Naruto©Masashi Kishimoto

Warning: This is The End Sequel, AU, Typo(s), dll

Don't Like Don't Read

Italic : Flashback


"Wah~ taman barunya keren," komentar gadis kecil dengan mata berbinar. Dengan antusias, ia berkeliling memeriksa ke setiap sudut taman. Langkah kakinya terlihat ringan saat berlari kecil dan melompat-lompat, rambut sepunggungnya berkilauan akibat terpaan matahari sore.

"Hinata-chan! Kita main ini saja," Sakura melambaikan tangannya pada gadis yang seumuran dengannya itu. Tentunya setelah mengeksplorasi seluruh mainan di taman tersebut, dan gadis itu memilih perosotan.

Taman ini letaknya tidak jauh dari rumah mereka, makanya Sakura dan Hinata bisa bermain sesuka hati mereka di taman yang baru kemarin di buka tersebut.

"Sakura-chan, apa ini tidak berbahaya?" Hinata agak ragu untuk menaiki perosotan yang untuk ukuran anak tujuh tahun seperti dirinya dan Sakura terlihat sedikit menakutkan.

Sakura menepuk pundak Hinata, "Ini akan sangat keren, Hina-chan," ujar Sakura meyakinkan. Dengan semangat, Sakura membimbing Hinata untuk naik tangga agar bisa meluncur dari atas.

Hinata memang tidak pernah bermain permainan itu, keluarganya selalu melarangnya karena menurut mereka itu berbahaya bagi Hinata yang tubuhnya agak lemah. Tetapi, ia benar-benar ingin mencobanya dan merasakan rasanya meluncur bebas seperti anak-anak lainnya.

"Siap, Hinata-chan?"

Hinata mengangguk, ia tidak sadar kalau dirinya sudah duduk manis dan siap meluncur. Sakura memberikan aba-aba dan mereka langsung meluncur bersamaan.

Hinata menahan nafasnya, ia merasa sedikit pusing tapi senyum lebar terpatri di bibirnya, "I-Ini, rasanya seperti…" ia tidak tahu harus mendeskripsikannya seperti apa, jadi ia memilih untuk mengatakan satu kata yang biasa Sakura ucapkan, "keren," lanjutnya.

Sakura berdiri dan mulai menghapus pasir yang menempel di sekitar wajahnya, "Ayo," ajak Sakura mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Hinata.

Mereka berdua tertawa riang menikmati aktivitas mereka, kadang Hinata akan menertawakan Sakura ketika begitu banyak pasir yang menempel di wajah gadis itu bahkan sampai ada yang masuk ke mulutnya.

Setelah puas dengan perosotan, Sakura dan Hinata mencoba permainan lainnya sampai menjelang petang.

"Hah hah…" Hinata mencoba untuk mengatur nafasnya yang mulai terasa berat. Pandangannya menjadi sedikit kabur.

Sakura yang melihat keadaan sahabatnya menjadi sedikit panik, "Hinata, kau tidak apa-apa?" Sakura menahan tubuh Hinata yang hampir ambruk.

"…"

Hinata masih bergeming membuat Sakura semakin panik.

Hati-hati, Sakura membawa tubuh lemah Hinata ke sebuah bangku yang tidak jauh dari mereka. kepala Hinata terkulai lemah di pundak Sakura.

"Kenapa dengannya?"

Sakura sedikit terkejut, tapi langsung bernafas lega setelah melihat siapa yang datang. "Aku tidak tahu,Sasuke-kun," ia lalu mengusap peluh di sekitar pelipis Hinata, "kamu baru saja selesai bermain," jelasnya.

Sasuke kemudian mengambil posisi di sebelah kiri Hinata. "Kau kan sudah tahu bagaimana Hinata," ujar Sasuke dengan sedikit marah karena kecerobohan Sakura.

Sakura menggumamkan kata maaf, dan tidak lama setelahnya Hinata mulai pulih.

