Naruto©Masashi Kishimoto
Don't Like Don't Read
Warning: This is The End Sequel, AU, Typo(s), dll
A/N: Fic ini adalah sequel fic saya yang judulnya This is The End, jadi penyebab meninggalnya Sakura itu ada di fic itu, karena ada pembaca yang masih menanyakan penyebab meninggalnya Sakura. Jadi, sebelum membaca ini, mungkin lebih dulu baca fic 'This is The End' terlebih dahulu, kalau berkenan juga sih^^
Italic : Flashback
Karin dan Kurenai tersenyum sendu ketika membereskan gudang di belakan rumah. Mereka menemukan begitu banyak barang-barang yang berhubungan dengan Sakura. Mulai dari sepatu berbentuk ikan favoritnya, topi baseball yang bertuliskan namanya, sepeda roda tiga yang rantainya sudah putus dan benda-benda lainnya yang merupakan barang-barang Sakura ketika masih kecil. Tetapi yang paling menarik perhatian Karin dan Ibunya adalah satu set boneka barbie yang masih terbungkus rapi walaupun kondisi boneka tersebut sebagian besar sudah rusak.
.
.
"Kaa-san, Saki juga ingin boneka sepelti nee-chan," rengek gadis kecil dengan surai merah jambu sambil menarik-narik ujung celemek ibunya.
"Iya, nanti kita pergi membelinya," ujar Kurenai seraya melepas genggaman Sakura di ujung celemeknya yang sudah kusut. Wanita itu melanjutkan kegiatannya memasak makan malam setelah sempat terganggu oleh putri bungsunya.
"Kapan, Kaa-chan?" desak Sakura, "Kaa-chan pasti bohong," lanjut gadis pink itu dengan tekukan di wajahnya.
Kurenai mendesah pelan, "Nanti kalau Kaa-san ada waktu," jelasnya sambil memasukkan beberapa bumbu di dalam panci, "dan sekarang jangan mengganggu, Kaa-san sedang sibuk," lanjutnya tanpa melihat ke arah Sakura.
Gadis lima tahun itu mengerucutkan bibirnya, ia marah pada ibunya yang membelikan boneka baru pada kakaknya sedangkan ia tidak. Masih dengan wajah sebal, Sakura menghampiri ayahnya dan mengungkapkan kekesalannya.
"Tou-san, Sakula tidak dibelikan boneka tapi Karin-nee dibelikan," ujar Sakura seraya duduk di pangkuan ayahnya. Wajahnya masih cemberut tingkat akut, ia lalu memainkan remote televisi yang tergeletak disamping ayahnya.
Asuma mentap putrinya, "Nanti kita pergi membelinya," kata Asuma persis seperti yang dikatakan istrinya kemudian memalingkan kembali wajahnya ke arah televisi.
"Tadi, Kaa-chan juga bilang sepelti itu," tutur Sakura.
"Kalau Kaa-san sudah bilang begitu, nanti kita akan membelinya," jelas Asuma sambil mengusap pelan pucuk kepala putrinya.
Tidak puas dengan jawaban yang diberikan ayahnya, Sakura mulai memencet tombol-tombol benda yang berbentuk persegi panjang tersebut.
"Sakura, jangan memainkan remote-nya," tegur Asuma pada putrinya, ia lalu menurunkan Sakura dari pangkuannya dan mengambil remote tersebut. Pria paruh baya yang asyik menonton acara olahraga favoritnya itu segera mengganti ke channel semula setelah sempat berganti karena ulah Sakura.
Sakura bertambah kesal, "Tou-chan pelit!" seru Sakura sambil turun dari sofa dan berlari menuju kamarnya.
Kaki mungilnya menghentak di setiap langkahnya, wajahnya masih tertekuk sempurna. Sakura mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamarnya saat mendengar suara ceria kakaknya yang tengah bermain dengan boneka baru yang dibelikan ibu mereka.
