Naruto©Masashi Kishimoto

Warning: This is The End Sequel, AU, Typo(s), dll

Don't Like Don't Read

.

.

Erangan rendah keluar dari mulut Sasuke, kelopak matanya yang mengatup perlahan terbuka menampakkan iris sekelam malam. Dia meneliti dimana dirinya sekarang, dan ternyata sedang berada di sebuah ruangan yang hampir seluruh catnya berwarna putih. Kepalanya terasa berat, matanya juga panas.

Suara pintu terbuka menarik perhatiannya, seorang wanita dengan rambut hitam panjang langsung berlari ke arahnya. "Syukurlah, kau sudah sadar," ujar wanita tersebut, lalu memeluk Sasuke.

Sasuke hanya diam, dia masih belum ingat kenapa bisa berada di sini. "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara serak.

Mikoto menatap putra bungsunya sendu, "Kau ditemukan pingsan di jalan," jawabnya lirih. Mikoto mengelus rambut Sasuke sayang. "Bagaimana perasaanmu, Nak?"

Sasuke menatap ibunya sebentar, lalu mengalihkan pandangannya ke dinding polos di depannya. "Baik, hanya sedikit pusing," jawabnya.

Mikoto mendesah lega, "Aku akan menemui dokter," kata Mikoto pamit pergi pada Sasuke.

Sasuke mengangguk lemah, dia kembali merebahkan diri di kasur. Pikirannya menerawang saat menunggu gadis itu di halte. Sasuke memijat pelan kepalanya yang terasa sakit, ia menggigit bibirnya hingga sedikit berdarah, menahan rasa sakit di kepalan juga hatinya. Meskipun dia seharian menunggu di sana, tetapi gadis itu tidak kunjung menampakkan diri. Atau mungkin gadis yang mirip Sakura hanyalah ilusi yang diciptakan pikirannya, karena rasa kehilangan yang mendalam. Sasuke menggeleng lemah, berusaha untuk menghilangkan pemikiran itu. Dia tidak ingin kehilangan harapan.

Sasuke tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi, kepergian Sakura ikut membawa setengah hidupnya. Sakura memang sangat berarti baginya, karena gadis itu selalu ada untuknya. Bagaimana dulu saat-saat krisis dalam hidupnya, Sakura selalu mendampinginya. Waktu orang tuanya sempat berpisah, Sakura mengatakan untuk tidak perlu khawatir karena semuanya akan baik-baik saja. Saat perusahaan orang tuanya tengah mengalami kebangkrutan, Sakura selalu di sisinya saat anak-anak lain menjauhi dan mengejeknya.

Dan sekarang, setelah gadis itu tidak di sisinya lagi. Ia sudah seperti tidak punya tujuan hidup. Karena baginya, Sakura bukan hanya sekedar sosok pacar yang kapan saja status tersebut bisa menjadi mantan pacar. Sakura lebih dari itu, dia adalah sahabat, kekasih, dan teman hidupnya.

"Sakura," gumam Sasuke lirih. Matanya lambat laun kembali terpejam, akibat rasa using dan kantuk yang menyerangnya. Semenjak kepergian Sakura, Sasuke memang sering insomnia. Bahkan hampir setiap malam. Dulu, kalau dia sedang mengalami susah tidur. Cukup dengan menelpon Sakura dan membiarkan gadis itu mengoceh semaunya, ia akan tidur. Dan bisa dipastikan paginya, Sakura akan marah karena dibiarkan berbicara sendiri.

.

"Bagaimana Sasuke, Kaa-san?" Itachi mengerutkan kening saat melihar raut wajah ibunya. Apakah ada sesuatu yang yang tidak beres dengan Sasuke.

"Dia sudah siuman, kau bisa menjenguknya. Kasian dia sendirian," kata Mikoto menyuruh putra pertamanya untuk menemani adiknya.

Itachi mengangguk mengiyakan, tapi dia melihat raut wajah ibunya yang sedikit berbeda, "Apa ada sesuatu yang salah?" tanyanya. Itachi memandang wajah ibunya yang terlihat tegang.

