakang saja "

" hai "

Sesampainya di taman belakang

" jadi, apa yang ingin anda bicarakan ?"

" yaa, sebenarnya . . ehm . . kau tau kau muridku yang paling bisa kuandalkan sejak dulu. "

" ya. . kurasa begitu " gin agak canggung

" aku membutuhkanmu. Sekolah ini akan berakhir jika aku tidak bisa membayar hutangku. Sedangkan sekolah ini adalah kenanganku bersama mendiang istriku. Aku tidak mungkin menyerahkan sekolah ini begitu saja. "

" ahh kepala sekolah, bukan aku tidak mau membantumu. Tapi, kau tau sendiri pekerjaanku hanya sebagai guru musik. Penghasilanku tidak seberapa. "

" aku bukan mau meminjam uangmu. "

" lalu ? "

" aku mau kau membantuku mengadakan konser amal untuk sekolah ini. "

" ta . . tapi . . bagaimana bisa ? "

" kau kan yang paling dekat dekat alumni – alumni sini. Kau pasti bisa meminta mereka membantumu juga. "

" a. .ahh baiklah "

" bagus, kutunggu kabarnya 3 hari lagi. "

" hai "

Gin pun mengajak teman se-genk-nya berkumpul dengan alas an reuni di sekolah. Ada Keigo pemain klarinet yang sekarang menjadi seorang polantas. Oomaeda pemain drum yang sekarang menjadi koki. Rangiku pemain flute yang akan segera menjadi seorang ibu. Sebenarnya ada satu lagi, dia adalah kira. Tapi gin tidak berani menghubunginya. Mereka sepakat membantu gin mewujudkan keinginan kepala sekolah mereka.

" Gin, kurasa akan lebih mudah menarik minat orang jika kau juga mengundang 'dia' " saran rangiku.

" tapi rangiku, aku tidak punya muka untuk bertemu dengannya. Kau tau pertengkaran kami terakhir kali sampai akhirnya kami lost contact kan ? "

" ya aku tau, tapi kurasa dia tidak akan mempermasalahkannya. Dia orang yang sangat baik. Aku yakin jika kau minta maaf dia akan langsung memaafkanmu. "

" tapi aku tidak tau bagaimana menghubunginya. "

" temui saja dia kerumahnya. Kudengar dia ada di rumah unohana-san, bibinya. "

" Ok. Akan kucoba. "

Disebuah pekarangan yang tenang. Gin berdiri dengan canggung, bergumam, melatih kata-kata yang tepat untuk memulai pembicaraan. Akhirnya dia membulatkan tekadnya.

" Ha . . hai kira. Lama tak jumpa " sapa gin memulai. Namun tak ada jawaban.

' apa dia masih marah padaku ? ' pikir gin

" Ki . . kira, dengar , , aku minta maaf soal kejadian waktu itu. Soal kata – kata ku. Aku minta ma . . " kata – katanya terpotong oleh unohana retsu, bibinya kira.

" dia tidak mendengarmu. "

" Eh . . " gin heran

" sebentar, biar aku yang memanggilkannya. "

Unohana kemudian kemudian menepuk pundak kira, dan kira pun menoleh sambil memasang sesuatu ke telinganya. Sebuah alat bantu dengar.

" ada tamu untukmu. " kata unohana lembut.

" ohh. . Gin ! sudah lama ? maafkan aku . . aku tidak menyadari kedatanganmu."

" Tak apa. Hehhe "

Sambil berjalan – jalan di sekitar rumah mereka banyak mengobrol. Gin menyampaikan maksudnya, mengajak kira bermain biola di konser amal untuk sekolah.

" Maaf gin, aku tak bisa. Kau tau, aku tak mungkin bermain biola lagi. Konser terakhir ku waktu itu. Aku bermain biola di sebuah panggung yang sangat tinggi. Saat aku selesai bermain biola. Aku terjatuh. Benturan di kepalaku membuat telingku tuli. Aku tidak bisa mendengar tanpa alat ini. Tapi alat ini memiliki keterbatasan. Dia tidak bisa mendengar suara yang terlalu tinggi. Saat aku bermain biola, alat ini akan berdengung dan membuat telingaku sakit. Jadi maafkan aku gin. Aku tak bisa. "

" baiklah kalau begitu. Aku akan mencoba memberi pengertian pada kepala sekolah. "

Sepeninggal gin, kira pergi ke kamarnya. Kemudian dia memutar sebuah musik konser. Dia mengambil biolanya, dan mulai memainkannya. Kemudian saat telah beberapa menit. Alat ditelinganya berdengung, membuat telinganya berdengung. Secara reflek dia membuka alatnya, dan melemparnya ke lantai.

Sementara itu gin menelpon kepala sekolah. Menyampaikan kabar bahwa kira tidak bisa membantu mereka karena masalah pendengarannya. Kepala sekolah yang sedang bersama teman-temannya yang lain, terkena serangan jantung karena shock.

Gin, setelah mendengar kabar kepala sekolah terkena serangan jantung langsung pergi ke rumah sakit.

" Jangan beri dia kabar yang buruk atau tak ingin didengarnya. " dokter memperingatkan mereka.

Kemudian saat kepala sekolah bangun, dia melihat murid – muridnya mengelilinginya. Hal yang pertama dia tanyakan adalah perihal kira dan konser amal sekolah.