Dari luar pintu yang sedikit terbuka, Sakura memperhatikan kakaknya yang tengah menggendong boneka dengan rambut pirang dan gaun pink. Tangan mungilnya menempel di daun pintu, mendorong sedikit pintu berwarna coklat tersebut agar lebih terbuka. Awalnya Sakura berniat untuk ikut bermain, tetapi diurungkan niatnya karena sebelumnya ia sudah meminta satu boneka pada kakaknya, tapi tidak diberikan. Kurenai memang membeli satu set boneka tersebut, lengkap dengan segala aksesorisnya.
Jadi di sinilah Sakura, memperhatikan kakaknya yang asyik bermain. Walaupun pintu kamar Karin terbuka cukup lebar, Karin tidak menyadari kehadiran Sakura karena gadis kecil dengan surai merah itu posisinya membelakangi pintu.
Iris virdian Sakura tidak lepas dari boneka-boneka yang sedang dimainkan kakaknya. Karin mengganti baju boneka-boneka tersebut lalu menududukkannya di kursi kecil dengan meja bundar yang warnanya sama seperti gaun yang dipakaikannya dengan boneka tersebut. "Waktunya minum teh," ujar Karin gembira lalu menuangkan teh imajiner ke dalam cangkir-cangkir kecil di depan bonekanya. Hal inipun tidak luput dari perhatian Sakura, gadis itu ikut tersenyum, "Mmm~ tehnya wangi," gumam Sakura seolah ia ikut bermain bersama kakaknya.
Sakura masih setia memperhatikan kakaknya di balik pintu, ketika kakaknya tertawa riang, ia ikut tertawa. Saat Karin bernyanyi, gadis itu juga ikut menyanyikan lagu yang dinyanyikan kakaknya. Apapun yang dilakukan kakaknya, ia setia mengikutinya. Gadis kecil itu memang sangat ingin ikut bermain, karena itu ia mendorong daun pintu di depannya sehingga terbuka sepenuhnya.
"Saki boleh ikut?" tanya Sakura penuh harap.
Karin menoleh ke belakang dan melihat adiknya, ia lalu mengangguk dan menyuruh Sakura duduk di sebelahnya. Gadis yang lebih tua satu tahun dari Sakura itu memberikan sebuah boneka dengan gaun hijau.
Mereka berdua sibuk dengan keceriaannya, Sakura terus tertawa riang sambil memainkan boneka yang dipegangnya.
"Sakula boleh minta yang ini?" tanya Sakura seraya mengancungkan boneka yang daritadi dimainkannya.
Karin yang tengah sibuk menyisir rambut bonekanya menggeleng pelan, "Tidak boleh, nanti punyaku tidak ada temannya," ujarnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari surai pirang bonekanya.
Sakura terlihat kecewa, "Tapi Nee-chan sudah punya banyak," kata Sakura menunjuk setumpuk boneka dengan jenis yang sama, berharap kakaknya mengizinkannya mengambil satu.
"Kau minta saja sama Kaa-san," jawab Karin.
Sakura menundukkan kepalanya sambil mendekap boneka yang sangat diinginkannya, "Satu saja, apa tidak boleh?" gumamnya.
Karin ingin memberikan satu bonekanya, tapi karena dia berpikir jika boneka-bonekanya terpisah mereka pasti akan sangat sedih. "Nanti minta sama Kaa-san saja, Sakura," ujar Karin dengan penyebutan huruf 'r' yang masih samar.
Sakura menggeleng keras, "Pokoknya, aku minta ini!" serunya sambil berlari menuju kamarnya.
Karin yang melihat Sakura kabur sambil membawa bonekanya mengejar Sakura, "Sakura! kembalikan Nona Daisy," teriak Karin sambil menggedor-gedor pintu kamar adiknya.
"Tidak mau!" seru Sakura dari dalam.
Duk Duk Duk…
"Sakura!" teriak Karin masih memukul daun pintu tersebut dengan tangan mungilnya. "Buka pintunya Sakura!"
Sakura mengabaikan teriakan kakaknya, gadis pink itu meringkuk di tempat tidurnya sambil mendekap erat boneka yang ia minta paksa dari kakaknya. Sakura merasa takut, ia tahu setelah ini ibu mereka pasti akan memarahi dirinya karena hal ini. Tapi, ia benar-benar menginginkan boneka ini. Sakura sudah tidak peduli kalau ibunya akan benar-benar memarahinya.