Mikoto menghela nafas, mencoba untuk menenangkan dirinya. "Tidak apa-apa, aku hanya sangat khawatir dengan adikmu." Mikoto kembali mengambil nafas pelan dan menghembuskannya, "Kau tahu kan, semenjak Sakura meninggal, kondisi Sasuke…" Air mata mengalir melewati pipi pucatnya, tidak sanggup untuk mneeruskan kalimatnya. Dia juga yakin, Itachi mengerti dengan kondisi adiknya.

Itachi menarik lengan ibunya, memeluk wanita yang sudah melahirkan dan merawatnya dengan seluruh hidupnya. "Aku akan berbicara dengan Sasuke, Kaa-san jangan khawatir," ujarnya. Mengusap sisa rembesan air mata ibunya.

Mikoto tersenyum, "Terima kasih, Nak. Selain Sakura, Sasuke mungkin bisa berbicara denganmu."

Itachi mengangguk, lalu meninggalkan Mikoto di ruangan dokter. Karena ibunya masih harus bertemu dengan dokter pribadinya itu, yang saat ini tengah menangani pasien lain.

Itachi melangkah cepat menuju kamar adiknya, tidak mempedulikan lirikan-lirikan dan tatapan memuja dari gadis-gadis yang dilewatinya. Di balik wajah datarnya, Itachi menyimpan begitu banyak emosi saat ini. Seolah bisa merasakan rasa sakit dan kehilanagan yang tengah dialami adiknya. Dia sangat tahu, bagaimana sayangnya Sasuke sama Sakura. Saat mereka berdua masih anak-anak, bahkan saat balita mereka tidak bisa dipisahkan. Bagaimana dulu Sasuke akan ngambek seharian jika hari itu tidak bertemu Sakura, adiknya itu akan uring-uringan tidak jelas. Perhatian Sasuke pada Sakura semakin tumbuh hingga mereka beranjak remaja, meskipun caranya agak sedikit berbeda.

Memang, saat orang tua mereka sempat berpisah, Sasuke mulai sedikit berubah. Mungkin karena kecewa dengan orang tuanya, Sasuke menjadi lebih pendiam dan anti sosial. Ia hanya akan bergaul dengan Sakura, kadang-kadang juga Hinata. Tetapi kebanyakan waktunya, akan dihabiskan di kamarnya dengan Sakura. Meskipun mereka hanya mengerjakan tugas sekolah, atau sekedar menonton film. Dan saat Sasuke menginjak kelas tiga sekolah menengah, ia melihat perubahan jelas pada Sasuke. Sasuke mulai jarang terlihat bersama Sakura, mengajak gadis itu ke rumahnya. Walaupun begitu, Itachi tahu Sasuke tidak pernah berhenti peduli pada Sakura. Dia bisa melihat tatapan Sasuke akan sangat berbeda jika sudah berhadapan dengan Sakura. Mungkin Sasuke sedang mencari tahu tentang perasaan sebenarnya pada Sakura.

.

Kriet…

Suara pintu yang terbuka membuat Sasuke kembali terbangun. Mata kelamnya kembali ia tampakkan saat mendengar langkah kaki yang semakin mendekat ke arahnya. Menengok sedikit, Sasuke melihat Itachi dengan tas ransel di punggungnya, dia mengasumsikan kakaknya baru selesai kuliah.

"Kau terlihat mengerikan, Sasuke," ujar Itachi. Inilah cara ia menyapa adiknya.

Sasuke mendengus, "terima kasih," gumamnya sarkastik.

Itachi nyengir, ia lalu menaruh tasnya sembarangan di atas sofa coklat di ruangan tersebut. Dia lalu mengambil tempat di kursi yang ada di samping adiknya berbaring.

"Sasuke…" Itachi menatap adiknya prihatin, "apa yang kau lakukan di sana?"Pertanyaan Itachi ini merujuk pada apa yang dilakukan Sasuke di tempat ia ditemukan pingsan.

Sasuke menggigit bibir bawahnya, ia menatap langit-langit seolah itu adalah sesuatu yang sangat menarik. "Tidak ada," jawabnya.