" ahh, gin bagaimana kabar perkembangan konsernya ? "

" anda jangan terlalu memikirkannya, istirahat saja dulu. "

" tidak bisa, konser harus berjalan sebelum 2 bulan lagi. Atau sekolah akan disita. "

" pokoknya anda tenang saja. Kami sedang mengurus semuanya. "

" ahh, bagaimana dengan kira ? "

" e . . ehh. . etto "

" ahh aku baru ingat kau sudah memberitahuku lewat telepon kemarin. "

" iya begitulah. "

" kira bisa ikut konser. "

" Ehh ! " semuanya kaget

" ahh syukurlah dia memang anak yang baik."

Gin galau, memikirkan bagaimana memberitahu pada kepala sekolah. Sampai saat dia sedang mengurus latihan, datang alumni yang dulu adalah senior 1 angkatan diatasnya. Tia Hallibel, dia merupakan inspirasi bagi kira, seorang violin yang juga lebih dulu sukses dari kira. Gin akhirnya meminta bantuan tia. Beruntung tia bersedia membantu.

Mereka pergi ke rumah kira. Kira awalnya menolak. Tapi tia bersikeras membantu kira.

" kira, buka alat bantu dengarmu. Dan dengarkan dengan hatimu. " instruksi tia.

Kira membuka alat bantu dengarnya, kemudian tia memainkan biolanya. Kira benar – benar tidak bisa mendengarnya. Semuanya sunyi, kira hampir menangis. Tapi dia membaca gerak bibir tia, yang memintanya berusaha. Kira berusaha, dia memperhatikan permainan tia yang penuh penghayatan. Dia merasakannya. Kemudian dia mendengarnya. Dia bisa mendengarnya. Mendengar dengan hatinya. Suara itu bukan dia dengar melalui telinganya. Melainkan melalui hatinya, melihat penghayatan tia saat memainkan biolanya, membuat dia merasakan bagaimana saat dia memainkan biola itu. Tia ikut senang, kemudian memberikan biola kesayangannya pada kira.

Kira membantu jalannya persiapan konser. Dia melakukannya dengan baik. Tapi untuk awal dia tetap harus memakai alat bantu dengar. Kemudian ketika mendekati saat dia memainkan biolanya baru dia membuka alatnya.

Mereka mengumpulkan para alumni untuk mengadakan konser bersama mereka. Karena orchestra yang mereka undang menolak. Persiapan sudah matang. Selebaran pun sudah di sebar. Berita tentang konser pun sudah menyebar malalui berbagai media masa, karena mendengar kembalinya kira setelah vakum cukup lama.

Saat akan melakukan konser, mereka tidak bisa memakai gedung sekolah. Karena bank sudah menutupnya. Akhirnya mereka malakukan konser di sebuah taman, yang masih merupakan bagian dari sekolah. Terdapat sebuah tempat yang bisa di jadikan panggung disana.

Dibelakang panggung

Rangiku : " huh . . huh . . sabar ya nak . . biarkan ibu melakukan hal yang menjadi impian ibu selama ini. Sambil mengelus perutnya "

Keigo : " para leluhur, kumohon lancarkan konser kami. "

Oomaeda : " lihatlah ayah, kali ini aku pasti bisa membuatmu bangga. "

Kepala sekolah : " istriku, kau lihat impianmu untuk mengadakan konser akan terwujud " sambil membelai foto istrinya.

" bersiaplah kira, sebentar lagi mulai " kata gin sambil menepuk bahu kira.

" ya sebentar lagi, " kira tidak sengaja menyenggol alat bantu dengarnya hingga jatuh ke lantai. Dan sialnya lagi alat bantu dengar itu tertendang oleh orang – orang hingga entah kemana.

" dimana alat bantu dengar ku. Oh kamisama,, bagaimana ini ? "

Di panggung

" dimana kira ? " kepala sekolah berbisik kepada gin

" tadi dia masih bersiap di belakang panggung. "

Kemudian kira muncul, member isyarat pada gin bahwa alat bantu dengarnya hilang. Tapi, kepala sekolah menengok dan menjemputnya ke atas panggung. Kira binggung harus bagaimana. Ketika kepala sekolah memberi aba – aba mulai dan mulai memimpin, alat musik mulai dimainkan. Namun saat giliran kira masuk, dia terlambat memainkan biolanya. Kemudian kepala sekolahpun mengulanginya. Dan kejadian yang sama terulang lagi. Kira sudah ingin menangis. Namun Tia yang membawa biolanya dan berada di bangku penonton menyadarinya.

Tia memberi isyarat [ Dengarkan Dengan Hatimu]

Tia mempersilahkan kepala sekolah memulai, dan ketika saatnya biola masuk. Tia memainkan biolanya, Kira memperhatikan bagaimana tia bermain, kemudian mengikutinya. Kira bisa, dia memainkan biolanya dengan sangat baik dan penuh penghayatan. Akhirnya konserpun berjalan sukses. Dana yang dibutuhkan untuk menebus sekolah sudah terkumpul.

" Kyaaa ! kita berhasil gin ! " Kira memeluk Gin. *BLUSH* Gin kaget wajahnya memerah. Kira yang baru menyadarinyapun ikut berblushing ria.

Akhirnya, Gin pun berani menyatakan perasaannya pada Kira.

Dan Kira pun memiliki rasa yang sama.

End


Catatan author :

Kenapa tamat ? karena chapter 3 beda ceritanya. Emang The allure of tears itu filmnya juga terdiri dari 3 cerita yang berbeda.

Pairing selanjutnya : GrimmUlqui