"Sakura, buka pintunya!" kali ini Kurenai yang memanggil Sakura. Wanita itu memang berniat untuk memanggil kedua putrinya untuk makan malam saat melihat putri sulungnya tengah menggedor pintu adiknya.
Sakura sedikit terkejut mendengar suara ibunya, tetapi tidak berniat untuk melakukan apa yang diperintahkan ibunya.
"Sakura, ayo buka pintunya. Jangan bertingkah seperti ini," ujar Kurenai membujuk putrinya dengan sedikit kesal.
Sakura masih diam, liquid bening sudah merembes melewati pipi pucatnya.
Di luar pintu kamar Sakura, Kurenai tengah menenangkan Karin yang masih ngambek karena bonekanya yang diambil Sakura.
Kurenai mendesah pelan, "Sakura, kalau kau tidak mau membuka pintunya kamu tidak akan dapat makan malam," kata Kurenai agar Sakura mau membuka pintunya.
Sakura sendiri merasa sangat takut atas perkataan ibunya yang bisa dibilang ancaman, karena kalau ibunya sudah berkata seperti itu, artinya ia akan benar-benar tidak akan mendapat makan malam. Dan ia memang sangat lapar.
Ragu-ragu, Sakura turun dari ranjangnya lalu melangkah ke arah pintu. tangan kanannya menggaapai handle pintu yang letaknya memang sedikit berada di atas kepalanya tapi masih bisa dijangkau, sedangkan tangan kirinya masih memegang erat boneka yang merupakan sumber masalahnya kali ini.
"Kaa-san," gumam Sakura dengan wajah takut setelah pintu terbuka sedikit. Sakura lalu mengulurkan tangannya menyerahkan boneka yang tadi ia ambil dari kakaknya dengan berat hati.
Kurenai tersenyum pada Karin di gendongannya, "Nah, jangan menangis lagi," ujarnya sayang.
Karin mengangguk lalu ikut tersenyum, "Lapar, Kaa-chan," ungkapnya.
"Karena itu Kaa-san memanggilmu untuk makan malam," ucap Kurenai tersenyum pada putrinya yang sedang ia gendong.
Kurenai lalu mengajak kedua putrinya untuk makan malam, "Ayo, Saki," ajaknya pada Sakura sambil menggenggam sebelah tangan Sakura, "lain kali, jangan melakukan hal seperti itu lagi," nasihatnya pada Sakura.
Sakura mengangguk, "Hai, Kaa-san," jawabnya seraya mengusap pipi ranumnya dengan punggung tangan untuk menghilangkan jejak air matanya.
Mungkin karena terlalu terpaku pada Karin, Kurenai benar-benar tidak menyadari kalau putri bungsunya habis menangis.
.
.
.
Satu bulan telah berlalu semenjak kepergian Sakura, tapi jauh dalam hatinya, Sasuke masih belum bisa merelakannya. Setiap ada waktu luang, pemuda yang merupakan sahabat sekaligus kekasih Sakura selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi makamnya. Bisa dibilang, makam Sakura adalah salah satu destinasi hangout baru baginya.
Seperti sore ini, setelah pulang sekolah ia memutuskan untuk berada di tempat yang menurutnya paling menenangkan sekaligus membuatnya merasakan penyesalan mendalam. Ia duduk dan mulai mencabuti beberapa rumput liar yang tumbuh, rumputnya memang tidak terlalu banyak karena Sasuke selalu membersihkannya setiap kali ia datang ke sini. Berhubung intensitas kedatangannya bisa dibilang sangat tinggi, bisa dipastikan keadaan makam Sakura sangat terawat.
Sudah dua jam lebih Sasuke berada di makam Sakura, tapi ia masih belum berniat untuk beranjak dari sana walaupun matahari perlahan-lahan mulai tenggelam. Dering ponsel yang telah berbunyi beberapa kali pun tidak ia pedulikan, dia seperti tenggelam dalam dunianya sendiri.
.
.