Itachi tahu, Sasuke tidak akan melakukan sesuatu jika tidak ada alasannya. "Apa ini tentang Sakura?" tanyanya. Meskipun Itachi tidak mendapat jawaban dari Sasuke, tapi ia bisa tahu dari raut wajah adiknya. Memangnya siapa lagi yang bisa membuat Sasuke kacau seperti ini, kecuali gadis itu. Itachi bukannya tidak merasa kehilangan, ia sudah meganggap Sakura sudah seperti adiknya. Tetapi kasus Sasuke berbeda, adiknya itu sudah terlalu terbiasa dengan kehadiran Sakura, ia bisa mengatakan hidup Sasuke seperti bergantung pada gadis itu. "Kau selalu bisa berbicara denganku, Sasuke. Kau tahu, 'kan?" bujuk Itachi.

Sasuke masih enggan menanggapi kakaknya, pandangan matanya masih setia tertuju pada langit-langit ruangan yang berwarna putih tersebut.

"Sasuke…"

"Aku menunggu Sakura," gumam Sasuke.

Itachi menatap Sasuke sendu, "Tapi, kau tahu kalau Sakura sudah…" katanya lirih tidak bisa melanjutkan ucapannya.

Sasuke menutup matanya, "Tapi aku benar-benar pernah bertemu dengannya, apa menurutmu itu adalah hantu Sakura?" tanyanya sinis, "kalaupun iya, aku tidak peduli dia itu hantu atau bukan," geramnya rendah.

Sasuke tahu, tidak akan ada orang yang percaya padanya. Saat dia mengatakan apa yang ia lihat kepada ibunya, Mikoto menanggapinya sama seperti Itachi.

Itachi mendesah, "Sasuke, kau harus mencoba untuk merelakannya," nasehatnya. "Sakura pasti sudah tenang di sana," tambahnya.

Sasuke tertawa sinis, "Kau bukan aku, Itachi," geramnya. "Aku tidak bisa… tidak pernah bisa," lanjutnya rendah. Sasuke munutup matanya dengan lengan kanannya, tidak ingin membiarkan Itachi melihat setetes air mata yang memaksa keluar dari sumbernya.

Itachi tersenyum lirih, dia sangat mengerti apa yang tengah dialaminya adiknya. Kalau dulu, dia selalu bisa melakukan apa saja untuk membantu adiknya, tapi untuk yang satu ini, itu di luar kemampuannya. Tidak ada yang bisa dilakukannya, semua bergantung pada Sasuke sendiri.

"Permisi…"

Itachi yang langsung menoleh ke sumber suara, ia melihat Hinata yang tengah berdiri gugup di depan pintu. Itachi tersenyum mempersilakannya masuk," Masuklah, Hinata."

"Apa aku menganggu?" tanya gadis yang masih mengenakan seragam sekolahnya.

Itachi menggeleng, "Tidak," katanya lalu menyuruh Hinata duduk di tempatnya. "Aku akan meninggalkan kalian, mau mengisi perut dulu," tambahnya lalu meninggalkan ruangan Sasuke.

Baik Hinata maupun sasuke tidak ada yang membuka suara, Hinata tidak tahu harus berbicara apa melihat kondisi Sasuke yang terlihat kacau. Sedangkan Sasuke terlalu malas untuk membuka mulutnya.

"Sasuke-kun," panggil Hinata pelan, "apa kau baik-baik saja?" Hinata menggigit bibir bawahnya atas pertanyaan bodoh yang dilontarkannya. Tentu saja Sasuke tidak baik-baik saja.

"…"

"Maaf, baru menjengukmu," ujar Hinata lirih, ia merasa sedikit kecewa karena Sasuke mengabaikannya.

"Hn," Sasuke bergumam pelan, tetapi tidak berniat untuk membuka mata dan lengannya juga masih dengan posisi yang sama saat Itachi pergi.