"Jangan memarahi Sakura," gumam Hinata. sejujurnya gadis itu merasa sangat bersalah, selalu karena dirinyalah Sakura mendapat teguran dari Sasuke.

Tapi bagi Sakura, ini adalah hal biasa. Ia sudah sangat terbiasa dengan sifat protektif Sasuke terhadap Hinata. Walapun mereka bertiga adalah sahabat, tapi terkadang Sakura sering memandang iri terhadap Hinata yang begitu mendapat perhatian yang berlimpah dari Sasuke juga teman-teman mereka lainnya.

Sasuke membimbing Hinata berdiri, mengajak gadis itu pulang. "Aku yang akan mnegantarnya, pulanglah!"

Sakura mengangguk, tidak ingin melawan apa yang dikatakan Sasuke. Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba Hinata berhenti sambil meraba lehernya.

"Kalung ibuku tidak ada," gusar Hinata. Ia bisa merasakan air mata sudah mulai berkumpul di sudut matanya.

Mereka semua tahu, bagaimana berharganya benada itu bagi Hinata. karena itu Sakura memutuskan untuk mencari kalung tersebut. Ini adalah tanggung jawab dirinya.

"Tenang saja Hinata-chan, aku pasti akan menemukannya," ujar Sakura meyakinkan gadis itu.

"Sebentar lagi hujan," kata Sasuke memperingatkan sebelum ia dan Hinata berjalan pulang.

.

Petang telah berubah menjadi malam, udara terasa semakin lembab dan dingin. Sakura masih belum menemukan barang dicarinya. Ia telah menyisir hampir semua tempatnya bermain dengan Hinata, tapi belum juga menemukan kalung tersebut. Tubuh kecilnya mulai bergetar karena dingin, langitpun semakin gelap, bukan karena malam tetapi hujan akan segera melanda daerah itu.

Berkali-kali Sakura menggosok kedua telapak tangannya, berharap mendapat sedikit kehangatan. Tapi itu tidak sebanding dengan rasa dingin yang mulai menjalar, apalagi angin mulai berhembus kencang dan ditambah Sakura hanya mengenakan celana pendek selutut dan kaus lengan pendek.

Srashh…

Hujan mulai turun membuat Sakura basah kuyup, tapi gadis itu masih tetap mencari kalung Hinata. Mengabaikan tubuhnya yang sudha bergetar hebat, ia masih saja berkeliling ke setipa sudut-sudut taman.

Mungkin bagi anak lain seusianya, berada di taman sepi sendirian dan ditambah dengan hujan lebat adalah suatu yang menakutkan. Bagi Sakura saat ini, rasa bersalah mengalahkan rasa takut. jadi ia terus menyisir semua tempat yang kiranya pernah mereka hampiri.

.

Di sisi lain, Sasuke tengah berbaring sambil memandang hujan lebat melalui jendela kamarnya yang tirainya masih terbuka. Kristal-kristal bening terlihat menempel dan perlahan membentuk garis-garis semu di daun jendela.

Suara gemuruh dan kilatan cahaya membuatnya sedikit terkejut, lantas pikirannya langsung tertuju pada Sakura. Ia sedikit khawatir dengan gadis itu, bagaimana kalau Sakura belum menemukan kalung itu dan masih mencarinya hingga sekarang. Sasuke mendesah, 'tidak mungki' pikirnya. Gadis itu pasti sudah pulang dan berbaring nyaman di rumahnya —seperti dirinya. Tidak mungkin ia masih berkeliaraan di bawah hujan deras begini.

Suara gemuruh dan kilat saling bersahutan, Sasuke masih merasa gelisah. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari tempat tidur dan mengambil jaket di lemarinya. Dengan tergesa-gesa, ia melangkah ke luar rumah tentunya setelah mengambil payung terlebih dahulu. Untunglah kedua orang tuanya belum pulang, kalau tidak ia pasti tidak diijinkan untuk keluar.