"Sasuke-kun, apa kau akan mengingatku jika nanti aku menghilang?" tanya Sakura acuh tak acuh pada pemuda di sampingnya. Yeah, gadis itu hanya sekedar iseng saja bertanya seperti itu.
Pemuda di sampingnya mendengus mendengar pertanyaan Sakura, "Bodoh!"
Sakura memasang wajah cemberut mendengar jawaban yang diberikan Sasuke, "Jadi aku tidak berarti apa-apa bagimu," ujarnya seraya menunduk melihat kakinya, "bukannya kita sahabat," lirihnya. Sakura yang awalnya hanya iseng malah memikirkannya jika itu akan benar-benar terjadi.
Sasuke mendesah pelan lalu menarik lengan gadis Sakura masuk ke dalam bis yang sudah berhenti di depan mereka, mereka memang baru pulang dari sekolah.
"Jangan memasang wajah menyedihkan seperti itu," gumam Sasuke setelah mereka mendapat tempat duduk.
Sakura melirik sekilas pada Sasuke, lalu kembali melihat keluar jendela, "Entah kenapa aku jadi kepikiran," gumamnya, "bagaimana kalau aku bentul-betul mati dan kalian sama sekali tidak ada yang merasa kehilangan," lanjutnya dengan pandangan menerawang ke luar jendela bis.
"Sakura—"
"Hidupku benar-benar menyedihkan," desah Sakura tanpa sadar memotong ucapan Sasuke.
Hening, yang terdengar hanya suara klakson mobil yang kadang-kadang saling bersahutan.
Gadis pink yang tadinya tengah memandang ke luar jendela kini mengernyit heran melihat Sasuke yang tengah menatapnya serius. "Kenapa Sasuke-kun?" tanya Sakura dengan menautkan kedua alisnya.
Sasuke langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, "Tidak ada," gumam Sasuke rendah. Sasuke masih tidak bersedia memandang Sakura walaupun gadis itu tengah menarik-narik ujung bajunya. Itu memang kebiasaan Sakura saat ia menginginkan sesuatu.
Ketika bis berhenti, Sasuke menarik pergelangan tangan Sakura untuk keluar dari bis. Sakura hanya mengikuti Sasuke dengan heran, pasalnya ini bukan halte dekat rumah mereka.
"Sasuke, kita mau ke—"
"Makan siang," potong Sasuke cepat lalu menyeret Sakura masuk ke dalam sebuah kedai sederhana yang menawarkan makanan yang cocok dengan saku anak sekolahan seperti mereka.
Sakura mengikuti Sasuke pasrah, lagipula perutnya memang belum terisi apa-apa dari pagi. Dan Sasuke tahu akan hal ini, karenanya pemuda empat belas tahun itu membawa sahabatnya ke sini.
Beberapa kali, Sasuke tersenyum tipis melihat Sakura yang sedang menikmati makan siangnya dengan lahap. Tentu saja Sakura tidak menyadari hal ini, karena ia sibuk dengan santapannya.
.
.
Sasuke tersenyum sendu memandang nisan Sakura, ia lalu berdiri dan mengambil tasnya yang tergeletak di samping makam. Sejenak ia mendongak ke arah langit, beberapa bintang sudah mulai nampak menandakan malam akan mulai menyelimuti sebagian bumi. Dengan langkah berat, Sasuke meninggalkan area pemakaman.
Bulan mulai menampakkan dirinya lebih awal, cahayanya seolah menemani Sasuke di setiap langkahnya. Iris gelapnya menatap kosong setiap objek yang dilewatinya. Angin malam mulai terasa dingin membuat kulitnya yang tidak tertutup menggigil, tetapi Sasuke sama sekali tidak mempedulikannya. Ketika melewati sebuah taman, Sasuke langsung tersentak kaget saat mendengar suara tawa yang sangat familiar. Sejenak, ia berhenti untuk sekedar memastikan kalau yang ia dengar bukan khayalannya belaka. Onyx gelapnya menyapu seluruh sudut-sudut taman, tetapi ia tidak menemukan apapun. Sasuke lalu melanjutkan langkahnya, sesekali menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan pikiran konyol yang timbul di kepalanya.