Hinata menunduk, tidak tahu harus melakukan apa. Jadi, dia hanya diam dan duduk memperhatikan dada Sasuke yang naik dan turun karena pernafasan. Dia tahu, dirinya tidak berbuat apa-apa. Tidak pernah ada yang bisa menggantikan Sakura di hati Sasuke, karena Hinata tahu Sakura selalu punya tempat khusus di hati sahabat yang ditaksirnya. Baik sebagai sahabat, Sasuke selalu menganggap Sakura sahabat baiknya melebihi dirinya. Meskipun mereka bertiga adalah sahabat, tetapi Hinata tahu Sasuke selalu melihat Sakura lebih daripada dirinya. Dan sekarang, Hinata mengerti kenapa Sakura sangat berarti bagi Sasuke, bukan hanya Sasuke tetapi bagi dirinya juga.

Sasuke akhirnya memutuskan untuk membuka matanya, ia masih melihat Hinata Hinata yang duduk tertunduk. Dia mengira Hinata sudah pergi karena tidak mendengar adanya kehadiran seseorang. "Pulanglah Hinata," katanya memerintahkan.

Hinata sedikit terkejut, "S-Sasuke-kun," kagetnya karena tiba-tiba Sasuke tengah menatap ke arahnya, "a-aku masih ingin menemanimu," balasnya.

Sasuke mengalihkan perhatiannya ke luar jendela, "Pulanglah!" perintahnya kembali, "kau harus istirahat," tambahnya memberikan alasan.

Hinata menggigit bibirnya, ia tahu ini adalah cara Sasuke mengusirnya secara halus. "Baiklah, aku pulang," kata Hinata beranjak dari kursi, tangan kirinya menggemnggam erat tali tas selempangannya, "cepat sembuh, Sasuke-kun," imbuhnya.

Hinata melangkah pelan, suara sepatu berbentur ubin terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu. Sesaat, Hinata berhenti untuk melihat Sasuke dari bahunya. Ia menghela nafas pelan saat melihat Sasuke yang masih memandang keluar jendela, lalu kembali berjalan menuju pintu.

Sasuke yang mendengar suara langkah kaki semakin menjauh, lalu diiringi dengan suara pintu yang terbuka kemudian tertutup mengubah posisinya. Sasuke yang awalnya berbaring kini duduk, pandangannya tetap kosong. Sasuke bukannya tidak suka dijenguk oleh sahabatnya, tetapi sekarang dia hanya ingin sendirian.

.

.

"Apa Sasuke mengalami gangguan psikologi?" tanya Mikoto. Saat ini ia dan Itachi tengah berada di apotek untuk menebus obat.

Itachi menggeleng, "Aku tidak tahu, Kaa-san," jawab Itachi. "Mungkin dia hanya masih merasa kehilangan dan belum bisa menerima keadaan," tambah Itachi, "Kaa-san tahu sendiri, bagaimana Sakura bagi Sasuke," imbuhnya.

Mikoto mengiyakan dengan mengangguk, ia sangat tahu bagaimana pentingnya sosok Sakura bagi anaknya. Meskipun sasuke tidak pernah menceritakan hal itu, tapi ia tahu dari pandangan anaknya terhadap gadis yang sejak kecil menjadi sahabat putranya.

"Sasuke bilang dia bertemu Sakura di taman," gumam Mikoto, "Kaa-san tahu kalau Sasuke hanya berhalusinasi, karena ibu melihat sendiri malam itu Sasuke tidak bersama siapapun," ujar rendah Mikoto. Dia sangat takut kalau anak bungsunya akan mengalami gangguan kejiwaan.

Itachi merangkul pundak ibunya, "Sasuke akan baik-baik saja, dia pasti bisa melewati semua ini," kata Itach mencoba untuk tidak membuat ibunya terlalu khawatir, meskipun ia tidak terlalu mempercayai kata-katanya sendiri.

Mikoto mengangguk, "Semoga saja, " gumamnya dalam pelukan Itachi. Putra sulungya itu selalu bisa menjadi sandaran bagi dirinya.

Setelah menerima obat, mereka keluar dari apotek. Itachi menuju ruangan adiknya di rawat, sedangkan Mikoto ke parkiran karena Itachi menyuruh ibunya untuk pulang istirahat di rumah.