Baru saja Sasuke mencapai pintu gerbang, matanya menangkap sosok gadis yang tengah berjalan sambil memeluk tubuhnya. Sasuke bisa melihat tubuhnya bergetar hebat akibat kedinginan, tentu saja karena gadis itu sudah basah kuyup.

"Sakura!" panggil Sasuke.

Sakura tidak tahu kalau Sasuke tengah memangilnya karena disamarkan oleh suara hujan, ia terus berjalan menuju rumahnya. Ia lelah, kedinginan, dan kepalanya terasa pusing. Tapi syukurlah, kalung Hinata telah ia temukan. Setidaknya ia bisa tidur tenang nanti, tidak di hantui rasa bersalah.

Sudah beberapa kali Sasuke memanggil Sakura, tapi tidak ada tanggapan. Sasuke memutuskan untuk mengikutinya sampai di depan pagar rumah Sakura. Setelah memastikan gadis itu masuk ke dalam rumah, ia baru berbalik arah untuk pulang.

Sasuke sempat melihat benda berkilauan yang di pegang Sakura, "Bodoh," gumam Sasuke, sekilas kembali melirik pintu rumah Sakura yang tertutup sebelum benar-benar pulang.

.

Sakura bersin berkali-kali malam itu, tubuh ringkihnya tersembunyi di balik selimut tebal, tapi tetap membuatnya masih merasa dingin. Setelah pulang dari taman, Sakura langsung mandi air hangat setelah sebelumnya menerima ceramah dari ibunya. Untunglah ada nenek Chiyo yang dengan sigap menyediakan air hangat dan membawakan makan malam ke kamarnya.

Pagi harinya, Sakura bangun dengan kepala pusing dan hidung mampet. Matanya sedikit berair dan suhu tubuhnya lebih hangat dari biasanya. Dengan langkah gontai, Sakura keluar dari tempat tidurnya. Saat kakinya menyentuh lantai, rasa dingin langsung menjalar sampai ke tulang belakangnya.

Baru Sakura akan memegang handle pintunya, Kurenai sudah terlebih dahulu membukanya dan berdiri menjulang di depan Sakura.

"Kenapa baru bangun sekarang, ini sudah hampir hampir jam tujuh. Kalau begini kau bisa terlambat ke sekolah, contohlah kakakmu Sakura. Jadi anak jangan—"

"Saki tidak enak badan, kaa-san," potong Sakura.

Kurenai memperhatikan keadaan Sakura sejenak, lalu menempelkan tangannya pada kening putrinya. "Kalau begitu istirahat saja, aku akan menyuruk nenek Chiyo untuk membuatkanmu sarapan," ujar Kurenai lalu membimbing Sakiyra ke tempat tidur.

Sakura naik perlahan, kembali berbaring dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya. "Apa hari ini Kaa-san bisa menemani Sakura di rumah?" tanya Sakura menahan lengan ibunya.

Kurenai berbalik, lalu melepas pelan pegangan anaknya. "Aku tidak bisa, hari ini Kaa-san ada pertemuan di sekolah kakakmu, setelah itu kakakmu akan melakukan chek up," Kurenai memberi alasan dengan sedikit kebohongan. Hari ini ia memang ada pertemuan di sekolah Karin, tetapi mengenai chek up ia sengaja berbohong pada Sakura. Tidak mungkin kan ia mengatakan kalau ia dan Karin akan pergi ke pusat perbelanjaan. Kurenai juga tidak mungkin membatalkan janjinya dengan putri sulungnya, bisa-bisa Karin bisa ngambek seharian dan mogok makan seperti biasa. Dan akhirnya bisa membuat tubuhnya kurang stabil. Yang pasti Kurenai tidak akan membiarkan kondisi karin drop.

Sakura memasukkan tangannya ke dalam selimut, ia merasa sedikit kecewa tapi tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya yang ia lakukan adalah mencoba menghilangkan rasa sedih yang tiba-tiba melanda dirinya. "Sou ka…" gumamnya pelan tidak sampai di dengar oleh ibunya.