Baru beberapa langkah, suara itu terdengar lagi. Sasuke merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, bukannya ia percaya hantu atau apa tetapi suara tawa ini memang sangat mirip dengannya. Tanpa sadar kakinya langsung melangkah memasuki taman, walaupun otaknya menyuruhnya untuk mengabaikannya. Ia takut jika sesuatu yang ia dengar semata-mata hanyalah ilusi.
Ketika irisnya menangkap suatu bayangan di balik pohon kecil dekat lampu taman, ia lalu berlari mendekatinya dan langkahnya langsung terhenti melihat siapa yang tengah duduk di balik pohon tersebut. ia sama sekali tidak mempercayai apa yang dilihatnya, perutnya terasa aneh, eksprersinya kosong dan tidak bisa berpikir.
Sasuke seperti tanpa jiwa selama lima menit, ia berharap apa yang dilihatnya adalah nyata tetapi ia tahu bahwa itu tidak mungkin. Apakah ia sedang mengalami delusi?
"Sakura…" gumam Sasuke menatap lekat gadis yang tengah sibuk dengan seekor kelinci putih di pangkuannya.
Gadis itu pun menodongak, kedua alisnya bertautan, "Apa aku mengenalmu?" tanyanya sambil berdiri dengan kelinci di pelukannya.
Sasuke masih membeku, sejujurnya ia takut kalau ia hanyalah sedang bermimpi. Bagimana kalau ia bangun, ia akan menemukan dirinya di ranjang kamarnya. Ia tahu kalau Sakura sudah tidak ada dunia lagi, tapi hati kecilnya mengatakan kalau gadis yang berada di depannya ini benar-benar Sakura.
"Hei," ujar gadis pink yang terlihat bingung dengan pemuda di depannya, "bagaimana kau tahu namaku?" tanyanya lagi.
Sasuke mengerjap beberapa kali karena gadis itu melambaikan tangan di depan wajah kakunya, "Sakura," ulang Sasuke untuk kedua kalinya.
Gadis itu menatap Sasuke kesal," Namaku memang Sakura, bagaimana kau tahu namaku sih," ucapnya kesal, "dan kurasa aku tidak mengenalmu," tambahnya seraya berjalan melewati Sasuke yang masih berdiri mematung.
Sasuke yang sudah bisa mengajak otak dan tubuhnya bekerja sama, langsung mengejar gadis pink yang sudah sampai di trotoar bagian luar taman.
"Kuantar," kata Sasuke yang lebih mirip perintah dari pada tawaran.
Sesekali Sasuke melirik gadis yang tengah berjalan di sisinya, dia tidak tahu ia sedang bermimpi atau ini hanya khayalannya saja. Tapi untuk saat ini, ia tidak peduli akan hal itu.
.
.
Tsuzuku
.
.
Terima kasih buat kalian yang sudah membaca dan meripiu (lagi) fic ini^^
Dan terimakasih juga untuk semua masukan dan konkrit yang diberikan, dan maaf kalau masih banyak typo. Oy, saya berusaha untuk tidak membuat Sakura itu terkesan baik banget dan yang lainnya jahat banget tapi jadinya malah terkesan begitu. Dan jujur, saya pernah merasa dan berpikiran sama seperti Sakura. chap kali ini memang sedikit terinspirasi dari pemikiran saya dulu dan Alhamdulillah sekarang saya sudah bisa mengerti dan tidak berpikir seperti itu lagi.
terima kasih buat yang sudah meripiu chap sebelumnya
gadisranti3251, Madge Undersee, Fivani-chan, .3, Yoo-chan, Lyn kuromuno, sonedinda, raditiya, deshitiachan, TomatoCherry , Mei (ini fic aku kok, cuman di republish dengan akun baru), Loli, , SoulHarmoni, Sakura Hanami, Sign, R, Guest(1), Guest(2), pinkySS, desypramitha2, YE, hanazono yuri, salsabiilaaaaa. Ifaharra sasusaku, Haruka Hitomi 12, uchiharuno susi, himetsuka, qwertySSL, Nohara Rin, Lhylia Kiryu, Zecka S. B. Fujioka, crush, Guest(3), CherryYuuki, Ryuu, Rana