Itachi kembali ke kamar Sasuke, sesampainya di sana ia sudah tidak melihat Hinata, begitu juga dengan Sasuke. Setelah menaruh obat di atas meja, ia segera berlari keluar untuk mencari adiknya. Gusar, Itachi bertanya kepada beberapa suster yang ditemuinya, tetapi tak satupun dari mereka yang pernah melihat Sasuke. Tidak bisa ia pungkiri, Itachi merasa sangat khawatir pada adiknya. Bagaimana kalau adiknya kembali berhalusinasi, lalu melakukan hal-hal yang berbahaya bagi dirinya. Itachi mencoba untuk berpikir positif, Sasuke pasti tidak akan melakukan hal bodoh.

.

.

"Sial," geram pemuda dengan pakaian pasien di sebuah taman di belakang gedung rumah sakit. Sasuke duduk berselonjor di bawah pohon pinus, sesekali ia melempari kerikil yang ditemuinya ke dalam kolam kecil yang terletak tepat di depannya. Meskipun kepalanya terasa pusing, ia tidak suka hanya tidur di ruang rawat tanpa melakukan apa-apa. Ia benci rumah sakit, karena itu mengingatkannya pada Sakura. menampakkan kembali memori saat Sakura menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit. Terkadang Sasuke bingung, kenapa begitu banyak orang yang sakit pergi ke rumah sakit. Padahal namanya sudah jelas, rumah sakit yang artinya rumah orang sakit. Kalau mereka ingin datang ke rumah sakit untuk menyembuhkan penyakit agar sehat kembali, kenapa rumah sakit tidak diganti saja menjadi rumah sehat?

Sasuke menggeleng pelan dengan pemikiran bodoh dan tidak ada gunanya. Kenapa otaknya bisa memikirkan hal tidak penting seperti itu? Iris kelamnya ia pejamkan sejenak, menikmati angin lembut yang membelai kulitnya yang terbuka. Dingin, Sasuke merasa dingin meksipun cuaca cerah dan masih sore. Dulu, saat dia sakit, Sakura selalu menemaninya. Gadis itu tidak peduli jika ia menyuruhnya pulang, dan dengan keras kepala Sakuratidak akan mendengarkan apapun perkataannya.

Sasuke menerawang, kenangan dengan Sakura seolah memutar jelas di benaknya seperti sebuah film. Dia sangat ingat, Sakura akan tiba-tiba datang membawakannya bubur hangat dan memaksanya untuk menyantapnya meskipun ia sedang tidak berselera. Saat Sasuke terkena flu, Sakura terus mengomelinya karena kecerobohan dirinya yang main-main saat hujan, padahal waktu itu Sakura-lah yang memaksa dirinya untuk bermain di bawah hujan. Sudut bibir Sasuke sedikit terangkat mengngat hal ini, dan saat itu Sakura memaksa untuk menemaninya semalaman karena kedua orang tuanya sedang ada pekerjaan di luar kota. Karena di kamarnya memang hanya mempunyai satu tempat tidur, jadi dia dan berbagi kasur malam itu. Dan hebatnya, paginya Sasuke sembuh dari flu yang menderanya. Tapi, gadis yang masih meringkuk di sampingnya terdengar beberapa kali bersin-bersin. Entah kenapa, setiap langkah atau sesuatu yang terjadi dalam hidupnya seolah selalu mengingatkannya pada Sakura. Baik saat dia sakit seperti ini, waktu Sasuke melakukan rutinitasnya seperti makan di sebuah kedai ramen, melihat paman penjual permen kapas, dan hal-hal lainnya.

Sasuke mendesah, kembali teringat perkataan Itachi yang mneyuruhnya untuk merelakan Sakura. itu adalah hal yang sangat tidak mungkin baginya, karena dia sendiri tidak ingin melakukannya. Sasuke tidak pernah bisa dan tidak pernah ingin untuk merelakan bahkan melupakan gadis itu. dia tidak akan pernah mampu, sampai kapanpun.