Kurena melangkah keluar dari kamar putrinya, sebelum menutup pintu ia melihat sekilas ke arah Sakura. "Istirahatlah, aku akan menelpon dokter."

Sakura menatap sendu pintunya yang tertutup, helaan nafas lirih terdengar samar. "Kaa-san," gumamnya sebelum jatuh tertidur.

.

Setelah mendapat asupan obat dari dokter, Sakura sudah merasa sedikit lebih baik. Panasnya juga sudah menurun dan flunya agak ringan, hanya kepalanya saja yang terasa agak berat.

Karena bosan, Sakura keluar dari kamarnya. Kaki mungilnya membawa dirinya menuju ruang tengah, sekarang ia sendirian di rumah. Nenek Chiyo sedang pergi ke rumah Hinata untuk mengembalikan kalung gadis Hyuuga tersebut atas permintaan dirinya, Sakura tidak punya tenaga untuk pergi sendiri.

Sakura duduk berselonjor di sofa ruang tengah, matanya terpejam. Suara mesin mobil membuat Sakura kembali membuka matanya. Iris virdiannya sedikit berbinar melihat ibunya yang sudah pulang. "Kaa-san!" serunya bersemangat.

Kurenai yang awalnya ingin masuk ke kamarnya berbalik arah, lalu menghampiri Sakura di yang berbaring di sofa.

"Bagaimana keadaanmu?" Kurenai duduk di sofa yang sama dengan Sakura dan menaruh kepala putrinya di pangkuannya.

Sakura tersenyum," Sudah mendingan," jawabnya. Sakura memejamkan mata, belaian lembut ibunya membuatnya merasa sangat nyaman dan seolah semua rasa sakitnya langsung menghilang.

Dengan hal sederhana seperti itu saja sudah membuat Sakura merasa bahagia, gadis itu memang sangat jarang menerima perhatian seperti ini dari ibunya. Mungkin untuk materi, Sakura selalu terpenuhi, tapi tidak dengan perhatian orang tuanya yang lebih condong ke kakaknya. Sakura tahu ia tidak harus iri terhadap kakaknya, ia juga tahu bagaimana kondisi kakaknya yang menyebabkan semua perhatian bertumpu pada Karin. Tapi jujur, rasa marah dan kecewa sering ia alamai manakala kedua orang tuanya lebih menunjukkan perhatian untuk kakaknya dibandingkan dirinya.

Sakura merasakan belaian di kepalanya terhenti, ia kemudian membuka matanya. "Kaa-san mau pergi lagi?" Sakura bertanya pelan, nada sedih terdengar kentara.

Kurenai menghela nafas, ia juga tidak ingin meninggalkan Sakura yang sedang sakit. Tapi di sisi lain juga, wanita paruh baya itu tidak bisa membatalkan janjinya dengan Karin. "Kaa-san harus menjemput kakakmu di sekolahnya, dia harus chek up juga," ujarnya sambil tersenyum.

Sakura kemudian beranjak dari posisinya semula, sekarang ia duduk dan langsung berdiri dan pergi ke kamarnya tanpa sekatah katapun. Kurenai mengernyit heran, tapi tidak memikirkan sikap Sakura lebih lanjut. Ia harus segera menjemput putri sulungnya.

Sakura kembali berbaring di ranjangnya untuk yang ke sekian kalinya hari itu, cairan bening sudah mulai mengalir di sekitar pipinya. Ia tidak bisa menahan lagi, setidaknya dengan menangis ia akan merasa sedikit lega setelahnya.

.

.

Sasuke yang tidak bertemu Sakura di sekolah merasa sedikit khawatir, karena itu ia memutuskan untuk mencari Sakura ke rumahnya.