Puas berdiam diri di taman tersebut, Sasuke perlahan bangun dan mengusap kotoran yang menempel di celananya. Kaki jenjangnya melangkah pelan menyusuri taman rumah sakit. Pandangan matanya lurus kedepan, dengan wajah datar tanpa ekspresi dengan kedua tangan yang tersembunyi di dalam saku. Meskipun mengenakan pakaian rumah sakit, Sasuke masih terlihat keren seperti biasa. Itu terbukti dari lirikan gadis-gadis yang dilewatinya.

Akhirnya, kaki jenjangnya berhenti di depan sebuah lorong yang sepi. Sasuke yang berniat kembali ke kamarnya, ternyata tidak tahu dimana dirinya berada. Sasuke mengumpat kesal, menyalahkan rumah sakit ini yang terlalu besar dan hampir semua bangunannya terlihat sama.

"Menyebalkan," gumam Sasuke sambil terus berjalan. Langkah demi langkah yang dilewatinya membawanya melewati kamar mayat, ruang operasi, bahkan toilet. Sasuke mendengus, saat ini ia berada di lantai dua. Masih belum bisa menemukan kamarnya.

Merasa sedikit pusing, Sasuke berhenti untuk istarahat di sebuah bangku panjang. Beberapa perawat yang melewatinya bertanya kenapa pasien seperti dirinyabisa berada di sana, Sasuke hanya bilang kalau dia hanya mencari udara segar karena bosan di kamar. Tidak berniat untuk menceritakan kepada dunia kalau dirinya tengah tersesat. Yeah, pride of an Uchiha berlaku kapan saja dan dimana saja.

.

Di sisi lain, Itachi masih mencari adiknya. Dia masih belum bisa menemukannya. Saat beberapa orang bilang kalau mereka melihatnya di taman, tapiia tidak menemukannya di sana. Dia telah mencari hampir di setiap sudut taman. Tapi sosok Sasuke masih belum juga kelihatan. Itachi mendesah, ia merasa seperti tengah mencari seorang anak kecil yang tersesat. Kalau saja Itachi tahu, adiknya itu memang tengah tersesat.

.

Hati-hati, Sasuke turun melewati anak tangga. Tangan kanannya memijit pelipis kirinya karena kepalanya terasa pusing. Dia mengambil nafas dalam dan menghembuskannya pelan, mencoba untuk membuat perasaannya lebih baik. Pada lima anak tangga yang terakhir, Sasuke merasakan kedua kakinya seolah dipasung. Selama beberapa saat ia tidak bisa bernafas normal, jantungnya berdetak sangat cepat. Mulutnya menggumamkan sebuah nama yang selalu di kepala juga hatinya. Dia ingin meneriakkan namanya tapi tidak bisa, ia membisu.

Iris kelamnya membulat seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia ingin menjangkau gadis pink yang berlalu di depan matanya. Apakah ini hanya halusinasinya belaka? Tetapi ini terlihat nyata, sangat nyata. Apa mungkin gadis itu kembaran Sakura, karena dilihat dari bentuk fisik mereka sangat mirip. Tetapi mana mungkin, selama hidupnya ia tidak pernah tahu kalau Sakura mempunyai kembaran. Orang tua Sakura juga tidak pernah mengatakan kalau gadis itu terlahir kembar, yang dia tahu Sakura hanyalah anak bungsu. Sasuke mengabaikan semua pertanyaan yang di kepalanya. Dia ingin memastikan siapa gadis itu, karenanya ia mencoba untuk mengajak seluruh tubuhnya untuk bekerjasama.

Setelah berhasil menguasai diri, Sasuke langsung berlari menuruni sisa anak tangga. Mengabaikan rasa sakit yang mendera kepalanya, ia tetap fokus untuk mengejar Sakura.

"Sakura!" teriak Sasuke. Dia terus memanggil nama Sakura, mengabaikan tenggorokannya yang sakit seolah tertusuk jarum.

Sasuke melihat Sakura yang di dorong dengan kursi roda oleh seorang perawat berbelok di tikungan di depannya. Tidak memperhatikan jalan, Sasuke menabrak beberapa orang hingga membuatnya terjatuh. Tetapi dengan sigap, ia langsung bangkit untuk mengejar gadis pink tersebut. Mengabaikan teriakan orang-orang ke arahnya, mungkin mereka mengira Sasuke adalah pasien yang kabur.

Terengah-engah, Sasuke berhenti berlari. Dia kehilangan jejak, ini membuatnya frustasi. Lalu, matanya menangkap sosok gadis tersebut di parkiran rumah sakit. Sasuke langsung memacu langkahnya, melewati dua nsekaligus anak tangga. Nafasnya memburu, antara takut kehilangan jejak gadis yang diyakininya adalah Sakura dan harapan jikalau gadis itu benar-benar memang Sakura, entah bagaimana caranya.

Matanya melesat ke segala arah, mencoba untuk menemukan sosok gadis pink di antara begitu banyak orang yang berlalu lalang. Setelah beberapa saat mencari, mata kelamnya menangkap apa yang dicarinya. Ia melihat gadis itu tengah di bopong masuk oleh seorang lelaki ke dalam sebuah mobil hitam, diikuti seorang wanita yang mengenakan baju perawat. Sasuke langsung berlari ke arah mereka, melewati mobil-mobil yang terparkir rapi.

"Sakura!" teriaknya.

Sasuke seperti kehilangan harapan saat melihat mobil tersebut mulai keluar dari tempat parkir. Tapi ia tidak menyerah, dia terus mengejarnya hingga ke jalan raya. Matanya mulai berkunang-kunang, kepalanya terasa sangat berat dan sakit. Tidak mempedulikan kondisinya, Sasuke berbelok ke arah kanan dimana mobil tersebut pergi. Dia sudah tidak melihat mobil itu lagi, ada begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalan tersebut. Sasuke merasa lututnya lemah, tidak kuat menopang berat badannya sendiri. nafasnya juga mulai pendek, seluruh tubuhnya terasa seperti jelly. Lemah, tidak berdaya.

Dan hal terakhir yang bisa di dengar adalah suara Itachi yang terdengar sangat khawatir, "Apa yang kau lakukan di sini?"

Setelah itu semuanya gelap, tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.

.

.

"Mungkin itu hanya halusinasimu saja, Nak," gumam Mikoto dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.

Itachi hanya menatap adiknya prihatin, tidak tahu harus melakukan apa.

"Tapi aku benar-benar melihatnya, Kaa-san. Dia terlihat persis seperti Sakura," bantah Sasuke karena orangtua dan kakaknya mengira kalau yang dilihatnya hanya sebatas halusinasi belaka.

Kali ini Fugaku angkat bicara, "Mungkin dia orang lain Sasuke," katanya tegas, "kita semua tahu Sakura sudah tidak ada," lanjutnya dengan sedikit penekanan agar anaknya bisa mengerti dan mau menerima kenyataaan.

Sasuke tetap keras kepala, ia masih berkeyakinan kalau gadis yang dilihatnya itu memang Sakura. Sasuke bukannya tidak waras, menganggap orang yang sudah mati bisa hidup kembali. Tetapi hatinya mengatakan kalau gadis itu benar-benar Sakura, dia sendiri tidak memahami hal itu. Tapi, ia memilih untuk meyakini apa kata hatinya sekarang. Mungkin masih ada harapan untuk bertemu Sakura lagi, entah kapan dan dimana. Setidaknya sekarang, dia masih punya harapan dan tujuan untuk hidup.

"Terserah kalian, mau percaya atau tidak, " geram Sasuke lalu membalik tubuhnya menghadap dinding, "aku mau tidur," imbuhnya dan mulai memejamkan mata.

Mikoto masih terisak, perlahan Fugaku menarik istrinya untuk keluar dari kamar anaknya. Begitu juga dengan Itachi.

Setelah menutup pintu kamar Sasuke, Fugaku membawa istrinya dan Itachi ke ruang keluarga. Setelah memberikan ibunya segelas air, Itachi menanyakan tentang rencana yang pernah dilontarkan Fugaku beberapa hari yang lalu.