Setelah sampai di rumah, Sasuke dengan sigap mengganti baju seragamnya dan langsung berlari menuju rumah Sakura. Setelah mengetuk beberapa kali, pintu langsung terbuka. Chiyo langsung menyuruh Sasuke menmeui Sakura di kamarnya setelah sebelumnya memberitahukan keaadaan Sakura.

Sasuke membuka pelan pintu kamar Sakura, lalu menghampiri sahabatnya yang berbaring di tempat tidur dengan punggung membelakangi dirinya.

"Sakura," panggilnya pelan.

Merasa ada yang memanggilnya, Sakura langsung berbalik dan melihat Sasuke yang tengah berdiri menatapnya. "Kalau kau menanyakan soal kalung itu, aku sudah mengembalikannya pada Hinata," ujar Sakura. Ia kembali memunggungi Sasuke.

Sasuke hanya diam, rasa bersalah langsung menghampirinya. Ia kemudian duduk di samping Sakura yang berbaring karena masih ada cukup ruang untuknya.

"Aku mengkhawatirkanmu," kata Sasuke pelan.

Sasuke berkata yang sesungguhnya, ia benar-benar khawatir tentang gadis di sampingnya apalagi saat melihat matanya yang sembab dan masih mengeluarkan liquid bening.

"Sakura, "panggil Sasuke lagi, "kenapa kau menangis," tanyanya.

Sakura tidak menjawab, bukannya tidak mau tapi ia bingung harus menjawab apa.

Sasuke menghela nafas, ia sangat tidak suka melihat Sakura menangis. Sasuke berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat Sakura tetap tersenyum dan tidak akan pernah membiarkannya menangis.

.

.

.

Sasuke terbangun dengan peluh di sekitar wajahnya, ia kembali memimpikan Sakura. Kedua tangannya mengacak-acak rambutnya mengingat mimpi yang dialaminya barusan. Ia ingat tentang janjinya untuk tidak membiarkan Sakura menangis. Tapi kenyataannya, Sakura sering menangis karena dirinya.

Setelah bergumul dengan pikirannya selama beberapa menit, Sasuke memutuskan untuk mandi agar dirinya merasa lebih segar. Saat melewati meja belajarnya, sebuah benda menarik perhatiannya. Itu hanya sebuah saputangan putih dengan bercak noda merah. Tubuhnya membeku, tangan kanannya memegang saputangan tersebut. kejadian malam sebelumnya langsung bermain di otaknya, ia ingat gadis itu mengembalikan sapu tangan miliknya setelah meminjamkannya untuk membersihkan luka kelinci putih yang ada di gendongan gadis pink yang ditemuinya di taman tadi malam.

"Sakura," gumamnya lalu melempar saputangan putih itu sembarangan. Ia bergegas untuk mandi karena ia harus sesegera mungkin untuk mencari Sakuranya.

.

.

Matahari sudah mulai agak tergelincir, Sasuke masih menunggu 'Sakura' yang ditemuinya tadi malam. Iris kelamnya menatap setiap orang yang datang dan pergi, berharap melihat sosok gadis pink yang sangat dirindukannya.

Sudah empat jam lebih Sasuke berada di taman, tapi tidak juga menemukan tanda-tanda keberadaan gadis yang dicarinya. Demi Sakura, Sasuke rela berada di keramaian seperti ini.

Merasa tidak ada harapan, Sasuke memutuskan untuk pergi ke halte tempatnya mengantar Sakura. Malam itu, Sasuke ingin sekali mengantar Sakura sampai ke rumahnya tapi ditolak oleh gadis itu. Alasannya karena dia tidak meneganl Sasuke. Sasuke sempat memaksa tapi gadis itu terus menolak dan mencurigai Sasuke sebagai penculik, karena Sakura yang ditemuinya tadi malam langsung mencegat taxi dan pergi meninggalkan Sasuke, jadi sekarang Sasuke tidak tahu harus menemuinya dimana.