"Jadi… bagaimana dengan rencana Tou-san, apa kita semua jadi pindah?" Itachi menatap ayahnya serius, dia rencana ini pasti akan ditentang oleh Sasuke.

Fugaku menghela nafas, "Untuk sekarang, sepertinya itu adalah jalan yang terbaik untuk kita, khususnya bagi Sasuke," ujarnya. Dia sangat prihatin dengan keadaan anaknya sekarang, "Tentu, anak itu pasti akan menolak keras rencana ini, tapi kita harus tetap melakukannya." Fugaku menerawang, membayangkan penolakan putra bungsunya. Dia sudah memastikan hal itu, tetapi hal ini ia lakukan demi anaknya juga. Orang tua mana yang tega melihat anaknya kacau seperti itu.

Itachi mendesah, "Kita coba saja, mungkin di tempat yang baru Sasuke bisa menemukan hidupnya kembali," kata Itachi menyetujui rencana ayahnya.

Sedangkan Mikoto hanya mengikuti keinginan suaminya, selama ini demi kebaikan anaknya. "Aku akan mencoba berbicara pada Sasuke," kata Mikoto pelan, "Tapi, dia pasti akan menolaknya," tambahnya.

"Kita akan memaksanya," kata Fugaku, "demi kebaikannya sendiri," ujarnya kemudian meyakinkan istrinya.

Mikoto mengangguk diam, semoga saja langkah yang mereka ambil ini benar. Dia sangat takut, Sasuke akan lebih terguncang dengan keputusan yang telah dibuat Fugaku. Tetapi semoga saja dia putra bungsunya itu bisa menerimanya.

Di sisi lain, Sasuke yang mulai masuk ke alam mimpinya bergumam pelan, "Kita akan bertemu lagi, Sakura," gumamnya, lalu mulai terlelap.

.

.

TBC

.

.

Maaf kalo fic ini apdetnya lama, sekarang sudah tidak punya waktu leluasa buat ngetik fic. Maaf juga kalo masih banyak typo yang bertebaran, saya cuman ngeceknya sepintas hihi…

Mengenai endingnya, saya masih belum bisa menentukan. Tteapi kemungkinan besar bakakalan happy end, maaf kalo yang lebih suka sad end. Saya tidak tega ngeliat OTPku menderita, meski cuman dalam sebuah fanfik #alasangaje

Untuk Mianafazella, gomen baru bisa apdet sekarang. Terima kasih udah nge-PM saya untuk mengupdate fic ini.

Info dikit nih, apa yang dilihat Sasuke di rumah sakit itu bukan halusinasi, tapi gadis itu Sakura atau bukan, hanya saya yang tahu #plakk. Untuk sementara anggap saja dia itu Sakura Edo Tensei ya..

Terima kasih juga untuk kalian yang sudah memberikan feedback di chapter tiga:

Nabilla, Natsumo Kagerou, khoirunnisa740, gadisranti3251, Zecka S. B. Fujioka, Yukina Itou Sephiienna Kitami, Fivani-chan, Alifa Cherry Blossom, Shin 41, Uchiha jidat, E.S Hatake, Ryuu, Yoo-chan, Always sasusaku, YE, Lhylia Kiryu, Yaya Uchiha, Anka-Chan, A-tan, Uchiha Nakama, Scarlet-9s, Fujinyan, Rise Star, CN Bluetory, BlueSnowPinkIce, Guest, zetta hikaru, Me, icyiara harumi, hanazono yuri, Y0uNii D3ViLL, Akiko Mi Sakura, Mianafazella, Lyn kuromuno, Salsabiilaaaaa, Himetsuka, Guest(2), Daffa Arfy, Prime Uhuk, Tiya-chan, desypramitha2, Tsurugi De Lelouch, UchiHarun, hahcikodesuka, Arisa Sakakibara, Fina Imama, oktarina, Maka Meyer, Kazuky, ChickenCherry

.

Read, Riview or Concrite?