Sasuke masih setia duduk di halte tersebut setelah beberapa jam, tidak mempedulikan perutnya yang sudah berontak minta diisi. Cuaca mulai mendung dan langit semakin gelap, tapi Sasuke mengabaikan hal itu. Ia masih sangat berharap untuk bertemu dengan gadis itu lagi, untuk memastikan kalau yang tadi malam bukanlah khayalannya belaka.

Sasuke mengeratkan blazzernya, udara sudah semakin dingin dan gerimis mulai turun. Tidak lama stelahnya, hujan lebat langsung membasahi bumi. Sasuke mendesah kecewa karena tidak menemukan apa yang diharapkannya, dan dengan sangat terpaksa Sasuke beranjak dari kursi yang sudah beberapa jam di dudukinya dan meninggalkan halte bisa tersebut.

Sasuke merasa kepalanya sedikit pusing, perutnya kosong dan ia sangat kedinginan. Bagaimana tidak, dari pagi ia tidak pernah makan apapun ditambah sekarang Sasuke berjalan di tengah hujan lebat begini. Miris dengan keadaannya, ingatannya kembali ke masa lalu saat Sakura yang rela hujan-hujanan mencari kalung Hinata. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Sakura waktu masih bocah, berada di taman sendirian ditemani hujan lebat seperti ini. Perasaan bersalah kembali menggerogoti benaknya, "Sakura," gumamnya lirih.

Sasuke yang tidak tahan dengan kondisinya akhirnya menyerah, membiarkan dirinya ambruk di tengah trotoar. Sebelum tenggelam dalam kegelapan, Sasuke bisa mendengar suara seseorang memanggilnya. Suara seorang gadis yang sangat dirindukannya.

"Sakura," gumam Sasuke sebelum benar-benar pingsan.

.

.

Tbc

.

.

Terima kasih buat kalian yang sudah membaca dan meripiu fic ini. Maaf kalo masih banyak typo dan maaf juga kalo fic ini sebagian besar isinya flashback semua.

Sebenarnya saya punya dua opsi untuk fic ini, yang pertama sad ending dan tentu saja yang happy ending (saya tidak mau OTPku berakhir menderita walaupun ini cuman sebuah fanfiksi).

Untuk yang sad ending, saya memang sudah memikirkannya dari pertama mau bikin kelanjutan sekuel ini. Tapi belakangan ini saya lagi rajin-rajinnya baca fic sasusaku yang english (walaupun ngertinya cuman 5% dari keseluruhan cerita), dari beberapa fic yang saya baca ada juga genre Angst yang berakhir happy. Jadi saya kepikiran untuk membuat yang happy end. Tapi saya agak ragu, karena plot yang ada di pikiran saya udah kayak sinetron indo yang sering ditonton adikku. Kalau sudah begini, kayaknya mesti shalat istikharah untuk menentukannya :p

Untuk yang sudah meripiu chap duanya, saya benar-benar mengucapkan terima kasih. Ripiu kalian bikin saya semangat**: )

Akari Chiwa, SSlove, Rise Star, Fivani-chan, chickenbut, Guest (1), , Ryuu, BlueSnowPinkIce, YE, Natsumo Kagerou, Julia, me, Ryouta Shiroi, Natsuyakiko32, gadisranti3251, loli, hanazono yuri, poo, salsalala, ne, BronzeQueen18290, cheryxsasuke, Yaya Uchiha, Lhylia Kiryu, Tsurugi De Lelouch, Drcpie, Universal Playgirl, , Pinky Blossom, Rosachi-hime, A-tan, Lyn kuromuno, Uchiharuno susi, Y0uNii D3ViLL, Guest(2), scara, Zizah, khoirunnisa740, Cosmos, Alifa Cherry Blossom, Kanon rizumu, chen chen ciiz, Zecka S. B. Fujioka, Melon, Mao, yume, Pangeran kesasar, Sanny UchiHaruno Swift, Himetsuka, Maka Meyer, , ReiRei, Mai

.

Read and Riview?